
Wah gila nih cewe, banyak banget kebutuhannya. Bukannya membeli satu saja dalam satu macam barang. Tapi, ini serba dua semua, mana botol besar pula. Ini semacam pemerasan, ah menyesal aku tawarin dia.
batin Hamid. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Halima menyadari itu. Itu tersenyum kecil.
Bagaimana Hamid? Merasa menyesal sekarang? Makanya, jangan sok menawari deh. Sekarang sudah tau kan, berapa banyaknya kebutuhan ku? Ini belum semua ku sebutkan kebutuhanku, baru sebagian yang sudah habis. Bagaimana jika aku menyebutkan semuanya? Jadi, kamu gak bakal nolak lagi jika aku menyuruh mu untuk mencarikan kerja untukku.
batin Halima.
”Apa ini saja barang yang kamu butuhkan, Ima? Atau masih ada yang lain?” tanya Denis. Ia menyodorkan barang pesanan Ima dalam sebuah kantong plastik.
Halima tersenyum jenaka. ”Hemp, tidak ada lagi Denis. Hanya ini saja kebutuhanku yang sudah habis. Sebenarnya, memang masih ada barang yang masih ku inginkan. Tapi,__”
”Tidak usah sungkan-sungkan, sebutkan saja kalau masih ada barang yang kamu butuhkan!” ucap Hamid menyela ucapan Halima. Ia melirik Halima.
Ck, masih sok dia.
batin Halima.
”Aku tidak sungkan, Hamid. Tapi, kebutuhanku yang habis hanya ini.” elak Halima.
”Baiklah, berapa semua itu, Denis?” tanya Hamid.
”Semuanya, Empat Ratus Ribu, Bang.”
”Apa?” Hamid terkejut. ”Apa kamu gak salah menghitungnya, Denis?” tanya Denis tidak percaya.
”Tidak, Bang. Aku sudah menghitungnya dengan benar.” jawab Denis.
Halima tersenyum mengejek. ”Mengapa Hamid? Tidak mampu bayar?” tanyanya.
”Hah, siapa bilang aku tidak mampu bayar? Belanjaannya mantan istriku yang satu juta bisa aku bayar, masa yang hanya empat ratus ribu begini saja aku tidak mampu membayarnya? Jangan meremehkan ku, Ima!” ucap Hamid membela diri.
Hamid mengeluarkan dompetnya, dan ia mengeluarkan uang senilai seratus ribu sebanyak empat lembar dan memberikan kepada Denis.
”Ini Denis, coba hitung lagi, jangan sampai kurang.” Hamid melirik Halima yang masih terlihat tersenyum mengejeknya.
Ck sombong bangat.
batin Halima.
Meskipun kamu memakai cadar, apa kamu kira aku tidak tahu kalau kamu sedang mengejekku, sekarang? Sial, belanjanya saja empat ratus ribu. Iya kalau seandainya kamu pacarku, atau istriku gak merasa keberatan mengeluarkan uang itu. Tapi ini, kamu siapaku? Halim, cepatlah kamu datang kesini, aku akan memperhitungkan ini denganmu.
batin Hamid.
”Ini uangnya sudah pas, Bang. Tidak kurang, tidak lebih.” jawab Denis, setelah ia menghitung uangnya.
”Tidak ada lagi kan yang ingin kamu beli?” Hamid bertanya ketus pada Halima. Halima menggeleng. ”Kalau kamu Upa? Apa ada barang yang ingin kamu beli?” Mulfa juga menggeleng. ”Baiklah kalau sudah tidak ada, ayok kita pulang!”
”Denis, aku pulang dulu.” pamitnya.
”Iya, Bang. Hati-hati, dan terima kasih sudah berkenan datang berbelanja disini.” sahut Denis dengan tulus. Hamid mengangguk.
Ia langsung melangkah keluar dari toko Halim. Halima dan Mulfa menyusul di belakangnya. Hamid berhenti sejenak, membuat Mulfa dan Halima ikut terhenti.
”Cepat, cari dia di antara kerumunan orang-orang itu, dia pasti ada di sekitar sini. Dia tidak bisa bersembunyi terus-terusan!”
Deg deg deg!
Mulfa, Hamid, dan Halima mendengar salah satu ucapan bodyguard yang menjaga Halima dulu. Membuat mereka gugup seketika. Hamid mendekati Halima dan merangkul kan tangannya di pinggang Halima. Dan tangan satunya, ia memegang tangan Mulfa. Lalu, Hamid berjalan melewati mereka dengan tenang.
Halima sempat bersitatap dengan mantan bodyguard nya itu, namun sedikitpun bodyguard itu tidak menyadari jika yang menatapnya itu adalah Halima. Mereka lolos dengan aman.
Hamid melepaskan tangannya dari pinggang Halima. Dan ia masuk ke mobil. Halima dan Mulfa menyusul. Setelah mereka masuk, Hamid langsung menjalankan mobilnya.
”Kakak, bukan kah itu tadi__”
”Sststts. Diamlah! Jangan berisik!” Hamid dan Halima berucap bersamaan. Mulfa cemberut. Ia terdiam sama halnya Halima dan Hamid yang terdiam.
Hamid menghentikan mobil tepat di depan rumahnya. Mereka bersama-sama menurunkan semua belanjaan dari mobil. Setelah selesai mereka istrahat sebentar di sofa.
”Halima, mulai siang ini aku akan makan disini sampai seterusnya, sampai kamu gak tinggal di rumah ini lagi.” ucap Hamid.
”Apa? Apa aku gak salah dengar? Mengapa kamu harus makan disini?” Halima bertanya dengan bingung memandang Hamid.
__ADS_1
”Hei, aku sudah berbelanja yang banyak! Aku tidak mau rugi! Pokoknya, siang dan malam aku akan makan disini. Bila perlu, aku akan tinggal disini untuk mengawasi kalian berdua.”
”Terserah mu, ini rumahmu kami hanya numpang. Yang penting kamu jangan macam-macam.” ancam Halima.
”Hum, bagus kalau sadar diri, aku mau tidur siang.”
Tanpa menunggu sahutan, Hamid pergi ke kamarnya. Kamar pertama dari rumah itu. Kamar yang menjadi kamar pribadinya dengan mantan istrinya. Ia beristirahat di sana.
”Kakak, apa dia serius? Dia akan tinggal bersama kita disini?” tanya Mulfa penasaran.
”Biarkan saja, ini rumahnya. Tidak ada ruginya juga untuk kita, justru dengan adanya dia, kita bisa terlindungi.” jelas Halima. ”Mending kita bergantian sekarang, kakak sudah merasa panas dengan pakaian ini. Dan, setelah itu bantu kakak memasak.”
”Ok, kakak. Mulfa juga sudah merasa panas dengan pakaian ini.” sahut Mulfa.
Mereka pun bergantian. Dan memulai untuk memasak di dapur. Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, masakan mereka telah siap. Mereka menatanya dengan rapi, di meja makan.
”Apa kita harus makan sekarang, kak? Apa gak perlu bangunkan si songong itu, kak?” ucap Mulfa sambil melirik arah kamar Hamid.
”Kakak juga bingung. Kamu makanlah, kakak akan bangunkan dia dulu.” Halima pergi ke kamar Hamid.
Tok tok tok!
”Hamid, bangun Ham. Makan siang sudah siap.”
Halima mengetuk pintu Hamid sambil berucap. Hamid yang baru saja tertidur, ia terbangun lagi dengan ketukan pintu di kamarnya.
Tok tok tok!
”Hamid, apa kamu sudah bangun?”
Halima kembali mengetuk, saat belum mendengar sahutan Hamid.
”Iya, bentar!” sahut Hamid.
Setelah mendengar sahutan Hamid, Halima langsung kembali ke kursinya. Ia menyendok makanan untuknya menemani sang adik yang lagi makan.
Hamid datang dengan wajah kusutnya. Ia memakan siangnya dengan tidak berselera. Halima dan Mulfa membiarkannya saja. Hamid makan sangat sedikit, setelah selesai ia kembali ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata untuk Halima.
Pria sombong ini. Mengucapkan terima kasih saja sangat sulit. Tapi, ada apa dengannya, yah? Mukanya sangat kusut. Apa Karna tidurnya yang terganggu atau pikirannya yang terganggu? Eh, kenapa aku malah memikirkan dia?
”Mulfa, jika sudah selesai makan. Kamu atur meja makan, yah. Kakak ingin istrahat. Kamu simpan saja piring kotornya, nanti kakak yang cuci.” ucap Halima. Ia berdiri dari duduknya.
Halima masuk ke kamar, ia sedang beristirahat. Mulfa kini sedang membereskan meja makan. Setelah itu, ia menyusul kakaknya untuk istrahat.
.. ..
Ini adalah perjalanan pertama kalinya buat Sarmi dan anak-anaknya. Mereka sangat merasa bosan. Jika saja aku ada di kampung, pasti sudah menyibukkan diri. Tapi, di atas kapal apa yang bisa di lakukan? Hanya tidur, makan, mandi saja. Pikir Syakila.
Ia sedang berbaring di samping papanya. Sedangkan Fatma ia sedang memandang air laut di balik kaca kapal. Sedangkan, Sarmi ia sedang memandikan Endang dan Hardin yang kepanasan.
”Papa, apa masih lama kita akan sampai ke kota?”
"Besok baru kita akan sampai, sayang. Kenapa? Kamu bosan?” Syakila mengangguk. ”Tunggu setelah Mamamu memandikan adikmu, Papa akan ajak kamu ke dek atas.”
”Iya Pa, Asya mau.” sahut Syakila dengan antuasias.
Halim tersenyum. Ia memandang Fatma yang masih memandang laut. ”Kalau kamu Fatma, mau ikut ke atas?”
”Tidak Pa, Fatma Disni saja bersama mama dan adik-adik.” sahut Fatma. Ia melihat papanya sebentar baru kembali melihat laut.
Mau naik ke atas dan disini sama saja kan? Air laut juga yang di lihat.
batin Fatma.
Tidak lama Sarmi datang bersama anaknya. Halim membantu memakaikan baju pada Endang. Setelah selesai, ia berpamitan pada istrinya untuk pergi ke dek atas bersama Syakila.
Dengan senang hati, Sarmi mengizinkan mereka.
Halim mengajak Syakila pergi ke kafe yang ada di kapal. Mereka duduk di salah satu bangku yang tersedia di sana.
”Syakila, ada yang ingin Papa bicarakan sama kamu.”
”Apa itu, Pa?” Syakila memasang wajah penasarannya.
”Kamu tahu Sardin, kan?”
__ADS_1
Syakila mengangguk. ”Iya Pa. Kami berteman sangat dekat.” Syakila menunjukkan kalung di lehernya. ”Kalung ini, adalah kalung pemberian dari kak Sardin sebelum dia pergi ke kota S.” jelas Syakila.
Ternyata benar, Syakila dan Sardin sangat dekat. Pantas, Anton selalu membicarakan Syakila dan Sardin di sela-sela pembicaraan kami. Aku mengira Anton akan menjodohkan anak kemenakannya itu dengan Syakila. Meskipun, Anton tidak berbicara secara langsung. Tapi, dari tiap membicarakan Sardin dan Syakila ia sangat antusias.
batin Halim. Ia memandang anaknya itu lekat lekat.
”Papa coba lihat itu, warna jingga di langit itu, sangat indah, Pa.” ucap Syakila dengan tersenyum. Halim ikut memandang ke arah yang di pandang Syakila.
”Kamu akan sering lihat itu nanti sayang, kalau sudah sampai di kota."
”Benarkah, Papa?” tanya Syakila tidak percaya.
”Iya sayang. Pasar disana dekat dengan laut. Dan rumah Papa ada di atas tokonya Papa. Kamu bisa melihatnya setiap hari dari belakang rumah kita, sayang.” jelas Halim.
”Asyik.” ucap Syakila dengan tersenyum senang.
"Sekarang kita kembali ke bawah yah. Temani Papa untuk antri makanan di pantry, untuk makan malam kita."
”Ok, Pa.”
Mereka pun pergi dari Kafe dan pergi ke pantry. Setelah mendapat makanan dan minuman mereka kembali ke tempatnya.
”Mama, kami datang.” seru Syakila. Ia menyimpan makanan dan minuman yang di pegangnya di atas tempat tidur.
”Eh, sudah datang sayang." Sarmi menyambut mereka.
”Mama, Papa sudah mengambil makanan, beri makanlah anak-anak." ucap Halim.
Sarmi mengangguk. Ia membuka kotak makanan yang di bawa suaminya dan Syakila tadi, dan menyuruh anaknya untu makan. Syakila, Fatma, Yuli, dan Ita memakan makanannya sendiri. Sedangkan Hardin di suapi oleh Sarmi, dan Halim menyuapi Endang.
Setelah anak-anak mereka makan. Kini, giliran Sarmi dan Halim yang memakan makanannya. Mereka makan dengan diam, namun terkadang mereka saling memandang. Hingga makanan mereka habis.
Setelah selesai makan, Halim pergi mandi. Usai mandi dan berganti, giliran Sarmi yang mandi. Dan Halim menidurkan anak-anaknya. Usai mandi dan berganti Sarmi mendekat ke arah anak dan suaminya.
Ia melihat mereka satu persatu. Mereka audah tertidur semua. Pikir Sarmi. Ia mengambil selimut panjang, menyelimuti anaknya dan mengambil sarung untuk menyelimuti suaminya.
Namun, siapa di sangka ternyata, Halim belum sepenuhnya tertidur. Ia terbangun saat Sarmi memberikan sarung padanya.
”Papa, Mama kira Papa sudah tidur.” pelan Sarmi berucap.
Halim terbangun dari baringnya, dan turun dari tempat tidurnya. Ia memegang tangan Sarmi mengajaknya keluar dari kamar kapal. Halim mengunci kamar dari luar, membiarkan anaknya tertidur di dalam.
”Apa tidak apa mengunci mereka di dalam, Pa?” tanya Sarmi.
”Tidak apa, Mah.”
Halim kembali memegang tangan Sarmi. Ia mengajak Sarmi di dek paling atas. Mereka sama-sama memandang laut yang berkilauan dengan warna-warna yang terpancar dari kapal.
Angin begitu kencang, hingga membuat Sarmi kedinginan. Halim melepas jaketnya dan memakaikan pada Sarmi lalu ia pun memeluk Sarmi dari belakang.
"Apa masih terasa dingin?" bisik Halim. Sarmi menggeleng malu-malu.
”Mama, jika besok kita sampai di kota. Jika, Mama bertemu dengan Halima, Mama jangan pedulikan dia.”
”Memangnya kenapa, Pa? Jika dia ingin berteman dengan Mama, apa Mama harus menolaknya?”
"Tidak apa-apa. Jika Mama ingin berteman, Papa juga tidak melarang. Hanya saja, Mama perlu berjaga diri darinya. Ada hal yang bisa Papa percaya, dan ada hal juga yang tidak Papa percaya.” jelas Halim.
”Contohnya?”
”Seperti ucapannya tentang penipuan mantannya, Papa percaya. Tapi, sikap dia ke Papa, Papa masih ragukan itu. Papa hanya tidak ingin, dia mengambil keuntungan dari Mama. Dan juga, Papa tidak ingin, Mama cemburu nantinya.” jelas Halim lagi.
”Mengapa Mama harus cemburu?”
"Karena, menurut Papa, dengan sengaja dia akan membuat Mama cemburu nantinya. Dia gak akan menyerah dengan niatnya yang ingin mendekati Papa."
Sarmi membalikan badannya menghadap Halim. ”Mama gak akan cemburu, jika Papa yang akan berusaha menghindari dia. Tapi, jika Papa yang sengaja membuat Mama yang cemburu, ma__”
Ucapan Sarmi terhenti karena ciuman tiba-tiba yang di layangkan Halim untuknya. Halim terus menciumi bibir Sarmi, menikmati manisnya bibir tersebut. Setelah puas, ia melepaskan ciumannya.
”Papa akan menjaga hati dan perasaan mu, jangan ragukan diriku!” Sarmi mengangguk. Ia memeluk erat tubuh suaminya.
"Ayok kita kembali, Pa.” ajak Sarmi, ”Kasian anak-anak nantinya mereka terbangun dan mencari kita, gimana?"
"Ok, ayok kita turun!"
__ADS_1
Mereka pun turun kembali ke kamarnya. Setelah Halim membuka kunci kamar, Sarmi segera membuka pintu perlahan. Rupanya anak-anaknya masih tertidur.
Sarmi pun berbaring di samping Endang anak bungsunya, dan Halim berbaring di samping istrinya dengan memeluk tubuh sang istri. Mereka pun tertidur.