
Kini kapal yang mereka tumpangi telah sampai di kota A, Halim begitu takjub melihat keindahan kota itu dari sisi kanan kapal.
Kota ini termasuk kota yang besar juga, pemandangan di pagi hari saja sudah indah, gimana kalau di malam hari yah?
batin Halim.
"Para penumpang kapal yang bertujuan di kota A harap untuk bersiap-siap, kapal akan segera bersandar di pelabuhan. Harap barang bawaannya di perhatikan biar tidak ada yang barang yang ketinggalan."
Halim mendengar pengumuman dari pegawai kapal yang mengumumkan kapal akan segera sandar di pelabuhan. Ia segera kembali ke tempatnya di dek 5 untuk bersiap-siap.
Di saat ia menuruni anak tangga di dek 5 ia berhadapan dengan Halima yang sedang menaiki anak tangga. Mereka saling pandang sejenak. Lalu Halim mengalihkan pandangannya.
"ABK siap muka depan belakang kapal, kapal telah merapat pada pelabuhan, para penumpang yang turun harap berjejer rapi dan jangan berdesak desakan. Harap buka jalan bagi penumpang yang akan naik ke kapal."
Kembali terdengar pengumuman dari pegawai kapal di telinga para penumpang termasuk Halim dan Halima. Halim mengambil jalan yang sedikit besar di arah kiri Halima untuk menuruni anak tangga, namun Halima menghentikan langkahnya setelah Halim berada satu tangga di belakang Halima. Ia memegang tangan Halim.
Halim menghentikan langkahnya sebentar, namun ia tidak berbalik ataupun menoleh juga tidak melirik Halima yang sedang menunggu dirinya untuk melihatnya.
"Lepaskan tanganku!" ucap Halim dengan pelan namun penuh ketegasan. Halima sedikit takut ia melepaskan tangan Halim yang di pegangnya.
"Boleh kah kita berteman? Tanpa kamu mengacuhkan diriku?" Halima bertanya dengan lembut.
"Aku tidak melarang siapapun untuk berteman denganku, tapi itu semua tergantung bagaimana sikapmu. Jika kamu bisa menjaga sikap mu aku mungkin bisa menghormati mu, tapi jika kamu tidak bisa menjaga sikapmu. Maka aku akan selalu bersikap begini kepada kamu." sahut Halim tanpa menoleh sedikitpun kepada Halima yang berdiri satu tangga darinya.
Setelah mengucapkan itu Halim melanjutkan langkahnya tanpa menunggu sahutan atau tanggapan dari Halima atas ucapannya. Dan Halima ia tidak berani lagi untuk menghentikan langkah kaki Halim yang meninggalkan dirinya.
Kamu lelaki yang seperti apa Halim? Baru pertama kalinya aku bertemu dengan pria seperti dirimu. Sungguh aku semakin tertarik dengan kamu, Halim! Baiklah! Untuk bisa dekat denganmu aku akan menjaga sikapku di hadapan mu.
batin Halima.
Ia juga melanjutkan langkahnya menuju tempatnya untuk bersiap-siap turun karena kapal sudah sandar di pelabuhan 10 menit yang lalu.
"Kenapa lama sekali datangnya? Kapal sudah sandar dari 10 menit yang lalu." ucap Hamid dengan kesal setelah melihat Halim yang baru datang. Pasalnya ia menanti Halim datang agar mereka turun di pelabuhan bersama-sama.
"Oh, maaf sudah membuat kamu menunggu." sahut Halim dengan tersenyum kecil sambil melipat pakaian kotor, juga handuk dan memasukkan perlengkapan mandinya kedalam tasnya.
"Sulit untuk berjalan tadi, karena orang berdesak desakan." ucapnya lagi menjelaskan.
"Hum, cepatlah! Kapal tidak akan lama sandar di pelabuhan. Kita hanya punya waktu sejam untuk turun." ucap Hamid
"Hum, sudah selesai." sahut Halim sambil menyandang tasnya. "Ayok!" ajaknya kepada Hamid. Hamid mengangguk.
Mereka berjalan berjejer untuk menuju pintu turun dari kapal. Karena padatnya manusia yang berlalu lalang, ada yang turun ke pelabuhan dan ada yang naik keatas kapal.
"Alhamdulillah! Akhirnya sampai juga di pelabuhan." ucap mereka kompak.
Halim mengedarkan pandangannya ke seisi pelabuhan. Disinilah sekarang aku berdiri untuk mencari nafkah untuk anak dan istriku. Ya Allah ridhai lah setiap langkah kakiku dengan rahmat dan rezeki-Mu agar jalanku mudah untuk menggapai rezeki di tanah rantau ini. Aamiin.
__ADS_1
batin Halim.
"Ayok! Aku tunjukkan toko yang akan kamu jaga nanti, dan kamu tunggu karyawannya Anton disana saja." ajak Hamid. Halim mengangguk sebagai jawaban. Mereka jalan beriringan.
Halim menghentikan langkah kakinya saat ia melihat Hamid berhenti melangkah. "Nah! Ini dia tokonya Anton yang akan kamu jaga." ucap Hamid sambil menunjuk toko yang di depannya itu. Halim hanya mengangguk angguk kepala saja. "Toko ini ukurannya 3*4." lanjut lagi Hamid menjelaskan ukuran toko.
"Nah! Kalau toko yang di depan sana itu ukurannya 15*30, itu termasuk tokonya Anton yang besar. Di toko itulah ia menjual sebagai agen kosmetik." ucap Hamid lagi sambil menunjukan toko yang di maksud. Halim hanya mengangguk saja sebagai tanggapan.
"Dan itu dia karyawannya Anton, sepertinya dia yang menjemputmu." ucapnya lagi sambil menunjuk lelaki berbaju merah tua yang sedang berjalan menuju ke arah mereka. "Kita berpisah disini, nanti kapan-kapan aku akan jalan-jalan ke toko mu untuk menemui mu." ucap Hamid lagi dengan tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan kanannya.
Halim menyambut uluran tangan Hamid. Mereka bersalaman. "Terima kasih Hamid, ku harap kamu tepati ucapan mu, aku akan sangat senang sekali jika kamu datang berkunjung." sahut Halim dengan tulus. "Ok!" sahut Hamid dengan singkat.
Hamid telah pergi meninggalkan Halim yang berdiri di depan toko Anton menunggu karyawannya untuk datang menghampirinya.
"Abang yang namanya Halim? Temannya Anton?" tanya Denis dengan sopan setelah ia sampai di hadapan Halim.
"Iyah benar sekali saya Halim, temannya Anton. Anda?" sahut Halim.
Denis mengulurkan tangannya, Halim menyambutnya. "Saya Denis, saya karyawannya Anton." ucap Denis mengenalkan diri. "Mari kita pergi ke rumah." ajaknya. Halim mengangguk.
Karena rumah Anton tidak jauh dari pelabuhan mereka cukup berjalan kaki saja untuk sampai kesana. Ternyata rumahnya Anton berada tepat di belakang toko besarnya.
Denis mempersilahkan Halim untuk masuk dan menunjukan kamar yang sudah di persiapkan untuk Halim. Denis juga mempersilahkan Halim untuk beristirahat. Halim mengangguk, karena ia memang capek dan butuh istrahat, kini ia telah terlelap dalam tidurnya.
.. ..
"Ini sudah hampir jam 1, pasti Syakila sudah pulang kerumahnya. Aku akan menemuinya dulu." gumam Sardin.
Sebelum Sardin kerumahnya Syakila, ia singgah sebentar ke sekolah untuk memastikan jika Syakila sudah pulang.
"Ternyata benar, dia sudah pulang." gumamnya lagi dengan senang. Kini ia pergi ke rumahnya Syakila. Sampai disana Sardin mengetuk pintunya, namum selama ia mengetuk pintu, tidak ada sahutan satu pun dari dalam rumah.
"Apa dia sudah pergi ke kebun?" tanyanya pada diri sendiri. "Sudahlah aku akan menemuinya di kebun." lanjutnya lagi bergumam.
Dengan perasaan senang Sardin melangkah pergi ke kebun untuk menemui Syakila. Ia sedikit berlari-lari agar cepat sampai.
Sardin tersenyum senang saat ia melihat sosok gadis kecil yang sedang berjalan dengan teman-temannya, yang baru saja melewati kuburan.
Ternyata dia belum lama perginya.
batin Sardin
Sardin memelankan langkahnya hingga langkah kakinya tidak terdengar oleh mereka. Sardin berencana untuk mengagetkan mereka.
Dan setelah langkahnya sudah dekat dengan mereka, Sardin benar-benar mengangetkan mereka.
"Duaaarrr!”
__ADS_1
ucap Sardin sambil memegang pundak Syakila. Sontak saja kemunculan Sardin yang tiba-tiba mengagetkan Syakila dan teman-temannya.
"Aaaaaaa!"
Teriak mereka bersamaan, hingga membuat Sardin menutup kedua telinganya dengan tangannya.
"Aduh Syakila bagaimana ini, aku takut!" ucap Helena yang ketakutan.
"Iya aku juga takut!" ucap Sartini, Arianti, Fitria bersamaan dengan panik dan takut.
"Sudah jangan panik!" ucap Syakila menenangkan teman-temannya. Mereka tidak berani menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang sudah mengagetkan mereka. Syakila mencoba untuk menengok ke belakang. Dan disaat ia ingin menengok ternyata duluan Sardin yang membuka suara untuk menenangkan mereka.
"Ssttssstt! Jangan teriak lagi, ini aku Sardin." ucapnya pelan. Syakila dan teman-temannya berbalik serempak.
"Sardin!" ucap Arianti, Fitria, Helena, Sartini, dengan marah memandang Sardin.
"Kakak!?" ucap Syakila dengan marah bercampur bingung melihat Sardin. "Kakak mengagetkan kami saja, kakak tau gak kalau kami sangat takut tadi, apalagi ini di hutan. Kakak kok tega!" lanjut lagi Syakila berucap.
"Iya Sardin ini apa-apaan sih! Bikin kaget saja! Lain kali jangan di ulangi!" ucap Helena dengan kesal bercampur marah.
"Iya ya maaf maaf, aku salah. Maaf yah!" ucap Sardin meminta maaf sambil mencubit kedua telinganya.
"Sekali lagi maaf yah!" ucap Sardin lagi saat mereka belum menyahuti permintaan maafnya. Mereka hanya memandang Sardin dengan tatapan marah, kesal, jengkel, yang bercampur aduk menjadi satu.
"Iyah kami kami maafin, tapi jangan di ulang yah!" ucap mereka kompak. Sardin mengangguk sambil tersenyum dengan mengangkat kedua jari membentuk huruf V, "Janji!" sahutnya.
"Sudah ayok kita jalan lagi!" ajak Sardin. Mereka pun melanjutkan perjalanannya.
"Bukannya kakak hari ini berangkat yah? Kok kakak bisa kesini?" tanya Syakila dengan bingung.
"Iyah Kila, hari ini memang kakak berangkat tapi sebentar malam, jam 9 jadi kakak menyempatkan waktu untuk menemui dulu." sahut Sardin menjelaskan.
"Lalu kakak mau ke kebunnya siapa?" tanya Syakila lagi. Karena di kebun itu tidak ada kebun dari Sardin maupun keluarganya. Mereka kebunnya berada di kebun yang satunya lagi.
"Kakak ikut ke kebun mu, Kila!" sahut Sardin "Kakak akan disana seharian temani kamu." lanjutnya lagi berucap.
Sardin mendengar suara daun-daun kering yang terkena gesekan juga desis suara ular yang semakin dekat. Sardin mengehentikan langkahnya juga menghentikan langkah Syakila dan teman-temannya.
"Ssttssstt! Jangan berisik mundur 3 langkah pelan-pelan ke belakang dan jangan berisik angkat kaki pelan-pelan baru mundur." ucapnya pelan namun terdengar oleh mereka.
Mereka menurut pada ucapan Sardin, setelah mereka mundur 3 langkah dan berhenti tanpa bersuara, tiba-tiba ular datang menyebrangi jalan kecil yang mereka lalui. Setelah ularnya lewat agak lama kemudian baru mereka melanjutkan perjalanan.
"Huh! Untung ada kakak, kalau tidak kami tidka tau lagi akan bagaimana." ucap Syakila bersyukur.
"Biarpun tidak ada kakak, kalau kalian berjalan ke kebun pasang telinga baik-baik, sudah tahu kan bagaimana bunyinya tadi? Jadi kalau seandainya mendengar suara seperti tadi harus berhati-hati, kalau suaranya kita dengar berada di depan kita berarti kita harus mundur pelan tanpa suara dan tetap berdiam diri. Kalau kita dengar suara ularnya berada di belakang kita, kita harus maju tanpa suara juga dan tetap diam sampai ular selesai menyebrang jalan." ucap Sardin menjelaskan.
"Oh, begitu!" sahut mereka bersamaan dengan mengangguk angguk mengerti.
__ADS_1