
Di kediaman Albert.
Mereka masuk ke dalam rumah. Rosalina menyambut kedatangan mereka. ”Sayang, Syakila, kalian baru pulang? Dari mana saja? Mama sangat khawatir kalian berdua tidak kunjung pulang ke rumah.” ucapnya, bertanya.
Syakila tersenyum, ”Mama, maaf, sudah membuat Mama khawatir. Sepulang dari mengajar, Syakila pergi makan siang ke kantor Geo. Setelah itu, Syakila pergi ke rumahnya om Denis.” jawabnya, menjelaskan.
Rosalina tersenyum senang. Apa? Syakila pergi ke kantor Geo untuk makan siang bersama? Aku senang mendengarnya. benaknya.
”Oh, ternyata begitu! Mama khawatir kamu belum pulang ke rumah sementara jam sudah berlalu. Mama ingin menghubungi mu. Tetapi, kenapa nomor mu tidak aktif?”
”Ehm. Mama, hapenya Syakila rusak, jadi, Syakila tidak memiliki handphone sekarang.” ucap Geo, menjawab pertanyaan mamanya.
”Oh, pantas! Oh, iya, Syakila, bantu Mama menyiapkan makan malam.”
”Iya, Mah. Mama duluan lah ke dapur, Syakila akan ke kamar dulu untuk berganti.”
”Oh, baiklah.” sahut Rosalina.
Syakila berdiri, ia melihat Geo ”Geo, apakah kamu ingin istirahat ke kamar?” tanyanya.
”Tidak, em, nanti baru aku ke kamar sendiri” jawab Geo.
Syakila mengangguk mengerti. Ia melangkah pergi ke kamar menggunakan tangga.
”Mama, Syakila menyelidiki kasus kematian Halim, papanya.” ucap Geo, dengan murung.
”Menyelidiki kasus kematian Halim?” ucap Rosalina, mengulang perkataan Geo. Keningnya mengerut, ia melirik Beni. Beni mengangguk, membenarkan. Ia kembali melihat Geo. ”Lalu? Apa yang sudah dia temukan?” tanyanya, penasaran.
Geo menghela nafas, ”Ia tahu yang berseteru dengan papanya waktu itu adalah Kevin. Dan yang bertanggung jawab atas semua peristiwa silam yang di pasar itu adalah Gege.” jawabnya dengan datar.
”Gege? Bagaimana bisa? Bukan kah beberapa Minggu kemudian, tersebar kabar di kalangan masyarakat jika Gege tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa di pasar itu?”
”Iya, pada saat informasi itu tersebar di kalangan masyarakat, Syakila dan ibunya serta saudara kandungnya telah pindah ke kota S. Jadi, mereka tidak mengetahui kabar itu. Dan Syakila mengingat apa yang di dengarnya waktu kejadian itu berlangsung, ia percaya dengan pendengarannya bahwa yang bertanggung jawab itu adalah Gege, dari salah seorang yang berbicara lewat telfon.” sahut Geo, mengungkapkan.
”Jadi, sekarang Syakila akan menyelidiki siapa itu Kevin? Siapa itu Gege?” ucapnya lagi, sambil menghela nafas.
”Mengapa kamu tidak mengatakan langsung pada Syakila jika kamu adalah Gege? Dan kejadian di pasar waktu itu benar-benar tidak ada hubungannya dengan kamu.”
”Sepertinya itu akan sulit, Tante!” sahut Beni.
”Sulit bagaimana, Beni. Kat...” ucapan Rosalina terhenti. Ia melihat Syakila telah menuruni anak tangga. ”Syakila sudah hampir sampai ke sini. Mama pergi ke dapur dulu.” ucapnya, pandangannya masih melihat Syakila. Ia langsung berdiri dan pergi ke dapur.
Syakila tiba di ruang keluarga. ”Mama sudah ke dapur?” tanyanya pada Beni dan Geo.
Mereka berdua mengangguk bersama, ”Iya,” jawab mereka berdua. ”Kamu bantulah Mama memasak, aku ke kamar dulu, ingin istirahat.” lanjut Geo berucap.
Syakila mengangguk, ia pergi ke dapur. Geo juga pergi ke kamar. Beni pun beranjak ke kamarnya.
Di kamar Geo.
Geo masuk ke kamar, ia mengunci pintunya dari dalam. Ia berdiri dari kursi roda, merenggangkan otot kaki dan tangannya.
”Ah, apa yang harus ku lakukan sekarang? Apa aku ikuti saja saran Mama? Memberitahu tahu Syakila jika Gege adalah aku? Dan yang bertanggung jawab atas kejadian di pasar itu sepenuhnya adalah Kevin?” gumamnya.
Ia membaringkan dirinya di ranjang, ”Bagaimana reaksi Syakila nanti? Apa dia akan percaya? Sementara dia percaya jika Gege adalah pelaku utamanya.” gumamnya lagi.
Ia melihat tas Syakila di meja hias. Ia bangun dan berdiri dari ranjang, melangkah ke meja hias. Ia membuka tas yang di kenakan Syakila itu.
Ia melihat isi dalamnya, ada dua buah map, foundation, bedak, lipstik, parfum, atm, dan sebuah handphone biasa. ”Handphone!” ucapnya pelan, dengan heran.
”Sejak kapan ia memiliki handphone ini?” gumamnya. Ia mengambil handphone tersebut dan menggeser tombol-tombol pada handphone itu.
__ADS_1
Ia melihat daftar kontak, berisikan nomor-nomor keluarganya, Sardin dan deretan nomor yang tidak di kenal oleh Geo. Ia menggeser ke bagian panggilan.
Ia terkejut, tatapannya tajam, ia melihat daftar panggilan masuk hanya ada nama Sardin. Panggilan keluar hanya Sardin dan Hardin. Sementara panggilan tidak terjawab hanya Sardin.
”Jadi, selama ini dia berhubungan dengan Sardin melalui handphone ini? Syakila, nyalimu memang besar! Aku sudah meremehkan mu! Apa istimewanya pria itu, hingga cintamu besar padanya?” gumamnya.
Ia menggeser kotak pesan, ia membuka pesan masuk semuanya hanyalah dari Sardin. ”Brengsek! Ternyata, ia berhubungan dengan Sardin semenjak hari di mana kami berangkat ke kota ini, sampai sekarang! Handphone sialan! Dari mana dia dapatkan handphone ini? Bahkan aku tidak tahu kapan ia membeli handphone ini!” gumamnya lagi. Ia meremas kuat handphone kecil itu.
Ia menyimpan handphone itu di atas meja. Ia mengambil map. Membuka kedua map itu dan membacanya sebentar. ”Jadi, dia tahu perjanjian antara papanya dengan papa ku? Makanya dia menerima pernikahan dengan ku? Tapi, mengapa Sarmi tidak mengetahui hal ini?” gumamnya.
”Dan ini... pernyataan Halim saat memenjarakan Mulfa! Mulfa adik dari Halima! Apa hubungan Halim dengan kedua wanita itu? Dan sebenarnya, uang satu milyar yang Halim pinjam dari papa untuk apa? Mereka tidak terlihat kekurangan uang, bahkan mereka mampu membayar sisa utang Halim. Jika karena bukan ancaman, belum tentu Syakila akan menikahi ku. Apakah harus dengan ancaman lagi agar Syakila menyerahkan tubuhnya padaku?” Ia menutup kedua map tersebut dan memasukkan kembali ke dalam tas Syakila.
Ia melirik handphone di atas meja. Ia meraih handphonenya dari saku. Ia kembali menyadap handphone Syakila. Ia berpura-pura saja tidak mengetahui tentang ponsel itu. Setelah selesai menyadapnya, ia mengembalikan handphone tersebut ke dalam tas Syakila, menaruh semua barang-barangnya seperti semula dan menutup kembali tas tersebut.
Ia membuka kunci kamarnya dan mendorong kursi roda ke samping ranjang. Ia berbaring.
Ia memejamkan mata, namun, matanya enggan untuk terpejam. Pikirannya teralihkan dengan kemelut yang di selidiki Syakila juga tentang sms sms Syakila dan Sardin.
Ia bangun dari ranjang, ia kembali mengunci pintu kamarnya dan berjalan ke arah lemari pakaian, mengambil handuk dan pakaian gantinya. Ia pergi mandi.
Di kamar Beni.
Pria itu sedang gelisah. Ia gelisah, lambat laun Geo pasti akan tahu jika ialah yang selalu mengganti laporan asli dengan laporan palsu.
Ia takut dengan reaksi Geo nanti saat Geo tahu tentang kebenaran itu? Dan jika ia menjelaskan apa alasannya ia berbuat seperti itu, apakah Geo akan menerima alasan itu?
Di lain sisi ia juga sedang memikirkan gimana nasib Geo jika Syakila tahu Gege adalah Geo. Apakah Syakila akan memberikan kesempatan Geo untuk menjelaskan apa yang terjadi? Atau apakah Syakila semakin membenci Geo? Ia tidak ingin hubungan Syakila dan Geo hancur karena kesalahpahaman itu.
Ia pergi mandi membersihkan dirinya, mungkin saja setelah mandi, otaknya kembali segar.
Di dapur.
Syakila dan Rosalina memasak dengan diam. Tidak satupun yang membuka suara untuk mengajak bicara.
”Mama, bolehkan Syakila menanyakan sesuatu pada Mama?” ucap Syakila kemudian, memecah kesunyian.
Rosalina menjadi gugup, ”Iya, ingin bertanya apa, Nak?” jawabnya dengan tenang, ia menutupi rasa gugupnya.
”Apa Mama tahu untuk apa papaku meminjam uang satu milyar ke Mama dan papa, sebelumnya?”
”Sayang sekali Mama tidak tahu hal itu. Papamu dulu hanya datang untuk meminjam uang satu milyar pada kami tanpa memberitahu untuk apa uang itu. Tapi, dua hari setelahnya, ia mengembalikan lagi uang itu pada kami dalam keadaan utuh, tidak tersentuh.” ungkap Rosalina.
”Apa? Artinya papa meminjam uang itu hanya dalam waktu dua hari? Setelah itu papa kembalikan lagi uang nya? Lalu, mengapa papa masih terjerat hutang pada keluarga Albert?” tanya Syakila penasaran.
”Waktu meminjam uang sudah ada ketentuannya. Kami tidak tahu jika papamu meminjam uang hanya untuk dua hari saja. Kami memberikan waktu papamu satu tahun untuk membayar utang itu beserta bunganya. Kami adalah orang pebisnis, tidak mengeluarkan uang begitu saja dengan sia-sia, apalagi kepada orang yang tidak di kenal. Jadi, meskipun papamu telah mengembalikan uang pokoknya, papamu wajib membayar bunganya.” ungkap Rosalina lagi.
Syakila terdiam, ia tidak menyangka jika pikiran orang kaya seperti itu. Apapun itu mereka akan menjadikan lahan bisnis yang menghasilkan. ”Lalu, mengapa papa Albert menyelidiki tentang kematian papa ku?” tanyanya, kemudian.
Rosalina kembali gugup. Apa yang harus ia jawab? Apakah ia harus menjawab bahwa Albert menyelidiki itu untuk membuktikan bahwa Gege tidak bersalah?
”Mama juga tidak tahu apa alasan suamiku menyelidiki kasus kematian dari papamu. Waktu itu, Mama hanya berpikir mungkin karena suami ku senang dengan papamu hingga almarhum ikut sedih mendengar kematian papa mu dan mencari tahu siapa yang membunuh papamu.” jawab Rosalina, berbohong.
Geo dan Beni sama-sama mendengarkan pembicaraan Syakila dan Rosalina dari balik dinding dapur. Setelah mereka berdua selesai mandi, mereka pergi ke dapur. Mereka berpapasan di dapur dan sama-sama berhenti saat mendengar pertanyaan Syakila pada Rosalina.
Mama pun takut untuk mengatakan yang sebenarnya pada Syakila. benak Geo.
Tante juga tidak mengatakan yang sebenarnya pada Syakila, apa tante juga takut mengatakan kejujuran itu?. benak Beni.
”Apa Mama benar-benar tidak tahu untuk apa papa meminjam uang sebanyak itu?” tanya Syakila lagi.
”Iya, sayang. Mama benar-benar tidak tahu. Mengapa? Apa kamu mengetahui sesuatu? Coba katakan!”
__ADS_1
”Aku...tidak ada Mah. Aku ke kamar dulu, ingin mandi sekalian membangunkan Geo untuk makan malam.”
”Iya, pergilah!” sahut Rosalina. Ia duduk di kursinya.
Beni masuk ke dalam dapur dengan mendorong kursi roda Geo, hingga mereka berdua berpapasan dengan Syakila di bibir pintu dapur.
”Geo, Beni, kalian sudah kesini. Duduklah untuk makan malam, aku mau mandi dulu.” ucap Syakila.
”Iya,” jawab Beni, sambil mendorong kursi roda Geo ke meja makan.
Syakila terus melangkah keluar dari dapur.
Apa dia akan menghubungi Sardin lagi dengan diam-diam?. benak Geo. Ia merasa tidak senang.
Beni menarik bangkunya dan duduk, setelah ia meletakan kursi Geo di tempat posisi duduknya.
Di kamar Geo.
Syakila melangkah masuk ke kamar, ia terus melangkah ke lemari pakaian, mengambil handuk dan pakaian ganti.
Ia pergi ke kamar mandi, langkahnya terhenti saat melewati meja hias. Ia memandang tasnya, posisi dari tasnya sepertinya berubah.
Ia membuka tas dan melihat isinya, semuanya masih tetap berada pada tempatnya, tidak tersentuh. ”Mungkin perasaan ku saja!” gumamnya, sambil menutup kembali tasnya.
Ia lanjut pergi ke kamar mandi, ia sedang mandi.
Di dapur.
”Mama, bagaimana? Apakah kita akan mengatakan yang jujur jika Gege adalah aku? Dan kejadian yang di pasar tidak ada hubungannya dengan aku? Tapi kita tidak punya bukti untuk menjelaskan itu secara rinci. Mereka menyebar fitnah atas namaku lengkap dengan alibi kuat. Aku takut jika Syakila tidak percaya ucapan kita dan malah akan semakin membenci dan menjauhiku.” ucap Geo.
Rosalina menghela nafas. ”Mengapa ini harus terjadi? Di saat papamu sudah menemukan sejumlah bukti untuk membersihkan namamu, malah saat itu papamu terbunuh! Bahkan bukti-bukti itu juga habis terbakar, sungguh kejam mereka membunuh papamu! Dan di saat hubungan kamu dan Syakila sudah mulai membaik, malah masalah ini terkuak lagi! Mama tidak tahu harus bagaimana?” sahutnya.
Beni terdiam, ia teringat saat ia melihat Antonio dan Vian, paman Antonio bekerja sama membunuh Albert saat sendirian. Saat mereka sama-sama membunuh Albert, tidak sengaja ia memergokinya. Tapi, ia tidak berani untuk berteriak, ia takut ia juga akan di bunuh saat itu.
Bukannya Albert tidak bisa melawan Vian dan Antonio, tetapi mereka bermain licik, sebelum Albert pergi keruangan pribadinya untuk melihat lagi bukti-bukti yang telah dikumpulkan, seseorang suruhan Antonio memberikan minuman racun yang membuat nadinya melemah. Jadi, Albert tidak memiliki kekuatan untuk melawan, akhirnya ia jatuh dalam perangkap Vian dan Antonio.
Setelah Albert di pastikan meninggal, Vian dan Antonio menyiram minyak tanah pada semua dinding, kayu, kertas-kertas yang ada di atas meja, kain gorden, lalu ia membakarnya.
”Itu adalah balasan dari kesalahan mu karena kamu memasukkan ibuku ke dalam rumah mu, memisahkan ibuku dengan ayah ku! Karena mu orang tuaku bercerai, aku dan Marlina terlantar!”
”Itu juga sebagai balasan karena istrimu membunuh ibuku! Dendam ini akan terus mengalir sampai aku menghabisi seluruh keturunan mu, Albert!”
”Paman, ayo kita pergi!”
Beni menghela nafas, itu adalah kata-kata yang di lontarkan Antonio pada jasad Albert sebelum mereka meninggalkan jasad Albert di ruangan yang sudah terbakar itu. Ruangan pribadi Albert di bangun tersendiri, di samping gedung perusahaan.
”Ada apa Beni? Mengapa menghela nafas berat seperti itu? Apa kamu memikirkan sesuatu?” tanya Rosalina.
”Ah, em, aku tidak apa-apa Tante.” jawab Beni.
Mereka kembali terdiam, menanti Syakila datang dan makan malam bersama. Tidak lama kemudian, Syakila memasuki ruang dapur.
”Maaf, aku sudah membuat kalian menunggu lama.” ucap Syakila, sambil duduk di kursi, di hadapan Geo.
Sudah hampir satu Minggu ini Syakila duduknya selalu di sebelah Beni, berhadapan dengan ku. Kenapa dia tidak mau duduk di samping ku? benak Geo, ia melirik Syakila tidak senang.
Sementara Syakila acuh saja.
Gadis ini, kadang sikapnya lembut kadang ia begitu cuek padaku. benak Geo lagi.
”Tidak apa-apa, makan malam juga belum terlewat.” jawab Rosalina. ”Semua sudah ada di meja makan, makanlah dengan tenang.” ucapnya lagi.
__ADS_1
Semuanya mengangguk, mereka mulai menyendok makanannya masing-masing dan makan dengan tenang.