
Halim dan Hamid sama-sama merenung akan perjalanan cinta dalam kehidupan mereka sambil memandangi laut yang terlihat indah dengan sinaran lampu-lampu dari kapal. Halim yang bersyukur akan kehadiran istrinya di kehidupannya, sedangkan Hamid yang menyesali sikapnya kepada Sarmi waktu dulu.
Alhamdulillah terima kasih istriku, kamu sudah bersedia menikah denganku dulu. Dan terima kasih sudah mencintaiku dengan tulus. Aku hampir saja melepas mu jika orang tuaku tidak menghalangiku dengan menceramahi ku tentang sebuah pernikahan. Jika hal itu terjadi dulu, mungkin sekarang aku sedang menangisi penyesalanku.
batin Halim
Aku menyesal sudah menuduh mu yang bukan-bukan, Sarmi! Seandainya dari dulu aku tahu alasan mu memutuskan hubungan kita karena orang tuaku, aku pasti akan tetap mempertahankan mu, dan sekarang mungkin kita sudah memiliki anak-anak yang lucu. Hah! Aku memang bodoh, aku tidak berpikiran dewasa saat itu. Sarmi setelah aku mendengar kamu akan bercerai saat itu, aku berpikir untuk mencari mu kembali, aku juga berpikir akan masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki cinta kita yang dulu setelah aku bercerai dengan istriku. Tapi kenyataannya sekarang kamu tidak bercerai, justru aku bertemu dengan suamimu disini.
batin Hamid.
Mereka sama-sama mendesah kan nafas kasarnya di udara, Halim yang mendesah karena rasa syukur dan Hamid mendesah kan penyesalannya.
Di tengah-tengah kediaman mereka, seseorang datang menghampiri mereka dan orang itu berdiri tepat di samping Halim. Halim meliriknya sekilas lalu ia menggerutu dalam hatinya.
Wanita ini lagi! Apa sih maunya dia? Selalu saja datang menghampiri ku. Lihat baju yang di kenakan nya sekarang, apa dia tidak takut akan masuk angin nanti?
"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Halima, sambil melirik Halim dan Hamid. Halim mengacuhkan Halima yang tersenyum padanya, sedangkan Hamid ia melirik Halima dengan rasa bingungnya.
"Tidak juga!" jawab Halim dengan acuh. Ia berpindah posisi berdirinya saat ia kembali merasakan benda kenyal mengenai sikunya, ia berdiri di samping kiri Hamid dan membiarkan Hamid yang berdiri di tengah-tengah dia dan Halima.
Huh! Dia menghindari ku terus, dan membiarkan temannya ini yang berdiri di samping ku. Sikapmu itu membuatku semakin ingin mendekatimu, Halim! Jika kamu ingin tahu. Aku penasaran!
batin Halima
Halima melirik Hamid yang kini berdiri di sampingnya, dan ia juga melirik Halim yang sedang memandangi lautan bebas.
Kenapa Halim tiba-tiba pindah posisi? Apa jangan-jangan inilah wanita yang di maksud oleh dia?
batin Hamid.
"Kamu temannya Halim?" tanya Halima pada Hamid. "Perkenalkan namaku Halima." ucapnya lagi memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.
Oh! Jadi benar ini dia, si Halima yang di maksud oleh Halim. Iyah memang sih cantikan Sarmi di banding dia, dandannya saja tebal begitu. Pakaiannya juga terbuka begitu, huh! Orang seperti Halim mana mungkin akan tergoda? Beda dengan orang yang sudah lama tinggal di kota, mereka tidak akan menghindar, justru semakin merapatkan diri.
__ADS_1
batin Hamid.
"Ya, aku temannya dan namaku Hamid." sahut Hamid. Ia bersalaman dengan Halima. Halima selalu saja melirik Halim meski ia sedang berbicara dengan Hamid. Halim yang menyadarinya, ia ingin kembali ke tempatnya.
"Hamid aku duluan ke tempat, yah!" pamit Halim kepada Hamid. "Oh, kenapa gak sama-sama saja? Ayok pergi!" sahut Hamid. Mereka pun berpamitan kepada Halima.
"Halima kami pergi dulu!" ucap mereka bersamaan. Mau tidak mau, Halima pun hanya mengangguk dan memaksakan tersenyum untuk kepergian mereka.
Mereka langsung pergi tanpa menoleh kebelakang lagi. Halima tersenyum kecut melihat punggung belakang mereka yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Aku semakin penasaran dengan kamu Halim! Teruslah bersikap seperti itu, tapi aku yakin lambat laun kamu pasti akan terpesona denganku." gumam kecil Halima.
Setelah tidak melihat punggung mereka lagi, Halima berbalik. Ia tetap di posisi berdirinya sekarang. Ia sedang berpikir bagaimana caranya agar ia bisa dekat dengan Halim.
"Halim, kenapa kamu tidak terlalu suka dengannya? Sepertinya dia orangnya baik-baik saja!" Hamid bertanya kepada Halim yang sedang menikmati segelas kopinya.
Mereka sekarang sedang berada di kafe kecil yang berada di atas kapal itu, Mereka berubah haluan pergi ke kafe, setelah meninggalkan Halima sendirian disana. Halim sedang menikmati kopinya, sedangkan Hamid ia sedang menikmati pop mie.
"Aku hanya sedang menjaga jarak saja, bukan berarti aku tidak menyukainya." sahut Halim.
"Maksudmu apa?" tanya Halim yang tidak mengerti dengan ucapan Hamid.
"Oh itu, lupakan saja. Tidak penting juga untuk di bahas." sahut Hamid.
"Oh iya, besok pagi kita sudah sampai di kota A, kamu tinggalnya dimana? Siapa tau aku bisa jalan-jalan ke rumah mu nanti." ucap Hamid lagi sambil mengunyah makanannya.
"Aku belum tau akan tinggal dimana, ini pertama kalinya aku kesana." sahut Halim. Ia kembali menyeruput kopinya.
Hamid terkejut mendengar ucapan Halim. "Apa aku tidak salah dengar? Lalu kamu di sana siapa yang menjemput mu, jika sudah sampai di pelabuhan?" tanyanya sambil menatap Halim dengan bingung.
"Aku akan di jemput oleh karyawannya Anton, mungkin sementara aku tinggalnya disana." jawab Halim.
"Oh si Anton yang agen kosmetik terbesar di kota itu?" tanya Hamid dengan terkejut sekaligus penasaran.
__ADS_1
"Mungkin!" sahut Halim sambil mengedikan kedua bahunya. "Aku hanya taunya tokonya yang di pasar tidak jauh dari pelabuhan itu. Karena toko itu nantinya aku yang akan jaga."
"Apa istrinya yang bernama Serlina?" tanya Hamid lagi penasaran.
Halim mengangguk, "Iya itu nama istrinya." jawabnya.
"Ah! Tidak salah lagi itulah Anton yang ku maksud. Dia adalah agen kosmetik yang pertama di kota A. tokonya ada tiga, dua untuk dia menjual eceran dan satunya dia menjual partai. Jadi kamu nanti yah yang jaga toko yang di dekat pelabuhan itu?" ucap Hamid sekaligus bertanya.
"Ternyata dia pedagang yang sukses yah, sampai tokohnya ada tiga? Iyah, tokoh yang di dekat pelabuhan itu aku yang akan jaga." sahut Halim.
"Ngomong ngomong apa boleh aku tahu kamu dan dia punya hubungan apa?" tanya Hamid lagi dengan penasaran.
"Tidak ada hubungan yang spesial di antara kami. Kami hanyalah teman dulu waktu SMP. Setelah lulus SMP kami tidak pernah bertemu lagi, dia pindah di kota tersebut untuk melanjutkan SMA nya. Kami kembali bertemu pas di saat ia membawa istrinya melahirkan dikampung." ucap Halim menjelaskan.
"Oh begitu, tadinya ku pikir kalian ada hubungan saudara. Kalau begitu kamu termasuk orang yang beruntung. Jadi ini pertama kalinya kamu merantau? Atau pernah merantau di kota lainnya, mungkin?" sahut Hamid sekaligus bertanya lagi.
"Tidak, ini untuk pertama kalinya aku menginjak kota A juga untuk pertama kalinya merantau, dan juga per_" ucapannya terpotong oleh Hamid.
"Pertama kalinya juga kamu meninggalkan istrimu dan anakmu sendirian di kampung, iya kan?" ucap Hamid menyambung ucapan Halim yang terpotong.
Halim tertawa kecil, "Hahaha kamu benar, ini untuk yang pertama kalinya aku meninggalkan mereka disana, sendirian..." di ucapan terakhirnya nada suara Halim berubah sedih. Ia tersenyum kecut.
Dan rasanya hampa sekali saat jauh dari istri dan anak-anak ku. Ya Allah lindungilah istriku dan anak-anak ku di sana, jauhkan mereka dari segala cobaan-Mu. Aamiin.
batin Halim.
Hamid menyadari jika temannya itu sedang merasa sedih sekarang, sangat jelas dari terdengar dari nada suaranya yang berubah sendu dan terlihat jelas dari raut mukanya yang kusut.
"Bersabarlah! Semoga kamu sukses nantinya, dan kamu bisa membawa anak dan istrimu untuk bersama-sama tinggal di kota A." ucap Hamid menyemangati Halim.
Halim tersenyum tulus padanya dan segera mengamini ucapan Hamid. "Aamiin. Terima kasih Hamid." ucapnya. Lalu ia menghabiskan kopinya yang sudah hangat itu dalam sekali teguk. Hamid mengangguk sebagai jawabannya.
"Yuk kita kembali ke tempat kita, sudah terlalu lama kita disini." ajak Halim setelah ia melihat Hamid telah menyelesaikan makanannya.
__ADS_1
"Ok!" sahut Hamid dengan singkat. Mereka berjalan beriringan menuju dek 5 tempat mereka mengistirahatkan tubuhnya selama di atas kapal.