Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 238


__ADS_3

Di Citi mall.


”Kau bisa lepaskan tangan mu dari Syakila?” ucap James pada Geo dengan tegas, seakan-akan Syakila adalah miliknya. Kening Geo mengerut menatap James.


”Seharusnya kamu yang melepaskan tangan mu dari badan Syakila,” sahut Geo ketus menatap James.


”Kau!” James menatap Geo dengan tatapan tajam. Geo tidak kalah, ia juga menatap James dengan tajam. Aura membunuh terpancar dari wajah dan mata kedua pria itu.


”Wah! Senang sekali jadi wanita itu. Di perebutkan oleh dua pria tampan...”


”Iya, ya! Yang satunya sepertinya orang bule, yang satunya orang indo. Kira-kira siapa yang akan di pilih oleh wanita itu?”


”Aku lebih suka yang bule!”


”Indo lebih baik!”


Komentar-komentar para pengunjung yang kebetulan melihat adegan tersebut.


Syakila tersadar. Ia melepaskan tangannya dari leher James dan berpegang pada baju Geo, pria yang ada di samping kanannya. Ia berdiri tegak di bantu Geo.


”Ah, buah-buahan ku, sayur ku, daging ku,” Syakila baru tersadar jika barang belanjaannya terjatuh dan tercecer di lantai.


Ia berjongkok dan memungutnya. Geo dan James ikut berjongkok, memungut barang belanjaan Syakila. Memasukkannya ke dalam plastik.


”Ini,” ucap James sambil memberikan tas belanjaan buah-buahan pada Syakila. Syakila mengambilnya.


”Terima kasih James, kamu sudah membantu ku memungut buah juga menangkap ku agar tidak jatuh,” ucap Syakila sambil tersenyum manis.


Kening Geo mengerut melihat Syakila dan James. Apakah mereka saling kenal? Hebat sekali Syakila, dia mengenal lelaki tampan yang baru saja datang dari kota lain!


Apa aku terlalu meremehkan istriku ini? benak Geo.


James tersenyum melihat Syakila dan berkata, ”Sama-sama! Em...kamu ingin pulang sekarang? Apa tidak keberatan jika aku mengantar mu pulang?”


”Em__”


”Tidak perlu! Ada aku, suaminya sendiri yang mengantarnya pulang,” sela Geo.


”What? Hey bro! Don't claim to be someone's husband! Aren't you ashamed?” ucap James mengatai Geo.


”Brengsek! Kamu mengatai ku, apa? Siapa yang mengaku-ngaku? Dia me__” ucapannya terhenti saat Syakila menggelengkan kepalanya. Ia melihat James sepertinya keras kepala, dan suaminya sendiri juga keras kepala. Jika keras kepala kedua pria ini bertemu, tidak akan ada habisnya.


”James. Dia memang suami ku. Kami berdua sudah menikah beberapa bulan yang lalu,” sela Syakila. Jika bukan dia yang mengambil ahli bicara, James dan Geo akan berujung pada perkelahian.


”Syakila! Are you afraid of him? You also admit he is your husband? Don't be afraid, Shakila! I will defend you,” ucap James.


”Tidak James! Aku tidak takut dengan dia. Dia memang suamiku. Terima kasih atas perhatian mu. Aku dan suami ku pergi dulu,” ucap Syakila. Ia menarik tangan Geo mengikuti langkahnya.


”Ta__Tapi... Syakila! Aku menyukai mu pada pandangan pertama! Aku serius!” ucap James.


Ucapan James menghentikan langkah kaki Geo dan Syakila. Mereka sama-sama berbalik melihat James, pria bule yang tidak tahu malu yang mengatakan cinta di awal bertemu.


”I'm serious Syakila! I love you...” kembali James mengatakan cintanya.


Tangan kiri Geo terkepal erat. Geo melepaskan tangan Syakila yang memegangnya. Ia berjalan cepat menghampiri James. Syakila terkejut. Ia bergegas menghampiri kedua pria itu.


Tangan kanan Geo sudah memegang kerah baju James. Tangan kirinya siap meninju muka James. ”Beraninya kamu mendambakan istriku!”


Bugh! Satu tinjuan mengenai pipi kanan James. Sekali lagi Geo mengarahkan tinjunya pada James. Namun, kali ini tidak mengenai wajah James. Namun, tinjunya Geo tertahan tepat di hidung mancung Syakila yang menghadangnya.


Geo menarik tangannya kembali. Hampir saja ia akan memukul wajah istrinya. Syakila menghela nafas. Ia marah pada Syakila yang tiba-tiba menjadikan dirinya tameng untuk pria lain.


Syakila berbalik melihat James dan berkata, ”James, aku katakan padamu. Aku telah menikah. Aku dan kamu tidak mungkin lagi. Jangan ganggu hubungan ku dengan suami ku. Kamu carilah wanita lain ya!”


Syakila melihat suaminya. Wajah pria itu masih terlihat marah. Syakila memegang kembali tangan Geo yang masih terkepal erat. Kepalan tangan Geo perlahan terbuka. Bahkan sekarang sedang menggenggam tangan Syakila. Namun, pandangannya masih menatap tajam wajah pria di depannya itu.


”Ayo kita pulang sayang. Mama sudah menunggu di halaman parkir,” ajak Syakila.


Setelah puas menghafal wajah pria itu, barulah Geo membalikkan badannya dan mengikuti langkah kaki Syakila berjalan keluar dari mall.


”Tuan! Anda tidak apa-apa?” Para anak buah James berkerumun di hadapan James. Mereka dari tadi ingin menghadang Geo. Bahkan tangan mereka gatal ingin menghajar Geo sampai mati. Tetapi, gerakan mereka di hentikan oleh James lewat tatapan mata pria itu pada mereka.


”Aku tidak apa-apa! Apa sudah dapatkan informasi wanita itu?” James bertanya balik pada anak buahnya sambil berjalan keluar dari mall.


”Sudah, Tuan! Semuanya ada di dalam map ini,” jawab anak buahnya sambil menyerahkan map tersebut pada James. James mengambilnya.


Di halaman parkir mall.


James memperhatikan Syakila yang sedang berbicara dengan tiga orang pria dan satu wanita.


”Ada apa? Kalian berdua bertengkar lagi?” tanya Rosalina


”Tidak Mama. Geo hanya salah paham saja sama seseorang yang baru Syakila kenal di dalam tadi,” jawab Syakila.

__ADS_1


”Oh, kirain kalian bertengkar lagi.” jawab Rosalina.


”Aku dan Syakila pulang ke apartemen. Mama naik di mobil ini saja bersama Beni,” titah Geo. ”Syakila, ambil belanjaan mu dan kita pulang,” lanjutnya berucap.


Kamu lagi emosi begitu, apa menurutmu aku akan izinkan kamu membawa Syakila? Aku tidak mau kamu melukai menantuku karena kesalahpahaman mu. benak Rosalina.


”Ah, Geo. Syakila ikut Mama saja. Kamu dan Beni kembalilah ke perusahaan. Pulang dari kantor, baru kamu jemput Syakila,” usul Rosalina.


”Tidak, Ma. Beni sendiri yang kembali ke perusahaan. Geo ingin pulang ke apartemen bersama Syakila,” sahut Geo. Wajahnya Rosalina nampak cemas dan khawatir pada Syakila.


”Sayang...!” wajah Rosalina memelas melihat Geo. Geo tidak perduli.


”Syakila, bisa cepat! Aku sungguh lelah!” ucap Geo. Syakila mengangguk.


Ia mengambil barang belanjaan miliknya dan milik Geo. Ia juga mengambil pakaian yang ia belikan untuk Beni, parfumnya, ia sudah letakkan di pakaian Beni.


”Mama, itu ada buah-buahan untuk Mama di rumah. Syakila simpan di dalam mobil, ” ucap Syakila. ”Beni, ini ada baju dan parfum untukmu,” ucapnya lagi pada Beni. Beni mengambilnya dengan senang hati.


”Terima kasih kakak ipar!” ucap Beni sembari tersenyum.


”Sayang, di mana mobil mu? Bukan kah kamu lelah? Ayo kita pulang,” ajak Syakila pada Geo.


Geo berbalik dan melangkah ke mobilnya, wajahnya sama sekali tidak bersahabat. Syakila mengikuti Geo dari belakang.


Geo membuka pintu belakang mobil. Syakila menaruh belanjaan di dalam. Geo menutupnya kembali. Ia membukakan pintu mobil depan untuk Syakila. Syakila masuk ke dalam mobil. Geo juga masuk ke dalam mobil. Perlahan, mobil Geo keluar dari halaman parkir mall.


”Apa Geo tidak akan menyakiti Syakila, Beni?” tanya Rosalina sambil memandang belakang mobil Geo yang telah berlalu.


”Jangan khawatir, Ma. Geo sangat mencintai Syakila, tidak akan melukainya,” ucap Beni menenangkan Rosalina.


”Mama juga berharap begitu,” sahut Rosalina.


”Ma, ayo masuk ke dalam mobil. Setelah mengantar Mama ke rumah, Beni akan kembali ke kantor.” ucap Beni. Rosalina mengangguk. Ia masuk ke dalam mobil. Beni juga ikut masuk. Sang supir mulai menjalankan mobilnya.


”Tuan! Ayo, kita juga pergi dari sini,” ajak anak buah James pada James. James mengangguk. Ia masuk ke dalam mobil yang pintunya telah di bukakan untuknya.


”Apakah dia bahagia dengan pria macam itu? He is very rude to women! I feel sorry for Syakila,” ucap James pada anak buahnya.


”Tuan, kembali ke hotel atau masih ada tempat yang ingin Tuan datangin?” tanya Sang supir.


”Kembali ke hotel!” jawab James.


”Ok, Tuan!” Sang supir mulai mengendarai mobil.


*


*


”Jalan lah duluan ke atas. Belanjaan, aku yang pegang,” ucap Geo. Syakila mengangguk. Ia berjalan masuk ke dalam apartemen.


Geo meraih hapenya. Ia menghubungi seseorang. Telfon tersambung.


”Halo, Tuan!” sapa si penerima telepon.


”Sudah kalian lacak orang itu?”


”Sudah, Tuan! Sementara mengawasinya,” jawab Si penerima telepon.


”Bagus! Tangkap dia dan bawa ke gudang,” titahnya Geo.


”Siap, Tuan! Jika sudah tertangkap, saya akan menghubungi Tuan,” ucap Si penerima telepon.


”Tidak boleh menghubungiku! Aku yang akan menghubungi kalian!” tut tut tut! Geo langsung memutuskan sambungan telpon.


Ia mengambil barang belanjaan Syakila dari dalam mobil. Dia memegangnya dan membawanya masuk ke dalam apartemen.


”Wow, beruntung sekali wanita yang menjadi prianya. Belanjanya, di pegang langsung olehnya. Pria seperti ini...patut di jaga,” komentar seorang wanita yang melihat Geo.


”Mana dia tampan, seksi, ah... tidak ada duanya...” sambung wanita lain berkomentar.


Geo mengabaikannya. Ia masuk ke dalam lift. 15 menit berlalu, ia tiba di lantai atas, di tempat kamar apartemennya.


Ia langsung menekan kata sandi pada pintu apartemennya. Ia masuk ke dalam rumah. Ia menaruh belanjaan di atas meja.


Ia mencium aroma wangi masakan dari dapur, membuat perut Geo menjadi sangat lapar. Ia mendatangi Syakila di dapur. Dia berdiri di bibir pintu dapur sambil bersandar dan bersedekap melihat istrinya.


Istrinya tampak cantik dan seksi dari belakang. Rambut panjangnya di ikat asal, pakaian lengan pendek yang dia pakai menampakan lekuk tubuhnya yang seksi.


Ia melangkah dengan pelan-pelan tanpa menimbulkan suara mendekati istrinya. Tangannya terulur memeluk tubuh Syakila dari belakang. Bahkan dagu pria itu di simpan di atas bahu kanan istrinya.


”Sayang, kalau begini aku mana bisa konsentrasi untuk masak,” protes Syakila.


”Jangan banyak protes! Aku masih marah sama kamu!” ketus Geo berbicara. Namun, sebenarnya bukan memarahi istrinya itu.

__ADS_1


”Tuan Geovani Albert yang tercinta, tersayang, bisakah aku selesaikan dulu masak ku baru kita mulai pembahasan marah mu itu, Tuan?” pinta Syakila.


”Tidak! Lanjutkan masak mu!”


Syakila menghela nafas. Pria ini! Dia manja sekali jika sudah berada di rumah. Marah apanya? Yang ada minta di belai! benaknya.


Ia mematikan kompor dan menyendok sayurnya ke dalam piring.


”Sayang, lepaskan aku... aku mau simpan sayur di atas meja makan. Perutku sudah sangat lapar sekarang. Apa perut mu tidak lapar?”


”Tidak mau lepaskan! Jalan saja ke meja makan. Aku akan ikuti langkah mu,” jawab Geo


”Sayang, bagaimana bisa aku melangkah jika kamu seperti ini. Aduh! Panas... panas...!” jerit Syakila.


Geo bergegas melepaskan Syakila. Ia jadi panik, refleks ia mengambil piring sayur.


Ini memang panas kalau di pegang lama-lama. benak Geo.


Ia meletakkan piring sayur di atas meja. Syakila melangkah ke meja makan. Geo mengambil kedua telapak tangan Syakila.


”Apa masih terasa panas?” Ia meniup kedua telapak tangan Syakila. Syakila terharu melihat perlakuan manis Geo padanya.


”Sudah gak sayang. Kita duduk makan yuk, aku lapar.” ucap Syakila. Geo menurut, ia juga sedang lapar.


Syakila mengambilkan makanan di piring Geo. Kemudian, ia mengambil makanan lagi untuk dirinya sendiri. Mereka makan dengan tenang.


15 menit berlalu, mereka telah selesai makan.


”Di mana kamu mengenal James?” Geo mulai membuka percakapan.


”Di mall, di saat aku mengejar pintu lift yang hampir tertutup, dia menahan pintu liftnya untukku dan aku masuk ke dalam lift. Di situ kami berkenalan,” jawab Syakila.


”Kamu tidak bilang padanya kalau kamu sudah menikah?”


”Saat kenalan tidak. Dia tidak bertanya lagi selain menanyakan nama ku dan tujuan ke mana naik lift,” jelas Syakila.


”Kenapa kamu menjadikan dirimu tameng melindungi dia dari pukulan ku? Jika aku tidak bisa menahan diriku tadi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu! Dan aku sangat marah dan kesal juga kecewa sama kamu,” tutur Geo.


”Maaf, aku sudah membuat mu kecewa, marah, dan kesal sama aku. Aku hanya tidak mau ada kekacauan di antara kalian berdua dan akhirnya akan sampai ke kantor polisi nanti. Aku tidak mau kamu masuk ke dalam penjara dan meninggalkan aku sendirian di rumah. Tadi, jika di telusuri... kamu yang bersalah karena mengunakan kekerasan pada dia. Bukan aku membela dia, hanya mencegah kamu dari hal yang tidak ku inginkan,” jelas Syakila.


”Mengapa kamu membelikan Beni pakaian juga parfum sementara aku, kamu tidak belikan.”


”Ya Allah, sayang! Tingkat cemburu kok tinggi sekali? Tentu saja aku belikan pakaian untuk mu dan juga parfum. Masa aku tidak mengutamakan suamiku sih! Kan gak mungkin.”


”Kamu pakai pakaian tertutup ataupun tidak, kenapa kamu selalu membuat orang tertarik padamu? Aku cemburu ada pria yang mengatakan cinta untuk mu di hadapan ku...”


Syakila melihat Geo. Pria ini... cemburunya kekanakan sekali. Pusing menghadapi. Cuma satu caranya untuk menghilangkan kecemburuannya itu. benaknya.


Syakila berdiri dan pindah duduk di paha Geo, menghadap pria itu. Tangannya ia kalung kan pada leher Geo.


”Sayang, jangan cemburu padaku. Ok? Aku hanya mencintai mu seorang. Apa yang kamu ragukan dariku? Kamu sangat mengenali ku kan? Seharusnya kamu sudah tahu jika hatiku sudah terkait pada orang yang ku cintai, gak semudah itu untuk berpindah ke lain hati,” ucap Syakila. Ia mencium sekilas bibir suaminya itu.


”Aku tetap takut kehilanganmu, aku takut hatimu akan tergerak pada pria lain, seperti hatimu yang tergerak padaku dari Sardin,” ucap Geo.


Syakila menatap netra pria itu. Geo berbicara sungguh-sungguh. Syakila kembali menciumi bibir suaminya itu, mencecap rasa manisnya.


”Aku tidak akan meninggalkan mu, apalagi jika di antara kita kelak akan hadir buah hati kita. Rasa cintaku tidak akan berubah untukmu,” ucap Syakila.


”Masih ragu padaku?” tanya Syakila. Geo menggeleng. Ia menggendong Syakila, membawanya ke dalam kamar.


Ia membaringkan Syakila dengan pelan di atas ranjang.


”Sayang, kita baru selesai makan. Apakah harus?” tanya Syakila.


”Bukan kah setelah makan akan menambah tenaga dan stamina untuk itu? Aku ingin...” matanya mendamba melihat Syakila. Ia telah membuka pakaiannya.


Syakila tidak bisa mengabaikan keinginan suci suaminya. Ia juga tidak bisa menghindari pesona tubuh suaminya tersebut. Ia mengangguk.


Geo mulai memberikan ciuman hangat untuk Syakila, tangannya mulai bergerilya menjamah setiap lekuk tubuh istrinya.


Setiap lenguhan yang keluar dari bibir istrinya, membuat gairahnya semakin memuncak, membakar akal sehatnya, menginginkan lebih dan lebih.


Keringat yang mengucur dari tubuh Geo menandakan betapa puas dan lelahnya ia setelah bercumbu dengan istrinya berkali-kali. Ia memeluk tubuh polos istrinya, kedua keringat yang keluar dari tubuh mereka bersatu. Geo mencium kening istrinya kemudian menarik dirinya dari atas tubuh Syakila.


”Mau mandi bersama?” tawar Geo pada Syakila.


”Iya, keringat yang banyak ini membuat ku gerah,”


Geo tersenyum, ”Salahkan dirimu yang selalu menggoda ku dan membuat tubuh ku selalu ingin mencicipi mu.”


”Apa bicara mu tidak bisa di rem? Selalu saja dengan entengnya berbicara fulgar begitu...”


”Aku bicara fulgar begini hanya padamu seorang.”

__ADS_1


”Sudah, ayo pergi mandi.” ucap Syakila. Geo mengangguk, ia menggendong tubuh lelah istrinya dan membawanya ke kamar mandi.


__ADS_2