Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 211


__ADS_3

Malam hari di kediaman Alimin.


Suasana makan malam baru saja selesai. Mereka masih berada di meja makan. Nesa dan Alimin selalu memperhatikan Sardin. Ada yang berbeda dari anaknya itu.


”Sardin, apa kamu baik-baik saja?” tanya Alimin.


”Iya, Pa. Sardin baik-baik saja. Papa jangan khawatir. Sardin hanya kecapekan saja, makanya terlihat sedikit pucat.” alibi Sardin.


”Bukan kan istirahat mu sudah cukup? Apa yang terjadi sama kamu selama berada di kota A?” tanya Nesa.


”Tidak ada, Mah.” jawab Sardin.


”Bagaimana dengan sakit di kepala mu? Apa masih seringkali kambuh sakitnya?” tanya Alimin lagi. Dia masih khawatir dengan wajah pucat anaknya itu.


”Iya, Pa. Kalau sudah minum obat, gak sakit lagi, Pa.”


”Beneran kamu tidak apa-apa? Mama sangat khawatir melihat raut wajah mu. Kamu harus sehat, pernikahan mu dengan Syakila sebentar lagi.” ucap Nesa.


”Iya, Mah. Sardin tahu kok, Sardin selalu menjaga diri.”


”Ya, sudah. Kalau gitu, kamu istirahatlah! Kalau merasa gak enak badan, kamu gak usah dulu ke kantor mu. Berikan saja pekerjaan mu pada asisten mu.” Alimin menasehati.


”Iya, Pa.” Sardin beranjak berdiri. Kepalanya terasa sakit. Dia memejamkan mata sebentar.


Nesa dan Alimin saling pandang. Apa ada yang di sembunyikan oleh Sardin?


”Kenapa? Mau Mama bantu ke kamar?” tawar Nesa.


Sardin membuka matanya, ”Tidak perlu, Mah. Sardin tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing saja. Sardin ke kamar dulu.” ia berjalan pelan, pergi ke kamarnya.


”Papa, apa Sardin berbohong pada kita?” tanya Nesa pada suaminya.


Alimin menghela nafas, ”Papa juga tidak tahu. Ayo, kita berdua juga harus istirahat.” ajak Alimin.


Nesa mengangguk sambil melihat kamar Sradin yang tertutup.


Di kamar Sardin.


Pria itu masih duduk di kursinya. Dia baru saja selesai meminum obatnya. Dia meminum habis air minum yang tinggal sedikit itu.


”Badan ku terasa lemas sekali. Sakitnya kepalaku sudah sering kali sakit. Tidak pernah di barengi dengan badan yang lemas. Apa terjadi sesuatu pada Syakila?”


Dia meraih handphone dan membuat panggilan suara dengan Syakila.


.. ..


Di kediaman Sarmi, di kamar Syakila.


Drrtrrt! Bunyi nada dering hape Syakila berbunyi.


Geo mengerjapkan mata. Bunyi handphone tidak terdengar lagi. Dia melihat Syakila masih tidur. Di rabanya kening Syakila.


Masih panas. Tapi, suhu panasnya sudah menurun. Padahal belum minum obat. Jika dia sudah minum obat nantinya, pasti sudah tidak apa-apa. benak Geo.


Di lihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 20 : 40.


Aku tidur selama hampir empat jam. Aku tidur dengan nyenyak. Selama bercerai dengan Syakila, baru ini aku tidur sedikit lama. benak Geo lagi.


Dia bangun dan duduk bersandar. Dia melirik hape Syakila yang kembali berbunyi. Di raihnya hape tersebut dan dilihatnya id si pemanggil.


Apa tidak apa-apa jika aku yang angkat? benak Geo.


Dia bimbang untuk mengangkat telfon tersebut. Dia melihat Syakila. Apakah dia harus membangunkan wanita yang di samping nya itu?


”Syakila.. Syakila!” Geo membelai pipi Syakila dengan lembut sambil memanggil namanya, membangunkan wanita itu dari tidurnya.


”Syakila..”


Kening Syakila terlihat mengerut. Perlahan dia membuka mata. Dia merasakan tangannya sedang menggenggam sesuatu.


”Syakila..kamu sudah bangun? Bisa lepaskan tangan ku gak? Tangan ku kebas nih.” ucap Geo, dengan pelan.


”Geo, ma..maaf.” Syakila melepaskan tangan Geo.


”Tidak apa-apa.” Geo mengibaskan tangannya. Juga memijatnya pelan, mengusir rasa pegal di tangan kirinya tersebut.


Syakila baru menyadari jika dirinya sedang di infus.


Bunyi hape Syakila kembali terdengar. Geo memberikan hape tersebut pada Syakila.


”Sardin. Dengan ini, sudah panggilan yang ke tiga kalinya dia menelpon. Aku ragu untuk mengangkatnya. Jadi, aku membangunkan mu.” jelas Geo.


Syakila mengambil hapenya dan mengangkat panggilan Sardin. ”Halo, kak.” sapa nya.


”Syakila, kenapa baru mengangkat telfon kakak? Kamu baik-baik saja?”


”Iya, Syakila baik-baik saja, sekarang. Maaf, Syakila baru bangun, makanya baru angkat telfon mu. Kakak ada apa menelepon?”


”Kakak khawatir saja dengan Kila. Badannya kakak terasa lemas. Kakak ingin memastikan keadaan mu. Syukurlah, kamu baik-baik saja.”


”Iya, tadi Syakila memang sakit. Di sini ada....” ucapan Syakila terhenti saat telunjuk jari Geo menempel di kedua bibirnya.


Geo menggeleng. Dia menyebutkan nama Rivaldi tanpa suara. Syakila mengerti, dia mengangguk. Geo melepaskan jarinya dari bibir Syakila.


Sakit begini saja, Sardin dapat merasakan. Benar-benar kontak kan batin yang kuat. benak Geo.


Syakila selaku berbicara terbuka dengan Sardin. Membuat rasa cemburu dan iri ku bangkit saja. benak Geo lagi.

__ADS_1


”Kila? Halo, kamu masih di situ? Kila?” panggil Sardin.


”Ah, iya. Maaf, kak. Kila masih di sini. Em..itu tadi Rivaldi datang ke sini. Meng-infus ku.” ucap Syakila.


”Kakak ke sana ya.” suara Sardin terdengar khawatir.


”Ah, tidak usah kakak. Ini sudah malam, kakak istirahat saja. Di sini juga ada...” ucapan Syakila terhenti lagi. Geo membekap mulut Syakila dan menggeleng.


”Di sini ada Mama, om Johan, kakak ipar ku, adikku, yang menjaga ku.” ucap Syakila kemudian, setelah Geo melepaskan tangannya dari mulutnya.


”Ah..iya, kakak baru sadar kita ada di kota S sekarang. Jadi, banyak yang menjaga mu. Baiklah, kamu jaga diri baik-baik. Persiapkan dirimu untuk pernikahan kita. Kakak gak mau di saat kita menikah nanti, kamu jatuh sakit.”


”Iya, kakak. Kakak juga jaga diri kakak dengan baik. Syakila tidak mau kakak kenapa-kenapa. Sudah dulu ya kak. Syakila ingin pergi ke toilet dulu. Sudah gak tahan nih dengan panggilan alam.” ucap Syakila.


”Iya. Selamat malam sayang.” ucap Sardin.


”Malam juga sayang.” tut tut tut! Sambungan telepon terputus. Syakila beranjak dari ranjang. Dia pergi ke toilet.


Sangat bahagia jika bisa mendapat cinta yang begitu besar. Syakila... seandainya cinta mu juga besar padaku...aku adalah pria yang paling bahagia. benak Geo.


Pintu kamar Syakila terbuka. Geo melihat Sarmi melangkah masuk ke dalam kamar.


”Mama.”


”Geo, kamu sudah bangun. Syakila....”


”Syakila baru saja bangun dan pergi ke toilet, Mah.” pangkas Geo.


”Karena Syakila sudah bangun dan sudah mendingan. Geo pergi dulu.” pamit Geo. Dia berdiri.


”Ah, sebaiknya kamu makan dulu bersama Syakila. Setelah kamu makan, baru pulang.” cegah Sarmi.


”Baiklah.” Geo menurut. Dia kembali duduk di ranjang.


”Kalau Syakila sudah keluar dari toilet, keluarlah untuk makan. Mama akan ke dapur dulu, menyiapkan makanan untuk kalian.”


”Em...Mama, boleh kah aku makan di kamar saja bersama Syakila?” tanya Geo.


”Baiklah, Mama akan antar kan makanan kalian.” ucap Sarmi.


Geo mengangguk. Sarmi keluar dari kamar Syakila. Dia pergi ke dapur.


Syakila keluar dari kamar mandi. Dia duduk dengan pelan di ranjang. Dia bersandar di sandaran ranjang, matanya terpejam.


”Kenapa? Kepala mu masih sakit? Masih pusing?”


”Tidak, hanya lemas saja.”


”Aku cemburu dengan besarnya rasa cinta kamu dan Sardin. Syakila, sekali lagi, aku minta maaf sama kamu. Maaf, aku selalu menyakiti mu.” ucap Geo dengan tulus.


Syakila mengangguk. ”Aku juga minta maaf, aku selalu membuat mu marah dan aku tidak memperhatikan mu dengan baik.”


”Kenapa gak tunggu aku selesai menikah baru kamu kembali? Pernikahan ku tinggal dua hari lagi.”


”Kamu ingin aku melihat mu menikah?” nada suara Geo terdengar sedih. Bisakah dia melihat Syakila menikah dengan Sardin nanti?


Syakila menunduk. Dia merutuk dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia meminta Geo untuk melihatnya menikah dengan pria lain?


”Baiklah, jika itu mau mu, aku akan datang di hari pernikahan mu.”


Syakila mendongak, melihat Geo. Pria itu sungguh-sungguh dalam berkata. Inikah Geo yang arogan itu? Yang egois itu?


Pintu kamar Syakila terbuka. Geo dan Syakila sama-sama melihat ke arah pintu. Sarmi dan Biah datang dengan membawa nampan berisi makanan.


Sarmi dan Biah meletakkan nampan itu di atas ranjang.


”Kalian makan lah dulu. Kami akan keluar.” ucap Sarmi.


”Terima kasih, Mama. Terima kasih, Bibi.” ucap Syakila dan Geo.


Sarmi dan Biah mengangguk, kemudian mereka keluar dari kamar.


”Ayo makan.” ucap Geo.


”Aku ingin kamu menyuapi ku. Apakah kamu mau?”


Geo mengangguk. Dia mengambil sendok makan dan mengambil nasi, di arahkan nya sendok itu ke mulut Syakila.


”Suapi aku pakai tangan mu.” pinta Syakila.


Geo kembali mengangguk. Dia menyimpan sendok makan itu dan mencuci tangannya.


Dia mengambil nasi dan menyuapi Syakila.


”Kamu juga makan.” titah Syakila.


Geo mengangguk. Dia mengambil nasi dan menyuapi dirinya sendiri.


Saat melihat Syakila tidak mengunyah lagi, dia kembali menyuapi Syakila.


Syakila teringat kebersamaan dia dan Geo selama di kota A. Pria di depannya itu berlaku kasar sama dirinya, pada awalnya. Tapi, lama-lama pria itu berubah menjadi lembut padanya.


”Melamun kan apa?” tanya Geo, saat melihat Syakila hanya memandang satu arah.


Syakila melihat Geo. Aku sedang melamun kan dirimu. benaknya.


Syakila menggeleng. Geo kembali menyuapi Syakila dan dirinya.

__ADS_1


Geo terus menyuapi Syakila dan dirinya sendiri bergantian. Hingga makanan di piring mereka dan lauk pauk yang disendokkan oleh Sarmi dan Biah habis.


Geo mencuci tangannya. Lalu, mengambil air minum dan menyuapi Syakila. Lalu, dia mengambil obat Syakila yang ada di atas meja. Dia membantu Syakila meminum obat.


”Terima kasih,” matanya Syakila berkaca-kaca.


”Sama-sama. Kamu sudah selesai makan, minum obat juga sudah. Sekarang, kembalilah istirahat. Aku pulang dulu.”


”Kalau aku menahan mu jangan pulang, apakah kamu akan tetap pulang?” tanya Syakila.


Geo melihat Syakila. Mata wanita itu berkaca-kaca. Raut wajahnya menampakkan rasa tidak rela.


Syakila, jika kamu begini, aku tidak bisa menahan diri ku lagi. Aku ingin mengukungmu di bawah tubuh ku. Menjadikan mu milikku selamanya.


Geo menelan saliva nya dengan kasar. ”Maaf, aku harus pulang. Ada kerjaan yang menunggu ku.” alibi Geo. Dia beranjak berdiri.


Syakila menangis. Dia tidak rela melihat Geo pergi. Ada rasa seperti kehilangan di dalam hatinya, saat Geo mengatakan akan pergi.


Geo menahan tangis. Dia tidak bisa melihat Syakila menangis seperti itu. Dia tidak tahu harus berbuat apa.


Geo kembali menelan kasar saliva nya. Dia menghela nafas. Di raihnya tubuh Syakila dan di peluknya erat.


Tangis Syakila semakin pecah. Tubuhnya bergetar dalam pelukan Geo. Geo melihat wajah Syakila, dia menghapus air mata Syakila.


”Jangan menangis! Bukan hanya Sardin yang tidak bisa melihat mu menangis. Aku sendiri tidak bisa melihat mu menangis, hatiku sakit.”


Bukan nya terdiam. Syakila malah semakin menangis. Geo bingung harus berbuat apa untuk menenangkan hati Syakila.


Geo kembali memeluk tubuh Syakila dan mengelus lembut punggung wanita itu. ”Plis jangan menangis! Kamu masih belum sehat betul. Jika kamu begini, keadaan mu bukannya membaik, malah akan semakin buruk. Kamu hanya akan membuat ku semakin khawatir.”


Geo kembali melepaskan pelukannya. Di pegang nya pipi Syakila. Rasanya dia ingin mencium bibir ranum itu.


”Jangan menangis, Ok?”


Syakila mengangguk.


Geo berdiri. Dia menghela nafas kasar beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Setelah agak tenang, dia keluar dari kamar Syakila tanpa menoleh pada Syakila.


Di ruang depan, rumah Sarmi.


”Kalian sudah selesai makan?” tanya Sarmi.


”Iya, Mah. Terima kasih, atas makanannya. Geo pamit pulang dulu.” ucap Geo.


”Em... duduk dulu Nak. Ada yang ingin Mama bicarakan padamu.”


Geo menurut. Dia duduk di samping Johan. ”Ada apa Mah?” tanyanya.


Sarmi memberikan map coklat pada Geo. Kening Geo mengerut melihat map itu. Map tersebut adalah map cerai dia dengan Syakila.


Geo membuka map itu dan mengeluarkan isinya. ”Ini...” dia melihat Sarmi.


”Maaf, Geo. Mama menolak pemberian mu. Kamu tidak punya kewenangan untuk memberikan harta mu pada Syakila. Kalian bukanlah pasangan suami istri.”


”Tapi, Mah. Geo memberikan ini bukan untuk kompensasi ataupun denda perceraian aku dan Syakila. Geo memberikan ini iklhas karena Syakila merawat Geo hingga sembuh.” jelas Geo.


”Kamu jangan marah. Jangan salah paham. Mama tahu niat mu baik dan iklhas dalam memberi. Tapi, kami benar-benar tidak berhak untuk menerima ini.”


Johan dan Biah hanya sebagai pendengar saja.


”Kenapa gak coba kamu berikan pada Syakila?” tanya Sarmi.


”Syakila tidak akan menerimanya. Untuk itulah, Geo memberikan ini pada Mama. Nanti Mama yang akan jelaskan pada Syakila.”


”Maaf. Mama tidak bisa menerimanya. Kamu jangan kecewa, yah?”


Geo berdiri. Dia meletakkan map itu di atas meja. ”Geo telah memberikan ini untuk Syakila, sebagai rasa terima kasih karena merawat ku sampai aku sembuh. Jika Mama tidak bisa menerima ini, maka, buang saja. Tapi, Geo tidak akan mengambil apa yang telah Geo berikan.”


”Maaf, jika Geo berkata kasar dan bersikap kasar.” dia beranjak berdiri. ”Aku pergi!” Geo melangkah pergi dari rumah Sarmi, tanpa menunggu sahutan dari sang tuan rumah.


Di luar rumah Sarmi.


Geo menghela nafas.


”Tuan!” sapa anak buah Geo. Dia membukakan pintu mobil untuk Geo.


GEO masuk ke dalam mobil. Sang anak buah menutup pintu mobil. Dan dia masuk ke dalam mobil, duduk di kemudi.


”Ke rumah, Tuan?”


”Ke rumah sakitnya temanku.”


”Baik, Tuan!” Dia menyalakan mobil dan menjalankannya. Meninggalkan kediaman Sarmi.


Di dalam rumah Sarmi.


Sarmi melihat map coklat yang ada di atas meja itu.


”Bagaimana ini Johan?” tanya Sarmi.


”Sebaiknya terima saja. Yang penting kamu sudah dengar jelas, Geo memberikan itu bukan sebagai denda atau kompensasi atas pernikahan dia dan Syakila. Dia memberikan itu sebagai bentuk rasa terima kasih dia pada Syakila karena telah merawatnya.” tutur Johan.


”Tapi, ini terlalu berlebihan. Bagaimana bisa dia memberikan mall sebesar ini untuk Syakila? Belum lagi tanah kosong seluas satu hektar. Bukan kah ini sangat berlebihan, Johan?” tanya Sarmi lagi.


”Lalu, kamu mau gimana? Kamu sudah dengar sendiri, Geo tidak mengambil mall dan tanah yang sudah dia berikan untuk Syakila. Kamu ingin membuangnya? Membuang hasil keringat mantan anak mantu mu?”


”Lalu?”

__ADS_1


”Kalau begitu. Kamu simpan saja ini. Nanti, kamu bicarakan sama Syakila. Kalau Syakila menolak pemberian ini. Maka, menurut ku. Kamu simpan saja, suatu saat, jika ada anak Geo. Berikan padanya.” usul Biah.


Sarmi mengangguk. Usul Biah memang benar. Dia akan menyimpan berkas itu baik-baik. Dan di saat ada keturunan dari Geo, dia akan memberikannya pada keturunan Geo nanti.


__ADS_2