
Di kediaman Anton.
Suasana hening seketika setelah Anton dan Serlina mendengar pengakuan Sardin dan saat Antonio keluar rumah, pergi ke teras.
Serlina bingung melihat Sardin. Ia tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran anak muda itu.
”Ya ampun, Sardin! Bibi tidak tahu harus bicara apa lagi sama kamu untuk mengajari mu. Bibi sudah habis kata-kata saat ini, Sardin!” Serlina menghela nafas kasar.
”Maaf, Bibi.” hanya itu kata yang mampu di ucapkan oleh Sardin.
Serlina hanya memandang Sardin, anak dari Alimin, kakak dari suaminya, itu dengan sedih.
Sardin melihat Anton, pamannya yang berada di teras, dari jendela kaca. Anton masih berbicara lewat via telfon dengan Alimin, ayahnya sendiri.
Yah, Sardin menceritakan alasan penundaan dirinya berangkat ke kota S, kepada Serlina dan Anton. Ia juga meminta Anton, pamannya itu untuk meminta izinkan dia ke papanya untuk tinggal beberapa hari lagi di kota A.
Kira-kira apa yang akan di katakan papa dan mama, ya? Apakah aku akan di izinkan? Paman, Bibi, maaf, aku sudah merepotkan kalian berdua. benaknya.
Ia menunduk beberapa saat, kemudian, ia kembali melihat Anton. Pamannya itu baru saja selesai bicara dan sedang melangkah masuk ke dalam rumah.
Anton duduk di samping Serlina. Ia menghela nafas, melihat Sardin.
”Papa mu mengizinkan kamu untuk tinggal selama tiga hari lagi di sini. Setelah ini, entah kamu bertemu dengan Syakila ataupun tidak, kamu harus kembali ke kota S.” ucapnya.
Sardin tersenyum bahagia, ”Ya, Paman. Terima kasih, Paman.” ucapnya.
Paling tidak, aku masih punya waktu tiga hari di sini. Aku yakin...aku akan pergi bersama Syakila dari kota ini. Dan setelah sampai di kota S, aku akan menikahi Syakila, melanjutkan keinginan yang sempat tidak terwujud dulu. benak Sardin.
”Sudahlah, bawa kembali koper mu ke dalam.” titah Anton pada Sardin.
”Iya, Paman. Sardin ke kamar dulu.” ia berdiri dan pergi ke kamarnya sambil mendorong kopernya.
Serlina menghela nafas. ”Sardin terlalu mencintai Syakila. Entah bagaimana dengan Geo, apakah dia berhasil membuat Syakila jatuh hati padanya atau tidak? Tapi, aku bisa melihat cinta yang tulus dari Geo dan Sardin untuk Syakila.”
”Bukan kah masih ada dua Minggu lagi genap satu bulan untuk memastikan nya? Menurut Papa dari ucapan Sardin tadi, Syakila sepertinya masih mencintai Sardin. Jika memang Geo gagal membuat Syakila menyukainya, mereka akan bercerai.”
”Kalau Geo tetap tidak mau bercerai, bagaimana, Pa?”
”Papa juga tidak tahu. Tapi, kita do'akan saja yang terbaik untuk mereka bertiga.”
”Iya, Pa. Kita doakan saja yang terbaik untuk anak-anak.”
”Iya.” Anton berdiri. ”Papa kembali ke pasar dulu.” ia mencium kening Serlina.
”Iya, hati-hati, Pa.”
”Hum!” singkat Anton menyahuti. Ia pun pergi kembali ke pasar. Memantau dan menjaga jualannya.
.. ..
Di kediaman Albert.
”Kamu yakin akan sembunyikan hal ini pada Syakila lagi, Nak? Apa gak sebaiknya katakan saja padanya, Mama gak ingin kamu semakin di benci olehnya.” ucap Rosalina, menasehati.
Geo melihat Syakila. ”Kesempatan untuk bercerai dengan ku akan semakin terbuka baginya jika dia tahu hal ini, Mah. Dia bisa menuntun ku karena aku memaksa dia untuk menikah, dan menggugat ku di pengadilan. Dia akan menang dari ku. Geo juga tidak berniat membohongi dia, tapi, mengingat sikap dan sifatnya, harus menyembunyikan ini darinya. Aku ingin dia selalu ada di sisiku. Aku tidak akan membiarkan dia pergi dari hidupku.” terangnya.
Bermimpi lah untuk menahan ku di sisi mu. benak Syakila.
”Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Mereka akan mengirim surat tidak sah itu pada keluarga Syakila dalam waktu dekat ini.” ungkap Beni.
Geo memijat keningnya, ”Hubungi kembali KUA tersebut, katakan padanya untuk mengirimkan surat itu ke sini, jangan ke keluarga Syakila. Setelah surat itu sampai di sini, baru buat yang baru dan membuat Syakila menandatanganinya.” jelasnya.
Kalau pun aku belum berhasil keluar dari rumah ini, apa kamu kira aku akan bersedia menandatanganinya? benak Syakila lagi.
”Ok, aku keluar dulu. Aku akan pergi ke kantor. Sampai di kantor baru aku menelfon mereka.”
”Apa ada masalah di kantor?” Geo dan Rosalina sama-sama bertanya, khawatir.
”Hanya masalah kecil. Tidak usah khawatir. Ok, aku pergi dulu.” sekali lagi Beni berpamitan..
”Hum, pergilah! Kalau ada apa-apa, hubungi aku.” ucap Geo.
”Iya,” singkat ia menyahuti. Beni pun keluar dari kamar Geo.
”Kalau begitu, Mama juga keluar dulu. Kita sudah melewatkan sarapan pagi, Mama akan memasak untuk makan siang.” ucap Rosalina.
”Iya, Mah.”
Rosalina juga keluar dari kamar Geo.
Geo meminum habis susu nya dan berbaring di samping Syakila. Ia memeluk tubuh Syakila.
Syakila deg degan. Ada rasa tidak biasa yang ia rasakan. Apakah karena dia tahu jika Geo sudah sembuh dan ia takut Geo akan melakukan hal-hal yang tidak di inginkan?
Jantungnya semakin berdetak kencang saat ia merasakan wajahnya di belai lembut oleh Geo.
”Cepat sadarlah, Syakila! Kita harus berbicara. ” ia mencium kening Syakila.
Syakila terkejut, Geo mencium keningnya. Rasanya ia ingin memukul pria itu. Tetapi, ia sekarang sedang berpura-pura pingsan.
Lama-lama berbaring dan memeluk Syakila, ia pun tertidur.
__ADS_1
Berbicara? Aku tidak mau berbicara dengan mu. Aku hanya ingin pergi dari rumah mu ini. benak Syakila.
.. ..
Di kantor polisi.
”Apakah yang Anda katakan ini benar, saudari Marlina?” tanya sang polisi.
”Iya, Pak Polisi!” jawab Marlina. Ia menunjuk sudut bibirnya yang terluka. ”Ini...lihatlah bekas luka di sudut bibir saya. Dan lihatlah masih ada bekas tangannya di leher saya. Ini semua di sebabkan oleh Geo.” ungkapnya.
Pak polisi melihat luka yang di tunjukkan Marlina. Ia pun mengetik keyboard dari laptop yang ada di hadapannya untuk mencatat pernyataan Marlina.
Di sisi lain, kantor polisi tersebut.
Tok tok tok! ”Assalamu 'alaikum!” sapa Beni.
Pak polisi yang di sapa nya itu menegakkan kepala, melihat Beni. ”Oh, wa 'alaikum salam! Saudara Beni, Anda sudah datang! Silahkan duduk.” sahutnya.
Beni bersalaman dengan polisi itu dan duduk. ”Di mana sekarang Marlina?” tanyanya, tidak sabar.
”Dia ada di ruangan ujung dari ruangan ku ini. Dia menemui pak Wandi untuk melaporkan kejahatan yang di lakukan oleh saudara Geo.” jawab sang polisi.
Beni berdiri, ”Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya pergi ke ruangannya pak Wandi. Jangan sampai aku telat.” ucapnya.
”Iya, pergilah!” sahut Rian.
Beni pun pergi dari ruangan pak Rian menemui pak Wandi.
Beni mendapatkan telfon dari pak Rian, kalau ada seorang perempuan yang datang ke kantor polisi untuk melaporkan kejahatan yang di lakukan oleh Geovani Albert.
Dari perusahaan, Beni buru-buru datang ke kantor polisi. Ia sudah menduga jika perempuan itu adalah Marlina.
”Apakah ada alasan si pelaku melakukan hal itu padamu?” tanya polisi itu lagi. Sebenarnya, ia tidak percaya dengan kesaksian yang di ucapkan Marlina.
Beni mendengar pertanyaan pak polisi itu dari luar pintu.
”Tidak ada, Pak! Dia tiba-tiba saja menampar ku dan mencekik leherku.” jawab Marlina.
Beni mendorong pintu ruangan pak Wandi. ”Itu tidak benar!” ucapnya, membela Geo.
Marlina terkejut mendengar suara Beni. Ia cepat berbalik dan melihat Beni yang berjalan masuk ke dalam ruangan Wandi.
”Saudara Beni!” Wandi terkejut dengan kedatangan Beni yang tiba-tiba bahkan pintu ruangannya di buka kasar.
”Beni?” Marlina berbalik melihat polisi. ”Pak Polisi, Beni pun melihat kejadiannya. Tante Rosalina juga melihat anaknya menganiaya saya.”
Pak polisi melihat Marlina.
”Nah, apa Pak Polisi bisa mempercayai ku sekarang? Beni telah mengakuinya.” pangkas Marlina.
”Saudara Beni, bangku di samping mu itu kosong.” ucap Wandi.
Beni melihat bangku di sampingnya, ia pun duduk. ”Tapi, Pak, itu semua karena ada alasan tersendiri. Karena perempuan ini telah menyembunyikan suatu kebenaran dari kejahatan pamannya.” ungkap Beni.
Marlina terkejut. Ia tidak menyangka Beni akan membela Geo daripada dirinya, yang sama-sama terlahir dari rahim ibu yang sama.
”Dan bukan hanya itu, perempuan ini juga memaksa Geo untuk membantu pelaku pembunuhan saudari Dawiyah untuk bersembunyi. Tetapi, Geo menolaknya dan dia memaksa Geo, sehingga Geo Kalaf dan bersikap kasar pada dia.” ungkap Beni lagi.
Marlina melihat Beni dengan perasaan kecewa, ”Perempuan?... perempuan apa?! Aku ini kakak mu, Beni! Kamu dan aku sama-sama lahir dari rahim ibu yang sama. Mengapa kamu membela orang lain yang sudah menyakiti ku di hadapan mu? Apa kamu tidak peduli lagi pada ku? Pada almarhum ibu?”
Marlina mencoba mengatakan pada Beni jika kematian ibu mereka penyebabnya adalah Rosalina, ibunya Geo. Jadi, Beni harus membela dia bukan Geo.
”Sudah! Laporan ini aku hapus! Kalian berdua pergilah dari sini!” usir Wandi. Ia tidak mau mendengar omong kosong dari dua orang yang ada di hadapannya ini.
Ia juga tahu, ia tidak bisa memperkarakan saudara Geovani Albert hanya dari tuduhan Marlina yang ternyata adalah adik dari Geo sendiri. Itu adalah urusan keluarga mereka.
”Tapi, Pak...” Marlina keberatan.
”Tidak ada tapi tapi! Keluarlah!” pangkas Wandi.
Geo...rasa cintaku padamu sekarang berubah menjadi kebencian. Aku sudah buta sehingga mencintai kamu. benak Marlina.
Beni.. meskipun kamu adik ku. Tapi, kamu sudah membela orang yang tidak sepatutnya kamu bela. Kamu pun akan menjadi musuh ku. benak Marlina lagi. Ia memandang Beni dengan marah.
Dengan kesal dan marah Marlina keluar dari ruangan Wandi.
”Terima kasih,” ucap Beni.
”Tidak perlu! Kamu berutang kata maaf padaku.”
Beni mengangkat sebelah alisnya memandang Wandi. Ia pun mengingat saat ia masuk ke dalam ruangan Wandi sangat tidak sopan. ”Oh...maaf, maafkan saya. Saya masuk tidak sopan.”
”Sudah! Keluarlah! Aku ada urusan.” usir Wandi.
”Hei! Aku sudah minta maaf, mengapa kamu tidak puas?” Beni tidak terima.
”Apa lagi yang kamu butuhkan di sini? Hum?” Wandi mengangkat alisnya sebelah, melihat Beni.
”Tidak ada!” jawab Beni dengan ketus.
”Maka, keluarlah! Jangan ganggu kerja ku. Oh, iya, tunggu sebentar.” Wandi memutar penanya, punggungnya di sandarkan ke sandaran kursi.
__ADS_1
Beni melihat Wandi dengan serius.
”Apa kamu tahu kira-kira di mana Antonio bersembunyi? Kami sudah mencari dan melacaknya. Tapi, kami tidak menemukan dia di mana-mana.” ucap Wandi.
”Di mana tempat terakhir kalian menemukan jejak kakinya?” tanya Beni.
”Di rumah Vian, pamannya.”
Beni terdiam. Mungkinkah dia bersembunyi sementara waktu di villa paman? benaknya.
”Aku tidak tahu di mana dia sekarang. Tapi, keluarga ku punya beberapa villa di puncak gunung. Jika kamu ingin, jalan-jalan lah di sana. Mungkin kamu bisa mendapatkan informasi dari sana.” ungkap Beni.
”Baik, terima kasih. Karena tidak ada hal lain lagi, keluarlah.” ia kembali mengusir Beni.
”Baiklah! Aku pulang dulu.” ia berdiri, ”Sekali lagi, terima kasih.” ucapnya tulus.
”Hum!” singkat Wandi menyahuti.
Beni pun keluar dari ruangan Wandi. Dari kantor polisi, ia kembali ke perusahaan. Mengurus apa yang di tinggalkan tadi. Setelah urusannya selesai, dia pulang ke rumah.
.. ..
Di kediaman Vian.
Vian terdiam sesaat saat mendengar cerita Marlina, anak keponakannya.
Jika benar seperti dugaan ku. Beni pasti sudah membocorkan keberadaan Antonio pada Wandi. Wandi dan Rian adalah teman akrab dari Beni. Aku harus menelfon Antonio untuk pergi dari sana. benak Vian.
”Kamu tidak usah khawatir dengan kakak mu. Dia baik-baik saja sekarang.” ucap Vian.
”Syukurlah! Marlina memang khawatir sekali saat tahu kakak menjadi incaran polisi. Mengapa kakak harus membunuh Dawiyah sih? Padahal kakak mencintai nya.” ia sangat penasaran akan alasan kakaknya mencelakai Dawiyah, gadis yang di cintai nya.
Setelah pergi dari kantor polisi Marlina pergi ke rumah pamannya, Vian. Ia mengadukan kegelisahannya dan juga memberitahukan apa yang dialami Antonio, kakaknya itu pada Vian.
Tanpa di duga oleh Marlina. Ternyata Vian mengetahui permasalahan yang di alami kakaknya itu. Ia pun tidak khawatir lagi dengan Antonio.
Vian menyalakan rokoknya, menghisapnya, dan mengeluarkan asapnya ke udara. ”Mereka sudah lama putus! Antonio tidak mencintainya lagi. Dia mencintai gadis lain, dia adalah Syakila, istrinya Geo.” ungkapnya.
”Hah?!” Marlina terkejut. ”Ka..kakak mencintai Syakila? Ba.. bagaimana bisa?” tanyanya, tidak percaya.
”Iya, tapi, kamu tenang saja! Kakak mu sekarang membencinya. Karena adalah anak dari Halim, yang memenjarakan nenek dan ayah mu, juga yang membunuh ayah mu.” ungkap Vian. Ia kembali menyesap rokoknya.
”Apa! Ja.. jadi, Syakila....” raut wajahnya berubah marah, ”Paman, aku akan membuat perhitungan dengan Syakila.”
Vian menghisap rokoknya, membuang asapnya ke udara dan mematikan rokoknya di dalam asbak.
”Kamu tidak usah ikut campur! Biarkan saja dia. Kakak mu punya cara sendiri untuk membalaskan dendam. Kamu tinggal baik-baik saja di rumah itu.” Vian menasehati Marlina.
”Tapi, Paman! Marlina tidak mungkin akan kembali ke rumah itu! Marlina hampir di bunuh oleh Geo. Belum lagi, kalau Beni memberitahu Geo aku melaporkan Geo ke kantor polisi. Apa yang akan Geo lakukan padaku nanti?!”
”Kalau begitu, kamu tinggal di apartemen kakak mu saja.” usul Vian.
”Iya, Paman. Tapi... pakaian ku masih ada di rumah itu.”
”Ayo, Paman antar kamu belanja pakaian. Tapi, Paman tidak akan membelikan banyak untuk mu. Paman hanya membelikan mu delapan lembar saja.”
”Baik, Paman.”
”Hum! Kamu tunggu Paman di mobil.”
”Ok,” Marlina berdiri dan pergi ke mobil.
Vian meraih hapenya, ia mencari nomor kontaknya sendiri, nomor lamanya. Lalu, ia menghubungi nomor tersebut.
Untung saja aku sudah membuang hape dan nomor telepon Antonio sebelumnya di tempat sampah. Dan aku sudah memberikan hape dan nomor lama ku padanya. benak Vian.
Telfon tersambung.
”Ya, Paman?”
”Kamu segera pergi dari villa. Tempat itu tidak aman lagi. Mungkin saja polisi sudah mengetahui keberadaan mu dan berencana menyergap mu di sana. Kamu ambil kartu rekening Paman di dalam laci kamar Paman. Paman akan mentransfer uang untuk kamu.”
”Tapi, Paman...kemana Antonio akan pergi?” Antonio kebingungan.
Ia ingin kembali ke apartemennya atau ke apartemen pamannya tidak mungkin.
”Kamu pergi saja ke tempat Eg yang lama. Mereka tidak akan mencari mu ke sana.” usul Vian.
”Ah, iya. Paman benar! Ok, Antonio akan pergi ke sana. Di sana juga ada seorang teman yang aku kenal. Selama beberapa hari aku akan tinggal di sana sambil memikirkan cara untuk membuat Geo hancur bersama dengan Syakila.” sahut Antonio.
”Hum! Kalau begitu, Paman akhiri. Kamu hati-hati.”
”Iya, Paman.”
Vian pun memutuskan sambungan. Ia mengambil kunci mobil dan memakai topinya. Ia pun keluar dan mengunci pintu rumahnya dan menghampiri Marlina yang menunggunya di dalam mobil.
”Mengapa Paman lama sekali?” tanya Marlina. Saat Vian, pamannya itu masuk ke dalam mobil.
”Paman baru habis menelepon kakak mu.” ia menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
”Oh..” singkat Marlina menyahuti.
__ADS_1
.. ..