Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps6


__ADS_3

Di rumah Halim.


Halim tiba di rumahnya. Rumah Halim hanyalah rumah panggung biasa. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.


Halim mempersiapkan semua keperluannya untuk berangkat besok. Setelah selesai mengemas pakaiannya, ia beristirahat sejenak sambil menunggu kepulangan Syakila dan Fatma dari sekolah.


Di perjalanan pulang sekolah.


”Syakila, PR kemarin aku dapat nila 💯 dari ibu guru, loh! Ini, coba lihat, Syakila!” ucap Sartini.


Ia mengambil buku tugas dari dalam tas dan menunjukan buku PR nya kepada Syakila. Syakila melihat buku pr tersebut, teman-teman yang lain ikut melihat ke buku Sartini.


”Alhamdulillah! Belajar lebih rajin lagi ya Sar, biar dapat nilai 💯 lagi nanti” Syakila memuji dan menyemangati Sartini.


”Iya, Syakila! Terima kasih, ini berkat mu juga yang mengajariku kemarin.” sahut Sartini.


”Aku tidak mengajarimu, Sar. Aku bukan guru. Kebetulan saja Sar, aku mengerti sedikit tentang tugasmu kemarin. Kalau seandainya aku tidak mengerti, belum tentu aku akan menjelaskan nya padamu.” ucap Syakila merendah.


”Oh iya, Syakila, hari ini kita ke kebun lagi, ya.” ucap Fitria.


Sekarang mereka sedang berada di jalan untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Mereka baru pulang dari sekolah.


”Boleh! Tapi ingat, kalian harus izin terlebih dahulu sama ibu dan bapak kalian, jika ingin pergi lagi ke kebun ku.” ucap Syakila menasihati.


”Iya, tentu saja, Syakila!” sahut semua temannya dengan kompak.


”Hore...aku sudah tidak sabar untuk mandi-mandi di sungai lagi, seperti kemarin!” lanjut Fitria berucap.


”Eh, tapi nanti ada yang takut untuk loncat dari bebatuan besar, loh!” ucap Sartini meledek sambil melirik Arianti.


Helena, Fitria, dan Syakila juga melirik Arianti. Arianti menyadari itu.


”Aku? Aku..tidak takut, kok!” ucap Arianti membela diri.


”Iya, iya. Arianti tidak takut. Ia pemberani.” sahut mereka mengalah.


Mereka berjalan sambil bercanda gurau hingga tidak terasa kini mereka sudah sampai pada halaman rumah Arianti dan Fitria.


”Aku duluan, yah. Da..dah...” ucap Arianti dan Fitria kompak.


Syakila, Helena, dan Sartini mengangguk. Lalu mereka melanjutkan jalannya. Kini giliran Sartini yang sampai di rumahnya, setelahnya Helena, barulah Syakila yang tiba di rumahnya.


Syakila kini sedang berdiri di depan pintu rumahnya dengan bingung.


”Kenapa pintunya tidak bisa terbuka? Apa ada orang di dalam? Tapi, di luar tidak ada sendal seorang pun.” gumamnya pelan.


Ia mencoba untuk membuka pintu rumah, tetapi tidak bisa, pintunya seperti terkunci dari dalam. Tapi yang membuat Syakila bertambah bingung, di depan rumah tidak ada sendal yang menandakan jika di dalam rumah ada orang. Halim memang tidak menyimpan sendal di luar, tapi, ia membawa masuk sendalnya ke dalam rumah untuk di cuci bersih untuk dia kenakan besok.


Syakila mencoba untuk mengetuk pintu. Baru ia mengangkat tangannya untuk mengetuk sudah tertahan oleh suara Fatma, kakaknya yang memanggilnya.


”Asya, dimana bapak?” tanyanya.


”Bapak?” Syakila mengulang ucapan Fatma dengan bingung.


”Iya, bapak!” katanya bibi, ”Bapak ada di rumah, bapak sedang menunggu kita berdua pulang sekolah.” jelas Fatma.


Syakila memukul jidatnya. ”Hum, pantas saja! Asya mencoba buka pintu dari tadi tidak bisa. Ternyata bapak ada di dalam, mungkin bapak lagi tidur. Asya coba ketuk pintu dulu.” ucapnya.

__ADS_1


Fatma mengangguk.


Tok tok tok, ”Bapak! Ini Asya dan Kak Fatma pulang! Pa, bapak...!”


Syakila mengetuk pintu sambil memanggil bapaknya. Namun, belum terdengar ada sahutan dari dalam.


Tok tok tok, ”Assalamu 'alaikum... Bapak...ini Asya...” Syakila mengetuk kembali pintu rumah.


Krak! Pintu rumah yang terbuat dari kayu itu terbuka dari dalam.


”Bapak, Asya rindu sama Bapak!” Syakila langsung memeluk tubuh Halim, bapaknya yang masih berdiri dibibir pintu. Halim membalas memeluk putri keduanya itu dengan tersenyum senang.


”Papa juga rindu sama Asya!” ucapnya. Ia melihat anak pertamanya yang hanya berdiri di luar, ”Fatma. Fatma tidak rindukan Bapak?” tanyanya.


”Fatma rindu, tapi Fatma biasa-biasa saja.” sahut Fatma.


Fatma memang selalu acuh dengan bapaknya. Dan Fatma sendirilah yang meminta untuk tinggal bersama bibinya, daripada tinggal dengan orang tua kandungnya di rumah. Halim geleng-geleng kepala dengan sikap Fatma.


”Ayok masuk! Ada yang ingin Bapak bicarakan sama kalian berdua.” ajak Halim.


Fatma dan Syakila segera masuk ke dalam rumah. Fatma langsung duduk di lantai, sedangkan Syakila, ia mengganti baju sekolahnya dulu baru ia ikut bergabung di depan bersama bapak dan kakaknya.


”Bapak mau bicara apa?” tanya Fatma dengan datar.


”Bapak ingin bilang dan berpamitan kepada kalian berdua. Besok, Bapak akan berangkat ke kota A. Jadi, pagi-pagi sekali Bapak akan berangkat.” ucap Halim.


Ia memandang Fatma dan Syakila bergantian.


”Papa mau ke kota A? Lama Pa?” tanya Syakila.


Halim mengangguk.


”Kalau Bapak mau berangkat, berangkat saja! Bapak carikan kita uang yang banyak, biar kita bisa beli ini dan beli itu dengan mudah.” sahut Fatma dengan wajah datar.


Halim geleng-geleng kepala dengan sikap anak pertamanya itu. Ia memandang Fatma.


Anak ini menuruti sifat siapa sebenarnya? Sikapnya sangat dingin. Apa dia mengikuti sifat kakeknya? Iyah, mungkin saja benar, karena kakeknya juga sikapnya dingin seperti anakku ini.


”Berapa lama Bapak di sana?” tanya Syakila. Ia berharap agar bapaknya pergi tidak akan lama.


”Bapak di sana selama enam bulan. Setelah itu, Bapak akan datang untuk menjemput kalian semua supaya kita dapat berkumpul dan tinggal bersama di sana.”


”Enam bulan, Pa?” Syakila terkejut, ”Lama sekali!” ucapnya lagi dengan sedih.


Halim menggeleng, ”Tidak lama, sayang!” ucapnya memenangkan Syakila. Sedangkan Fatma, ia tidak berkomentar banyak perihal keberangkatan papanya.


”Hanya itu yang ingin Bapak bicarakan?” tanya Fatma acuh.


”Iya, hanya itu saja yang ingin Bapak bicarakan. Kenapa?” Halim memandang Fatma.


”Kalau begitu, Fatma pulang dulu ke rumahnya bibi, sekarang!” jawab Fatma.


Tanpa menunggu jawaban dari bapaknya, Fatma langsung mengambil tangan bapaknya dan mencium punggung telapak tangannya baru ia pergi.


”Assalamu 'alaikum.” pamitnya.


Fatma pergi tanpa berpamitan lagi pada adiknya, Syakila. Padahal ia berada di sana.

__ADS_1


”Wa 'alaikum salam.” sahut Syakila dan Halim bersama-sama.


Halim memandang punggung anak pertamanya dengan geleng-geleng kepala akan sifat dan sikap acuh anaknya itu.


Syakila menyadari jika bapaknya kurang senang dengan sikap kakaknya, karena semenjak kakaknya keluar, bapaknya masih saja menatap ke arah pintu rumah. Syakila memegang pundak bapaknya untuk menenangkan perasaannya.


”Bapak, maafkan sikap kakak yang seperti itu, seharusnya Bapak sudah tahu kan bagaimana sikapnya kakak selama ini sebelum ia memilih tinggal bersama bibi Mila?” ucap Syakila dengan tersenyum.


Halim mengangguk. Ia membelai kepala anak keduanya itu.


”Iya, sayang! Bapak sudah tahu sifat kakakmu itu. Kamu minta oleh-oleh apa nanti jika Bapak kembali dari kota A?”


Syakila menggeleng. ”Asya cuma minta Bapak berangkat dan kembali kesini dengan sehat dan selamat, itu saja keinginan Asya, Pa.” jawabnya tulus.


Ya Allah.. sifat anakku ini, memang luar biasa. Dia sangat dewasa di banding kakaknya. Ia bisa memahami perasaan seseorang.


Halim tersenyum haru memandang anak keduanya itu. ”Baik, sayang! Papa akan kembali dengan sehat seperti doamu itu!”


”Assalamu 'alaikum... Syakila...kami datang..” seru temannya Syakila bersamaan dari luar.


Halim bingung memandang anaknya, saat mendengar mereka memanggil nama putrinya.


”Itu teman-temannya Asya, mereka ingin ikut Asya ke kebun lagi hari ini.” ucap Syakila menjawab tatapan bingung bapaknya.


”Oh,” singkat Halim menjawab.


Syakila berdiri menuju pintu rumah, ”Iya, tunggu Syakila di situ yah!”


Syakila menyahut temannya dari bibir pintu rumahnya. Teman-temannya mengangguk semua.


”Bapak masih ingin di rumah? Syakila mau pamit untuk pergi ke kebun.” ucap Syakila.


”Kita akan berangkat sama-sama ke kebun.” sahut Halim.


Syakila senang mendengarnya. Syakila turun duluan menghampiri teman-temannya.


”Kita tunggu bapakku sebentar yah, baru kita jalan bersama-sama ke kebun dengan bapak ku.” ucap Syakila kepada teman-temannya.


”Oh, ada bapak mu disini?” tanya Fitria.


Syakila mengangguk, ”Iya,”


Tidak lama kemudian, Halim, bapaknya Syakila keluar dari rumah. Ia menutup pintu dan menguncinya. Baru ia menuruni anak tangga sampai kebawah.


”Maaf yah kalian sudah menunggu Om, apa Om lama?” ucap Halim bertanya.


”Tidak, Om...” jawab mereka serentak.


”Kalau begitu, ayok kita berangkat sekarang!” ajak Halim kepada mereka. ”Kalian mau lewat dimana? Jalur sungai atau lewat kuburan umum?”


”Lewat kuburan saja Om, kami nanti pulangnya baru lewat sungai, sekalian mandi-mandi, Om!” jawab mereka kompak.


"Baiklah kalau begitu! Ayok jalan!"


Halim kembali mengajak mereka. Mereka berjalan bersama mengikuti langkah kaki Halim, bapaknya Syakila.


Karena bapaknya Syakila orang yang baik dan ramah, mereka tidak sungkan-sungkan mewarnai perjalanan mereka dengan bercanda tawa dan bergurau. Bahkan Halim sendiri memulai ikut bercanda dengan mereka. Hingga gelak tawa sering terdengar di tengah-tengah hutan itu.

__ADS_1


__ADS_2