
Di kediaman Sarmi, kota S.
”Syakila dan Geo belum bangun?” tanya Sarmi.
”Belum, Ma.” Fatma yang menyahuti.
Mereka semua sedang berada di dapur, khususnya di meja makan keluarga. Seluruh anggota keluarga telah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi bersama, tinggal Geo dan Syakila yang masih belum hadir di meja makan tersebut. Kening Sarmi mengerut.
Apa mereka masih tidur? Atau semalaman Syakila tidak bisa tidur dan Geo terjaga demi menemani Syakila. Apakah semalaman Syakila menangis? Apa aku terlalu kejam pada Syakila? Tidak, ini sepantasnya yang aku lakukan untuk Syakila.
”Kita makan saja, biarkan mereka berdua.” ucapnya
Sarmi mulai menyendok makanan, yang lain pun menyusul menyendok makanan untuk mereka sendiri. Mereka makan dengan diam. Wajah-wajah mereka nampak tidak bersemangat. Entah, mungkin karena kemarahan Sarmi pada Syakila atau hal lain. Tetapi, mereka semua nampak tidak bahagia, terutama Sarmi, dan Hardin.
Hardin menghela nafas.
Bagaimana keadaan kakak Syakila sekarang yah? Mereka belum keluar kamar, apa kakak baik-baik saja?
Ia melirik mamanya. Ia tahu, mama nya makan tak berselera. Syakila adalah anak yang paling dekat dengan Halim. Jika Syakila bersedih seperti ini, dia hanya datang pada Halim untuk berbagi perasaan. Tapi, setelah kepergian Halim, Syakila menutup diri. Jika ada masalah atau ada hal lain, Syakila selalu melakukannya sendiri, ingin meminta pendapat atau bantuan dari anggota keluarganya tidak pernah.
Sarmi mendengus kesal.
Halim, dari bayi yang mengerti Syakila hanya kamu. Yang begitu dekat dengan Syakila juga hanya kamu, kamu juga tempat di mana Syakila berbagi cerita dan kesedihannya. Sekarang, kamu pasti lihat dari sana apa yang terjadi pada putrimu itu. Halim, haruskah aku menyalahkan kamu atas apa yang terjadi sekarang? Seandainya, kamu memberitahu ku lebih awal tentang uang itu, ini tidak akan terjadi, Halim! Untuk apa kamu meminjam uang itu sebenarnya? Dan mengapa Syakila yang harus menjadi korbannya? Kamu menempatkan kisah asmara Syakila sama seperti kisah asmara kita. Bukankah kamu sendiri yang bilang, asmara anak-anak kita tidak akan terjadi seperti kita? Tapi, lihatlah perbuatan mu sekarang! Jika saja Syakila bisa menerima dan mencintai Geo, dan Geo juga seperti itu pada Syakila, seperti kita yang akhirnya bisa saling menerima dan mencintai, aku tidak mengapa, Halim. Tapi ini, sudah beberapa bulan mereka menikah dan tinggal bersama, tapi, aku tidak melihat ada cinta di mata Syakila. Apa yang harus ku lakukan, Halim? Apa aku harus memaksa mereka untuk bercerai? Sedangkan kamu sudah mengatakan untuk menjauhi perceraian untuk putra putri mu.
Tak sadar, air mata Sarmi mengalir membasahi pipinya. Hardin, Fatma, Johansyah, dan yang lainnya menjadi heran dan bingung. Mereka ingin bertanya akan tetapi, lidah mereka seakan kaku untuk di gerakkan. Semua terdiam saling memandang dan melirik Sarmi yang menunduk memakan makanannya sambil menangis.
Meja makan menjadi hening dan sunyi, padahal meja makan hampir terisi penuh dengan anggota keluarga.
Sarmi menghentikan makannya, ini pertama kalinya ia tidak menghabiskan makanannya. Ia menghapus air matanya, ia berdiri.
”Mama berangkat ke kantor, kalian cepatlah makan dan pergi ke sekolah.” ucapnya. Matanya masih berkaca-kaca melihat anak-anaknya.
”Iya, Mah.” sahut Yuli, Ita, dan Endang bersamaan.
”Mah, Hardin akan mengantar Mama ke kantor.” ucap Hardin.
”Tidak usah! Mama akan naik taksi, habiskan saja makanan mu dan pergilah ke sekolah.” sahut Sarmi.
Ia meninggalkan dapur. Fatma, Hardin, dan yang lainnya sedih melihat mama mereka seperti itu. Ini pertama kalinya Sarmi berangkat kerja tanpa menunggu anak-anaknya selesai makan. Apa yang sedang mama pikirkan? Mengapa menangis? Apakah ini gara-gara Syakila? Pikir mereka semua.
Sarmi melangkah dengan cepat, ia melewati kamar Syakila. Ia berhenti sebentar menatap pintu yang masih tertutup rapat itu.
Syakila, Mama harap, kamu mengerti apa maksud Mama bersikap seperti ini padamu! Dan Mama harap, kamu tidak marah sama Mama. Jika kamu sudah bisa menghargai suami mu, Mama akan mengembalikan hapemu juga Mama akan mengizinkan mu untuk menjenguk Sardin. Mama tahu, Sardin pria yang kamu cintai, tapi, Geo adalah suami mu. Hargai dan hormati suami mu, meskipun kalian menikah dengan terpaksa.
Sarmi kembali melangkah setelah ia menghapus air matanya yang kembali menetes membasahi pipinya. Ia keluar dari rumah dan pergi berangkat bekerja.
Hardin dan yang lainnya telah selesai makan, Hardin pergi ke sekolah dengan tidak semangat. Ita, Yuli, dan Endang telah pergi ke rumah om Johan, mereka pergi ke sekolah di antar oleh Johan. Sedangkan Johansyah, ia berangkat bekerja. Tinggal Fatma yang kini berada dalam kamarnya.
Semoga Mama dan Syakila tidak bersalah paham karena ini. Semoga Syakila menyadari kesalahannya dan memaklumi sikap mama. Pertama kalinya Mama marah pada Syakila. Selama ini, kami tidak pernah melihat, mendengar mama marah, memukul, atau menangis gara-gara kami anaknya. Tetapi, sekarang... .. Mama... Syakila...
Fatma keluar dari kamar, ia pergi ke taman untuk menghirup udara segar.
Di kamar Syakila.
Trrtrtrrt trrtrtrrt
Syakila terbangun mendengar handphone Geo berbunyi. Ia terkejut, mendapati tangannya melingkar memeluk tubuh Geo begitu erat. Ia melepaskan pelukannya, dan perlahan bangun dari tidur dan beranjak dari posisinya. Bunyi handphone telah mati. Ia melihat Geo, pria itu masih tidur.
Trrtrtrrt
Syakila menoleh, melihat handphone Geo di atas meja hiasnya. Ia melangkah mengambil handphone, tertulis Beni memanggil. Syakila melihat Geo, ia mendekati Geo.
”Geo, bangun!”
Syakila membangunkan Geo dengan menggoyangkan kakinya perlahan. Geo terbangun, ia membuka mata, ia mendengar handphonenya yang berbunyi di tangan Syakila.
”Beni menelfon mu, mungkin ada sesuatu yang penting. Angkatlah telfonnya!”
Syakila menyerahkan hape pada Geo, Geo mengambilnya dan menekan tombol hijau menjawab telfon Beni. Syakila duduk di kursi meja hiasnya mendengarkan pembicaraan Geo. Meskipun ia tidak bisa mendengar ucapan Beni, setidaknya ia bisa menangkap sedikit tentang apa yang mereka bicarakan dari sahutan sahutan Geo.
”Ada apa?” ucap Geo.
”Kamu hati-hatilah berada di sana. Aku mendapat informasi, kalau Antonio pergi ke kota S. Aku yakin, dia mencari mu kesana.”
”Hum, kamu tenanglah! Dia tidak akan tahu posisiku. Terima kasih sudah memberitahu informasi ini. Kamu jagalah Mama di sana dan pergilah ke perusahaan. Jangan bermalas-malasan di rumah ketika aku tidak ada di sana.”
”Iya. Geo, mengapa handphone Syakila tidak bisa di hubungi?” tanya Beni.
Kening Geo mengerut, ia melihat Syakila yang sedang memandang memegang sebuah bingkai foto.
Apa Beni sudah mulai terang-terangan mengejar Syakila? Syakila masih berstatus istriku. Untuk apa dia mencari Syakila?
”Sedang di cas.” jawab Geo.
”Apakah dia ada di situ? Aku ingin bicara dengannya.”
Raut wajah Geo berubah tidak senang.
”Syakila, Beni ingin bicara dengan mu.” ucapnya datar.
Syakila mengerut, ia melangkah mendekati Geo. Ia mengambil handphone Geo dari tangannya. Ia memutar badan, Geo menahan tangan Syakila di langkah pertamanya. Syakila menoleh melihat Geo.
__ADS_1
”Bantu aku duduk!” ucap Geo.
Syakila menurut, ia menaruh handphone di atas ranjang dan membantu Geo duduk bersandar di sandaran ranjang. Syakila kembali mengambil handphone dan memutar badan, Geo kembali menahan tangan Syakila. Syakila mengerut melihat Geo. Geo menunjuk pinggiran ranjang dengan sudut matanya.
Syakila menghela nafas, ia mengerti maksud Geo. Ia duduk di pinggir ranjang. Ia mendekatkan hape ke telinganya.
”Halo, kak Beni.” sapa Syakila.
”Hum, bagaimana kabar mu?” sahut Beni
”Aku baik, kak. Kakak sendiri?”
”Aku baik, mengapa nomormu gak bisa di hubungi?”
”Em, itu, handphone ku sedang di cas.” jawab Syakila berbohong. Ia melihat Geo yang sedang melihatnya juga. Syakila beralih melihat lantai kamar.
”Ada apa kak mencari Syakila?”
”Syakila, aku merindukan mu.”
Syakila terdiam. Ia menatap Geo. Geo membalas menatap Syakila dengan kening mengerut.
”Em, kakak. Aku juga merindukan kakak.”
Raut wajah Geo berubah menjadi tidak senang. Ia memalingkan wajah.
”Apa Sardin sudah sembuh?”
”Belum.”
”Oh, semoga Sardin cepat sembuh. Dan cepatlah kembali ke kota A. Aku merindukan mu.”
Tut tut tut sambungan terputus dengan tiba-tiba. Kening Syakila kembali mengerut.
Apa kerinduan Beni hanyalah kerinduan biasa saja? Atau....tidak! Beni tahu statusku istri Geo, yang artinya aku kakak iparnya. Dia..dia tidak mungkin punya pikiran lain terhadap ku.
”Ada apa? Mengapa diam dan bengong begitu? Apa yang kamu pikirkan?” tanya Geo.
”Tidak, bukan apa-apa. Aku akan membantu mu mandi. Setelah itu kita keluar sarapan.”
”Hum,”
Syakila menyimpan handphone Geo di atas ranjang. Ia membantu Geo mandi. Beberapa menit kemudian, Geo telah selesai mandi. Syakila memakaikan pakaian Geo.
”Aku mandi dulu.”
”Hum,”
”Hati-hati di villa! Jangan lengah! Anak buah Antonio pasti sedang mengintai di sekitar villa. Antonio berada di kota S, sekarang.” Geo.
”Baik, Tuan! Kami akan berhati-hati!” anak buah Geo.
”Hum, jika ada kesempatan, kosongkan villa! Kalian pergilah ke bagian timur.” Geo.
”Baik, Tuan! Sesuai perintah, kami akan bersiap dan subuh ini akan mengosongkan villa.” anak buah Geo.
”Hum, pergilah lewat pintu belakang dan ambil jalan pintas di haluan kiri. Biarkan lampu villa terus menyala. Setelah kalian keluar, tutup kembali jalan tersebut.” Geo.
”Baik, Tuan.”
Geo tidak membalas pesan tersebut lagi.
Paling tidak, aku amankan anak buah ku dulu. Apa Antonio sudah mengetahui kondisi ku sekarang? Tapi, Beni, mama, dan Marlina, bukanlah orang bodoh, mereka tidak akan memberitahu keadaan ku pada Antonio.
Ia mendengar suara pintu terbuka, ia menoleh melihat ke kamar mandi. Syakila baru saja keluar dari kamar mandi, menggunakan pakaian rumahan, ia tampak seksi dan cantik.
Syakila, kamu nampak cantik.
”Apa kamu sudah lapar? Maaf, aku mandinya agak lama.” ucap Syakila.
”Tidak, bagaimana suasana hatimu sekarang?”
”Abaikan perasaan ku! Ayo kita ke dapur.”
Syakila mendorong kursi roda Geo ke luar kamar, mereka pergi ke dapur. Ia mengambilkan makanan untuk Geo.
”Makanlah!”
Syakila meletakkan makanan Geo di hadapannya. Ia duduk di bangku berhadapan dengan Geo.
Dahi Geo mengerut memandang Syakila, ” Kamu tidak makan?”
”Tidak, aku masih kenyang. Nanti, jika aku lapar baru aku akan makan.”
Geo terdiam.
Wanita ini, rasa laparnya benar-benar hilang di tutupi Sardin. Hum, cinta, patah hati, kecewa, sungguh urusan cinta merepotkan!
”Suapi aku.”
Syakila menurut, ”Baiklah,”
__ADS_1
Ia mengubah posisi duduknya, ia duduk di samping Geo. Ia mengambil sendok makan Geo dan mengambil nasi dan menyuapi Geo.
Geo menerima suapan Syakila sambil memandangnya, Syakila acuh saja dengan wajah datarnya. Syakila kembali mengambil sesendok nasi, ia kembali mengarahkan sendok ke mulut Geo.
”Kamu tidak suka menyuapiku?”
”Tidak, maksud ku, a__”
Ucapan Syakila tersanggah dengan sesendok nasi. Di saat Syakila berucap Geo mengarahkan tangan Syakila yang memegang sendok nasi ke mulutnya sendiri. Syakila mengunyah makanan tersebut.
”Rupanya, kamu ingin makan sepiring berdua dengan ku.” goda Geo.
”Sembarangan! Kamu sendiri yang mengarahkan sendok itu dan memasukkan nasi ke mulut ku di saat aku berbicara. Siapa yang mau makan berdua dengan mu?”
Geo terkekeh kecil, ”Buktinya kamu mengunyah juga makanannya. Suapi aku lagi!”
”Tidak, kamu makan sendiri saja.”
Syakila meletakkan sendok ke piring Geo. Ia beranjak berdiri dari duduknya. Geo menahan tangan Syakila, ia menarik Syakila hingga ia terjatuh di pangkuan Geo.
Geo melingkarkan tangannya ke perut Syakila.
”Lepaskan aku Geo!” Syakila berontak.
”Akan ku lepaskan, asal, kamu menyuapi ku lalu suapan berikutnya di kamu.”
”Aku akan menyuapi mu makan, tidak dengan ku!”
Geo tersenyum. Ia tidak berbicara lagi. Ia mengambil sesendok nasi dan mengarahkan sendok tersebut ke mulut Syakila.
”Buka mulutmu!”
Syakila menggeleng.
”Kamu ingin aku menyuapi mu dengan cara lain?”
Syakila membuka mulutnya menerima suapan Geo. Suapan berikutnya, ia menyuapi dirinya sendiri, begitu terus hingga nasi di piring Geo habis.
”Makan sepiring berdua memang enak dan nikmat.” ucap Geo. Syakila terdiam dan mengunyah suapan terakhir.
Geo mengambil air minum dan meminum air. Sisa airnya, ia menyuapi Syakila. Syakila menolak.
Geo tersenyum tipis, ia meminum air itu dan mengumpulkan di mulutnya. Ia membaringkan tubuh Syakila dalam pangkuannya. Syakila terkejut.
Geo menekan kedua rahang Syakila, hingga mulut Syakila terbuka. Geo memindahkan air dari mulutnya ke mulut Syakila.
Syakila berontak, Geo menahan kepala Syakila juga badan Syakila dengan erat. Terpaksa Syakila menelan air yang ada di mulutnya.
Geo, kurang ajar kamu!
”Kamu lebih suka meminum dari mulut ku daripada dari tangan ku.” ucap Geo seketika.
”Brengsek!”
Syakila berdiri dari pangkuan Geo.
Geo tersenyum kecut, ”Jika kamu menolak suapan dariku, maka aku akan menyuapi mu dengan cara seperti itu. Lagi pula, kita sudah ciuman berkali-kali, jadi itu tidak akan terasa jijik lagi.”
Syakila memandang Geo dengan marah, tanpa berkata ia beranjak meninggalkan Geo sendiri di dapur.
”Berhenti! Duduklah! Ada yang ingin ku bicarakan dengan mu.”
Langkah Syakila berhenti, ia menoleh. ”Bicaralah!”
”Duduklah!”
Syakila menurut, ia kembali duduk di bangkunya.
”Aku tahu, kamu ingin sekali menemui Sardin di rumah sakit kan?”
”Lalu, hubungannya dengan mu apa?” sahut Syakila dengan ketus.
”Aku akan mengajak mu keluar dari rumah dan kamu berkesempatan ke rumah sakit, tapi, waktumu hanya satu jam di sana.”
Syakila terdiam.
Ini tawaran yang bagus! Apa aku terima saja tawaran ini? Tapi, jika mama tahu, aku...
”Tidak, terima kasih tawaran mu. Aku menunggu izin dari mama baru aku akan menjenguk Sardin.” tolak Syakila.
”Aku tidak suka selama kamu ada di sampingku, hatimu, pikiran mu, pada orang lain.”
Syakila mengerut melihat Geo, ”Apa kamu cemburu?”
Geo terkekeh kecil, ”Aku cemburu? Hahaha, aku tidak berhak cemburu. Kamu dan aku tidak saling mencintai, untuk apa cemburu? Aku hanya ingin membantu mu bertemu dengan pria yang kamu cintai itu. Jika kamu sudah bertemu dengannya, di saat kamu bersama ku, pikiran mu akan tertuju padaku, tidak terbagi! Dan mama akan mengembalikan kembali hapemu dan juga tidak akan melarang mu untuk bertemu dengan Sardin lagi, jika mama melihat kamu memperhatikan aku dengan tulus.”
Syakila kembali terdiam.
”Tidak, aku yakin, mama ku akan mengizinkan aku untuk menemui Sardin cepat atau lambat. Untuk hape, aku tidak peduli, mama mau kembalikan atau tidak!” ucap Syakila kemudian dengan yakin dan tegas.
Syakila beranjak berdiri, ia kembali melangkah meninggalkan Geo di dapur. Geo terdiam.
__ADS_1