
Hari ini, penaikan batako. Halim tidak ikut dalam pemasangan batako tersebut, ia hanya sesekali memantau pekerjaan Udin dan yang lainnya di saat orang belanja tidak ada. Halim tampak memperhatikan para pekerja, mereka bekerja dengan cepat, telaten, dan rapi.
"Bagaimana Udin, apa ini masih kurang?" Halim bertanya meminta pendapat Udin sambil menunjuk batako.
"Seharusnya ini sudah cukup! Semua sudah ku perhitungkan, dan itu sesuai dengan tinggi dan lebar nya ukuran rumah ini. Jadi, banyaknya batako yang terpakai seharusnya sudah bisa mencukupi, di pastikan tidak kurang." jelas Udin, sebagai kepala tukang. Halim mengangguk.
"Oh ya Udin, jika siangan nanti mungkin sebagian buruh tidak akan membantu mu kerja nanti, karena sebentar siang kapal akan datang. Jadi mereka sibuk dengan urusannya."
"Tidak apa-apa, Halim! Saya paham dengan pekerjaan para buruh. Dan sepertinya sebelum kapal masuk, pemasangan batako di perkirakan juga sudah akan selesai." jelas Udin.
"Baguslah kalau begitu! Selamat bekerja, saya turun ke bawah dulu." pamit Halim. Udin mengangguk. Halim segera turun ke tokonya.
Halim tidak tahu jika Denis sudah menunggu nya di dalam toko. Hingga itu mengejutkan Halim saat ia masuk ke dalam toko.
"Denis, kamu mengejutkan Abang saja!"
"hehehe maaf, Bang! Tadi kebetulan ada orang belanja jadi Denis melayaninya, karena Abang gak ada. Jadi Denis duduk di dalam toko saja sambil nungguin Abang datang." Denis menjelaskan kehadirannya. "Abang dari mana?"
"Oh, makasih sudah membantu ku. Abang dari atas, memantau bahan saja. Siapa tahu barangnya ada yang kurang." sahut Halim. Ia duduk di kursi depan Denis. "Ada apa mencari Abang?"
"Tidak ada apa-apa, Bang. Denis ingin menemui Abang aja. Di tokonya Abang Anton juga suntuk. Lagi gak ada kerjaan."
"Kenapa? Sepi pelanggan?" Halim bertanya bingung. Karena biasanya Denis tidak pernah bilang jika ada waktu istirahat selama bekerja di tokonya Anton selain bergantian untuk makan, dan saat sudah tutup toko.
"Pelanggan gak sepi, cuman stok barang sudah kurang." jelas Denis.
"Oh, sebentar kapal masuk. Barang kalian juga akan masuk kan?"
"Iya, barang akan masuk, sekalian dengan bang Anton datang bersama anak dan istrinya." jawab Denis.
Halim senang mendengarnya, "Apa? Anton akan datang siang ini?" Halim bertanya sambil senyum sumringah.
"Iya, Abang ceria sekali kelihatannya."
"Hum, Abang menunggu surat dari istrinya Abang, sekalian Abang ingin menanyakan keadaan anak dan istri Abang kepada Anton." jelas Halim masih dengan senyumnya.
"Abang, bisa ceritakan ke Denis gak, bagaimana Abang bisa menaklukkan hati istrinya Abang, hingga ia mau menikah dengan Abang?" Denis bertanya penasaran.
"Kenapa? Kamu ingin belajar cara menaklukkan hati wanita, agar kamu bisa menaklukkan hati Samnia?" Halim berbalik bertanya.
"Iya Bang, Denis serius ingin membina rumah tangga kedepannya dengan Samnia." Denis menyahuti dengan serius dan tegas.
Halim terdiam sesaat, ia harus bicara apa mengenai Sarmi. Bahkan mereka tidak saling kenal. Pacaran pun tidak untuk mengenal karakter satu sama lain. Pertemuan yang tidak di sengaja saat berteduh dari hujan, membawa sebuah pernikahan yang tidak di inginkan pada awalnya.
"Permisi, Abang! Saya mau berbelanja."
Denis dan Halim menoleh ke asal suara. Lalu mereka saling bertukar pandangan. "Abang layani orang belanja dulu." izin Halim sambil berdiri. Denis mengangguk.
__ADS_1
Halim menghampiri orang belanja tersebut, ia melihat tiga seorang siswi sekolah dengan pakaian SMA nya. Salah satu di antara mereka sedang bermain hape.
"Bagaimana, barang apa yang di cari?" Halim bertanya lembut.
"Mulfa, itu penjualnya sudah ada, dia nanya barang apa yang kamu cari. Cepat lah, simpan dulu hapemu." salah satu teman Mulfa memberi tahu.
Mulfa? Ini adiknya Halima bukan? Ah mungkin saja hanya nama yang sama. batin Halim.
"Iya ya bentar, ni lagi nunggu balasan dari kak Halima, dia juga menitipkan ku untuk membeli barangnya." sahut Mulfa pandangan tetap pada handphone nya.
Jadi benar, dia adiknya Halima. Baguslah! Aku sudah mengenalmu Mulfa. Bersabarlah kamu dan kakakmu akan terbebas dari cengkraman mereka. batin Halim lagi sambil memandang Mulfa.
"Mulfa, sebenarnya apa sih pekerjaan Mba mu? Tiap hari selalu mengirimkan uang padamu lima ratus ribu. Aku jadi iri." ucap salah satu teman Mulfa bertanya tentang pekerjaan Halima.
"Oh, itu mba bilang, dia bekerja di Club. Dia membersihkan setiap ruang kamar di sana, setiap jamnya setelah di gunakan orang harus di bersihkan. Gajinya tinggi tapi sesuai juga dengan hasil keringatnya." jelas Mulfa sambil tersenyum membicarakan kakaknya, Halima.
Halim mengerutkan keningnya mendengar ucapan Mulfa.
"Mas, aku cari handbody citra bengkoang botol besar dua yah, Mas. Sama sampo clear dua renteng, sama vitamin rambut venon yang ungu Mas yah." Mulfa memberi tahu barang yang di carinya kepada Halim sambil membaca pesan Halima.
"Itu saja? Sebentar saya ambilkan." sahut Halim. Ia berjalan ke rak-rak barang yang di sebutkan Mulfa tadi sambil berfikir.
Berarti Halima menyembunyikan pekerjaannya sama Mulfa. Ia tidak ingin Mulfa di permalukan karena pekerjaannya. Semoga aku bisa membantu kalian. batin Halim.
Halim mengambil barang pesanan Mulfa dan memasukkan langsung kedalam kantong plastik. Ia menghampiri Mulfa dan memberikannya.
Mulfa mengambilnya dan mengecek ulang. "Berapa semuanya, Mas?"
"Semuanya seratus sembilan puluh empat ribu." jawab Halim. Mulfa membayar barangnya seharga itu dengan uang pasnya. "Makasih yah" ucap Halim setelah ia mengambil uang dari Mulfa.
Setelah kepergian Mulfa dan temannya, Halim kembali menghampiri Denis. "Kamu senyum senyum sendiri, ada apa?" tanya Halim penasaran, sambil menepuk pelan pundak Denis yang sedang melihat hapenya.
"Eh Bang, ngagetin aja. Ini lagi baca SMS-nya Samnia." sahut Denis sambil menunjukan SMS tersebut. Namun Halim tidak tertarik ingin melihatnya.
"Denis, kamu tunggu disini yah, gantikan Abang menjual sebentar. Abang mau beli makanan dulu untuk para tukangnya Abang."
"Ok Bang, sekaligus belikan dengan Denis ya, Bang!" sahut Denis. "Hum," Halim menjawab singkat.
Ia pergi ke warung makan tempat biasa ia makan. Ia memesan satu porsi makanan untuknya dan membungkus enam belas bungkus makanan.
"Mba, nasi seperti biasa untuk saya makan disini, dan tolong bungkus enam belas bungkus yah, pisah lauk pauknya dengan nasinya." ucap Halim. Mba Nisa, si pemilik warung mengangguk. Dan Halim duduk di bangku kosong yang tersisa disana untuk menunggu makanannya.
Halima yang mendengar suara Halim, ia melirik Halim diam-diam. Ia ingin sekali mendekati Halim lalu mengajaknya untuk bicara. Namun itu hanya lah keinginannya saja, karena Halima sedang duduk di samping bos perempuannya. Mba Elsa, yang menampung Halima sekaligus, Istri dari pemilik Club tempat Halima bekerja.
Dan Halim juga tidak menyadari jika seorang lelaki tua yang sering berpapasan dengannya di masjid juga sedang duduk makan di sampingnya.
Setelah selesai makan. Halim tidak langsung meninggalkan mejanya, ia duduk sebentar sambil mengedarkan pandangannya melihat lihat para pelanggan Mba Nisa. Di situlah ia melihat Halima.
__ADS_1
Meskipun hanya punggung belakang nya, tapi ia tahu itu Halima. Namun ia juga tidak menghampiri nya. Karena ia melihat ada dua lelaki yang sering mengikuti Halima duduk di samping kiri Halima dan satunya di samping kanan seorang perempuan yang duduk bersampingan dengan Halima.
Dan di saat Halim berdiri dari duduknya, ia baru sadari jika bapak-bapak yang duduk di sampingnya tadi adalah lelaki tua yang sering memberikan arahan padanya. Saat Halim melihatnya membayar makananya. Halim segera mendekatinya.
"Mba Nisa, makanannya bapak ini biar saya yang bayar sekalian." ucap Halim sambil memandang ramah bapak tersebut. Bapak itu tersenyum pada Halim. Halim membalas tersenyum dan bertanya kepada Mba Nisa berapa yang harus ia bayar. "Berapa semuanya Mba Nisa?"
"Semuanya seratus delapan puluh, Mas Halim." jawab Mba Nisa. Halim pun membayarnya dengan uang pas. Lalu ia keluar dari warung tersebut bersama bapak-bapak itu.
"Maaf Pak, saya terlambat menyadari kehadiran Bapak di dalam tadi." ucap sesal Halim.
Bapak tersebut tersenyum. "Tidak apa-apa, Halim. Terima kasih sudah membayarkan makanan Bapak."
"Sama-sama Pak." sahut Halim. "Bapak boleh saya berbicara dengan Bapak sebentar? Tapi kita berbicara tidak sambil jalan. Mau kah Bapak mengikuti ku ke toko ku?"
"Baiklah, kebetulan Bapak sedang punya waktu luang untuk mu." sahut Bapak tersebut.
Halim pun mengajak bapak tersebut ke tokonya. Halim memberikan kantong plastik yang berisi enam belas bungkus makanan itu kepada Denis. Dan menyuruh Denis membagikan kepada para tukang. Dan meminta Denis setelah selesai makan, kembali menjaga toko Halim. Sementara Halim mengajak bapak tersebut masuk kedalam ruangan kecil tempat Halim untuk istrahat.
Dengan terpaksa Denis menuruti perintah Halim, dia makan sambil menjaga toko Halim.
"Siapa yah bapak-bapak itu? Sepertinya pembahasan di antara mereka sangat penting. Jika tidak, mereka akan berbicara disini, bukan di ruangan tertutup itu." Denis bergumam.
Ia makan sambil sesekali melirik pintu di mana Halim sedang berbicara dengan bapak tua yang di bawa bersamanya.
"Nak Halim, niat mu sangat baik, untuk membantu orang. Tapi kamu tidak bisa melakukannya sendirian. Permasalahannya kamu sendiri yang lebih tahu dengan jelas." bapak tersebut memulai berbicara saat Halim tidak kunjung membuka suaranya untuk memulai berbicara. Bapak tersebut langsung menebak apa yang akan dibicarakan Halim.
"Iya Pak, saya tahu. Jika saya sudah mengeluarkan dia dari sana. Apakah dia benar-benar bisa dilepaskan oleh mereka. Karena bagi mereka dia adalah sumber pendapatan untuk mereka."
"Anak muda, bapak tidak bisa memberi kan kamu penjelasan untuk itu. Bapak bukan seorang peramal. Maaf, Bapak harus pergi sekarang, tapi Bapak punya nasehat. Tidak mudah bagi seseorang untuk memberi atau melepas sesuatu. Ada beberapa pihak yang berwajib memberi izin secara lisan kepada mereka untuk membangun bisnis mereka. Bapak takutkan kedepannya akan menimbulkan masalah untuk keluargamu. Jadi kamu bertindak berhati-hati lah."
Halim termenung mendengar nasehat bapak tersebut. Ia tahu jelas semuanya memang tidak mudah. Tapi ia yakin Allah akan melindunginya juga melindungi keluarganya.
"Iya Pak, Halim akan bertindak dengan hati-hati." sahut Halim. "Dan pemerintah sendiri apa mengizinkannya juga, Pak?"
"Tidak, jika pemerintah tahu mereka akan di jebloskan ke penjara." sahut pak tua tersebut. Halim terdiam.
Denis selalu memandang pintu itu kapan akan terbuka, sudah hampir satu jam mereka berbicara di dalam. Tidak lama pintu itu terbuka. Halim dan bapak itu jalan bersama. Mereka jalan melewati Denis yang sedang duduk di kursinya.
"Anak muda, tahun depan kamu akan menikah dengan pacar mu yang sekarang." bapak itu berbicara sambil tersenyum melihat Denis.
Denis terkejut. Ia memandang Halim. Halim mengangkat kedua bahunya yang artinya ia tidak tahu apa-apa.
"Nak Halim, Bapak permisi sekarang. Ingatlah apapun yang terjadi lindungi anakmu dan jagalah perasaan istrimu. Apalagi bulan depan kamu akan mengajak anak dan istrimu kesini, jadi jagalah mereka." ucap bapak tersebut berpamitan sekaligus kembali memberi nasehat kepada Halim.
"Baik Pak, terima kasih. Nasehat Bapak akan ku ingat selalu. Semoga kita bisa bertemu lagi." sahut Halim. Bapak tersebut mengangguk lalu ia benar-benar pergi dari toko Halim.
Denis dan Halim memandang bapak itu pergi sampai punggung belakangnya tidak terlihat lagi.
__ADS_1