
Di dalam ruang kemoterapi.
Air keringat terus menerus mengalir membasahi seluruh permukaan tubuh Geo, bahkan bajunya ikut basah.
Ia berlatih dan terus berlatih tanpa henti dan lelah. Rivaldi sangat kagum melihat kegigihan Geo. Melihat semangat yang mengalir di diri Geo, ia pun bersemangat melatih dan terus melatih Geo. Hingga keringat juga ikut membasahi tubuhnya.
Dengan tekad dan kegigihannya, dan berlatih terus menerus tanpa henti, tanpa merasa lelah, setelah beberapa jam ia berlatih, kini Geo berhasil berdiri dan melangkah.
Bahkan langkahnya sudah seperti biasa, ia mencoba menggerakkan kakinya, menendang sana dan sini. Ia tersenyum bahagia.
Rivaldi juga ikut tersenyum bahagia melihat Geo yang tampak tulus tersenyum bahagia itu. ”Istirahatlah dulu!” ucapnya. Ia menyeka keringatnya yang memenuhi jidatnya. Ia duduk di lantai dengan menjulurkan kakinya.
”Ok,” sahut Geo. Ia duduk di atas ranjang pasien yang ada di ruang itu. Kedua telapak tangannya bertumpu di atas ranjang, menyangga tubuhnya yang seakan bersandar. Nafasnya ngos-ngosan.
Akhirnya, aku sembuh...tidak menyangka obat herbal yang di olesi di kaki dan pinggang ku, juga obat herbal yang ku minum, sangat mujarab. Bahkan aku merasa seluruh tulang ku sangat kuat sekarang. Tenagaku juga meningkat. Aku tidak tahu bagaimana dengan alergi ku pada hawa kulit yang lain, apakah sudah bisa atau belum untuk bersentuhan, atau satu ruangan dengan hawa kulit yang berbeda? Tapi, aku tidak meragukan obat herbal yang di miliki Rivaldi. Hal bahagia ini, tentu saja aku akan tutupi dari semua orang, terutama Syakila. benaknya.
Di luar pagar rumah Rivaldi.
”Tuan, dugaan Anda benar! Anak buah Geo telah pergi dari kediaman Rivaldi. Sekarang waktunya kita untuk menyerang!” ucap anak buah Vian.
”Bagus! Ayo serang sekarang! Jangan lewatkan kesempatan ini! Jika ada yang berhasil membunuh Geo, maka akan mendapatkan bonus lebih!” sahut Vian, memerintah.
Semua anak buah Vian tersenyum puas, pandangan mereka menangkap wajah Geo. Pikiran mereka membayangkan telah berhasil membunuh Geo dan mendapatkan hadiah dari sang bos. Mereka tampak bersemangat untuk mengerjakan misi.
”Baik, Tuan!” seru mereka semua.
Tanpa di sadari Ijan dan Gun, Vian dan anak buahnya menjalankan rencananya. Ijan dan Gun mengira Vian menarik kembali anak buahnya dan pergi dari kediaman Rivaldi. Namun, itu semua hanyalah siasat Vian saja, ia dan beberapa anak buahnya yang lain bersembunyi di semak-semak yang ada di depan jalan, sedangkan yang lain bersama Seva, masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil pergi dari kediaman Rivaldi.
Vian dan anak buahnya masuk satu persatu ke dalam rumah Rivaldi. Anak buah Rivaldi yang sedang tertidur di ruang klinik terbangun saat samar-samar telinganya menangkap sebuah suara langkah kaki yang berjumlah banyak sedang berjalan mengarah ke klinik.
Ia bangun, tanpa membuat suara ia berjalan ke belakang pintu.
Ceklek! Pintu terbuka, dua orang melangkah masuk.
Dhuak! Bugh! Anak buah Rivaldi menendang dan meninju mereka berdua. Hingga mereka terlempar keluar dari dalam klinik bersamaan dengan daur pintu, hingga daur pintu tersebut jatuh menimpa badan dua pria itu.
”Siapa kalian! Apa mau kalian ke sini?!” tanya Saldi, anak buah Rivaldi pada mereka. Ia berdiri dengan gagah berani di depan klinik.
”Anak muda! Kamu jangan menghalangi kami, jika kamu masih ingin hidup!” sahut anak buah Vian.
”Apa kalian mengira aku takut melawan kalian semua? Meskipun kalian berjumlah banyak, aku tidak akan takut! Ku sarankan lebih baik kalian jangan ganggu kediaman ini!!” ucap Saldi lagi, dengan tegas.
”Ah, banyak omong! Habisi dia!!” teriak anak buah Vian sambil menghajar anak buah Rivaldi.
Saldi menghindar dan menghajar balik mereka. Perkelahian pun tidak bisa terelakkan lagi. Suara hantaman dan tendangan, barang pecah terdengar di seluruh kediaman Rivaldi.
Rivaldi dan Geo yang sama-sama sedang beristirahat terkejut mendengar suara ribut tersebut. Mereka saling pandang.
Apakah musuh sudah berhasil masuk dan sudah menyerang ke dalam kediaman? benak mereka berdua.
”Sial!!” ucap mereka bersamaan.
Mereka berdua berlari ke klinik. Mereka terkejut melihat separuh anak buah Vian tergeletak tak berdaya di atas tanah.
Dan Saldi sedang di keroyok. Rivaldi masuk ke dalam lingkaran, ia membantu anak buahnya menghajar para lawan yang tidak di undang itu.
Geo melihat sekitar, ia mencari di mana keberadaan bos mereka. Ia tidak menemukan bos mereka di antara anak buah yang kini berkelahi dengan Rivaldi dan anak buah Rivaldi.
Ia juga tidak melihat Ijan dan Gun beserta anak buahnya yang lain.
Mereka adalah anak buah Vian. Di mana Vian? Apakah dia sedang mencari Syakila? Atau mencari diriku? Kemana Ijan dan Gun? Kemana perginya para anak buah ku yang lainnya? benaknya.
Ia mendengar suara orang berkelahi, dari tangkapan pendengarannya, suara itu berasal dari tempat kemoterapi.
Ia berlari kembali ke ruang kemoterapi, ia terkejut melihat Ijan sedang di keroyok oleh Vian dan beberapa anak buah Vian yang lain.
__ADS_1
Dhuak! Ia menendang Vian dari arah belakang. Vian jatuh tersungkur di atas tanah. Ia menjadi marah, ia menolehkan kepalanya, melihat siapa yang sudah berani menendangnya? Dan tenaganya juga begitu kuat! Ia terkejut melihat Geo yang berdiri tegak dengan kakinya.
”Hanya seekor tikus kecil, berani datang mencari ku!!” ucap Geo, tatapannya tajam melihat Vian.
”Bukan kah kamu duduk di kursi roda?” tanya Vian penasaran.
Geo menyeringai, ”Lantas, dengan kelemahan ku, kamu ingin cepat-cepat memusnahkan ku dari dunia ini?! Teruslah bermimpi!!” jawabnya.
Vian berdiri sambil tertawa kecil, yang terdengar mengerikan. Pandangannya terlihat tajam, aura balas dendam sudah memupuk di dalam matanya.
”Apa dengan kekuatan kalian berempat bisa mengalahkan kami, Geo? Berkacalah, sebelum kamu berbicara angkuh! Malam ini juga aku akan menghabisi mu, Geo!” sahutnya.
”Tidak usah banyak omong!!” seru Geo, ia kembali menyerang Vian, namun, Vian menghindar dengan cepat.
”Malam ini juga, semua dendam ku pada kalian akan ku balaskan!!” seru Vian. Ia menyerang Geo, menendang wajahnya.
Geo menghindar dengan cepat dan menangkap kaki kanan Vian, memegang bahu kirinya, memutar badan Vian dan membantingnya di tanah.
Vian tidak terima, ia berdiri dengan cepat dan kembali menyerang Geo. Mereka berdua terlibat perkelahian yang sengit. Ijan juga sedang bertarung dengan beberapa anak buah Vian.
Di depan klinik, Rivaldi dan anak buahnya masih bertarung melawan beberapa anak buah Vian yang lain.
Suara perkelahian mereka selalu terdengar di seluruh kediaman Rivaldi.
Perlahan-lahan, Syakila membuka matanya, yang samar-samar mendengar suara ribut di luar. Ia semakin mempertajam pendengarannya, matanya menyipit, keningnya mengerut.
Benar ini suara orang sedang berkelahi! benaknya.
”Geo!” gumamnya sambil turun dari ranjang. Ia mengikat asal rambutnya dan keluar dari kamar.
Ia bertemu dengan dua anak buah Vian di anak tangga.
”Siapa kamu?” tanyanya, tanpa menunggu jawaban dari kedua pria itu, Syakila menghajar mereka di anak tangga tersebut.
Dengan ilmu bela diri yang di miliki Syakila, dua pria tersebut kalah dengan terjatuh dari sisi tangga akibat serangan dari Syakila.
Ia mendekat, membantu sang guru menghajar para tamu yang tidak di undang itu. Dengan bantuan dari Syakila, mereka bertiga berhasil melumpuhkan anak buah Vian.
”Al, Geo mana?” tanya Syakila.
Rivaldi melihat sekeliling, batang hidung Geo tidak terlihat, padahal ia dan Geo sama-sama datang ke sini. ”Ah, dia ada di ruangan kemoterapi!” sahutnya, ia pura-pura terkejut.
Syakila berlari ke ruang kemoterapi gurunya itu. Rivaldi dan anak buahnya berlari cepat menyusul Syakila.
Sial!! Apakah Geo akan ketahuan oleh Syakila jika Geo sudah pulih seperti semula?! Jika begitu, apakah menjadi pemilik sebuah rumah sakit akan batal? benak Rivaldi.
”Geo!!” teriak Syakila, sambil berlari menuju ruang kemoterapi.
Vian dan Geo sama-sama terkejut mendengar suara teriakan Syakila. Namun, perkelahian mereka tetap berlanjut. Geo memukul Vian. Vian yang sigap, ia menghindar dan balik menyerang Geo.
Kali ini Geo tidak melawan ataupun menghindar pukulan Vian, ia sengaja menerima dan menerima pukulan Vian, hingga ia terjatuh di atas tanah.
”Tuan!” teriak Ijan, khawatir. Di saat ia khawatir, kesempatan anak buah Vian menghajarnya.
Geo mengangkat tangannya ke atas. Ijan mengangguk mengerti. Ia tidak memperdulikan Geo, ia lanjut berkelahi, membalas pukulan yang ia terima tadi.
Vian tidak ingin kehilangan kesempatan, ia kembali menyerang Geo yang masih terbaring di tanah tersebut, ia mengangkat sikunya dan dengan kekuatan seluruh badannya, ia menyikut dada Geo. Namun, sebelum siku vian mengenai dada Geo, Syakila yang dahulu menendang Vian dengan kuat, hingga Vian terguling dan terjatuh beberapa centi dari tempat Geo terbaring.
”Geo, kamu tidak apa-apa?” tanya Syakila, khawatir. Ia sedih melihat keadaan Geo sekarang, ada sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya, juga terdapat luka memar di keningnya.
”Aku tidak apa-apa!” sahut Geo, ia sengaja meringis sambil memegang perutnya.
”Apa kamu benar baik-baik saja, Geo?” Syakila kembali bertanya, sambil memegang tangan Geo, yang memegang perutnya itu.
”Iya, jangan khawatir, aku baik-baik saja!” jawab Geo.
__ADS_1
Rivaldi berhenti di beberapa centi dari posisi mereka. Ia bernafas lega.
Syukurlah, rupanya Geo tidak begitu bodoh. Ia sangat tahu mengambil kesempatan untuk mengelabui penglihatan Syakila. benaknya.
”Sya..Syakila!” ucap Vian, suaranya kecil, namun, masih dapat di dengar oleh Syakila dan Geo.
Geo dan Syakila sama-sama menoleh, melihat Vian. Pria itu lebih berantakan kondisinya di banding Geo. Pandangan matanya mulai buram, perlahan, ia memejamkan mata, dan ia tidak sadarkan dirinya lagi.
”Kamu mengenalnya, Asya?” tanya Geo.
Syakila beralih melihat Geo, ”Aku tidak kenal dia, aku tidak tahu darimana dia tahu namaku.” jawabnya.
Ijan berlari menghampiri Geo setelah ia melumpuhkan anak buah Vian. ”Tuan, maaf, saya tidak melindungi Tuan dengan baik, hingga Tuan seperti ini!” ucapnya, khawatir.
”Ah, iya, aku juga minta maaf, Geo. Aku datang terlambat menolongmu. Aku tertidur dan terbangun saat mendengar suara keributan.” sambung Syakila.
”Tidak apa-apa! Kalian berdua sudah menolong dan melindungi ku dengan baik. Salahkan aku yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu kalian. Aku tidak berguna, kalian jangan menyalahkan diri sendiri.” sahut Geo, merendahkan diri.
”Tuan...” ucapan Ijan terpotong saat Geo mengangkat tangannya. Ijan mengerti, ”Terima kasih, Tuan! Biar saya membantu Tuan berdiri.” lanjutnya berucap. Ia merangkul pundak Geo.
”Em...tidak perlu Ijan,” cegah Syakila, ”Biar aku saja yang membantu Geo.” sambungnya berucap.
”Ijan, kamu ambilkan kursi roda ku saja! Biar Syakila yang membantuku berdiri.” ucap Geo, memerintah Ijan.
”Baiklah, Tuan.” sahut Ijan, menurut. Ia melepaskan tangannya dari punggung Geo. Ia berdiri dan melangkah masuk ke dalam ruangan kemoterapi. Tidak berapa lama, ia kembali dengan membawa kursi roda Geo, dan menaruhnya di samping Syakila.
Rivaldi dan anak buahnya masih berdiri di tempatnya melihat dan mendengar pembicaraan mereka.
Rivaldi melihat sekeliling taman bunga dan tanaman obat-obatnya sambil geleng-geleng kepala, ia juga melihat pintu dan kaca ruang kemoterapi nya pun rusak.
Tanaman obat ku hancur sebagian, harus ulang menanam lagi! Belum lagi pintu ruang klinik ku yang rusak, ini pintu dan kaca ruang kemoterapi ku yang rusak. Belum tahu lagi bagaimana dengan rumah ku? Dan bagaimana dengan di dalam ruang klinik ku, apakah hancur berantakan? Berapa duit yang harus aku keluarkan untuk memperbaiki ini? benaknya.
Syakila membantu Geo berdiri dan mendudukkan Geo dengan pelan-pelan di kursi roda.
”Ehm, em...untuk kerusakan di rumah mu, di klinik mu dan di ruang kemoterapi mu, biar aku yang tanggung biaya perbaikannya.” ucap Geo.
Di saat ia duduk di kursi roda, ia melihat Rivaldi yang melihat dengan pandangan sedih pada daur pintu dan kaca di ruang kemoterapi nya yang rusak.
Rivaldi melihat Geo, ”Hum, baguslah kalau kamu mengerti akan ini. Aku tidak perlu pusing lagi memikirkan biaya perbaikan.” sahutnya, sambil tersenyum terpaksa. ”Sebaiknya kita ke rumah ku saja untuk istirahat. Untuk ini, siang nanti baru di urus.” lanjutnya berucap.
”Tidak, aku dan Syakila akan pulang ke rumah sekarang. Kami akan berangkat ke kota A jam 5 : 30 nanti.” sahut Geo, ia menolak tawaran Rivaldi.
”Apa? Secepat ini?” tanya Rivaldi, terkejut.
”Iya, jangan risau, biaya perbaikan aku tetap menanggungnya. Ijan dan Gun berada di sini. Mereka akan memperbaiki klinik dan kemoterapi mu. Mereka juga akan membantu mu menata kembali bunga dan tanaman obat-obatan mu. Dan untuk perjanjian kita, Ijan akan segera mempersiapkannya dan akan memberikan dan langsung memperkenalkan mu sebagai pemilik di rumah sakit tersebut pada karyawan di sana.” ucap Geo, menjelaskan.
”Perjanjian? Ada perjanjian apa di antara kalian berdua?” tanya Syakila, penasaran.
”Oh, bukan apa-apa! Ini hanya pembahasan di antara kami para pria.” jawab Geo, berbohong.
”Iya, benar! Kamu tidak perlu penasaran begitu. Ini adalah bisnis kami berdua.” sambung Rivaldi, ia juga berbohong.
”Oh,” singkat Syakila menyahuti.
”Ijan, ambilkan handphone ku. Beritahu Gun segera ke sini!” ucap Geo, memerintah Ijan.
”Baik, Tuan!” jawab Ijan, ia melangkah ke ruang klinik Rivaldi. Ia mengirim pesan kepada Gun sambil berjalan.
Drrrrrt drrrrrt! Suara handphone berbunyi. Syakila, Geo, Rivaldi, dan Saldi melihat ke arah Vian yang tidak sadarkan diri itu. Asal suara handphone yang berbunyi dari dia.
Syakila mendekati Vian, ia memperhatikan baik-baik wajah itu, ia melihat logo di bajunya. Matanya menyipit, mengingat logo baju tersebut pada saat ia di serang beberapa orang di gang kecil sepulang mengajar sewaktu di kota A. Ia juga mengingat logo yang sama yang di pakai para pemimpin preman yang menyerangnya waktu malam ia pulang dari rumah sakit saat menengok Sardin.
Pria ini apakah ada hubungannya dengan mereka yang menyerang ku? Tetapi, apa salahku pada mereka, aku tidak mengenal mereka, juga tidak pernah berbuat masalah dengan mereka. benaknya.
Dering ponsel berhenti. Syakila masih melihat wajah pria yang tidak sadarkan diri itu.
__ADS_1
”Ada apa? Apa kamu benar-benar tidak mengenal dia?” tanya Geo penasaran, ia sedikit cemburu melihat Syakila yang serius memandang wajah Vian.
Syakila menoleh, melihat Geo. Ia menggeleng, ”Aku tidak mengenalnya.” jawabnya, ia kembali melihat wajah Vian.