
Di klinik, kediaman Rivaldi.
”Jangan dulu banyak bergerak! Lukamu belum sembuh.” tegur Rivaldi, saat Syakila ingin bangun dari baringnya.
Syakila menurut, ia kembali berbaring. Luka di perutnya masih terasa perih bila bergerak. Kepalanya juga masih sedikit pusing.
”Guru. Terima kasih, guru telah menyelamatkan aku. Aku kira, aku sudah...”
”Sstsst! Jangan bicara sembarangan! Bagaimana mungkin aku akan membiarkan kamu kenapa-napa? Kalaupun aku tidak bisa menyembuhkan mu, aku akan membawamu ke rumah sakit untuk di tangani, meskipun kamu tidak menyetujuinya dan marah padaku nantinya.” ucap Rivaldi menyanggah perkataan Syakila.
Syakila terdiam, ia tersenyum. ”Guru, terima kasih, guru tidak membawaku ke rumah sakit.”
”Sama-sama!” Rivaldi terdiam sesaat memandang Syakila, ”Syakila, kamu sudah faham tentang ku, kan?”
Syakila mengangguk lemah. Ia memang tahu karakter gurunya itu, jika dia penasaran sekali dengan sesuatu, ia tidak akan ragu untuk bertanya langsung pada orang tersebut untuk menghilangkan penasarannya.
”Ada begitu banyak pertanyaan yang hinggap di pikiranku tentang mu. Bolehkah aku bertanya beberapa hal padamu?”
Syakila kembali mengangguk.
”Siapa orang-orang yang menyerang mu itu? Mengapa kamu tidak ingin pergi ke rumah sakit untuk berobat? Padahal, rumah sakit jaraknya tidak jauh dari tempat kejadian. Mengapa kamu jalan sendirian di malam hari di tempat temaram seperti itu? Aku tahu, kamu punya bela diri, tapi, kamu harus tetap ingat, kamu adalah seorang perempuan. Apa kamu tahu siapa pria yang membantu mu itu, selain aku? Dan bolehkah aku tahu alasanmu putus bersama Sardin dan kapan kalian berdua putus?”
Syakila memandang gurunya. Pertanyaan terakhir yang di lontarkan membuatnya terdiam. Ia tahu, gurunya itu masih memendam rasa padanya. Syakila teringat saat gurunya tahu jika Sardin dan dirinya berpacaran, sang guru berkata padanya, ”Jika kalian berdua putus, aku ingin menjadi orang pertama yang tahu. Kamu mengerti?!” Syakila mengangguk kikuk waktu itu.
”Em...i..itu....guru, pertanyaan mu banyak sekali. Aku...aku hanya akan menjawab yang perlu ku jawab saja. Bolehkan, 'kan?”
Rivaldi mengangguk, ia tahu gadis yang sedang berbaring di ranjang pasiennya itu begitu tertutup untuk privasinya. Jadi, ia tidak akan memaksa wanita itu untuk menjawab semua pertanyaannya.
”Aku tidak tahu siapa mereka yang menyerang ku. Aku dari rumah sakit, menjenguk Sardin. Aku ingin pulang ke rumah menggunakan taksi, namun, taksi gak ada yang lewat. Jadi, aku ingin menggunakan bis. Aku berjalan ke halte bis, eh gak tahunya nasib sial menghalangiku. Yang membantu kita tadi aku belum lama mengenalnya, namanya Antonio.”
”Oh. Apa suami mu tidak khawatir padamu? Orang tuamu? Saudaramu? Mereka tidak ada yang menelfon untuk mencari mu, hanya Sardin saja. Oh.. tidak, tadi sebelumnya ada yang menelfon, tapi tidak bersuara dan tidak lama telfonnya mati.”
Syakila terdiam, berfikir sejenak.
Menelfon tidak bersuara? Apakah itu Geo? Apa dia khawatir padaku?
”Jangan salah sangka, guru. Mereka pasti khawatir karena aku belum pulang ke rumah. Apalagi ini sudah jam empat subuh. Sekarang, bisakah guru mengantar ku pulang? Cairan infus hampir habis, aku juga merasa sudah sedikit membaik.” ucapnya kemudian.
”Baiklah, aku akan mengantar kamu pulang, tapi, sebelumnya aku akan menggantikan obat di lukamu dulu, terus kamu harus meminum obat daun yang ku buat, agar lukamu cepat sembuh dalam waktu dekat.”
”Iya.”
Rivaldi beranjak berdiri. Ia pergi ke belakang, mengambil beberapa lembar daun dan merebusnya. Sementara menunggu rebusan daun itu, ia menumbuk beberapa daun lagi sampai halus untuk di oleskan di luka perut Syakila, menggantikan obat yang lama.
Daun yang di tumbuk telah halus, air rebusan daun itu pun sudah jadi. Ia menuang air rebusan itu ke dalam cangkir kecil dan mendinginkannya.
Ia kembali ke depan dengan membawa nampan yang berisi secangkir rebusan daun dan piring kecil yang berisi daun yang telah dihaluskan.
Ia menyimpan nampan itu di atas nakas, di samping ranjang pasien. Ia mengambil alkohol, kapas, perban, dan daun halus dan berjalan mendekati Syakila.
”Aku akan memulai mengobati luka mu. Maafkan aku, aku akan membuka beberapa kancing bajumu untuk mengobati luka di perutmu.” ucapnya sopan.
”Lanjutkan saja, guru.”
”Hum,” singkat Rivaldi menyahuti.
Ia membuka dua buah kancing baju Syakila dari bawah. Ia menyingkap sedikit baju sebelah kanan Syakila. Ia membuka perban yang membungkus di perut Syakila. Setelah perban terlepas, ia membersihkan luka tersebut dengan telaten dan pelan-pelan menggunakan air hangat dan handuk kecil yang halus.
Setelah bersih, ia kembali membersihkan luka tersebut menggunakan alkohol dan kapas.
”Ah..” jerit Syakila kesakitan.
Rivaldi menghentikan aktivitasnya, ia melihat Syakila. ”Perih? Sakit?” tanyanya
Syakila mengangguk.
”Maaf ya, alkohol memang perih jika terkena luka. Tahanlah sedikit, aku akan membersihkannya pelan-pelan. Aku akan lanjutkan!”
Syakila kembali mengangguk. Rivaldi kembali membersihkan luka Syakila. Syakila menahan perih tersebut dengan menggigit bibir bawahnya.
”Lukanya sudah bersih, aku akan mengoleskan daun ini ke lukamu. Mungkin, akan terasa sedikit perih. Tahanlah!” ucap Rivaldi.
Syakila kembali mengangguk. Rivaldi mengoleskan daun halus itu di perut Syakila, menutupi lukanya. Syakila menahan perih tersebut. Setelah selesai, Rivaldi memakaikan perban untuk menutupi luka Syakila. Setelah selesai memperban lukanya, ia mengancing kembali baju Syakila.
”Sudah selesai.”
__ADS_1
Ia berdiri dari duduknya, berjalan sedikit mendekati nakas, ia mengambil rebusan daun itu dan kembali ke Syakila.
”Ayo bangun, minum obat mu ini selagi masih hangat. Jangan sampai dingin.” ucap Rivaldi.
Syakila bangun dari baringnya di bantu oleh sang guru. Ia memberikan cangkir itu kepada Syakila. Syakila mengambilnya dan meminumnya dalam sekali teguk.
”Tidak pahit kan?” tanya sang guru.
Syakila menggeleng, ”Tidak guru, justru seperti tidak ada rasanya.” sahutnya sambil memberikan cangkir kosong pada Rivaldi.
Rivaldi mengambilnya dan meletakkan kembali cangkir itu di atas nakas, ia melihat ada luka memar pada tangan Syakila. Keningnya mengerut sambil memegang tangan Syakila.
”Selain disini, apa masih ada luka memar lainnya di tubuh mu?” tanyanya kemudian.
”Em... entahlah, tapi, aku sedikit merasakan sakit di betis kiri ku.” sahut Syakila.
Tanpa berkata Rivaldi berdiri, berjalan ke arah tempat obat-obatan. Ia mengambil salep untuk luka memar dan kembali ke arah Syakila.
Ia membuka penutup obat itu, meraih tangan Syakila dan mengoleskan obat itu pada memarnya. Setelah itu, ia menaikan celana kaki kiri Syakila dan melihat ke betisnya. Benar, ada luka memar di sana, ia kembali mengoleskan obat itu pada betis Syakila.
”Sudah selesai, apa kamu ingin pulang sekarang? Tidak tunggu pagi saja dan sarapan pagi bersama ku?” tawar Rivaldi.
”Tidak perlu, guru. Terima kasih, aku ingin pulang sekarang.”
”Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengambilkan beberapa daun untuk mu, sampai di rumah mu, kamu lakukan kembali perawatan luka mu seperti yang kulakukan padamu. Ok.”
Syakila mengangguk. Rivaldi mengambilkan beberapa lembar daun Madeira Vine untuk Syakila, juga salep untuk memar, perban, dan alkohol untuk membersihkan luka. Ia mengemasnya di dalam kantung plastik putih.
” Ini daunnya. Aku sudah memisahkan sesuai dosisnya. Ini untuk kamu haluskan dan yang ini untuk kamu rebus. Aku menyiapkan ini untuk keperluan mu selama tiga hari. Kamu ganti dan konsumsi ini dua kali sehari. Mengerti?!”
”Iya, guru.”
”Baiklah, kamu sudah mengerti. Ayo, sekarang ku antar kamu pulang. Apa kamu bisa berdiri? Perlu bantuan ku?” ucap Rivaldi.
”Em...aku bisa sendiri, guru.” sahut Syakila. Ia berdiri dari duduknya dengan pelan. Ia jalan keluar dari klinik Rivaldi dengan memegang lengan sang guru.
Mereka jalan sampai ke mobil. Mereka masuk ke dalam mobil, Rivaldi sendiri yang menyetir mobilnya.
Dalam perjalanan Syakila baru tersadar akan pakaiannya. Ia melihat Rivaldi.
”Maaf, pakaian mu itu sudah aku buang dan menggantikannya dengan yang baru, yang kamu pakai sekarang.”
Syakila terdiam, memikirkan sesuatu sambil melirik gurunya itu.
Apakah guru yang menggantikan seluruh pakaian ku? Oh..tidak!
Rivaldi mengerti akan lirikan bingung dan malu Syakila, padanya.
”Kamu tenang saja, yang menggantikan pakaian mu bukan aku, tapi bibi yang bekerja di rumah ku.” ungkap Rivaldi.
Syakila menghela nafas lega. Ternyata bukan gurunya yang menggantikan pakaiannya, benaknya.
”Oh, terima kasih, guru. Aku akan menggantikan uang mu dan sekalian membayar biaya perawatan mu, padaku. Berapa harga semuanya, guru?”
”Oh.. iya, guru, di mana tas ku? Handphone ku juga ketinggalan di klinik mu.” ucap Syakila lagi saat tersadar akan tas dan handphonenya.
”Wah, tas dan handphone mu tertinggal di klinik ku. Apa aku memutar arah kembali ke rumah untuk mengambil tas dan handphone mu? Dan untuk biaya dan pakaian, kamu tidak usah pikirkan itu. Ok.”
”Tidak usah, guru. Tidak lama lagi kita akan sampai ke rumah ku. Nanti, jika aku sudah sembuh baru aku akan mengambilnya sendiri. Apa guru menggratiskan pakaian dan biaya pengobatan ku?”
Rivaldi mengangguk, ” Iya, Syakila. Aku menggratiskan untuk mu.” ucapnya sambil tersenyum. ”Oh..iya Syakila, mengapa kamu tidak memberitahu padaku jika kamu dan Sardin telah putus?”
Deg deg detak jantung Syakila saat ini. Ia tidak menduga gurunya akan menanyakan hal itu.
”Em.. sebenarnya di hari aku putus, di hari itu juga aku menikah dengan suamiku.” ucapnya kemudian, ia tersenyum namun senyuman yang tak sampai, senyum singkat yang bisa di artikan ketidak sukaan.
”Apa kamu menikah terpaksa? Apa kamu bahagia dengan pernikahan yang kamu jalani sekarang?”
Syakila terdiam, ia menoleh melihat gurunya. Pandangannya bertemu dengan pandangan mata sang guru yang ternyata sedang melihatnya.
Syakila membuang muka, melihat ke arah samping kirinya. Ia kembali tersenyum, senyum yang di paksakan.
”Tidak, mengapa guru berpikiran aku menikah dengan terpaksa dan tidak bahagia dengan pernikahan ku? Aku bahagia dengan pernikahan ku, guru.”
”Sinar di matamu dan aura di wajahmu mengatakan hal lain dari ucapan yang keluar dari bibir mu. Apa yang kamu tutupi? Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi.”
__ADS_1
Syakila terdiam. Ia melihat ke depan. Rumahnya sudah dekat.
” Guru, pembahasan ini selesai sampai disini. Jangan memikirkan kehidupan ku, pikirkanlah kehidupan guru kedepannya. Aku minta maaf tidak mengabarkan guru saat aku putus dengan Sardin. Ku harap guru tidak marah padaku. Oh..iya guru, kapan guru akan menikah? Aku ingin mendapat undangan resmi pernikahan mu, guru.”
Rivaldi terdiam.
Menikah? Aku ingin menikah dengan mu, Syakila. Kamulah masa depan ku. Aku menunggumu selama ini, Syakila.
Beberapa menit kemudian mobil Rivaldi telah berhenti sempurna di depan rumah Sarmi.
Kening Syakila mengerut melihat mobil Johan dan motor adiknya terparkir di halaman rumah. Dan ia melihat dari dalam mobil, pintu rumah mamanya tidak tertutup.
Mengapa Mama tidak menutup pintu rumah? Mengapa mobil paman terparkir disini? Dan mengapa motor Hardin juga disini? Tidak di simpan di dalam rumah. Apakah mereka tidak tidur semalaman karena memikirkan aku?
Ia mendengar suara azan subuh berkumandang dari masjid. Rivaldi turun dari mobil, ia membuka pintu mobil sebelahnya untuk Syakila.
”Melamun kan apa? Ayo turun!” ajak Rivaldi.
Syakila turun dari mobil.
”Kamu duluan lah masuk, pintu rumah mu terbuka. Aku akan menyusul mu setelah mengambil obat mu itu.” ucap Rivaldi.
Syakila mengangguk, ia berjalan pelan-pelan masuk ke dalam rumah. Ia berdiri di bibir pintu melihat ke seisi rumah. Semua orang sedang duduk dengan wajah tegang, marah, dan bingung.
”Assalamu 'alaikum.” ucap Syakila sambil mengetuk pintu.
Semua mata memandang arah pintu. Terkejut, terharu, bahagia menyatu melihat kedatangan Syakila. Namun, rasa amarah lebih menguasai daripada rasa senang.
Sarmi berdiri mendekati Syakila, ia menarik tangan Syakila dengan kasar masuk ke dalam rumah. Syakila hanya mengikuti tarikan tangannya dengan bingung.
Plak!
Tanpa berkata-kata apa-apa Sarmi menampar pipi Syakila dengan keras, setelah Syakila berada di depan Geo. Badannya terhuyung, ia terjatuh di pangkuan Geo. Perut luka nya tertekan pada lutut Geo. Syakila terkejut. Ia memperbaiki tubuhnya, luka perih di perutnya terasa sakit. Ia menahan rasa sakitnya itu.
”Mama.” ucapnya pelan.
”Sarmi, tidak kah kamu mendengarkan dulu penjelasan Syakila!” ucap Johan.
Sarmi terdiam. Akal sehatnya hilang mengingat perkataan Geo. ”Tidak perlu!” ucapnya kemudian.
Syakila berpegang pada lutut Geo untuk berdiri. Geo melepaskan tangan Syakila yang bertumpu di lututnya dengan kasar.
"Wanita murahan seperti mu tidak pantas menyentuh ku!” bentaknya.
Syakila terkejut, ia melihat Geo. Wajah pria itu begitu dingin dan di penuhi amarah.
”Ge...Geo..!”
Plak! Geo menampar pipi Syakila, tepat di pipi yang di tampar oleh Sarmi. Perih, Syakila merasakan perih di pipinya.
”Jangan menyebut nama ku dengan mulut kotor mu itu!” ucap Geo.
”Syakila!” ucap Rivaldi. Ia berada di bibir pintu rumah. Ia terkejut melihat Syakila yang di tampar oleh pria yang duduk di kursi roda dan mengatakan kata yang kasar untuk Syakila.
Semua mata memandang ke arah berdirinya Rivaldi dengan bingung. Apalagi Geo, ia menatap tajam pria yang berdiri terkejut di pintu rumah itu.
Siapakah pria ini? Apakah dia yang mengantar Syakila pulang? Apakah pria ini yang mengangkat telfon ku tadi?
”Rivaldi!” ucap Johan, Hardin, dan Sarmi terkejut. Mereka tahu, Rivaldi adalah guru silat Syakila selama dua tahun sebelum Syakila beralih mempelajari karate.
Rivaldi mendekati Syakila yang menahan rasa sakit di perutnya. Ia mengabaikan sapaan Hardin, Sarmi, dan Johan, padanya.
”Kamu tidak apa-apa?” tanyanya khawatir. Ia memapah tubuh Syakila, membantunya berdiri.
”Jadi, kamu pria tidak tahu diri yang berhubungan dengan istriku? Apa nikmat saat kamu mencicipi tubuh istriku?” tanya Geo pada Rivaldi.
Semua terkejut mendengar ucapan Geo pada Rivaldi. Apalagi Rivaldi, ia lebih terkejut dan bingung. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa pria yang duduk di kursi roda itu berbicara seperti itu padanya.
Pria yang mengatakan Syakila adalah istrinya, sedang memfitnah dan menuduh Syakila dan dirinya telah berbuat yang tidak-tidak.
Rivaldi membantu Syakila duduk di kursi, di samping Hardin. Ia menoleh, melihat Geo.
”Apa kamu suami Syakila?” tanyanya.
.
__ADS_1