Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 61


__ADS_3

Halim berlari dengan cepat ke toko istrinya. Sesampainya di sana, ia melihat istrinya sudah mulai menyimpan barang. Dan anak-anak sedang duduk di depan toko.


”Sayang!”


Sarmi terkejut dengan hadirnya sang suami dengan tiba-tiba dengan nafas tidak beraturan dan keringat yang membasahi tubuhnya.


”Papa? Ada apa dengan mu, Pa?” Sarmi bertanya khawatir dan bingung.


”Sayang, Papa tidak apa-apa. Papa hanya berlari agar cepat sampai disini. Mama, pergilah ke rumahnya Anton, bawa anak-anak disana. Ini biar Papa yang lanjutkan.”


”Tidak, Pa. Kita kerjakan bersama-sama saja agar cepat selesai baru kita sama-sama ke rumahnya Anton.”


”Sarmi, dengarkan aku! Pergilah ke rumahnya Anton sekarang dengan anak-anak!” ucap Halim dengan suara tinggi.


Sarmi terdiam. Ia tahu jika suaminya sedang berbicara seperti ini, berarti ia sedang tidak ingin di bantah.


”Baiklah,” Sarmi mengalah. ”Tapi, tidak apa-apa Papa menyimpan ini sendirian?”


”Iya, pergilah sekarang!" ucap Halim tanpa memandang wajah sang istri.


Sarmi melangkah pergi dari pasar kerumah Anton bersama anak-anaknya dengan perasaan sedih.


Ada apa dengan mu, Pa? Apa ada hal yang tidak ku ketahui?


Mata Sarmi berkaca-kaca. Setelah kepergian Sarmi. Halim merasa sedikit tenang. Setidaknya ia tidak ingin Kevin tahu jika dirinya punya anak dan istri. Iya melanjutkan menutup toko dengan cepat. Namun, belum ia selesai menyimpan, kawanan Kevin telah datang.


Duak!


Pa'ang menendang Halim dari belakang, hingga Halim jatuh tersungkur di dalam toko. Halim bangkit.


Duak!


Halim balas menendang Pa'ang hingga Pa'ang jatuh tersungkur ke tanah. Erik dan Dido mengeroyok halim sekaligus. Halim meladeni mereka berdua, perkelahian kini tidak bisa terhindarkan lagi.


Orang-orang yang sedang menyimpan lari ketakutan. Mereka membiarkan barang dagangannya begitu saja. Mereka menghindar jauh beberapa meter dari tempat perkelahian terjadi.


Warga yang masih berada di pasar berlari kesana kemari menghindari mereka yang berkelahi.


Aaaaa!


Mereka berteriak histeris saat melihat salah satu di antara mereka yang berkelahi jatuh tersungkur terkena pukulan dan hantaman.


Di saat Halim menghajar Erik dan Dido, Nyong datang dan menendang Halim dari belakang dengan kuat.


Duak!


Halim jatuh tersungkur di tanah. Kevin datang, ia memegang kerah baju Halim hingga Halim berdiri.


”Akhirnya kita bertemu lagi Halim! Kamu sudah membuatku muak!"


Halim tertawa kecut. ”Heh, Kevin seharusnya kamu sudah berubah setelah keluar dari bui. Ingat! Kamu masih dalam pengawasan polisi.”


Bugh!


Kevin meninju muka Halim. Bibir Halim berdarah. Ia membalas meninju Kevin. Hingga bibir Kevin pun berdarah.


”Gara-gara kamu aku dan ibuku masuk penjara! Sampai-sampai ibuku mati di dalam sel, itu semua karena mu, Halim!” ucap Kevin dengan lantang.


”Aku tidak melakukan apapun, Kevin. Kamu dan ibumu masuk penjara, karena ulah kalian sendiri.” Halim berucap tak kalah tinggi suaranya dari Kevin.


Kevin marah.


”Brengsek!”


Ia menendang Halim, hingga Halim tersungkur di tanah. Saat itu Denis datang. Ia terkejut melihat Halim, bibirnya berdarah. Dan ia lebih terkejut saat melihat siapa yang menghajar Halim.


Kevin? Bukankah dia di penjara?


Denis ingin membantu Halim dan menghajar Kevin. Namun, baru ia bergerak, Halim menggelengkan kepala. Halim tidak ingin ada orang lain yang ikut kena imbasnya. Denis mengepalkan tangan dan memukul angin dengan kesal.


”Itu semua karena mu dan wanita penghianat itu, Halim! Di mana perempuan pengkhianat itu kamu sembunyikan? Cepat katakan!”


Kevin memegang kerah baju Halim yang masih terbaring di tanah. Kakinya menahan tubuh Halim dengan kuat agar ia tidak bisa bangkit.


”Siapa? Halima? Aku tidak tahu dia ada dimana. Aku sudah tidak berurusan dengannya.” jawab Halim sambil menahan sakit pada tubuhnya.


Sarmi kembali ke pasar, karena Halim belum juga pulang. Ia ingin membantu Halim.


”Cepat katakan dimana dia, Halim!” Kevin menekan setiap ucapannya dengan geram. ”Bukankah kamu menjadikan dia istri kontrak mu?”


”Apa? Ti-tidak!”


Sarmi yang baru tiba di sana terkejut melihat kondisi Halim dan ia lebih terkejut lagi mendengar ucapan Kevin. Bukan hanya Sarmi, Denis pun terkejut.


Halim terkejut mendengar suara Sarmi. Ia melihat Sarmi yang sudah meneteskan air mata. Halim memejamkan mata. Ia melihat Denis, mengkode Denis untuk membawa Sarmi dari sana.


”Aku tidak menjadikan dia istri kontrak ku, Kevin! Ak__”

__ADS_1


Bugh!


Kevin kembali meninju muka Halim tanpa melepaskan sebelah tangannya yang memegang kerah baju Halim. Hingga membuat Sarmi berteriak. Halim memandang Denis untuk memaksa Sarmi pergi dari sana. Kevin melihat Sarmi.


”Hei, perempuan! Kamu pergi dari sini! Jika tidak, jangan salahkan aku untuk menghajar mu juga!” bentak Kevin pada Sarmi.


”Kakak ipar, ayok kita pergi dari sini!” ajak Denis.


”Tidak Denis.” tolak Sarmi. ”Bagaimana aku meninggalkan su__”


”Pergi dari sini! Jangan ikut campur urusan ku!” bentak Halim pada Sarmi dengan suara lantang. Ia bermaksud memangkas ucapan Sarmi. Ia tidak ingin istrinya ikut kena masalah.


Sarmi terkejut. Ia semakin menangis. Ia tidak percaya di hari ini Halim berubah sikap padanya, memarahi dan membentaknya.


”Pergi!” ucap Halim lagi. Sarmi menggeleng dan berjalan mundur sambil melihat Halim. Lalu ia berbalik dan berlari ke rumah Anton. Denis mengikuti Sarmi.


Maaf kan aku Sarmi, selama pernikahan kita. Baru kali ini aku membentak mu dan berkata kasar padamu. Maaf kan aku sayang, aku hanya tidak ingin kamu terlibat disini. Biar aku sendiri yang menanggung ini.


Kevin kembali melihat Halim.


”Jangan membohongi ku, Halim! Kamu sangat tahu dimana Halima sekarang! Katakan, dimana kamu sembunyikan dia?” Kevin kembali bertanya dengan suara lantang.


”Sudah ku bilang aku tidak tahu di mana dia.” elak Halim.


Kevin kembali melayangkan tinju pada muka Halim dengan geram, bukan hanya itu, dengan memakai siku ia meninju perut dan dada Halim. Hingga Halim meringis kesakitan. Ia sudah tidak berdaya lagi.


Hamid dan Halima yang mengantar Syakila dan Fatma pulang kerumahnya, terkejut dengan kerumunan yang terjadi di pasar. Ia membelah kerumunan itu dan ingin melihat apa yang terjadi. Mereka berdua terkejut melihat kondisi Halim yang seperti itu, dan juga terkejut melihat Kevin yang menghajar Halim.


Kevin? Dia sudah bebas dari penjara? Bagaimana bisa?


Hamid dan Halima membatin.


Halim juga terkejut melihat kehadiran mereka di sana. Ia menggeleng kepala saat melihat Hamid yang bergerak maju untuk membantunya. Sama halnya seperti Denis, Hamid juga tidak bisa apa-apa.


”Hei, lepaskan P__” Halima dan Hamid serempak membungkam mulut Syakila dan Fatma yang ingin berbicara. Sesuai dengan kode Halim.


”Beritahu aku dimana dia berada, maka nyawamu akan ku ampuni!” tanya Kevin lagi.


Halim menggeleng, ”Aku tidak tahu dimana dia berada!” Halim tetap kekeh dengan jawabannya.


Halima menggeleng, matanya berkaca-kaca. Dalam kondisi tubuh yang lemah tidak berdaya itu, Halim masih melindungi dirinya. Pikir Halima.


”Jangan bohong Halim! Aku masih memberikan kamu kesempatan. Dimana dia?”


Halim menggeleng. ”Aku tidak tahu!” Dengan memaksakan diri, Halim menanduk kepala Kevin dengan kuat. Kevin meringis kesakitan.


Hamid menelpon Roni. Roni mengangkatnya.


”Halo, Ron. Cepat datang ke pasar sekarang! Kevin kembali berulah dan menghajar Halim.” ucap Hamid. Lalu ia mematikan telfonnya dengan cepat sebelum ada yang menyadari jika ia menelpon polisi.


.. ..


Sarmi memasuki rumah Anton dengan menangis. Membuat Anton dan istrinya bingung.


”Ada apa Sarmi? Mengapa kamu menangis?” Anton dan istrinya bertanya.


Belum sempat Sarmi menjawab Denis masuk ke rumah. Anton dan istrinya melihat Denis.


”Denis? Ada apa ini?” tanya Anton pada Denis.


”Bang, Kevin datang ke pasar. Ia memukul Halim.”


”Apa?” Anton terkejut. ”Mengapa kamu tidak membantunya?” ucap Anton dengan marah.


" Abang Halim tidak mengizinkan!”


”Kamu bodoh!" ucap Anton dengan marah. Anton melihat istrinya. ”Sayang, aku kesana dulu, kamu tenangkan Sarmi.” Serlina mengangguk.


Anton berlari pergi ke sana. Denis menyusul. Ia terkejut setelah sampai di sana. Halima dan Hamid membungkam mulut Fatma dan Syakila yang menangis. Mata Hamid berkaca-kaca sedangkan Halima menangis.


Ia melihat Halim yang masih berkelahi dengan Kevin, kini bukan Kevin yang di lawan Halim. Tetapi anak buah Kevin semua mengeroyok halim. Kevin tersungkur di tanah, ia mendapat tusukan pisau dari bawahannya sendiri yang tidak sengaja menusuknya saat ingin menusuk Halim.


”Hei, beraninya kalian masuk ke pasar dan membuat ulah!” teriak Anton. Mereka terkejut dengan kehadiran Anton. Namun, mereka tidak bisa mundur sekarang.


Anton sebagai kepala gang di pasar turun tangan. Ia membantu Halim menghajar anak buah Kevin. Anton terlibat baku hantam dengan Erik dan Dido. Sedangkan Halim, saling hajar dengan Nyong dan Pa'ang.


Pa'ang kembali mengarahkan pisau pada Halim. Namun, Halim dengan cepat menendang tangan Pa'ang hingga pisau terjatuh di tanah. Ia kembali menendang tubuh Pa'ang.


Kevin melihat pisau. Ia mengambil pisau itu dan berdiri. Ia memiliki kesempatan untuk menikam Halim.


Jleb!


Jleb!


Fatma dan Syakila menggeleng dan membelalakkan mata melihat papanya di tikam. Mereka meronta agar Hamid dan Halima melepaskan tangan mereka dari tubuh dan mulut mereka. Fatma dan Syakila semakin menangis. Namun, suaranya tertahan dari mulutnya.


Dua tusukan mendarat di tubuh Halim. Halim menghadap Kevin. Dengan sekuat tenaga ia meninju tepat di perut Kevin yang luka. Setelah meninju ia melayangkan tendangannya dengan kuat pada Kevin.

__ADS_1


Halim dan Kevin sama-sama tersungkur ke tanah. Bertepatan dengan polisi datang.


”Tangkap Kevin bersama bawahannya!” titah Fahroni pada bawahannya. ”Bawa mereka ketahanan dan panggilkan dokter untuk Kevin sesampainya di sel.” titahnya lagi pada salah satu bawahannya.


”Baik, Pak!” sahut mereka kompak.


Polisi menangkap bawahan Kevin. Berikut dengan Kevin. Dan membawa mereka ke kantor polisi.


Denis, Anton, Hamid, dan Halima juga Fatma menghampiri Halim begitu juga dengan Fahroni.


”Papa!” Fatma


”Halim!” Hamid, Anton, Roni.


”Abang!” Denis. Mereka berucap dengan sedih dan khawatir.


”Denis, ambil mobil cepat! Kita harus bawa Halim ke rumah sakit.” titah Anton pada Denis. Denis mengangguk.


”Tidak usah Denis, mobilku ada disana.” cegah Hamid. ”Tunggu!”. Ia berdiri


”Tidak usah Hamid.” cegah Fahroni. ”Pakai mobilku saja! Angkat Halim bawa ke mobil.” titah Fahroni.


Fahroni mendahului langkah, ia masuk ke mobil dan menyalakan mesin mobil. Tubuh Halim di angkat oleh Anton dan Denis dan meletakan pelan tubuh Halim yang lemah ke dalam mobil. Anton yang mengikuti Halim. Dan ia menyuruh Denis untuk memberitahukan ini pada istrinya dan juga pada Sarmi.


Fatma mengikuti Hamid dan Halima masuk ke mobil mereka. Hamid mengikuti mobil Roni dari belakang menuju rumah sakit.


Semoga Halim tidak apa-apa.


benak Hamid dan Halima.


Denis pergi kerumah Anton. Sarmi masih menangis di pelukan Serlina. Denis masuk ke rumah dengan tergesa-gesa.


"Denis, kamu pulang sendiri? Mana Anton dan Halim?” tanya Serlina saat melihat Denis masuk kedalam rumah.


”Kakak ipar, Abang Halim terluka, sekarang ia di larikan ke rumah sakit memakai mobil Fahroni dan Abang Anton menemani Abang Halim.” jelas Denis.


”Apa?” Sarmi dan Serlina sama-sama terkejut. ”Denis, ayo kita susul mereka!” ucap mereka berdua. Denis mengangguk. Ia mengambil kunci mobil, dan mengeluarkan mobil dari garansi.


Sarmi dan Serlina masuk ke mobil yang sebelumnya Serlina meminta karyawannya untuk menjaga anak-anak mereka. Denis segera menjalankan mobilnya menuju rumah sakit. Rumah sakit di kota A hanya satu saja, sehingga mereka tidak kebingungan mencari rumah sakit dimana Halim di bawa.


Ya Allah, selamat kan suamiku


benak Sarmi.


Sedangkan Syakila, ia sedang mengikuti mengikuti salah satu pria yang mencurigakan baginya. Ia mendengar pria itu berbicara dengan seseorang lewat telepon.


”Baik, kita akan ambil keuntungan dari sini. GEGE akan menjadi musuh masyarakat dari sekarang. Baik...baik...” panggilan terhenti.


”Paman, siapa itu GEGE?" tanya Syakila.


”GEGE adalah orang yang bertanggung jawab atas kejadian ini.” ucap pria itu berbohong. Ia pergi dari sana.


Syakila juga pergi menemui tante Halima. Namun, pasar sudah sunyi tidak ada orang lagi di sana. Syakila berlari kerumah. Ia pikir mereka sudah pulang kerumah. Namun, ia tidak juga menemukan papahnya di sana. Syakila kembali berlari ke tempat kejadian, di saat itu Hamid datang.


”Syakila, ayo masuk sayang.” ajak Halima.


Di saat Halima menyadari Syakila tidak berada di antara mereka, ia menyuruh Hamid putar balik. Setelah Syakila masuk, Hamid menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata menuju rumah sakit.


Anak buah Kevin sudah berada di dalam sel. Sedangkan Kevin disimpan di lemari tempat mayat. Kevin meninggal saat perjalanan menuju kantor polisi.


Mobil Hamid tiba di rumah sakit, bertepatan dengan di dorongnya Halim menuju ruang UGD. Halim di periksa. Ia sudah tidak memiliki waktu untuk hidup lagi. Ia menyuruh dokter untuk memanggilkan Sarmi. Dokter menurut, ia menyuruh suster untuk membiarkan orang yang di panggil masuk. Sedangkan dokter terus berusaha mengobati Halim.


”Saudara Sarmi, mohon ikuti saya.” pinta suster.


Sarmi mengikuti suster masuk ke dalam ruangan UGD. Sarmi mendekat ke Halim. Halim mulai merasa akan kehilangan kesadaran.


”Sarmi, maafkan papa sudah membentak, dan membuat mu menangis. Papa tidak berniat begitu, Papa tidak ingin Mama terkena masalah. Apa yang Mama dengar tadi, itu tidak benar. Papa cuma memiliki satu istri yaitu Sarmi Prameswari.”


Sarmi mengangguk. ”Mama percaya dengan Papa, Papa jangan dulu banyak bicara.”


Halim merasa kesakitan di sekujur tubuhnya. ”Mama, keluarlah. Panggilkan Syakila kemari.” pinta Halim. Sarmi tak ingin membantah. Ia mengangguk.


Ia keluar dari ruangan. ”Syakila, masuk kedalam, Papa memanggil mu.” ucap Sarmi dari pintu ruang UGD.


Syakila masuk kedalam, Sarmi menutup pintunya dari luar. Syakila berjalan cepat ke papanya sambil menangis.


”Papa!”


Halim ingin memegang wajah Syakila namun tangannya sudah lemah, dan tidak bisa di gerakkan lagi.


”Syakila, maaf kan Papa. Syakila maukah kamu berjanji pada Papa satu hal?"


”Apa, Papa.”


”Berjanjilah, jika ada seseorang bernama Alber atau Rosalina meminta sesuatu, kamu penuhi yah. Itu merupakan janji Papa dengan mereka. Kamu mau berjanji untuk Papa Syakila?”


”Iya Papa, Syakila berjanji. Syakila yang akan memenuhi janji Papa.”

__ADS_1


"Terima kasih sayang!” ucap Halim dengan tersenyum. Matanya terpejam. Detak jantung tidak terdengar lagi di layar. Para dokter menjadi panik. Syakila hanya memandang mereka dengan bingung.


__ADS_2