Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 42


__ADS_3

Kapal telah sandar di pelabuhan kota A. Denis, dengan salah satu karyawan Anton sudah standby di pelabuhan untuk menjemput Anton, istri, dan juga anaknya.


"Denis, mengapa repot-repot menjemput, Abang?"


"Tidak apa-apa Bang! Kebetulan juga lagi gak sibuk di toko." sahut Denis. "Mari Bang, naik ke mobil." ajak Denis. Ia membawa koper yang di pegang oleh Kakak iparnya itu.


Mereka berjalan mendekati mobil. Semua koper pakaian dan barang bawaan di masukkan kedalam mobil. Dan mereka juga ikut masuk ke dalam mobil. Denis siap menjalankan mobilnya.


"Ayah, Om ini siapa?" Dian bertanya sambil menunjuk Denis namun pandangan mata melihat ke Anton, ayahnya.


"Aku? Kamu tidak tahu? Aku ini, Om yang sering menggendong mu dan membawamu kesana kesini waktu kamu masih belum bisa jalan. Apa kamu sudah lupa dengan Om?" Denis langsung menyahuti ucapan anak kemenakannya itu.


"Dian, sudah lupa dengan Om. Tapi Dian ingat, ada satu Om yang selalu membelikan Dian mainan robot-robotan." ucap Dian sambil memegang dagunya dan matanya melihat langit-langit mobil seakan mengingat sesuatu.


"Anak pintar! Kamu tahu? Om itu, adalah Om yang sedang kamu ajak bicara ini." sahut Denis sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Tidak, Om yang itu ganteng! Tidak ada bulu-bulu halus di pipinya. Tidak sama dengan Om yang ini." kekeh Dian.


"Itu waktu Om masih muda. Om memang tidak suka melihat ada bulu-bulu halus di pipi Om." elak Denis.


Anton dan Namlea hanya tersenyum dan menggeleng mendengar percakapan anak dan paman itu. Mereka tahu Dian sengaja ingin menggoda Denis. Dian benar-benar sangat mengingat Denis dengan baik. Bahkan ia sangat merindukan Denis.


"Berarti sekarang Om sudah tua, hmp." sahut Dian sambil tersenyum kecil melihat kekesalan di wajah Denis.


"Apa Om sudah terlihat tua?"


"Iya, Om terlihat tua! Lihatlah ayahnya, Dian! Masih ganteng, tidak ada bulunya di pipi seperti Om." jawab Dian membandingkan Denis dan Anton, papanya.


"Itu, karena ayahmu di larang sama ibumu untuk membiarkan bulu halus tumbuh di pipinya, nanti ayahmu di ambil sama orang. Dian mau Ayahnya di ambil tante-tante genit?" sahut Denis mulai kesal.


"Dian, sayang! Apa kata Om mu itu benar, Mamamu melarang Ayah untuk itu. Kalau tidak, Ayah akan membiarkan bulu itu menghiasi kedua pipi Ayah." akhirnya Anton melerai pembicaraan anak dan pamannya itu yang tidak berkesudahan. "Jangan bikin kesal Om mu!"


"Iya Ayah," Dian menurut. "Om Denis, maafin Dian yah."


"Apa tadi kamu bilang? Om Denis?"


Dian mengangguk.


"Berarti kamu ingat Om?"


Dian kembali mengangguk pelan. Membuat Anton dan Namlia tertawa kecil. Denis tersadar ia di kerjain sama kemenakannya itu. Refleks Denis menjitak kening Dian yang berada di pangkuan Anton, yang duduk di depan bersamanya.


Cletak!


"Aduh! Sakit Om, kening Dian!" keluh Dian sambil mengusap keningnya.


"Itu hukuman untuk mu, karena sudah mengerjai Om,"


"Iya Om, maaf!" ucap Dian dengan suara rendahnya dan mukanya di buat kusam.


Ekspresi itu membuat Denis terkekeh kecil. Ia menghentikan mobil tepat di depan rumah. Denis turun dari mobil. Dan mengeluarkan barang dari dalam mobil yang disimpan di bagasi kecil mobil.


"Apa kita sudah sampai Ayah?" Dian bertanya sambil melihat rumah yang di depannya terdapat sedikit tanaman bunga yang di beri pagar bambu.


"Iya sayang, ayok turun!" ajak Anton. Mereka pun segera turun. Disusul Namlia dan kedua putrinya.


Mereka melangkah masuk kedalam rumah, setelah Denis membukakan pintu rumah tersebut. Mereka beristirahat sejenak, sedangkan Denis kembali ke pelabuhan. Ia bersama salah satu karyawan Anton mengecek barang baru yang baru masuk.

__ADS_1


.. ..


Hari sudah sudah sangat sore, Halim segera menutup tokonya. Lalu ia pergi ke lantai atas tokonya. Ia menghampiri Udin yang lagi duduk beristirahat.


Halim memberikan satu minuman kaleng kepada Udin. Udin menerimanya dan membuka penutupnya.


"Bagaimana Bang, kira-kira berapa lama akan jadi rumah ku?" Halim bertanya sambil melihat bangunan yang tujuh puluh lima persen hampir jadi itu.


"Tidak akan lama lagi kurasa, besok aku akan membuatkan pintu dan jendela. Dan Halim, sediakan kayu untuk kerangka atap lusa. Setelah dindingnya benar-benar kering, lusa aku plester dan acid sekalian, dan memasang atap. Jika waktunya masih sempat aku langsung memasang pintu dan jendela." jelas Udin.


"Baik, aku serahkan padamu! Jika butuh sesuatu hubungi aku saja!" ucap Halim. "Kamu mau pulang sekarang?"


"Hum, untuk kerjaan hari ini sudah selesai." sahut Udin. "Mari kita turun bersama! Hari sudah mulai gelap!"


Mereka turun ke bawah sama-sama. Dan berpisah setelah sampai di bawah. Udin pulang kearah rumahnya dan Halim juga ke rumah Anton.


Sesampainya di rumah, Halim langsung membersihkan diri lalu ia bergabung dengan Anton di ruang keluarga bersama anak dan istrinya, juga Denis dan karyawan Anton lainnya.


"Halim, duduk disini!" Anton menepuk bangku kosong di samping kirinya. Halim pun duduk di sana.


"Halo Dian," sapa Halim ramah sambil mengacak rambut Dian yang duduk di pangkuan ayahnya.


"Iya, Paman. Sudah lama Dian tidak melihat Paman, Dian rindu Paman." Dian menjawab sambil duduk di pangkuan Halim. Halim kembali mengacak rambut Dian dengan lembut.


"Oh yah! Paman juga merindukan Dian." sahut Halim. "Bagaimana kabarmu Anton?"


"Kabar ku baik, seperti yang kamu lihat!" jawab Anton. "Sebenarnya kamu bukan ingin menanyakan kabar ku kan?" Anton sengaja meledek Halim.


Ucapan Anton mengundang tawa seluruh orang yang ada di ruangan itu. Termasuk Halim sendiri, iya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sebaiknya kita makan malam dulu baru kita bicarakan itu," tawar Anton. Halim yang mengerti ia mengangguk. Kini pembicaraan mereka beralih ke oleh-oleh yang di bawa Anton dari kampung.


Setelah selesai mencicipi kue tersebut dan berbincang hangat, kini mereka sedang berada di dapur, di meja makan. Mereka sedang menikmati santapan malamnya khas masakan bi Sumi.


Setelah selesai makan malam, para karyawan Anton memilih masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat, karena mereka sangat lelah.


Begitu juga Namlia dan ketiga anaknya, mereka masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sedangkan Denis, Anton, dan Halim sedang mencari angin segar di teras rumah.


"Bagaimana usahamu Halim?" Anton memulai percakapan ringan.


"Alhamdulillah, sejauh ini lancar saja!" jawab Halim.


"Syukurlah kalau begitu, bagaimana kedepannya? Apa kamu sudah memikirkan tawaran ku?"


"Iya, aku melanjutkan pembangunan rumah yang di atas toko. Bangunannya sudah tujuh puluh lima persen jadi." jelas Halim.


"Ternyata kamu mengambil langkah yang tepat," puji Anton. Kini Anton beralih bertanya kepada Denis. "Denis, bagaimana dengan mu? Apa kamu setuju dengan tawaran Abang? Jika kamu setuju, Abang akan memberikan toko yang di ujung jalan untuk mu."


"Maaf Bang, Denis masih memikirkannya. Denis belum bisa memberi jawaban yang memuaskan untuk Abang. Denis masih menunggu panggilan kerja di beberapa perusahaan yang ada di kota ini." jelas Denis.


"Sebaiknya, sambil menunggu panggilan kerja tidak ada salahnya, jika kamu menerima tawaran Abang mu itu, Denis. Jika memang sudah ada panggilan di saat itu kamu bisa mencari karyawan untuk menjaga kan toko mu." usul Halim.


"Apa yang di bilang sama Halim, ada benarnya loh, Denis!" sahut Anton.


Denis tampak terdiam. "Baiklah, Bang! Denis akan menerima tawaran Abang. Tapi, Denis tidak menjual kosmetik, kalau Abang mau, Denis ingin menjual pakaian saja." ucap Denis mengemukakan keinginannya.


"Kalau untuk itu, Abang tidak jadi masalah. Sesukamu saja, Abang hanya berpesan menjual betul-betul, dan cintai pekerjaan mu nanti." ucap Anton menasehati.

__ADS_1


"Iya, Bang." sahut Denis. "Maaf Bang Anton, Bang Halim, Denis duluan beristirahat, yah!" pamit Denis.


"Hum," sahut Anton dan Denis bersamaan.


Denis sebenarnya belum mengantuk, tapi ia sengaja memberikan waktu luang untuk Anton dan Halim berbicara berdua. Karena Denis tahu, Halim ingin membicarakan hal tentang istrinya dengan Anton.


"Kamu gak mau banyakan kabar istri dan anakmu, Halim?"


"Sebenarnya, baru saja ingin aku bertanya, tapi kamu duluan menebak ku. Jadi langsung saja beritahu aku bagaimana kabar mereka." sela Halim.


Anton tersenyum. Ia mengeluarkan satu bungkus plastik yang berisi surat dari Sarmi kepada Halim, "Ini surat dari istrimu, bacalah sampai di kamar mu. Kabar mereka baik-baik saja. Mereka sangat senang dengan oleh-oleh yang kamu berikan." ucap Anton. Ia menyembunyikan jika Sarmi pernah pingsan di kebun.


"Alhamdulillah, jika mereka sehat-sehat saja. Terima kasih Anton, kamu bersedia menengok anak dan istriku di kebun. Apa kayu bakar mereka masih banyak, saat kamu kesana?"


"sama-sama, Halim. Kamu jangan sungkan, Sarmi istrimu adalah teman ku, jadi tidak ada alasan untuk aku tidak menemuinya. Untuk kayu bakar, aku sempat juga mencari kayu bakar untuk istrimu. Kayu bakar yang kamu sediakan masih ada, tapi tidak ada salahnya aku menambahkan sedikit kayu bakar untuknya." jelas Anton.


"Kamu sangat baik, aku berutang budi padamu." ucap Halim tulus.


"Jangan sungkan, kamulah yang mengajari ku untuk berbuat baik." sela Anton.


Mereka akhirnya saling tertawa. "Sebaiknya kita masuk sekarang! Malam semakin larut!" ajak Anton kemudian. Halim mengangguk.


Mereka pun segera masuk kedalam rumah, Anton mengunci pintu rumah, dan Halim mengecek jendela-jendela sudah tertutup rapat atau belum. Setelah di pastikan aman, mereka masuk ke kamarnya masing-masing untuk istrahat.


Halim membuka bungkusan plastik yang di terimanya dari Anton. Ia membukanya dan meraih amplopnya. Ia mengenali amplop tersebut.


"Ini sepertinya amplop yang ku pakai untuk mengirim surat padanya."


Ia membuka isinya dan membacanya.


Untuk suami ku tercinta.


Assalamu 'alaikum wr.wb.


Papa, Alhamdulillah keadaan kami baik-baik saja disini. Papa tidak usah khawatirkan kami.


Oh iya, Mama ucapkan terima kasih, atas oleh-oleh yang Papa berikan kepada kami. Bajunya semua pas untuk di badan kami.


Ibu, juga berterima kasih karena Papa sudah memberikan baju untuknya. Dan Papa, uang yang Papa berikan ke Mama, Mama bagi untuk ibu dan Mama mertuaku. Papa tidak marah kan, Mama membaginya dengan mereka? Mereka sangat senang menerima uang pemberian mu.


Dan anak-anak mereka sangat bahagia dengan mainan yang Papa berikan. Mereka bermain bahkan mereka tidur sambil memegang mainannya. Seandainya ada dirimu disini, Pa. Papa pasti senang tiada tara melihat kebahagiaan mereka. Mereka pasti akan berhambur untuk memeluk mu.


Papa, tahu kah, Mama sangat merindukan mu, Pa. Merindukan kasih sayang mu, merindukan pelukan mu, Mama rindu ingin bermanja-manja padamu dan mengeluarkan keluh kesah ku padamu.


Papa, Mama sangat senang mendengar keberhasilan mu di sana. Mama akan terus berdoa semoga Papa selalu sukses.


Mama dan anak-anak menanti kedatangan mu untuk menjemput kami, Pa. Sampai disini dulu perjumpaan kita melalui sepucuk surat ini. Papa baik-baik di sana, yah. Salam rindu selalu untuk mu, suamiku tercinta.


wassalamu 'alaikum we.wb.


Halim tersenyum sendiri membaca balasan surat dari istri yang di cintainya itu.


"Papa juga merindukan mu, istri ku. Tunggulah Papa, Papa akan datang menjemput kalian semua. Dan kita tinggal bersama, hingga tidak ada jarak di antara kita. Dan rindu tidak akan membebani kita seperti ini, istriku."


Kini Halim membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuknya, ia ingin beristirahat. Namun suasana hatinya mengajaknya untuk mengenang kembali sang istri tercinta.


Ia benar-benar tidak menyangka, pertemuan dadakan di antara mereka, bisa melahirkan cinta yang begitu dalam buat mereka berdua. Tiada hentinya Halim bersyukur memiliki Sarmi dalam kehidupan nya.

__ADS_1


Ia memikirkan Sarmi sambil memandang fotonya yang berada di dalam dompet. Hingga tak terasa Halim pun terbuai dalam tidurnya.


__ADS_2