
Keesokan paginya, di meja makan, di dapur kediaman Alimin.
”Bagaimana tidur mu semalam Nak, lelap?” tanya Nesa.
”Iya, alhamdulilah. Hardin tidur dengan nyenyak.” jawab Hardin.
”Lalu, setelah ini apa kegiatan mu? Papa berencana ingin mengajak mu ke mitra tv dan mengajak mu berkeliling, memperkenalkan mu dengan situasi di sana.” ucap Alimin.
”Maaf, Pa. Sepertinya, Hardin gak bisa hari ini. Hardin mau pergi ke rumah sakit. Ingin menjenguk kakak, sekalian membelikan buah jeruk untuk kakak. Kakak sudah sadar tadi malam.” ungkap Hardin.
”Alhamdulillah!” syukur Alimin dan Nesa. Mereka berdua senang dan bahagia mendengar Syakila baik-baik saja. ”Kalau begitu, kita perginya sama-sama.” lanjut Nesa berucap.
Hardin terdiam. Yah...bagaimana ini? Padahal rencana mau ke rumah dulu. Memberitahu mama Syakila sudah sadar dan sekalian mengajak mama ke rumah sakit menjenguk Syakila. Tapi, mama di sini sudah meminta ku duluan. Aku harus gimana? benaknya.
”Iya, Hardin pergilah dengan Mama mu. Papa tidak bisa menemani kalian ke rumah sakit. Papa masih ada urusan di tempat kerja Papa. Apa tidak merepotkan mu?” tanya Alimin.
”Em...tidak Pa. Hardin akan pergi dengan Mama. Tapi...Hardin ke rumah mama ku dulu mengambil motor.”
”Mengambil motor?” Alimin dan Nesa saling pandang.
”Iya. Biar Hardin bebas untuk berkendara atau melakukan perjalanan.” jawab Hardin.
”Kamu mikir apa Nak? Di rumah ini, milik Sardin adalah milikmu. Di bagasi ada mobil dan motor milik Sardin. Kamu ambillah untuk memakainya. Kuncinya, biasanya Sardin menyimpannya dalam laci kecil, di tengah, di meja hiasnya.” tutur Nesa.
”Iya, Ma.” sahut Hardin.
Mereka telah menyelesaikan makannya.
”Kalau begitu, Papa berangkat kerja dulu. Kalian, berhati-hati saat pergi ke rumah sakit.” Alimin menasehati Hardin dan Nesa. Dia berdiri.
”Iya, Pa.” sahut Hardin dan Nesa.
Alimin pergi bekerja, sebelumnya, dia mencium kening sang istri.
”Ya sudah. Kamu bersiaplah. Mama akan merapikan ini dulu. Kamu tunggu Mama saja di teras rumah jika sudah selesai bersiap.” tutur Nesa.
”Iya. Ma.” Hardin melangkah pergi dari dapur. Dia pergi ke kamarnya.
Nesa masih membersihkan meja makan. Setelah selesai, dia pergi ke kamarnya untuk bersiap.
Di kamar Sardin.
Hardin sedang memilih pakaian Sardin untuk dia kenakan. Meskipun tinggi dia dan Sardin berbeda, baju-baju Sardin tampak muat di badan Hardin.
Hardin berdiri memandang dirinya di cermin. ”Apakah tidak apa-apa aku mengenakan baju almarhum untuk menjenguk kakak? Apa kakak tidak akan sedih melihat baju Sardin yang ku kenakan ini? Takutnya, memori tentang kakak Sardin akan teringat kembali di ingatan kakak, dan akan membuat kakak sedih.”
”Sudahlah, pakai saja. Aku juga harus membiasakan diri mengenakan pakaian Sardin. Jika tidak, mama di sini akan kecewa padaku. Lagi pula, kakak juga harus terbiasa dengan kenangan kakak bersama Sardin. Biar saat kakak teringat dengan almarhum, bukan kesedihan lagi yang kakak rasakan.”
Hardin membuka laci meja hias, yang berada di tengah. Dia melihat ada satu kunci mobil dan dua kunci motor, di dalam laci itu. Dia sedang bingung ingin meraih kunci mobil atau kunci motor untuk dia pakai.
Akhirnya dia meraih kunci mobil setelah beberapa menit dia berfikir. Dia kembali menutup laci dan keluar dari kamar. Dia terus berjalan keluar, ke teras rumah.
Pandangannya belum melihat keberadaan Nesa di teras rumah. Dia terus melangkah ke bagasi. Dia melihat mobil Sardin.
Dengan bismillah, dia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. Lagi-lagi dia menemukan foto kakak nya di dalam mobil itu. Foto kakaknya dan Sardin dalam ukuran kecil yang tergantung di dalam gantungan kecil berbentuk love, yang di gantung di bawah kaca spion mobil.
Apa benar cinta membuat orang menjadi gila? Apakah cinta seperti ini? benak Hardin, sambil menggelengkan kepala.
Dia menyalakan mesin mobil. Setelah itu, dia menjalankan mobil keluar dari bagasi ke halaman rumah. Dia keluar dari mobil dan pergi duduk ke teras rumah.
Dia membiarkan mesin mobil dalam keadaan menyala dan pintu mobil dalam keadaan terbuka. Dia sedang menunggu Nesa.
Tidak lama kemudian, Nesa datang. ”Sudah lama menunggu Mama?” Nesa mengunci pintu rumah dan memasukkan kunci ke dalam tas nya.
”Belum, Ma.” Hardin berdiri.
”Oh. Ayo, kita pergi sekarang.” ajak Nesa. Dia berjalan duluan sampai ke mobil.
Hardin menyusul di belakangnya. Nesa membuka pintu mobil depan satunya dan masuk ke dalam mobil. Hardin sendiri juga masuk ke dalam mobil.
Dalam posisi siap, Hardin menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.
.. .
Di rumah sakit.
__ADS_1
”Ugh...apa ini sudah pagi?” Syakila bangun dan duduk bersandar di ranjang. Pandangannya menyapu ke seisi kamar.
”Kamu sudah bangun? Mencari Geo?” Rivaldi berjalan mendekati Syakila. Dia duduk di sisi ranjang Syakila.
”Tidak. Hanya kamu sendiri di sini? Mamaku? Adikku? Apa mereka tidak datang menjenguk ku?” tanya Syakila.
”Tadi malam...mama mu, Hardin, Nesa, Alimin datang menjenguk mu. Sebelum kamu sadar mereka telah pulang. Mungkin mereka akan datang menjenguk mu sebentar, mengikuti Geo. Kebetulan, Geo sedang pulang ke rumah.” ungkap Rivaldi.
Oh, dia pulang ke rumah. Kirain di kamar mandi. benak Syakila.
”Sudah lama dia pergi?”
”Setengah jam yang lalu. Kamu ingin makan sesuatu? Aku akan pergi belikan untuk mu.” tawar Rivaldi.
”Tidak.” jawab Syakila. Dia memegang kalung yang ada di lehernya. Kalung pemberian Sardin sewaktu mereka kecil dulu. Juga kalung yang menjadi mahar untuk pernikahan dia dan Sardin. Namun, sayangnya kalung itu malah menjadi mahar dia dan Geo. Dia menghela nafas.
”Kenapa? Rindu Geo? Atau Sardin?” Rivaldi penasaran. Tentu saja dia menyadari pikiran Syakila saat ini. Bukan karena apa, kalung yang sedang dia pegang-pegang itu, ada dua makna yang tersembunyi.
Syakila melihat Rivaldi, ”Menurutmu?” dia bertanya balik.
Rivaldi tersenyum, tangannya menggaruk alisnya yang tidak gatal. ”Mana yang lebih berarti, di pakaikan yang pertama atau yang di pakaikan yang ke dua?” dia malah melimpahkan jawaban pada Syakila sendiri.
Syakila terdiam. Dia tidak bisa menjawabnya. Yang memakaikan pertama adalah Sardin. Tentu saja kalung itu mencerminkan perasaan Sardin untuk dia. Dan itu sangat berarti dalam hubungan mereka berdua. Yang memakaikan kedua adalah Geo. Meskipun maknanya lebih tinggi, tapi tetap saja kalung itu adalah pemberian Sardin.
”Syakila, jika kamu ingin bahagia. Aku sarankan padamu untuk melepas masa lalu, dan kejarlah masa depan yang ada di matamu sekarang.” Rivaldi menghentikan ucapannya ketika Syakila menatapnya.
”Aku tahu cintamu dengan Sardin seperti apa. Tapi, kamu tidak bisa hidup dalam bayangan Sardin. Kamu hanya akan menipu dirimu sendiri dan menyakiti perasaan Geo. Aku tidak menyuruh mu untuk mengubur kenangan mu bersama Sardin. Tapi, lihatlah Geo sekarang. Dia adalah suami mu, masa depan mu. Hargai perasaannya. Ok?”
”Mungkin aku butuh waktu untuk itu. Bagaimana jika aku masih melihat diri Sardin pada Geo?” tanya Syakila.
”Kamu yakinkan dirimu sendiri kalau itu bukan Sardin, tapi Geo. Suamimu.”
”Kalau aku tidak bisa?”
”Kamu bisa.”
Syakila dan Rivaldi menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu di dorong terbuka dari luar. Mereka melihat Hardin dan Nesa yang berjalan masuk ke dalam ruangan, menghampiri mereka.
Syakila menatap adiknya sekejap. Pakaian yang di kenakan adiknya adalah pakaian Sardin yang di pakai Sardin saat pertama kali menjemputnya di the cobra.
”Alhamdulillah, Syakila sudah baikan Ma.” jawab Syakila. Dia melihat Hardin yang sedang mengupas jeruk.
”Kak, kenapa kakak terus menatap Hardin? Apa ada yang salah dalam penampilan Hardin, saat ini?” Hardin memberikan jeruk yang telah di kupas pada Syakila.
Syakila mengambilnya. ”Apakah itu baju baru mu?” dia melihat kembali baju yang di pakai adiknya.
”Oh, dia memakai baju Sardin. Sekarang, kepunyaan Sardin adalah milik Hardin. Hardin sekarang menjadi anak angkat Mama. Jadi, dia tinggal bersama Mama sekarang. Tapi, dia masih bebas untuk tinggal di manapun yang dia mau. Di rumah ku, atau di rumah Sarmi.” ungkap Nesa.
Syakila mengangkat sebelah alisnya melihat Hardin. Hardin memberi kode mata pada Syakila. Syakila mengerti.
”Makanlah jeruknya kak. Hardin sudah kupas kan khusus untuk kakak. Masa gak di makan, cuma di pegang saja!” keluh Hardin.
”Iya, kakak akan makan. Makasih ya.” Syakila mengambil sepotong jeruk dan memakannya.
”Di mana kakak ipar? Kok gak kelihatan?” tanya Hardin.
”Aku di sini. Kenapa? Rindu?” sahut Geo sambil berjalan masuk ke dalam ruangan.
Semua mata melihat Geo. Di belakang Geo ada Sarmi dan adik-adik Syakila juga ada Johan dan Biah.
Syakila tersenyum melihat keluarganya.
Sarmi berjalan cepat mendekati Syakila. Dia memeluk erat tubuh Syakila. ”Bagaimana keadaan mu, Nak?” suaranya terdengar serak.
”Mama, jangan menangis. Maaf, Syakila sudah membuat Mama khawatir dan cemas. Syakila baik-baik saja Ma.” Syakila menenangkan hati mamanya. Dia menepuk pelan punggung mamanya tersebut, yang masih dalam pelukannya.
”Kamu yang sabar, yang kuat ya Nak. Mama tidak mau kamu kenapa-kenapa.” hati Sarmi masih merasakan kecemasan. Apalagi saat dia mendengar cerita Geo kalau Syakila masih mengira Sardin masih hidup dan dalam perawatan.
”Iya, Ma. Syakila kuat kok. Syakila kuat seperti Mama.” dia tahu hati mamanya masih cemas kepadanya.
”Em...sayang. Aku bawakan sarapan untukmu. Kamu makan dulu ya.” ucap Geo. Dia membuka bungkusan plastik dan mengeluarkan bekal makanannya Syakila.
”Untukku mana? Kok kamu gak adil! Kamu suruh aku jaga Syakila tapi, kamu gak bawakan makanan untuk ku.” keluh Rivaldi.
Geo menatap Rivaldi, ”Untukmu! Mau!”
__ADS_1
Rivaldi menggeleng dua kalimat yang di ucapkan Geo adalah ancaman untuknya.
Geo memberikan makanan Syakila.
Tok tok tok! ”Permisi! Pak dokter, Anda di tunggu oleh pasien di ruang sekar dengan nomor kamar 15.” ucap perawat.
Semua mata mengarah pada perawat yang sedang berdiri di bibir pintu yang terbuka itu.
”Oh, baiklah. Saya akan ke sana.” jawab Rivaldi.
Perawat itu berbalik pergi setelah mendapat jawaban dari Rivaldi.
”Baiklah, kalian bersantai dulu di sini. Aku harus pergi menemui pasien ku.” pamit Rivaldi.
”Iya.” sahut semuanya.
Rivaldi pergi dari ruangan Syakila.
”Baiklah, Geo, kamu temani istrimu makan. Kami akan berjalan-jalan sebentar ke taman rumah sakit.” ucap Sarmi.
”Iya, Mah.” sahut Geo.
Nesa, Biah, Johan, dan adik-adik Syakila keluar dari ruangan. Meninggalkan Syakila dan Geo.
”Kenapa gak di makan? Gak suka?” tanya Geo. Dia melihat Syakila hanya mengaduk-aduk makanannya saja. ”Atau...mau aku suapi?”
Syakila menggeleng. ”Aku masih sedikit kenyang, habis memakan jeruk yang di berikan Hardin.”
Geo mengambil alih makanan dan sendok dari tangan Syakila. ”Itu kamu hanya makan buah saja, tidak akan membuat mu kenyang. Sekarang, kamu harus mengisi perut mu dengan nasi goreng ini.” dia mengambil sesendok nasi dan menyuapi Syakila.
Syakila menatap Geo. Tapi yang dia lihat adalah Sardin. Dia membuka mulutnya dan memakan suapan Sardin, sambil terus melihat wajah Sardin, di wajah Geo.
”Kenapa melihat ku terus? Aku tampan kan? Kamu sudah mulai tertarik dengan ku?” goda Geo, sambil tersenyum.
Yang di lihat dan di dengar Syakila adalah Sardin yang sedang tersenyum dan menggodanya.
Syakila balas tersenyum, ”Kamu memang ganteng dari dulu. Dan wajah ganteng ini hanya milikku seorang.” dia menarik kepala Geo dan mencium bibir Geo.
Geo terkejut sekaligus senang dengan sikap agresif Syakila.
Anak ini... pertama kalinya dia berinisiatif untuk mencium ku. Selama menikah dengannya yang pertama dulu, Syakila tidak pernah menciumnya sekalipun. Yang ada hanyalah aku yang memaksa menciumnya. benak Geo
Dia membalas ciuman Syakila. Setelah beberapa menit berciuman, Geo memutuskan ciuman mereka. ”Makan dulu, kamu gak akan kenyang kalau memakan bibir ku.” goda Geo lagi.
Syakila tersadar, yang dia cium bukan lah Sardin, melainkan Geo. Dia terdiam sambil menunduk.
”Kenapa? Kamu marah?”
Syakila mendongak, melihat Geo. Kali ini benar-benar wajah Geo yang di lihatnya. ”Aku tidak marah. Suapi aku lagi.” titahnya.
Dia tidak mungkin akan memberitahu Geo jika dia tadi sedang mencium Sardin. Dia akan menjaga perasaan Geo.
”Iya, sayang.” dia kembali menyuapi Syakila.
.. ..
Di taman rumah sakit.
”Astaghfirullah! Apakah benar begitu?” ucap Nesa dan Biah. Mereka terkejut mendengar cerita Sarmi tentang Syakila.
”Iya. Jadi, bagaimana? Apakah besok Syakila harus tetap hadiri ketiga harinya Sardin?” tanya Sarmi.
”Kalau menurut ku. Lebih baik Syakila hadir dan mengikuti haul Sardin. Agar dia yakin kalau Sardin sudah meninggal.” usul Johan.
”Iya. Aku setuju. Kita harus membantu Syakila untuk menghilangkan halusinasinya tentang Sardin. Jika kita membiarkan terus menerus, lama-lama akan berakibat fatal bagi kondisi mental Syakila.” sambung Biah.
”Meskipun Sardin adalah anakku. Dan aku senang dengan kuatnya cinta Syakila pada Sardin. Tapi, kenyataannya Sardin telah meninggal. Aku setuju, Syakila harus terlepas dari bayangan Sardin.” ucap Nesa
”Hardin juga setuju dengan yang di ucapkan Bibi, Om dan Mama Nesa. Syakila tidak boleh tenggelam dalam halusinasi bayangan Sardin. Kasihan Geo. Perasaannya yang akan tersakiti.” tutur Hardin.
Sarmi terdiam. Dulu saat Halim meninggal dia hampir saja tenggelam dengan bayangan kenangan dengan almarhum, seakan almarhum masih hidup. Jika dia tidak berusaha tegar dan mengalihkan perhatiannya ke anak-anaknya, mungkin dia akan sakit mental.
Sarmi mengangguk. ”Baik. Kalian benar. Kita harus membantu Syakila agar tidak tenggelam dengan bayangan halusinasi Sardin.”
.. ..
__ADS_1