Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 57


__ADS_3

Halima terbangun dari tidur saat ia mendengar suara cipratan minyak di dapur. Ia duduk sebentar di atas kasur, ia melihat di sampingnya.


”Mulfa masih tertidur. Siapa yang ada di dapur? Hah, apakah si sombong itu yang sedang memasak?”


Halima beranjak dari kasur, ia membuka pintu kamar dengan sangat pelan, ia mengintip di dapur. Nampak, Hamid sedang menggoreng ikan. Diam-diam Halima terus memandangi Hamid, bahkan dari bibirnya, terukir sebuah senyuman.


Jika, dia seperti ini, tidak terlihat sombong. Tetapi, ia terlibat keren. Eh, kenapa aku memikirkan dia lagi? Sudah beberapa kali ini aku kecolongan terus memikirkan dia tanpa sadar.


Halima berhenti memperhatikan Hamid dengan diam-diam. Ia mendekati Hamid.


"Maaf, aku bangunnya telat. Kamu duduklah, biar aku yang lanjutin masaknya.” tawar Halima.


"Baguslah, kamu sudah sadar. Ini ambil, goreng ikan sana! Setelah itu, goreng lah sayur itu. Sayurnya sudah ku iris, berikut bumbunya. Tinggal kamu tumis saja." sahut Hamid dengan ketus.


”Iya, Tuan Hamid yang terhormat. Silahkan duduk di sana, Tuan!" ucap Halima tak kalah kesalnya.


Hamid duduk di bangku memperhatikan Halima memasak. Setelah selesai menggoreng ikan, Halima menumis sayur yang sudah di potong-potong oleh Hamid.


Makan malam pun telah siap. Halima menata masakannya ke atas meja. Lalu, ia menyiapkan piring untuk dia, Hamid, dan Mulfa. Menyiapkan air cuci tangan, dan air minum. Hamid hanya memperhatikan setiap gerak Halima tanpa memprotes.


”Makanannya sudah siap, Tuan Hamid. Silahkan di cicipi.”


Setelah mempersilahkan Hamid makan. Ia melangkah pergi ke kamar.


”Hei, kamu tidak makan?” tanya Hamid.


Halima berhenti melangkah. Ia menoleh melihat Hamid.


”Aku bangunin Mulfa dulu, kamu duluan lah makan.” jawab Halima.


Ia kembali melangkah masuk ke kamar. Ia membangunkan Mulfa dan mengajaknya untuk makan.


”Mulfa sayang, ayo bangun! Kita makan malam dulu, sayang.”


Mulfa menggeliat.


”Mulfa, bangun sayang. Setelah makan malam, baru lanjut tidur lagi.” sekali lagi Halima membangunkan adiknya.


Mulfa membuka mata dengan malas. Ia melihat Halima yang duduk di sampingnya.


”Ini sudah malam?” Halima mengangguk. ”Hah, tidak terasa sudah malam lagi.”


”Iya, waktu berjalan dengan cepat. Jadi bangunlah, ayok kita makan.”


”Kakak, Mulfa belum lapar. Nanti kalau Mulfa sudah lapar, baru Mulfa akan bangun makan, kak.” kata Mulfa.


”Baiklah, terserah mu!" sahut Halima.


Ia membiarkan Mulfa untuk kembali tidur. Dan ia sendiri, keluar dari kamar dan menghampiri Hamid yang ada di meja makan.


Tanpa banyak berbicara, Halima duduk dan menyendok makanan. Lalu, ia makan tanpa mempedulikan Hamid di depannya.


”katamu tadi, membangunkan adikmu untuk makan? Lalu, mana dia?” ucap Hamid.


”Dia bilang masih kenyang. Nanti, jika dia lapar baru dia bangun makan sendiri.” jelas Halima.


”Oh, begitu.”


”Iya. Hamid, bisakah kamu mencarikan pekerjaan untuk ku? Aku tidak ingin menyusahkan kamu terus. Aku tidak enak hati, jika semua kebutuhan ku dan adikku, kam__”


”Makanlah dulu, setelah makan baru kita bahas itu.” sela Hamid.


”Baiklah,” sahut Halima dengan cemberut sambil memasukan nasi ke mulutnya.


Hamid telah menyelesaikan makannya. Ia menunggu Halima yang masih makan. Setelah Halima selesai makan, ia membersihkan meja makan. Dan menutup makanan sisa di atas meja dengan tudung nasi.


”Aku sudah selesai makan, dan juga sudah membersihkan meja makan. Bisakah sekarang kita membicarakan tentang pekerjaan?” Halima menatap tanpa kedip pada Hamid.


”Kamu serius ingin bekerja?” Halima mengangguk. ”Tapi, gajinya tidak setinggi gaji di tempat kerjamu dulu.” sindir Hamid.


”Tidak usah kamu menyindirku dengan pekerjaan ku dulu. Katakan saja apa pekerjaannya.” sahut Halima ketus.


”Pekerjaannya juga tidak sesantai pekerjaanmu dulu, a__”


”Jika kamu tidak berniat mencarikan pekerjaan untukku, bilang saja. Tidak usah mengungkit pekerjaan lamaku.” sela Halima dengan marah.


”Bukan maksudku mengungkit pekerjaan lamamu, aku hanya ragu saja jika kamu mau bekerja dengan menguras tenaga mu.” ucap sesal Hamid.


”Katakan saja, jenis apa pekerjaannya itu. Aku akan tetap bekerja, meskipun menguras tenaga ataupun gaji yang rendah. Yang penting pekerjaan itu halal.” tukas Halima.


”Baiklah, jika kamu bersedia datanglah ke toko ku besok. Aku membutuhkan karyawan, apa kamu bersedia?” tawar Hamid.

__ADS_1


”Baiklah, aku bersedia.” jawab Halima dengan cepat.


”Hum, aku menjual pakaian. Toko ku dua lantai. Lantai atas untuk pakaian orang dewasa dan lantai bawah untuk pakaian anak-anak.” Hamid menjelaskan tentang tokonya. ”Aku memberimu kesempatan untuk memilih tempatmu. Pilihlah, kamu ingin menjaga baju pakaian dewasa atau anak-anak?”


”Aku memilih menjaga pakaian anak-anak aja.” Halima menentukan pilihannya.


”Baiklah, mulai besok kamu sudah bekerja di sana, untuk gaji...gaji awal Satu Juta Lima Ratus Ribu rupiah setiap bulan. Bekerja dengan baiklah bersama tiga karyawan ku yang lain.” jelas Hamid lagi. ”Sekarang pergilah tidur, besok bangun lebih awal, karena tepat jam 07 : 00 pagi, toko pakaian sudah buka.”


Hamid berdiri dari duduknya, ia ingin kembali ke kamarnya. Namun, Halima mencegahnya.


”Tunggu!”


Hamid berhenti dan menoleh. ”Apa lagi?”


”Em, itu...aku...__”


”Katakan saja, tidak usah ragu!” sela Hamid.


”Em, Mulfa ingin sekolah. Bisakah, kamu mengurus sekolah untuknya?” ucap Halima ragu-ragu.


”Untuk itu, tunggulah Halim kembali.” sahut Hamid. Ia melanjutkan jalannya setelah berbicara itu.


Hum, aku juga memang menanti dia kembali. Dia sudah banyak membantuku. Aku menunggu kedatangannya. Aku ingin memberikan sesuatu untuknya sebagai tanda terima kasihku. Sesuatu yang akan ia senangi.


Halima tersenyum kecil. Lalu ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


.. ..


”Para penumpang yang bertujuan di kota A, harap bersiap-siap. Kapal akan segera tiba dan akan sandar di pelabuhan. Harap, barang bawaannya di perhatikan.”


Terdengar pengumuman dari ruang informasi.


”Apa kita hampir sampai, Papa?” tanya Syakila dan Fatma.


”Iya sayang, kita hampir sampai. Ayo kita bantu Mama berkemas.” ajak Halim.


Mereka pun mulai mengemasi pakaian mereka. Pakaian kotor mereka kumpul di satu tas lagi. Semua barang-barang telah dikemasi. Dan mereka tinggal menunggu kapal bersandar di pelabuhan.


Dua puluh menit kemudian, kapal telah sandar dengan sempurna di pelabuhan.


”Kapalnya sudah sandar, tetapi kita belum bisa turun. Tunggu setelah para penumpang lain turun baru kita akan turun, agar kita tidak berdesakan.” jelas Halim. Semua mengangguk. ”Kalian tetap disini, tunggu Papa. Papa akan keluar sebentar.”


Setelah berbicara begitu, Halim memakai jaket dan topinya baru ia keluar dari kamar kapal. Ia sedang membaca situasi. Jika memang sudah memungkinkan untuk turun, maka ia akan kembali ke kamar.


”Mungkin dia sedang menunggu barangnya Anton.”


Halim terus memperhatikan keadaan. Tangga turun dari tangga kapal sudah mulai longgar. Ia mencari buruh kapal yang nganggur. Setelah dapat, ia kembali ke kamar bersama buruh tersebut.


Halim memberikan barang-barang kepada sang buruh. Ia sendiri memikul tas sang istri dan satu tangannya menggendong Endang. Sedangkan Sarmi ia menggendong Hardin dan tangan satunya ia memegang Ita.


”Bang, duluan jalan. Kita turun lewat tangga kapal saja, Bang.” ucap Halim.


”Baik, Bang.” sahut sang buruh.


Sang buruh pun mendahului jalan. Di belakangnya tampak Sarmi. Di belakang Sarmi berjejer Fatma dan Syakila, sedangkan Halim ia yang paling belakang.


Sesuai dengan petunjuk Halim, sang buruh membawa mereka turun dari kapal melalui tangga kapal.


”Bang, berhenti di depan gerbang pelabuhan saja yah, Bang.” pinta Halim, setelah mereka berada di pelabuhan. Sang buruh mengangguk.


Setelah sampai di gerbang pelabuhan. Sang buruh menaruh barang-barang Halim di sana. Ia istrahat sejenak. Sarmi, Syakila, dan Fatma juga ikut istrahat sejenak. Halim menurunkan Endang dari gendongannya. Dan ia juga memberikan tas sang istri padanya.


Halim mengeluarkan sejumlah uang senilai dua ratus lima puluh ribu rupiah dan memberikannya pada sang buruh. Sang buruh menerimanya.


”Bang, terima kasih yah, sudah membantu membawa barang-barang ku.” ucap Halim tulus.


”Sama-sama, Bang. Tapi, ini uangnya terlalu banyak, Bang. Barang hanya sedikit itu, biasanya hanya seratus lima puluh ribu saja, Bang.” jelas sang buruh.


”Tidak apa-apa, Bang. Ambil saja, jangan sungkan.” ucap Halim.


”Terima kasih, Bang!” sahut sang buruh dengan tersenyum.


”Sama-sama.”


Setalah mendengar sahutan Halim, buruh tersebut pun pergi kembali ke kapal untuk mencari rezekinya.


”Papa, apa kita akan disini saja?” Fatma bertanya.


”Tidak sayang, sabar sedikit. Kita tunggu mobil om Denis lewat, baru kita pulang.” jawab Halim.


Kurang lebih lima belas menit menunggu. Akhirnya mobil Denis lewat di sana. Tanpa menunggu Halim menghentikan mobil, ternyata mobil tersebut berhenti duluan di depan Halim.

__ADS_1


Denis melihat Halim saat ia akan melewatinya. Denis turun dari mobil. Ia menyapa Halim.


”Bang, akhirnya Abang kembali juga disini.” ucap Denis sambil memeluk Halim. Halim balas memeluk Denis dengan tersenyum.


”Penghasilan ku disini, Denis. Bagaimana bisa aku tidak akan kembali?” sahut Halim. Mereka saling melepas pelukan.


Denis melihat Sarmi yang berdiri di samping Halim. ”Ini__”


”Denis, ini istriku, Sarmi.” ucap Halim menyela ucapan Denis.


”Oh, kakak ipar. Salam kenal, saya Denis.” ucap Denis memperkenalkan diri. Ia mengulurkan tangan. Sarmi menyambutnya.


”Salam kenal juga, namaku Sarmi.” sahut Sarmi.


”Ini, anak-anak mu, Bang?” tanya Denis sambil menunjuk anak-anak Halim.


”Iya, mereka anak-anak ku.” jawab Halim. ”Nanti saja baru ngobrolnya, Denis. Bisakah, antar kami kerumah dulu?”


”Bisa, Bang. Kebetulan barang juga hanya satu karung. Barang-barang simpan di belakang saja, Bang.” jelas Denis. Halim mengangguk.


Denis, dan Halim pun menaikan barang ke belakang mobil. Lalu, ia menyuruh sang istri untuk naik di depan bersama anak-anaknya.


Fatma naik duluan, ia memangku Ita. Kemudian Sarmi naik, ia memangku Endang. Sedangkan Syakila, Hardin, dan Yuli ikut Halim duduk di belakang mobil bersama barang-barang.


Setelah semuanya naik, Denis menjalankan mobilnya. Dalam waktu sepuluh menit, mereka sampai di depan rumah Halim.


”Apa kita sudah sampai?” tanya Sarmi. Ia melihat sebuah rumah di atas toko. Ia terpukau dengan warna cat dari rumah itu.


”Iya kakak ipar, kita sudah sampai. Rumah itu adalah rumahnya kakak ipar.” jelas Denis.


Sedangkan di belakang mobil. Syakila juga bertanya kepada papanya.


”Apa kita sudah sampai, Papa?”


”Iya sayang, kita sudah sampai.” Halim menunjuk rumahnya. ”Itu rumah kita.” Syakila, Hardin, dan Yuli melihat ke arah yang di tunjuk papahnya.


”Rumah cat hijau itu, Pa?” Syakila bertanya memastikan.


”Iya sayang.” jawab Halim. Ia segera turun dari mobil. Denis juga tampak baru turun dari mobil. Denis membukakan pintu mobil untuk Sarmi.


Sarmi segera turun, di susul anaknya. Halim juga mengajak Syakila, Hardin, dan Yuli turun dari mobil. Kemudian Halim kembali di bantu oleh Denis, menurunkan barang-barangnya dari mobil.


Lalu, Denis memegang tas-tas yang mampu ia pegang, dan mengajak kakak iparnya untuk mengikutinya dari belakang.


”Kakak ipar, ayok kita kerumahnya kakak ipar, ikuti aku dari belakang.” ucap Denis. Sarmi mengangguk.


Ia mengikuti Denis dari belakangnya dengan memegang tangan Endang dan Ita. Sedangkan Fatma, Syakila, Hardin, dan Yuli mengikuti Sarmi di belakangnya.


Sedangkan Halim, ia memegang tas-tas yang lainnya, dan mengikuti mereka ke rumah. Sesampainya di sana, Denis membuka kunci pitu rumah, lalu ia memutar handle pintu dan pintu terbuka. Dan menyuruh Sarmi dan anak-anaknya untuk masuk.


”Masuk kakak ipar, anak-anak.” seru Denis.


Mereka pun segera masuk. Tidak lama, Halim juga menyusul masuk. Denis dan Halim sama-sama meletakkan barang-barang di lantai dan mereka duduk istirahat di kursi.


”Sini sayang, duduk dulu.” pinta Halim pada sang istri. Sarmi pun duduk di samping Halim. Sedangkan anak-anaknya, mereka berkeliling rumah. Mereka takjub dengan rumah yang mereka tempati sekarang.


”Rumahnya cukup besar, Papa.” komentar Sarmi. Ia memandang seluruh ruangan.


”Alhamdulillah, sayang.” hanya itu jawaban Halim.


Setelah istrahat sejenak, Denis berpamitan untuk mengantar barang ke toko Anton.


”Bang, Denis antar barang dulu ke tokonya bang Anton.”


”Ok, makasih Denis. Sampaikan pada Anton, kami akan jalan-jalan ke rumahnya. Ok.”


”Ok, Bang." sahut Denis. Ia pun pergi dari sana. Ia mengantarkan barang jualan Anton ke tokonya.


Halim melihat Sarmi yang menguap.


”Sayang, Mama mengantuk?”


”Iya Papa, semalam Mama tidak nyenyak tidurnya."


”Baiklah, ayok ikut Papa." tukasnya. Sarmi mengikuti Halim. Halim membawa Sarmi ke kamar mereka. Halim mengeluarkan kunci kamar dari sakunya. Lalu ia membuka pintu kamar.


”Masuklah, istrahat di dalam. Anak-anak biar Papa yang mengurusnya.”


”Apa tidak merepotkan mu, Pa?”


Halim memeluk istrinya dan menciumnya. ”Tidak sayang,” Halim mengangkat tubuh sang istri dan menidurkannya pelan di atas ranjang mereka. Ia kembali mencium sang istri. ”Istirahatlah!” Sarmi mengangguk.

__ADS_1


Ia pun mulai memejamkan mata. Dan Halim segera beranjak dari ranjang. Ia keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dari luar, ia membiarkan sang istri tercinta untuk beristirahat.


__ADS_2