Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 131


__ADS_3

Di kediaman Sarmi.


Sarmi masuk ke kamar Syakila dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman untuk Syakila. Ia melihat Geo yang duduk menghadap jendela, menoleh melihatnya.


”Geo, Mama membawakan makanan untuk Syakila. Kamu ikutlah dengan Mama ke dapur dan makan bersama yang lain.”


Sarmi menyimpan nampan itu di atas meja. Ia berjalan mendekati Syakila.


”Tidak Mah, Mama bawakan saja makanan ku disini. Aku ingin makan bersama Syakila.”


Sarmi menarik lagi tangannya yang ingin membangunkan Syakila. Ia menegakkan badannya melihat Geo.


”Baiklah, bangunkanlah Syakila. Mama akan membawakan makanan untuk mu.” sahut Sarmi sambil tersenyum. Ia tidak ingin membantah ucapan anak mantunya itu.


Geo mengangguk, Sarmi keluar dari kamar. Geo mendorong kursi rodanya mendekati nakas dan meraih nampan makanan Syakila, lalu ia mendorong kursi rodanya lagi mendekati ranjang Syakila, di dekat Syakila.


”Syakila, bangun!”


Ia membangunkan Syakila dengan menyentuh lembut pipi Syakila. Perlahan mata Syakila terbuka. Ia melihat Geo tersenyum padanya dan ia juga melihat makanan di pangkuan Geo.


”Geo!” ucapnya.


”Sudah bangun? Makanlah, aku akan menyuapi mu.”


”Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Syakila membangunkan badannya, ”Argh!” pekiknya kesakitan sambil memegang perutnya.


”Sudah, kamu baring aja! Jangan terlalu banyak bergerak, nanti luka di perutmu kembali berdarah. Aku akan menyuapi mu makan.”


Sarmi yang sudah kembali ke kamar Syakila dari dapur sambil membawa makanan Geo, ia tersenyum melihat perhatian anak mantunya itu terhadap putrinya. Namun, seketika itu pula raut wajahnya berubah tatkala ia teringat wajah kejam dan amarah Geo. Ia juga mengingat perkataan Rivaldi.


Perhatian Geo terhadap putriku, membuatku terharu. Tapi, sifat egois dan mudah marahnya sangat berakibat buruk buat anakku. Seandainya Geo bisa lembut terus terhadap Syakila, aku akan tenang Syakila berada di sisi Geo dan tidak ragu pada kebahagiaan Syakila. Tapi sayang, sifat Geo dan amarahnya tidak bisa di tebak. Rivaldi, Sardin, mereka berdua pasti bisa membahagiakan Syakila.


Halim, aku tahu, kamu tidak menginginkan perceraian terjadi pada kehidupan pernikahan anakmu. Aku juga sama, tetapi, aku tidak ingin melihat anakku tersiksa dan tidak bahagia.


Jika Syakila ingin mengakhiri pernikahannya dengan Geo, seperti yang di katakan oleh Rivaldi...aku...aku akan mendukung dan menyetujuinya. Dan membiarkan Syakila memilih sendiri pendamping hidupnya yang ia bisa bahagia dengannya, entah itu Rivaldi ataupun Sardin, aku akan merestuinya.


”Geo, ini makanan mu. Kamu makanlah makanan mu. Syakila, biar saya yang menyuapinya.” ucap Sarmi sambil melangkah masuk ke dalam kamar.


”Tidak Mah, biar aku yang menyuapi Syakila. Simpan saja makanan ku di atas nakas. Mama kembalilah ke dapur makan bersama yang lain.” sahut Geo datar.


”Tapi...”


”Setelah Syakila menghabiskan makanannya, baru aku akan makan.” sanggah Geo. Ia melihat Sarmi yang masih berdiri di sisi ranjang sebelah.


Sarmi melirik Syakila sebentar, anaknya itu mengangguk. Ia kembali melihat Geo, ”Baiklah, saya simpan makanan mu di atas meja. Makanlah setelah selesai menyuapi Syakila. Saya keluar dulu.”


”Hum,” singkat Geo menyahuti Sarmi.


Sarmi keluar dari kamar dan menutup pintu. Syakila menggerakkan tubuhnya pelan, bangun dari baringnya.


”Hati-hati,” tegur Geo khawatir. Ia menyendok makanan dan mengarahkan sendok itu ke mulut Syakila setelah Syakila duduk bersandar dengan baik.


”Buka mulut mu, makanlah.” ucapnya pelan.


”Berikan padaku, aku masih bisa makan sendiri.”


”Jangan mendebat ku lagi, Syakila. Makanlah!”


Syakila menurut, ia membuka mulutnya dan menerima suapan Geo. Geo tersenyum senang dalam hatinya, Syakila tidak menolak suapan darinya.


”Apa kamu masih marah padaku?” tanya Geo pelan.


”Aku tidak ingin membahas apapun, biarkan aku makan dengan tenang.” sahut Syakila.


”Baiklah, makanlah dulu.”

__ADS_1


Geo menyuapi Syakila lagi tanpa berkata apapun. Syakila menaikan sebelah alisnya dan bergumam di dalam hatinya sambil menerima suapan demi suapan dari Geo. Tanpa ia sadari, ia memandang wajah pria yang berstatus suaminya itu.


Benarkah ini Geovani Albert yang angkuh itu? Dia mengalah untukku, tidak ingin berdebat dengan ku. Biasanya, di saat dia sedang berbicara jika aku menyanggah ataupun melawan ucapannya dia akan marah dan.... Tapi ini, dia...oh, mungkin dia juga ingin kami berpisah dengan baik-baik, tanpa ada kesalahpahaman nanti.


Geo, jika kamu seperti ini...kamu manis sekali. Tapi, saat amarah menguasai mu...kamu terlihat seperti iblis yang siap menerkam mangsanya. Kamu begitu kejam. Meskipun kamu duduk di kursi roda, tapi aura mu, kharisma mu, tidak terlepas. Orang-orang akan tetap segan bila melihat mu, tapi, kenapa lelaki seperti mu bisa trauma dengan wanita? Hanya wanita-wanita tertentu saja yang bisa bersentuhan dengan mu? Bahkan aku juga, aku bisa bersentuhan dengan mu, padahal aku dan kamu tidak saling mengenal satu sama lain. Ah, kenapa aku kepikiran ini, sekarang? Apa itu penting? Ku pikir lagi, itu tidak penting sekarang.


”Mengapa kamu terus menatap ku dan raut wajah mu berubah-ubah melihat ku? Apa yang kamu pikirkan tentang ku? Hum? Apa kamu baru sadar jika suami mu ini sangat tampan?” ucap Geo bertanya, menggoda Syakila.


Syakila tersadar dari pikirannya, ”Eh, em, tidak! Aku tidak memikirkan diri mu, apalagi menatap mu.” elak Syakila. Ia memalingkan wajahnya menatap langit-langit kamar.


”Benarkah? Aku sengaja tidak bersuara, membiarkan mu melihat ku begitu. Lihatlah, kamu terus memandangi ku sampai makanan mu tinggal sedikit, tinggal beberapa suap lagi.” sahut Geo sambil tersenyum.


Syakila melihat piring nasi yang ada di tangan kiri Geo, nasi tersebut tinggal tiga suapan lagi akan habis. Ia kembali melihat Geo.


Hah, apakah iya aku melihatnya selama itu? Dia menyadari dan sengaja membiarkan ku menatap wajahnya. Lihat senyumnya, membuatnya semakin tampan. Eh, apa yang aku pikirkan? Dia tampan?


”Kamu melihat ku dengan seksama sekali, masih bilang tidak menatap ku?” ucap Geo lagi menyadarkan pikiran Syakila.


”Hah, iya, aku sedang memikirkan mu, apakah Geo yang di hadapan ku ini benar-benar Geovani Albert yang angkuh, sombong, suka semaunya, yang otoriter dan kejam itu kah? Mengapa sekarang dia mengalah demi ku? Ini bukan dirinya.” ucap Syakila tanpa sadar menyahuti Geo.


Eh, mengapa aku ceritakan isi hati ku padanya? Aduh...apakah dia akan marah padaku? Aku sudah menjelekkan dirinya, di hadapannya sendiri. Mati aku...


Kening Geo mengerut, ” Seperti itu kah aku di mata mu? Apakah aku sejahat itu?”


Syakila terdiam, ia menerima suapan terakhir makanannya itu.


”Maaf kan aku, jika aku sudah kasar pada mu. Kamu sudah tahu aku seperti ini, jadi, janganlah mencari ribut dengan ku, dan turuti ucapan ku. Aku tidak mungkin akan marah padamu.” ucap Geo lagi.


Syakila masih terdiam. Ia bingung untuk berkata apa. Laki-laki di hadapannya itu memang sangat tampan. Idaman setiap wanita, apakah lelaki yang cool seperti dia ini memang tampan? Tampan? Jika marah, terlihat seperti iblis.


Tok tok tok ketukan pintu mengalihkan perhatian Geo dan Syakila. Mereka sama-sama melihat ke arah pintu. Pintu terdorong masuk dari luar, mereka berdua melihat Rivaldi yang melangkah masuk kedalam kamar.


Geo menatap Rivaldi tidak senang. Rivaldi mengacuhkan Geo, ia terus melangkah mendekati Syakila.


”Bagaimana keadaan mu?” tanyanya pada Syakila.


”Tidak bisakah kamu memanggil nama ku saja? Aku merasa ada batasan di antara kita karena panggilan mu itu. Aku tidak ingin ada batasan di antara kita. Ubahlah cara panggil mu terhadapku mulai sekarang.”


Geo tidak senang mendengar ucapan Rivaldi. Rivaldi, dia berani menggoda Syakila di hadapannya. Pria ini sungguh bernyali besar, benak Geo.


”Wajar lah istriku memanggil mu guru! Status mu memang gurunya!” ucap Geo ketus menyahuti Rivaldi.


”Geo, sopan lah pada guru ku.” tegur Syakila. Geo menatap Syakila tajam. Syakila mengacuhkan saja, ia sudah terbiasa akan tatapan tajam Geo padanya.


”Al, terima kasih, kamu telah merawat ku.” ucap Syakila pada Rivaldi.


Geo semakin tidak senang mendengar panggilan Syakila untuk pria yang biasa di panggil guru itu. Al? Mesra sekali Syakila memanggilnya. Pikir Geo dan itu membuatnya cemburu. Apalagi Syakila bercakap-cakap dengan Rivaldi mengacuhkan dirinya, menganggap dirinya tidak terlihat di antara mereka berdua.


Rivaldi tersenyum senang, ”Al? Baiklah, aku suka nama panggilan itu. Hanya kamu saja yang boleh memanggilku Al. Kamu tidak perlu sungkan begitu padaku. Aku pulang dulu, sore sebentar aku akan kembali kesini untuk membuka infus sekaligus membawakan tas dan handphone mu.”


”Ok, Al, sekali lagi, terima kasih. Aku sudah merepotkan mu.”


”Kamu tidak merepotkan ku, sayang. Kalau pun kamu merasa merepotkan aku, aku senang jika kamu yang merepotkan aku.” sahut Rivaldi. Ia membelai rambut Syakila.


”Harap, kamu sadar status mu, Rivaldi! Syakila adalah istri ku. Perhatikan sikap dan cara bicara mu pada istri ku! Jangan seenaknya memanggil istriku dengan sayang, apalagi menyentuhnya sesukamu!!” ucap Geo dengan marah.


Rivaldi tersenyum melihat Geo, ”Dia bukan istri mu yang sesungguhnya, Geo. Hubungan kalian hanyalah di atas kertas saja.”


Geo dan Syakila sama-sama terdiam. Mereka tidak menduga jika Rivaldi tahu akan status pernikahan mereka yang sebenarnya.


Bagaimana Al tahu hubungan kami? Siapa yang memberitahu padanya? Bahkan, keluarga ku tidak ada yang tahu. Tidak, Hardin tahu itu, apakah Hardin yang mengatakan itu pada Rivaldi? benak Syakila.


Apakah Syakila yang menceritakan pernikahan kami pada Rivaldi? Syakila, kamu benar-benar tidak tertarik padaku sedikit pun! Mengapa kamu harus menceritakan hubungan kita pada Rivaldi? Apakah kamu sudah mulai tertarik pada Rivaldi? Tidak, kamu tetap istri ku, Syakila. Aku tidak akan menceraikan kamu! Jangan kamu berharap dan bermimpi pergi dari sisiku, Syakila!! benak Geo.


”Jangan kamu sok tahu hubungan pernikahan kami, Rivaldi. Pernikahan kami baik-baik saja. Jadi, jangan mencoba menggoda istri ku!!” ucap Geo kemudian.

__ADS_1


”Kamu mengancam ku? Syakila terlihat tidak bahagia dengan mu. Aku tahu semua tentang pernikahan kalian berdua.” sahut Rivaldi.


Geo terdiam. Rivaldi melihat Syakila yang terbengong melihatnya, ”Jangan melihat ku seperti itu, cepatlah sembuh, aku pulang dulu. Perhatikan obat mu, minum sesuai ucapan ku.” pamitnya.


Tanpa menunggu sahutan Syakila, ia keluar dari kamar.


”Apa kamu yang menceritakan hubungan kita kepadanya?” tanya Geo dengan marah.


Syakila melihat Geo, pria itu sedang di penuhi amarah.


Dia marah lagi. Apakah dia tidak bisa kalau tidak marah? Mengapa emosinya cepat sekali terpancing?


”Geo, berikan aku air minum. Aku haus!” ucapnya kemudian.


Geo memberikan gelas air minum Syakila, masih dengan wajah marahnya. Syakila mengambil dan meminumnya. Ia mengembalikan gelas kosong pada Geo, Geo mengambilnya dan menaruh di atas nampan yang ada di pangkuannya.


”Jaw__”


”Kamu belum makan, makanlah! Jika lapar, tidak baik untuk mu berbicara. Itu akan membuat mu semakin marah. Jadi, kamu makanlah dulu.” ucap Syakila menyanggah ucapan Geo.


”Syakila, aku sedang marah padamu! Jawab pertanyaan ku! Apa kamu menceritakan hubungan kita padanya? Kamu ingin bercerai dengan ku dan bersama dengannya?!”


Syakila terdiam memandang pria yang masih memasang wajah marah dan menatapnya tajam. Ia menghela nafas.


Pria ini!!


”Aku tidak menceritakan apapun kepada siapapun tentang hubungan kita berdua. Bahkan kepada saudara ku, mama ku sendiri, aku menutupinya dari mereka. Lalu bagaimana bisa aku menceritakan tentang ku kepada Rivaldi? Orang asing dalam hidup ku.”


Ia menjeda ucapannya.


”Untuk bercerai, di antara kita berdua memang harus begitu, terlepas tentang Rivaldi. Kalaupun aku ingin menikah, itu dengan Sardin. Kamu tahu itu.” lanjutnya berucap.


Geo terdiam. Penjelasan Syakila membuatnya sedikit tenang.


Orang lain? Dia menganggap Rivaldi orang lain. Baguslah! Jangan sampai kamu menyimpan perasaan padanya. Bercerai? Jangan harap. Menikah dengan Sardin? Jangan bermimpi untuk itu.


”Dia menyukai mu.” ucapnya.


”Dia menyukai ku, haruskah aku menyukainya? Itu haknya untuk jatuh cinta pada siapapun. Tapi, aku tidak menyukainya lebih dari status guru dan murid. Dia guru ku, aku menghargainya dan menghormatinya. Apakah itu sudah bisa menenangkan pikiran mu?” jelas Syakila.


Geo tersenyum, rupanya Syakila memikirkan perasaannya. Syakila tertunduk melihat Geo yang tersenyum melihatnya.


Ada apa ini? Mengapa aku tanpa sadar menjelaskan ini pada Geo. Aku tidak ingin Geo salah paham padaku. Hah, malah aku bertanya padanya ”Apakah itu sudah bisa menenangkan pikiran mu?” Seolah-olah aku mengkhawatirkan perasaannya.


”Aku lapar, aku akan makan. Maukah kamu menyuapiku?” ucap Geo.


”Apa?”


Geo tersenyum, ”Tidak, kamu istirahatlah. Aku akan makan dulu.”


Geo memutar kursi rodanya menghampiri nakas. Ia menyimpan nampan piring kosong di atas nakas dan mengambil nampan berisi makanannya.


Ia mendorong kursi rodanya menghadap jendela. Kening Syakila mengerut.


Mengapa dia ingin makan sendiri menghadap jendela?


”Geo, kemari lah.” panggilnya.


Geo tersenyum, ia memutar kursi rodanya dan mendorongnya mendekati Syakila.


”Kenapa?” tanyanya, setelah ia sampai di dekat Syakila.


Tanpa berkata Syakila mengambil nampan makanan Geo. Ia menyendok nasi dan mengarahkan sendok ke mulut Geo.


Geo tersenyum senang, ia membuka mulutnya, menerima suapan Syakila.

__ADS_1


”Terima kasih,” ucapnya.


Syakila terdiam, tidak menyahuti ucapan Geo. Ia terus saja menyuapi Geo tanpa memperhatikan pria itu yang sedang melihatnya. Meskipun ia tahu Geo sedang melihatnya. Ia tidak ingin menampakkan dirinya yang gugup di tatap seperti itu oleh pria yang berstatus suaminya itu.


__ADS_2