Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 144


__ADS_3

Di kediaman Rivaldi.


Rivaldi terbangun dari tidur, ia melihat ranjang Geo, pria itu masih tidur. Ia melihat Ijan yang duduk di kursi kerjanya, pria itu juga sedang melihatnya.


Aku kira dia tidur, ternyata tidak! Berarti dia menjaga ku dan tuannya, selama kamu tidur. Sangat penurut, juga setia!! benak Rivaldi.


Ia turun dari ranjang, pergi ke kamar mandi, mencuci muka. Setelah itu, ia kembali lagi ke ruangannya. Ia melirik jam, pukul 15 : 15.


Sudah jam segini! Kenapa Syakila belum juga datang? Apa dia tidak memikirkan suaminya di sini? Mana Geo belum makan siang lagi!!


Ia menghampiri Ijan, ”Ijan, belilah beberapa bungkus makanan untuk makan siang mu dan tuan mu. Ini sudah jam tiga sore, kalian berdua belum makan apapun.” ucapnya. Ia mengeluarkan selembar uang seratus ribu dan memberikannya pada Ijan. Namun, pria itu menolaknya.


”Terima kasih, Tuan. Tuan sudah memikirkan kami. Aku berniat seperti itu, jika salah satu dari kalian berdua sudah terbangun. Uangnya...maaf, aku menolak menerimanya. Sekarang, aku pergi dulu mencari makanan sebelum tuan ku bangun!” sahut Ijan.


”Oh, baiklah! Pergilah, tuan mu.. biar aku yang jaga.” ucap Rivaldi, ia memasukkan lagi uang ke dalam dompet nya.


”Baik, sudah merepotkan mu, Tuan!” .


”Tidak perlu sungkan! Tuan mu adalah pasien ku, selain itu, dia suami dari sahabat ku. Menjaganya..sama saja aku seperti menjaga sahabat ku sendiri.”


”Hum, terima kasih, Tuan!” sahut Ijan sambil mengangguk mengerti. Ia pergi dari sana.


Rivaldi menghampiri Geo, mengecek obat halus yang ia balurkan pada kaki dan pinggang Geo.


”Perlu aku ganti! Tapi, pasti akan menggangu istirahatnya. Tunggulah dia bangun.. baru ku ganti.”


”Kenapa Syakila belum juga datang? Apa benar-benar Syakila tidak mencintai pria sempurna seperti dia ini? Tidak khawatir kan dia? Di banding Sardin, pria ini lebih segalanya. Dari segi ketampanan, kekayaan, pria ini tidak bisa di tandingi. Tapi, mengapa Syakila tidak tertarik padanya? Apa karena...pria ini duduk di kursi roda? Tetapi, jika itu masalahnya, mengapa dia harus menikah dan repot-repot ingin menyembuhkan Geo dari lumpuhnya!! Apa benar Syakila menikahi Geo karena sebuah perjanjian konyol itu?”


”Mereka berdua sudah tinggal satu rumah, tidur satu kamar, bahkan di ranjang yang sama. Apa sedikit pun Syakila tidak memiliki rasa pada pria ini? Apa karena Sardin memiliki kelembutan dan hati baik, makanya Syakila begitu mencintainya?”


Gumaman gumaman Rivaldi terdengar oleh Geo yang matanya masih terpejam. Geo telah bangun di saat mendengar suara Rivaldi menyapa Ijan. Namun, ia malas untuk membuka mata.


Brengsek!! Dia berani menghina ku secara tidak langsung. Ini juga salah ku, mengapa harus mengakui kalau Syakila tidak mencintai ku. benak Geo.


Ceklek! Rivaldi menoleh ke arah pintu ketika pintu terbuka dari luar. Ia melihat Ijan melangkah masuk sambil memegang dua bungkus plastik.


”Kamu sudah datang, tapi, tuan mu belum bangun. Apa aku bangunkan dia saja?” ucap Rivaldi. Ia mengulurkan tangannya membangunkan Geo.


”Maaf, Tuan. Kami tidak berani mengganggu istirahat tuan kami, sampai tuan kami bangun dengan sendirinya.” sahut Ijan. Membuat Rivaldi terkejut dan menarik kembali tangannya yang hampir memegang pundak Geo. Ia menegakkan kembali badannya.


”Oh! Jika begitu...kita tunggu dia bangun saja!” Rivaldi melangkah ke tempat kursinya. Sementara Ijan, ia duduk di bangku pasien, di depan meja kerja Rivaldi. Kedua pria itu sama-sama menunggu Geo terbangun.


Apa semua anak buah Geo patuh dan setia seperti Ijan ini? Padahal Geo duduk di kursi roda, apa yang membuat mereka begitu setia menjadi anak buahnya? Apakah awalnya Geo tidak lumpuh? Lalu, apa yang membuat dia seperti ini? Orang semacam apakah Geo ini, sebenarnya? Bahkan, anak buahnya tidak berani mengganggu tidurnya juga rela menunggunya terbangun! Apakah dia benar-benar memiliki kharisma yang tinggi? Aku pun tidak mempunyai keberanian membangunkan tidurnya! benak Rivaldi.


Sementara Geo tersenyum dalam benaknya. Ia mengira Rivaldi punya keberanian untuk tetap membangunkan dirinya setelah mendengar ucapan Ijan.


Ternyata nyalinya lemah, mau bermimpi menikahi Syakila ku! benaknya.


Perlahan ia membuka mata, berpura-pura baru terbangun dari tidur.


”Jam berapa ini?” tanyanya.


”Tuan, Anda sudah bangun.” ucap Ijan, ia menghampiri Geo, ”Biar saya bantu bangunkan Anda.” ia membantu membangunkan Geo dan menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang dengan pelan.


”Ini jam berapa? Apa Syakila belum datang?” Geo kembali bertanya.


”Dia berdua bersama pria yang di cintai nya, mungkinkah secepat itu dia mendatangi mu dan meninggalkan kekasihnya, begitu saja? Sepenting apa kamu baginya?” sahut Rivaldi. Membuat Ijan dan Geo melihat ke arahnya.


”Tuan, mohon perhatikan ucapan Anda!!” ucap Ijan tidak senang, tangannya terkepal erat. Geo memegang tangan Ijan yang terkepal kuat, membuat kepalan tangan tersebut melemah.


”Aku penting atau tidak baginya, tetap aku tempat dia kembali pulang!” ucap Geo.


”Yah, karena status mu suaminya, tentu saja kamu tempat dia kembali.” sahut Rivaldi acuh. ”Sudah, tidak usah bahas wanita keras kepala itu! Sebaiknya kamu dan Ijan makan dulu. Setelah itu.. aku ulang memberikan obat pada kaki dan belakang mu.” sahut Rivaldi.


Geo menurut, karena ia juga sangat lapar sekarang. "Hum, Ijan!” ucap Geo.

__ADS_1


”Iya, Tuan.” Ijan mengambil bungkusan plastik yang ia simpan di atas meja Rivaldi, membawanya ke Geo. ”Ini, Tuan! Tuan makanlah!” ucapnya sambil membuka bungkusan nasi tersebut, juga membuka penutup botol aqua.


”Hum,” sahut Geo. Ia mulai memakan makanannya. ”Kamu tidak makan? Dan kamu Rivaldi, apa kamu sudah makan?”


”Setelah Tuan makan, baru aku makan, Tuan!” jawab Ijan.


”Aku masih kenyang, kamu makan saja!” jawab Rivaldi sambil berjalan ke ruangan obat-obatan.


Geo meneruskan makannya, Rivaldi sedang mencampurkan beberapa bahan obat tradisional untuk mengatasi tulang dan saraf yang kaku untuk Geo.


Dari bahan itu, ia merebus sebagian untuk di minum oleh Geo dan sebagiannya, ia tumbuk halus.


Setelah selesai menyiapkan kedua obat itu, ia kembali lagi ke ruangannya, di mana Geo dan Ijan berada, dengan membawa dua mangkok di kedua tangannya.


Ia melihat Geo telah selesai makan, dan Ijan sementara makan di meja kerjanya. Ia terus melangkah menghampiri Geo, menyimpan kedua mangkok di tangannya di atas meja di samping ranjang Geo.


”Apa itu?” tanya Geo penasaran.


”Obat untuk mu...”


”Kedua mangkok itu?”


”Iya, keduanya! Satu untuk kamu minum dan satunya untuk di olesi ke kaki dan belakang mu ” Ucap Rivaldi menjelaskan.


”Oh, apakah pahit yang untuk di minum?” tanya Geo lagi.


”Kamu bukan anak kecil yang takut dengan obat kan?” sahut Rivaldi bertanya.


Geo berdecak, ”Aku cuma tanya saja kadar pahitnya, tidak boleh?”


”Tidak terlalu pahit! Apa kamu pernah memakan daun pepaya? Seperti itulah pahitnya dan kamu tenang saja, pahitnya itu tidak akan lama di tenggorokan,” sahut Rivaldi, ia merasakan kadar panas obat dari memegang mangkok nya. ”Ini, sudah bisa kamu minum!” ia memberikan mangkok tersebut pada Geo. Geo mengambilnya.


”Minum sampai habis!” ucap Rivaldi lagi.


Geo menurut, ia meminum rebusan obat itu dalam satu kali minum hingga habis dan memberikan mangkok kosong pada Rivaldi. Rivaldi mengambilnya dan meletakkan kembali di atas meja.


”Aku bantu kamu berbaring.” ucap Rivaldi. Geo mengangguk. Rivaldi membaringkan Geo. Ia mengambil minyak khusus untuk tulang yang di berikan oleh guru besarnya.


Ia mengolesi minyak itu ke kaki Geo, dengan sedikit pijatan memberikan rasa rileks pada otot saraf di kaki Geo. Ia juga melakukan hal yang sama pada belakang Geo. Setelah itu, ia kembali mengoleskan obat pada kaki Geo dan membalutnya.


”Bagaimana? Mau tetap berbaring atau mau duduk bersandar?” tanyanya. Ia telah selesai memberinya obat.


”Pijatan mu agak enak. Maukah memijat pundak ku sebentar? Kepala ku agak pusing!” ucap Geo.


”Kamu pasien ku! Dan demi menjadi pemilik rumah sakit, mana berani aku menolak!!” sahut Rivaldi.


Ia membangunkan Geo, mendudukkannya di kursi roda, agar ia nyaman memijat pundak Geo.


”Apa sudah lama Sardin dan Syakila berpacaran?” tanya Geo. Matanya terpejam, menikmati pijatan Rivaldi.


”Sepertinya semenjak mereka kecil mereka berdua sudah mengikat perjanjian untuk hidup bersama. Mereka sempat terpisah lama, Sardin pergi di kota ini dan Syakila pergi ke kota A. Setelah Syakila tinggal di kota S juga tidak bertemu dengan Sardin. Setelah Syakila keluar dari silat, ia pergi mendaftar di the cobra, menjadi murid di sana. Di tempat itulah ia bertemu secara kebetulan dengan Sardin. Dan saat mereka bertemu, mereka berdua melanjutkan kembali hubungan mereka, yang sama-sama masih saling mencintai.” ungkap Rivaldi.


”Sewaktu menjadi murid mu, dan belum bertemu Sardin, apa kamu tidak mencoba mengambil hatinya? Membuatnya mencintai mu?”


”Sudah, bahkan aku sering memperhatikan dia walau sudah dua kali ia menolak ku. Saking perhatiannya aku ke dia, terdengar rumor kami sedang berpacaran. Aku kira Syakila akan terharu dengan itu, dan menjadikan berita rumor itu kenyataan. Tapi sayang, Syakila justru menjauhiku dan mengundurkan diri dari silat.” ungkap Rivaldi lagi.


”Oh, ternyata tampang mu tidak ada apa-apanya di banding Sardin!” ucap Geo.


”Yah, nasib cintaku dan cintamu sama, tidak di cintai oleh wanita yang kita cintai! Rupanya, selain aku, tampang mu juga tidak sebanding dengan rupa Sardin.” sahut Rivaldi.


”Brengsek!!” umpat Geo kesal.


Rivaldi terus memijat ringan pundak Geo, mengabaikan kekesalannya. ”Bagaimana kalau malam ini kamu tidur di sini saja! Besok pagi-pagi sekali aku mengulang memijat kaki dan belakang mu.” ucapnya.


”Gimana dengan Syakila?”

__ADS_1


”Biarkan dia pulang! Kalau bukan Ijan, supirku yang akan mengantarnya pulang.”


”Ok!”


”Apa kamu tidak berniat menelfon nya, dan menanyakan di mana keberadaannya sekarang? Dan kapan dia akan pulang?”


”Tidak perlu!” sahut Geo dengan datar. Ia berpikir jika Syakila khawatir padanya, dia akan segera pulang melihat kondisinya, tanpa perlu ia menghubungi wanita itu untuk menyuruhnya pulang.


Syakila, sedikit pun kamu tidak memikirkan aku yang ada di sini, di tempat orang lain? Sudah berapa jam kamu pergi meninggalkan aku, bahkan menelfon ku untuk menanyakan apakah aku sudah makan siang atau belum, tidak kamu lakukan! Segitu bahagianya kamu bertemu Sardin, hingga begitu cepat melupakan aku? benaknya.


.. ..


Di rumah Sardin.


Sardin dan Syakila sedang duduk di kursi menemani Nesa dan Alimin makan bakso. Sementara Nita, ia sedang menerima telfon di luar.


”Sayang, mengapa sikap mu begitu acuh pada Nita, apa kamu gak kasian dia sudah menyempatkan waktunya untuk menjenguk mu di rumah sakit dan menyambut mu datang di rumah.” ucap Nesa. Ia memakan pentol bakso terakhir.


”Sardin tidak menyuruhnya datang menjenguk dan menyambut kedatangan ku di rumah ku sendiri, Mah. Itu kemauannya sendiri, tidak ada hubungannya dengan ku.” sahut Sardin dengan datar.


”Tapi sayang, hargailah niat baiknya itu!” Nesa melihat Syakila, ”Syakila, kamu sebagai teman dekat Sardin, ajarin dia bagaimana menghargai dan menghormati orang lain. Aku sudah capek mengajari anak datar ini.” keluhnya, sambil melirik Sardin.


”Mah...”


”Tante berkata benar, Sardin. Tidak ada salahnya kamu menghargai niat baiknya, bukan kah dia teman mu juga?” ucap Syakila menasihati, memangkas ucapan Sardin.


”Baiklah, aku hanya sekedar menghargai niat baiknya saja!” sahut Sardin. Ia melihat Syakila, ”Kila, bersihkan kamar ku, bisa? Aku ingin istirahat, kepalaku sedikit pusing!”


”Iya,” sahut Syakila, ia berdiri dan pergi ke kamar Sardin. Ia sudah tahu di mana letak kamar Sardin, dan bukan hanya kali ini ia membersihkan kamar pria itu. Sewaktu mereka berpacaran, setiap kali Sardin mengajaknya ke rumah, bertemu dengan orang tuanya, Syakila selalu membersihkan dan menata ruangan kamar Sardin.


”Apa kepalamu sering sakit?” tanya Nesa.


”Tidak juga! Hanya kalau sudah sakit, kepala Sardin pusing. Bukankah Sardin sudah menjalani operasi, apa yang terjadi saat operasi, Mah?”


”Tidak terjadi apa-apa! Operasinya lancar. Kamu jangan banyak berfikir yang tidak-tidak!” ucap Alimin, menyahuti Sardin. Ia melihat Nesa, istrinya.


Nesa menunduk terdiam. Maaf, nak! Sebenarnya, dokter mengusulkan untuk operasi satu kali lagi untuk mengangkat gumpalan darah yang ada di kepala mu. Tetapi Mama dan papa menolak, karena resiko operasi kedua sangat beresiko tinggi, tingkat keberhasilannya hanya sepuluh persen. Mama tidak ingin kehilangan kamu. Cukup kamu melakukan perawatan setiap bulan dan meminum obat saja jika pusing. Mama benar-benar tidak ingin kehilangan kamu, anak Mama satu-satunya. benaknya.


”Kamar mu sudah selesai ku bersihkan. Ingin istirahat, kamu istirahat lah! Aku pamit ingin pulang dulu.” ucap Syakila. Ia telah selesai membersihkan kamar Sardin.


”Secepat itu? Duduklah dulu, aku masih ingin kamu di sini.” sahut Sardin, ia tidak rela jik Syakila pulang. Ia masih merindukan wanita itu di sampingnya.


Syakila menurut, ia kembali duduk di kursi, di samping Sardin.


”Kamu gak bisa menahan Syakila di sini, Sardin! Dia punya suami yang harus ia perhatikan!” ucap Nesa.


”Iya, sayang! Mama mu benar!” ucap Alimin membenarkan.


”Makanya sayang, kamu menikahlah! Biar ada yang mengurus mu. Iya kan Syakila?” ucap Nesa.


Syakila terdiam, ada rasa tidak nyaman di hatinya mendengar ucapan Nesa. Ia melihat Sardin. Apa yang harus ia jawab? Apakah dia akan menjawab tidak? Apa pendapat Nesa dan alimin jika ia menjawab tidak? Apakah dia harus menjawab iya? Sementara hatinya tidak rela!!


”I..i..iya, Tante benar! Sardin...Ka..kamu me..nikahlah!” ucapnya, nada suaranya bergetar.


”Sardin belum memikirkan itu, Mah. Jangan memaksa Sardin! Atau Sardin akan keluar dari rumah ini!” sahut Sardin. Ia menggenggam tangan Syakila yang bergetar, menenangkan hati wanita itu.


Ia tahu dari nada suara Syakila yang bergetar, wanita itu tidak rela membiarkan dirinya menikah dengan wanita lain. Dan ia juga tahu mengapa wanita itu menjawab ”Iya” pada mamanya.


”Tapi...”


”Tidak ada kata tapi, Mah! Jika Sardin ingin menikah, tanpa Mama merencanakannya, Sardin akan menikah!” sanggah Sardin.


Nesa melihat Syakila, ”Lihatlah dia, Syakila! Dia tidak pernah mau mendengarkan ucapan ku, ini sudah yang kesekian kalinya aku membicarakan pernikahan dengannya. Tapi, dia selalu menantang ku! Tidak mau mendengarkan ku! Syakila, bujuk lah dia untuk segera menikah dengan Nita. Dia akan mendengarkan mu.” ucapnya memohon.


Deg deg! Darah Syakila berdesir memanas, ia melihat Sardin. Pria itu menggeleng kan kepala, menyuruhnya untuk jangan menyetujui ucapan mamanya.

__ADS_1


__ADS_2