
Di kota pusat.
”Bagaimana adikku? Apa kamu bertemu dengannya di sana? Bagaimana keadaannya?” tanya Antonio.
Ia sedang duduk sambil memegang gelas wine di tangannya. Ia nampak sedang berbicara dengan adiknya, Marlina. Hingar bingar suara musik yang keras menggema di seluruh ruangan dan di telinga mereka, menandakan mereka sedang berada di salah satu Club di kota besar tersebut.
”Maaf sekali kakak, aku ke sana sia-sia saja. Aku tidak bertemu dengannya.” sahut Marlina.
Ia meminum sisa wine nya dalam satu kali teguk.
Maafkan aku kak, aku berbohong padamu. Kondisi Geo saat ini sangat lemah dan terpuruk. Jika aku beritahu keadaannya yang sebenarnya padamu, kamu akan menyerangnya kan? Dan karena itu, aku tidak akan membiarkan mu menyakiti dia.
”Apakah benar seperti itu, adik? Kamu tidak sedang membohongi ku, kan?” tanya Antonio lagi penuh curiga, matanya memicing melihat Marlina.
Marlina tersenyum, ”Hemp. Kakak, bukan kah kakak sangat tahu Geovani orang yang seperti apa? Dia ada di kota S sekarang. Aku hanya bertemu dengan Beni di kota A. Jika kakak tidak menarik ku untuk kembali kesini dengan cepat, mungkin aku akan tahu keberadaan dia di kota S sana. Karena Beni akan berkunjung kesana malam ini, dan aku berencana untuk mengikutinya.” jelas Marlina berbohong.
”Lalu, mengapa kamu kembali kesini? Tidak bisakah kamu melawan ku sedikit, dan mengikuti Beni ke kota S?”
”Bagaimana lagi kak? Aku memang harus mengikuti ucapan kakak ku, jika aku tidak menuruti kakak, mama akan sangat marah padaku di alam surga sana. Karena aku tidak menjadi adik yang baik dan penurut untuk mu.” sahut Marlina dengan santai.
”Baiklah, aku terima alasan mu. Selama kamu berada di dekat Beni, apakah tidak ada informasi sedikit pun tentang adik kita tercinta itu?”
Marlina mengedikan kedua bahunya, ” Tidak ada informasi yang menarik, selain dia kecewa dengan kekasihnya. Tapi, sepertinya dia masih mencintai Dawiyah.”
”Kamu yakin, adik? Kamu yakin, Geovani masih mencintai Dawiyah?”
”Em, sepertinya begitu, kak. Aku pernah masuk ke kamar Geovani mengikuti Beni, dan aku melihat Beni menekan kata sandi kamarnya Geo menggunakan singkatan nama dari Geo dan Dawiyah. Seandainya dia tidak mencintainya, tidak mungkin kan kata sandi kamarnya masih menggunakan nama Dawiyah?” ungkap Marlina.
Maaf kakak aku sedikit berbohong. Bukan Beni yang aku ikuti tapi, Syakila, istri Geovani sendiri.
”Hum, masuk akal juga. Heh, tidak menyangka dia masih mencintai Dawiyah. Ngomong-ngomong, mengapa Dawiyah lama bangat datangnya? Kita sudah menunggunya setengah jam yang lalu.”
”Kakak sendiri bagaimana? Apakah kakak benar-benar mencintai Dawiyah?” tanya Marlina selidik.
Antonio tersenyum sinis, ”Sejak kapan aku serius mencintai seorang wanita? Para wanita yang mengejar ku, mengapa aku harus abaikan mereka? Bermain sedikit kan tidak masalah!” jawab Antonio sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum kecil.
Marlina menghela nafas, ”Kakak, kakak sudah dewasa, seharusnya kakak sudah berkomitmen untuk menjalin hubungan yang serius dengan seorang wanita.”
”Hemp, kamu mencoba mengajari kakak? Hum? Kamu sendiri bagaimana? Apakah kamu sudah punya seseorang untuk di ajak berkomitmen? Kakak menunggu kamu menikah dulu, baru kakak akan serius dengan seorang wanita.”
”Kakak, bukan kah kakak tahu aku sangat mencintai Geovani? Aku hanya ingin mau menikah dengannya.” tukas Marlina.
”Kakak sarankan kamu cari lelaki lain saja. Sudah berapa kali kakak kasih kamu kesempatan untuk bisa mendapatkan cinta dan perhatian Geovani? Tapi, sekalipun kamu tidak pernah berhasil. Jika kamu berhasil menikah dengannya, untuk membunuhnya aku masih berfikir panjang.”
”Kakak, berhentilah untuk menghancurkan Geovani! Dia tidak pernah menganggap kakak musuhnya! Tapi, kenapa kakak sangat menganggap Geovani musuh kakak?” ucap Marlina dengan marah.
”Tentunya kamu sangat tahu kan perseturuan di antara orang tua kita dan Albert? Kalau bukan karena Albert, papa kita tidak akan jatuh bangkrut dan mama kita tidak akan menikah dengan Albert.” senyum kecut terukir tipis di bibir Antonio tatapannya tajam dan marah.
Marlina menatap marah Antonio, ”Tapi kamu sudah berhasil membunuh Albert, apa itu belum membuat mu puas, kak?”
”Sama sekali tidak membuat ku puas! Sebelum anaknya menderita dan bangkrut, bila perlu Geovani juga mati di tangan ku. Dia selalu di puji oleh Albert, sedangkan aku, Beni, dan kamu, kita selalu dikucilkan olehnya. Aku akan menghalangi semua jalan menuju kesuksesan seorang Geovani Albert!”
”Kakak!” Marlina menatap tajam pada Antonio.
”Karena mu, kakak tidak akan membunuh Geovani. Kakak hanya ingin dia merasakan bagaimana rasanya dikucilkan, di remehkan sama semua orang? Dan dia merasakan sedikit penderitaan kita.”
”Dendam kakak sudah berlebihan sekali, aku yakin, mama pasti tidak akan setuju dengan perbuatan kakak ini.” ucap Marlina ketus.
”Sudah lah, jangan mengungkit tentang ibu. Ibu sudah tenang di alam sana.” sahut Antonio lembut.
Ia mengusap kepala Marlina. Sesosok wanita cantik, berpakaian seksi yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, datang menghampiri kedua adik kakak itu.
”Wah, wah, suasana hangat yang tercipta antara adik dan kakak ini sungguh romantis!” ucap wanita itu.
Ia duduk di samping Antonio. Ia mendaratkan ciumannya pada pipi Antonio. Marlina melihat dengan enggan wanita tersebut. Ia begitu cemburu, karena wanita itu masih bersemayam di hati Geovani.
”Dawiyah, kenapa kamu baru datang?” tanya Antonio.
__ADS_1
Ia merangkul pundak dawiyah dan merapatkannya pada tubuhnya.
”Maaf sayang, aku ada pemotretan tadi. Ini baru selesai, jadi aku langsung kesini.” jelas Dawiyah. Ia melihat Marlina. ”Marlina, kapan kamu datang? Bagaimana kabar Geovani sekarang? Apa penyakitnya kambuh dan semakin parah?”
Marlina mengacuhkan pertanyaan Dawiyah, ia melirik kakaknya, Antonio.
”Kamu begitu peduli padanya, Dawiyah? Kamu menyesal sudah berpisah dengannya? Hum?” tanya Antonio lembut.
Tangannya mengelus lembut bibir Dawiyah.
Dawiyah tertawa kecil, ”Hemp, aku tidak peduli padanya. Bagaimana bisa aku menyesal? Sedangkan orang yang kusukai itu adalah kamu, jika bukan kamu yang menyuruhku untuk mendekati dan membuat dia jatuh hati padaku. Aku gak akan mendekati dia. Aku bertanya karena hanya ingin tahu saja, apa rencana kita berhasil membuat dia terpuruk atau tidak?” jelas Dawiyah.
”Sepertinya dia baik-baik saja, dan dia sekarang lagi berbahagia dia kota S. Kamu pergilah ke kota S dan temukan dia, sepertinya dia sangat mencintai mu.” sahut Marlina dengan ketus.
”Oh, benarkah begitu? Bukankah, kamu bilang padaku kelemahan dia terletak di wanita, Antonio? Seharusnya rencana kita berhasil kan? Dia orang yang sangat sombong dan angkuh sekali, tanpa memandang dan mengetahui namaku dia langsung saja memecat ku di hari pertama aku masuk kerja di perusahaannya, hanya karena tidak sengaja menabraknya. Bukan hanya itu, dia juga menyulitkan ku untuk mendapatkan pekerjaan di manapun. Akan sangat seru sekali jika melihat pria angkuh itu terpuruk.” ucap Dawiyah dengan datar.
Antonio tersenyum kecil,” Tapi, bukankah kamu sudah merasakan bagaimana di manja sama dia kan, sayang? Hum? Aku melihat mu, kamu sedikit tertarik dengan dia.”
Bagaimana dia bisa tahu, kalau kau sedikit tertarik dengan dia? Sebenarnya, bukan sedikit. Hanya wanita bodoh yang tidak menginginkan pria tampan, berkharisma, terkenal seperti dia.
”Hehehe, kamu berbicara seperti itu, apakah kamu melupakan alasan mengapa aku bersama dia?” sahut Dawiyah.
Antonio tertawa, ”Sudahlah, jika rencana pertama gagal, masih ada rencana kedua, ketiga, dan seterusnya, kan? Sekarang saatnya kita untuk bersenang-senang, ayo kita pergi ke lantai dansa.” ajak Antonio.
”Dengan senang hati, sayang.” sambut Dawiyah dengan tersenyum senang.
Dawiyah dan Antonio kini sedang berada di lantai dansa. Mereka berjoget, menggoyangkan badan, mengikuti irama disco yang di putar oleh salah satu dj di Club tersebut. Sedangkan Marlina, ia melihat mereka dengan malas. Ia kembali menuang wine untuk di minumnya.
Geo, aku akan kembali besok lusa kesana. Aku akan membuat mu menjadi milikku. Dan menyingkirkan Syakila dari sisimu.
.. ..
Di kota A.
Setelah Geo, Beni, dan Rosalina makan malam, Geo kembali ke kamar. Ia sedang memandangi langit malam dari balik dinding kaca besar di kamarnya itu.
Rosalina juga pergi ke kamarnya untuk istrahat. Ia sangat capek sekali mengurusi anak perusahaan mendiang suaminya di kota tersebut. Rosalina tertidur lelap.
Syakila, ia sedang berada di teras rumah sambil memandangi langit malam. Tangannya memegang kalung yang bertengger di lehernya.
Kak Sardin, malam ini aku merindukan mu. Apakah kakak juga merindukan aku? Bagaimana kabar mu, kak? Kapan kakak akan datang ke kota ini?
”Apa yang sedang dia lakukan di sana? Aku akan menelfon nya.”
Trrtrtrrt
”Eh, siapa yang menelfon ku?"
Syakila meraih hape dari saku celana. Ia melihat ke layar tertulis Mama ia calling..
”Mama? Tumben mama menelfon ku. Aku sudah lama ingin menelfon mama tapi, mengingat mama melarang ku untuk menghubungi nya. Aku tidak pernah lagi menghubungi nya setelah terakhir kali aku telfon saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Tetapi, sekarang malah mama yang menelfon ku.”
Syakila mengangkat telfon tersebut. Geo membiarkan Syakila berbicara dengan mamanya tanpa ingin mencuri dengar pembicaraan antara ibu dan anak itu. Yah, di saat handphone Syakila berbunyi, alarm di handphone Geo juga berbunyi. Geo melihat mama Syakila yang sedang menelfon Syakila. Jadi, ia menaruh kembali handphone ke ranjang. Dan ia kembali melihat langit malam.
”Halo Mama, assalamu 'alaikum.” ucap Syakila menyapa mamanya.
”Wa 'alaikum salam, Nak. Bagaimana kabar mu, Nak? Mengapa kamu tidak pernah menelepon Mama mu lagi? Apa kamu tidak merindukan Mama mu? Hum?” Sarmi mencerca Syakila dengan berbagai pertanyaan.
Syakila tersenyum, ”Mama, Mama bicara apa? Syakila sangat merindukan Mama. Syakila ingin menelfon Mama, tapi Syakila tidak mau langgar larangan Mama.” sahut Syakila lembut.
”Dasar anak bodoh! Mama cuma melarang mu untuk menelepon jika kamu hanya bertanya tentang Sardin. Mama tidak pernah melarang mu untuk menghubungi Mama. Kamu tidak menyayangi Mama seperti kamu menyayangi papa mu kan, Syakila?”
Syakila memejamkan mata. Ia menghela nafas.
Ya Allah Mama, mengapa Mama berpikiran seperti itu? Syakila menyayangi Mama sama Papa itu sama besarnya.
”Mama, jangan banyak berfikir. Syakila menyayangi Mama sama seperti papa. Mama, Syakila bermimpi tentang papa lagi. Syakila ingin mengunjungi kuburan papa besok setelah Syakila pulang dari mendaftar pekerjaan.”
__ADS_1
”Kamu masih ingat dengan kuburan papamu, Syakila? Sudah lama kamu tinggalkan kota A. Apa kamu akan pergi sendirian? Mama takut kamu akan kesasar, sayang!” sahut Sarmi. Ia merasa khawatir.
”Mama, Mama tidak usah khawatir, Syakila akan pergi dengan Dian, anaknya Om Anton besok.”
”Oh, iya, tidak apa-apa, yang penting hati-hati. Oh iya, Nak, bagaimana hubungan mu dengan Geo? Apa dia berlaku baik padamu? Gimana juga dengan ibu mertuamu?”
”Mama, mereka semua baik padaku, Mama tidak usah khawatir. Rosalina menyayangi ku seperti rasa sayangnya Mama, padaku. Geo juga tidak pernah menyakiti ku, ia menghormati ku, Mah. Jadi, Mama jangan khawatir tentang keadaan Syakila disini. Syakila baik-baik saja, Mah.”
Sarmi tersenyum, ”Alhamdulillah, Mama senang mendengarnya. Baiklah kalau begitu, Mama sudahi telfonnya, yah.”
"Mama tunggu!” cegah Syakila dengan cepat.
”Ada apa sayang?”
”Bagaimana kabar kak Fatma, dan adik-adikku, Mama? Apakah mereka baik-baik saja? Apakah mereka merindukan ku, Mama?”
Sarmi kembali tersenyum, ”Tentu saja sayang, kami disini merindukan mu, mama Biah, dan papa Johan juga sering menanyakan mu.”
Syakila tersenyum, namun air matanya mengalir di kedua pipinya.
Aku merindukan suasana hangat saat berada di tengah-tengah keluarga ku.
”Alhamdulillah, Mama sampaikan salam ku pada mereka semua, dan katakan pada mereka untuk tidak khawatir tentang ku disini.” ucap Syakila, suaranya terdengar serak.
”Sayang? Apa kamu sedang menangis? Mengapa suaramu tiba-tiba serak begitu, Nak?” tanya Sarmi lagi khawatir.
”Em, Syakila tidak sedang menangis Mah, ini kerongkongan Syakila sepertinya sedang bermasalah. Sudah dulu ya Mah, nanti baru kita sambung bicara lagi. Salam kan Syakila untuk keluarga di sana. Assalamu 'alaikum.”
”Iya sayang, kamu baik-baik di sana. Wa 'alaikum salam.” telfon terputus.
Syakila menumpahkan kembali air matanya.
”Aku merindukan kehangatan keluarga ku.” gumamnya kecil.
Tanpa Syakila sadari, Beni mencuri dengar pembicaraan dia dengan mamanya. Ia berdiri di dinding samping pintu rumah.
Syakila, kamu membuat ku semakin mencintai mu. Kamu menutupi keburukan suami mu di hadapan keluarga mu.
Beni pergi dari tempat berdirinya. Ia pergi ke kamar untuk istrahat.
”Apa dia sudah tidur? Hum, nanti besok saja baru aku telfon dia. Sebaiknya aku istrahat sekarang. Malam semakin larut.”
Ia pergi ke kamar menggunakan lift. Ia tiba di kamarnya. Ia melihat Geo yang masih setia memandangi langit malam.
”Kamu belum tidur, Geo?”
Geo menoleh melihat Syakila.
”Aku mau istrahat, dari tadi aku menunggu mu untuk membantu ku naik ke ranjang. Kemari, bantu aku.”
Tanpa bersuara Syakila menurut. Ia mendekati Geo dan memapah tubuh Geo memindahkannya ke atas ranjang. Ia melihat luka Geo.
”Aku obati lagi luka di telapak tangan mu yah.”
”Hum,” sahut Geo.
Syakila membersihkan luka Geo.
”Lukamu sudah sembuh, tidak perlu lagi obati pakai obat yang ku buat. Aku olesi pakai salep obat saja, biar gak berbekas.”
”Hum,” sahut Geo lagi.
Syakila melihat Geo dengan kesal.
Pria ini kalau lagi pelit untuk berbicara selalu sahut dengan hum, hum.
Ia mengambil salep lalu ia mengoleskannya pada telapak tangan Geo.
__ADS_1