Takdir Syakila

Takdir Syakila
epos 199


__ADS_3

Keesokan paginya, di rumah sakit.


Geo terbangun lebih awal. Kepalanya masih sedikit pusing dengan aroma rumah sakit. Dia menoleh, melihat ke samping kirinya.


Syakila masih tidur. Apakah Syakila memang masih tidur, atau belum sadarkan diri semenjak keluar dari ruang operasi tadi malam?


Ia juga melihat Sardin. Pria itu masih terlihat sama dengan Syakila, masih tidur. Geo melihat Beni dan Anton yang tidur di bangku panjang, di dalam ruangan itu. Mereka berdua juga masih tidur.


Geo melihat botol infus yang menggantung di tiang, di sampingnya. Tinggal botol infus yang menggantung di sana, itupun tinggal sedikit lagi. Sementara botol sekantung darah, sudah tidak terlihat di gantungan itu. Jarum selangnya pun tidak tertanam lagi di tangannya.


Rupanya, para dokter dan suster sangat merawat pasien dengan baik. Ataukah karena dirinya sebagai pemilik rumah sakit, makanya sangat terjaga dalam perawatan?


”Beni!” panggil Geo, suaranya sangat pelan. Agar Anton tidak ikut terbangun.


”Beni!” sekali lagi Geo memanggil Beni, membangunkan Beni dari tidurnya.


Beni dan juga Anton yang samar-samar mendengar seseorang memanggil nama Beni, mereka berdua mengerjapkan mata.


”Beni!”


Beni dan Anton sama-sama mendengar dengan jelas, suara Geo yang memanggil Beni. Mereka berdua sama-sama terkejut dan bangun. Beni bergegas menghampiri Geo. Sementara Anton, ia duduk dengan baik di kursi panjang.


”Paman, maaf, suaraku sudah membangunkan Paman.” ucap Geo. Ia tidak enak hati saat melihat Anton juga ikut terbangun.


”Tidak apa-apa. Lagi pula ini sudah pagi, sudah waktunya untuk bangun.” sahut Anton. Ia melihat Syakila dan Sardin yang masih tidur.


”Geo, apa ada yang kamu butuhkan?” tanya Beni.


”Hum, aku ingin minum. Tapi, air hangat.” jawab Geo.


”Oh, ok! Aku ambilkan.” Beni berjalan ke dispenser dan membuka pintu bawah dari dispenser tersebut dan mengambil gelas. Beni mengisi gelas itu dengan air hangat, lalu membawanya untuk Geo. ”Ini, ambillah!”


Geo mengambil gelas dari tangan Beni dan meminum airnya sampai habis. Ia memberikan gelas kosong pada Beni. Beni mengambil dan menaruhnya kembali ke tempatnya. Dan dia kembali duduk di kursi.


”Apakah dokter sudah datang kemari?” tanya Anton, pada Geo. Tapi, pandangan matanya menuju Syakila dan Sardin.


”Belum! Kita tunggu saja. Mungkin, sebentar lagi dokter akan datang.” jawab Geo, pandangan nya juga mengarah ke Syakila dan Sardin.


”Paman, kalau Paman ingin pulang, pulanglah. Sardin dan Syakila, biar aku dan Geo yang perhatikan. Paman tidak perlu khawatir pada mereka berdua.” ucap Beni.


”Terima kasih! Tapi, aku ingin mendengar sendiri penjelasan dari dokter perkembangan kesehatan Syakila dan Sardin, baru aku bisa pulang dengan tenang.” sahut Anton.


Beni dan Geo terdiam. Mereka berdua sangat tahu betapa besar kekhawatiran Anton pada Syakila dan Sardin. Sardin adalah anak kemenakan dan Syakila adalah anak dari sahabatnya, Halim dan Sarmi.


Tok tok tok! ”Permisi! Apakah kedatangan ku mengganggu waktu senggang kalian?” tanya dokter dari bibir pintu ruangan.


”Oh, tidak, Dokter! Mari, masuklah!” ucap Geo, Beni, dan Anton.


Sang dokter masuk ke dalam ruangan. Di belakang dokter, ada suster yang mengikuti dengan membawa nampan berisi obat dan perban. Sang dokter berjalan ke ranjang Geo.


”Periksalah dulu Syakila dan Sardin, baru periksa aku.” titah Geo.


”Oh! Baiklah!” sang dokter menurut, ia teruskan langkahnya ke ranjang Syakila. Ia pun mulai memeriksa kondisi Syakila.


”Kenapa dia belum bangun juga, Dok? Sama dengan Sardin, dia juga belum sadarkan diri semenjak keluar dari ruangan operasi. Apa yang menjadi penyebabnya? Apakah mereka berdua koma?” tanya Geo.


Sang dokter masih belum menjawab. Ia masih memprediksi Syakila dari detak jantung, debaran hati, denyut nadi, nafas, dan matanya.


Selesai memeriksa Syakila pun sang dokter belum memberikan tanggapannya. Ia beralih memeriksa kondisi Sardin.


”Kondisi Syakila dan Sardin, secara fisik sudah membaik. Seharusnya mereka berdua sudah sadar. Tapi, ini lebih ke arah mental mereka berdua. Sepertinya, mereka berdua tidak memiliki niatan untuk sadar kembali. Ada hal yang menghalangi mereka berdua untuk kembali sadar.” papar sang dokter.


”Apa? Bagaimana bisa terjadi hal seperti itu Dokter?” Anton, Beni, dan Geo sama-sama bertanya. Raut wajah mereka bertiga terlihat sedih.


”Iya, hal ini juga sering terjadi pada pasien yang sedang putus asa. Kebanyakan pasien yang seperti ini di picu dari hal-hal yang mungkin menyakitkan. Mungkin saja, orang yang mereka paling inginkan dalam hidupnya sedang memerangkap mereka berdua di alam sana. Takutnya, jika mereka berdua tidak segera sadar, denyut nadi, detak jantung lama kelamaan akan melemah dan mereka akan terus tertidur. Selamanya.” ungkap sang dokter.


Geo, Anton dan Beni terkejut. Tertidur selamnya....bukankah itu sama artinya dengan meninggal?


Jika begitu...apakah mereka berdua sama-sama bertemu di alam mimpi? Mereka bahagia di sana dan tidak mau mengakhiri kebahagiaan mereka itu, makanya mereka tidak ingin kembali ke dunia ini? Karena di dunia ini, Syakila adalah istri ku dan Sardin....dia...benak Geo.


Wajahnya terlihat sedih melihat Syakila dan Sardin. Hal itu di jelaskan pula dari pandangan mata dan helaan nafasnya.


Cinta di antara mereka berdua sangat besar. Aku benar-benar iri pada cinta mereka. Terutama, aku sangat iri dengan Sardin. Dia mendapatkan cinta yang tulus dari Syakila. Padahal, jika di bandingkan dengan aku, Sardin bukan lah apa-apa. Syakila, benarkah tidak ada cinta di hatimu untukku? Apakah hidup bersama ku membuat mu terbelenggu? benak Geo lagi. Ia kembali menghela nafas.

__ADS_1


”Jadi, kita harus bagaimana, Dok?” tanya Anton.


”Apakah ada cara lain untuk membuatnya sadar kembali?” tanya Geo.


”Cobalah untuk mengajak pasien untuk berbicara. Jauh di dalam alam bawah sadarnya, pasti mereka berdua akan mendengar panggilan kalian dan kembali sadar.” usul sang dokter. Dokter berjalan mendekati Geo.


Dokter melihat botol infus yang menggantung di samping Geo telah habis. Ia melepas jarum infus dari tangan Geo. Ia pun memeriksa kondisi Geo.


”Kondisi mu sudah jauh lebih baik. Tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Tinggal merawat luka tembakan yang ada di bahu dan di paha mu. Saya akan menggantikan perban luka mu dulu.” ucap sang dokter.


”Hum!” sahut Geo.


Sang dokter membuka balutan perban lama yang ada di luka Geo. Ia membersihkan lukanya dan memberikan obat, kemudian, ia kembali membalutnya dengan perban. ”Sudah selesai.” ucapnya.


Ia pun kembali menghampiri Syakila. Merawat luka-luka yang ada di tubuh Syakila. Setelah selesai memberi obat dan membalutnya kembali, sang dokter juga memberikan obat salep untuk luka memar yang ada pada tubuh Sardin.


”Pemeriksaan telah selesai. Saya pamit dulu, kalau ada perlu apa-apa, atau ada sesuatu yang mendesak, panggil saya saja dengan menekan tombol kuning yang ada di samping kanan atas ranjang.” ujar sang dokter.


Beni, Anton, dan Geo melihat tombol yang di maksud sang dokter. ”Baik, Dokter!” sahut mereka bertiga.


Sang dokter pun keluar dari ruangan itu.


”Beni, carikan sarapan dulu untuk kita bertiga.” titah Geo pada Beni.


”Oh, Baiklah!” sahut Beni. Ia melihat Anton, ”Paman, Paman ingin sarapan apa?” tanya Beni pada Anton.


”Hum, tidak. Terima kasih, beli saja sarapan untuk kalian berdua. Aku, tidak perlu. Aku akan pulang dulu untuk mandi dan berganti. Setelah selesai makan sarapan di rumah, baru aku ulang datang menjenguk kalian bersama istriku.” ucap Anton.


”Tapi, Paman...”


”Aku benar-benar berterima kasih. Bukannya aku menolak niat baik kalian, tapi, sungguh, aku tidak perlu. Istriku pasti sudah menunggu ku untuk pulang saat ini.” ucap Anton, memangkas ucapan Geo.


”Oh, baiklah kalau begitu! Saya tidak akan memaksa.” sahut Geo.


”Hum.” Anton beranjak berdiri. ”Kamu cepat sembuh. Paman pamit pulang dulu.” ucap Anton, berpamitan.


”Iya, Paman. Hati-hati di jalan.” sahut Geo dan Beni.


Anton keluar dari ruangan.


”Soto atau bakso saja untukku. Aku ingin makan yang berkuah.” jawab Geo.


”Baiklah! Aku pergi dulu. Kamu jangan banyak gerak, berbaringlah. Pulihkan dirimu.” ucap Beni.


”Hum!” hanya itu sahutan dari Geo.


Beni pun keluar. Mencari sarapan.


Geo beranjak dari ranjang. Ia duduk di sisi ranjang Syakila. Di tatapnya wajah Syakila yang masih terlihat tidur itu.


Tangannya terangkat, membelai pipi mulus Syakila.


Di awal kita menikah, kamu dan aku tidak pernah akur. Kamu... kamu, aku... aku... kita selalu bertentangan. Aku selalu melukai mu.. menyakiti mu. Apakah itu yang membuatmu tidak ingin bersama ku?


Syakila.. seiring waktu yang berjalan... perlahan-lahan...sudut hati ku terbuka olehmu... kesabaran mu menghadapi aku. Kelembutan mu saat merawat ku...dan sikap kasar mu saat kamu marah padaku. Semuanya... membuat ku...aku mencintai mu. Aku merasa nyaman berada di dekat mu.


Syakila.. aku mengira kamu juga memiliki rasa yang sama terhadap ku, setelah sekian lama kita bersama. Tapi... sayangnya...cinta dan kasihmu bukan untukku... tapi untuk pria lain.


Geo menghela nafas.


Syakila, haruskah aku melepaskan mu begitu saja dan memberikan mu pada pria lain dengan tangan ku sendiri? Cintaku ini sangat besar untukmu...aku takut... aku tidak bisa melakukan hal itu.


Syskila, aku pernah berpikir kamu peduli padaku...khawatir padaku... mencintai ku. Karena kamu menghalau peluru dan pisau untukku dengan nyawa mu sendiri.


Aku tidak tahu apakah pikiran ku itu benar atau tidak! Yang aku tahu...kamu pasti tidak mencintai ku, kan? Tapi...bolehkah aku berharap demikian? Berharap kamu mencintai ku... menyayangi ku. Syakila...aku sangat menantikan saat cintamu datang menyambut cintaku...


”Cepat sadar Syakila...ada seseorang yang sedang menunggumu, untuk kamu sadarkan...kamu tidak ingin melihat Sardin? Pria yang kamu cintai. Dia sekarang terbaring di ranjang sebelah mu, belum sadarkan diri.” ucap Geo, tanpa melihat Sardin.


Geo menghela nafas. ”Syakila...kalau kamu sudah sadar nanti...apakah kamu akan marah padaku? Membenci ku? Sardin pasti belum sempat memberitahumu kebenaran peristiwa yang menimpa ayah mu, kan? Bukan aku yang membunuh ayah mu...ayahmu dan Kevin, ayah dari Antonio dan Marlina memang berseteru saat itu. Aku...maupun ayahku, tidak ada hubungannya dengan kematian ayahmu.” ucap Geo lagi.


”Syakila, ku harap kamu tidak membenci ku saat kamu sadar nanti....kamu adalah wanita yang berharga untukku setelah ibuku. Aku mencintai mu... sangat mencintai mu.”


Tanpa Geo sadari, Sardin mendengar ucapan-ucapannya. Sardin telah sadar, namun, mendengar suara Geo, ia todak betsuara. Sardin menutup kembali matanya, saat mendengar suara pintu ruangan terbuka.

__ADS_1


Geo... rupanya kamu benar-benar mencintai Syakila...Tapi maaf, aku tidak akan memberikan Syakila untukmu. Aku juga mencintai Syakila. benak Sardin.


”Geo, maaf, aku lama keluarnya. Em.. aku membelikan mu bakso saja. Apakah tidak apa-apa?” tanya Beni. Ia memberikan mangkok berisi bakso itu pada Geo.


Beni sendiri memegang bungkusan gado-gado dan duduk di sisi ranjang Geo, berhadapan dengan Geo yang duduk di sisi ranjang Syakila.


”Tidak apa-apa.” Geo mengambil baksonya dan mulai meminum kuah baksonya dulu, baru memakan baksonya.


Beni membuka bungkusan gado-gado nya dan memakan sarapannya. ”Kamu berbicara dengan Syakila barusan? Mencoba membuat Syakila sadar?” tanya Beni, di sela makannya.


”Hum.” jawab Geo.


”Geo, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu.”


”Apa?” Geo serius melihat Beni.


”Mengenai Marlina, Vian, dan Antonio.”


Geo berhenti mengunyah baksonya. Ia terdiam melihat Beni. Dia sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh Beni.


Marlina, Vian, dan Antonio adalah keluarganya yang tersisa dari pihak mamanya Beni.


”Apakah kamu yang menyuruh pelindung bayangan untuk meracuni Marlina, Vian, dan Antonio?” tanya Beni. Ia melihat Geo yang masih melihatnya.


Mereka bertiga sudah meninggal? benak Sardin. Ia terkejut.


Semalam dia melihat Vian, Marlina dan Antonio tampak baik-baik saja saat di bekuk oleh polisi. Hanya dua luka tembakan di kedua betis Antonio dan Vian saja, tidak mungkin akan membuat mereka meninggal. Meracuni? Apakah pelindung bayangan Geo bisa melakukan hal itu di hadapan polisi?


Geo masih terdiam. Dia menunggu kata-kata selanjutnya yang akan di bicarakan oleh Beni.


”Tidak usah melihat ku seperti itu. Jangan kasihan padaku. Aku lebih baik kehilangan mereka daripada aku kehilangan dirimu. Yah, aku tahu hanya tinggal mereka saja saudara ku dari mendiang ibuku.” ucap Beni.


”Kamu tidak membenciku? Tidak marah padaku? Aku telah membunuh saudaramu.” ucap Geo, setelah lama ia berdiam.


Beni menggeleng, ”Aku tahu kamu punya alasan untuk itu. Lagi pula, tujuan Antonio, Vian, dan Marlina menyandra Sardin adalah untuk membunuh mu dan membunuh Syakila. Jika kamu tidak membunuh mereka, mereka yang akan punya kesempatan nanti untuk membunuhmu dan Syakila setelah mereka keluar dari penjara.”


GEO menghela nafas lega. ”Iya, kamu benar. Awalnya aku ingin mereka berada di dalam penjara untuk introspeksi diri. Tetapi... memandang mereka yang pendendam sekali, aku berinisiatif untuk menyerang mereka duluan. Aku menyuruh satu orang untuk melakukan tugas itu. Sebelum mereka tiba di dalam sel, bawahan ku akan menyuntikkan racun di dalam tubuh mereka. Racunnya tidak akan membuat mereka meninggal dengan cepat. Tetapi... perlahan-lahan...racun itu bekerja dengan baik di dalam darah mereka.” ungkap Geo.


”Hum! Perseteruan antara Halim dan Kevin sudah lama berlalu... tetapi..Vian dan Antonio selalu mencari keberadaan anak dan istri Halim untuk membalaskan dendam. Tetapi.. darimana yah Antonio tahu kalau Syakila adalah anak dari Halim?” Beni berfikir serius sambil melihat Geo.


”Entahlah! Mungkin saja identitas Syakila sudah mereka temukan. Biar bagaimanapun juga, Marlina, Vian , dan Antonio memiliki mata-mata di mana-mana.” ucap Geo.


”Hum! Gak nyangka...Syakila dan kamu adalah sama-sama musuh di mata mereka bertiga.” sahut Beni. Ia tersenyum kecut.


”Sudah! Habiskan gado-gado mu. Bakso ku hampir habis. Setelah ini...aku akan pulang ke rumah dan kamu, jaga Syakila dan Sardin di sini.” kata Geo.


”Kamu gila?” cerca Beni. Ia bingung melihat Geo. Geo adalah pasien di rumah sakit ini. Dan dia masih dalam waktu pemulihan. ”Bagaimana mungkin! Bagaimana mungkin kamu ada pikiran untuk pulang ke rumah? Hah? Kamu masih pasien di sini. Tidak, kamu tidak boleh pulang!” suaranya meninggi.


”Aku sudah tidak apa-apa. Aku sangat gerah sekali, aku ingin pulang mandi dan berganti.”


”Tidak! Kamu cukup bersihkan badan mu saja. Aku tidak akan mengizinkan kamu untuk pulang ke rumah. Kecuali, dokter sudah mengatakan kamu boleh pulang baru kamu, aku izinkan!” suaranya Beni masih terdengar tinggi.


”Siapa yang ingin pulang?”


Beni dan Geo melihat Rosalina yang berjalan masuk ke dalam ruangan. Di tangannya, memegang bungkusan plastik. Dari bentuk plastik yang terpampang, di dalam plastik itu berisi pakaian.


”Mama!”


”Tante!” Beni menaruh makanannya di atas ranjang. Ia berdiri dan mendekati Rosalina. Dia mengambil ahli plastik yang di pegang oleh Rosalina dan menaruhnya di atas meja.


”Syukurlah, Tante datang di waktu tepat! Geo bersih keras ingin pulang ke rumah. Padahal dia juga pasien di rumah saki ini. Dia masih butuh istirahat banyak untuk memulihkan diri. Tapi, dia meminta ingin pulang ke rumah dan mandi. Padahal, luka yang dia terima belum bisa basah.” ungkap Beni.


”Geo, kembalilah duduk di ranjang mu dengan benar! Kamu tidak boleh pulang di rumah saat ini. Pemulihan dirimu sangat penting. Luka mu masih belum kering. Menurut lah, jangan melakukan hal sesuka hatimu.” nasehat Rosalina pada Geo.


Beni mengambil makanannya. Geo menurut. Ia kembali duduk bersandar di ranjangnya.


”Aku sudah tidak apa-apa, Mama!” ucap Geo.


”Kamu bukan dokternya di sini. Kamu tidak boleh mengambil keputusan sendiri.” Rosalina duduk di sisi ranjang Syakila. ”Bagaimana kondisi Syakila dan Sardin?” tanyanya.


”Syakila dan Sardin belum sadar juga semenjak semalam. Entah apa yang menahan mereka untuk sama-sama tidak ingin kembali ke dunia ini.” jawab Geo.


Beni melanjutkan makannya, ia tetap duduk di sisi ranjang Geo.

__ADS_1


”Mama sudah sarapan sebelum ke sini?” tanya Geo.


Rosalina mengangguk, mengiyakan. Tapi, pandangannya menyapu Syakila dan Sardin. Wajahnya terlihat sedih.


__ADS_2