Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 193


__ADS_3

Di perjalanan menuju Eg.


Mobil melaju sedikit kencang. Kendaraan di jalan itu terbilang lumayan sepi. Hingga melaluinya pun tak akan membuat macet.


Siapa sebenarnya yang memberitahu kan keberadaan ku di villa. Yang tahu aku di villa hanya paman. Tidak mungkin kan paman bermain dua peran? benak Antonio.


Jika aku sudah menjadi buronan begini. Lebih baik membunuh dua hingga tiga nyawa lagi baru serahkan diri di kepolisian. Hukuman ku juga agak sedikit ringan, karena menyerahkan diri. Jika tidak, setelah membunuh Geo, Syakila, dan Rosalina, aku kabur ke luar negeri. Aku akan aman. benaknya lagi.


Mobil mereka berputar arah. Mengambil jalur pasar untuk ke perumahan Eg. Antonio melihat pengendara motor di depan sana mirip dengan Sardin, kekasih gelap Syakila.


”Kejar motor itu! Cegah dia sebelum masuk area jalan pasar!


”Ok, Bos!” sahut sang supir.


Tingkat laju mobil di tambah. Mobil tersebut berhasil mendahului motor lalu, ia memotong jalan motor tersebut.


Sardin menghentikan motornya dengan tiba-tiba. Ia marah melihat mobil di depan sana yang sengaja memotong jalannya.


Siapa mereka? Kenapa menghadang jalan ku? benak Sardin.


”Turun! Bawa dia!” titah Antonio.


”Baik, Bos!”


Dua orang yang duduk di belakang mobil segera turun.


Sardin semakin bingung melihat dua orang yang turun dari mobil, berpakaian serba hitam, berotot besar dan ada tato di kedua tangan pria itu.


Sepertinya, niatnya gak baik! Aku lawan atau kabur saja yah? Jika melawan, takutnya di dalam sana masih ada beberapa orang lagi yang akan turun menghajar ku. benak Sardin.


Ia menghidupkan kembali motornya dan bersiap pergi dari sana. Namun, ia mendapatkan kesialan. Ban motornya tiba-tiba pecah terkena tembakan dari dalam mobil.


Kedua pria itu sudah dekat pada Sardin.


”Siapa kalian? Ada perlu apa dengan ku?” tanya Sardin. Ia tidak takut pada kedua pria itu.


”Ikut kami secara baik-baik atau kami paksa?” tanya salah satu pria itu.


”Saya tidak akan ikut kalian!” jawab Sardin dengan lantang.


Kedua pria itu mulai melakukan aksinya. Perkelahian tidak bisa terelakkan lagi. Mereka berkelahi satu lawan dua.


Namun, tenaga kedua pria itu tidak bisa di bandingkan dengan tenaga Sardin. Kemampuan bela diri mereka jauh di bawa dari bela diri yang di miliki Sardin.


”Bos! Aku tembak kedua kakinya saja, bagaimana?” usul anak. udah Antonio.


”Jangan! Dia bukan korban kita, aku hanya akan menjadikan dia pancingan untuk seseorang.” Antonio menyeringai jahat. ”Bius dia!”


Orang yang memberi usul itu mengangguk. Ia mengambil sapu tangan di sakunya dan menuangkan bius yang memang selalu tersedia di mobil itu, kedalam sapu tangan tadi.


Ia keluar dari mobil. Sapu tangan itu ia lipat menjadi kecil, hingga tak terlihat.


Sardin masih terlibat perkelahian dengan dua pria itu. Ia tidak memperhatikan orang yang baru keluar dari mobil.


Di saat yang tepat. Pria itu berjalan cepat, tanpa suara ke belakang Sardin. Dan dengan cepat pula, ia menutup hidung Sardin dengan sapu tangan yang telah di beri bius itu.


Sardin memberontak. Namun, kedua tangan dan kakinya di tahan kuat oleh kedua pria tadi. Hingga ia tidak punya tenaga untuk memberontak. Perlahan, ia pun melemah, tidak sadarkan diri, setelah menghirup cukup lama aroma bius di sapu tangan tersebut.


Mereka pun memasukkan tubuh Antonio ke dalam mobil.


Antonio tersenyum jahat. ”Bagus!! Ayo jalan!” titahnya.


Mobil pun kembali melaju.


.. .. ..


Di jalan kecil. (pengejaran Antonio).


Wandi dan anak buahnya menghela nafas. Mereka telah lelah mengejar Antonio sampai di jalan besar. Namun, mereka tidak menemukan sosok Antonio.


Jika mereka berpikir salah mengambil jalur, jalan yang mereka lewati tadi, ada sedikit celah injakan kaki seseorang yang terlihat.


Apalagi setelah mereka sampai di jalan besar, mereka melihat jejak sepatu yang kentara. Jadi, mereka tidak salah jalan.


”Target sudah pergi, Pak!” ucap anak buah Wandi.


”Telfon Rano... jemput kita di sini.” hanya itu ucapan Wandi.


”Baik, Pak!” ia pun menghubungi Rano untuk menjemput nya. Ia mengirimkan signal keberadaan mereka pada Rano.


”Pak Rano dalam perjalanan kesini Pak. Saya sidah mengirimkan lokasi kota padanya.” ucap anak buahnya.


”Hum! Kita tinggu di sini.”


”Siap, Pak!”


Mereka duduk bersantai di pinggir jalan untuk menunggu kedatangan Rano.


Sebenarnya siapa yang membantu Antonio? Vian? Atau Beni? benak Wandi.


Ia penasaran, ia pun mencoba menghubungi Beni. Telfonnya tersambung. Beni mengangkat nya.


”Beni. Antonio berhasil kabur dari kejaran.” ucap Wandi.


”Kabur! Bagaimana bisa? Apakah dia tahu kalian akan menyergapnya di sana?”


”Sepertinya begitu! Kami mengikuti jejak kakinya dan jejaknya menghilang di jalan besar. Sepertinya ada yang membantunya.”


”Mungkinkah itu Vian?” ucap Beni.


” Mungkin saja. Sudah dulu.” tut tut tut! Ia langsung memutuskan sambungan telefon. Dan menyimpan hapenya kembali.

__ADS_1


Beni bukan orang yang membantunya. Tidak salah lagi, pasti Vian yang membantunya. benak Wandi.


”Pak! Pak Rano telah datang.”


Wandi sedikit terkejut merasakan tepukan di bahunya. ”Ada apa?” ia tidak sadar, ia melamun hingga tidak mendengar ucapan anak buahnya.


”Pak Rano telah datang Pak!” ucapnya kembali.


”Oh...naiklah! Kita akan kembali!” ia berdiri dan masuk ke dalam mobil bersama rekannya.


Mobil pun pergi dari sana. Melewati jalanan yang masih jarang di lalui orang. Samping kiri dan kanan, tumbuh ber-bagai macam pohon juga rumput-rumput dari yang rendah hingga yang tinggi.


”Telfon Dio, utus beberapa orang untuk mengintai Vian di rumahnya. Dan kemana saja dia pergi dan sama siapa saja dia berhubungan.” titah Wandi.


”Baik, Pak!” sahut anak buahnya. Ia pun menuruti perintah Wandi. Menelpon Dio dan menugasinya mengawasi Vian dan segala aktivitasnya.


”Ambil jalur pasar! Kita singgah makan dulu.” titah Wandi.


”Baik, Pak!” sahut Rano.


Wandi sudah merasa lapar. Bukan hanya dirinya, ia melihat anak buahnya lemas tak bertenaga. Ia tahu jam makan siang telah berlalu beberapa jam tadi.


”Pak, di pinggir jalan itu ada sebuah motor Pak!” ucap Rano.


Wandi melihat arah lihat Rano. Benar saja, ada motor yang tergeletak di pinggir jalan raya itu. ”Tepi kan mobil!”


Mobil menepi setelah melewat beberapa centimeter meter dari motor tersebut.


Wandi turun dari mobil. Dua anak buahnya ikut turun menemaninya. Wandi memeriksa motor itu. Bannya pecah akibat kena tembakan.


Ia melihat plat motor tersebut. ”Ini motornya Anton. Kok, bisa ada di sini? Siapa yang bawa?” gumamnya.


Ia menelpon Anton. Telfon tersambung.


”Halo, Wan, ada apa menelepon?”


”Anton! Siapa yang bawa motor mu?”


”Motor? Oh...anak kemenakan ku, Sardin. Memangnya kenapa? Apa Sardin membuat pelanggan lalu lintas?” tanya Anton.


”Tidak. Aku menemukan motor mu tergeletak di pinggir jalan. Dan aku tidak melihat keponakan mu itu.” ungkap Wandi.


”Apa? Di mana kalian? Aku akan segera ke sana!”


”Dari pasar kamu ambil lintasan kiri dan jalan terus ambil jalur kanan. Aku akan menunggu mu di sini.” ucap Wandi.


”Ok.” sahut Anton. Telefon terputus.


.. ..


Di rumah Anton.


”Apa yang terjadi dengan Sardin, Pa?” tanya Serlina. Ia ikut khawatir melihat wajah khawatir dari suaminya.


”Ya, Allah, semoga Sardin baik-baik saja ya, Pa.” ucap Serlina.


”Aamin...Papa pergi dulu Ma!” pamitnya.


”Iya, Pa. Hati-hati, ya, Pa.” sahut Serlina.


”Hum!” Anton menyahuti dengan deheman. Ia keluar dari rumah. Serlina melihat Anton dari bibir pintu.


Anton masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya.


.. ..


Di kediaman Albert.


Kenapa aku jadi gelisah begini? Apakah terjadi sesuatu dengan Sardin? benak Syakila.


Ia terlihat gelisah. Duduknya menjadi tidak nyaman. Hati dan pikirannya tertuju pada Sardin.


Semoga dia baik-baik saja. Aamiin. benak Syakila lagi.


”Geo kemana sih? Sudah lama dia pergi belum juga kembali.” gumamnya. Ia merubah wajahnya menjadi kesal.


Pintu kamar terbuka. Syakila memberikan tatapan tajam pada Geo. Geo mengerutkan keningnya melihat Syakila yang menatapnya tajam begitu.


”Kenapa?” tanyanya, ia berjalan mendekati Syakila. Ia duduk di sisi ranjang, menghadap Syakila.


”Di mana handphone ku?”


”Ada, ku simpan di la...”


”Ambilkan!” pangkas Syakila.


Geo bergeming.


”Ambilkan! Aku ingin menelfon ibuku.” ucap Syakila lagi.


Geo menghela nafas. Ia berdiri, berjalan ke meja hias Syakila. Ia membuka laci dan mengambil handphone. Ia kembali menghampiri Syakila. ”Ini.” ia memberikan hape tersebut pada Syakila.


Syakila mengambilnya. Ia menyalakan handphone tersebut. Keningnya mengerut, handphonenya berbunyi.


Siapa yang menelepon nya? Apakah Sardin lagi? benak Geo. Ia tetap duduk di tempatnya, mendengarkan pembicaraan Syakila dengan si penelepon.


Syakila mengangkat telfonnya. ”Halo, Ma.” sapa nya.


Oh .. ternyata mamanya yang menelpon. Apakah kontak batin ibu dan anak begitu tepat? Kebetulan sekali, Syakila ingin menelfon mamanya. Ternyata, mamanya yang menelfon duluan.


Eh, tunggu! Mamanya yang telfon! Apakah mamanya telah tahu kebenaran tentang pernikahan tidak sah itu? benak Geo.

__ADS_1


”Syakila...adik mu, Hardin, kena musibah...” Sarmi berbicara dengan sedih, menahan tangis.


”Ap..apa Mah?” Syakila terkejut dan gemetar. Ia melihat Geo, matanya berkaca-kaca.


Kening Geo mengerut. Ia semakin penasaran dengan obrolan mereka. Apalagi Syakila melihatnya seperti itu.


”Iya, Nak! Sekarang adik mu ada di penjara.” ungkap Sarmi.


”Apa? Bagaimana bisa, Mah? Apa yang sudah di lakukan Hardin? Mengapa bisa sampai masuk penjara?” Syakila sungguh khawatir.


Apakah perasaan gelisah tadi karena Hardin? Bukan Sardin. Syukurlah, Sardin baik-baik saja. benak Syakila.


Mengagetkan ku saja! Aku kira bahas kan apa! Hufft! benak Geo. Ia menghela nafas lega.


Tadinya ia berpikir Sarmi sudah tahu kebenaran itu dan segera memberitahu pada Syakila, karena itu Syakila melihatnya dengan tiba-tiba.


”Mama tidak bisa menjelaskannya. Kamu datang dan lihatlah adik mu.” tut tut tut! Sarmi langsung memutuskan sambungan.


”Halo! Mah?”


Tidak ada sahutan. Syakila melihat ke layar, telfon telah di akhiri.


”Ada apa? Mengapa Hardin masuk penjara?” tanya Geo, penasaran.


”Aku ingin ke kota S, sekarang!” air matanya pun tumpah.


”Tidak bisa! Lihatlah kondisi mu sendiri, bagaimana kamu akan ke kota S, dalam keadaan begini!? Kamu ingin membuat mama mu semakin khawatir?” ucap Geo, suaranya lembut.


Syakila melihat botol infus dan sekantung darah. Darah dan infusnya hampir habis.


”Infusnya juga hampir habis. Setelah infusnya di lepas, aku akan pergi ke kota S.” kekeh Syakila.


”Tetap tidak bisa! Kamu belum bisa pergi ke kota S, sebelum luka di telapak kaki mu sembuh total!” Geo pun kekeh dengan ucapannya.


”Aku harus pergi! Keluarga ku lagi kena musibah, Geo!” ucap Syakila dengan ketus.


Geo memegang kedua bahu Syakila. ”Aku tahu, keluarga mu lagi kena musibah. Tapi, kamu lihat juga kondisi mu. Kedua telapak kakimu masih terluka. Apa kamu ingin membuat mama mu semakin khawatir dengan keadaan mu?” ia mencoba membujuk Syakila.


Syakila menunduk, masih menangis. Yang di katakan Geo benar.


Geo menarik kepala Syakila dan meletakkan ke dadanya. Tangannya mengelus punggung Syakila. ”Kalau kakimu sudah sembuh, kita akan ke sana, bersama-sama.” ucapnya.


Syakila tidak menyahuti. Ia masih menangis, di pelukan Geo.


.. ..


Di jalan. (Tempat Wandi menunggu Anton).


Anton telah sampai di tempat yang di beritahukan oleh Wandi. Ia melihat Wandi menunggunya, di samping motornya.


Ia menepikan mobilnya. Ia segera turun.


”Wandi!” seru Anton. Ia berjalan cepat menghampiri Wandi. ”Wandi, bagaimana dengan ponakan ku, Sardin?” tanyanya.


”Keponakan mu tidak ada. Aku hanya melihat motor mu yang tergeletak di jalan. Lihatlah, ban nya pecah karena tembakan.” ungkap Wandi.


”Astaghfirullah! Kemana Sardin? Apa yang terjadi padanya?” ia sangat khawatir. Pikiran kotornya sudah penuh di kepalanya. Ia takut Sardin benar-benar menemui masalah.


”Coba kamu hubungi dia.” usul Wandi.


Anton meraba sakunya, mencari handphone. ”Ah...aku lupa bawa hape ku!” ia menyapu wajahnya dengan kasar.


”Kamu ingat nomornya?”


”Tidak!” jawab Anton sedih.


”Apa Sardin memiliki musuh?” tanya Wandi lagi.


”Tidak! Dia tidak tinggal di sini. Dia dari kota S, dia hanya jalan-jalan ke sini. Bagaimana bisa dia punya musuh?” ungkapnya.


Wandi terdiam, nampak berpikir. ”Apakah dia kesini hanya untuk jalan-jalan? Apakah dia punya kekasih di sini?” wajahnya terlihat serius.


Anton terdiam. Apa jangan-jangan ini ulah dari Geo? Tidak, tidak mungkin! Geo bukan pria kejam, kan? Tidak mungkin dia menggunakan cara kotor untuk mencelakai Sardin, saingan cintanya! benaknya.


”Anton? Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu mengingat sesuatu?” tangannya di simpan di bahu Anton, menyadarkan pria itu dari lamunannya.


”Hah! Em...tidak ada. Tunangannya ada di kota S.” jawab Anton, berbohong.


Aku tidak percaya jika ini perbuatan Geo. Aku akan menemui nya. benaknya lagi.


”Kamu sendiri? Apakah ada musuh mu?” tanya Wandi lagi.


”Kamu bertanya begitu kayak tidak mengenal ku saja. Tolong bantu aku naikkan motor di belakang mobil ku. Aku akan memperbaikinya di bengkel.”


Wandi menyuruh anak buahnya menaikkan motor di mobil Anton. Anak buahnya menurut.


”Kamu gak khawatir sama ponakan mu?”


”Aku khawatir! Tapi, mau bagaimana sekarang? Setelah aku pulang ke rumah, aku akan mencoba menghubungi Sardin, dan menunggunya hingga malam. Jika dia belum datang, aku akan menghubungi mu.” jelas Anton.


”Ok.” sahut Wandi.


”Kalau begitu, aku pergi dulu.” pamit Anton.


”Ok!” sahut Wandi, ia berjabat tangan dengan Anton.


Anton masuk ke mobilnya dan menghidupkan mesin mobilnya. Ia memutar arah. Dan berlalu dari sana.


Wandi dan anak buahnya pun pergi dari sana.


Anton menjalankan mobil dengan tidak tenang. Ia selalu memikirkan anak ponakannya itu.

__ADS_1


Ia berhenti di depan bengkel. Ia menurunkan motornya di bengkel. Setelah berbicara sebentar dengan pemilik bengkel, Anton pun pergi dari sana. Ia pergi ke kediaman Albert, menemui Geo.


.. ..


__ADS_2