
Di kediaman Sarmi.
Acara makan telah selesai. Mereka semua kembali berkumpul di depan. Syakila merasa pusing. Ia berdiri dari duduknya.
Kepalanya makin pusing. Dia hampir terjatuh kalau saja tidak berpegang pada dinding. Semua orang terkejut.
”Syakila, kamu baik-baik saja?” tanya Sardin dan Geo, mereka berdua sama-sama menghampiri Syakila, memegang lengannya.
Semua orang saling pandang. Geo dan Sardin sama-sama memperhatikan Syakila.
”Aku...aku baik-baik saja. Terima kasih,” jawab Syakila. Dia melepaskan tangan Geo dan Sardin dari lengannya. Dia kembali melangkah, masih berpegang pada dinding, pergi ke kamarnya.
Sardin dan Geo sama-sama memandang punggung Syakila dengan khawatir, sampai punggung itu menghilang. Syakila telah masuk ke dalam kamar.
Sardin dan Geo kembali duduk di tempatnya.
”Em..Mama, terima kasih atas hidangan yang Mama suguhkan. Geo, pamit dulu.” Ia beranjak berdiri. ”Paman, Bibi, Om, Sardin, aku pergi dulu.”
”Iya, hati-hati!” sahut Nesa dan Alimin.
”Nak...” ucapan Sarmi terpotong dengan gelengan kepala Johan. Sarmi mengerti. Apalagi saat dia melihat pandangan aneh dari Nesa dan Alimin.
”Iya, Mah.” sahut Geo.
”Em...jalan-jalan lagi ke sini kalau ada waktu mu. Aku menganggap mu anakku. Jangan sungkan untuk datang berkunjung ke sini.” ucap Sarmi.
”Iya, Mah. Insya Allah, sebelum kembali ke kota A, Geo akan sempatkan diri untuk datang ke sini. Aku pergi dulu, Mah.” pamitnya kembali.
”Kamu mau kemana? Aku tidur sendirian di kamar ku. Kamu, sementara di kota ini, tinggal saja sama aku.” tawar Sardin.
Nesa dan Alimin bingung menatap Sardin. Bagaimana bisa Sardin akrab dan berbicara santai sama saingan cintanya? Apakah Sardin tidak takut jika Syakila kembali pada mantan suaminya?
”Tidak. Terima kasih, aku punya rumah sendiri di sini. Aku pergi.” ucap Geo. Dia bergegas keluar dari rumah Sarmi. Ia merasa sangat canggung berada di tengah mereka semua.
Suara deru mobil terdengar. Bukan hanya satu, tapi, beberapa buah mobil yang terdengar suara derunya. Perlahan-lahan, suara mobil-mobil tersebut tidak terdengar lagi.
”Baiklah, Mama. Sebaiknya kita juga pulang sekarang. Sardin ingin istirahat.” ucap Sardin pada kedua orangtuanya.
”Iya. Ok.” jawab Nesa. Dia melihat Sarmi, ”Sarmi, terima kasih, untuk hari ini. Beberapa hari kemudian, kami akan kesini lagi membicarakan pernikahan anak kita.” ucapnya, sembari tersenyum.
Sarmi membalas senyum Nesa. ”Baiklah, kami akan menyambut kedatangan kalian.” sahutnya.
”Kami pergi dulu.” pamit Nesa dan Alimin.
”Iya, hati-hati!” ucap Johan dan Sarmi.
Nesa dan Alimin berdiri. Alimin memegang tas Sardin saat keluar dari rumah Sarmi.
”Bibi, Om, Bibi Biah. Sardin pulang dulu.” pamit Sardin pada Sarmi dan Johan, juga pada Biah.
”Iya. Hati-hati, Nak.” sahut Biah dan Johan.
”Apa kamu sakit, Nak? Bibi perhatikan wajahmu sedikit pucat.” tanya Sarmi.
Oh, pantas bibi memperhatikan ku terus. Rupanya, bibi menyadari aku tidak sehat. benak Sardin.
”Oh, em..tidak, Bi. Mungkin kurang istirahat saja. Sardin pergi dulu. Mama dan papa sudah menunggu di mobil.” pamit Sardin lagi.
Ia bergegas keluar setelah melihat anggukan Sarmi. Dia tidak mau Sarmi tahu akan kondisinya yang tidak sehat itu.
”Mereka semua sudah pergi. Bagaimana kalau kita undang Geo makan malam di rumah dan membicarakan keputusan cerai itu?” tanya Sarmi pada Johan.
”Iya. Itu lebih baik. Kalau begitu, kamu dan Biah, persiapkan untuk acara malam ini. Aku ingin pulang istirahat dulu.” tutur Johan.
”Ah, tidak perlu repot kan kakak ipar. Kakak ipar dari tadi sudah bekerja, pasti capek. Kakak ipar pulang istirahat saja. Jam enam baru kakak ipar datang kesini. Urusan masak, ada Syakila, Fatma, Yuli, dan Ita.” ucap Sarmi.
”Em...Mama di sini saja dulu, Pa. Papa pulang sendiri saja. Gak apa-apa kan, Pa?” tanya Biah pada Johan, suaminya.
”Iya. Tidak apa-apa.” Johan berdiri. ”Aku pergi dulu.” pamitnya.
”Iya.” sahut Biah dan Sarmi.
Johan pergi ke rumahnya.
”Kalau kakak ipar ingin istirahat, kakak ipar istirahat di kamar ku saja.” ucap Sarmi pada Biah.
”Aku mau ke kamar Syakila. Mungkin istirahat di sana saja.” sahut Biah.
”Mau ke kamar Syakila? Aku juga ingin ke sana. Kalau begitu, ayo pergi sama-sama.” ajak Sarmi.
Mereka pun pergi ke kamar Syakila bersama-sama. Sarmi membuka pintu kamar Syakila.
Mereka berdua masuk, mereka melihat Syakila sedang tidur. Mereka mendekati Syakila.
Sarmi membelai kepala Syakila. ”Syakila,” ia membangunkan Syakila.
”Uhm!” sahut Syakila. Namun, matanya tetap terpejam.
”Syakila.” sekali lagi Sarmi membangunkan Syakila. Dia menepuk pelan pipi Syakila. Namun, dia merasakan hawa panas.
Kening Sarmi berkerut. Ia meraba kening Syakila. ”Ya Allah, Nak! Kamu sakit? Badan mu panas sekali!” Sarmi khawatir dan panik.
”Uhm? Syakila demam?” Biah seakan tidak percaya. Dia meraba kening Syakila. ”Ya Allah, panas sekali!” dia juga khawatir.
”Biah, kamu di sini, temani Syakila. Aku...aku ambil air hangat dulu.” ucap Sarmi. Tanpa menunggu sahutan Buah, Sarmi bergegas ke dapur.
__ADS_1
Biah memperbaiki cara tidur Syakila dengan benar. ”Sejak kapan kamu sakit, Nak? Kenapa gak bilang kalau gak enak badan!” Biah juga tak kalah khawatir nya seperti Sarmi.
Drrtt drrtt! Bunyi dering hape Syakila. Biah melihat hape Syakila di atas meja.
”Iya, halo.” sapa Biah.
”Em..ini siapa?” tanya Geo.
”Ini Bibi Biah. Kamu mau bicara dengan Syakila?”
”Iya, Bi. Tolong berikan hapenya padanya.”
”Sebentar, yah.”
Biah meletakkan hape Syakila di ranjang. ”Sayang! Bisa bangun gak?” tanya Biah pada Syakila.
”Ada apa, Bi? Mata Syakila enggan untuk terbuka, Bi. Syakila ingin tidur.” jawab Syakila.
Kening Geo di sebrang sana mengerut, mendengar pembicaraan Syakila dan bibinya.
”Tapi, sayang! Ada telfon untuk mu. Kamu jawab dulu.” ucap Biah.
Syakila menggeleng.
”Biah, sudah perbaiki tidurnya Syakila?” tanya Sarmi.
”Iya. Ini...Geo mau bicara dengan Syakila. Tapi, Syakila enggan untuk bicara. Mau buka matanya saja tidak bisa. Aku khawatir, Sarmi. Sebaiknya, kita bawa Syakila ke rumah sakit saja.” usul Biah.
Kening Geo semakin berkerut ke dalam.
Sarmi menjadi semakin khawatir. Ia mendekati Syakila. ”Ya Allah, Nak! Kamu baru saja datang ke rumah, masa langsung sakit begini!”
”Mama, Syakila ingin istirahat. Syakila gak suka suara berisik.” ucap Syakila.
”Kalau begini. Kita bawa saja ke rumah sakit, Sarmi. Kamu siapkan Syakila. Aku..aku pergi panggil Johan.” ucap Biah.
Mereka sudah lupa jika Geo masih menelfon. Mereka tengah di sibukkan dengan rasa khawatir dan panik dengan kondisi Syakila saat ini.
”Iya. Cepat yah Biah. Sementara menunggu kalian, aku kompres dia dulu.” ucap Sarmi.
Biah mengangguk. Ia keluar dari kamar.
”Apa yang kamu pikirkan Nak, sampai membuat mu sakit begini?” Sarmi mulai menangis.
.. ..
Di rumah sakit, di ruangan Rivaldi.
Geo mengambil jaket dan kunci mobilnya dari atas meja. Ia beranjak berdiri. Wajahnya terlihat khawatir. Hapenya masih tersambung dengan hape Syakila.
”Ada apa? Kok buru-buru begitu! Dan wajahmu...kenapa khawatir gitu.” tanya Rivaldi yang baru keluar dari toilet.
”Syakila?”
”Iya. Ayo...jangan banyak tanya lagi.” Geo menarik tangan Rivaldi.
”Sabar! Sabar! Aku ambil perlengkapan ku dulu.” Rivaldi tidak bisa menolak.
Geo melepaskan tangan Rivaldi. Rivaldi membawa perlengkapan dokternya.
”Ayo...” Geo menarik tangan Rivaldi dan mempercepat langkahnya. Rivaldi mengikuti langkah kaki Geo.
Mereka masuk ke dalam mobil Geo. Geo mengendarai mobilnya dengan cepat meninggalkan rumah sakit.
”Jangan ngebut, Geo. Aku masih belum ingin mati! Aku sudah menetapkan tanggal pernikahan ku dengan tunangan ku. Kamu ingin membuat tunangan ku mendadak menjadi janda, di saat belum nikah?” ketus Rivaldi menasehati Geo.
Mendengar ocehan Rivaldi, semakin membuat Geo mempercepat laju mobil.
”Astaghfirullah! Geo! Pelan kan laju mobil mu!” kembali Rivaldi menasehati Geo.
”Tenang saja! Aku gak akan biarin calon kamu menjadi janda. Kalaupun kamu sudah tiada, aku yang akan menggantikan kamu menikah sama dia.” sahut Geo dengan asal.
”Enak saja!”
Geo menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Sarmi. Geo dan Rivaldi bergegas turun dari mobil dan sedikit berlari masuk ke rumah Sarmi, yang pintunya terbuka.
Geo langsung pergi ke kamar Syakila. Rivaldi mengikuti di belakang.
Suara tangis Sarmi dan Biah terdengar di telinga Geo dan Rivaldi, saat masuk ke kamar Syakila, yang pintunya terbuka.
”Syakila! Apa kamu bisa mendengar Om?” tanya Johan. Syakila tidak menjawab. Hanya menggumam tidak jelas, dengan mata terpejam.
”Johan, langsung saja bawa dia ke rumah sakit!” ucap Sarmi, sembari menangis.
”Aku gak kuat menggendong Syakila. Johansyah dan Hardin belum pulang. Tunggu mereka sebentar lagi.” sahut Johan.
Geo melepas handset di telinganya. Dia mematikan sambungan telfon dengan Syakila.
”Mama, Om, Bibi, apa yang terjadi dengan Syakila?” tanya Geo.
”Geo? Kamu datang? Syakila sakit, Nak!” jawab Sarmi.
”Rivaldi! Cepat, periksa Syakila?” titah Geo pada Rivaldi.
Johan menyingkir dari sisi Syakila, di gantikan dengan Rivaldi. Rivaldi mulai memeriksa kondisi Syakila.
__ADS_1
”Syakila, ini aku, Geo. Kamu mendengar ku?” Geo mencoba mengajak Syakila bicara.
”hum!”
”Syakila, buka matamu!”
”Hum!”
Geo khawatir dengan kondisi Syakila. Rivaldi telah selesai memeriksa.
”Sakit apa dia, Rivaldi?” tanya Geo.
”Ini gejala demam berdarah. Untuk memastikan lebih tepat, harus cek darahnya.” jawab Rivaldi.
”Cek sekarang!” titah Rivaldi.
”Aku hanya mengambil sampel darahnya. Sampai di rumah sakit baru aku cek darahnya. Sementara, aku berikan dia obat penurun panas. Dan aku akan memberikan infus untuk mengganti cairan tubuhnya.” papar Rivaldi.
”Ok! Lakukan!” titah Geo.
Rivaldi melakukan apa yang baru saja dia katakan pada Geo. Dia mengambil darah Syakila dulu. Setelah itu, dia memberikan infus pada Syakila.
Dia mengeluarkan obat penurun demam dari tasnya. ”Ini adalah obat penurun panas. Berikan padanya setelah selesai makan.” jelas Rivaldi.
”Ok!” Geo mengambil obat itu dan menaruhnya di atas meja.
”Kalau begitu. Aku ke rumah sakit dulu. Mau cek darahnya Syakila.” pamit Rivaldi.
”Iya. Terima kasih, Rivaldi.” ucap Sarmi dan Johan.
”Sama-sama.” sahut Rivaldi.
”Kamu bawa mobil sendiri. Aku masih ingin di sini, menemani Syakila.” Geo memberikan kunci mobilnya pada Rivaldi.
Rivaldi mengambil kunci mobil Geo. Dia mengerti ke khawatiran temannya itu. Apalagi Syakila adalah gadis yang masih ia cintai.
Rivaldi telah pulang dari kediaman Sarmi. Ketegangan dan kepanikan yang tercipta tadi, kini sudah menjadi sedikit tenang.
”Biarkan Syakila istirahat. Ayo, kita keluar.” ucap Johan. Dia sendiri berjalan keluar dari kamar Syakila.
Sarmi, Biah, dan Geo beranjak dari ranjang Syakila.
Geo melepaskan genggaman tangannya pada tangan Syakila. Namun, Syakila menahannya.
Geo melihat Sarmi dan Biah. Sarmi dan Biah saling pandang. Biah mengedipkan kedua matanya. Sarmi mengangguk mengerti.
”Kamu temani Syakila dulu. Kalau Syakila sudah melepaskan tangan mu, baru kamu keluar.” ucap Sarmi.
”Baiklah!” sahut Geo. Dia kembali duduk si sisi ranjang.
Sarmi dan Biah keluar dari kamar.
Geo menghela nafas, ”Syakila, cepatlah sembuh. Bukan kah pernikahan mu dengan Sardin sudah dekat? Cepat sembuh.”
Geo membiarkan Syakila menggenggam tangannya. Geo mulai merasa gerah, duduk seperti itu setelah satu jam lamanya.
Dia pun memberanikan diri berbaring di samping Syakila, tangan kirinya masih setia di genggam Syakila. Tangan kanannya menutupi keningnya. Dia memejamkan mata. Ia pun tertidur.
Waktu dua jam telah berlalu. Malam sudah datang. Makanan telah di siapkan oleh Sarmi dan Biah, di atas meja makan.
Sarmi, Johan, dan Buah kembali ke kamar Syakila. Melihat keadaan Syakila.
Sarmi, Biah, dan Johan, melihat Geo yang tertidur. Mereka tidak enak hati mengganggu tidurnya Geo. Dengan langkah pelan, Sarmi, Biah, dan Johan mendekati Syakila.
Mereka melihat tangan Syakila yang masih menggenggam tangan Geo. Sarmi meraba kening Syakila.
”Apa masih panas tinggi?” bisik Biah pada Sarmi.
”Masih panas, tapi, tidak panas seperti tadi.” balas Sarmi, dengan berbisik pada Biah. Namun, bisikkan mereka berdua masih bisa di dengar oleh Johan yang berada di samping Biah.
”Ya sudah, kita biarkan mereka istirahat dulu. Ayo kita keluar.” ajak Johan.
Mereka pun keluar dari kamar Syakila. Mereka pergi ke dapur.
Di dapur.
”Bagaimana keadaan kakak, Mah?” tanya Hardin.
”Masih panas, tapi, tidak sepanas sebelumnya. Beruntung, Geo dan Rivaldi cepat datang. Dan Rivaldi cepat menangani Syakila.” jawab Sarmi.
”Oh, Alhamdulillah!” ucap Hardin, bersyukur.
”Lalu, bagaimana sekarang? Apa kita makan saja atau menunggu kak Geo, baru makan?” tanya Hardin.
”Kamu sudah lapar?” Sarmi bertanya balik.
Hardin mengangguk.
”Kalau begitu, kita makan saja. Geo dan Syakila, kita simpan kan saja makanan untuk mereka.” ucap Sarmi.
Mereka pun mengambil makanan masing-masing untuk makan. Sarmi menyiapkan makanan untuk Syakila dan Geo. Memisahkan nasi dan lauknya di piring berbeda. Lalu, di simpan nya dalam laci lemari piring bagian atas. Tempat biasa menaruh makanan.
Setelah menyimpan makanan untuk Geo dan Syakila, barulah Sarmi mengambil makanan untuknya. Mereka pun mulai makan.
Namun, Sarmi tidak terlalu berselera untuk makan, pikirannya masih memikirkan anaknya, Syakila.
__ADS_1
Apa sebenarnya yang sedang di pikirkan Syakila? Dia menggenggam tangan Geo, apakah dia tahu kalau tangan yang di genggamnya itu tangan Geo atau dia berhalusinasi kalau tangan yang di genggamnya adalah tangannya Sardin? benak Sarmi.
Jika dia tahu itu tangan Geo. Bolehkah aku berfikir, Syakila mencintai Geo? Jika dia mencintai Geo, kenapa setuju bercerai? Apakah karena Janji? Syakila adalah orang yang selalu menepati janji. benak Sarmi lagi.