Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 84


__ADS_3

Syakila tiba di dapur, ia memperbaiki raut wajahnya setelah melihat Rosalina juga berada di sana. Ia juga terheran melihat ada seorang wanita yang duduk berhadapan dengan Rosalina.


Siapa gadis ini? Aku baru melihatnya, apa dia adik Geo?


Syakila menarik kursi dan duduk di kursi samping Rosalina. Rosalina tersenyum melihat Syakila.


”Sayang, kamu sudah datang? Kamu cantik sekali malam ini, dimana Geo dan Beni?”


”Terima kasih Mama atas pujiannya, Beni dan Geo sebentar lagi mereka datang.”


”Syakila, kenalkan wanita yang ada di hadapanku itu adalah adik tiri Geo, namanya Marlina.” Rosalina melihat Marlina, ”Dan Marlina, kenalkan ini anak mantu Tante, istrinya Geo, namanya Syakila.”


Syakila dan Marlina saling memandang.


Hah, Geo sudah menikah? Kok tidak ada kabar beritanya sama sekali? Apa motif mereka menyembunyikan pernikahan Geo dan Syakila? Begitu juga dengan penyakit Geo, mereka menyembunyikan nya dengan rapi. Jika aku tidak kemari, aku tidak akan tahu berita besar ini.


”Hai, namaku Marlina, panggil saja aku dengan Lina, salam kenal yah.” ucap Marlina di iringi senyumnya.


”Namaku Syakila, panggil saja aku Asya,” balas Syakila sambil tersenyum.


Tidak lama kemudian Beni dan Geo memasuki dapur, Beni memposisikan Geo di tempat duduknya.


Tubuh Geo mulai berkeringat dingin dan gemetar, saat kulitnya merasakan hawa kulit orang lain di sekitarnya. Apalagi Marlina sekarang duduk di posisi yang seharusnya jadi tempat duduk Syakila. Geo menatap Marlina dengan tajam.


Prang!


Geo menggeser piring dan gelas dengan kuat dari meja hingga jatuh kelantai.


”Pergi kamu dari sini! Pergi!”


Syakila terkejut dengan pemandangan yang baru dilihatnya ini. Dengan pandangan yang mengiba bercampur bingung dalam keterkejutannya, ia terus memandang Geo yang seperti kerasukan.


Apa yang terjadi dengan pria angkuh ini? Dia seperti kesakitan, mengapa dia sekejam itu sama adiknya sendiri?


Rosalina berdiri dan memeluk Geo. Beni, ia duduk diam di hadapan Syakila, ia sengaja tidak ingin ikut andil dalam menenangkan Geo, ia ingin melihat apa reaksi Syakila.


”Geo, jangan begini, Nak! Dia bukan orang lain, Lina adalah adik mu, mengapa reaksi mu seperti ini di hadapan adik mu sendiri?”


”Pergi dari sini! Pergi! Atau ku bunuh kamu! Pergi!”


Marlina berdiri sambil menggebrak meja, ”Aku tidak akan pergi! Kalau kamu mau, kamu saja yang pergi dari sini!” ketus Marlina membalas ucapan Geo.


Geo meraih tangan Marlina, namun terhalang oleh Rosalina. Geo tidak ingin kalah, ia terus mencoba meraih tangan Marlina, ia ingin mencekik wanita itu.


Buk!


Geo terjatuh dengan kursi rodanya. Ia terjatuh terpisah dari kursi roda karena tangannya yang sempat memegang pinggiran meja. Ia terjatuh tepat di atas pecahan piring dan gelas yang berserakan di lantai.


”Geo!” spontan Syakila berdiri dari duduknya. Ia sangat khawatir melihat Geo.


Beni tetap mengacuhkan keadaan, meskipun ia ingin sekali membantu.


Rosalina memandang Marlina, ”Marlina, kamu pergi dulu dari sini,”


"Tidak Tante, aku akan tetap disini! Aku ingin lihat sampai mana ia akan mengamuk seperti ini!” tolak Marlina.


”Wanita murahan, pergi dari sini! Pergi!?”


Geo semakin histeris, Syakila memandang Beni, Beni tahu itu namun ia abaikan.


Mengapa Beni tidak membantu Tante menenangkan Geo? Sebenarnya siapa wanita ini? Apa dia pernah menyakiti Geo? Hingga Geo seperti ini saat melihat wanita ini?


”Geo, sadar Geo! Jangan begini, Mama mohon!” Rosalina kewalahan menenangkan Geo, ia memandang Beni, ”Beni, mengapa kamu diam saja dari tadi? Bantu Tante tenangkan Geo!”


Namun Beni tetap mematung di tempat duduknya. Hati Syakila tergerak, ia mendekati Geo. Syakila memeluk Geo, menyandarkan kepala Geo di dadanya. Ia mengelus kepala Geo dengan lembut.


”Tenanglah Geo, jangan seperti ini.” ucap Syakila dengan lembut.


Merasakan kehangatan yang tulus dari Syakila, perlahan Geo menjadi tenang.


Gak nyangka, aroma tubuh dan kehangatan wanita murahan ini bisa menenangkan aku dalam sekejap.


Rosalina pun menjadi tenang, ia mendudukkan dirinya di lantai dan menghempaskan nafas lega di udara.

__ADS_1


Syukurlah Geo bisa tenang di samping Syakila.


Beni tersenyum senang dalam hatinya.


Kamu memang wanita yang baik untuk Geo, Syakila. Ketulusan mu, dan rasa hangat mu bisa menenangkan Geo, semoga penyakit Geo bisa sembuh, dan semoga kamu bisa membujuk Geo untuk mengobati kakinya di rumah sakit.


Syakila terus membelai kepala Geo, ia melihat ada darah di lantai. Syakila melepas pelukannya, ia melihat wajah dan seluruh tubuh Geo. Ada luka-luka kecil akibat pecahan gelas dan piring. Dan ada satu pecahan gelas yang masih tertancap di telapak tangan Geo. Syakila mencabutnya dengan pelan.


”Argh!” teriak Geo saat merasakan sakit di telapak tangannya.


”Beni, tolong bantu aku angkat Geo. Luka Geo harus segera di obati, kalau tidak akan infeksi nantinya.” Syakila memandang Beni, Beni melihat raut khawatir di wajah Syakila.


Beni membantu Syakila mendudukkan Geo ke kursi roda, mereka membawa Geo ke kamar. Rosalina beranjak berdiri, ia melihat Marlina yang masih duduk di kursi.


”Marlina, maaf kan sikap Geo. Kamu makanlah dulu, Tante akan temani kamu disini.”


”Iya Tante,”


Marlina menyendok makanan, ia makan dengan berbagai macam pikiran yang hinggap di kepalanya. Rosalina mengambil sapu dan skop sampah. Ia membersihkan pecahan piring dan gelas yang berserakan di lantai dan ia juga mengepel lantai yang tercecer darah Geo. Setelah bersih, ia duduk kembali di kursi, menemani Marlina yang sedang makan.


Beni dan Syakila membaringkan tubuh Geo dengan pelan di atas ranjang.


”Beni, bisa minta tolong, ambilkan aku air hangat dan handuk kecil yang halus yah, juga tolong ambilkan aku kotak obat.”


”Ok,” sahut Beni. Ia keluar dari kamar Geo untuk mengambil handuk dan air hangat yang di minta Syakila.


Syakila ragu untuk membuka pakaian Geo, meskipun ini adalah yang kesekian kalinya ia melepas pakaian dari tubuh Geo.


”Geo, bolehkah aku membuka pakaian mu?”


”Tidak perlu izinku! Lakukan apa yang kamu ingin lakukan, yang penting tidak merugikan ku!” ketus Geo menjawab.


”Tidak bisakah kamu menjawab ku dengan baik?”


Geo bisa merasakan tangan Syakila yang gemetar saat ia mulai membuka satu persatu kancing bajunya, gemetarnya selalu sama saat setiap kali Syakila membuka pakaian untuk memandikannya.


”Apa baru kali ini kamu membuka pakaian seorang pria? Bukankah kamu sudah sering melepas pakaian pria? Mengapa tangan mu sangat gugup setiap kali melepas pakaian ku?”


”Kamu!” Geo memandang Syakila dengan tajam, ”Jangan sentuh aku! Tidak sudi aku di sentuh oleh mu, menjijikan!” ucap Geo tapi ia tetap membiarkan tangan Syakila terus membuka kancing bajunya hingga Syakila selesai melepas baju tersebut dari tubuhnya.


Beni masuk ke kamar Geo, ia meletakkan handuk halus dan air hangat di atas nakas di samping ranjang.


”Syakila, ini air hangat dan handuk yang kamu minta, aku ambilkan kotak obat dulu.”


”Beni, biar aku saja yang ambil kotak obat,” cegah Syakila, ”Kamu, tolong lanjut bersihkan luka-lukanya Geo dengan air hangat itu. Di mana letak kotak obat, Ben? Tolong tunjukan.”


”Kamu saja yang urus Geo, kakak ipar. Biar aku yang ambil kotak obat.” tawar Beni.


”Tidak Beni, tangan ku sangat kotor untuk menyentuh tubuh yang suci itu. Jadi kamu saja yang membantu Geo.” liriknya pada Geo.


Ada apa lagi ini? Apa sebelum aku datang mereka berdua bertengkar lagi?


Beni geleng-geleng kepala, ”Baiklah, kotak obat ada di dalam lemari kecil yang di samping lemari pakaian Geo.” Beni akhirnya mengalah.


Syakila pergi mencari kotak obat, Beni membersihkan luka-luka kecil yang ada di wajah, tubuh Geo, juga membersihkan luka yang ada di telapak tangan Geo menggunakan air hangat.


”Argh! Pelan-pelan Beni, sakit tau!” ketus Geo.


”Ini sudah pelan, Geo. Kamu ini seorang pria, luka sekecil itu saja sudah membuat mu merengek.”


”Brengsek Lo, kamu kira kulit ku ini kulit baja? Yang tidak bisa merasakan sakit? Pelan-pelan sedikit!”


”Apa tadi kalian bertengkar lagi sebelum aku masuk ke kamar, Geo?”


”Bukan urusan mu!” ketus Geo menjawab.


Beni kembali menggeleng kepala. Syakila terus mencari kotak obat di dalam laci-laci kecil di lemari yang di maksud Beni.


”Di mana yah kotak obat itu berada?”


Syakila bergumam sambil mencari kotak obat. Ia membuka laci demi laci lemari kecil itu tapi ia belum mendapatkan kotak obat.


”Apa ada di dalam lemari? Bukan di dalam laci-laci kecil ini?”

__ADS_1


Syakila berdiri, ia membuka lemari. Syakila dapat melihat isi dari lemari itu, nampak barang-barang koleksi Geo yang unik-unik. Dalam lemari itu terdapat laci kecil. Syakila membuka laci kecil itu.


”Huh, ternyata kotak obat tersimpan disini.”


Syakila mengambil kotak itu, tapi kini matanya tertuju pada satu foto yang ada di bawah kotak obat. Foto Geo dengan seorang wanita cantik.


”Ini foto Geo dengan...apa dia kekasih Geo? Sungguh cantik.”


Setelah puas melihat dan memuji foto itu, Syakila meletakkan kembali foto tersebut di tempatnya. Ia menutup lemari. Dan melangkah mendekati Beni dan Geo.


”Beni, ini kotak obat.” Syakila memberikan kotak itu pada Beni tanpa memandang Geo yang melihatnya. Beni mengambil kotak obat itu dan menaruhnya di atas ranjang. ”Apa kamu sudah selesai membersihkan lukanya dengan air hangat?”


”Iya,”


”Sebelum kamu kasih obat, kamu kembali bersihkan lukanya memakai alkohol, pelan-pelan yah Beni saat membersihkan luka itu pakai alkohol, karena lukanya akan perih."


”Kamu teliti dan tahu benar tentang ini, apa kamu kuliah dalam bidang ini dulu?"


Syakila tersenyum kecil, ”Bukan aku, tapi kekasih ku,” Syakila kembali mengingat Sardin, ”Dia kuliah dalam bidang ini, dan mengajari ku bagaimana cara membersihkan luka yang benar saat dia terluka dulu saat kami berdua jatuh dari sepeda.” terang Syakila.


”Jatuh dari sepeda? Kalian berdua?”


Syakila mengangguk sambil tersenyum, ”Iya, kami berdua. Dia mengajari ku naik sepeda. Karena aku yang memang tidak tahu menjalankan sepeda, akhirnya kami berdua sama-sama terjatuh saat aku mulai mengayuhnya.”


Geo merasa kesal, ia merasa di abaikan.


”Apa dengan bercerita luka ku akan terobati?”


Geo memandang datar Syakila dan Beni bergantian.


”Beni, lanjutkan kamu obati dia. Aku akan turun makan, perutku sangat lapar. Lakukan seperti yang ku bilang tadi.”


Beni mengangguk. Syakila beranjak keluar dari kamar. Beni kembali melanjutkan mengobati luka-luka Geo.


Syakila tiba di dapur, ia terkejut melihat Rosalina sendirian di meja makan. Syakila menghampiri dan duduk di bangku berhadapan dengan Rosalina.


”Mama, Mama mengapa melamun sendirian disini?”


"Syakila, em, bagaimana keadaan Geo?"


”Geo baik-baik saja, Mama. Lukanya sementara di obati oleh Beni. Apa Mama sudah makan?”


”Belum, kamu ingin makan?” Syakila mengangguk, ”Mari kita makan bersama.”


Syakila dan Rosalina menyendok makanan untuk diri mereka sendiri.


”Apa Marlina sudah makan, Mah?”


”Sudah, sayang. Makanlah!”


Rosalina dan Syakila makan dalam diam menikmati makanan tersebut. Kini mereka telah selesai makan. Syakila membersihkan meja makan. Nasi, lauk, pauk, yang masih ada ia tutup dengan tudung saji.


Setelah selesai bersih-bersih dapur, Syakila kembali duduk di kursi, karena Rosalina masih tetap berada di posisinya.


”Syakila, apa tidak ada yang ingin kamu pertanyakan pada Mama mengenai Geo?”


Syakila menggeleng, ”Tidak ada Mah,”


”Syakila, dari kecil Geo tidak suka di dekati oleh wanita, sekolah pun ia bersekolah di rumah. Sampai ia bertemu dengan kekasih pertamanya, Yulia seorang dokter. Perlahan Geo mulai bisa berdekatan dengan beberapa wanita. Tapi sayangnya, kekasihnya itu mengkhianatinya. Geo melihat sendiri wanita itu berpelukan dan berciuman dengan seorang pria, saat Geo menghampiri kekasihnya itu di rumah sakit.” Rosalina mulai bercerita tentang keadaan Geo, Syakila mendengarkan dengan seksama.


”Hati Geo sangat sakit melihat itu, mereka berdua putus, penyakit Geo kambuh lagi. Ia menghindari wanita, bahkan ia menolak untuk pergi ke rumah sakit saat ia sedang sakit. Sampai ia bertemu lagi dengan kekasih keduanya, Dawiyah. Geo sangat percaya dan sangat mencintai Dawiyah, bahkan ia membeli sebuah apartemen untuk Dawiyah.” Rosalina menjeda ceritanya.


Bukan hanya apartemen, mama. Tapi kata sandi kamarnya pun insial namanya dengan cewe itu.


”Tapi sayangnya, Dawiyah kabur tepat di hari pertunangan mereka. Geo melacak keberadaan Dawiyah, ia pergi menemui Dawiyah di kota B. Di sana ia melihat Dawiyah berpelukan dan berciuman dengan seorang pria, hati Geo benar-benar sakit. Ia menjalankan mobil dengan tidak fokus, mengakibatkan ia kecelakaan dan membuat dirinya seperti sekarang ini.”


Rosalina mengambil tangan Syakila, ”Syakila, Mama yakin, kamu bisa menyembuhkan Geo. Syakila, jangan tinggalkan Geo. Tante mohon sama kamu.”


Syakila terdiam melihat raut wajah mengiba dan penuh harap Rosalina padanya. Syakila menunduk, ia tidak tahu apa yang harus ia jawab. Ia sudah tahu, pernikahannya dengan Geo hanyalah untuk kesembuhan Geo, ia juga tahu Geo tidak pernah menganggap pernikahan itu benar. Geo juga tidak menganggap Syakila sebagai istri. Dan lagi, mereka berdua tidak saling cinta. Lalu, apakah Syakila harus menjawab ia dengan keinginan Rosalina?


”Syakila, kenapa kamu menunduk terus dari tadi? Apa yang kamu fikirkan? Ceritain ke Mama.”


Syakila benar-benar bingung sekarang. Ia ingin mengambil keuntungan dari pembicaraan ini. Ia ingin melakukan kesepakatan dengan Rosalina. Tapi apakah waktunya tepat untuk membicarakan suatu kesepakatan? Tapi jika ia tidak katakan sekarang, maka kesempatan ini akan hilang.

__ADS_1


__ADS_2