Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 169


__ADS_3

Di sekolah tempat mengajar Syakila, kota A.


”Bu Syakila sudah mau pulang?” tanya salah satu guru di sana. Ia melihat Syakila yang sedang merapikan buku-buku tugas anak-anak muridnya yang telah selesai di periksa nya. Setelah itu, Syakila memasukkan penanya ke dalam tas dan meresleting tas tersebut dan berdiri sambil menyandang tasnya.


”Iya Pak Umar. Saya buru-buru, saya duluan pulang yah teman-teman.” sahut Syakila.


”Iya Bu Syakila.” sahut guru-guru tersebut.


”Biar saya antar Bu Syakila.” ucap pak Umar, menawarkan diri, ia telah berdiri dan menyandang tasnya.


Jurina memandang Umar dengan cemburu, ia cemburu karena Umar hanya memperhatikan Syakila saja.


”Cie...cie...terima saja Bu Syakila! Jarang-jarang loh melihat Pak Umar berani berinisiatif untuk mengajak seorang wanita pulang bersamanya.” sambung guru lain.


”Hei...kalian tidak tahu yah kalau Bu Syakila itu....” ucapannya terhenti saat melihat Syakila menggeleng padanya.


Irawan, selaku kepala sekolah di SD negeri 1 yang mengetahui Syakila telah menikah, terdiam.


Saat Irawan sedang lewat di ruang guru, ia mendengar percakapan di antara para guru-guru yang sedang berkumpul di ruang guru tersebut, sedang menggoda Syakila.


Ia kembali mengingat perkataan Geo juga perkataan Syakila yang ingin menutupi identitas Syakila. Identitas dari Syakila yang sudah menikah maupun identitas pribadi Syakila tentang dirinya.


”Ayolah Bu Syakila, tidak perlu malu begitu, berilah muka untuk Pak Umar yang sudah tiga tahun ini menjomblo.” ucap salah satu guru lain.


Pak Umar hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan temannya. Sementara Syakila, ia kebingungan, ia ingin menjelaskan sesuatu namun, temannya selalu menyela lebih cepat darinya.


”Iya Bu Syakila. Berilah kesempatan untuk Pak Umar.” sahut guru lain.


”Benar, Syakila. Pak Umar orangnya setia kok! Kamu gak bakalan menyesal nantinya. Aku jamin!” sambung Jurina, sambil tersenyum. Ia tahu jika Umar sudah lama mengagumi Syakila, semenjak Syakila pertama kali mengajar di sekolah itu. Selain itu, Umar juga telah mengaku padanya, jika ia memang tertarik pada Syakila setelah Jurina memaksanya untuk berbicara.


Sebenarnya Jurina menyukai Umar, namun, perasaannya selalu terpendam karena sikap Umar yang tertutup. Umar juga jarang berkomunikasi dengan guru-guru lain, kecuali hal yang benar-benar penting baru ia berkomunikasi dengan para guru lain.


Syakila menghela nafas. Teman-temannya sungguh tidak ada kerjaan. Ia tersenyum melihat Umar, ”Terima kasih banyak atas tawaran Pak Umar. Tapi maaf, saya menolak tawaran Pak Umar. Saya tidak ingin merepotkan Pak Umar, terlebih jarak antara rumah saya dan Pak Umar berbeda.” ucapnya, menanggapi dengan lembut.


”Dan untuk teman-teman, mohon untuk tidak berbicara ataupun menanggapi sesuatu hal dengan berlebihan. Di sini, kita semua adalah rekan kerja. Mengerti?” sambungannya lagi, sambil melihat teman-teman gurunya.


”Mengerti!” jawab semua orang.


”Baiklah, saya duluan pulang.” ucap Syakila, berpamitan. Tanpa menunggu sahutan dari temannya, Syakila melenggang pergi meninggalkan ruang guru, setelah berpamitan kepada pak Irawan.


Apakah aku tidak tampan di matanya Syakila? Mengapa ia menolak ku tanpa memberiku penjelasan dan memberiku kesempatan? Selama ini aku selalu menunjukkan rasa suka ku padanya, tapi, tidak pernah di gubrisnya. benak Umar sambil melihat punggung Syakila yang berlalu, dengan sedih.


Irawan melihat tatapan sedih Umar, ia tidak ingin Umar memiliki perasaan terhadap Syakila. Terlebih itu adalah hal yang mustahil karena Syakila adalah istri dari seorang Geovani Albert, si pemilik sekaligus pendonor terbesar untuk SD tempat mereka bekerja.


”Kalian jangan sampai membawa candaan tadi keluar dari ruangan ini. Jika ada seseorang yang mendengar candaan kalian hari ini, orang itu tidak akan senang. Ketahuilah, Syakila sudah memiliki seorang kekasih.” ucap pak Irawan, menasehati. Sekaligus mengingatkan Umar untuk berhenti mengejar Syakila.


”Baik Pak.” sahut para guru, kecuali Umar.


Oh, pantas saja ia tidak pernah menoleh padaku, ternyata dia sudah punya kekasih. Mengapa dia tidak bilang saja sih, supaya aku tidak terlalu jauh menyukainya. benak Umar.


Irawan menghela nafas melihat raut wajah Umar yang semakin sedih. ” Jika sudah selesai dengan pekerjaan kalian, kalian pulanglah.” ucapnya.


”Iya Pak.” sahut mereka semua, termasuk Umar.


”Baiklah, saya pergi duluan.” ucap Irawan, berpamitan, pandangannya masih melihat Umar.


Kasihan sekali pak Umar, ia sudah lama berharap pada Syakila. Sekarang ini baru ia terang-terangan menunjukkan rasa sukanya itu. Tetapi sayang, harapannya pupus. Ini bukan salah dia, Syakila bersalah di sini. Syakila menutupi identitasnya hingga membuat orang beranggapan dia masih lajang. benaknya.


Ia menepuk pundak Umar sebelum pergi meninggalkan ruang guru.


Jurina berdiri, ia mendekati Umar yang bersandar di dinding. ”Sabarlah, mungkin Syakila bukan jodoh mu. Kamu sudah cukup berusaha mendekati dan menunjukkan perasaan mu pada Syakila. Siapa sangka ternyata Syakila sudah punya kekasih! Kamu pasti akan mendapatkan kekasih yang lebih lagi dari Syakila.” ucapnya, menyemangati.


Umar tersenyum kecil melihat Jurina yang tersenyum padanya, ”Terima kasih Jurina. Tapi, selama pernikahan Syakila dan kekasihnya belum terdengar, aku tidak akan menyerah pada perasaan ku.” sahutnya, penuh semangat.


Jurina tersenyum yang di paksakan, Tidak bisakah kamu melihat cintaku padamu Umar? Ketahuilah aku menyukai mu. Jika suatu hari kamu lelah mengejar cinta Syakila, datanglah temui aku. Aku akan selalu menunggu kedatangan cinta mu padaku. benaknya.

__ADS_1


”Iya, selama janur kuning belum melambai di depan rumah Syakila, kamu masih bisa mengejar cinta mu. Semangat!” ucapnya kemudian.


”Ok, tinggal kita yang belum pulang. Mau pulang bersama?” ucap Umar, menawarkan diri.


Jurina tersenyum, ”Boleh! Ayo kita pulang.” sahutnya dengan senang.


Mereka pun keluar dari ruang guru bersama hingga ke parkiran motor. Sesampainya di sana, Umar dan Jurina baru saja melihat Syakila yang masuk ke dalam mobil.


Apakah Syakila di jemput kekasihnya? Seperti nya kekasihnya itu bukan orang biasa, mobilnya saja sangat mewah dan sepertinya mobil itu hanya ada beberapa buah saja di kota ini. Siapa kekasih Syakila? benak mereka berdua.


Dengan melihat mobil yang mewah seperti itu, apakah pemiliknya tampan? Apakah saatnya aku harus menyerah dengan cinta ku? Aku tidak pantas bersaing dengan kekasih nya itu. Tidak, tidak! Aku harus berjuang dulu, jika memang tidak bisa, baru aku mundur. lanjut, benak Umar.


Mobil yang di naiki Syakila telah pergi. Jurina dan Umar naik di atas motor. Umar menjalankan motornya dengan kecepatan sedang mengantar Jurina pulang ke rumahnya.


Arah rumah Jurina dan Umar searah. Hanya saja, mereka berbeda gang. Rumah Jurina berada di gang ke satu sementara Umar, ia berada di gang ke tiga.


.. ...


Di perjalanan.


Syakila nampak tidak tenang. Tangannya gatal ingin meraih hape kecil yang ada di dalam tasnya.


Ia ingin sekali meraih hape itu dan melihat apakah ada pesan atau panggilan dari Sardin.


Kenapa sih Geo harus datang menjemput ku? Aku jadi tertekan sendiri. Apakah Sardin sudah sampai di bandara? Aku ingin menjemputnya! Tapi, bagaimana bisa aku tahu jika Sardin sudah tiba, sementara aku tidak leluasa untuk mengambil handphone? benaknya.


”Ada apa? Kamu terlihat gelisah, apa yang kamu gelisah kan? Apa itu karena kamu lapar? Kamu belum makan siang?” tanya Geo.


Sebenarnya ia tahu jika Syakila sedang gelisah, dan ia juga tahu apa yang di gelisah kan oleh istrinya itu.


”Eh, em...tidak, tidak ada. Aku...iya aku lapar.” jawab Syakila.


”Beni, berhenti jika melihat restoran, kita singgah makan.” ucap Geo pada Beni.


Syakila tersenyum kecil membalas senyum Geo yang masih melihatnya.


Sesampainya di restoran nanti...aku akan pergi ke toilet dan membuka hape. Semoga saja Sardin belum sampai di bandara. benaknya. Ia menghela nafas kasar.


.. ..


Di penerbangan ke kota A.


Senyum Sardin selalu mengembang di bibirnya, wajahnya menggambarkan rasa bahagia. Dalam benaknya ia sudah menghayal jika ia dan Syakila telah bertemu di bandara.


Syakila berlari pelan ke arahnya dan memeluk erat tubuhnya dengan tersenyum bahagia.


Syakila aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mu. Jangan ingkari ucapan mu untuk menjemput ku di bandara. Aku akan sangat kecewa dan sedih sekali jika kamu tidak datang. Tinggal lima belas menit lagi pesawat akan berhenti. benaknya.


”Paman, apa Paman sudah mendapatkan informasi tentang Syakila dari pria itu?” bisik Antonio pada Vian.


”Paman belum mendapatkan informasi apapun dari Sardin. Paman bingung ingin bertanya atau tidak pada dia. Dia sepertinya orang yang tidak gampang juga untuk di singgung.” balas Vian, berbisik pada Antonio.


”Kita sudah sampai di kota A, apa kita akan mengikuti diam-diam pria itu?” tanya Antonio lagi.


”Tidak perlu! Jika Sardin adalah pria yang mencintai Syakila, dan jika Syakila mencintai pria ini juga, kita bisa memanfaatkan situasi ini untuk memancing emosi Geo yang tidak stabil itu. Paman punya cara sendiri untuk dekat dengan Sardin.” jawab Vian, masih berbisik dengan Antonio.


Pesawat telah berhenti dengan sempurna di bandara kota A. Pintu pesawat segera di buka dan para penumpang berbaris dengan rapi keluar dari pesawat.


Vian dan Antonio telah turun dari pesawat mereka do jemput langsung oleh anak buah dari Vian.


Sementara Sardin, ia masih berada di dalam pesawat, ia sedang menghubungi Syakila. Namun, sudah tiga kali ia menghubungi nomor wanita yang di harapkan kedatangannya itu tidak mengangkat telfonnya.


”Apa dia masih di sekolah? Apa dia lupa untuk menjemput ku?” gumamnya.


Ia menghela nafas, ”Aku turun dari pesawat, setelah itu baru ulang menghubungi Syakila. Jika masih tidak menjawab, batu aku hubungi Dian untuk menjemput ku.” gumamnya lagi sambil berdiri.

__ADS_1


Ia menyandang tasnya dan berjalan keluar dari pesawat. Selamat datang kembali di kota kelahiran. benaknya.


Iya, lelaki itu lahir di kota A. Sewaktu usianya lima tahun, orang tuanya pindah ke kampung dan ia sekolah di kampung. Setelah orang tuanya di pindah tugas ke kota S, ia pun pindah dan bersekolah hingga tamat kuliah di kota tersebut.


Ia berjalan ke ruang tunggu sambil melihat-lihat sekitar, sekiranya, ia bisa melihat sosok Syakila di sana. Namun, sosok itu belum juga terlihat.


Ia duduk di bangku ruang tunggu. Ia kembali menelfon Syakila.


Di dalam restoran.


”Aku pergi ke toilet dulu.” pamit Syakila. Ia sudah berdiri.


”Asya..”


”Apalagi Geo?! Dari tadi aku ingin pergi ke toilet, kamu seperti sengaja melarang ku kesana! Ada apa?” ucap Syakila, memangkas ucapan Geo. Ia memandang Geo dengan tidak senang.


Beni hanya menghela nafas sambil bersandar, melihat Geo dan Syakila.


Aku jadi heran dengan sikap Geo hari ini. Ada apa dengan pria ini sebenarnya? benaknya.


Geo terdiam. Syakila memandang ku tidak senang. Memikirkan Sardin yang ke sini membuat ku tidak tenang dan berwaspada. Ah...apa yang harus aku lakukan? benaknya.


Melihat Geo yang terdiam, Syakila berjalan ke toilet sambil membawa tasnya.


”Geo, sebenarnya ada apa dengan kamu hari ini? Apa ada yang mengganggu pikiran mu? Coba kamu katakan padaku, mungkin saja aku bisa membantu mu.” ucap Beni.


”Tidak ada!” jawab Geo. Namun, matanya mengatakan hal lain, dan itu di sadari oleh Beni.


”Jangan berbohong! Katakan, apa yang sudah mengganggu pikiran mu?” desak Beni.


Geo menghela nafas, ia berfikir lebih baik ia berbicara pada Beni apa yang sedang mengganggu pikirannya.


Ia pun mulai menceritakan kepada Beni sewaktu ia menemukan hape biasa Syakila di dalam tas wanita itu.


Di dalam toilet restoran.


Setelah Syakila mencuci muka dan tangannya, ia mengambil handphone kecilnya dari dalam tas.


”Geo brengsek! Sebenarnya ada apa sih dengan dia? Selalu saja menghentikan aku untuk pergi ke toilet.” gumamnya kesal.


Ia melihat layar hapenya menyala dan melihat tulisan Sardin memanggil... Ia tersenyum senang mengangkat telfon tersebut.


”Halo, Kila. Mengapa baru mengangkat telfonnya kakak? Apa kamu sedang sibuk?” tanya Sardin.


”Em...maaf kak, Kila ada sedikit urusan. Bagaimana? Apa kakak sudah tiba di bandara?”


”Iya, kakak sudah tiba dari sepuluh menit yang lalu. Kakak sedang menunggu mu di ruang tunggu. Apa kamu masih sibuk? Jika kamu tidak sempat menjemput ku, aku akan menelfon Dian untuk menjemput kakak. Bagaimana?” tanya Sardin, meminta pendapat.


”Tunggu Syakila, Kila akan pergi menjemput kakak.” jawab Syakila. Tut tut tut, ia langsung mematikan telfon dan menyimpan hape kedalam tas.


Ia keluar dari toilet dengan terburu-buru. Ia menghampiri Geo dan Beni. ”Beni, Geo, maaf, aku harus pergi sekarang. Aku sedang terburu-buru.” ucapnya berpamitan. Ia langsung melangkah keluar dari restoran tersebut.


”Tapi...kamu...” ucapan Geo terhenti. Syakila telah berlalu dari restoran tersebut. Geo menghela nafas kesal.


”Sudah! Biarkan saja dia pergi. Jika kamu memang benar-benar mencintai Syakila dan ingin memilikinya, ambil hatinya dulu secara pelan-pelan. Jangan mengekang dia.” ucap Beni, menasehati.


”Bagaimana aku bisa mengambil hatinya, sementara ia menutup pintu hatinya dengan rapat hanya untuk Sardin.” sahut Geo dengan ketus.


”Aku tahu, tapi, sejauh ini bukankah hubungan kalian membaik dari sebelumnya? Syakila juga sudah mulai mendengarkan kata-kata mu. Aku yakin, di dalam hati kecilnya pasti sudah mulai bersemayam namamu di sana.” ucap Beni dengan yakin.


”Aku tidak memiliki kepercayaan diri seperti itu. Aku tahu tujuan ia pergi ke bandara. Dia memang wanita yang teguh dengan janji, ia berjanji untuk menjemput Sardin. Jadi, ia tetap pergi untuk memenuhi janjinya itu.” sahut Geo dengan sedih.


”Kamu tidak perlu berkecil hati. Percayalah pada hatimu dan dirimu sendiri. Walau bagaimanapun, kamu masih berhak atas Syakila saat ini, sedangkan Sardin, tidak memiliki hak apapun. Aku tahu perjanjian antara kamu dan Syakila. Syakila bukanlah orang yang ingkar janji, dia akan selalu berada di sisi mu.” ucap Beni, menasehati.


Geo terdiam, Memang benar! Syakila adalah orang yang teguh dengan janji. Untuk itulah aku berbohong tentang kesembuhan ku padanya, aku tidak ingin kehilangan dia. benaknya.

__ADS_1


__ADS_2