
Di kamar Sarmi.
Sarmi masih menangis tersedu-sedu. Ia berdiri di depan jendela kamar. Bagaimana bisa dia tidur dengan tenang? Sementara anak gadisnya tidak tahu keberadaannya di mana, juga kondisinya seperti apa? Apalagi pernyataan Geo semakin mengganggu pikirannya. Banyak praduga yang timbul di benaknya, benarkah saudara atau anak dari almarhum Kevin datang untuk membalas dendam? Ia semakin gelisah, malam semakin larut.
Ia mengambil handphone dan menghubungi Johan. Telfon terhubung.
”Halo. Sarmi, ada apa tengah malam begini menelfon?” tanya Johan dengan suara khas bangun tidur. Matanya kembali terpejam setelah meraih benda pipih yang ada di samping bantalnya dan menempelkannya di pipi.
”Johan, Syakila belum pulang ke rumah. Dia menghilang. Kami tidak tahu dia kemana__” tut tut tut
Belum selesai bicara, telfon terputus. Betapa sedih hati dan perasaannya. Kemana lagi dia akan mengadu di saat begini? Kakak iparnya memutuskan sambungan begitu saja saat di telfon. Jika saja bukan hal yang penting, ia tidak akan menelfon di tengah malam begini untuk mengganggunya.
”Halim, apa yang harus aku lakukan? Kemana perginya anakku? Hu..hu..hu.. siapa lagi yang harus ku mintai bantuan, Halim? Di kota ini, hanya pada kakak mu aku bergantung. Sardin, tidak mungkin aku meminta bantuannya. Dia masih terbaring tidak berdaya di rumah sakit. Syakila...” gumamnya.
Ia tidak berani menghubungi Johan lagi. Ia duduk lemas di lantai memikirkan anak gadisnya itu sambil menangis.
.. ..
Di kamar Syakila.
Geo mengambil handphone menghubungi Ijan. Telfon tersambung.
”Halo, Tuan.” sapa Ijan di sebrang sana.
”Apa kalian sudah menemukan keberadaan Syakila?” tanya Geo.
”Maaf, Tuan. Kami masih sedang mencarinya. Kami mulai mencari dari bagian dekat rumah sakit. Tuan, kami mendengar beberapa warga di sekitar yang sedang berbicara, mereka melihat ada seorang wanita yang terluka. Wanita itu di bawa oleh seorang pria.” ungkap Ijan.
”Apa? Apa warga itu mengetahui ciri-ciri dari wanita itu? Rambutnya? Warna pakaiannya? Apa mereka tahu?” tanya Geo selidik.
”Tidak pasti, Tuan!”
Geo menghela nafas.
Syakila, itu bukan kamu 'kan? Ku harap bukan! Asya, kamu harus baik-baik saja! Jika bukan untukku, kamu harus baik-baik saja demi mama mu, saudara mu, dan Sardin.
”Apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang pria bodoh yang mengikuti kita?” tanyanya kemudian.
"Sudah, Tuan. Baru saja aku dikirimkan pesan tentang ini. Para preman itu di bayar oleh anak buah dari Antonio untuk mencari dan mencelakai Syakila.”
Kening Geo mengerut, ”Antonio? Apa hubungannya dengan Syakila?” tanyanya penasaran.
”Maaf, Tuan. Untuk itu kami masih menyelidikinya.”
”Baiklah, cari terus keberadaan Syakila. Hubungi polisi untuk membantu dalam pencarian. Sebut saja namaku, atas perintah ku jika mereka menolak!”
”Baik, Tuan.”
Tut tut tut telfon terputus. Geo memutar-mutar benda pipih itu di tangannya sambil bergumam.
”Syakila? Antonio? Apa hubungan di antara mereka berdua? Apa mereka saling mengenal? Apa Antonio ada dendam terhadap keluarga Syakila?”
Ia kembali menatap layar handphonenya, mencari sebuah nama kontak di sana, ia menempelkan benda pipih tersebut di pipi kanannya. Ia mencoba menghubungi Syakila, kiranya kali ini nomornya aktif.
”Nomornya masih tidak aktif, semoga saja wanita yang terluka itu bukan dia. Syakila, kamu harus baik-baik saja.” gumamnya lagi.
Ia kembali menelfon seseorang. Telfon tersambung.
”Geo, ada apa menelfon jam tiga subuh begini?” tanya Beni yang berada di kota A. Perbedaan waktu kota S dan kota A adalah satu setengah jam.
”Apa Antonio masih berada di kota A?”
”Mengapa kamu tiba-tiba menanyakan Antonio? Apa dia sekarang berada di kota S dan sedang mengincar mu?” Beni berbalik bertanya.
”Ku harap dia mengincar ku! Atau apa dia ingin menyerang ku melalui Syakila? Apa kalian memberitahu Antonio bahwa Syakila adalah istri ku?” tanya Geo selidik.
”Apa? Antonio menyerang Syakila? Dia tidak tahu jika Syakila adalah istrimu. Tante dan aku tidak membocorkan hubungan kalian berdua padanya.”
__ADS_1
”Bagaimana dengan Marlina?” tanya Geo lagi.
”Marlina? Dia bukan orang bodoh untuk membocorkan hubungan kalian berdua pada Antonio. Dia mencintai mu, tidak mungkin dia akan membahayakan nyawamu sendiri. Dia tahu jika kamu melindungi Syakila dengan nyawamu.” terang Beni.
Geo terdiam, tidak bersuara.
”Tapi..Geo. Itu.. bisa juga Marlina yang meminjam anak buah Antonio untuk menghabisi Syakila secara diam-diam! Jadi, peluang Marlina masuk ke kehidupan mu ada setelah kematian Syakila. Ini gawat! Aku harus mengawasi Marlina. Aku tidak akan membiarkan siapapun mencelakai Syakila ku!” ucap Beni lagi.
Tut tut sambungan terputus. Geo sengaja memutuskan sambungan tersebut.
*Syakila ku? Huh! M*engapa aku tidak senang dengar ucapan Beni? Aku tahu Beni mencintai Syakila. Beni juga tahu perjanjian kami berdua yang akan berakhir. Syakila juga terlihat dekat dengan Beni. Mungkinkah setelah aku bercerai dengan Syakila, Beni akan memiliki Syakila untuknya? Tidak! Mengapa baru memikirkannya saja aku jadi marah seperti ini?
”Setelah bercerai, ada berapa banyak pria yang sudah menunggu mu, Syakila? Sardin, Beni, mereka berdua sudah menunggu mu. Apa masih ada pria lain lagi yang menunggu mu?”
Pikirannya sungguh terganggu. Ia terus berada di kursi roda sepanjang malam. Rasa sakit dan pegal di punggung dan pinggang ia rasakan. Namun, ia tepis rasa itu, mau bagaimana lagi? Siapa yang akan membantunya membaringkan dia di ranjang? Menyuruh mama mertuanya? Itu tidak mungkin! Apalagi menyuruh saudara-saudaranya Syakila, lebihnya tidak mungkin. Resah, gelisah, khawatir, yang menemani kesendirian di dalam kamar itu.
.. ..
Kediaman Johan.
”Mama, Mama bangun, Mah!!”
Johan membangunkan istrinya setelah memutuskan sambungan telfon Sarmi. Biah terbangun, perlahan membuka matanya. Ia melirik jam dinding. Pukul 02 : 30.
"Papa, ada apa Pa bangun jam segini?”
”Mama, kita harus pergi ke rumahnya Sarmi. Sekarang!” ucap Johan sambil turun dari ranjang.
Biah masih terlihat bingung dalam duduknya, ia memperhatikan langkah suaminya itu. Pria itu sedang berjalan menuju lemari pakaian.
”Papa, di jam segini kita kesana? Apa yang sedang terjadi di rumah Sarmi, Pa? Mengapa Mama melihat raut wajah Papa yang khawatir dan cemas berlebihan, begitu?”
”Mah, Syakila belum pulang ke rumah sampai sekarang!” jawab Johan sambil memilih pakaian ganti.
”Apa? Syakila belum pulang ke rumah? Ini sudah jam dua lewat, Pa! Kemana perginya Syakila? Dan sama siapa dia pergi?” sahut Biah terkejut.
Johan telah selesai mengganti pakaiannya. Ia mendekati Biah yang masih duduk di pinggir ranjang.
”Baiklah, Papa tunggu Mama di luar, Mama ingin mengambil jaket dulu.”
”Hum, cepatlah!” sahut Johan singkat.
Ia keluar dari kamar dan menunggu istrinya di luar. Biah berjalan ke arah lemari dan mencari baju jaketnya. Setelah dapat, ia memakainya dan keluar kamar. Ia keluar dari rumah dan mengunci pintu.
”Pa, ayo kita pergi.” ajaknya pada suaminya, yang berdiri membelakangi dirinya.
”Mama. Ayo!” sahut Johan.
Mereka jalan dengan cepat untuk sampai di rumah Sarmi.
... ..
Di kediaman Sarmi.
Tok tok tok. Sarmi mendengar suara ketukan di pintu rumah. Ia mendongak melihat ke arah pintu kamarnya yang tertutup. Ia mempertajam pendengarannya.
Tok tok tok. ”Assalamu 'alaikum.”
Terdengar lagi suara ketukan, kali ini di barengi suara perempuan. Sarmi tersenyum, ia menghapus air matanya.
”Syakila? Tunggu nak, Mama segera membukakan kamu pintu.”
Ia membuka pintu kamarnya dengan cepat dan tergesa-gesa. Senyum masih tergambar di bibirnya itu. Akhirnya anaknya pulang juga ke rumah. Ia memegang kunci hendak memutarnya untuk membuka kuncinya.
”Assalamu 'alaikum. Sarmi, ini aku, Johan dan Biah. Buka pintunya!”
Sarmi terdiam membeku dengan tangan masih memegang kunci. Senyumnya hilang, yang sedang berdiri di balik pintu rumah yang masih tertutup itu, ternyata Johan, kakak iparnya, bukan Syakila, anaknya. Kecewa terpancar lagi di wajahnya.
__ADS_1
”I..iya...tu..tunggu sebentar!” sahutnya dengan suara bergetar. Ia membuka pintu.
”Johan, Biah. Ayo masuk!” ucapnya lagi dengan suara serak menahan tangis.
Johan dan Biah masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di kursi mengikuti Sarmi.
”Bagaimana bisa Syakila tidak pulang di rumah, Sarmi? Apa kamu memarahinya?” tanya Biah khawatir.
”Tidak, saudara ipar. Syakila dan suaminya berjalan bersama. Dari cerita Geo, ada mobil yang mengikuti mereka dari arah belakang mobilnya setelah mereka keluar dari halaman parkir bioskop. Geo mengira itu adalah salah satu musuhnya. Ia tidak ingin Syakila terlibat di dalamnya. Dia menyuruh Syakila untuk pergi ke rumah sakit menjenguk Sardin.” Sarmi mulai menceritakan kejadiannya sesuai cerita dari Geo.
”Sudah cek Syakila di rumah sakit?” tanya Johan.
Sarmi mengangguk lemah, ”Fatma, suaminya, Hardin dan Geo sendiri sudah mencarinya di sana. Tapi...mereka tidak menemukan Syakila.” Air mata Sarmi mulai mengalir lagi membasahi pipinya.
”Bagaimana dengan tempat-tempat yang sering di kunjungi Syakila jika ingin menyendiri, sudahkah mencarinya kesana?” tanya Biah.
”Mereka tidak menemukan Syakila di tempat-tempat itu.”
”Geo bilang, orang yang mengikuti mereka itu..dia menginginkan nyawa Syakila. Dia ingin mencelakai Syakila. Itu artinya, orang itu musuh kita...bukan musuhnya Geo.” ucapnya lagi.
”Apa maksudmu? Mana mungkin Kevin masih hidup!! Dia sudah meninggal di hari yang sama dengan meninggalnya Halim, suamimu!! Lagi pula, Kevin bukan musuh mu ataupun Halim.” ucap Johan menanggapi.
”Mungkin saja itu anaknya atau saudaranya Kevin, Johan. Hu..hu.. hu...Syakila...di mana dia sekarang?! Aku takut jika itu keluarganya kevin yang datang ingin balas dendam!” sahut Sarmi dengan terisak.
”Itu tidak mungkin, Sarmi! Bagaimana mereka bisa tahu keberadaan mu disini? Itu tidak mungkin!! Bukankah Anton dan Denis bilang jika di kota A kabar tentang Halim dan kevin sudah meredup dan perlahan hilang? Dan mereka juga sudah mengatakan kepada para pedagang pasar untuk menutup mulut tentang kehidupan Halim. Jadi, mereka akan kesulitan untuk mencari tahu tentang kalian. Dan selama beberapa tahun ini tidak ada orang yang mencari keberadaan Halim, terkecuali Rosalina dan Geo? Lagi pula, dalam kasus itu, Kevin lah yang bersalah!!” ucap Johan.
”Tapi, siapa mereka jika bukan saudara atau anak dari Kevin, Johan?!” suara Sarmi meninggi. ”Aku juga tidak tahu persis, apa sebenarnya yang menjadi pemicu masalah antara Halim dan Kevin? Apa...apa mereka anak buah dari Kevin? Mereka datang ingin membalaskan dendam bos-nya, Johan?”
”Sarmi! Itu sangat tidak mungkin! Bukankah kamu tahu sendiri, anak buah Kevin ada yang meninggal kerena berkelahi dengan Halim dan Anton? Dan separuh anak buahnya yang masih hidup di penjara seumur hidup mereka? Kamu melihat itu sendiri, kan?”
Sarmi mengangguk, ” Apa kamu tidak benar-benar tidak tahu permasalahan yang timbul antara suamimu dan Kevin?” tanya Johan
”Tidak, Halim tidak menceritakan itu padaku. Dia hanya bercerita tentang Halima, padaku. Agar aku tidak cemburu bila sampai di kota A.” jawab Sarmi. ”Johan...kita harus mencari Syakila kemana? Aku benar-benar khawatir padanya!”
Tanpa sepengetahuan mereka, Geo mencuri dengar pembicaraan diantara mereka bertiga. Sewaktu Johan dan Biah mengetuk pintu, Geo datang untuk membukakan pintunya. Namun, ia didahului oleh Sarmi. Setelah ia selesai mendengar pembicaraan antara Johan dan Sarmi, Geo kembali ke kamar.
”Sarmi, kalaupun ada sesuatu yang terjadi, aku yakin Syakila akan baik-baik saja. Dia bisa menjaga dirinya sendiri.”
”Tapi, Johan! Biar bagaimanapun, Syakila adalah perempuan! Bagaimana jika mereka datangnya berkelompok. Kemampuan Syakila tidak sejauh itu!”
”Sudah, kamu dan Biah tunggulah disini. Aku akan mencari Syakila dengan bantuan polisi dan tentara kenalan ku.” ucap Johan lagi.
”Mama, jagalah Sarmi. Papa akan mencari Syakila.” pamitnya pada sang istri.
”Iya, Papa. Berhati-hatilah!”
”Hum. Sarmi, dimana Johansyah dan Hardin?”
”Johansyah dan Hardin ada di kamarnya. Mereka baru beristirahat sehabis mencari Syakila.” jawab Sarmi.
”Aku disini, Papa.” ucap Hardin yang baru datang.
”Hardin. Ayo ikut Papa mencari kakak mu. Tunggu, kenapa dengan muka mu?” tanyanya terkejut melihat muka Hardin yang memar.
”Tidak apa-apa, Papa. Mari kita pergi sekarang!” sahut Hardin. Ia mendahului langkah keluar dari rumah tanpa berpamitan dengan Sarmi, mamanya maupun pada Biah.
Membuat Johan dan Biah mengerutkan keningnya. Mereka saling memandang dan sama melihat Sarmi.
”Aku akan ceritakan padamu setelah kamu pulang.” ucap Sarmi pada Johan.
”Baiklah, aku pergi dulu.” pamit Johan. Ia keluar dari rumah. Sarmi dan Biah sama-sama mengantar kepergian Johan dan Hardin.
Johan pergi ke rumahnya sendiri dan mengambil mobil. Ia pergi mencari Syakila menggunakan mobil bersama Hardin.
Setelah kepergian Johan, Sarmi dan Biah kembali masuk ke rumah dan mengunci pintu. Sarmi dan Biah kembali duduk di kursi, mereka menunggu kedatangan Johan dan Hardin sambil bercerita mengenai kehidupan Sarmi saat berada di kota A.
”Jadi, kamu benar-benar tidak tahu permasalahan apa yang terjadi di antara almarhum suami mu dan Kevin, ya?” ucap Biah bertanya setelah Sarmi selesai bercerita.
__ADS_1
”Aku benar-benar tidak tahu. Dan sampai sekarang aku tidak tahu mengapa Syakila menerima untuk menikah dengan Geo. Dari kecil Syakila tertutup orangnya, ia hanya bercerita dan berkeluh kesah pada papanya saja. Setelah kepergian papanya, seperti yang kamu lihat selama ini atas sikap Syakila. Ia semakin menutup dirinya.”
Biah menghela nafas. Memang apa yang Sarmi ucapkan tentang Syakila itu benar. Gadis itu pendiam, tidak banyak bicara, tidak banyak menuntut apapun, dan tertutup sekali tentang kepribadiannya.