Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 59


__ADS_3

”Bagaimana kabar mu Halim?” tanya Halima.


”Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja.” sahut Halim.


”Sarmi, sudah lama kita tidak bertemu, kamu semakin cantik. Bagaimana kabarmu?” Hamid bertanya dengan lembut memandang Sarmi.


Hal itu membuat Halim cemburu. Mereka lagi duduk berlima di depan toko kosmetik Halim. Sedangkan pecah belah sudah tutup.


Sarmi duduk di samping suaminya dan Halima duduk bersampingan dengan Mulfa dan Hamid dengan Hamid yang berada di posisi tengah.


"Aku baik-baik saja, Hamid.” jawab Sarmi. ”Kamu sendiri bagaimana kabarmu, selama ini? Sudah berapa anakmu? Mengapa kamu tidak mengajak anak dan istri mu kemari?”


”Kalian berdua saling kenal?” kini Halima bertanya pada Hamid dan Sarmi.


”Iya, kami teman sewaktu SMP dulu.” jawab Sarmi dan Hamid kompak. Mereka kembali saling memandang dan tersenyum. Membuat Halim di rundung cemburu lagi.


”Aku juga baik-baik saja, Sarmi.” lanjut Hamid berucap. ”Istri...aku sudah lama bercerai dengan dia, Sar. Anak itu...bukan anakku dengannya.” ucap Hamid dengan sedih. Ia tersenyum kecut.


”Maaf, aku tidak tahu hal itu. Jadinya, aku sudah mengungkit kisah mu, maaf yah.” sesal Sarmi.


”Tidak apa-apa, Sarmi.” Hamid kembali tersenyum kecut. ”Em, mungkin itu karma untuk ku k__” ucapan Hamid terhenti melihat Sarmi yang menggeleng. Yang artinya Sarmi tidak ingin Hamid melanjutkan ucapannya.


Sarmi dan Hamid terdiam. Sarmi tidak percaya perjalanan cinta Hamid akan berakhir dengan perceraian. Ia memandang Hamid dengan sedih. Ia sedih melihat lelaki yang dulu ia cintai bersedih hati. Hamid membalas memandang Sarmi. Hingga mereka saling tatap.


Aku gak nyangka kamu dikhianati oleh wanita yang di agung agungkan oleh orang tuamu. Kamu di khianati sampai ia mengandung anaknya orang lain, Hamid.


batin Sarmi.


Sar, maaf aku benar-benar menyesal telah melukai mu dulu. Kamu yang seharusnya ku pertahankan. Andai nya...aku mendengar penjelasan mu... kamu dan aku...Sar. Sekarang, kamu sangat bahagia bersama suamimu. Semoga ke depannya aku juga akan menemukan kebahagiaan untuk ku. Maaf untuk yang lalu, Sar.


batin Hamid.


Halim semakin cemburu melihat situasi itu. Halima terbengong melihat tatapan mata Sarmi dan Hamid.


”Ehm.” Halim berdekhem.


Membuat Sarmi dan Hamid saling memutuskan pandangan. Mereka berdua sama-sama melihat ke arah Halim.


”Ehm, maaf Halim.” ucap Hamid tulus. Ia melihat Halima dan Mulfa. ”Kalau kalian ingin membeli barang, carilah. Setelah itu kita pulang. Ini sudah mau malam.” ucap Hamid pada Halima dan Mulfa. Mereka berdua mengangguk.


”Sayang, tolong layani mereka berdua yah.” pinta Halim. Sarmi mengangguk.


Ia berdiri begitu juga Halima dan Mulfa. Sarmi melayani Halima dan Mulfa dengan sopan. Hamid dan Halim masih terduduk di tempatnya.


”Sudah lama kah kamu kembali kesini? Mengapa tidak pernah mengunjungi ku?” tanya Hamid, ia memasang wajah kesal.


”Em, sudah beberapa bulan yang lalu. Maaf, aku hanya tidak ingin bertemu dengan Halima saja, makanya aku tidak menemui mu.” jelas Halim. ”Sekarang mereka berdua kerja di toko mu, Hamid?”


”Iya, mereka kerja di toko ku.” jawab Hamid. ”Kamu tahu dari mana? Halim, sebenarnya aku menyukai Halima. Tapi aku ragu untuk ungkapkan rasaku.” curhat Hamid.


”Aku pernah lewat, dan melihat perempuan bercadar dua di sana. Dan ku perhatikan dari jauh, pakaian itu ku tahu, karena aku yang membelikan pakaian itu untuk mereka. Dan, kalau kamu menyukainya, utarakan saja niatmu padanya, siapa tahu dia juga menyukai mu. Dan tentu saja, dia pasti suka padamu, setiap hari kalian bertemu, apalagi kalian tinggal serumah.” jelas Halim.


Hamid menggeleng. ”Kami tidak tinggal serumah Halim, aku tinggal di rumahku sendiri, dan mereka tinggal di rumahku yang satunya.” terang Hamid.


”Oh, kamu utarakan saja niat baikmu padanya, Hamid. Aku mendukungmu, Halima orang yang baik, dan__” Halim menghentikan ucapannya. Ia melihat ke dalam toko, lalu ia mendekatkan tubuhnya pada Hamid. Hingga bibirnya berada di telinga Hamid. ”Dia masih perawan.” bisik nya.


Hamid langsung memukul pelan Halim. Halim tertawa kecil.


”Kamu tuh yah__” Hamid menghentikan ucapannya ketika mendengar langkah kaki mendekat ke arah mereka. Ia menoleh. ”Kalian sudah selesai?” tanyanya pada Halima dan Mulfa. Mereka mengangguk.


Sarmi kembali duduk di samping suaminya. Sedangkan Hamid, ia langsung berdiri dari duduknya. Ia berpamitan pada Halim dan Sarmi.


”Sar, Halim. Aku pamit dulu.”


”Iya hati-hati di jalan!” sahut Sarmi dan Halim bersamaan. ”Hamid, jangan lupa ucapan ku. Aku mendukungmu!” lanjut Halim berkata sambil mengedipkan mata dan tersenyum. Hamid hanya mengangguk pasrah. Mereka pun pergi.


Halim langsung melingkarkan tangannya ke leher Sarmi. ”Mama, Papa tahu Mama capek saat menyimpan barang di toko sebelah. Tapi, bisakah Mama membantu Papa menyimpan disini?”

__ADS_1


”Iya.”


Sarmi pun membantu Halim menyimpan tokonya. Setelah selesai menyimpan mereka pulang kerumah. Halim langsung pergi mandi, sedangkan Sarmi, ia duduk sejenak di kursi. Setelah hilang capeknya, ia pergi memasak untuk makan malam di dapur.


Usai masak, ia memanggil semua anggota keluarga untuk makan, termasuk Denis. Denis lebih betah tinggal di rumah Halim ketimbang rumah Anton.


Setelah selesai makan. Fatma dan Syakila mengerjakan pr, mereka di bantu oleh Denis. Halim, ia berbaring di kamarnya. Sedangkan Sarmi, ia sedang menidurkan Endang di kamar Syakila.


Setelah Endang tertidur. Sarmi pergi ke kamarnya. Ia mengira Halim telah tidur, rupanya tidak. Saat ia mendengar suara pintu terbuka, ia langsung duduk bersandar di sandaran ranjang.


”Sayang, Mama kira Papa sudah tidur.” Sarmi berjalan mendekati ranjang. Ia duduk di bibir ranjang di hadapan Halim.


”Belum sayang, Papa lagi menunggu Mama.”


Sarmi mengkerut. ”Menungguku? Ada apa, Pa?” tanyanya penasaran.


”Mama, Mama sadar gak? Tadi itu, Papa cemburu melihat Mama dan Hamid berbicara. Apalagi, kalian saling pandang. Jika saja Papa tidak berdekhem, Mama dan Hamid akan terus saling memandang.” curhat Halim. ”Apa yang Mama rasakan saat bertemu dengan Hamid? Dan tatapan tadi apa artinya, Mah?”


Sarmi tersenyum. ”Maaf Pa, Mama tidak sengaja membuat Papa cemburu. Perasaan Mama biasa-biasa saja, Pa. Mama hanya tidak menyangka saja bisa bertemu lagi dengan dia. Mama, tadi menatapnya karena, Mama sedih mendengar kisah cintanya, Pa. Mantan istrinya itu adalah wanita yang sangat di puja-puji sama orang tuanya Hamid. Mama hanya merasa iba saja, Pa. Tidak ada perasaan apapun untuk Hamid, Pa.” terang Sarmi.


”Oh, Papa kira Mama masih menyimpan rasa untuk Hamid. Maaf Mah, Papa sudah salah duga kepada Mama.”


”Tidak apa-apa, Pa. Mama sudah maafin.” jawab Sarmi. ”Papa, tadi Mama juga cemburu dan kecewa sama Papa, karena Papa membiarkan Halima memeluk tubuh Papa. Sedangkan Papa pernah berjanji untuk menjaga hati dan perasaan Mama, dan Papa juga bilang akan menjaga hati, dan tubuh Papa untuk Mama. Tapi, apa yang Mama lihat tadi? Mama sungguh kecewa.” Sarmi memasang wajah cemberut.


”Papa minta maaf Mah untuk itu. Papa sendiri terkejut tadi dengan sikap Halima yang tiba-tiba, lebih terkejut lagi dia memeluk Papa pas datangnya Mama dan anak-anak. Papa terpaku terdiam tadi, Papa takut Mama akan salah paham pada Papa, begitu juga dengan anak-anak.” ucap Halim menjelaskan. ”Papa ucapkan terima kasih sudah membantu Papa menenangkan anak-anak tadi.”


”Hum, bilang saja kalau Papa menikmatinya.” wajahnya semakin cemberut, dan ia menunduk.


Halim tertawa kecil. Ia meraih tubuh sang istri yang cemberut itu. ”Bahkan tubuhku tidak bereaksi apa-apa terhadapnya, Mah. Pelukannya tadi terasa hampa. Beda sekali jika berada di dekat Mama. Hatiku bergetar, jantungku berdetak semakin kencang, dan tubuhku...ehm_”


Sarmi tidak tahan dengan ucapan Halim yang sensual di telinganya. Ia pun menciumnya. Naluri Halim sebagai seorang lelaki bereaksi begitu saja. Ia membalas mencium bibir Sarmi, dan ciuman itu semakin menuntut dan meminta untuk saling memuaskan.


.. ..


Hamid, Halima, dan Mulfa baru selesai memakan makan malamnya. Mulfa langsung pergi ke kamar setelah membersihkan dapur. Sedangkan Hamid, ia belum berniat pulang dari rumah Halima.


”Kamu belum mau pulang, Hamid? Lihatlah, ini sudah jam berapa. Aku ingin istrahat, besok aku harus turun lebih awal.”


”Malam ini, aku tidak ingin pulang. Aku menginap di sini.” Hamid memandang Halima serius. ”Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu.”


”Apa?”


”Halima, mungkin aku bukan pria idaman mu. Aku juga bukan manusia sempurna, tapi aku harus menyampaikan perasaan ku padamu. Biar hatiku tenang, Halima, jujur aku jatuh cinta padamu.” Hamid menatap lekat wajah Halima. ”Maukah kamu menerima cinta ku ini, Halima?”


Halima memandang Hamid.


Apa yang harus ku jawab? Memang ada sebuah rasa yang berbeda terhadap dia. Tapi, aku tidak yakin jika rasa itu cinta. Tapi, aku tidak tega jika ia bersedih karena aku menolak cintanya. Selain Halim, Hamid juga banyak membantuku.


”Halima, jawab pertanyaan ku! Aku ingin Jawaban mu, bukan pandangan mu!” tegas Hamid.


”Hamid, kamu tahu kan aku...aku mantan wanita penghibur yang sudah tidur dengan banyak pria. Ak__”


”Aku tidak ingin mendengar penjelasan tentang siapa dirimu. Aku hanya ingin jawaban mu.” sela Hamid. ”Iya atau tidak?”


”Nanti kamu akan menyesal Hamid?”


Hamid menggeleng.


”Aku wanita kotor!”


Hamid kembali menggeleng, ”Bagiku tidak!”


”Kamu__”


”Jawab saja ya atau tidak.” pangkas Hamid.


”Iya!”

__ADS_1


”Iya apa Halima?”


”Iya, aku mau jadi pacar mu.” jelas Halima.


Hamid tersenyum. ”Terima kasih, Halima. Aku sangat bahagia malam ini.” tutur Hamid.


”Aku tahu kamu bahagia, tapi ini sudah larut malam, Hamid. Esok kita harus ke pasar untuk beraktivitas.”


”Baiklah, mari kita tidur.” ajak Hamid.


”Kita tidur?” Halima kembali mengucapkan kalimat Hamid dengan bingung.


”Em, maksudku...kita istrahat di kamar masing-masing. Jangan salah mengartikan ucapan ku.” terang Hamid.


"Oh, iya kita beristirahat sekarang.” Halima langsung pergi ke kamar menyusul Mulfa yang sudah tidur terlelap. Hamid pun pergi ke kamarnya untuk istirahat juga.


.. ..


Beberapa Minggu kemudian, Hamid mengajak Halima untuk bertunangan. Kali ini, orang tua Hamid setuju dengan keputusan anaknya itu. Pertunangan mereka berjalan dengan lancar.


Dan tentunya, pertunangan mereka di hadiri juga oleh Denis, dan keluarga Halim. Sarmi dan Halima menjadi dekat. Begitu juga dengan anak-anak Halim mereka juga dekat dengan Halima. Bahkan kadang mereka berjalan-jalan dengan Hamid dan Halima.


Kebahagiaan meliputi diri Halima. Ia sangat bahagia dan bersyukur karena ia bisa bertemu dengan Halim, Sarmi, dan Hamid. Kehidupannya yang kelam telah berlalu. Hamid dan Halim sedang berada di pelabuhan. Mereka bermain futsal di sana bersama warga lain.


”Halim, aku dengar kabar besok tuan Albert akan datang ke kota ini. Mereka akan tinggal disini untuk beberapa tahun kedepan.” ucap Hamid.


”Oh, yah. Baguslah, aku akan menemuinya di rumahnya besok. Aku akan mengembalikan uang itu padanya.” tukas Halim.


”Aku temani?” tawar Hamid.


”Tidak usah, besok kamu ada janji dengan Syakila dan Fatma untuk ajak mereka jalan-jalan, kan? Perlu kamu ketahui, anak-anak ku sangat tidak suka jika janji di ingkar.” jelas Halim.


”Yah, baiklah. Jadi, kamu akan pergi sendiri ke sana. Oh yah, apa Sarmi sudah tahu perihal ini?” Hamid bertanya penasaran.


”Tidak, aku tidak menceritakan semua hal padanya. Biarlah ia tidak usah tahu hal ini. Yang tahu hal ini, hanyalah aku dan kamu saja.” terang Halim.


Hamid mengangguk. ”Kamu tidak pulang? Ini sudah jam habis Isya, loh.”


”Tentu saja aku akan pulang, aku sangat merindukan istri ku.” tukas Halim. ”Ayo kita pulang sekarang!”


”Hum, ayok!”


Mereka pun pulang, Hamid mengantar Halim ke rumahnya. Baru, ia pun pulang kerumah. Halim masuk ke rumah, ia langsung menemui sang istri.


Halim langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang, hingga mengejutkan Sarmi yang sedang mengganti sprei ranjang. Sarmi mencium bau tubuh suaminya. Hingga ia masih tetap pada posisi di peluk. Ia menegakkan badannya yang membungkuk dan ia memegang tangan Halim yang melingkar dari belakang. Dan ia membalikan badannya menghadap Halim.


”Papa, Mama heran dengan Papa. P__”


”Apa yang Mama heran kan? Papa bersikap biasa saja, Papa hanya menunjukan cinta Papa pada Mama. Apa itu salah?” pangkas Halim.


”Tidak salah kalau Papa menunjukan cinta Papa dan Mama. Tapi, benar loh Pa, Mama heran dengan sikap Papa selama seminggu ini. Papa tiba-tiba menjadi sangat manja, sangat lengket, dan banyak maunya.” tukas Sarmi.


”Em, Papa pengen aja ingin manja-manjaan sama Mama. Apa tidak boleh? Hum?” Halim mencubit pelan hidung Sarmi dan menatap lekat padanya.


”Bolehlah, Pa. Aku kan istrimu, tempat mu bermanja, seperti Papa tempatku bermanja juga.” balas Sarmi dengan mencubit pelan hidung sang suami.


Halim memeluk tubuh Sarmi dengan erat. Sarmi menepuk-nepuk pelan pundak sang suami. Perasaan Sarmi sangat aneh. Ini pertama kalinya Halim bertingkah seperti anak-anak padanya.


Dan biar sesibuk apapun, Halim selalu menyempatkan waktu untuk bersama Sarmi. Bahkan akhir-akhir ini, Halim selalu memanjakan anak-anaknya.


”Papa, Papa mandi sekarang yah. Setelah itu kita makan malam.” ucap Sarmi sambil melepas pelan pelukan Halim.


”Papa mau mandi, jika Mama yang mau mandiin Papa.” sahut Halim dengan manja.


”Baiklah, ayok!” ajak Sarmi.


Ia pun memandikan Halim, bahkan untuk memakai pakaian pun, ia meminta Sarmi yang memakainya. Saat makan, ia tidak ingin makan padahal ia juga ikut di meja makan. Dan ia menyuapi anaknya satu persatu secara bergantian hingga makanan mereka habis.

__ADS_1


Tidak selesai disitu, setelah anak-anak usai makan, ia bercakap-cakap dulu dengan anaknya lalu, ia menyuruh mereka untuk istrahat. Setelah semua beristirahat di dalam kamarnya masing-masing. Barulah Halim meminta makan pada Sarmi, ia menunggu waktu untuk Sarmi menyuapinya makan. Sarmi menuruti setiap keinginan suaminya dengan tersenyum.


__ADS_2