
Beni dan Rosalina mendudukkan tubuhnya di sofa dengan kasar. Mereka lelah menenangkan Geo saat histeris melihat wanita.
Rosalina memandang iba pada anaknya yang sudah tenang itu. Beni memejamkan mata memijat pangkal hidung.
Kalau ku tahu akhirnya seperti ini, akan ku larang dia pergi saat itu. Aku sudah tahu Geo akan kecewa, tapi aku tidak tahu akan seperti ini. Geo, apa kamu sudah benar-benar anti wanita sekarang?
”Bagaimana ini Beni, ini baru mencari perawat wanita untuknya. Ia masih seperti itu, dan wanita-wanita itu juga menolak untuk merawat Geo. Lalu, bagaimana dengan niat kita mencarikan istri untuk dia?” keluh Rosalina.
Beni membuka mata dan melihat tantenya. ”Kita coba bicara saja padanya dengan baik-baik, Tante. Aku yakin dia akan mendengarkan kata Tante.” usul Beni.
”Apa yang harus ku katakan padanya, Beni?”
”Beni tidak tahu, tapi menurut Beni Tante yang lebih tahu hal itu. Kasih dia pengertian saja, Tante.”
Rosalina terdiam. Ia memikirkan kata-kata Beni sambil memandang Geo.
.. ..
"Anak-anak, ada yang masih ingat pelajaran yang kemarin, gak? Ayo, kalau ada yang ingat angkat tangannya ke atas dan bilang, saya ingat Bu.” ucap Syakila.
Ia sedang mengajar anak muridnya. Ia memandang anak muridnya satu persatu, ia penasaran siapakah yang masih mengingat pelajaran yang ia berikan kemarin.
”Saya Bu, saya ingat.” ucap salah satu murid Syakila.
Syakila tersenyum melihat Icha. ”Iya Icha, ayok jawab ibu guru ”
”Kemalin kita belajal huluf ABC sama menghitung, Bu.” jawab Icha dengan cadelnya.
Syakila tersenyum. ”Iya benar, Icha pintar. Anak-anak ibu yang lainnya juga pintar-pintar, kan? Ayo buktikan! Siapa yang sudah tahu huruf abjad?”
”Saya Bu, saya Bu, saya Bu...!” seru mereka satu persatu.
Syakila kembali tersenyum. ”Kalau yang sudah tahu menghitung siapa, ayok....”
”Saya Bu...!” seru mereka lagi.
”Baik, kalau begitu mari kita berhitung bersama-sama, yah...!”
”Ya Bu...!”
”Perhatikan ibu guru ya, Nak. Ibu sudah menulis angkanya kembali di papan tulis. Jadi, anak-anak harus ingat yah bentuknya angka satu sampai sepuluh itu seperti apa. Ok, anak-anak kita mulai yah, yang mana yang ibu guru tunjuk kalian baca yah....”
”Iya Bu...!”
Syakila mulai menunjuk angka satu persatu secara acak. Anak muridnya sangat antusias membacanya, meskipun Syakila menunjuk angka delapan mereka tahu, begitu seterusnya.
”Wah, ternyata anak-anak ibu guru sudah pintar menghitung dan sudah mengingat bentuk angka semua.” puji Syakila.
”Iya dong Bu...!” Syakila tersenyum senang melihat anak-anak muridnya.
Papa lihatlah, meskipun Asya hanya menjadi guru TK tapi sekarang Asya sudah menjadi guru, papa. Apa papa senang melihat Syakila, Pa? Syakila tahu pasti papa bangga dan tersenyum di atas sana melihat Syakila kan, Pa.
Setetes air mata lolos mengalir dari matanya. Syakila buru-buru menghapusnya. Tanpa ia sadari seseorang sedang mengawasinya. Ia memotret keseharian Syakila.
Pria itu berdiri tidak jauh dari ruang kelas Syakila. Ia pura-pura melihat arah lain saat melihat Syakila sudah keluar dari kelas mengajar anak-anak muridnya.
Syakila menunggu orang tua dari muridnya datang menjemput baru Syakila pulang. Icha adalah anak terakhir yang di jemput oleh orang tuanya. Tidak lama kepergian Icha, Sardin datang menjemput Syakila. Syakila sangat senang.
”Sayang, kamu datang di waktu tepat!”
"Oh ya, bagus dong! Berarti kakak tidak lama menunggu mu disini.” sahut Sardin, ia mencubit dagu Syakila. Syakila membalas mengacak rambut Sardin dengan tersenyum manis.
Hal itupun di potret oleh pria yang sedang mengintainya.
”Mau pulang ke rumah atau__”
”Antar Kila ke tempat latihan dulu kak, baru antar Kila pulang.” Syakila menyanggah ucapan Sardin.
”Ok sayang.” Sardin menyerahkan helm pada Syakila. Syakila memakai dan naik di atas motor ketika motor telah di hidupkan. Sardin menancap gas dan menjalankan motor dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang padat akan pengendara lain.
Kebersamaan mereka dan aktivitas mereka selalu di potret oleh pria misterius.
__ADS_1
”Informasi tentang wanita ini sudah ku ketahui, foto-fotonya juga ku rasa sudah cukup. Pengintaian ku selesai, aku harus pergi dari sini sebelum ada yang menyadari kehadiran ku disini. Setelah sampai di rumah baru ku kirimkan informasi ini pada bos.” gumam pria itu.
Ia menjalankan mobilnya bertolak belakang dari the Cobra.
.. ..
”Geo, kamu mau mendengar permintaan Mama, tidak?”
”Bicaralah Mah, Geo mendengarkan.”
”Geo, Mama dan Beni tidak mungkin akan terus bersamamu. Geo, Mama ingin mencarikan istri untuk mu.” Rosalina menjeda ucapannya. Ia ingin melihat reaksi anaknya.
Rosalina sedang mengajak Geo untuk berbicara dengan baik-baik sesuai usulan Beni. Geo memandang mamanya dengan tajam.
”Nak, Mama mohon, dengar kan Mama. Jangan marah begitu pada Mama.”
”Geo tidak mau, Mah!” Geo kembali mengingat bagaimana penghianatan Dawiyah. ”Perempuan semuanya brengsek! Matre! Geo muak dengan mereka, Mah.” ucapnya dengan nada tinggi.
”Sayang, tidak semua perempuan begitu, Nak. Percaya sama Mama, yah.” Rosalina membujuk Geo. Ia memasang wajah melasnya.
”Mama, Geo tidak bisa menerima wanita di sisi Geo Mah, melihatnya saja Geo sudah enek Mah.” Geo masih kekeh menolak niat mamanya.
”Tidak sayang, Mama akan mencari wanita dari teman-temanmu yang dekat denganmu, Mama yakin kamu tidak akan menolak kehadiran mereka.” kembali Rosalina membujuk.
”Terserah Mama!” Geo pasrah saat melihat kesedihan di raut wajah mamanya yang sudah lelah membujuk dirinya. Rosalina tersenyum senang mendengar tuturan anaknya.
”Beni, kumpulkan teman-teman Geo yang wanita, bawa mereka ke ruang keluarga.” pinta Rosalina pada Beni.
”Baik, Tante.”
Beni memanggil semua teman-teman wanita yang dekat dengan Geo untuk berkumpul di kediaman Albert.
Dalam waktu lima belas menit, mereka berkumpul, mereka merasa senang di undang khusus oleh keluarga Albert untuk datang ke kediamannya. Mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.
”Tante, mereka telah datang dan sekarang sedang menunggu di ruang keluarga.” lapor Beni.
Rosalina keluar dari kamar dan menemui mereka sebelum mereka di pertemukan dengan Geo. Beni menemani Geo di kamarnya.
Ting!
Notifikasi pesan masuk di hape Beni. Ia merogoh hape dari sakunya dan melihat ke laya. Ia menggulir layarnya dan mengklik pesan.
Ia melihat beberapa foto perempuan itu saat sendirian, mengajar, dan beberapa foto perempuan itu dengan seorang pria. Apalagi foto saat Syakila mengacak rambut pria itu dengan tersenyum manis menampakan lesung pipi dan dagunya. Beni fokus melihat cincin yang melingkar di jari manis kiri Syakila.
Tak perlu di perjelas lagi dengan kata, pria ini pasti tunangannya. Kenapa tante ingin mengetahui tentang wanita ini?
Beni membaca pesan yang ada di bawah foto itu.
”Bos, kami sudah menyelediki wanita itu. Namanya : Syakila. Ia seorang guru di TK, dan seorang murid karate di the cobra. Dan ia memiliki kekasih, pria yang di foto bersamanya itu adalah kekasihnya, namanya Sardin.”
Setelah membaca itu, ia memasukkan kembali hapenya ke sak celana.
”Beni, bawa aku ke ruang keluarga.” titah Geo.
”Tapi Geo, T__”
”Tidak usah menunggu Mama, antar aku kesana!” titahnya lagi. Beni mengalah, ia mendorong kursi roda Geo. Baru keluar dari kamar, Rosalina datang.
”Sayang, ayo temui teman mu. Kamu yang memilih satu di antara mereka. Tapi, Mama mohon jangan kamu bertingkah seperti sebelumnya.” pinta Rosalina.
Geo tidak menjawab. Ia terdiam. Rosalina mendorong kursi roda Geo hingga ke ruang tamu. Sesampainya di sana teman-teman Geo semua terdiam dalam keterkejutannya saat melihat keadaan Geo yang seperti itu.
Pria yang gagah, rupawan, tajir, bagaimana bisa sekarang duduk di kursi roda? Apa Tante menipu kami? Ia ingin kami menikah dengan pria cacat dan lumpuh seperti itu? Tidak! Pikir mereka.
Mereka saling berbisik, hingga Geo menguatkan kedua rahangnya. Ia juga muak melihat mereka. Ia mencoba menahan desiran amarahnya yang sudah mengalir hingga ke ubun-ubunnya demi mamanya.
”Tante aku minta maaf, biar pun Geo memilih ku, dan Tante ingin memvasilitas kan semua kebutuhan ku, aku tidak mau menjadi istrinya, Tante. Terima kasih sudah mengundang ku kesini. Aku permisi Tante!” ucap salah satu teman Geo. Ia melenggang pergi dari sana.
Geo menatap tajam punggung wanita itu. Rosalina memandang kecewa, namun ia tidak berhak untuk marah. Ia memandang anaknya. Anaknya pasti sangat kecewa mendengar ucapannya.
”Tante, maaf aku pergi.”
__ADS_1
”Aku juga Tante.”
”Aku juga Tante.”
Mereka pergi dengan memandang jijik kepada Geo. Geo tidak bisa menahan diri lagi. ”Pergi kalian semua! Aku muak dengan kalian, pergi!” Geo meninggikan suaranya.
Mereka berhambur keluar dari ruang keluarga. Tinggal tersisa satu orang. Rosalina berharap pada wanita itu. Wanita itu maju mendekati Geo, ia tersenyum mengejeknya.
”Tante, meskipun Tante membayar mahal wanita manapun untuk menjadi istrinya. Tante, aku beritahu ya Tante, tidak ada wanita yang sudi untuk menikahi anak Tante yang lumpuh ini.”
”Hei, kalau kamu tidak mau menikah dengan dia, pergi saja dari sini! Tidak usah membuang kata seperti itu untuk menghinanya.” geram Beni.
Rosalina kecewa. Ia sudah berharap dalam hatinya, tapi ternyata hanya harapan belaka. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang di bilang wanita itu adalah benar, siapa yang mau menikah dengan orang lumpuh?
Wanita itu tersenyum menanggapi ucapan Beni. ”Tante, aku punya saran. Tante Carikan saja dia istri dari anak pembantu, mereka kekurangan uang, pasti mereka berminat. Atau... kalau tidak, aku bisa menerima dia sebagai suamiku... asal aku masih boleh menikah dengan lelaki nor__” ucapannya terhenti saat Geo meraih kasar tangan wanita itu dan mencekek lehernya saat ia terjatuh di dekat Geo.
"Argh..le...le..pas...!” Geo tidak bergeming.
”Geo, lepaskan dia sayang, kamu bisa membunuhnya!" Rosalina panik. ”Beni, bantu aku lepaskan tangan Geo dari leher wanita ini! Geo, lepas kan dia, Geo!”
Beni mencoba membuka cengkraman tangan Geo dari leher wanita itu namun tidak bisa. Geo justru menambah kekuatannya.
”To..to..long...le..le..pas!” ucap wanita itu dengan terbata.
”Geo, kalau kamu sayang sama Mama, lepaskan wanita itu!” Rosalina meninggikan suaranya dan berucap sambil menangis. Baru Geo melepaskan cengkraman tangannya dari leher wanita itu.
”Ukhuk...ukhuk..ukhuk..” wanita itu terduduk di lantai sambil terbatuk-batuk memegang dadanya. Beni segera mengambilkan air putih untuk wanita itu.
”Ini minumlah.” wanita itu merampas gelas dari tangan Beni dengan kasar dan meminumnya. Ia kembali terbatuk-batuk, namun tidak seperti sebelumnya.
”Kedepannya jangan pernah muncul di hadapan ku! Pergi!” usir Geo. Wanita itu segera pergi dari kediaman Albert. Geo melihat mamanya. ”Mama puas sekarang?! Apa Mama puas mendengar Geo di hina? Wanita-wanita itu sangat menjijikan!” Geo mengeluarkan amarahnya.
”Maaf kan Mama Geo, Mama berpikir mereka adalah teman mu, jadi mereka pasti bersedia un__”
”Bersedia apa, Mah? Bersedia untuk menghinaku? Apa yang Mama katakan pada mereka, Mama mau memberikan uang berapa untuk mereka? Mereka bahkan tidak pantas untuk ku! Wanita semua sama saja, brengsek!"
”Untuk kali ini, maaf kan Mama sayang.”
”Untuk kali ini? Mama masih ingin mencari wanita untuk ku? Tidak usah repot-repot, Mah. Geo juga tidak ingin menikah! Geo muak dengan wanita Mah!” Geo memandang Beni. ”Beni, antar aku ke kamar.” titahnya pada Beni.
Beni mengantar Geo ke kamar. Ia membantu Geo membaringkan tubuhnya di ranjang. Beni keluar dari kamar. Ia menghampiri Rosalina yang sedang menangis di ruang keluarga.
”Tante!"
”Beni, bagaimana nasib Geo, Beni? Hidupnya hancur, Ben. Tidak sesiapa yang mau menjadi istrinya, Geo juga membenci wanita, Beni. Hu..hu..hu...Impian ayahnya hancur, Ben.”
Beni menghela nafas, ”Tante, tenanglah! Geo pasti akan pulih dan pasti akan menikah, Tante.” Beni menenangkan Rosalina.
Rosalina terdiam, terbayang wajah perempuan yang di lihatnya di mall. ”Beni, apa sudah ada informasi tentang wanita itu?"
”Sudah Tante, namanya Syakila. Profesinya sebagai seorang guru TK, dan dia __”
”Guru TK?” Rosalina tersenyum senang. ”Beni, menjadi guru TK itu tidak mudah, dia termasuk wanita yang sabar. Beni, cari tahu lebih detail tentang dia, aku yakin dia mau menikahi Geo.”
Beni menunduk, ia kembali menghela nafas. ”Tante, Syakila sudah punya pacar, bahkan ia sudah bertunangan, dan mungkin pernikahannya tidak lama lagi.”
Beni meraih handphonenya, dan membuka pesan dari anak buahnya, lalu ia memberikan kepada Rosalina untuk di lihatnya sendiri foto-foto itu.
”Kamu benar, dia sudah bertunangan. Aku tidak bisa menghancurkan kehidupan orang lain, untuk anakku.” ucap Rosalina dengan sedih.
Rosalina memejamkan matanya, ia memijat kening dan pangkal hidungnya. Ia teringat dengan perjanjian Halim. Rosalina kembali tersenyum.
”Beni, cari tahu keberadaan Halim sekarang! Hanya dia yang bisa membantu sekarang, dia memiliki lima orang putri. Utangnya padaku belum lunas, dan itu sudah bertahun-tahun.”
Beni memandang Rosalina. Ia tidak ingin harapan Rosalina kembali pupus.
”Jangan memandang ku seperti itu! Kirim beberapa orang untuk mencari Halim. Segera cari, jangan berhenti mencari sebelum menemukan dia!”
”Baik,"
Setidaknya, tidak salah bila mencoba.
__ADS_1
Beni menelfon beberapa orang untuk mencari Halim.