
Di perjalanan menuju markas Geo.
”Tuan, mengapa Anda begitu bermurah hati pada Antonio? Mereka hanya akan menunggu kesempatan lain untuk melukai mu, Tuan!!” ucap Gun.
Ia masih penasaran sebenarnya alasan apa sehingga tuannya itu melepaskan Antonio dan bawahannya begitu saja.
Geo menghela nafas, ”Dia telah menolong nyawa istriku, jadi, aku berbalas budi padanya. Jika ada lain kali, aku tidak akan sungkan untuk membunuhnya!!”
Gun terdiam.
Jadi, ucapan tuan tadi tidak mengada-ada! Antonio benar-benar menyelamatkan istrinya tuan. Tapi, ucapan Antonio tadi....bukan kah harusnya...tuan... melenyapkan dia...
”Tuan, apa gak sebaiknya kita kerumah sakit dulu, mengobati luka Tuan?”
”Tidak!! Percepat lagi laju mobil!”
”Baik!” sahut Ijan.
Ijan menambahkan kecepatan laju mobilnya. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di markas. Pintu gerbang terbuka dari dalam, Ijan mengarahkan mobilnya masuk ke dalam garasi mobil.
Mobil terhenti, Gun turun dengan cepat, ia mengeluarkan kursi roda Geo, dan memapah Geo duduk di kursi rodanya.
”Selamat malam, Tuan!” sapa para anak buah Geo yang berada di markas, saat mereka melihat kehadirannya.
”Hum,”
”Ijan, Gun, pergilah ke tempat perawatan dan obati luka kalian!”
”Setelah Tuan di obati baru kami akan berobat, Tuan!” sahut mereka bersamaan.
Geo melihat mereka berdua dengan tidak senang, ”Kalian ingin membantah ku!”
”Ah, tidak, Tuan! Kami mana berani! Baiklah, kami akan pergi berobat!” sahut mereka berdua.
”Pergilah!”
Ijan dan Gun akhirnya pergi ke ruang perawatan. Mereka berbaring di atas ranjang pasien yang terdapat di sana, menunggu para dokter yang bekerja di sana mengobati mereka berdua.
Sedangkan Geo, ia mendorong kursi rodanya sendiri menuju ruang pribadinya. Sesampainya di sana, ia telah di tunggu oleh dokter pribadinya sendiri.
”Tuan, lukamu...”
”Tidak perlu berkata-kata!! Lakukan saja pekerjaan mu!” pangkas Geo.
Ia merasa peluru yang ada di lengannya semakin masuk ke dalam. Rasa sakitnya sudah tidak bisa ia tahan lagi.
”Tidak usah di bius, lakukan saja langsung!” ucapnya lagi, saat melihat para dokter itu menyuntik obat bius ke dalam jarum suntik.
”Tapi, Tuan...”
”Kau ingin membantah?!” pangkas Geo.
” Tidak, Tuan! Sa..saya akan memulai mengeluarkan pelurunya, Tuan!” ucap sang dokter, sambil mengambil alat-alat yang di perlukan untuk membedah dan mengeluarkan peluru dari lengan Geo.
”Shshhs!!” Geo meringis, menahan rasa sakit.
”Tuan...”
”Lanjutkan saja! Abaikan aku!” pangkas Geo.
Sang dokter terdiam, ia melanjutkan tugasnya tanpa bersuara lagi, meskipun ia mendengar suara Geo yang meringis menahan sakit.
Ia membelah lengan Geo yang terkena peluru, agar peluru yang tertanam di dalam, dengan mudah di keluarkan. Tangan Geo gemetar, menahan rasa sakit di lengannya.
Rasa sakit ini, tidak sepadan dengan rasa sakit yang di alami oleh para istri dan anak mereka yang kehilangan sosok ayah dan suami.
”Tuan, pelurunya sudah saya keluarkan. Tuan, saya akan menyuntikan obat bius untuk menjahit lukanya.”
”Tidak perlu! Lanjutkan saja!” tolak Geo
”Tapi...”
Sang dokter terdiam melihat tangan Geo terangkat ke atas, menyuruhnya untuk tidak banyak bicara.
Sang dokter menurut, ”Baiklah! Tahanlah, saya akan menjahit luka Tuan yang terbuka ini.”
”Hum, lakukan saja!”
Ia mulai menjahit, di setiap jahitannya, Geo selalu meringis menahan sakitnya. Tujuh jahitan barulah bisa menutupi luka di lengannya.
”Tuan, sudah selesai!”
”Hum, bawa aku beristirahat!” ucap Geo tangannya masih gemetar, berikut dengan nada suaranya.
Sang dokter menurut. Ia mendorong kursi roda Geo mendekati ranjang, memapahnya ke atas ranjang.
”Tuan, sebaiknya Anda minum obat dulu...”
__ADS_1
”Setelah aku bangun dari istrahat!” lagi-lagi Geo memangkas ucapan dokter.
Sang dokter mengangguk mengerti, ia melihat tuannya kini memejamkan mata. Tangannya masih gemetar.
Istirahat lah Tuan...
Ia keluar dari ruangan pribadi Geo.
”Bagaimana keadaannya?” tanya Ijan, setelah melihat dokter pribadi Geo keluar dari ruangan sambil menghela nafas berat.
”Tuan sedang istrahat, pelurunya sudah ku keluarkan dari lengannya dan sudah ku jahit. Luka memar dan luka kecil di jari-jari nya juga sudah ku obati.”
”Lalu, apa yang membuatmu menarik nafas berat?”
”Semoga daya tahan tubuhnya kuat dan tidak membuatnya demam karena luka yang di alaminya.”
”Mengapa kamu tidak memberikan obat sebelum tuan beristirahat?”
Sang dokter menggeleng, ”Tuan menolak, setelah bangun baru akan meminum obatnya. Sepertinya, tuan banyak berfikir tentang sesuatu. Tuan tidak mengizinkan ku memberi obat bius sebelum ku belah lengannya dan mengeluarkan pelurunya.”
”Kamu jangan meremehkan tuan. Tuan sangat kuat.”
”Hum, kamu pergilah beristirahat, aku yang akan menjaga tuan disini.”
”Baiklah, kalau ada apa-apa dengan tuan, segera beritahu aku.”
"Hum,"
Ijan kembali ketempat perawatan untuk istrahat, dan sang dokter duduk di kursi yang ada di depan ruangan Geo, ia duduk bersandar.
.. .. ..
Di kediaman Sarmi, di dapur.
”Syakila, apa kamu gak menunggu suamimu baru makan?” tanya Sarmi, saat melihat Syakila menyendok makanan dan memakannya.
”Tidak, Mah. Geo tidak kembali malam ini, entah berapa hari ia akan keluar, Kila tidak tahu Ma.”
”Kemana perginya? Ada urusan apa suamimu keluar?”
”Mungkin ke villa nya, dia akan istrahat di sana. Kila juga tidak tahu ada urusan apa, Geo, tidak memberitahukan padaku.”
”Kenapa dia tidak membawa mu? Apa kalian baik-baik saja?” selidik Sarmi.
”Iya, Ma. Kami baik-baik saja, mungkin karena Kila sedang terluka dan butuh istirahat, makanya Geo tidak membawa ku bersamanya.”
Sarmi mengangguk mengerti, Syakila memang sedang sakit, membawanya malah akan membuatnya kerepotan.
Syakila memakan makanannya dengan tidak semangat, jauh di lubuk hatinya, ia sedang memikirkan Geo. Kemana pria itu pergi? Sama siapa? Ada perlu apa? Dan mengapa sampai bermalam, dan bermalam pun, dirinya tidak tahu pria itu tidur di mana? Dan ia juga merasakan perasaan sesak yang menusuk dadanya di saat ia masak, dan pikirannya tiba-tiba tertuju pada Geo. Ia sedikit mengkhawatirkan pria itu, pria yang berstatus suaminya, yang setelah sembuh dari sakitnya, akan segera bercerai dengan dirinya.
”Kamu tidak menghabiskan makanan mu?” tanya Sarmi dengan bingung, saat melihat Syakila membalikkan sendok nya, mencuci tangan dan meminum air. Biasanya, Syakila lah yang selalu menegur kakak dan adiknya untuk selalu menghabiskan makanannya.
”Syakila tidak terlalu berselera makan, Ma. Syakila ingin beristirahat.” sahutnya setelah ia meminum obatnya.
"Maaf, Syakila duluan ke kamar.” ucapnya lagi, ia berdiri dari duduknya dan melangkah pergi dari dapur menuju kamarnya tanpa menunggu sahutan dari mamanya.
Mereka semua memandang punggung Syakila dengan bingung dan bertanya-tanya dalam benak mereka. Ada apa dengan Syakila? Dia terlihat tidak bersemangat? Apakah karena Geo tidak ada disini, membuatnya seperti itu?
Di kamar Syakila.
Syakila membaringkan tubuhnya di atas ranjang, pikirannya masih memikirkan pria itu.
Bagaimana keadaan pria itu sekarang? Apa yang sedang di kerjakan nya? Apa dia serius ingin berlawanan dengan Antonio? Apakah dia terluka? Aku merasakan sesak di dada ku.
Villa? Dimana letak villanya? Jika saja aku tahu di mana letaknya, aku akan menemuinya untuk melihat kondisinya sekarang. Tapi, sayangnya, aku tidak tahu di mana villanya.
Ah, kenapa malam ini aku terus memikirkan dia sih? Ada apa dengan ku ini? Apa....aku....aku...Tidak, tidak!! Aku tidak boleh ada perasaan padanya! Stop!! Jangan pikirkan dia lagi!!
Syakila memukul jidatnya sendiri, ”Ah, kepalaku pusing. Jika mamanya Geo kembali menghubungiku, apa yang harus ku katakan?”
Ia bangun dari tidurnya, meraih handphone dan menelfon seseorang.
”Halo, ada apa?” tanya seseorang yang ada di balik telfon itu dengan lembut, setelah dia mengangkat telfon Syakila.
”Hum, kakak, aku tidak bisa tidur!” keluh Syakila manja pada orang yang di telfonnya.
”Oh, yah? Apa yang membuat mu tidak bisa tidur? Hum? Apa kamu sedang merindukan seseorang? Oh ya, bagaimana luka mu, apa sudah sembuh?”
”Luka ku hampir sembuh, obat dari guru ku sangat manjur. Aku sedang gelisah saja, kak. Oh iya, kak Sardin sendiri bagaimana keadaannya? Apa sudah baikan? Kapan kakak akan keluar dari rumah sakit?”
Rupanya pria yang di telfonnya adalah kekasih hatinya, Sardin. Yang masih berada di rumah sakit.
”Kakak baik-baik saja, hanya kadang-kadang kepala kakak tiba-tiba sakit. Insya Allah, jika tidak berhalangan, dua hari lagi kakak akan keluar dari rumah sakit, apa Kila akan menemani kakak nantinya?”
”Pasti kak, mengapa Kila tidak pergi menemani kakak? Apalagi kakak adalah kekasih hati Syakila. Tapi, jika keadaan kakak belum pulih benar, kakak jangan dulu keluar dari rumah sakit.”
Sardin tersenyum senang, ”Kamu mengkhawatirkan ku?”
__ADS_1
”Mengapa? Tidak boleh? Aku masih menganggap kakak pacar ku. Jika kakak melarang ku, aku akan...”
”Kila, kamu berbicara seperti itu, membuat ku sedih, Kila.” pangkas Sardin, wajahnya sedih mengingat percintaan mereka yang kandas.
Syakila terdiam, ia bingung, apa yang membuat Sardin sedih atas bicaranya itu?
”Aku adalah kekasih hatimu, kita menjalin sahabat dalam cinta. Aku dan kamu seperti pasangan yang berselingkuh saja. Aku sedih dengan kebenaran ini...” ucapnya lagi.
”Kakak, jangan mulai... Kila tahu, Kila lah yang bersalah dalam hal ini. Janji Kila ke kakak, tetap Kila akan penuhi, Kila dan kakak akan tetap menikah dan hidup bahagia selamanya. Jangan menganggap kakak adalah selingkuhan ku! Kakak adalah kekasih ku, pacar ku, pria yang ku cintai! Antara aku dan Geo hanyalah hubungan di atas kertas, kami punya perjanjian, jika Geo sudah sembuh dari sakitnya, maka kami berdua akan bercerai.” ungkap Syakila memangkas ucapan Sardin, suaranya terdengar marah dan sedih.
Sardin terdiam, dalam benaknya ia sangat bahagia mendengar tuturan Syakila, wanita yang di cintainya itu.
”Halo, kakak? Kakak mendengar ku?” tanya Syakila saat tidak mendapat sahutan dari Sardin.
”Kak...”
”Kakak dengar,” pangkas Sardin, ia menghela nafas, ”Apa karena kakak sehingga kalian membuat perjanjian itu?”
”Tidak, bukan karena kakak. Tapi, sebenarnya di pikir-pikir ia juga sih. Kila masih mencintai kakak, tapi, Geo juga punya seorang yang dia cintai, ia sendiri ingin menikahi wanitanya itu. Dan dia membuat perjanjian seperti itu dengan ku.” ungkap Syakila sekali.
”Apa? Jadi, di antara kalian berdua tidak saling mencintai? Kalian telah hidup bersama beberapa bulan ini, apakah benar kamu tidak ada rasa suka mu sedikitpun pada Geo? Pria yang tampan, mapan, berkharisma itu?” selidik Sardin.
Syakila terdiam, merenung hatinya sendiri.
Apakah aku tidak ada rasa sedikit pun padanya? Apakah itu benar? Jauh di lubuk hati ku, aku merasa nyaman berada di dekat pria itu, meskipun dia arogan dan sesuka hatinya, terkadang juga membuta ku kesal dan jengkel, tapi, disisi lainnya dia, aku... tidak, ini bukan perasaan cinta..aku tidak mencintainya.. lagi pula hubungan kami tidak lama lagi akan berakhir, aku yakin dia akan sembuh jika di tangani oleh guru ku...
”Aku mencintai kakak, ada kakak di hati ku, apakah masih bisa aku mencintai orang lain, selain kakak?” ucapnya kemudian.
Sardin semakin tersenyum gembira, ”Kamu sudah pandai berkata manis ya, sekarang.”
”Hah, tidak...aku...” Syakila menjeda ucapannya, ia merasa malu saat mengingat kembali ucapannya barusan. ”Kakak, aku sudahi dulu, Kila sudah mengantuk, Kila ingin istrahat.”
Sardin tertawa kecil. Ia tahu, wanita yang sedang berbicara dengannya lewat telfon ini, sedang merasa malu.
”Mengapa kakak tertawa?”
”Tidak apa-apa, istrahat lah.” sahut Sardin.
”Hum, kakak juga istrahat dengan baik..” tut tut tut, Syakila mematikan telfonnya.
.. ..
Di rumah sakit, tempat rawat inap Sardin.
Sardin masih tersenyum-senyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya.
”Kila, kakak semakin mencintai mu.” gumamnya.
Klik! Pintu kamar terbuka dari luar. Sardin menoleh ke arah pintu. Ia melihat mamanya datang bersama papanya, di tangan mamanya memegang satu bungkusan plastik putih yang bisa di lihat isi dalam plastik itu adalah rantang makanan.
Mamanya masuk kedalam kamar sambil tersenyum senang. Kening Sardin mengerut ketika melihat seorang wanita yang melangkah di belakang papanya. Wanita itu ia kenali.
”Sayang, wajah mu nampak ceria saat Mama masuk, kenapa sekarang kening mu berkerut begitu?” tanya Nesa, sambil mendudukkan dirinya di atas ranjang di samping Sardin, anaknya.
”Tidak apa-apa, Ma.” jawab Sardin, matanya melirik cewe yang sekarang duduk di kursi di samping papanya.
”Sayang, apa kepalamu masih sering terasa sakit?” tanya Nesa lagi.
”Tidak, Ma.”
”Sayang, ini, kamu makan dulu, Mama membawakan makanan kesukaan mu dari rumah.” Nesa membuka rantang makanannya Sardin.
”Iya, Ma. Mama dan Papa sudah makan?”
”Sudah, sayang.”
Sardin memakan makanannya, sesekali ia melirik gadis yang ada di samping papanya itu, terkadang, mata mereka saling bertemu, yang membuat Sardin memalingkan wajahnya segera.
Untuk apa dia datang kemari? Apa mama dan papa berniat mencarikan aku jodoh lagi?
Nesa mengetahui isi dari pikiran anaknya itu. Nesa, sebagai seorang ibu yang sangat menyayangi Sardin, ia sangat tahu, jika anaknya itu sedang bertanya tentang gadis yang mengikuti mereka, dan pasti dalam pikiran anaknya itu sedang berpikir jika dirinya mencarikan seorang pendamping.
Selama Sardin menikmati makanannya, tak seorang pun yang terdengar bersuara, semua terdiam dengan jalan pemikirannya masing-masing.
”Sudah kenyang sayang? Mengapa makanannya gak di habiskan? Kan tinggal sedikit lagi.” ucap Nesa saat melihat Sardin menyimpan sendok makannya dan meminum air.
”Iya, Ma. Aku sudah kenyang.”
Nesa mengeluarkan obat Sardin, ia memberikan obat itu pada Sardin, Sardin mengambil dan meminumnya. Nesa merapikan kembali rantang makanan dan kembali menyimpannya dalam kantung plastik.
”Sayang, kamu masih ingat sama Nita kan?”
Sardin mengangguk tanpa berbicara sambil melihat wanita itu.
”Dia baru datang dari kota M dua hari yang lalu. Ia bertemu dengan Mama tadi sore di mall, Mama mengajaknya ke rumah dan ia ingin melihat mu. Jadi, Mama mengajaknya kesini.” jelas Nesa.
Sardin memang mengenal Nita, dia adalah gadis yang pernah di tolong nya waktu SMA dulu, saat wanita itu di keroyok oleh komplotan wanita yang mendambakan dirinya.
__ADS_1
Sejak saat itu, ia dan Nita berteman, namun, Sardin tidak begitu dekat dengan Nita. Meskipun Sardin tidak dekat dengannya, namun, Nita selalu berusaha untuk mendekatkan dirinya dengan Sardin. Sehingga sempat tersiar kabar di sekolah jika Sardin, pria angkuh yang tidak suka di dekati wanita, kini berpacaran dengan Nita.
Sardin menepis berita itu tanpa sungkan di sekolah, membuat Nita merasa malu dan pindah sekolah.