
Keesokan paginya Halim tetap beraktivitas seperti biasa. Ia semakin bersemangat dalam melakukan semua kegiatan yang selalu di jalani setiap hari.
Karena hari ini adalah hari keberangkatan Anton ke kampung, Halim menutup tokonya tepat jam empat sore. Untuk mengantar kepergian Anton.
Kedatangan Halim di rumah di sambut bingung oleh Anton yang sedang mengatur barang-barang di ruang tamu.
"Halim? Tempo sekali kamu tutup toko mu? Bukankah sudah ku bilang, fokuslah pada pekerjaan mu?" Anton sedikit kesal karena Halim tidak mendengarkan ucapannya.
"Hum, jangan menatapku dengan bingung! Dan jangan marah padaku! Aku hanya ingin mengantarmu sampai naik ke atas kapal." sahut Halim menjelaskan.
"Tapi, kamu terlalu tempo tutup, Halim!?" nada suara Anton mulai kesal. "Aku berangkatnya malam, dan ini baru jam empat lewat dua puluh lima menit!" sanggah Anton sambil melirik jam tangannya.
"Aku tidak rugi jika tutup tempo hari ini, apalagi untuk mengantar mu. Besok sampai seterusnya aku masih bisa kembali berjualan. Sekalian aku ingin mengisolasi barang titipan ku, karena semalam aku belum melakban nya." sahut Halim lagi menjelaskan dengan nada rendah.
"Oh, iya. Ini barang-barang mu banyak sekali? Seperti mau pindahan saja." Halim mengubah topik pembicaraan, ia melirik barang-barang yang didepan, kiri, dan kanan Anton.
"Ini semua barang titipan dari orang. Aku merapikan nya dalam satu karton biar gak ribet." sahut Anton menjelaskan. Nada suaranya berubah menjadi rendah. "Beginilah nasib, jika kita pulang kampung di ketahui orang, selalu saja ada titipan." lanjutnya berkata pasrah.
"Kalau begitu jangan di lakban dulu, masukkan dengan barang titipan ku, baru lakban satu kali dalam karton itu. Tunggu sebentar! Aku akan mengambilnya di kamar." ucap Halim sambil berjalan ke kamarnya.
"Tunggu!" Anton mencegahnya.
Halim berhenti tepat di depan pintu kamarnya. "Ada apa?"
"Barang mu tidak akan ku satukan dengan ini. Jadi kamu lakban aja baru ikat supaya gampang aku megangnya." jawab Anton menjelaskan.
"Oh," singkat Halim menyahuti Anton. Ia masuk ke kamarnya dan mengambil barang yang sudah ia rapikan ke dalam karton, lalu ia keluar dari kamar menghampiri Anton.
Sebelum Halim melakban karton nya, ia ulang mengecek semua barangnya. "Semuanya pas!" ucapnya sambil mengambil lakban dan gunting juga tali yabg ada di dekat Anton.
Setelah selesai, ia membantu Anton merapikan barang-barang titipannya orang. Hingga akhirnya mereka selesai juga mengerjakannya.
"Terima kasih sudah membantu, ini ambil spidol tuliskan namamu di situ dan nama kota tujuan. Biar gak ketukar dengan barangnya orang, dan mudah di cari nanti kalau hilang." ucap Anton berterima kasih, sekaligus melempar spidol ke arah Halim.
Dengan sigap Halim menangkap spidolnya dan mulai menulis namanya di karton itu juga menuliskan kota tujuan. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul lima lewat tiga puluh menit.
"Sebentar lagi kapal akan datang, sebaiknya kita kepelabuhan sekarang!" usul Halim sambil melirik jam dinding yang tergantung di dinding ruang tamu.
"Jangan terburu-buru! Kapal juga sandar nya lama di pelabuhan. Biarkan para penumpang kapal turun dulu yang bertujuan disini. Dan para penumpang yang berangkat lainnya naik duluan, aku tidak ingin berdesakan di tangga kapal." sahut Anton menjelaskan dengan santai.
__ADS_1
"Tapi, kamu gak dapat tempat tidur, bagaimana nanti?" tanya Halim khawatir.
"Aku tidak khawatir kan itu, aku memiliki kamar sendiri kok, di sediakan sama ABK kapal. Kebetulan salah satu ABK kapal ada temanku. Jadi sebelumnya aku sudah menghubungi dia. Jadi santai saja." jawab Anton menjelaskan.
"Oh iya, kapan kamu akan menjemput anak dan istrimu kesini?" kini Anton yang bertanya.
"Aku? Insya Allah tiga bulan ke depannya baru aku jemput mereka." jawab Halim.
"Sebelum kamu menjemput mereka, kamu harus sediakan rumah untuk anak istrimu. Tidak mungkin kan kamu akan tetap tinggal di sini? Bukannya aku melarang mu tinggal disini. Tapi kamu tahu sendiri posisi dalam rumah ini." ucapnya serius memandang Halim.
Halim terdiam sejenak.
Iya benar! Aku belum terfikir sebelumnya. Jika aku membawa istriku saja yang naik, tidak jadi masalah. Tapi anak-anak ku di mana mereka akan tidur nanti? Sedangkan kamar semua sudah terisi. Dalam setiap ruangan juga terisi dengan sebagian barang jualan Anton. Hufft.
batin Halim.
Anton yang melihat Halim terdiam, ia memberikan usulannya, "Aku memberikan kamu dua pilihan, kamu mau dengar?"
"Boleh, apa itu?" sahut Halim dengan bertanya.
"Di sekitar sini ada jasa menyewakan rumah kost, bayarnya perbulan dan harganya juga lumayan. Kamu bisa untuk ngekost, itu pilihan pertama. Pilihan kedua, kamu bisa membangun rumah papan seadanya di atas bangunan toko mu itu. Aku sebelumnya berencana membangunnya, tapi tidak jadi. Kalau kamu mau, kamu lanjutkan saja membangun rumah di situ." usul Anton.
Anton terkekeh pelan, "Jangan sungkan! Ini tidak seberapa dengan hal yang sudah kamu lakukan dulu untuk anak dan istriku di saat aku berada disini. Kamu bukan hanya menyelamatkan nyawa is_" ucapannya terpotong oleh Halim.
"Kamu jangan ungkit itu terus, bisa-bisa aku mengembalikan semua apa yang sudah kamu berikan padaku. Karena aku berfikir kamu memberikannya tidak ikhlas." ucap Halim kesal.
"Baiklah, aku tidak akan mengungkit itu lagi. Maaf, jangan kamu tersinggung. Niat ku tulus untuk mu. Jadi jika kamu menyetujui salah satu usulanku itu. Tak perlu izinku lagi. Lakukan saja yang terbaik untuk mu dan keluarga mu." ucap Anton menasihati.
"Hum," sahut Halim singkat. Di sela percakapan mereka yang lumayan lama, mereka mendengar suara kapal yang strong dua kali.
Halim dan Anton saling pandang dengan tatapan bingung. Anton melirik jam tangannya.
"Astaghfirullah, kita asyik berbicara hingga tidak melihat waktu. Dan kita melewatkan shalat Maghrib." ucap sesal Anton.
"Tidak papa, nanti bisa di jamak shalatnya. Tapi sekarang kita harus berangkat ke pelabuhan." sahut Halim sambil mengangkat beberapa barang di tangan kanan dan kirinya.
"Aku juga baru sadar, kenapa Denis dan yang lainnya belum pulang kerumah sejak tadi?" ucap Halim lagi tersadar di rumah hanya ada mereka berdua.
"Oh, mereka setelah selesai membawa barang di gudang nanti baru pulang kerumah. Dalam sebulan barang ku datang dua kali dari kota S. Jadi dalam dua Minggu kapal yang masuk, barang ku juga datang. Dan mereka mengawasi barang dari di turunkan dari kapal sampai ke gudang dan mengecek kembali barang yang datang sesuai tidak dengan banyaknya yang tertera di kertas ekspedisi." ucap Anton menjelaskan.
__ADS_1
"Oh, ternyata begitu! Aku baru tahu." sahut Halim
Anton bingung, "Baru tahu? Bukankah kamu sudah tiga bulan berada disini? Masa ia baru tahu sekarang?" tanya Anton tidak percaya.
Halim tertawa kecil, "Hehehe iya baru tahu, sungguh! Selama ini aku kurang perhatikan dengan sekelilingku." ucapnya dengan kikuk.
"Sudah, sudah! Mending kita kepelabuhan sekarang! Kalau kapal strong lagi, berarti sudah siap untuk berangkat." Anton menjelaskan.
"Hum," sahut Halim singkat.
Anton menyandang tas ranselnya, dan kedua tangannya menenteng barang-barangnya. Sedangkan untuk barang-barang titipan di pegang oleh Halim.
Mereka ke pelabuhan cukup dengan berjalan kaki saja, karena tempat tinggal mereka memang dekat dengan pelabuhan.
Sesampainya di sana, Halim di cegah masuk oleh petugas karena ia hanya lah pengantar. Akhirnya ia membiarkan Anton pergi sendirian naik ke atas kapal dengan barangnya yang di bantu oleh buru kapal.
Sampai jumpa lagi Anton, semoga perjalanan mu selamat sampai di tempat tujuan. Aamiin.
batin Halim sambil terus memandangi punggung Anton yang tengah menaiki anak tangga kapal hingga ia menghilang di bibir pintu masuk dan keluar kapal.
Setelahnya, ia langsung pulang kerumah dan membersihkan diri. Karena badannya sudah terlalu lengket. Setelah selesai mandi ia segera melaksanakan shalat jamaknya di rumah.
Seusai shalat, ia pergi ke dapur untuk memasak makanan yang bisa ia makan untuk mengisi perutnya yang sudah lapar.
Usai makan ia pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Dengan menyilang kedua lengan tangan nya kebelakang kepalanya, Halim memandang langit-langit kamarnya.
Ia sedang memikirkan kembali usulan yang di berikan oleh Anton.
"Dari pada ngekost mending bangun rumah. Akan tetapi kondisi uang ku..."
"Biarlah ngekost dulu. Nanti perlahan baru bangun rumah."
"Sekarang yang terpenting adalah meningkatkan usaha dulu dalam kurun tiga bulan ini, aku harus bisa mencapai targetku."
"Hum, besok Anton sudah sampai di kampung. Seandainya aku yang pulang sendiri dan memberikan langsung oleh-oleh ku untuk mereka. Tidak terbayang betapa bahagianya ku rasakan di saat melihat mereka bahagia."
"Aku merindukan hal-hal kecil yang selalu membuat anak dan istriku bahagia."
__ADS_1
"Hoam," ia menguap. "Aku ngantuk sekali! Sebaiknya aku tidur" Ia mengakhiri gumam gumamnya. Lalu ia benar-benar tertidur.