
Geo merenungi nasib dalam kesendirian. Tatapannya tajam, namum terlihat kosong. Entah apa yang sedang ia fikirkan, raut wajah nya sering berubah-ubah, marah, datar, sedih, kecewa tidak terlepas dari gambaran yang dia pikirkan.
Cih, keadaan ku seperti ini kalian menghina ku. Di saat aku sehat kalian memujaku, bahkan kalian menyerahkan sendiri tubuh kalian untuk ku. Jika aku tahu perlakuan kalian buruk padaku seperti ini di saat aku sakit. Aku akan berlaku kasar saat mengusir kalian dari hadapan ku saat kalian menyerahkan tubuh kalian padaku.
”Semua wanita menjijikkan, matre. Brengsek! Aku muak dengan wanita! Tapi, kenapa aku masih mencintai mu, Dawiyah?"
Geo tersenyum kecut. ”Dia benar, siapa yang akan mau menikah dengan ku, laki-laki yang cacat.”
Beni dan Rosalinda menjadi sedih mendengar gumaman Geo. Mereka berdua diam-diam mengintip Geo di kamarnya, dari celah pintu yang sedikit terbuka.
Rosalina pergi ke teras rumah, Beni menyusul.
”Tante, ini sudah tiga Minggu berlalu. Apa yang harus kita lakukan? Geo seperti sudah kehilangan semangat untuk hidup.” keluh Beni yang mendudukan tubuhnya di kursi samping Rosalina.
”Apa ada kabar tentang keberadaan Halim?" Rosalina tidak menanggapi keluhan Beni.
”Ada Tante, tapi belum semua informasi tentangnya yang anak buah ku dapatkan.”
”Informasi apa saja yang sudah kalian temukan?"
”Halim telah meninggal enam tahun yang lalu, anak dan istrinya tidak tinggal disini. Kami mendapatkan informasi itu dari beberapa pedagang yang mengenal Halim. Halim bersahabat dengan, Anton dan Denis.” ungkap Beni.
”Apa kamu tahu dimana rumah Anton?”
”Tidak tahu Tante, tapi jika Tante ingin menemuinya, kita bisa bertanya kepada para pedagang di pasar untuk mengetahui dimana rumahnya berada.” jelas Beni.
”Ayo kita ke pasar sekarang.” ajak Rosalina.
”Baik, Tante.”
Beni dan Rosalina pergi ke pasar, mereka memilih kira-kira mereka akan mendatangi siapa untuk bertanya tentang Anton.
Mereka berdua melihat seorang pemuda yang sedang membersihkan debu dari barang jualannya. Beni dan Rosalina mendekati pria itu.
”Permisi, De.” sapa Rosalina.
Aldo menoleh, ”Cari apa ibu?” Ia melihat Rosalina dan Beni bergantian.
”Maaf De, saya datang bukan untuk berbelanja, tapi saya ingin bertanya sesuatu padamu. Apa kamu mengenal Anton?”
”Anton?” Aldo menyipitkan matanya.
”Iya De, apa kamu mengenalnya?” Rosalina ulang bertanya.
”Iya, aku kenal. Ada perlu apa mencari nya?” tanya Aldo selidik.
”Apa kamu tahu dimana rumahnya?” Rosalina tidak menjawab tentang keperluannya. Ia kembali bertanya.
”Rumahnya, rumahnya yang sana.” Aldo menunjuk rumah yang hanya atapnya saja yang terlihat. Beni dan Rosalina mengikuti arah tunjuk Aldo, ”Rumahnya di belakang toko besar itu, pas di belakangnya. Warna cat rumahnya, warna cream.” jelas Aldo.
Rosalina tersenyum, ”Terima kasih sudah menunjukan rumahnya. Saya permisi dulu.” ucapnya.
”Iya, sama-sama, tapi Anton tidak sedang berada di rumahnya sekarang. Dia sedang berada di rumahnya almarhum Halim.” ungkap Aldo.
”Rumahnya almarhum Halim?” Rosalina mengulang kembali ucapan Aldo. ”Apa ada acara disana?”
”Iya, Anton berada di rumahnya almarhum Halim, rumahnya dekat saja dari sini. Rumahnya ada di atas toko kosmetik yang itu,” Aldo menunjuk kosmetik yang di jaga adiknya, Aida.
”Oh, apakah ada acara?” tanya Rosalina lagi.
”Tidak ada acara, hanya mereka sedang berkumpul saja di sana karena istrinya Denis baru saja melahirkan anak ke tiganya.” ucap Aldo menjelaskan.
”Oh, terima kasih atas informasinya. Saya pergi dulu.”
”Sama-sama, ibu.” sahut Aldo.
Beni dan Rosalina keluar dari toko pecah belah.
”Lalu, bagaimana selanjutnya, Tante? Ingin menemuinya sekarang atau nanti?” tanya Beni.
”Nanti malam baru kita temui mereka di rumahnya sendiri.” sahut Rosalina sambil memandang rumah Halim dari depan toko kosmetik. ”Mari kita pulang, yang penting kita sudah tahu letak rumahnya.”
”Baik, Tante.”
Mereka berdua kembali berjalan menuju mobil, mereka masuk ke dalam mobil setelah sampai di sana. Beni menyalakan mesin dan menjalankan mobil.
”Tante, boleh aku bertanya sesuatu?”
Beni melirik Rosalina yang sedang berfikir sambil menatap jalanan yang mereka lalui.
”Apa yang ingin kamu tanyakan?” sahut Rosalina tanpa beralih dari pandangannya yang menatap jalan.
__ADS_1
”Mengapa Tante ingin mencari tahu tentang Syakila? Apa Tante mengenalnya?”
”Tante tidak mengenalnya. Hanya saja Tante merasa jika Geo tertarik dengan wanita itu. Sudah beberapa kali kami berpapasan dengan wanita itu, ia mampu mengalihkan perhatian Geo. Untuk itulah aku mencari tahu tentang dia,” jelas Rosalina.
”Oh, terus apa yang akan Tante lakukan jika sudah menemui istri dan anak Halim?”
”Tante akan menagih janji Halim lewat mereka.”
”Jika mereka menolak, apa yang akan Tante lakukan?”
Rosalina menatap Beni. Beni sempat menatap Rosalina dan kembali fokus pada setir.
Bagaimana jika mereka menolak? Tidak terfikir oleh ku. Halim sudah meninggal enam tahun yang lalu, jika ia memberitahu istrinya dia punya utang pada kami, tentu istrinya akan membayar utang itu. Tapi, sepertinya istri Halim tidak tahu apa-apa, makanya utangnya tidak terbayar lagi. Surat perjanjian itu juga sudah terbakar bersama surat-surat penting lainnya saat ruang pribadi suamiku sengaja di bakar orang. Lalu, apakah mereka akan percaya dengan ucapan ku nanti?
”Beni, apa kamu masih ingat alamat email dari suamiku?” tanyanya kemudian, setelah keheningan menemani mereka berdua.
”Maaf Tante, Beni tidak ingat lagi.” sesal Beni, ”Memangnya kenapa Tante menanyakan itu?”
”Surat perjanjian antara kami dan Halim telah hangus. Bagaimana jika istri Halim tidak akan percaya dengan ucapan ku, jika Halim punya utang dan punya perjanjian dengan kami.” ucap Rosalina dengan sedih. ”Beni, apa anakku akan begitu terus selama hidupnya? Beni, aku tidak sanggup melihat anakku seperti itu.” sebening air mata jatuh membasahi pipi Rosalina.
”Tante, Tante jangan menangis. Beni yakin Geo akan pulih seperti semula.”
Rosalina tersenyum kecut mendengar ucapan Beni. Beni membelokan mobil dan masuk ke halaman parkir kediaman Albert. Mereka berdua turun dari mobil dan melangkah masuk ke rumah. Mereka langsung menuju kamar Geo.
Di lihatnya Geo sedang berusaha meraih kursi roda yang ada di samping ranjang. Geo menyeret tubuhnya untuk meraih kursi roda tersebut. Tapi Geo tidak bisa meraihnya, hingga ia berteriak frustasi dan memaki dirinya sendiri.
Beni dan Rosalina segera menghampiri Geo.
”Geo sayang, jangan teriak begitu.” Rosalina menenangkan.
”Pergi kalian! Tinggalkan aku sendiri disini!” bentak Geo. Rosalina dan Beni terkejut mendengar bentakan Geo untuk yang pertama kalinya pada mereka.
”Sa-sayang. Kamu mengusir Mama?” Rosalina memegang pundak Geo. Geo menepis kasar tangannya.
”Pergi! Aku bilang pergi dari sini, tinggalkan aku sendiri!” ucap Geo lagi dengan lantang. Rosalina menangis.
”Geo, cukup! Apa yang salah dengan Mamamu? Mengapa kamu membentak nya begitu? Apa kamu tidak melihat, Mamamu sekarang menjadi sedih karena ulah mu?” ucap Beni dengan marah.
Geo melihat mamanya, ia melihat raut wajah sedih yang terpancar disana di selingi dengan air mata yang jatuh di kedua pipinya. Rasa bersalah singgah di benak Geo.
”Maaf Mah,” ucapnya dengan lembut. Rosalina tersenyum dalam tangisannya. Ia memeluk tubuh Geo.
”Tante, bagaimana kalau kita bawa Geo terapi sa__”
Ia tahu Geo membenci dokter saat Geo di khianati oleh pacarnya yang berprofesi sebagai dokter. Saat Geo menemui Yulia di rumah sakit, saat itulah ia melihat pengkhianatan Yulia padanya bukan hanya sekali, tapi tiga kali berturut-turut Geo mendapati Yulia mengkhianatinya.
Meskipun dia sakit, ia tidak mau pergi ke dokter, Rosalina lah yang memaksa dokter untuk datang ke rumah merawat Geo. Tidak terkecuali di saat Geo sedang tidak sadarkan diri, barulah ia di bawah kerumah sakit.
Gak nyangka lelaki yang sukses dalam bidang usaha, tapi selalu gagal dalam urusan cinta. Yulia, cinta pertamanya mengkhianati dia dengan cara yang sama yang di lakukan oleh Dawiyah, cinta keduanya.
Beni geleng-geleng kepala melihat Geo yang sedang terpuruk.
.. ..
Usai menikmati makan malamnya, Beni membawa Geo ke kamarnya dan membaringkan tubuh Geo di atas ranjang.
Setelah itu, ia menghampiri Rosalina yang sedang duduk di ruang keluarga.
”Apa Geo sudah tidur?” tanya Rosalina.
”Sudah Tante, mau pergi sekarang Tante?” tawar Beni.
”Iya, ayo kita pergi.”
Rosalina beranjak berdiri dan keluar rumah, Beni menyusul. Mereka masuk ke mobil. Beni menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, ia memasuki pasar dan menghentikan mobil tepat di depan rumah Anton.
Rosalina dan Beni berdiri di depan rumah Anton. Beni mengetuk pintu. Dalam ketukan yang ke tiga kali pintu terbuka.
Serlina menatap tamunya yang berdiri di depan pintu rumah dengan bingung. Karena ini pertama kalinya ada orang yang tidak di kenalnya datang bertamu.
"Maaf, sudah mengganggu.” ucap Rosalina dengan sopan.
”Silahkan duduk,” Serlina mempersilahkan tamunya duduk di kursi teras. Lalu ia masuk ke dalam rumah. Rosalina dan Beni sudah duduk di bangku tersebut.
Serlina kembali datang dengan membawa nampan yang berisi dua gelas minuman. Ia membagikan minuman itu pada kedua tamunya. Lalu ia ikut duduk di kursi.
”Silahkan di minum,” Beni dan Rosalina mengangguk lalu mereka meraih gelas dan meneguk minumannya. Baru mereka letakkan kembali gelas itu di atas meja.
”Em, perkenalkan namaku Rosalina dan ini anak kemenakan ku. Kami datang kesini mencari saudara Anton.” Rosalina mulai membicarakan tujuannya datang bertamu.
”Mencari Anton? Ada perlu apa mencari suami ku?” tanya Serlina.
__ADS_1
”Kami ingin menanyakan tentang keberadaan Halim padanya.” Beni yang menjawab.
”Suamiku sedang tidak berada di rumah. Apa kalian mengenal Halim? Dan mengapa mencari keberadaannya?”
”Kami ada perlu dengannya, bisa kah Anda memberitahu kami tentang keberadaan Halim, pada kami?”
”Halim sudah lama meninggal sekitar enam tahun yang lalu, anak dan istrinya sekarang tinggal di kota S.”
”Boleh kami tahu alamat rumahnya di kota tersebut? Kami ingin menemui istrinya secara langsung.” ucap Beni.
”Mereka tinggal di alamat jl. Ampera RT 15, RW 3, no. 18.” jawab Serlina dengan jujur. Beni mencatat alamat itu pada handphone nya. ”Sebenarnya ada urusan apa di antara kalian dan Halim?” selidik Serlina.
”Hanya sedikit urusan pribadi saja. Terima kasih sudah membagikan informasi tentang Halim pada kami.” ucap Rosalina.
Rosalina dan Beni meneguk habis minumannya dan berpamitan pulang.
”Terima kasih, sudah menyuguhkan air minum untuk kami, kami berdua pamit undur diri.” ucap Rosalina lagi.
”Sama-sama.”
Rosalina berdiri, Beni dan Serlina ikut berdiri. Kemudian Beni dan Rosalina meninggalkan kediaman Anton. Mereka masuk ke mobil. Perlahan mobil bergerak pelan meninggalkan halaman depan rumah Anton.
”Apa kamu mencatat alamatnya tadi?”
”Iya Tante,”
”Kirimkan alamat itu pada anak buah mu, suruh mereka mencari alamat itu. Dan malam ini juga kita akan berangkat ke kota S. Jadi, persiapkan semuanya.”
”Baik, Tante.”
Kini mereka telah sampai di depan rumah. Rosalina turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Sedangkan Beni, ia masih berada di mobil. Ia sedang menghubungi seseorang. Telepon tersambung.
”Halo, Bos.” sapa pria di sebrang sana.
”Siapkan jet pribadi tuan Geo, kita akan berangkat ke kota S sekarang. Bersiaplah di bandara.”
”Baik, Bos.”
Beni memutuskan telfon. Lalu ia mengetik beberapa kalimat dan mengirimkannya kepada anak buahnya yang ada di kota S.
”Cari di mana letak alamat rumah ini. Alamat jln. Ampera RT 15, RW 3, no.18. Cari sekarang!”
”Baik, Bos!”
Setelah membaca balasan pesan dari anak buahnya, Beni masuk ke rumah, ia menghampiri Rosalina yang sedang berada di kamar Geo. Beni membantu Rosalina mengemas barang yang di butuhkan Geo ke dalam koper.
”Apa masih ada lagi barang yang mau di bawa, Tante?”
”Tidak ada, semua sudah di siapkan. Kita berangkat sekarang.” ucap Rosalina.
Beni membawa koper pakaian Geo dan Rosalina ke dalam mobil. Sedangkan Rosalina membangunkan Geo dari tidurnya.
”Geo sayang, bangun. Kita harus berangkat ke kota S sekarang.”
Geo terbangun, ”Ke kota S, buat apa kesana Mah?” tanyanya dengan bingung.
”Tidak usah banyak tanya.” Rosalina mengganti pakaian Geo. Beni kembali menemui Geo dan Rosalina setelah menyimpan koper di mobil.
”Beni, bantu Tante memapah Geo,” Beni mengangguk. Ia mengangkat tubuh Geo dan menaruhnya di kursi roda, hingga mereka masuk ke mobil.
Beni menjalankan mobil dengan kecepatan sedang menuju bandara.
”Mama, sebenarnya ada keperluan apa kita ke kota S?” kembali Geo bertanya.
”Sampai di sana baru kamu akan tahu sayang. Sekarang diam lah saja, nikmati perjalanannya.” jawab Rosalina. Geo terdiam. Ia melirik Beni yang sedang menyetir. Beni tahu, namun ia cuek saja.
Mereka tiba di bandara, Beni kembali memapah tubuh Geo menaruhnya di kursi roda hingga mereka masuk ke dalam pesawat pribadi Geo.
Pesawat lepas landas dari bandara kota A menuju bandara kota S.
Mengapa mama tiba-tiba ingin berangkat ke kota S? Apa mama ingin mencarikan ku wanita dari kota tersebut?
”Apa Mama berniat mencari kan Geo wanita di kota itu, Mah?” Geo bertanya dengan nada tidak suka.
Rosalina terus memejamkan matanya, ia mendengar pertanyaan anaknya, namun ia tidak ingin menjawabnya.
”Mama, Geo tahu Mama tidak tidur, jadi jawab pertanyaan Geo, Mama. Apa benar Mama mencarikan Geo wanita di kota itu?”
”Iya,” jawab Rosalina singkat.
”Mah, Geo sudah bilang kan, Mama ti__”
__ADS_1
”Geo, Mama hanya ingin melihat kamu bahagia sayang, Mama hanya ingin ada orang yang mengurus mu jika Mama meninggal nanti.” jelas Rosalina. Geo terdiam.