Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps16


__ADS_3

Tepat di jam 9 malam Sardin beserta keluarganya berangkat dari pelabuhan B ke pelabuhan kota B untuk sampai ke kota S menggunakan kapal Kerinci.


Kila, kakak akan merindukan dirimu nanti, kakak sangat berharap kamu bisa menepati janjimu ke kakak. Kakak tidak ingin mendengar kabar jika kamu dekat mesra dengan laki-laki lain, seperti kamu dekat dengan kakak.


Sardin membatin sambil memandangi pelabuhan yang kini makin jauh dari kapal, karena kapal sudah bertolak dari pelabuhan tersebut.


Perjalanan dari pelabuhan di kampung nya ke pelabuhan kota S memakan waktu tiga hari dua malam. Berbeda dengan perjalanan dari pelabuhan ke pelabuhan kota A, hanya memakan waktu sehari semalam.


.. ..


Subuh hari suasana dingin membangunkan Halim dari tidur lelapnya. Ia melirik jam di dinding yang tergantung di dalam kamarnya. pukul 4: 50.


"Tidak lama lagi masuk waktu shalat Subuh, sebaiknya aku mandi dulu, meskipun suasananya dingin begini." gumamnya.


"Dinginnya ini, tidak sedingin suasana subuh di kebun. Apakah Sarmi disana sudah bangun juga, yah?" Halim masih bergumam sendiri.


Ia bangun dan berdiri dari kasur nyamannya lalu ia mengambil handuk dan peralatan mandinya, baru ia keluar dari kamar menuju kamar mandi di dekat dapur.


Setelah selesai ia mandi, ia bersiap untuk menunaikan ibadah sholat Subuhnya. Setelah selesai menunaikan ibadahnya, Halim pergi ke depan rumah untuk menghirup udara pagi yang segar.


Rupanya sesampainya di depan ia melihat Denis sudah duduk santai di kursinya. Halim menyapanya, "Denis, kamu sudah bangun rupanya." ucapnya sambil mendudukkan pantatnya di kursi samping Denis.


"Eh Bang! Iya Denis sudah bangun sejak tadi, Abang sudah sholat subuh?" tanya Denis mengingatkan.


"Iya Alhamdulillah, Abang sudah sholat sebelum kesini." sahut Halim.


"Tidak lama lagi kita akan turun buka toko, bersiaplah!" ucap Denis.


Halim menarik nafas panjang. Denis menyadarinya, ia tersenyum mengejek, "Kenapa Bang? Abang grogi yah?" tanya Denis di selingi tawa kecil.


"Hum, sedikit. Ini pengalaman pertama ku." sahut Halim.


"Rileks saja Bang! Lambat laun Abang akan terbiasa, jika sudah terbiasa Abang akan menyukainya." ucap Denis sambil menepuk pelan bahu Halim. "Ayo Bang, waktunya kita pergi!" ajak Denis.


"Bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Halim sambil menengok kedalam rumah.


"Masing-masing sudah ada jadwalnya." sahut Denis sambil berdiri dari duduknya. Halim pun ikut berdiri, dan ia juga ikut melangkah saat Denis melangkah. Mereka jalan beriringan.


Tidak lama kemudian mereka tiba di tokonya. Denis membuka gembok dan kunci tengah pintu, lalu ia naikkan pintunya ke atas. Denis mulai mengeluarkan satu per satu barang-barang yang di pajang di luar, sedangkan Halim ia hanya memperhatikan saja. Namum ia tidak enak hati juga karena ia hanya melihat-lihat saja.


"Denis, apa yang harus ku lakukan? Masa aku hanya melihatmu saja bekerja sendiri?" ucap Halim merasa sungkan.


Denis tertawa, "Hahahaha Abang tidak usah sungkan, untuk hari ini saja biarkan aku yang menyusun dan membantu mu menjaga jualan, juga nanti saat menyimpan nanti. Biarkan aku kerja sendiri, Abang cukup perhatikan cara saya menyusun barang-barang ini." ucapnya menjelaskan sambil menunjuk barang-barang yang akan di atur.


"Dan setelah hari esok, Abang sendiri yang bekerja disini." lanjutnya lagi berucap.


"Baiklah!" jawab Halim sambil mengangkat tangannya. "Aku hari ini akan memperhatikanmu dengan baik, agar besok tidak salah dalam menyusunnya." lanjutnya lagi berucap.


"Ok." sahut Denis sambil tersenyum ramah. Ia kembali menyusun barang-barang dan Halim memperhatikan setiap gerakan Denis.


"Alhamdulillah selesai juga!" ucap Denis senang sambil menepuk tangannya. "Sekarang kita tinggal duduk di bangku sana, Bang!" ucapnya lagi berucap sambil menunjuk bangku yang di maksud.


Mereka pun duduk bersama di bangku yang sudah disediakan untuk mereka. "Nah sambil duduk-duduk begini dan menunggu orang belanja datang, Abang bisa melihat-lihat kembali posisi barang. Contoh handbody Marina tempatnya disana, sampo sampo tempatnya disana." ucapnya lagi mengajari Halim.


Halim mengangguk. Ia memperhatikan rak-rak satu persatu. Ia menghafal semua letak letak barang. Ketika ada orang belanja datang, Halim sangat memperhatikan sekali bagaimana bersikap lembut kepada pembeli, dan bagaimana cara merayu agar ia membeli barang tersebut.

__ADS_1


Alhamdulillah dengan hanya memperhatikan sekali kini Halim sudah bisa membantu Denis melayani pembeli. Dan ia tidak merasa canggung dalam melayani pembeli, ia juga belajar dari Denis bagaimana cara melayani pembeli yang super duper cerewet.


"Wah, ternyata Abang cukup pandai, Bang!" puji Denis. Saat ia melihat bagaimana cara Halim melayani pelanggan dan dengan mudah mengambilkan barang di raknya.


"Kamu yang pandai, Denis!" sahut Halim. "Aku hanya belajar darimu." lanjutnya lagi sambil menepuk pelan bahu Denis.


"Aku yakin kamu akan menjadi pedagang yang sukses juga, seperti abang Anton." ucap Denis mendoakan kesuksesan Halim.


"Aamiin." ucap Halim mengamini doa Denis. "Makasih Bang! Semoga Abang juga menjadi pedagang yang sukses untuk kedepannya." lanjutnya lagi mendoakan kesuksesan Denis.


Denis tertawa kecil, "Aku tidak berniat untuk jadi pedagang, Bang!" ucapnya sambil tersenyum kecut.


Halim memandangnya bingung, "Kenapa? Kamu cukup pandai dalam hal ini, kenapa kamu gak berminat?" tanyanya.


"Aku kesini hanya membantu abang ku saja! Aku lebih ingin bekerja di perusahaan terbesar, bila perlu aku ingin membangun perusahaan sendiri." ucap Denis dengan penuh semangat.


"Aamiin, semoga cita-cita mu tercapai." sahut Halim mendoakan sekaligus menyemangati Denis.


"Aamiin," Denis mengamini doa Halim. "Semoga kita berdua sukses kedepannya." lanjutnya berucap sambil mengulurkan tangannya kedepan, Halim menyambut uluran tangan Denis dengan bahagia. " Aamiin, semoga kita berdua sukses!"


.. ..


Sementara di kebun Sarmi kedatangan tamu tetangga kebunnya, mereka saling bercengkrama dengan baik. Dan saling mencurahkan isi hati mereka, terutama pada Ayu sendiri karena Sarmi, ia tidak terlalu membicarakan tentang kehidupan pribadinya kepada orang.


"Oh ya Sar, sudah beberapa hari ini aku tidak melihat suamimu, kemana dia?" tanya Ayu penasaran.


Sarmi tersenyum.


Aku sudah menduga sebelumnya kamu hanya ingin informasi saja kan, makanya kamu kesini! Setelah ini kamu akan menyebar luaskan ke orang-orang. Huh! batinnya.


"Apa?" Ayu terkejut, "Suamimu ke kota A? Kamu tahu tidak, disana itu begitu banyak para wanita penghibur yang suka menghibur lelaki yang butuh sentuhan, loh!" lanjutnya lagi berucap untuk memprovokasi Sarmi.


Sarmi terdiam sejenak, ia murung namun di detik berikutnya ia memancarkan senyum manisnya di bibir.


"Aku percaya dengan cinta suamiku, dia akan baik-baik saja di sana, dan akan menjaga diri untuk kami disini." ucapnya lembut namun sangat tegas.


"Kamu tahu, saudaranya suamimu mengapa dia meninggalkan istri pertamanya? Karena di kota A lah dia di rayu dengan wanita seperti itu." ucap Ayu masih memprovokasi Sarmi.


Sarmi tersenyum kecut, "Insya Allah, aku percaya dengan suamiku." ucapnya kekeh membela suaminya.


Aku percaya padamu, suamiku Halim. Aku tahu bagaimana cinta kita. Aku yakin cinta kita begitu kuat, meskipun kita terpisah jarak begini. Cinta kita tidak akan berubah. Aku yakin itu, sangat yakin! batin Sarmi.


Sarmi sudah terlalu malas mendengar setiap kalimat kalimat yang di ucapkan oleh Ayu. Namun ia juga tidak sampai hati untuk mengusirnya.


Suatu kebetulan sekali Sarmi mendengar suara panggilan anak bungsunya itu.


"Mama.. mama.." teriak Endang.


"Maaf Ayu, sepertinya anakku sudah bangun. Aku harus melihatnya dulu." ucap Sarmi sambil menoleh ke arah anaknya.


Ayu pun mengerti dengan maksud dari ucapan Sarmi. Ia pun berpamitan, "Sarmi, kalau begitu pergilah lihat anakmu! Aku akan pulang dulu, sudah terlalu lama aku disini."


"Oh iya, hati-hati yah, Ayu. Kapan-kapan kita akan ngobrol lagi." ucap Sarmi.


Ayu berdiri dari duduknya, Sarmi juga ikut berdiri.

__ADS_1


"Iyah nanti aku jalan-jalan kesini lagi, oh iya jangan di ambil hati yah ucapan ku tadi." ucapnya.


"Ah, tidak apa-apa." sahutnya. Ayu pun sudah


kembali ke kebunnya setelah mendengar sahutan Sarmi. Dan Sarmi, ia pergi melihat anaknya.


"Kenapa sayang?" tanya Sarmi dengan ramah.


"Mama, endong papa! Endong papa..."


Sarmi tersenyum, ia mencoba membujuk anak bungsunya itu. "Sayang, lupa ya papa kan lagi cari uang!" ucapnya sambil mengelus kepala Endang.


"Papa ama."


"Insya Allah, papa akan segera datang untuk menjemput kita, sayang!" Sarmi masih membujuk anaknya yang mencari keberadaan papahnya.


"Endang mau cepat papa datang?" tanyanya. Endang mengangguk. "Kalau begitu, Endang cukup doakan papa sukses disana dan segera datang menjemput kita, ok?" ucapnya lagi.


"Hu um.."


Setelah itu, Endang pergi kembali berkumpul dengan Yuli dan Ita yang sedang bermain dengan Hardin dan neneknya.


Syukurlah sejauh ini, anak-anak masih bisa di bujuk dengan mudah. Hufft! Suamiku, aku benar-benar merindukan sosok mu disini, di dekatku dan di dekat anak-anak. Apa kamu juga merindukan aku suamiku?


Sarmi membatin sambil melihat anak-anaknya yang asyik bermain dengan neneknya.


.. ..


Disisi lain, Halim juga tiba-tiba merindukan istri dan anak-anaknya.


Aku merindukan mu, istriku! Aku juga merindukan anak-anak kita. Gimana kabar kalian sekarang? Apa kalian baik-baik saja? Apa persediaan kayu bakar mu masih ada, istriku? Oh jujur saja hatiku sangat hampa tanpa kalian di sisiku.


Halim membatin.


Lamunan Halim terhenti saat ia merasakan sebuah tangan bertengger di bahunya. "Abang sedang memikirkan apa?" tanya Denis penasaran, karena ia sejak tadi memperhatikan Halim yang terdiam semenjak ia selesai memakan makan siangnya.


"Oh, tidak! Em bukan apa-apa." jawab Halim sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh ya, tiga jam lagi kita akan tutup. Besok, apa Abang sudah siap untuk turun buka sendiri?" tanya Denis lagi.


"Hum, Insya Allah aku siap!" sahut Halim dengan tegas.


"Ah, aku sangat suka dengan semangat yang ada pada diri Abang." ucap Denis memuji Halim.


"Terima kasih, oh iya, lalu kamu akan buka dimana?" tanya Halim penasaran.


"Aku akan membantu mereka yang di toko besar sana." ucap Denis sambil menunjuk toko yang sedikit jauh di depan sana.


"Oh," sahut Halim singkat.


Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, sekarang sudah pukul 5 sore, saatnya mereka menutup jualan.


Seperti halnya tadi pagi, kini Halim hanya memperhatikan Denis yang menyimpan barang-barang yang di pajang di luar tadi di bawa masuk kedalam toko.


Setelah selesai memasukan barang-barang, Denis menarik pintunya dan mengunci pintu tengahnya lalu ia memasukkan gembok dan menguncinya. Lalu ia memberikan kunci toko tersebut kepada Halim.

__ADS_1


Karena mulai besok Halim sendirilah yang akan membuka jualannya. Setelah itu ia mengajak Halim untuk pulang.


__ADS_2