
Pagi yang terik, suasana yang teduh. Halim sedang menikmati paginya dengan secangkir teh dan duduk di teras rumah. Sikap Halim tersebut membuat Denis bingung, tidak biasanya Denis mendapati Halim duduk sendiri di pagi hari ketika waktunya Denis ke pasar.
"Bang, tumben Abang belum pergi ke pasar? Abang gak jualan hari ini?" Denis bertanya heran kepada Halim. Tidak biasanya Halim seperti ini.
Halim menoleh ke arah Denis yang masih berdiri di bibir pintu. "Denis, duduk sini!" Halim mengajak Denis duduk di kursi sampingnya.
Denis menurut. Ia duduk tepat di samping Halim. "Kenapa Bang? Tumben? Denis jadi penasaran nih?" Denis berkata dengan serius memandang Halim. Karena memang tidak biasanya Halim bersikap demikian.
"Denis, sebentar Abang tutup tempo. Hari ini Abang akan berjualan hanya tengah hari. Abang ada perlu dengan mu. Bisa kah Abang meminta bantuan mu?"
Denis mengkerut kan keningnya. "Abang meminta bantuan ku? Apa yang bisa Denis bantu, Bang? Dan mengapa Abang akan tutup tempo?" Denis bertanya dengan penasaran.
"Abang ingin membangun rumah di lantai atas di tokonya Abang. Tolong kamu bantu Abang untuk cor tiang hari ini. Apa kamu bisa minta tolong sama para buruh ekspedisi dari Anton untuk membantu nanti? Tidak usah banyak orang, Abang hanya butuh lima belas orang saja untuk membantu. Apa bisa?" Halim bertanya penuh harap memandang Denis.
"Abang ingin bangun rumah? Jadi, Abang tidak ingin tinggal bersama kami lagi? Apa sikap kami ada yang tidak berkenan di hati Abang? Apa Abang Anton, sudah tahu niatnya Abang ini?" Denis mencerca Halim dengan berbagai pertanyaan.
"Iya, Anton sudah tahu hal ini. Bahkan dia yang mengusulkannya pada Abang." Halim memegang bahu Denis. "Bukannya Abang tidak mau tinggal bersama kalian, tapi Abang ingin membawa anak dan istrinya Abang kesini. Jadi Abang harus sediakan rumah untuk keluarganya Abang." ucap Halim menjelaskan. "Jadi bisakah kamu membantu Abang?"
"Kenapa gak tinggal di rumahnya Abang Anton saja, Bang? Kan luas dan besar rumahnya Abang Anton?" Denis memberi usul. "Kalau masalah bantuan, Denis bisa Bang. Kebetulan para buruh juga off hari ini, karena kontener atau kapal putih tidak ada yang masuk."
"Rumahnya Anton memang besar, tapi kamu tahu kan kondisinya gimana? Anakku ada enam orang, mereka akan tidur dimana nanti? Sedangkan kamar sudah terisi semua. Dan ruangan juga sebagian terisi dengan barang." Halim kembali menjelaskan. "Terima kasih kamu bersedia membantu Abang."
"Ok sama-sama Bang. Kalau begitu, berarti siang ya kerjanya, Bang? Kalau begitu Denis harus bicara dengan para buruh agar mereka bersiap nantinya."
"Iya, terima kasih yah Denis." ucap Halim berterima kasih dengan tulus.
"Ucapan terima kasihnya Denis tidak terima Bang. Denis akan terima jika Abang bisa membantu Denis bersama Samnia." sahut Denis dengan senyum liciknya dan menaik turunkan kedua alisnya.
"Licik kamu, tidak ada tawar menawar! Siang sebentar jangan di lupa!" ucap Halim sambil berdiri. Ia meraih gelas tehnya dan meneguknya sampai habis. "Abang masuk dulu kedalam." pamitnya kepada Denis.
Halim meletakan gelas kosongnya ke tempat piring kotor. Lalu ia pergi ke kamarnya dan bersiap pergi ke pasar untuk membuka jualannya. Ketika ia keluar rumah, ia bingung karena ia masih melihat Denis duduk di kursinya.
"Denis, Abang kira kamu sudah pergi ke toko. Kamu gak bantu mereka?" Halim bertanya dengan heran.
"Eh, Bang. Denis menunggu Abang," sahut Denis sambil berdiri dari duduknya. "Ayok Bang, pergi sama-sama!" Denis mengajak Halim. Ia merangkul pundak Halim dan menariknya berjalan bersama. Halim pun mengikuti langkah Denis.
"Bang, menurutmu bagaimana tentang Samnia? Apa dia cocok untuk ku?" Denis bertanya dengan ragu-ragu.
"Kenapa bertanya di Abang? Tanyakan sama hatimu? Apakah hatimu rasa nyaman gak berada di dekat Samnia? Kalau menurut Abang, Samnia sejauh yang Abang kenal, dia orangnya baik." Halim berkata memberi tanggapannya.
"Apa gak terlalu buru-buru Bang, jika Denis mengajaknya menikah?" Denis bertanya serius.
__ADS_1
"Hum, menurut Abang sih memang terlalu terburu-buru, karena kalian belum lama saling kenal, dan pancaran baru beberapa Minggu. Begini saja, untuk mengetahui dia mau tau gak nya. Kamu coba tes tanyakan padanya tentang suatu hubungan, tentang pernikahan, tentang rumah tangga. Dari jawabannya kamu akan menemukan jawabanmu nanti."
"Bagaimana caranya Denis menemukan jawaban atas pertanyaan Denis, Bang? Apalagi berdasarkan dari jawaban Samnia!" Denis bertanya dengan bingung. Terlihat jelas dari keningnya yang di kerutkan.
"Coba saja bertanya padanya dulu! Dan kamu cerna baik-baik di setiap jawabnya! Dari situ kamu akan tahu, apakah dia serius dalam menjalani suatu hubungan atau tidak? Dan kamu juga akan tahu, apakah dia ada berkeinginan untuk segera menikah atau tidak?" ucap Halim menjelaskan. "Apa kamu sudah mengerti?"
Denis yang awalnya belum mengerti, sekarang ia sudah mengerti setelah Halim menjelaskannya. "Iya Bang, Denis sudah mengerti!"
"Baguslah kalau sudah mengerti! Kita berpisah disini, Abang sudah sampai di depan toko. Kamu pergilah! Dan jangan lupa sebentar siang, ok!" Halim kembali mengingat kan. Ia membuka rangkulan tangan Denis dari bahunya.
"Ok Bang!" sahut Denis. Ia kembali melanjutkan jalannya pergi ke toko Anton untuk membantu mereka menjaga toko.
Sedangkan Halim, ia langsung membuka jualannya seperti biasanya. Lelah, capek, sudah tidak terasa lagi seperti sebelumnya karena dirinya sudah mencintai pekerjaan rutinitasnya itu.
Halim duduk santai setelah ia selesai menyusun barang jualannya. Ia menggambar sketsa rumah yang akan di bangunnya untuk anak dan istrinya.
Ia menggambar dengan serius memperhatikan secara detail gambarnya tersebut. Setelah selesai memandang ulang pada gambar tersebut. Ia merasa puas dengan hasil gambarnya. Lalu ia menyimpan kertas yang berisi sketsa itu kedalam saknya.
"Sebentar sebelum tutup aku akan menyerahkan sketsa ini pada Udin. Biar dia mempelajari detail dari rumah yang akan di bangunnya. Setelah itu baru aku mencari Beni untuk membeli pasir dan batu-batu kecilnya. Untuk semen, kebetulan sekali tidak jauh dari tokoku, akan ku beli sekarang." Halim bergumam kecil.
Waktu berjalan dengan cepat. Tidak terasa sudah masuk siang hari. Kesibukan Halim semakin padat. Ia segera menutup tokonya, meskipun pembeli masih ramai. Ia mulai menjalankan rencananya dengan sempurna setelah ia selesai menutup tokonya.
Panas matahari tidak ia rasakan, keringat terus bercucuran membasahi tubuh dan wajahnya. Sesekali ia melap keringatnya sendiri. Ia sedang mengumpulkan semua bahan dan alat yang diperlukan.
.. ..
"Syakila, mamaku bilang kamu akan ke kota A, betul kah?" Arianti bertanya serius kepada Syakila. Pertanyaan Arianti menjadi heboh saat yang lainnya mendengarnya.
"Syakila, kamu akan meninggalkan kami disini? Kamu tega eh." celutuk Helena.
"Tidak, Syakila kamu jangan pergi ke sana dong! Kamu gak kasian sama kami kah? Siapa lagi yang akan ajak kami bermain dan ke kebun kalau kamu gak ada?" Fitria juga ikut berkomentar.
"Iya Syakila, kamu disini saja yah? Tidak usah ke kota, yah.. yah..?" kini giliran Sartini yang memberi tanggapan.
"Ssttssstt." Syakila menempelkan jari telunjuk pada bibirnya. "Jangan ribut begini di jalan! Malu ih di dengar orang!" ucap Syakila pelan, namun masih di dengar oleh temannya.
Syakila dan temannya kini sedang berada di jalan, mereka baru pulang dari sekolah.
"Iya, rencana begitu. Papaku akan datang menjemput kami dan membawa kami ke sana." Syakila menjawab dengan tersenyum senang. "Seharusnya kalian senang dong, kalau Syakila kembali berkumpul dengan papanya Syakila." Syakila memasang wajah cemberutnya.
"Yah, jangan cemberut dong! Senang sih, tapi kami juga sedih kalau kamu sudah gak di sini lagi, kan teman-teman?" Arianti berkata menyahuti ucapan Syakila. Sekaligus bertanya pendapat temannya tentang ucapannya.
__ADS_1
Sartini, Helena, dan Fitria, mengangguk bersamaan. "Hu um," sambil menatap Syakila dengan tatapan sedihnya.
Syakila terdiam. Ia dapat merasakan apa yang di rasakan temannya sekarang. "Sudah, kita jalan saja. Lagian masih ada dua bulan lagi kok untuk kita bersama." ucap Syakila sambil tersenyum.
"Berarti setelah dua bulan selesai, kamu berangkat di bulan berikutnya?" Helena bertanya memastikan.
"Hu um," ucap Syakila dengan memancarkan senyumnya.
Pulang sekolah berjalan kaki dengan teman-teman, meskipun terik panas matahari tidak akan terasa panas. Syakila dan temannya berpisah karena mereka sudah sampai pada rumahnya masing-masing.
.. ..
Halim dan Denis beserta kepala tukang si Udin dan beberapa buru kapal sedang sibuk memasang papan untuk persiapan cor. Sedangkan para buruh yang lainnya, mereka sedang mengaduk campuran semen, pasir, batu kecil untuk cor nanti.
Setelah papannya siap, dan campurannya juga sudah siap, kini mereka beramai-ramai mengisi papan yang di bentuk tadi dengan campuran semen.
Hingga semuanya selesai pas di sore harinya. Halim menyediakan mereka makanan siap saji dan minuman es buah untuk pelepas dahaga para buruh dan pekerja lainnya.
"Jika dua tiga hari ini cuaca bagus, terik seperti ini, campurannya akan cepat kering dengan bagus. Dan papannya sudah bisa di buka." si Udin kepala tukang berkomentar.
"Iya benar sekali." Halim membenarkan.
Setelah semuanya selesai makan dan menghabiskan minumannya, para buruh berpamitan pulang keada Halim dan Denis.
"Bang, kami pulang dulu. Terima kasih atas hidangannya."
"Aku yang terima kasih Bang, karena Abang Abang sudah membantuku." ucap Halim sambil berjabat tangan dengan mereka.
"Sama-sama, Bang!" sahut para buru dengan kompak. Halim mengeluarkan sejumlah uang untuk di bagikan kepada mereka tetapi mereka menolak dengan halus. Dan itu membuat Halim tidak enak hati.
"Jangan tidak enak hati, Bang. Kita-kita ikhlas membantu. Nanti jika penaikan batako rumah. Jangan lupa panggil kami lagi ya Bang. Dengan senang hati kami akan membantu Abang." ucap salah satu buruh dengan tersenyum ramah.
"Iya Bang, sekali lagi terima kasih." Halim menyahuti. Mereka pun bersalaman hingga akhirnya para buruh pulang kerumahnya masing-masing. Di susul Udin kepala tukang yang pulang. Sehingga tinggal Denis dan Halim.
"Alhamdulillah, semua selesai. Terima kasih Denis. Kamu sudah membantu Abang hari ini. Tiga hari kedepannya kita akan naikkan batako. Jadi kamu harus membantu Abang lagi nanti."
"Gampang Bang, Denis akan membantu Abang sampai rumahnya Abang selesai." Denis menyahuti sambil merangkul pundak Halim.
Halim tersenyum senang. Ia sangat bersyukur mengenal Denis, dan Denis orang yang jujur, terbuka dan baik hati. Dan ia benar-benar menganggap Halim seperti kakaknya sendiri.
Halim dan Denis membersihkan pembungkus pembungkus pembungkus nasi yang berantakan di tempat sampah, juga mengumpulkan gelas dan cerek air untuk di bawa pulang kerumah. Setelah selesai membersihkannya, mereka duduk untuk beristirahat sejenak. Hingga waktu Magrib hampir tiba Halim mengajak Denis untuk pulang.
__ADS_1
"Yuk kita pulang, sebentar lagi masuk Maghrib." ucap Halim sambil berdiri dari duduknya. Lalu ia menyodorkan tangannya kepada Denis yang masih duduk. Denis menyambut tangan Halim dan Halim menariknya pelan hingga Denis berdiri. "Ayo Bang kita pulang!" kini Denis ya g mengajak Halim pulang.
Mereka akhirnya pulang, dan tidak lupa membawa gelas kosong dan cerek air minum.