
Di ruang rawat Syakila.
Tok tok tok! ”Boleh saya masuk!”
”Em...iya. Masuk saja!” jawab Sardin.
Pintu terbuka, sang dokter melangkah masuk.
”Em... Dokter. Syakila telah sadar.” ucap Sardin.
”Iya, saya datang kesini untuk memeriksa kembali keadaan saudara Syakila.” sahut sang dokter. Ia menghampiri Syakila.
”Iya, Dokter. Periksalah!” Sardin melihat Syakila juga arah pandang Syakila. Ia tahu Syakila sedang mencari dan menunggu siapa, makanya selalu memandang pintu ruangan yang terbuka itu.
Kemana Geo? Kenapa tidak kembali ke sini? Geo, aku merasa kamu menghindar dariku. Kenapa? Aku istrimu, kan? Kenapa kamu menjaga jarak dariku? benak Syakila. Wajahnya terlihat sedih.
Apa kamu mencari Geo, Syakila. Aku tahu, kamu sudah menaruh perasaan terhadap Geo. benak Sardin.
Sang dokter memeriksa Syakila.
”Em...Dok. Geo kemana? Kenapa gak ikut kemari?” tanya Sardin. Ia sengaja bertanya pada dokter, agar Syakila tidak menunggu Geo.
”Oh, tuan Geo. Tuan pulang ke rumahnya. Katanya terjadi sesuatu pada mamanya. Jadi, dia pulang melihat mamanya.” jawab dokter.
Aku rasa Geo hanya menghindar. Tante, sebelum pulang dari rumah sakit tadi baik-baik saja. benak Sardin.
”Ah! Apa yang terjadi dengan mama, Dok? Apakah aku boleh pulang sekarang, Dok? Aku merasa, aku baik-baik saja.” ucap Syakila, khawatir.
”Maaf, saya juga kurang tahu, apa yang telah terjadi pada nyonya Albert. Alhamdulillah. Kondisi Syakila sudah membaik. Semuanya normal. Besok, sore hari, sudah bisa pulang ke rumah. Malam ini, mesti istirahat baik-baik di sini.” ucap sang dokter.
Syakila cemberut. Ia ingin pulang malam ini untuk melihat keadaan Rosalina. Dan juga ingin menemui Geo.
”Oh, Alhamdulillah! Ini kabar baik.” ucap Sardin sambil tersenyum senang.
”Iya. Baiklah! Saya kembali ke ruangan saya dulu. Syakila tidak perlu mengkonsumsi obat apapun. Dan luka luarnya juga sudah sembuh dan tidak berbekas. Dia hanya butuh istirahat saja.”
”Iya. Dok. Terima kasih, Dok.” sahut Sardin.
”Iya.” sang dokter melangkah keluar dari ruangan.
”Kamu dengar katanya dokter kan, sayang. Besok, kamu sudah bisa keluar dari rumah sakit. Kamu istirahat lah, jangan banyak berfikir apapun.” ucap Sardin.
Syakila hanya mengangguk, menanggapi. Jauh di dalam pikirannya sana, ia memikirkan seorang Geovani Albert yang berubah sikap padanya.
....
Di kediaman Albert. Di kamar Beni.
Tidur Beni terganggu. Suara nada dering hapenya terus berbunyi. Beni meraih hapenya tanpa melihat id si pemanggil, Beni menjawab telfonnya.
”Halo. Ini siapa?” tanya Beni, matanya masih terpejam.
”Buka pintu. Aku ada di depan rumah.” jawab si penelepon.
Beni terdiam. Ia membuka mata dan melihat id si pemanggil. Namun, panggilan itu sudah berakhir.
”Hah! Ternyata Geo!” Beni terkejut. Ia segera bangun dan keluar dari kamar. Ia turun ke lantai dasar menggunakan lift.
Beni membuka pintu rumah. ”Geo, mengapa jam segini pulang ke rumah? Bagaimana Syakila, apakah sudah siuman?” tanyanya.
Geo melangkah masuk ke dalam rumah. Beni menutup pintu dan kembali menguncinya. Dia mensejajarkan langkahnya dengan langkah Geo.
”Syakila sudah sadar. Baru saja. Setelah aku memanggil kan dokter memeriksa keadaannya, aku langsung pulang ke rumah.” jawab Geo.
Mereka berdua menaiki anak tangga ke lantai atas.
”Alhamdulillah! Kenapa kamu tidak menemaninya?”
”Dia bukan istriku lagi. Setidaknya, ada Sardin yang temani dia.” jawab Geo.
”Aku mau istirahat! Kamu pergi istirahatlah!” titah Geo.
”Ok!” jawab Beni.
Dia dan Geo jalan berpisah. Dia ke kamarnya dan Geo ke kamarnya.
..
Di kamar Beni.
”Entahlah! Kisah cinta sangat rumit. Sudah tahu tidak bisa merelakan malah melepaskan. Menahan cemburu dan melukai perasaan sendiri.” gerutu Beni.
Beni dapat melihat dari raut wajah Geo, jika pria itu masih tidak bisa melepaskan Syakila.
”Uhm...kalau begitu, pasti Geo sudah mulai bekerja di perusahaan besok. Baguslah! Jadi, aku bisa sedikit bersantai. Dari pengalaman sebelumnya, jika dia patah hati...semua pekerjaan dia akan handle.” gumam Beni.
”Mending sekarang aku tidur!” Beni kembali memejamkan matanya.
.. ..
Di kamar Geo.
__ADS_1
Geo masih enggan untuk tidur. Dia sedang memikirkan pandangan mata Syakila saat ia dan Syakila bertatapan mata, di saat Syakila siuman.
Ia melihat tatapan yang lembut, tatapan merindu, dan tatapan sayang dari pandangan Syakila.
”Apakah itu hanya perasaan ku saja? Atau tatapan itu benar adanya?” Geo bertanya pada diri sendiri.
”Apakah yang di katakan Sardin benar?”
”Tapi, selama ini..tatapan mata Syakila tidak pernah lembut memandangku. Selama ini hanyalah pandangan tajam, pandangan marah, pandangan musuh, pandangan kesal yang ia tampakkan padaku.”
Geo mengingat semua cara pandang Syakila terhadapnya dari awal mereka menginjakkan kakinya di rumah Albert, setelah menikah.
”Yah, hanya satu kali pandangan nya Syakila yang mengiba padaku saat itu, saat melihat aku dikucilkan, di remehkan sama orang. Dia bahkan membela ku.”
Tanpa sengaja tatapan mata Syakila yang lembut terpapar di matanya, tatapan lembut Syakila saat malam penyerangan itu.
”Tatapan lembut seperti tadi rupanya pernah Syakila tunjukkan padaku. Tatapan lembut, wajah khawatir, dan senyum bahagia karena aku baik-baik saja. Dia melindungi ku dengan nyawanya sendiri.”
”Hah, aku tidak rela melepaskan dia... ”
”Aku harus mengalihkan pikiran ku dari Syakila. Jika tidak, aku akan gila dan stress. Syakila sudah menyembuhkan ku. Aku tidak boleh stress lagi.”
Pria itu pergi ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Ia merasakan perih di punggung jarinya, saat punggung jarinya terkena air yang mengalir.
Ia memperhatikan punggung jarinya. Ia dapat melihat luka-luka kecil di sana. Luka goresan karena dinding.
Ia keluar dari kamar mandi. Dan pergi ke ranjangnya tanpa berganti pakaian, ia membaringkan diri di atas kasur. Mencoba memejamkan mata.
Setengah jam berlalu, Geo membuka matanya lagi. Ia tidak bisa tidur. Ia gelisah. Dia sudah terbiasa tidur di temani hawa Syakila di sekitarnya. Dan sekarang, dia tidak merasakan hawa Syakila. Membuatnya tidak tenang.
Ia terbangun dan duduk, ”Ada apa aku ini? Aku malah gak bisa tidur!” ia mengusap kasar wajahnya. ”Syakila!” panggilnya lirih.
Ia beranjak dari ranjang. Ia pergi ke meja kerjanya. Di nyalakan nya laptop dan melihat pekerjaannya.
Ia mengerjakan pekerjaannya, mengalihkan pikirannya tentang Syakila. Tiga jam dia duduk di depan layar laptopnya. Gak terasa waktu berlalu dengan cepat. Geo tertidur di pukul 04 : 30, pagi.
.. ..
Keesokan paginya.
Geo terbangun saat mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Ia melihat jam pukul 07 : 00, pagi.
Ia beranjak berdiri dan membukakan pintu kamarnya. Beni melihat layar laptop Geo menyala dan di bawah mata Geo menghitam.
Apakah dia tidak bisa tidur dan akhirnya mengerjakan pekerjaannya? benak Beni.
”Kamu gak tidur semalaman?” tanya Beni.
”Jangan khawatir. Aku hanya mengerjakan pekerjaan ku yang tertunda. Kamu sudah mau berangkat kerja?”
”Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir. Buang muka sedih mu dari wajah mu itu. Tunggu aku di bawah, aku mandi dulu.”
Geo mendorong Beni keluar dari kamarnya dan menutup pintu. Ia membuka pakaiannya dan pergi ke kamar mandi. Ia sedang mandi.
.. ..
Di lantai bawah rumah Albert.
”Di mana Geo? Kenapa turun hanya sendiri?” tanya Rosalina.
”Lagi mandi, Tante.” jawab Beni. Ia duduk di kursi sofa tunggal.
”Beni, tidak bisakah kamu merubah panggilan mu untukku? Apakah susah untuk memanggil ku, Ibu atau Mama?”
Beni melihat Rosalina. Permintaan ini pernah juga Rosalina minta padanya, saat ia berusaha sembilan tahun. Namun, dia tidak mau, dia menolak tanpa berfikir panjang.
Di saat penolakan itu. Rosalina tidak meminta hal itu lagi. Dan sekarang, Rosalina meminta padanya lagi. Apakah dia akan sanggupi permintaan mudah Rosalina ini? Wanita yang sudah merawat dan membesarkannya, hingga sampai sekarang ini.
”Baiklah, Mama.” jawab Beni. Ia pun mulai memanggil Rosalina dengan sebutan mama.
Rosalina tersenyum bahagia. Sudah lama ia menginginkan Beni memanggilnya mama. Dan alhamdulillah, hal ini kesampaian sekarang. ”Terima kasih, Beni.”
”Ada apa ini?”
Beni dan Rosalina melihat Geo yang baru datang itu. Penampilan Geo tetap memukau seperti biasa. Tetapi wajahnya datar, kantung matanya menghitam.
”Kamu gak tidur semalam?” tanya Rosalina.
”Mama, apakah ada makanan? Geo lapar.” ucap Geo. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan.
Beni dan Rosalina saling pandang. Kemudahan, Rosalina melihat Geo sambil mengangguk.
Geo bergegas pergi ke dapur. Rosalina dan Beni menyusul Geo ke dapur. Geo teringat posisi duduknya bersampingan dengan Syakila. Dan Syakila yang selalu menyendok makanan untuknya.
Ia pun keluar dari dapur. Ia bertemu dengan Beni dan Rosalina di bibir pintu dapur.
”Loh, Geo! Kamu mau kemana? Kamu gak makan?” tanya Rosalina, yang keheranan.
”Geo gak lapar, Mah. Geo langsung ke kantor saja.” jawab Geo.
”Hah! Tapi...kamu...”
__ADS_1
Drrtdrrt! Bunyi handphone Geo berdering. Memangkas ucapan Rosalina. Geo melihat di layar hapenya. ”Mama Sarmi” gumamnya. Ia mengangkatnya.
”Wa 'alaikum salam, Mah.” jawab Geo.
”Bagaimana kabar mu, Nak?”
”Baik, Mah. Mama mau bicara dengan Syakila?” tanya Geo.
”Iya. Mama boleh bicara dengannya?” tanya Sarmi.
”Em...maaf, Mah. Syakila lagi berada di rumah sakit. Dia sedang menjenguk temannya. Kalau Mama ingin bicara dengan nya, setelah Geo ke rumah sakit, baru Geo akan menghubungi Mama lagi.”
”Oh, baiklah! Kalau sudah sampai di rumah sakit, tolong hubungi Mama yah.”
”Iya, Mah.” jawab Geo.
”Mama sudahi dulu ya, Nak. Assalamu 'alaikum.”
”Wa 'alaikum salam.” telfon terputus. Geo memasukan kembali hapenya ke saku celana.
”Em... Beni, apakah surat yang kamu kirim sudah sampai di tangan Sarmi?” tanya Geo pada Beni.
”Sepertinya belum. Mungkin besok atau lusa baru sampai. Kenapa? Mau di tarik kembali?”
”Tidak. Sebelum kamu pergi ke kantor, kamu bawakan koper pakaian Syakila ke rumahnya pamannya, Anton. Aku sudah membereskan semua pakaiannya. Kode nya kamar ku adalah tanggal lahir ku. Aku pergi.” ia langsung melenggang pergi begitu saja setelah memerintah Beni.
”Mama. Apakah penyakit lama Geo akan kambuh? Dia terlihat sedang mengurung dirinya sendiri.” ucap Beni.
”Berhentilah, berbicara ngawur! Semoga saja Geo benar-benar terlepas dari penyakit dan traumanya.”
”Maaf, Mah. Mah, Beni langsung bergegas saja yah. Beni pergi dulu.”
”Kamu gak sarapan?” tanya Rosalina.
”Nanti saja, Mah. Setelah Beni sampai di kantor. Beni pergi dulu.” Beni langsung melenggang pergi.
Beni pergi ke kamar Geo terlebih dahulu. Ia mengambil koper pakaian Syakila membawanya masuk ke dalam mobil. Ia pergi dari kediaman Albert.
”Ada apa dengan kedua anakku ini? Mereka berdua sama-sama tidak sarapan pagi, mereka langsung pergi begitu saja saat berkata akan pergi.” ucap Rosalina dengan sedih. Ia masuk ke dapur dan duduk makan sendirian.
.. ..
Di rumah sakit, ruangan rawat Syakila.
Geo sempat mengintip Syakila dan Sardin lewat celah pintu yang sedikit terbuka. Dia cemburu melihat Syakila yang bercerita sambil tertawa bahagia dengan Sardin.
Ia mengeluarkan hape dari sakunya. Ia menghubungi Sarmi. Telfon terhubung. Geo mengetuk pintu ruangan.
”Masuk!” jawab Sardin.
Geo masuk ke dalam. Syakila tersenyum melihat Geo yang datang. Namun, pria itu tidak membalas senyumnya. Entah kenapa wajah pria itu datar dan dingin.
”Syakila, mama ingin bicara dengan kamu.” Geo memberikan hapenya tanpa melihat Syakila. Padahal Syakila ingin Geo melihatnya.
Syakila mengambil handphone Geo dengan rasa kecewa.
”Aku pergi dulu. Hapeku, nanti akan ada yang datang untuk mengambilnya.” Geo langsung keluar dari ruangan itu.
Sardin dan Syakila sama-sama memandang punggung Geo yang sudah pergi dengan heran.
Syakila mengabaikan kekecewaan dan rasa herannya. Ia berbicara dengan mama nya. Meskipun begitu, raut wajahnya tidka bisa menutupi rasa kecewa yang ia rasakan.
Sardin mengejar Geo. Ia menahan langkah Geo dengan memegang tangannya.
”Sardin, ada apa?” tanya Geo.
”Kamu yang ada apa! Mengapa kamu menghindari Syakila? Menghindari ku? Kenapa?” tanya Sardin, suaranya meninggi.
”Aku bukan bermaksud menghindar. Aku harus ke kantor, pekerjaan sedang menungguku. Aku buru-buru!” alibi Geo.
”Kamu kira aku percaya katamu? Semalam, kenapa kamu pulang tanpa pamit pada kami? Hah? Apa namanya kalau bukan menghindar!”
”Aku tidak punya waktu berdebat dengan mu. Sedikit lagi rapat di kantor ku akan mulai. Jaga Syakila, aku pergi dulu.” Geo bergegas pergi.
Sardin tidak menahannya kembali. Ia tahu, Geo sedang menghindar untuk menghilangkan rasa cintanya pada Syakila.
”Meskipun kamu berusaha untuk menghilangkan rasa cintamu. Kamu tidak akan bisa.” gumam Sardin, memandang punggung Geo yang lebar itu.
Ia pun kembali ke ruangan Syakila. Setelah tidak melihat bayangan Geo lagi.
”Dia sudah pergi?” tanya Syakila.
”Iya, kenapa? Tidak mau dia pergi?” tanya Sardin.
”Aku merasa dia menghindar! Apa yang sudah terjadi padanya, saat aku masih tertidur?” tanya Syakila.
Meskipun aku tahu apa yang terjadi, tapi, aku merasa tidak bagus jika aku yang mengatakan kalau kamu dan dia sudah bercerai. benak Sardin.
”Em...mungkin itu hanya firasat mu saja. Dia sedang buru-buru mau ke kantor. Ada rapat mendadak yang mengharuskan dirinya harus hadir lebih awal.” alibi Sardjn.
”Aku tidak percaya. Pasti ada sesuatu yang aku tidak ketahui.” ucap Syakila dengan sedih.
__ADS_1
”Jangan banyak berfikir! Kamu baru habis makan, kamu istirahat saja. Aku lagi capek untuk lanjut bermain.” ucap Sardin.
Syakila menurut dengan enggan. Dia sangat yakin sekali, kalau Geo memang menghindar darinya.