Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 200.


__ADS_3

Di kediaman Anton.


”Papa? Papa sudah pulang? Bagaimana kabarnya Sardin dan Syakila?” Serlina menyambut kepulangan Anton dengan berbagai pertanyaan. Padahal, suaminya itu belum juga duduk di kursi.


”Mah, begini kah cara sambutannya Mama pada Papa?” ia menarik kursi dan duduk di teras rumah.


”Ah! Maaf!” Serlina tersadar. Ia mencium punggung tangan Anton lalu masuk ke dalam rumah.


Anton menyandarkan kepalanya di dinding sambil memejamkan mata. Sesekali, ia menghela nafas.


Serlina yang baru kembali dari dalam rumah dengan membawa secangkir teh di tangannya, begitu sedih melihat suaminya seperti itu. Ia meletakkan cangkir teh itu di atas meja.


”Pa, minum tehnya dulu.” ucapnya pelan. Ia pun menarik kursi dan duduk, di kursi samping Anton.


Anton membuka matanya melihat teh yang ada di hadapannya. ”Terima kasih, Ma.” ia meraih ganggang cangkir dan meneguk tehnya sedikit. Ia kembali meletakkan gelas itu di atas meja.


”Papa tidak istirahat semalam? Sebaiknya, setelah meminum tehnya, Papa masuk istirahat saja.” pinta Serlina.


”Papa tidur, cuman, tidurnya hanya beberapa jam saja. Menunggu Syakila dan Sardin keluar dari ruang operasi. Baiklah, Papa akan istirahat setelah ini. Dan setelah selesai makan siang, Denis telah datang, giliran kita yang akan menjenguk Syakila dan Sardin.”


”Iya, Pa. Pa, apakah parah luka yang di terima Syakila dan Sardin, sehingga mereka berdua harus di operasi?”


”Sardin tidak di operasi, Mah. Dia tiba-tiba pingsan saat melihat Syakila yang terluka parah dan tidak sadarkan diri lagi. Yang di operasi hanya Syakila. Cuman, Geo menyuruh dokter untuk melakukan pemeriksaan di satu ruangan, di ruang operasi untuk Sardin dan Syakila.”


”Oh. Lalu, bagaimana kondisi Sardin dan Syakila sekarang, Pa?”


”Mereka berdua masih belum sadar, semenjak mereka di keluarkan dari ruangan operasi, semalam.”


Anton Kembali meneguk tehnya. ”Papa pusing! Apa yang akan di katakan sama Sarmi dan Alimin nanti padaku, jika mereka berdua tahu keadaan anak mereka sekarang dalam kondisi tidak baik-baik saja?” ia membuang nafas berat.


”Tadi malam, Sarmi menelpon Mama.” ungkap Serlina.


Anton terkejut, melihat Serlina. Ia tidak berbicara, ia menunggu lanjutan perkataan istrinya.


”Sarmi menanyakan keadaan Syakila. Dia merasa gelisah dan memikirkan Syakila terus. Dia tidak tenang. Dia menghubungi Syakila, tetapi, hapenya Syakila tidak terhubung. Akhirnya, dia menelepon Mama.” ungkap Serlina.


Anton menatap Serlina dengan serius. ”Lalu, apa yang Mama katakan padanya?”


”Mama katakan kalau Syakila baik-baik saja. Handphonenya rusak atau mungkin di cas, makanya tidak terhubung.” Serlina menghela nafas sambil melihat suaminya, ”Ini pertama kalinya Mama berbohong pada Sarmi. Mama sedikit takut, Pa.”


Anton menarik nafas lega. ”Tidak apa-apa! Kasihan Sarmi. Dia di kota S sana mendapatkan musibah, yang menimpa Hardin. Masalahnya belum kelar dan sekarang musibah terjadi lagi pada anaknya, Syakila. Papa tidak bisa bayangkan apa yang akan Sarmi lakukan untuk menghadapi cobaan yang dia alami sekarang.”


”Iya, Pa. Mama merasa iba juga padanya. Kasus yang menimpa Hardin belum kelar. Hardin masih menginap di sel. Syakila masih terbaring tidak sadarkan diri, di rumah sakit. Apa dia akan kuat menghadapi semuanya, kalau dia tahu anaknya di sini sedang sakit? Mama meragukannya Pa.” wajah Serlina tampak sedih.


”Kita berdoa saja semoga Sarmi bisa melewati semua cobaan yang menimpa anak-anaknya dengan tegar.” ucap Anton.


”Iya, Pa. Aamiin.” sahut Serlina.


.. ..


Di kediaman Denis.


”Mama sudah siap belum?” tanya Denis dari bibir pintu kamar.


”Sudah, Pa. Kita pergi sekarang?” ia berjalan keluar dari kamar dan mengunci pintu kamarnya.


Denis mengangguk.


”Anak-anak sudah aman kan di rumahnya Anton?”


”Iya.” jawab Denis, sambil mengunci pintu rumah.


Menggunakan motor, Denis dan Samnia pergi ke rumah sakit, menjenguk Syakila dan Sardin.


Beberapa menit dalam perjalanan, mereka sampai di rumah sakit. Dengan terburu-buru, mereka berdua masuk ke dalam rumah sakit, langsung menuju ruangan di mana Syakila dan Sardin di rawat.


”Lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”


”Aku tidak tahu Mah. Aku bingung, Mah.”


Denis dan Samnia memelankan langkah kakinya dan berhenti di bibir pintu yang tertutup itu, mendengarkan pembicaraan Geo dan Rosalina.


Di dalam ruangan.


”Kamu sangat mencintainya?” tanya Rosalina lagi.


”Iya, Ma. Cintaku dan harapan ku sangat besar untuknya. Dia hidup ku, Mah. Dia berbeda dengan wanita lain.” suara Geo terdengar sedih.


Bagaimana sekarang? Jika Syakila tahu Geo mencintai dirinya, apakah Syakila akan mempertahankan pernikahan nya dengan Geo? Atau kah dia tetap akan bercerai dan menikah dengan ku? benak Sardin.


Ia masih setia dengan kepuraan tidurnya.


”Kamu akan memaksa dia untuk tetap di samping mu?” tanya Rosalina lagi.


”Aku ingin Mah! Sangat ingin. Bahkan aku ingin menanamkan benih ku di rahimnya untuk menahannya di sisiku, Mah.” Geo menahan ucapannya. Wajahnya terlihat serius namun, raut sedih juga terpancar secara bersamaan.


Sardin terkejut mendengar keinginan Geo.


”Tapi...aku...tidak bisa...melakukan itu Mah. Aku...” ucapannya tercekat karena ia menahan tangis. ”Yang terpenting sekarang adalah Syakila sadar. Dari tadi aku mencoba berbicara dengannya, memanggilnya untuk sadar. Tetapi...tidak ada tanggapan sedikitpun darinya.” ia melihat Syakila.


”Apa Sardin juga belum sadar kan diri, sejak semalam?”


”Iya, Mah. Syakila dan Sardin saling mencintai. Hanya cinta dari mereka yang bisa membuat mereka sadar kembali.” Geo tersenyum masam, ”Sedikit pun aku tidak bisa mendapatkan cinta Syakila, Mah.”


”Jika Syakila sadar dan meminta cerai darimu. Kamu...”


”Demi kebahagiaannya, aku akan kabulkan keinginannya Mah. Meskipun aku tak ingin.” air mata Geo menetes seiring dengan ucapannya.


Rosalina mengelus lengan Geo tanpa bicara. Ia merasakan kesedihan yang di rasakan oleh anaknya itu.


Sardin sendiri ikut merasakan rasa sakit yang di rasakan Geo. Ia juga dapat merasakan besarnya cinta Geo untuk Syakila.


”Aku sudah kalah Mah. Aku kalah..! Aku sudah berusaha mencari cara agar Syakila mencintai ku. Tetapi, se berusaha bagaimana pun aku memikat hatinya. Hatinya tetap pada Sardin, Mah.” keluh Geo.

__ADS_1


Tok tok tok! ”Assalamu 'alaikum!”


Geo segera menghapus air matanya. Ia kembali duduk di ranjangnya. Rosalina berpindah duduk di sisi ranjang Geo.


”Wa 'alaikum salam! Masuk saja!” sahut Rosalina.


Pintu kamar terbuka. Denis dan Samnia berjalan masuk ke dalam ruangan. Mereka berpura-pura tidak mendengar apapun.


Denis menghampiri ranjang Geo dan menyapa Rosalina juga Geo. Sementara Samnia, dia menghampiri ranjang Syakila.


”Sayang! Tante datang menjenguk mu. Kamu tidak ingin melihat Tante?” Samnia berusaha membangunkan Syakila dari tidur panjangnya.


”Saya sedih melihat Syakila seperti ini. Apakah Sarmi sudah tahu keadaan anaknya sekarang?” tanya Rosalina pada Samnia.


Samnia menggeleng. ”Kami masih menyembunyikan keadaan Syakila pada Sarmi. Di sana, Sarmi sedang mengalami musibah juga yang menimpa anaknya, Hardin. Kami tidak tega memberikan kabar duka lagi padanya yang menimpa anaknya, Syakila. Sarmi pasti tidak akan kuat menghadapinya.” ungkap Samnia.


Kening Rosalina mengerut. Dia jadi teringat saat Sarmi menelpon Syakila memberitahu Syakila tentang kabar adiknya.


Kening Geo juga mengerut. Ia telah mengirim seorang pengacara untuk membantu Sarmi. Apakah masalah di sana belum juga kelar? Apakah pengacara yang ia tunjuk tidak bisa mengatasi permasalahan yang ada?


”Oh... iya. Aku melupakannya. Hardin sekarang ada di sel. Kasihan Sarmi.” ucap Rosalina, sambil menghela nafas.


”Iya. Semoga Sarmi tegar menghadapi semuanya. Aamiin.” sahut Samnia.


”Aamiin!” Geo, Denis, dan Rosalina mengamini.


Apa? Hardin terkena masalah di sana? Sekarang dia ada di dalam sel? Apa yang telah terjadi padanya? benak Sardin.


”Geo. Bagaimana kabar mu, Nak?” tanya Denis pada Geo.


”Alhamdulillah! Geo baik-baik saja, Paman” jawab Geo.


”Alhamdulilah!”


”Iya, Paman. Tinggal Syakila dan Sardin. Entah kapan mereka berdua akan bangun. Geo jadi risau kan mereka berdua.” tatapannya, melihat Syakila dan Sardin yang masih setia berbaring.


”Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua. Dan mereka cepat sadar.” ucap Denis.


”Iya, Paman. Aamiin.”


Suasana berubah menjadi hening dalam beberapa waktu. Hingga saat Samnia dan Denis menghampiri Sardin.


”Sardin. Cepat sadarlah! Kamu tahu, paman mu Anton sedang pusing sekarang! Dia tidak akan mampu menghadapi ayahmu nanti kalau ayahmu menanyakan mu.” ucap Denis pada Sardin.


Ah, iya. Aku melupakannya. Aku sudah janji pada papa, mama dan om untuk pulang lusa. benak Sardin.


”Iya, Sardin. Dan lihatlah, Syakila membutuhkan mu sekarang. Dia menunggu mu untuk kamu sadarkan. Jadi, kamu cepat sadarlah! Kami semua menunggu kamu untuk sadar.” sambung Samnia.


Apa sudah saatnya aku bangun? benak Sardin.


Perlahan Sardin menggerakkan jari tangannya.


”Ah...Pa, lihatlah! Sardin menanggapi ucapan kita. Tangannya bergerak!” ucap Samnia senang.


Denis melihat jemari tangan Sardin. Benar saja, ia juga melihat tangan Sardin yang bergerak. ”Alhamdulillah!” ucapnya bersyukur.


Alhamdulillah, kalau Sardin sudah sadar. Sekarang, aku tidak perlu terlalu khawatir mengenai Syakila. Sardin akan membangunkan Syakila dari tidur panjangnya. benak Geo.


Sardin pun membuka matanya.


”Sardin. Alhamdulillah, kamu sudah sadar. Kami khawatir padamu.” ucap Denis.


”Paman, Bibi.”


”Iya, sayang! Apa ada yang sakit? Paman akan panggilkan dokter untukmu.” Denis melangkah ingin keluar.


”Tidak usah Paman, Sardin baik-baik saja.” cegah Sardin.


”Tapi, kamu harus tetap di periksa. Kamu baru saja sadar.” Denis melanjutkan langkahnya.


”Biar aku saja yang panggil dokter, Paman. Paman temani Sardin saja.” cegah Geo.


”Baiklah! Terima kasih, Geo.” ucap Denis.


”Sama-sama, Paman.” Geo melangkah pergi dari ruangan setelah berucap.


Denis kembali menghampiri Sardin yang telah duduk bersandar di ranjangnya.


”Apa kepalamu sakit?” tanya Denis saat Sardin memegang kepalanya.


”Sedikit!”


”Berbaringlah! Kamu baru saja sadar.” titah Samnia.


”Sardin ingin duduk bersandar saja, Bibi. Bagaimana dengan Syakila? Apakah sudah sadar?” tanya Sardin.


”Belum. Jika kamu memanggilnya, mungkin Syakila akan segera sadar juga.” Rosalina yang menjawab pertanyaan Sardin, dari tempat duduknya, di sisi ranjang Syakila.


Sardin melihat Syakila yang masih berbaring. Ia beranjak berdiri.


”Kamu mau kemana? Duduklah!” Samnia menahan Sardin yang hendak berdiri, dengan menekan bahu Sardin.


”Aku ingin menghampiri Syakila.”


”Sehatkan dirimu dulu. Jika kondisi mu kurang bagus. Apakah menurutmu Syakila akan senang melihat mu sakit?”


Sardin menggeleng. Demi dirinya, Syakila rela yang sakit. Begitu juga dengan Sardin. Demi Syakila, ia rela berbuat apa saja.


”Kalau begitu! Kamu nurut lah! Setelah kamu sehat benar, baru kamu samperin Syakila.” kini Denis yang bersuara.


Sardin menurut dan mengangguk.


Tok tok tok! ”Permisi!”

__ADS_1


Semua mata melihat ke arah suara. Rupanya yang datang adalah dokter. Sang dokter melangkah menghampiri Sardin.


”Loh, Dokter! Anakku mana? Bukan kah Geo memanggil Anda?” tanya Rosalina khawatir. Geo tidak kembali ke ruangan bersama dokter. Kemana perginya anaknya itu?


”Geo? Oh, beliau sedang bersama Beni. Mereka berdua pergi ke kantin.” jawab sang dokter.


”Beni? Dia kesini?”


”Iya, dia baru saja datang. Dan di cegah oleh Geo saat dia ingin masuk ke dalam.” jelas sang dokter.


”Oh!” sahut Rosalina.


”Bagaimana keadaan mu, Sardin? Apa yang kamu rasakan saat ini? Apakah ada yang sakit di sekitar tubuhmu?” tanya sang dokter pada Sardin.


”Iya, Dokter. Kepalaku sakit. Tapi, hal ini sudah biasa aku rasakan Dok.” jawab Sardin.


”Hum? Di dalam kepala mu ada sebuah gumpalan. Gumpalan itu perlahan-lahan akan menghalangi jalannya udara dan darah yang masuk dan mengalir ke kepalamu. Jika di biarkan terus... takutnya..”


”Iya, Dok. Saya tahu itu. Kalaupun di operasi, hasilnya juga hanya 20% untuk tingkat keberhasilannya. Karena itu, orang tuaku tidak ingin aku di operasi.” pangkas Sardin.


Ah, ternyata Sardin mengalami penyakit. Penyakitnya sudah parah. benak Rosalina.


”Oh, rupanya kamu dan keluarga mu sudah tahu hal ini?” tanya sang dokter, tidak percaya. Mengapa mereka membiarkan penyakit itu bersarang di sana? Jika udara dan darah sudah tidak mengalir ke kepala dan otak, maka.... akibatnya fatal.


Sardin mengangguk.


Dokter mulai memeriksa kondisi Sardin. ”Kondisi mu, di luar kepalamu semuanya baik-baik saja. Aku tinggal memberikan resep obat untuk kamu konsumsi, untuk menangani kepalamu saat sakit.”


”Tidak usah, Dokter. Obatnya sendiri ada. Dan obatnya adalah obat yang terbaik. Obat nomor satu dari kota S. Saya sudah mengecek kadar dari obatnya tersebut.” cegah Samnia.


Sang dokter melihat Samnia. ”Oh. Anda dokter Samnia.”


”Iya, Dokter. Maaf, saya sudah mencegah Anda.” ucap Samnia tidak enak hati.


”Tidak apa-apa. Saya tahu siapa Anda. Jadi, saya tidak perlu berdebat dengan Anda. Apakah Sardin adalah kemenakan Anda, Dok?” tanya sang dokter pada Samnia.


”Iya, Dokter. Em...Dok, tolong di cek juga kondisi kemenakan saya yang satu ini, Syakila.” titah Samnia pada sang dokter.


”Tidak perlu di periksa lagi. Selain luka luar yang di terimanya, semua kondisi tubuh Syakila baik-baik saja. Hanya, keinginan untuk hidup tidak ada. Itulah yang membuat dirinya tidak sadar sampai sekarang.” papar sang dokter.


Samnia, Denis, Rosalina dan Sardin sangat sedih melihat Syakila.


... ..


Di kantin rumah sakit.


Geo masih terdiam melihat kertas di tangannya itu. Kertas yang berisikan tidak sahnya pernikahannya dengan Syakila.


Bahkan di bagian paling bawah sebelah kiri di kertas itu tertulis jika pernikahan mereka tidak terdaftar di KUA.


Buku nikah yang di miliki Geo juga tidak asli. Dan orang yang memberikan buku surat nikah pada Geo, orangnya telah di berhentikan dari pekerjaannya.


Geo menghela nafas. ”Aku akan melepaskan Syakila untuk Sardin.” ucapnya kemudian.


Beni melihat Geo dengan serius. ”Kamu tidak ingin mensahkan pernikahan mu dengan Syakila?”


”Tidak.”


”Kenapa? Kamu tidak mencintainya lagi? Kamu tidak ingin memperjuangkan Syakila?”


”Aku sangat mencintainya. Tapi dia tidak mencintai ku. Dia mencintai Sardin. Dia tidak akan bahagia bersama ku.”


Beni menghela nafas. ”Bagaimana kalau saat Syakila sadar, dia telah mencintai mu?”


Geo menggeleng dengan sedih. ”Itu tidak akan mungkin. Dia membenciku.” ia menunduk menatap kertas di tangannya.


”Telfon Mentri agama.” titah Geo pada Beni.


Kening Beni mengerut menatap Geo. ”Untuk apa? Geo, jangan ambil keputusan sendiri. Setidaknya, tunggulah Syakila sadar dulu. Jika Syakila memang ingin bercerai darimu, baru kamu ceraikan dia.” nasehat Beni.


”Tidak perlu menunggu dia sadar. Keinginannya untuk berpisah dengan ku sangat tinggi. Dan dia juga ingin menikah dengan Sardin, memenuhi janjinya. Telfon mentri agama sekarang.” titah Geo lagi.


Tanpa berkata Beni menurut. Ia mencari kontak pribadi Mentri agama dan menghubunginya. Telfon tersambung setelah lima belas menit lamanya Beni mencoba menelepon mentri agama tersebut.


Beni langsung memberikan handphonenya pada Geo setelah ada sapaan dari sebrang sana.


”Ya, wa 'alaikum salam, Pak! Ini saya Geovani Albert.” sahut Geo.


”Oh, Pak Geovani Albert. Maaf, saya tidak mengenali suara Bapak. Ada apa ya, Pak?”


”Tolong panggil kembali pak Sudarso ke pekerjaannya. Dia tidak bersalah. Akulah yang memaksa beliau untuk membuatkan aku surat nikah.” titah Geo.


”Ah, ada masalah apa sebenarnya, Pak Geovani? Saya tidak tahu jika pak Sudarso telah di berhentikan dari pekerjaannya.”


”Nanti saja minta penjelasan dari pak Sudarso. Sekarang, panggil kembali dia ke pekerjaannya.”


”Ah, iya. Baik, Pak Geovani. Jadi, Pak Geovani sudah menikah?”


”Pernikahan ku bukan pernikahan yang sungguhan. Jadi, jika ada seseorang yang mendaftar nama, dengan nama Syakila dan Sardin sebagai pasangan nikah, maka jangan persulit mereka.”


Beni menatap Geo tidak senang. Geo menyadari itu, ia justru menatap kembali Beni, agar pria itu tidak mengeluarkan suara saat ini.


”Ah, iya, baik Pak Geovani. Saya akan mencatat kedua nama itu dan saya akan memberitahu semua kantor KUA yabg ada di kota S untuk mempermudah urusan mereka berdua.”


”Hum. Itu saja yang aku ingin bicarakan dengan Bapak. Maaf, sudah mengganggu aktivitas Bapak.” ucap Geo.


”Ah, tidak apa-apa, Pak Geovani. Justru saya senang, Bapak bisa menghubungi saya.”


”Baiklah! Aku tutup telfonnya sekarang. Assalamu 'alaikum!”


”Iya, ya. Wa 'alaikum salam.”


Geo mematikan sambungan. Ia menarik nafas lega, memberikan kembali handphone Beni pada orangnya.

__ADS_1


__ADS_2