
Keesokan harinya setelah pulang dari sekolah, Syakila menanti kedatangan sang kakak di teras rumah. Lama menunggu tapi sang kakak tidak terlihat untuk datang. Syakila berwajah murung.
"Apa kakak benar-benar tidak merindukan mama, nenek, juga adik-adiknya yang lain?"
"Kakak sudah sangat berubah sekali, jika papa datang dan membawa kami ke kota A, apa kakak akan ikut kami kesana?"
"Apa kakak tidak berdosa bertingkah sepeti itu?"
gumam gumam Syakila. Ia berbalik ingin masuk ke dalam rumah. Baru sampai di tangga ke empat kaki Syakila terhenti karena seseorang memanggil namanya.
"Asya."
Syakila tersenyum dan ia cepat berbalik, ia nampak senang ternyata kakaknya datang juga.
"Kak Fatma, Asya kira kakak gak akan datang." ucap Syakila sambil menuruni anak tangga.
"Mari masuk kak," ajaknya kepada Fatma sambil menarik tangannya.
Fatma melepas kasar tangan Syakila yang memegang tangannya. "Kakak disini saja, cepat bukankah kita akan ke kebun? Jadi tidak usah berlama-lama disini." ucap Fatma dengan ketus.
Syakila tersenyum kecut dengan sikap kakaknya itu, "Iya, Asya ambil tas dulu," ucapnya. Lalu ia masuk kedalam rumah dan mengambil tasnya, Syakila keluar dan mengunci pintu rumah baru mereka jalan berdua ke kebun.
Selama perjalanan ke kebun tidak ada percakapan diantara kedua saudara kandung itu.
Meskipun Syakila mencoba untuk berbicara tetapi tidak ada sahutan dari Fatma. Di saat Syakila bertanya tentang kesehariannya di rumah sang bibi justru Fatma menghardik dia untuk tidak usah bertanya.
Paling tidak, masih ada kerinduannya untuk mama juga nenek. Kalau tidak belum tentu kakak akan mau ke kebun.
batin Syakila.
Kini mereka telah sampai di kebun. Sarmi menyambut mereka dengan senang.
"Asya, Fatma, kebetulan kalian datang saat mama lagi makan, ayo kita makan sama-sama dengan nenek juga adik-adik mu." ajak Sarmi.
"Iya, Mah." jawab Syakila.
"Tidak, Mah." jawab Fatma, "Fatma sudah makan nasi dan ikan goreng sebelum Fatma kesini, Mah!" lanjutnya lagi berucap.
Sarmi tersenyum kecut mendengar jawaban Fatma. Syakila menyadarinya. "Mama mari kita makan, Syakila sudah lapar, pulang dari sekolah tadi Syakila belum makan." ucap Syakila mengajak sang mama. Sarmi mengangguk.
Syakila melihat ke kakaknya, "Kakak, kalau mau duduk di gode gode itu, kalau tidak tunggulah di rumah." ucapnya lagi.
"Kakak duduk di gode gode saja." sahut Fatma, ia langsung memutar badannya menuju gode gode. Sedangkan Syakila ia segera menyusul mamanya untuk makan bersama.
Kakak sudah terbiasa makan nasi dan ikan. Mana mau dia makan makanan seperti ini lagi.
batin Syakila sambil duduk di samping sang nenek lalu mengambil piring plastiknya dan mengambil beberapa potong ubi jalar dan singkong kesukaannya, juga sayur yang menjadi favoritnya masakan khas dari sang mamanya.
Mereka makan dalam diam. Yuli, Ita, dan Endang yang sudah selesai makan duluan, mereka berlari mendekati kakak pertama mereka yang sedang duduk sendirian di gode gode.
"Kakak." teriak mereka kompak.
"Jangan lari-lari nanti jatuh." ucap Fatma memperingati adiknya, karena mereka berlari tanpa melihat kayu yang ada di tanah, dan itu hampir membuat Ita terjatuh.
"Stop jangan berlari, jalan saja." ucap Fatma menghardik mereka, saat mereka masih berlari. Alhasil mereka pun tidak berlari lagi, mereka berjalan dengan pelan sampai ke gode gode.
"Nah, harus begitu jadilah adik-adik yang penurut." ucap Fatma kepada adik-adiknya saat mereka sudah duduk di gode gode bersama Fatma.
Sarmi, nenek, dan Syakila yang sudah selesai makan, mereka tidak langsung ikut bergabung dengan mereka di gode gode. Mereka hanya menyaksikan hubungan kakak dan beradik itu dari tempat mereka berdiri sekarang, karena dari situ mereka bisa mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
"Kakak kenapa balu atang kecini? Kakak tiak lindu Yuli? ucap Yuli.
"Kakak uga tiak lindu Ita? Ita lindu cama kakak." ucap Ita.
"Kakak tiak cayang Endang? Kakak ilang kakak celing celing kecini, kakak bo'ong." ucap Endang.
Fatma tersenyum dengan pertanyaan pertanyaan yang di lontarkan adik-adiknya itu. Fatma mengelus kepala mereka secara bergantian.
"Kakak rindu kok dengan Yuli, Ita, juga dengan Endang, makanya sekarang kakak ada disini." jawab Fatma. "Kalau kakak tidak datang kesini, berarti kakak sedang ada pekerjaan." lanjutnya lagi.
"Kakak kelja?" tanya Yuli. Fatma menjawabnya, "Iya kakak pulang dari sekolah, kakak menjaga warungnya bibi."
"Belalti kakak nyanyak uang?" tanya Endang.
Fatma tertawa kecil mendengar pertanyaan Endang. "Bukan nyanyak Endang, tapi banyak b a n y a k \= ba nyak." ucap Fatma membetulkan ucapan Endang. "Itu bukan uangnya kakak, itu uangnya bibi, tapi kalau kakak minta beli mainan, beli baju, beli apapun bibi pasti belikan untuk kakak." lanjutnya lagi berucap.
Oh pantas ia betah disana, segala keinginannya selalu terpenuhi, berbeda tinggal bersama kami, lihat saja baju yang di kenakan nya, berbeda dengan baju yang di pakai adik-adiknya.
batin Sarmi.
Oh ya Allah, apa yang aku fikirkan, aku sedang membandingkan kehidupanku dengan kehidupan adikku, bukankah ini artinya aku tidak bersyukur? Astaghfirullah, ampuni aku ya Allah.
Sarmi masih membatin.
Jadi karena itu, yang membuat kakak betah di rumah bibi.
batin Syakila.
Syakila melihat wajah mamanya yang cemberut, lalu ia mengambil tangan mamanya, "Mama mari kita gabung bersama kak Fatma." ajaknya. Syakila juga mengajak sang nenek. Akhirnya mereka bertiga berjalan bersama menghampiri Fatma, Yuli, Ita, dan Endang di gode gode.
"Bagaimana kabarmu, Nak. Kamu sudah jarang sekali mengunjungi Mama dan adik-adik mu disini." ucap Sarmi bertanya kepada Fatma.
"Mama, Nenek, Fatma pulang sekarang yah, bibi berpesan agar Fatma tidak lama-lama disini." ucap Fatma lagi.
"Tapi kakak baru sebentar kesini, Mama dan Nenek juga belum melepas rindunya ke kakak, kakak sudah mau pulang, hanya karena pesannya, bibi?" ucap Syakila yang jengkel dengan ucapan Fatma.
"Kamu jangan ikut campur!" sahut Fatma dengan menunjuk Syakila.
Sarmi dan sang Nenek saling memandang melihat anak dan cucu mereka yang akan mulai untuk bertengkar. Sarmi melerai mereka agar perdebatan di antara mereka tidak terjadi.
"Sudah, sudah, Syakila, karena Fatma tinggal disana wajar jika dia harus menuruti ucapan bibi mu." ucap Sarmi.
"Tapi Mah_" ucapan Syakila terhenti saat melihat gelengan kepala mamanya. Syakila menunduk. Dan menghela nafas panjang.
"Kalian pulanglah!" ucap Sarmi kepada Fatma dan Syakila. "Ingat belajar baik-baik." pesannya kepada mereka.
"Iyah, Mah." jawab mereka kompak. "Kami pulang dulu," lanjutnya lagi mereka berucap dengan bersamaan. Sarmi dan Nenek mengangguk. Mereka pun pulang kembali ke kampung.
"Lihatlah, sikap anak pertamamu, dia akan semakin menjadi kalau kamu membiarkan tinggal bersama bibinya." ucap sang nenek sambil memandang punggung kedua cucunya yang berjalan semakin menjauh.
"Mau bagaimana lagi, Mah. Itu sudah sifatnya yang menurun dari kakeknya ke bibinya dan sekarang menurun ke cucunya." ucap Sarmi mengalah.
"Meskipun begitu, kamu harus jangan lemah kepada Fatma, jangan sampai dia lebih mendominasi mu. Jangan sampai kejadian seperti saya terulang ke kamu, makanya saya lebih senang tinggal bersama kamu di banding tinggal bersama adikmu itu." ucap sang ibu menasihati. Sarmi terdiam mendengar ucapan ibunya. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Sama halnya waktu perjalanan mereka ke kebun tidak saling bersuara, kini perjalan pulang mereka juga membiarkan kesunyian yang meliputi mereka.
Bahkan setelah sampai di kampung, tanpa berpamitan dengan Syakila, Fatma langsung memutar arah ke rumah bibinya. Syakila hanya geleng-geleng kepala melihat sikap kakaknya.
.. ..
__ADS_1
Waktu berjalan begitu cepat tidak terasa kini Halim sudah dua bulan berada di kota A. Kerinduan yang sangat mendalam ia tanamkan dalam hatinya teruntuk istri tercinta yang berada di kampung halaman, jauh di sebrang sana. Ia juga sangat merindukan sosok anak-anak yang mana selalu memanggilnya papa.. papa.. di setiap ia pulang dari jalan-jalan.
Halim duduk termenung ketika ia sudah selesai memajang barang-barang jualan yang di pajang di depan toko.
Kerinduannya kepada sang buah hati juga sang isteri tidak dapat ia sembunyikan lagi, semua nampak tersirat dari pandangan matanya yang selalu menatap foto cantik istrinya yang ada di balik dompetnya.
Sudah dua bulan berlalu, bagaimana kabar kalian disana, anakku, istriku? Apa kalian merindukan aku? Aku disini sangat merindukan kalian, senyum kalian, tawa kalian, suara manja kalian.
Halim membatin.
"Permisi Mas, ada vitamin rambut venon yang warna ungu, Mas?" tanya seorang pembeli.
Halim terkejut dalam lamunannya, ia bergegas memasukan kembali dompetnya kedalam sak celananya. Lalu ia berdiri menghampiri pembeli tersebut.
"Bagaimana Mba, maaf apa tadi yang di tanyakan?" tanya Halim memastikan.
"Eh, kamu, Halima." lanjutnya lagi berucap terkejut saat ia melihat wajah pembeli itu ternyata wanita yang di kenalnya sewaktu di atas kapal.
Halima tersenyum senang karena ternyata Halim tidak melupakan dirinya. "Halim, aku senang ternyata kamu mengingatku." jujur Halima.
Halim sangat malas untuk terlibat percakapan yang lama dengan Halima, ia pun kembali menanyakan barang apa yang sedang di carinya agar semua cepat selesai dan Halima pergi dari tokonya.
"Barang apa yang kamu cari?"
"Santai saja, Halim. Kamu nampaknya kurang senang dengan kehadiran ku?" Halima menyahuti Halim dengan pertanyaan.
"Tidak, bukan begitu, saya sebagai penjual, bukankah seharusnya seperti ini?" sahut Halim.
"Baiklah, aku sedang mencari vitamin rambut venon yang warna ungu." ucap Halima.
"Ada, tunggu sebentar akan saya ambilkan." sahut Halim, tanpa menunggu jawaban dari Halima, Halim pergi mengambilkan barang yang di maksud.
"Ini," ucapnya sambil menyodorkan barang tersebut. Halima mengambilnya. "Apa masih ada yang lain?" tanya Halim seketika, saat Halima masih melirik lirik rak-rak yang tersusun handbody.
"Hum, aku ingin handbody Vaseline botol besar warna pink." sahut Halima.
Tanpa berkata apa-apa lagi Halim langsung mengambilkannya. Lalu ia berikan keada Halima.
"Masih ada yang lain?" tanyanya lagi.
"Tidak, ini saja berapa semua?" sahut Halima.
"Vitamin rambut harganya 65.000 dan handbody harganya 45.000, jadi semuanya 110.000." ucap Halim.
Halima mengangguk. Ia mengeluarkan uang senilai 120.000 kepada Halim, lalu Halim mengembalikannya 10.000, "Terima kasih." ucap Halim dan Halima bersamaan.
"Boleh kah aku jalan-jalan kemari untuk menemui mu saja?" tanya Halima sambil memandang Halim penuh harap.
Halim mengkerutkan keningnya, "Tidak," jawabnya dengan cepat.
Halima kecewa dengan jawaban Halim terlihat dari mukanya yang murung. Tapi selanjutnya ia tersenyum manis kepada Halim, "Kenapa aku harus minta izin ke kamu, yah? Aku pasti akan datang menemui mu lagi." ucapnya sambil berjalan berlalu meninggalkan Halim yang berdiri dengan terdiam di tempatnya.
Wanita aneh! Aku harus waspada dengannya, aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman nanti, yang akan merepotkan ku.
batin Halim.
Ia masih memandang punggung Halima yang pergi menjauh, ia bisa melihat dengan jelas, ada dua pria yang selalu mengikuti Halima dari jarak 1 meter di belakangnya.
"Siapa sebenarnya wanita itu, kedua pria itu selalu mengikuti dia?" gumam Halim yang penasaran.
__ADS_1
"Ah sudahlah!" gumamnya lagi sambil berlalu masuk kedalam toko.