
”Jika kamu tidak mengenalnya, mengapa kamu terus memandang nya begitu? Kamu kasihan padanya? Atau wajahnya sangat tampan?” tanya Geo lagi, wajahnya tampak gusar.
”Tidak! Aku hanya penasaran saja sama dia.” jawab Syakila, masih memandang Vian.
Drrrrrt drrrrrt! Handphone Vian kembali berdering. Syakila meraih handphone tersebut dari saku Vian. Ia melihat ”Seva memanggil...”
”Seva?” gumamnya kecil.
Geo terdiam, Seva? Itu artinya, penyerangan ini ada campur tangan dari Antonio. Cih, paman dan anak kemenakan bekerja sama untuk menghancurkan ku? benaknya.
”Berikan handphonenya padaku!” titahnya.
Syakila menurut, ia memberikan handphone tersebut pada Geo.
Geo mengambilnya, ia mengangkat telfon tersebut, ”Datang kemari dan ambil paman dari bos mu! Jika kamu terlambat lima belas menit saja datangnya, maka ucapkanlah selamat tinggal pada bos mu ini!” ucapnya, ia langsung mematikan telfon tersebut dan melemparkannya pada tubuh Vian.
”Apa kamu mengenal orang ini? Siapa dia?” tanya Syakila penasaran.
”Namanya Vian, kenapa?” jawab Geo, dengan ketus.
”Apa dia pernah tinggal di kota A?”
”Dia memang tinggal di kota A! Kenapa?” jawab Geo, masih dengan ketus.
”Apa dia pemimpin dari logo Eg?” tanya Syakila lagi.
”Hum, apa kamu teringat sesuatu melihat logo itu?” tanya Geo, selidik.
Syakila mengangguk sambil melihat Vian. ”Logo Eg ku lihat pada sekelompok orang yang pernah menyerang ku di lorong kecil saat aku pulang dari mengajar, di kota A. Logo itu juga ku lihat salah satu orang yang menyerang ku malam itu memakainya.” ungkapnya.
”Apa?!” Geo dan Rivaldi sama-sama terkejut.
”Apa kamu pernah mencari masalah dengan kelompok mereka? Mengapa kamu tidak memberitahu ku waktu kamu di serang di kota A?” tanya Geo, penuh selidik. Ia menatap Syakila.
”Aku tidak pernah mencari masalah dengan kelompok tersebut. Apalagi Vian, aku baru melihatnya sekarang. Aku juga tidak tahu mengapa mereka menyerang ku. Waktu serangan di kota A, mereka meminta ku untuk menemui bos mereka, tetapi aku menolak, sehingga kami berkelahi. Lagi pula, saat itu aku dan kamu belum dekat.” ungkap Syakila lagi.
Geo terdiam, Jika penyerangan malam itu perintah dari Marlina, aku tahu apa tujuannya. Tapi, Vian...apa tujuan dia? benaknya.
”Mengapa dia ingin bertemu dengan mu?” tanyanya kemudian.
Syakila menggeleng, ”Aku tidak tahu! Aku...” jawabnya.
”Tuan, Gun dalam perjalanan kemari.” ucap Ijan sembari memberikan handphone ke Geo, memangkas ucapan Syakila.
”Hum.” singkat Geo menyahuti, ”Syakila, apa tidak ada barang mu yang tertinggal di kamar Rivaldi? Jika ada, pergi ambillah, kita akan pulang setelah Gun datang.” ucapnya lagi pada Syakila.
”Tidak ada.” sahut Syakila.
”Sebaiknya, sebelum kamu pulang, aku bersihkan dulu lukamu itu. Atau kamu ingin pulang dengan sudut bibirmu yang berdarah dan kening mu yang memar itu, Geo? Apa kata mertuamu nanti? Dan aku perlu memeriksa kembali perut dan kaki mu, kamu baru saja di hajar oleh Vian, aku takut akan ada masalah di dalam tubuh mu.” ucap Rivaldi.
”Baiklah!” Geo menurut.
”Kalau begitu, mari kita pergi ke ruang klinik ku.” ajak Rivaldi.
Geo mengangguk, ”Ijan, kamu tunggu Seva di sini.” ucapnya.
”Baik, Tuan!” sahut Ijan.
Syakila mendorong kursi roda Geo memasuki ruang klinik.
”Di dalam sini tampak baik, kenapa pintunya bisa rusak?” tanya Syakila, penasaran.
”Tidak usah di pertanyakan lagi, semua sudah terjadi. Baringkan Geo di atas ranjang.” jawab Rivaldi.
”Tidak, aku ingin duduk bersandar saja.” sahut Geo.
Syakila melihat Rivaldi, pria itu mengangguk setuju. Syakila membantu Geo duduk bersandar di ranjang.
”Syakila, kamu tolong pergi ke kamar ku untuk mengambil handphone ku. Handphone ku berada di dalam laci nomor dua.” ucap rivaldi lagi.
”Hum.” sahut Syakila, menurut. Ia keluar dari ruang klinik.
__ADS_1
Rivaldi mengambil peralatan obatnya. Ia membersihkan luka di sudut bibir Geo.
”Apa perut mu sakit? Ku lihat tadi kamu meringis sambil memegang perut.” tanyanya.
”Tidak, aku hanya berpura-pura saja. Terima kasih, kamu sudah berusaha keras menyembuhkan ku dalam waktu singkat.”
”Tidak masalah, apa kamu yakin akan menyembunyikan kesembuhan mu pada Syakila? Dia tidak suka di bohongi.” ucap Rivaldi, sambil mengoleskan salep luka di sudut bibir dan di kening Geo.
”Hanya itu caraku untuk menahan dia di sisiku.”
Rivaldi memandang Geo dengan serius, ”Syakila mungkin pernah berbohong, tapi, untuk kebaikan semua orang. Tapi, jika suatu hari dia tahu di bohongi, dia akan membenci mu seumur hidupnya.” ucapnya, memperingatkan.
Geo menghela nafas, ”Aku tidak ada cara untuk menahan dia, hanya itu caraku. Terima kasih, kamu sudah memperingatkan ku, aku akan menerima segala konsekuensinya, meskipun dia membenci ku, tapi, dia tetap di sisi ku.” ucapnya dengan serius.
”Bagaimana dengan penyakit alergi ku? Apakah juga sudah sembuh?” tanyanya.
”Seharusnya jika melalui darah, sudah tidak masalah lagi. Tinggal tergantung bagaimana kamu sendiri, jika kamu berbaur dan membiasakan diri bersentuhan, atau satu ruangan dengan hawa orang lain, perlahan-lahan kulitmu mulai bisa menerima hawa orang lain, maka kamu sudah sembuh. Dan kami tidak perlu khawatir lagi dengan alergi hawa dari yang berbeda dengan hawa kulit mu.” jawab Rivaldi, menjelaskan.
”Tuan, ini obat herbal yang Tuan minta.” ucap Saldi, sambil menyodorkan satu mangkok obat herbal yang telah di seduh.
Rivaldi mengambilnya, ” Terima kasih, Saldi.” sahutnya. Ia menyodorkan mangkok itu pada Geo, ”Ini, ambillah, ini obat terakhir yang ku berikan untuk mu.” ucapnya lagi pada Geo.
Geo mengambilnya dan meminumnya sampai habis dalam satu kali teguk. Ia menyimpan mangkok kosong itu di atas meja, samping ranjang. ”Terima kasih,” ucapnya tulus.
”Hum, aku juga terima kasih untuk mu. Aku senang bisa mengenali mu. Dan maaf, jika kadang sikap ku kasar padamu. Kelak, jika kamu berkunjung ke kota ini, datang dan temui aku, ok?” sahut Rivaldi.
”Ok,” jawab Geo, mereka berdua saling berjabat tangan dengan erat.
”Kalian berdua serius sekali bicaranya, bicarakan apa? Apa boleh aku tahu?” tanya Syakila, ia baru datang dari rumah Rivaldi sambil memegang handphone milik Rivaldi. Ia memberikan handphone tersebut pada Rivaldi. ”Al, ini handphone mu.” ucapnya.
Rivaldi mengambilnya, ”Terima kasih,” ucapnya tulus.
”Sama-sama, Al. Oh, iya, gimana keadaan Geo? Dan apakah ada perubahan selama ia berobat di sini, Al?” tanya Syakila dengan serius.
”Em...itu...”
Tok tok tok, ”Tuan, maaf, mengganggu, Gun telah datang dan sedang menunggu di depan pagar.” ucap Ijan, menghentikan ucapan Rivaldi.
”Hum, apakah Seva sudah datang menjemput Vian?” tanya Geo.
”Hum, pergilah, kamu urus apa yang aku katakan padamu sebelumnya. Kerjakan semuanya dengan baik, aku tidak ingin mendengar keluhan apapun dari teman ku.” ucap Geo, sambil merangkul pundak Rivaldi yang duduk di sampingnya itu.
”Baik, Tuan.” sahut Ijan, ia segera pergi dari sana.
”Sebaiknya kalian pergilah sekarang, kalian harus beberes lagi untuk kembali ke kota A. Syakila, maaf, aku sudah berusaha semampuku untuk menyembuhkan suami mu, untuk tulang kaki dan tulang belakangnya seharusnya dudah tidak bermasalah lagi. Tinggal tergantung dia yang berusaha sendiri untuk berdiri dan berjalan.” ucap Rivaldi.
Syakila tersenyum, ”Itu sudah merupakan berita baik, aku akan berusaha untuk menyembuhkan dia secara total. Aku yakin, Geo juga tidak ingin duduk di kursi roda seumur hidupnya. Dia pasti akan giat untuk berlatih berdiri dan berjalan.” ucapnya dengan senang.
”Baiklah, kami pergi dulu, terima kasih, Al. Maaf, sudah merepotkan mu beberapa hari ini. Dan maaf, kami pergi begitu saja dari rumah mu, padahal rumah mu berantakan begini karena kami.” ucapnya lagi, dengan sedih.
Rivaldi tertawa kecil, ”Tidak usah sungkan begitu. Geo adalah orang yang bertanggung jawab untuk semua yang rusak, bukan kah begitu, Geo? Dan di sini, ada Ijan dan Gun nanti yang membantu ku membersihkan kekacauan ini.” ucapnya.
”Pergilah, jika berbicara terus, waktu kalian akan terhambat.” ucapnya lagi.
”Baiklah, aku pergi, Al.” pamit Syakila.
”Aku pergi!” pamit Geo.
”Hum,” singkat Rivaldi menyahuti.
Syakila dan Geo pergi dari sana. Rivaldi masih memandang punggung kedua orang itu.
Maaf, Syakila. Aku tidak mengatakan yang sebenarnya padamu, kalau Geo sudah sembuh total. Kamu akan mengerti dengan posisiku kelak, jika kamu tahu aku membantu Geo untuk berbohong. benaknya.
Mobil Geo telah pergi jauh. Rivaldi berbalik, ia melihat keadaan kediamannya, ”Rumah ku!” gumamnya ringan sambil melihat sekeliling area rumah, klinik, dan tanaman obatnya yang berantakan itu.
Ia masuk ke dalam rumahnya, langsung pergi ke kamarnya. Ia membanting dirinya di atas ranjang. ”Aku mengantuk sekali, demi melatih Geo, aku melewatkan jam istirahat ku. Di tambah lagi, berkelahi dengan musuh Geo. Badanku sangat lelah, pegal, aku butuh istirahat.” gumamnya lagi.
Ia langsung tertidur karena efek kelelahan.
.. ..
__ADS_1
Di rumah sakit xxx.
”Bagaimana kondisi paman ku, Seva?” tanya Antonio khawatir. Ia terkejut mendengar kabar dari Seva jika Vian, pamannya sedang dalam perawatan medis sekarang.
”Tuan! Tuan Vian masih di dalam sana, masih menjalani perawatan, Tuan.” jawab Seva.
”Siapa yang membuatnya menjadi seperti ini?” tanya Antonio lagi.
Seva menunduk, ”Maaf, Tuan. Tuan Vian mengetahui keberadaan Geo di kediaman Rivaldi. Jadi, Tuan menyerang Geo di sana, tidak di sangka, tuan Vian kalah.” ungkapnya.
”Jadi, Vian menghubungi ku meminta mu menemuinya untuk menyerang Geo?” tanya Antonio lagi.
”Iya, Tuan.” jawab Seva, masih menunduk.
”Mengapa kamu tidak melindungi paman ku?”
”Maaf, Tuan. Sewaktu kami ingin menyerang, tiba-tiba saja, sekelompok bawahan Geo datang lebih banyak dari jumlah kami. Kami mundur saat itu, tapi, tuan Vian dan beberapa orang lainnya tetap berada di sana. Tuan Vian mencurigai, jika kelompok orang itu tidak akan berjaga di waktu yang lama. Ternyata, dugaan tuan Vian benar, dan di waktu sekelompok orang itu pergi, tuan Vian dan yang lainnya menyerang Geo.” ungkap Seva lagi.
”Lalu, bagaimana dengan kondisi Geo sendiri?”
”Maaf, Tuan. Sepertinya, Geo nampak baik-baik saja. Ada Ijan, Rivaldi dan anak buah Rivaldi juga ada Syakila yang melindungi Geo. Mereka semua orang ahli ilmu beladiri.” ungkap Seva lagi.
Antonio terdiam. Syakila, dia sebenarnya punya posisi apa di keluarga Albert? Apa dia pelayan pribadi yang selalu mengurusi Geo? Jika aku punya kesempatan bertemu dengannya, aku ingin membahas ini bersamanya. Apa dia mau bekerja sama dengan aku? benaknya.
”Apa kamu sudah tahu kapan Geo akan kembali ke kota A?”
”Belum, Tuan.” jawab Seva. ”Tuan, duduklah dulu, Tuan baru saja sembuh, jangan terlalu banyak berdiri.” ucapnya lagi, menasehati.
Antonio menurut, ia duduk di kursi di depan ruang UGD. Dia memang belum lama sembuh, anjuran dari dokter ia harus patuhi.
Aku masih harus tetap berada di kota ini sampai paman ku sembuh. benaknya.
.. ..
Di kediaman Sarmi.
”Apa anggota keluarga mu sudah bangun di jam segini?” tanya Geo.
”Seharusnya sedikit lagi kakak akan bangun untuk memasak sarapan pagi.” jawab Syakila.
Mereka berdua masih berada di dalam mobil, di depan rumah Sarmi.
”Ini baru jam 4 : 30 pagi. Hari masih gelap. Apa kita menunggu di sini saja? Aku sudah gerah ingin sekali mandi sekarang.” ucap Geo.
”Sayangnya aku gak punya hape, jika tidak, aku sudah menghubungi Fatma atau Hardin untuk membukakan pintu rumah.” sahut Syakila, ia melirik tajam Geo. Di kepalanya teringat kembali saat Geo membanting hape dan merusak kartu sim card nya.
Geo menyadari itu. ”Jangan menyalahkan ku! Itu salah mu sendiri! Jangan harap dengan bicaramu dan lirikan mu itu, membuat ku bersalah dan membelikan handphone baru untuk mu. Tidak akan!!” ucapnya dengan tegas.
”Siapa juga yang memintamu untuk membelikan handphone untukku? Apa kamu kira aku tertarik dengan uangmu?” gumam Syakila dengan kecil, melirik Geo kembali.
”Kamu bilang apa barusan?!” sahut Geo dengan ketus, sambil mencubit dagu Syakila. Ia mendengar gumaman kecil Syakila itu.
Syakila mengalihkan pandangannya, ”Aku tidak bilang apa-apa! Kita turun saja dari mobil, kita lebih baik duduk di teras rumah, menunggu kakak bangun.” ucapnya, Syakila sengaja mengalihkan pembicaraan.
Geo melepas tangannya dari dagu Syakila, ”Aku tidak peduli kamu memegang uang siapa, tapi, berani aku melihat mu membeli sebuah ponsel.” Geo menjeda ucapannya, melihat Syakila dengan tajam. ”Bukan hanya ponsel barumu yang rusak, semua ATM yang ada di tangan mu akan hangus terbakar!!” ucapnya lagi, mengancam.
Ia melihat Gun. ”Gun, bantu aku turun!” titahnya pada Gun.
Syakila menghela nafas, Emosi orang ini memang tidak bisa di tebak jika sudah meluap. Dia sudah berkata begitu, apa aku tetap tidak boleh memiliki ponsel? Bagaimana bisa berkomunikasi dengan Sardin nanti? Laki-laki gila ini, aturannya sangat aneh-aneh! benaknya sambil melirik Geo yang keluar dari mobil.
Ia bersandar, kembali menghela nafas, matanya terpejam. ”Lelaki sialan ini, kenapa gak bisa sembuh sih dengan pengobatan dari guru ku? Seharusnya dia sudah sembuh kan? Aku ingin cepat-cepat bercerai dan pergi dari dia secepatnya! Dasar lelaki gila!!” gumamnya pelan.
”Nyonya, tuan memintamu segera turun dari mobil.” ucap Gun.
Syakila tersentak kaget, ”Gu...Gun, sejak kapan kamu masuk ke mobil? Kenapa aku gak mendengar suara kamu membuka dan menutup pintu mobil? Apa...kamu....” ucapnya, ia melihat Gun yang sudah duduk di bangku kemudi dengan rasa takut.
”Nyonya, turunlah! Jangan membuat tuan ku menunggu lama!” sahut Gun dengan ketus, menatap Syakila. ”Dan lagi, tuan ku bukan lelaki yang gila! Jika bukan karena kamu penting bagi tuan ku, aku sudah membunuh mu sekarang, meski status Nyonya adalah istri dari tuan ku!!” ucapnya lagi dengan tegas.
Membuat Syakila terdiam dan gemetar ketakutan. Nada bicara Gun sangat pedas dan tatapannya seperti pedang panjang yang siap menghunus lawannya.
”Masih ingin membuat tuan ku menunggu lama?!” ucap Gun lagi, setiap ucapannya penuh penekanan. Tatapannya masih tajam menatap Syakila.
__ADS_1
”Ah, aku...aku keluar sekarang...” sahut Syakila gugup. Ia keluar dari mobil, bergegas menghampiri Geo yang ada di teras rumahnya.
Gun masih berada di dalam mobil, menunggu Syakila dan Geo. Dialah yang akan mengantar Geo dan Syakila ke bandara pesawat pribadi Geo.