Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 145


__ADS_3

Kediaman Sardin, di meja keluarga.


”Mama...!!” bentak Sardin.


”Pa, lihatlah anak manja mu, ini! Dia sudah berani membentak Mama! Padahal Mama cuma menyarankan hal untuk kebaikannya!” keluh Nesa pada Alimin, suaminya.


”Sardin, jangan pernah ulangi membentak Mama mu! Ucapan Mama mu sangat benar, usiamu sekarang sudah memasuki usia untuk menikah. Nita adalah gadis baik, dia juga tulus mencintai mu, bukalah hati mu untuk menerimanya di sisi mu!” ucap Alimin.


Percakapan mereka terdengar oleh Nita yang melangkah masuk ke dalam rumah, ia menghentikan langkahnya dan tersenyum senang.


Kita lihat! Apa kamu masih bisa menolak keinginan kedua orang tua mu sekarang, Sardin? benaknya.


Ia masih setia berdiri di tempatnya, mendengar lanjut pembicaraan keluarga Sardin. Syakila masih terdiam di tempat duduknya, mengatur suasana hati dan pikirannya.


Apa aku begitu egois? Benar, aku telah menikah dengan orang lain. Tante Nesa dan Om Alimin ingin melihat anak semata wayangnya bahagia. Tidak mungkin Sardin akan menceritakan kepada orang tuanya tentang pernikahan ku dengan Geo. Lalu, ia akan menunggu ku sampai kapan? Aku juga tidak tahu kapan pastinya Geo akan sembuh. Apa aku sudah merenggut kebahagiaan Sardin? Apa sudah waktunya aku untuk melepaskan cinta ini? Dan membiarkan Sardin memiliki kebahagiaannya sendiri. benaknya.


Ia melepas genggaman tangan Sardin dengan pelan.


”Kakak, kamu tidak boleh berbicara kasar kepada orang tua mu. Syakila tidak ingin mendengar untuk kedua kalinya.” ucapnya pelan.


”Ka..kamu dengarkan perkataan orang tuamu. Perkataan Tante benar, orang tua mu hanya ingin melihat mu bahagia. Ka...kamu menikah lah, temui kebahagiaan mu.” ucapnya lagi. Di wajahnya terukir senyuman melihat Sardin, tapi pandangannya, mengatakan sebaliknya. ”Aku...aku pamit dulu, sudah terlalu lama aku berada di sini.”


Sardin terdiam, menatap penuh tidak percaya pada Syakila, apa Syakila sudah menyerah pada cinta nya? Apakah Syakila tidak ingin menikah lagi dengan dirinya? Pikir Sardin.


”Iya, sayang! Terima kasih, sudah menasehati pria datar ini! Kamu hati-hati di jalan!” sahut Nesa.


”Iya, Tante!” Syakila tersenyum terpaksa.


Sardin memegang tangan Syakila yang hendak berdiri. Syakila menoleh, melihat Sardin, wajah pria itu menampakkan ketidakrelaan.


Syakila tersenyum, ia melepas tangan Sardin yang memegang tangannya dengan lembut. ”Jaga diri kakak, banyak istirahat! Jangan banyak berfikir yang tidak-tidak! Kila pulang dulu!” ucapnya menasehati.


Ia berdiri dan melangkah keluar dari rumah Sardin. Nita tersenyum senang, ia lanjut melangkah masuk dan duduk di bangku di mana Syakila duduk sebelumnya, di samping Sardin.


”Mah, Pa, Sardin ingin istirahat! Sardin masuk ke kamar dulu.” ucap Sardin. Tanpa menunggu jawaban dari orang tuanya, ia berdiri dan melangkah pergi ke kamarnya dengan wajah penuh kekesalan dan kekecewaan.


”Sardin...ka...kamu...” Nesa menghentikan ucapannya sendiri, anaknya itu sudah menghilang di balik pintu kamar. Ia menghela nafas dan melihat Nita. ”Maaf, Sardin masih bersikap cuek padamu!” ucapnya.


”Tidak apa-apa, Tante. Bukan kah sudah ku bilang, aku sudah tahu watak pria itu! Oh iya, Tante, siapa wanita tadi? Kelihatannya akrab dengan Sardin.”


”Dia Syakila, dia teman Sardin semenjak kecil. Mereka pernah menjalin hubungan asmara, cuma..mereka tidak berjodoh. Syakila sudah menikah dengan pria lain. Tetapi, pria datar itu...sampai sekarang belum juga ingin menikah.” ungkap Nesa, wajahnya sedih melihat kamar Sardin yang tertutup.


”Tante, Tante tidak usah merasa sedih begitu...Sardin pasti akan menikahi ku cepat atau lambat.” sahut Nita.


”Semoga begitu, Tante dan Om sangat ingin melihat dia menikah dan hidup bahagia. Om dan Tante yakin kamu bisa membahagiakan anak kami dengan cinta tulus mu.” Nesa melihat suaminya, ”Iya kan, Pa?”


Alimin hanya mengangguk menanggapi, ia tahu jika putranya tidak mencintai Nita. Ia juga tahu, anaknya masih menaruh harapan pada Syakila. Lalu bagaimana caranya Sardin mau menikahi Nita?


”Insya Allah, Tante. Nita akan membuat Sardin bahagia.” ucap Nesa. Ia melihat pintu kamar Sardin.


Ternyata dia mantan pacar mu! Wanita seperti itu kah yang kamu inginkan? Sardin, namaku bukan Nita jika aku tidak bisa menaklukkan mu!! benaknya, ia tersenyum licik.


”Em... Tante, Om, Nita pamit pulang dulu! Sudah agak lama Nita di sini. Nanti Nita akan ke sini lagi untuk menjenguk Tante, Om dan Sardin.” ucapnya lagi.


”Iya, hati-hati di jalan, Nak.” sahut Nesa.


”Iya, Tante!” Nita melangkah keluar dari rumah Sardin.


Perasaan Nesa masih sangat sedih memikirkan anak semata wayangnya itu. Jika dia ingin memaksa Sardin menikah, bisa saja. Tetapi, ia tidak ingin Sardin keluar dari rumah lagi seperti dulu, saat ia memaksa kehendaknya menyuruh Sardin untuk bertunangan.


”Pa, bagaimana nasib anak kita? Mama ingin melihat dia bahagia di sisa hidupnya. Mama ingin menggendong cucu dari keturunannya. Apakah Mama salah memiliki keinginan ini, Pa?” keluhnya.


”Keinginan Mama tidak salah! Setiap orang tua mempunyai pemikiran dan keinginan yang sama seperti Mama. Hanya saja, anak kita baru pulih dari sakitnya, jangan terlalu mendesak dia. Berikan waktu untuk dia berpikir.” sahut Alimin.


Nesa menghela nafas, ”Baiklah, Pa. Jika dia tetap tidak mendengarkan kita, cuma Syakila satu-satunya tempat terakhir Mama meminta bantuan untuk meyakinkan Sardin menikahi Nita.”


”Terserah, Mama.” sahut Alimin.


Sardin belum ingin menikah, karena dia masih menaruh harapan pada Syakila. Mereka berdua masih saling mencintai sampai sekarang. Ini akan rumit untuk Sardin. benak Alimin.


Ia merangkul dan mengelus lembut punggung istrinya itu.


.. ..

__ADS_1


Di perjalanan menuju kediaman Rivaldi.


Pikiran Syakila tidak tenang, wanita itu masih memikirkan perkataan Nesa, ibunya Sardin. Ia dan Sardin masih saling mencintai. Bagaimana bisa dia menyerahkan pria yang di cintai nya kepada wanita lain? Apalagi melihat pria itu hidup bahagia, saling bercanda tawa ria dengan wanita lain! Baru memikirkannya saja sudah membuatnya cemburu dan tidak senang.


Tapi apa yang harus ia lakukan? Ini permintaan Nesa, ibunya Sardin sendiri yang meminta dirinya untuk meyakinkan dan membujuk Sardin untuk menikah. Bagaimana bisa dia mengabaikan permintaan Nesa? Jika ingin menolak, bagaimana cara ia untuk menolak? Apakah dia harus menceritakan tentang perjanjian pernikahannya dengan Geo kepada Nesa? Dan memberitahu pada Nesa alasan Sardin menolak menikah dengan orang lain karena dirinya? Itu sangat tidak mungkin dan tidak masuk akal! Apa nanti tanggapan orang tua Sardin pada dirinya? Wanita murahan? Wanita egois? Atau lebih buruk lagi dari itu?


Syakila menghela nafas, ia memejamkan mata, memijat kedua pangkal hidungnya.


Sardin, aku harus bagaimana? Aku tidak rela melepas mu. Aku tidak rela membiarkan mu berada di pelukan wanita lain. Baru memikirkan mu yang berbahagia dengan wanita lain saja aku sudah cemburu, aku tidak tenang, bagaimana jika itu benar!? benaknya.


”Neng, kita sudah sampai di depan rumah tuan Rivaldi. Apa Neng tidak ingin turun?” ucap si supir.


Syakila membuka mata, melihat di sekitar jendela.


”Oh, kita sudah sampai yah! Maaf, aku melamun.” sahutnya. Ia mengeluarkan selembar uang membayar taksi nya. ”Terima kasih, Bang.”


Ia turun dari mobil, melihat gerbang rumah Rivaldi. ”Sudah lama aku meninggalkan Geo di dalam sana. Bagaimana keadaan dia sekarang?” Ia mendorong pagar rumah, melangkah masuk ke dalam.


”Nyonya, Anda sudah datang?” sapa Ijan yang sedang berada di luar.


”Iya, bagaimana keadaan Geo? Em, apa kalian berdua sudah makan?”


”Sudah Nyonya, tuan baik-baik saja. Tuan Rivaldi baru saja selesai memberikan pengobatan kepada tuan Geo.”


”Oh, mereka berdua akur saja kan selama aku pergi?”


”Iya, Nyonya. Mereka berdua baik-baik saja.”


”Baguslah, aku masuk ke dalam dulu.” sahut Syakila. Ijan mengangguk, Syakila membuka pintu klinik Rivaldi, melangkah masuk ke dalam.


Ia melihat Geo yang duduk di kursi roda sambil melihat handphone menghadap jendela. Sedangkan Rivaldi, ia sedang serius melihat kembali hasil foto rontgen tulang kaki dan belakang Geo.


”Maaf, aku baru pulang.” ucapnya.


Rivaldi dan Geo sama-sama melihat Syakila yang sedang menutup kembali pintu klinik.


”Oh, bagaimana, apakah Sardin sudah keluar dari rumah sakit?” tanya Geo. Ia mendorong kursi rodanya mendekati Syakila yang masih berdiri di dekat pintu. Rivaldi hanya melihat kedua insan itu sekilas, lalu, ia kembali mengamati foto di tangannya.


”Iya, sudah keluar dari tadi.” jawab Syakila. Ia berjalan ke arah kursi, hingga berpapasan dengan Geo di depan kursi.


”Ada apa?” tanyanya.


”Apa senang menikmati makanan di dalam restoran? Apa segar setelah menghirup harumnya bunga di taman?” Geo menjawab Syakila dengan pertanyaan.


Rivaldi melihat ke arah mereka berdua, Apakah Geo sedang cemburu dan marah? Nada suaranya terdengar biasa saja, tapi, kandungan maknanya.... benaknya.


Ia masih memperhatikan dua insan itu.


”Kamu mematai ku?”


”Keselamatan mu...bukan kah tanggung jawab ku? Bukan kah itu yang kau bilang pada ibumu? Jadi, bahasa mematai mu tidak cocok, yang cocok adalah menjagamu dengan diam-diam!”


”Tapi kamu tidak perlu memata-matai ku segala!”


”Jangan membuatku semakin marah, Syakila! Aku belum menghukum mu karena lalai dengan tanggung jawab mu sebagai istr! Kamu mengabaikan aku dan membiarkan aku kelaparan di rumah orang, sedangkan kamu! Kamu malah menikmati makan bakso bersama seorang pria di dalam restoran. Setelah itu, kamu duduk berduaan di taman, tanpa memikirkan bagaimana keadaan ku di sini!!” ucap Geo dengan marah.


Jadi, orang ini benar-benar marah karena cemburu? Dia tahu aktivitas Syakila di luar sana. Tekanan nada suaranya ketika marah sangat menakutkan! Aura kejamnya terlihat di matanya... Tapi...dia masih menahan diri di depan Syakila. Dan Syakila terlihat takut...apakah dia pernah merasakan amarah Geo sebelumnya? Setahu ku, Syakila bukanlah orang yang takut pada orang lain. benak Rivaldi.


Ia masih memperhatikan Geo dan Syakila dari tempat duduknya.


”Jadi, jangan membangkitkan amarah ku!!” ucapnya lagi. Ia menekan, semakin menekan genggaman tangannya yang memegang pergelangan tangan Syakila dengan kuat tanpa ia sadari.


”Ah... Geo..ta..tangan ku...sa...sakit!!” keluh Syakila.


Geo melihat tangan Syakila, ada sedikit goresan di pergelangan tangan itu, namun, tidak membuatnya mengendorkan genggaman tangannya.


”Jika tahu rasa sakit! Mengapa tidak tahu dengan tanggung jawab mu! Aku mengizinkan mu menemui dia hanya karena mengingat persahabatan mu dan menghargai janji mu dengannya! Dan aku izinkan kamu hanya untuk mengantarnya pulang ke rumah. Tapi, kamu....”


”Ah...maaf! Maaf, Geo! Aku tahu aku salah.... Aku minta maaf!!” ucap Syakila, sambil menahan sakit, memangkas ucapan Geo.


Genggaman tangan Geo di pergelangan tangannya semakin kuat dan erat. Jika saja ia berontak dan menarik tangannya, tentu saja kulit tipisnya akan terluka.


”Sebaiknya kamu pulang ke rumah sekarang! Aku ingin tinggal di sini beberapa hari!” ucap Geo sambil menghempas kasar tangan Syakila.

__ADS_1


”Ta..tapi...”


Syakila menghentikan ucapannya melihat tangan Geo yang terangkat.


”Ijan, antar Syakila kembali ke kediamannya!” ucapnya.


”Baik, Tuan!” sahut Ijan, yang tiba-tiba sudah berada di bibir pintu. ”Nyonya, silahkan!” ucapnya sopan pada Syakila.


Syakila sedih melihat Geo seperti itu...ia bisa merasakan apa yang di rasakan pria itu. Ia tidak ingin meninggalkan Geo, tetapi, ia tidak ingin membuat Geo semakin marah melihat dirinya. Akan lebih baik ia mengikuti perintah Geo.


Daripada ia membiarkan amarah Geo yang sebenarnya meluap di depan gurunya, akan terlihat tidak baik.


Ia mundur perlahan sambil menatap punggung pria itu...


”Guru...aku titip Geo...” ucapnya pada Rivaldi.


Rivaldi mengangguk, Syakila kembali melihat punggung pria itu...saat ini dia sangat berharap Geo akan menghentikan langkahnya dan menahannya tetap di sana. Namun, itu tidak terjadi...


Syakila memutar badan, ia keluar dari klinik Rivaldi. Ijan menyusul di belakangnya.


Rivaldi memandang Geo tanpa berani bertanya ataupun bersuara. Ia takut untuk membuka suaranya. Aura kekejaman Geo masih terasa dalam ruangannya.


.. ..


Di perjalanan pulang.


”Ijan, apakah Geo akan baik-baik saja di sana?”


Ijan melirik Syakila dari kaca spion. Terlihat mata nyonya nya itu berkaca-kaca.


”Iya, Nyonya tenang saja! Tuan bisa beradaptasi dengan suasana hatinya.” ucapnya.


”Jam berapa kalian makan siang?”


”Hampir jam empat sore, Nyonya!”


”Apa?!” Syakila terkejut. Ia terdiam...


Dia memang pantas untuk marah. Aku terlalu lama berada di luar, mengabaikan dirinya. Geo..maaf! Maaf kan aku... benaknya.


”Ijan,”


”Ya, Nyonya!”


”Apa kamu tahu letak gedung the cobra?”


”Iya, Nyonya.”


”Antar aku ke sana! Aku masih ingin belum pulang ke rumah.”


”Tapi, Nyonya...ini sudah hampir malam...”


”Berhenti di sini, aku naik taksi saja!” ucap Syakila, memangkas ucapan Ijan.


”Tidak, saya akan mengantar Nyonya ke gedung the cobra.” sahut Ijan.


Jika aku membiarkan Nyonya pergi naik taksi ke sana, jika tuan tahu...aku akan berakhir. benaknya.


Ijan memutar arah, menjalankan mobil ke arah gedung the cobra.


Untuk apa Nyonya kesini? Ah..hati Nyonya sedang tidak baik. Ia ingin menyendiri sendiri di sana. Apa karena di marahi tuan Geo? benaknya lagi.


Ia melihat Syakila dari kaca spion. Wajah Nyonya nya terlihat sedih, matanya berkaca-kaca. Entah apa yang sedang di pikirkan Nyonya nya itu!


Ijan membelokkan mobilnya memasuki area parkir gedung. Mobil berhenti dengan sempurna.


”Nyonya, kita sudah sampai.”


”Hum, aku ingin di sini sendirian. Kamu kembali lah pada Geo, dan sepulang dari sini, belilah makanan untuknya.” sahut Syakila.


”Maaf, Nyonya. Saya tetap di sini menemani Nyonya. Saya masih ingin hidup dan bekerja dengan tuan! Mohon Nyonya jangan mempersulit saya!” ucap Ijan dengan ramah.


Syakila terdiam. Ia mengerti maksud ucapan Ijan. ”Baiklah, terserah kamu saja!” ia turun dari mobil.

__ADS_1


Ia berjalan, melangkah masuk ke dalam gedung the cobra. Ia terus berjalan hingga ke aula belakang.


__ADS_2