Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 204


__ADS_3

Di alam bawah sadar Syakila.


”Ini...kenapa semuanya menjadi gelap? Semuanya gelap gulita! Aku tidak bisa melihat! Aku ada di mana?” gumam Syakila.


Ia berputar-putar dalam kegelapan. Ia tidak tahu persis dirinya ada di mana. Dia tidak leluasa melihat di kegelapan itu. Dia mencoba untuk keluar dari gelap itu, tetapi, se berusaha bagaimanapun, ia tidak bisa keluar.


Ia merasa selalu berputar-putar di tempatnya. Sulit untuk dia keluar. Dia tidak tahu persis tempat apa yang memenjarakan dirinya saat ini. Tetapi, dia tidak berada di sebuah hutan. Dia tidak merasakan ada pohon, ada rumput dan pijakannya bukan di atas tanah.


”Apakah ini di hutan? Tapi, satupun aku tidak menemukan sebatang pohon, saat meraba-raba.”


”Ini sangat gelap sekali. Apakah tidak ada orang di sini? Apa hanya aku sendiri?” gumamnya lagi, bertanya pada dirinya sendiri.


Dia terus berjalan di tengah kegelapan itu. Dia sangat takut. Dia tidak tahu arah. Tapi, ia tetap berjalan.


Dia terkejut saat merasakan tangannya di pegang seseorang. Dia menarik tangannya, ”Siapa? Siapa kamu?” tanyanya pada orang itu.


”Sayang! Ini Papa. Papa akan menuntun mu ke jalan yang sedikit terang.” jawab Halim.


”Papa? Benarkah ini Papa?” Syakila tidak percaya.


”Iya, kamu tidak percaya? Asya, sayang.”


”Hah! Papa! Benar, ini Papa! Syakila rindu sama Papa. Papa di mana? Syakila tidak bisa melihat Papa.” tangannya terulur meraba di depannya, di samping kiri dan kanannya, di belakangnya untuk bisa meraih kembali tangan Halim, papanya.


”Papa disini sayang, di hadapan mu. Papa bisa melihat mu dengan jelas.” ia menggapai tangan Syakila, yang mencari posisi dirinya.


Syakila langsung memeluk tubuh sang ayah. ”Papa bisa melihat di kegelapan ini?”


”Iya, sayang! Mari ikut Papa.” ajak Halim. Ia melepaskan pelukan Syakila dan menuntun Syakila jalan untuk keluar dari kegelapan itu.


Mereka berjalan dan terus berjalan. Kaki Syakila sudah mulai pegal. Sedangkan dia tidak tahu di mana ujung jalan yang dia tempuh ini. Sudah sangat jauh dia melangkah dengan papanya.


”Pa, apa masih jauh jalan keluar dari sini?” tanya Syakila.


”Kenapa? Kamu lelah?” Halim bertanya balik. Ia menghentikan langkahnya. Syakila ikut berhenti.


”Iya, Syakila lelah! Syakila ingin istirahat sejenak.” jawab Syakila.


”Baiklah, kita akan istirahat. Tapi, bukan di sini, kita berjalan sedikit lagi, di sana ada sebuah kursi. Kita bisa istirahat sebentar di sana.”


”Ada kursi? Kita ada di mana sebenarnya, Pa?” Syakila penasaran. Ia mengikuti langkah Halim yang menuntunnya kembali berjalan.


”Kita ada di tempat dasar hatimu.”


”Dasar hatiku?” Syakila mengulang ucapan di akhir kalimat papanya. Rasanya dia sangat tidak percaya? Dasar hati? Mana mungkin!


”Hum! Kamu sendiri yang membawa dirimu terperanjat dalam kegelapan hatimu. Ini adalah gambaran hatimu. Mengapa kamu mengirim dirimu sendiri di kegelapan?” tanya Halim.


”Aku...aku tidak tahu, Pa. Kenapa aku tiba-tiba ada di sini. Di saat aku terbangun, aku melihat semuanya sudah gelap. Tidak ada yang terlihat dengan jelas. Berhari-hari aku mencoba keluar dari sini. Tapi, aku merasa hanya berputar-putar saja di sini.” ungkap Syakila.


Halim duduk di kursi. Ia menuntun Syakila untuk duduk. ”Berbaringlah!” titah Halim.


Syakila menaikkan kedua kakinya di atas kursi tersebut. Ia pun berbaring, kepalanya di simpan di paha Halim. Halim mengelus pelan kepala Syakila.


”Sudah lama, Syakila merindukan belaian Papa di kepala Syakila.” ucap Syakila.


Halim tidak menjawab. Ia terus saja membelai kepala Syakila. Syakila berasa terhipnotis dengan belaian lembut papanya.


Selama beberapa hari ini dia tidak bisa tertidur. Merasakan kasih sayang dari orang yang dia rindukan, ia merasa tenang. Tanpa sadar, Syakila tertidur.


Namun, tidurnya sekarang terusik oleh sebuah suara yang dia tidak tahu darimana suara itu datang.


Ia tidak merasakan belaian tangan sang papa di kepalanya. Dia membuka mata dan segera duduk. Kini dia bisa melihat di kegelapan itu.


Sekarang ada cahaya temaram di tengah gelap yang ia rasakan. Dia memang tidak berada di hutan. Tapi dia juga tidak tahu ada di mana dirinya.


”Dasar hati? Apakah benar begitu? Ah, papa ku di mana?”


”Papa!..Pa! Papa di mana?” teriaknya. Namun, tidak ada sahutan dari sang papa. Syakila juga tidak melihat sang papa di sana. ”Apakah papa sudah pergi meninggalkan ku di sini? Papa hanya membawa ku ke sini. Tidak membawaku keluar dari sini.” gumamnya sedih.


”Maaf, sayang! Papa hanya bisa membawamu ke cahaya yang remang-remang ini. Hanya kamu sendiri yang bisa keluar dari dasar hatimu.”


Syakila terkejut mendengar suara papanya yang entah darimana asalnya. Syakila lanjut berjalan sendirian.


”Bagaimana aku bisa ada di sini? Siapa yang menarik diriku kesini?” ia bertanya pada diri sendiri sambil terus berjalan.


”Apa ini? Kenapa hawanya sangat dingin?” ia terus berjalan di hawa yang dingin itu. ”Siapa dia?” ia melihat seseorang berbaring di sana. Dari penglihatannya, yang berbaring itu adalah seorang wanita.


”Syukurlah! Masih ada orang lain di sini selain aku. Jadi, aku tidak berada di dasar hatiku.” gumamnya.


Ia menghampiri wanita itu. Ia terkejut saat menyibakkan rambut panjang wanita tersebut yang menutupi wajahnya. ”Ini..aku...aku sendiri!”


”Hei..! Bangun! Apa kamu mendengar ku? Ayo bangun!” Syakila mencoba membangunkan wanita itu, dengan menepuk pelan pipinya.


Wanita itu membuka matanya.


”Kamu siapa? Kenapa wajahmu mirip sekali dengan ku? Dan mengapa kamu ada di sini?” tanya Syakila.

__ADS_1


”Aku adalah kamu. Kamu yang membawaku kesini. Kamu membekukan aku di sini.” jawab wanita itu.


”Hah! Tidak mungkin! Aku...bagaimana mungkin aku membekukan diriku sendiri?” gumam Syakila.


”Kamu menutup mata dan telinga mu, membekukan hatimu, membuat hatimu menjadi gelap. Apa kamu sudah tidak mau hidup lagi?”


”Aku... tidak! Bukan begitu! Aku...aku...”


”Cairkan hatimu...buka mata hatimu..mengapa kamu terperanjat di sini, di dasar hatimu sendiri? Hum? Kamu tidak ingin kembali ke dunia?” tanya wanita itu, yang tak lain adalah cermin hatinya sendiri.


”Ke dunia? Aku...aku tidak ingin kembali ke sana. Tapi, aku juga tidak mau berada di kegelapan di sini. Aku..aku akan mencari papa ku. Aku ingin tinggal bersama papa.”


”Jika papa mau membawamu bersamanya, papa tidak akan meninggalkan kamu di sini. Papa mau kamu kembali ke dunia. Apa yang membuatmu tidak ingin kembali ke sana? Hum? Aku di sini yang menderita karena kerasnya hatimu. Lihatlah, aku kedinginan, tapi aku tidak bisa mati. Kamu memenjarakan aku di sini.”


Syakila terdiam. Benar! Papa tidak akan meninggalkan aku sendiri di sini, jika papa ingin membawaku bersamanya. benaknya.


”Syakila!”


”Syakila!”


Kembali Syakila mendengar dua suara lelaki yang berbeda memanggilnya. Ia menutup telinganya.


”Tidak! Aku tidak mau kembali. Aku tidak bisa kembali! Aku...hu...hu...hu...” Syakila menangis sedih. ”Aku...aku hanya akan menyakiti mereka berdua.”


”Siapa? Sardin? Geo?” tanya wanita itu.


Syakila mengangguk. ”Aku...aku mencintai mereka berdua...Geo suamiku....Sardin kekasih ku. Aku tidak mau di ceraikan Geo, aku mencintai nya. Aku baru sadari perasaan ku padanya. Aku juga mencintai kekasih ku. Aku berjanji untuk menikah dengannya. Tapi aku gak mau pisah dari Geo.” Syakila masih terisak.


”Lalu, kamu mau tetap dalam kegelapan ini? Terperanjat dalam hawa dingin ini? Kamu harus buat keputusan pada dirimu sendiri. Jangan keras kepala! Keluarkan kita dari tempat ini!” ucap wanita itu.


”Aku...aku tidak bisa mengambil keputusan...hu ..hu...hu...aku tidak bisa....mereka berdua sama berartinya buat ku...lebih baik aku yang pergi, jika aku kembali hanya untuk membuat salah satu di antara mereka terluka.”


”Kamu egois pada dirimu sendiri! Lihatlah, yang menderita adalah kita sendiri!” wanita itu memegang wajah Syakila.


Syakila melihat wanita itu dengan matanya yang berair.


”Buatlah keputusan, keluarkan kita dari sini. Ini adalah takdir mu. Kamu harus kuat melihat yang lain terluka. Pilihan ada di tangan mu sendiri..Geo adalah suami mu...Sardin hanyalah kekasih yang kamu janji nikahi. Di antara keduanya, kamu tahu kan yang utama yang mana?”


Syakila tidak menjawab. Ia melihat serius ke dalam mata wanita itu. Ia melihat dirinya dan Geo di mata kiri wanita itu dan di mata kanan wanita itu dia melihat dirinya dan Sardin.


Syakila menepis kedua tangan wanita itu dari wajahnya. ”Tidak! Aku tidak bisa menyakiti mereka berdua...aku tidak bisa melihat mereka bersedih, kecewa karena ku. Aku tidak bisa....hatiku yang sakit...aku tidak bisa hu...hu ..hu...jangan paksa aku!”


”Kalau begitu biarkan kita mati di kegelapan dan di hawa dingin ini!” ucap wanita itu.


”Tidak! Aku akan pergi dari sini!”


”Aku tidak bisa melihat yang satunya bahagia dengan wanita lain! Aku tidak bisa...aku cemburu...dengan aku pergi, aku tidak bisa melihat mereka berdua di sana.”


”Bukan kah dengan membayangkan mereka bahagia juga bisa membuat mu sakit?” tanya wanita itu.


”Sakit...paling tidak... sakitnya tidak sesakit aku melihat secara langsung kebahagiaan mereka dengan orang lain.” jawab Syakila.


”Terserah padamu! Aku sudah pasrah! Jika kita mati sendirian di sini. Aku nurut saja!” ucap wanita itu.


Syakila terdiam memikirkan kata-kata wanita itu yang tidak lain adalah dirinya sendiri.


.. ..


Di ruang rawat Syakila.


Geo terbangun. Ia melihat Syakila. Wanita itu masih saja sama. Ia bangun dan duduk di sisi ranjangnya sendiri.


Ia melihat Sardin. Pria itu sedang tertidur, menghadap Syakila. Geo melihat jam, pukul 02 : 00, pukul dua pagi.


Ia turun dari ranjangnya dan duduk di sisi ranjang Syakila. Ia menggenggam jemari tangan Syakila.


Syakila, bangunlah! Ku mohon! Sudah lama kamu tertidur. Apa kamu gak merindukan ibumu? Kakak mu? Adikmu di kota S? Apa kamu tahu, kamu sudah punya ponakan yang lucu..yang imut dari kakak mu. Kamu sudah menjadi mama dua. Kamu tidak ingin bangun dan melihat anak kemenakan mu itu? benak Geo.


Ia enggan untuk tidur lagi. Ia terus menggenggam jemari tangan Syakila, selama Sardin masih terlelap tidurnya.


.. ..


Di alam bawah sadar Syakila.


Syakila masih menangis. Memikirkan keputusan apa yang ingin dia ambil. Jujur, mengambil keputusan itu sangat sulit baginya.


Tetapi, ia juga tidak punya pilihan lain. Dia sudah mencoba keluar dari kegelapan dan hawa dingin yang mencekam ini, tapi, dia tetap tidak bisa.


”Baiklah! Aku akan memutuskan untuk kembali ke dunia. Aku..aku akan memilih Geo, dia suamiku..” tegas Syakila.


Syakila melihat ada setitik cahaya yang bersinar. ”Ah...ada cahaya kecil. Dari mana asalnya?”


Ia berdiri dan berjalan mengikuti arah cahaya itu. Namun, sejauh apa dia melangkah, ia merasa, ia tetap saja kembali lagi di tempat semula.


”Syakila!”


Syakila menoleh kebelakang, setitik cahaya tadi sudah menjadi besar dan menghilangkan hawa dingin yang dia rasakan.

__ADS_1


Ia melihat bayangan seorang pria. Namun, ia tidak jelas melihat wajahnya. Pria itu berjalan di terangnya cahaya itu. Syakila berjalan menghampiri pria itu.


Sinar yang di bawa pria itu semakin terang menghilangkan kegelapan yang ada. Syakila sudah jelas melihat siapa pria itu. Ia tersenyum bahagia.


”Syakila! Syukurlah, aku menemukanmu di sini. Ayo kita pulang.” pria itu mengulurkan tangannya ke depan.


Syakila menyambut uluran tangan pria itu dengan masih tersenyum, ”Iya. Aku ikut dengan mu.”


”Apa kamu baik-baik saja?”


”Iya, aku baik-baik saja sekarang. Geo, aku mencintai kamu.” ucap Syakila. Ia membuka tangannya, ingin memeluk Geo.


Geo tersenyum. ”Terima kasih, aku bahagia kamu mencintai ku.” tangannya menghalangi Syakila yang ingin memeluknya.


Syakila menjadi heran. Mengapa Geo menolak pelukannya?


”Syakila!”


Syakila melihat seorang pria datang dari arah belakang Geo. ”Kakak Sardin!”


Geo menoleh, melihat Sardin. Ia memberikan tangan Syakila kepada Sardin. Sardin meraih tangan Syakila dan menggenggamnya.


Syakila semakin heran dengan tingkah Geo.


Bukan kah Geo sangat mencintai ku? Tidak ingin melepaskan aku untuk siapapun, meskipun itu pada Sardin? Tapi, apa ini? Dia memberikan tangan ku pada Sardin, sambil tersenyum. benak Syakila.


”Syakila! Syukurlah kamu baik-baik saja. Sudah saatnya kita pulang.” ucap Sardin.


Syakila tidak menjawab. Ia masih memikirkan perubahan sikap Geo.


”Iya, sekarang kita pulang!” sambung Geo.


Mereka pun pulang. Sardin dan Syakila berada di depan. Dan Geo berjalan di belakang Syakila. Sesekali Syakila menoleh kebelakang, melihat Geo dengan beribu pertanyaan.


.. ..


Di ruangan Syakila.


Geo merasakan jemari tangan Syakila bergerak. Ia sangat senang. ”Sardin, bangunlah!” ia membangunkan Sardin.


Namun, ia tersadar, ia masih menggenggam tangan Syakila. Dia melepaskan tangannya.


Sardin membuka matanya, ”Ada apa?” tanyanya. Ia bangun dan duduk di sisi ranjang, mengucek matanya yang masih mengantuk.


Geo melihat jemari tangan Syakila kembali bergerak. ”Kemari, lihatlah sendiri. Tangan Syakila bergerak.” ucapnya senang.


”Ah, benarkah?” Sardin beranjak dari ranjangnya, ia duduk di sisi ranjang Syakila dan menggenggam jemari tangan Syakila.


Geo cemburu. Namun, ia segera menepisnya.


Sardin merasakan jemari tangan Syakila yang bergerak. ”Iya, kamu benar! Tangan Syakila bergerak. Alhamdulillah!” ucapnya senang.


Refleks Sardin mencium kening Syakila. Geo kembali cemburu.


”Syakila, bukalah matamu.” ucap Sardin.


Perlahan Syakila membuka matanya. Ia melihat Geo. Geo tersenyum bahagia. Dia adalah pria yang pertama di lihat Syakila saat sadar.


Geo mencondongkan badannya ke tubuh Syakila. Tangannya menekan kedua ujung bantal Syakila. Ia hendak memeluk tubuh itu. Namun, ia tersadar sesuatu.


Syakila bukan istriku lagi. Aku sudah tidak berhak memeluknya. benak Geo.


Ia melihat wajah Syakila dari dekat. Seperti nya wanita itu mengharapkan pelukannya. Tetapi itu tidak mungkin. Di tatapnya sebentar wajah dan mata Syakila. Kemudian, dia menarik dirinya. Ia berdiri dengan tegak. ”Sardin. Aku akan panggilkan dokter. Maaf, tadi...”


”Tidak apa-apa! Santai saja..aku dapat memahaminya.” pangkas Sardin.


Geo mengangguk. Ia segera keluar dari ruangan itu tanpa melihat Syakila lagi. Syakila heran dan sedih melihat sikap Geo.


Di luar ruangan.


Geo bersandar di dinding. Matanya terpejam. Ia sangat ingin memeluk tubuh Syakila. Tapi, statusnya kini berbeda.


Tangannya terkepal kuat. Ia meninju dinding dengan seluruh tenaganya. Hingga punggung jari tangannya luka-luka.


Setelah merasakan perih di punggung jari tangannya. Ia pergi dari sana. Ia pergi ke ruangan dokter, menemui dokter.


Di dalam ruangan rawat Syakila.


”Syakila...kakak senang sekali. Akhirnya kamu sadar kembali. Kamu tahu, kami semua sangat khawatir padamu.” ucap Sardin.


”Sudah berapa lama aku tertidur?” tanya Syakila.


”Dua belas hari, dua belas malam. Sangat lama kan? Paman mu, bibi mu, tante Rosalina, Geo, dan aku sangat khawatir sekali. Kami takut, takut kamu tidak akan sadar.” ungkap Sardin.


”Selama itu kalian merawat ku?”


”Iya. Em...aku baru datang juga sebenarnya hari ini. Yang menjaga mu selama ini adalah Geo. Di saat kamu tidak sadarkan diri, aku juga ikut pingsan. Kita sama-sama di rawat di ruangan ini. Dua hari setelah di rawat, baru aku siuman. Namun, paman ku membawa ku pulang ke rumah. Aku di rawat sama bibi di rumah, sampai obat ku habis baru aku di perbolehkan menjenguk kamu.” ungkap Sardin.

__ADS_1


Jadi, selama dua belas hari Geo yang menemani ku di sini dan merawat ku. benak Syakila.


__ADS_2