
Syakila membuka pintu kamar dengan pelan. Ia masuk ke dalam kamar, menutup kembali pintu kamar dengan pelan dari dalam dan menguncinya.
Ia berjalan pelan-pelan mendekati ranjang. Ia melihat Geo yang telah tertidur.
Apakah aku harus mempertahankan pernikahan yang tidak ku inginkan? Bahkan pernikahan kami sangat dadakan dan juga tidak seperti sebuah pernikahan, hanya seperti perjanjian kontrak mengatasnamakan pernikahan untuk menyembuhkan penyakitnya saja. Setalah dia sembuh, pernikahan ini selesai, aku dan dia akan menjadi orang asing lagi yang tidak saling kenal.
Syakila memutari ranjang, ia berjalan ke sisi ranjang sebelahnya. Dengan pelan, ia naik ke atas ranjang. Ia berbaring, memberikan pemisah dia dengan Geo dari sebuah bantal guling.
”Apa yang mama bicarakan dengan mu?” tanya Geo.
Syakila menoleh melihat ke sampingnya. Geo masih memejamkan matanya.
”Apa kamu pura-pura tidur saat aku masuk ke kamar?”
”Tidak, aku sudah tidur, tapi, aku merasakan pergerakan sedikit di ranjang. Jadi aku terbangun, apa mama masih meragukan alasan ku menemani mu ke rumah sakit?”
”Tidak, bukan itu. Ini urusan pribadi ku sendiri. Istrahat lah! Aku juga ingin tidur sekarang.”
”Hum, besok, kamu akan ke rumah sakit di temani oleh anak buah ku.”
Syakila terkejut, ia bangun dari baringnya dan terduduk melihat Geo yang matanya masih terpejam itu.
”Anak buah mu? Bagaimana bisa? Kamu...”
Geo membuka matanya, memandang Syakila yang melihatnya.
”Mereka ada di luar sekarang, mereka menjaga ku seperti bayangan. Tapi, aku sudah menugaskan seseorang untuk mengantar dan menemani mu ke rumah sakit. Jangan menolak! Dia ibarat mataku yang akan menjaga mu.”
”Oh, begitu kah? Aku tidak tahu, ternyata Tuan Geovani Albert sangat istimewa dan nyawanya sangat berharga sehingga di jaga begitu ketat. Dan aku tidak menyangka, sepercaya itu Tuan Geovani padaku sehingga memberiku matanya untuk menemani ku pergi menemui seseorang.” sindir Syakila.
”Kamu meledek ku? Menyindir ku?”
”Tidak, tidurlah! Besok, aku akan pergi dengan anak buah mu itu. Oh ya, aku pergi dari pagi setelah sarapan, dan mungkin pulangnya agak kemalaman.”
”Untuk aku, aku tidak keberatan, bahkan jika kamu tidak pulang sekalian. Sardin adalah kekasih mu, terserah mu, kamu mau menemani dia seberapa lama. Akan tetapi, ingatlah akan posisimu sebagai seorang istri. Dan ingatlah, kita tinggal di kediaman mu sendiri. Tidurlah! Tidak usah berbicara lagi.”
Geo kembali memejamkan mata setelah selesai berucap. Syakila pun terdiam, ia menatap langit-langit kamar.
Mama, papa, untuk kebahagiaan hidup ku sendiri, aku bertentangan dengan keinginan kalian. Maaf kan aku, mama, papa, aku sangat mencintai kak Sardin, kak Sardin juga mencintai ku. Kami saling mencintai, kami tidak ingin berpisah mama, papa.
Syakila memejamkan mata. Tapi, pikirannya masih terus mengajaknya untuk berfikir. Ia membuka mata kembali, melihat ke arah Geo. Pria tampan itu nampak sudah tertidur lelap. Syakila bangun dari baringnya, ia turun dari ranjang dengan pelan agar tidak ada pergerakan yang mengganggu istrahat Geo. Ia berjalan ke arah jendela, ia membuka jendela kamar, berdiri, menatap langit hitam di angkasa.
Perkataan Sarmi, mamanya sungguh menyita hati dan pikirannya. Ia menoleh, melihat Geo yang tertidur, kemudian ia kembali menatap langit. Pikirannya berputar mengingat kembali ucapan Sarmi, mengingat kembali pernikahan dadakannya dengan Geo dan mengingat kembali percintaannya dengan Sardin.
Ia menghempaskan nafas kasar, pandangan matanya menjadi sedih seketika. Ia menutup kembali jendela kamar. Ia berjalan mendekati laci meja hias, mengambil sebuah foto dari dalam laci tersebut dan duduk di kursi meja hias itu melihat foto tersebut.
Sebuah foto yang terbingkai rapi dalam sebuah bingkai hati berwarna hijau yang terpampang dua remaja yang saling mencintai, tersenyum saling memandang dengan mesra. foto Syakila dan Sardin yang di ambil setahun lalu di acara valentine day dengan menggunakan baju couple berwarna pink.
Syakila memandang foto tersebut, ia tersenyum sendiri memperhatikan foto itu, kenangan manis bersama sang kekasih terngiang kembali dalam memori ingatan nya. Tanpa Syakila sadari, dari arah ranjang, pria yang berstatus suaminya sedang memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Syakila menaruh bingkai foto tersebut di atas meja, tangannya ia lipat di atas meja untuk di jadikan bantal kepalanya. Ia memandang foto tersebut, tanpa di sadari, semakin ia memandang fotonya, membuatnya tertidur.
Geo memejamkan mata saat melihat mata Syakila terpejam secara perlahan-lahan. Ia menghempaskan nafas berat ke udara.
Mengapa hati ku bisa merasakan hal seperti ini dengan mu, Syakila? Perasaan ini, tidak pernah aku alami sebelumnya, meskipun itu pada mantan pacar ku. Apa benar aku sudah tertarik dengan mu? Wanita matre dan keras kepala seperti mu? Mengapa bisa kamu menarik hatiku untuk tergerak padamu? Tidak, aku tidak mungkin tertarik dengan mu. Ini hanyalah perasaan sesaat karena aku nyaman di dekat mu, tidak lebih.
Ia tertidur setelah pikirannya lelah untuk berfikir.
.. ..
Di kota A. Di markas Vian.
__ADS_1
”Apa kalian sudah mendapatkan informasi tentang Syakila? Di mana dia sekarang?” tanya Vian.
”Maaf, Tuan, kami belum mendapatkan informasi apa-apa mengenai nona Syakila. Kami menunggu di sekitar sekolah dan di gang yang ia lewati juga di halte bis, tapi nona Syakila tidak muncul, Tuan.” jawab sang anak buah.
”Bagaimana kalian bekerja? Mendapatkan informasi seorang wanita dengan lengkap saja tidak becus!! Hal ringan mengawasi pergerakannya saja kalian masih tidak mampu!” ucap Vian dengan marah.
”Maaf, Tuan!” sahut anak buahnya dengan gemetar ketakutan.
”Apa dia sudah pindah mengajar di sekolah lain?” gumam Vian, namun, masih terdengar jelas di telinga anak buahnya.
”Mungkin saja, Tuan!”
Vian menggebrak meja, anak buahnya terkejut.
”Mungkin, mungkin! Aku tidak ingin mendengar kata yang tidak pasti!” ucapnya dengan marah.
”Maaf, Tuan!” sahut anak buahnya dengan gemetar.
”Keluar!”
Anak buah tersebut keluar dari ruangan Vian.
”Kemana perginya Syakila? Aku sudah berpenampilan menarik untuk bertemu dengannya, tetapi ia tidak ada.”
Vian menoleh ke arah pintu, saat pintu ruangannya terbuka dengan kasar dari luar. Ia mengernyit melihat wanita yang berjalan dengan anggun ke arahnya dengan menggunakan pakaian seksi.
”Dawiyah? Bikin apa kamu kesini?”
”Vian, begitu kah caramu menyambut ku? Aku sangat terkesan padamu!” sahut Dawiyah, ia duduk di pangkuan Vian.
Tangannya membelai dada Vian, Vian menangkap tangan Dawiyah dan menahannya. Ia terganggu dengan gerakan kecil dari tangan Dawiyah.
”Mengapa kamu datang menemui ku? Apa kamu tidak takut mata-mata Antonio akan melaporkan perbuatan mu ini pada Antonio?”
Dawiyah bangkit dari pangkuan Vian, ia beralih duduk di atas meja dengan berhadapan dengan Vian.
”Kamu datang kesini hanya untuk bertanya tentang dia?”
”Iya, seperti itu. Aku sedikit penasaran dengan tipe seperti apa gadis kecil ini, sehingga bisa membuat mu begitu tertarik padanya!”
”Sayangnya, gadis itu sekarang tidak terlihat. Jika aku sudah berhasil mendekati dirinya baru aku tunjukan dia padamu.”
”Baiklah, aku tidak sabar menanti hal itu. Apakah kamu sudah bertemu dengan Geo?”
Vian berdiri dari kursinya, ia berjalan mendekat ke arah jendela.
”Belum, tapi, dengan mendekati gadis kecil itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang Geo. Bahkan, aku bisa mengajak gadis itu untuk bekerjasama dengan kita menghancurkan Geo.”
Dawiyah mengerut memandang punggung Vian.
”Apa gadis itu...istri...dari... Geo?” tanyanya penasaran.
Vian berbalik, melihat Dawiyah, ia tersenyum kecil.
”Bukan, hanya gadis ini sering ku lihat dia bebas keluar masuk ke kediaman Albert.”
”Keluar masuk di kediaman Albert? Apa dia tinggal di rumah itu? Apa statusnya dia di rumah Albert?”
”Entahlah, perkiraan ku, dia mungkin tinggal di sana untuk bekerja. Pembantu di rumah itu sudah tidak ada, hanya beberapa orang pria saja yang sering ku lihat mondar-mandir di kediaman itu, dan satu-satunya wanita yang ada di rumah itu hanya dia.”
Benarkah tidak ada pembantu wanita lagi di rumah itu? Apakah itu artinya, Geo sekarang dalam kondisi yang buruk? Dan gadis itu, mungkinkah gadis itu...Oh, ini aku sangat penasaran!
__ADS_1
”Siapa nama gadis itu? Di mana dia sekarang, aku ingin mendekatinya sebagai teman barunya.”
"Tidak, kamu tidak boleh mendekati gadis ini. Eh, Dawiyah, bukankah kamu bisa datang menemui Geo kapan pun di kediaman Albert, kan?”
”Itu dulu, sekarang berbeda. Rosalina pasti akan mengusir ku seperti hewan peliharaan jika aku muncul kembali di kediaman Albert. Kecuali, Geo yang membawaku masuk kembali ke kediaman itu. Tapi, bagaimana caranya aku bisa bertemu dengan Geo, sedangkan nomornya tidak aktif lagi berikut dengan nomor handphone Beni.”
”Satu-satunya cara untuk bertemu dengannya hanya melalui gadis kecil itu dan Beni. Baiklah, aku pergi dulu sekarang, aku ingin istrahat.” pamit Dawiyah.
”Kamu tinggal di mana?”
”Masih di apartemen lama. Aku pergi dulu.”
Dawiyah melenggang pergi dari ruangan Vian tanpa menunggu jawaban darinya. Vian juga tidak menahan Dawiyah untuk pergi. Ia kembali duduk di kursinya. Ia kembali memandang foto Syakila dari galeri hapenya.
”Syakila...”
.. ..
Di apartemen Dawiyah.
”Kamu dari mana saja?”
Dawiyah terkejut mendengar suara seorang pria dalam kegelapan di apartemennya saat ia masuk ke dalam rumahnya. Ia meraba saklar lampu di dinding, ia menekannya, lampu menyala.
Terlihat jelas tubuh Antonio yang sedang duduk di kursi sofa memandangnya dengan marah.
”Aku bertanya padamu! Dari mana saja kamu?”
”Em, aku hanya mencari angin di luar sana, sudah beberapa bulan aku tidak menginjakkan kaki ku di kota kelahiran ku ini. Mumpung aku disini, apa salahnya jalan-jalan keluar menikmati udara kota ini di malam hari?”
Ia berjalan mendekati Antonio dan duduk di pangkuan pria tersebut. Tangannya membelai wajah Antonio dan tangan sebelahnya merangkul kepala belakang Antonio.
”Apa kamu sudah merindukan ku? Sehingga begitu cepat kamu menyusul ku kesini, bukan kah seharusnya dua hari lagi baru kamu akan datang kemari?” ucapnya kembali dengan suara lembut.
”Apa kamu tidak menginginkan ku datang menemui mu lebih cepat? Apa kamu sedang berniat berkencan dengan pria lain di belakang ku?” Antonio melemparkan pertanyaan balik pada Dawiyah.
Dawiyah tersenyum lebar, ia mendaratkan ciumannya pada bibir Antonio. Setelah lama menciumnya, ia melepaskan ciuman itu. Namun, kepalanya di tahan oleh Antonio. Antonio membalas ciuman Dawiyah, lama mereka berciuman, ciumannya terlepas.
”Tentu saja tidak, siapa lagi yang bisa aku kencani sekarang kalau bukan kamu? Bukankah kamu selalu mengawasi ku seperti bayangan dengan mata-mata mu itu?”
”Penglihatan mu tajam juga, jadi, katakan padaku! Mengapa kamu menemui Vian, paman ku?”
Dawiyah mengedikan kedua bahunya, ”Bukan hal yang penting, hanya menanyakan tentang keberadaan Geo saja dan gadis kecil itu.”
Gadis kecil itu, aku juga penasaran dengan rupa gadis yang di ceritakan Vian.
”Apa kamu sudah mengetahui keberadaan mereka berdua?”
”Jangan kan aku, Vian, paman mu itu saja belum bertemu dengan mereka berdua.” sahut Dawiyah sambil berdiri dari pangkuan Antonio.
”Rupanya Geo masih tertarik padamu, bukan kah ini apartemen yang dia beli atas namamu? Ku kira ia sudah membalikkan nama kepemilikan atas namanya setelah kamu mengkhianati cintanya. Ternyata, rumah ini masih atas namamu, dan kata sandi pintunya masih atas nama kalian berdua. Ck, kasihan sekali kisah cinta Geo.” cibir Antonio, ia tersenyum licik.
”Mengapa kita harus membicarakan orang lain di saat sekarang? Masih banyak waktu untuk membicarakan dia, ini sudah larut malam, sebaiknya kita istrahat sekarang.”
”Baiklah, mari kita istrahat.”
Antonio berdiri dari duduknya, ia mendekati Dawiyah dan menggendong tubuh Dawiyah membawanya masuk ke dalam kamar. Antonio meletakkan tubuh Dawiyah dengan pelan di atas ranjang, ia juga ikut berbaring di atas tubuh Dawiyah.
Mereka berdua saling melempar senyum dan saling menatap penuh damba. Ciuman, Dawiyah mendaratkan ciuman ke bibir Antonio, Antonio membalas ciuman tersebut. Dari ciuman biasa menjadi ciuman intens, dan perlahan dari ciuman itu membawa hawa panas yang membara di kedua tubuh pasangan tersebut yang meminta untuk dipuaskan.
Perjalanan malam panjang kedua pasangan itu pun di mulai. Dawiyah adalah seorang wanita yang bekerja di sebuah salah satu Club terkemuka di kota pusat. Meskipun sikapnya seperti wanita penghibur, tetapi, ia bukanlah wanita penghibur, ia di keluarkan dan di beli oleh Antonio dari Club tersebut. Pengalaman pertamanya ia berikan kepada Antonio, untuk menjatuhkan Geo, Antonio merelakan Dawiyah untuk merayu Geovani Albert.
__ADS_1
Antonio sebagai saudara tiri dari Geo, ia tahu titik lemah Geo adalah seorang wanita, dan untuk itulah ia menyuruh Dawiyah untuk merayu dan membuat Geo jatuh hati padanya, setelah Geo benar-benar terpikat, saat itulah ia harus meninggalkan Geo.