
Keesokan paginya di apartemen.
”Pagi sayang! Bagaimana tidur mu, apakah nyenyak?” Geo mencium kening Syakila yang baru saja membuka matanya. Syakila mengangguk.
”Kamu sudah tampak segar, kamu bangun lebih awal dariku? Kamu sudah habis mandi?” Syakila bangun dan duduk bersandar di ranjang sambil melihat suaminya.
”Iya, sayang. Kenapa? Mau aku mandi bersama mu?” tatapan mata Geo menggoda Syakila.
Ah! Tatapan mata ini...benak Syakila.
”Ayo, aku rela akan kembali mandi bersama mu,” ucap Geo lagi. Membuat Syakila tersadar.
”Ah! Tidak, tidak! Aku mau mandi sendiri saja.” Syakila segera turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi.
”Hahahaha. Wajahnya itu...begitu imut kalau lagi malu,” gumam Geo dengan pelan.
”Sayang, habis mandi langsung ke dapur ya! Aku tunggu kamu di meja makan,” ucap Geo dari luar pintu kamar mandi.
Ah, mungkin pria itu sudah lapar. Harus bergegas mandi dan masak sarapan. benak Syakila.
”Iya, sayang,” sahut Syakila dari dalam kamar mandi. Geo keluar dari kamar.
Syakila keluar dari kamar mandi. Dia masih menggunakan jubah mandi pergi ke dapur.
Di dapur.
”Sayang, maaf sudah membuat mu men__” ucapannya terhenti saat melihat makanan sudah ada di atas meja makan, ”Apa kamu yang menyiapkan ini semua?” Ia memandang Geo dengan tidak percaya.
”Iya. Kenapa? Tidak percaya padaku? Duduklah sarapan. Setelah itu... kita pergi ke kantor,” ucap Geo.
Syakila tidak lekas duduk. Ia memeluk suaminya tersebut dari belakang. Ia mencium pipi Geo dan berkata, ”Terima kasih sayang. Aku tersanjung di masakan oleh mu.” sekali lagi Syakila mencium pipi Geo. Lalu ia menarik kursi dan duduk.
Benar sekali! Keputusan tinggal di apartemen sangat tepat! Syakila dan aku bisa dengan leluasa menyampaikan perasaan melalui tindakan mau ucapan tanpa sungkan-sungkan. benak Geo.
Geo tersenyum manis melihat istrinya yang menawan. ” Sama-sama sayang. Kamu adalah istriku. Memanjakan mu adalah tugas ku. Aku tidak pernah loh, memasak untuk orang lain seumur hidup ku ini selain masak untuk kamu dan mama,” ungkapnya.
”Oh ya? Rupanya aku dan mama adalah orang yang sangat beruntung bisa mendapat perhatian khusus dari seorang CEO dari perusahaan terbesar di kota A ini. Jika orang luar tahu... mereka akan sangat iri padaku.” Syakila mulai menyantap sarapannya. ”Um... ini enak,” pujinya.
Geo tersenyum. ”Apa sekarang bangga menjadi istriku?” Ia menatap lekat netra Syakila.
”Iya. Bangga. Apa aku boleh pamer kemesraan dengan mu di hadapan orang-orang?” Ia kembali memakan sarapannya.
”Tentu saja! Kamu istri ku, aku suamimu. Hal apa yang tidak bisa kau lakukan padaku? Bukankah aku sudah mengabdikan diriku padamu? Jadi, terserah kamu mau aku bagaimana dan memperlakukan aku seperti apa, aku nurut sama kamu...”
”Apakah kata-kata ini pantas keluar dari mulut seorang CEO yang terhebat?”
”Sangat pantas untuk sang istri tercinta.” Geo mengambil sesendok sarapannya dan menyuapi Syakila. Syakila memakannya. Syakila juga menyuapi Geo sarapan dari piringnya.
”Jangan! Aku tidak suka. Kamu boleh lemah lembut padaku di dalam rumah. Kamu tidak bisa mentolerir perbuatan salah ku jika di luar rumah, termasuk di kantor. Tetap marahi aku, tegur aku jika aku ada salah.”
Mana mungkin aku tega memarahi mu di hadapan pekerja ku! benak Geo.
”Iya. Terserah kamu saja. Lanjutkan makannya.”
”Iya.”
Mereka melanjutkan makannya dengan obrolan sedikit ringan dan canda tawa.
*
*
*
Di perusahaan.
”Selamat pagi Pak Geo.” sapa para karyawan kantor saat melihat Geo berjalan memasuki perusahaan.
”Selamat pagi. Lanjutkan pekerjaan kalian,” sahut Geo sambil tersenyum pada karyawannya.
Karyawan tersebut terkejut. Apakah mereka sedang bermimpi? Benarkah orang yang menggaji mereka selama ini membalas sapaannya? Biasanya hanya anggukkan kepala atau mengangkat tangannya ke atas menanggapi sapaan para karyawan.
Semua mata terus melihat CEO perusahaan tersebut dan wanita di sampingnya. Sapaan terus terdengar hingga mereka memasuki lift khusus CEO.
Syakila tersenyum melihat Geo. Sapaan para karyawan di perusahaannya, telah di jawab oleh Geo dengan menyapa balik mereka dengan ramah. Bukan dengan anggukan kepala lagi.
”Kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Geo pada istrinya.
”Tidak, aku hanya sedang bahagia saja. Memangnya kenapa, tidak boleh aku tersenyum?”
”Boleh sayang. Tapi, simpan senyum lebar mu khusus untukku saja. Senyum tipis mu... baru boleh berikan pada orang.” Geo mencubit hidung mancung istrinya.
”Hah! Yang benar saja! Ini hanya senyuman, senyum itu ibadah. Aku akan tetap seperti biasanya. Jika aku ingin tersenyum lebar... .maka tersenyum lebar,” protes Syakila.
”Iya. Terserah mu saja. Yang penting, pastikan jika tidak ada orang yang tertarik saat melihat senyuman mu. Jika ada yang tertarik... jangan salahkan aku jika aku bertindak kasar pada mereka,” ancam Geo.
”Hum. Jangan berlebihan... Geo!”
__ADS_1
Ting! Lift berhenti di lantai 7. Geo dan Syakila melangkah keluar dari lift.
”Eh, Syakila? Kamu... wow! Gak nyangka ketat sekali suami mu ini. Dan kamu... kamu tidak jadi masalah dengan perubahan mu?” tanya Beni. Ia terkejut dengan penampilan Syakila yang tertutup. Meskipun begitu, kecantikan Syakila tetap terpancar. Justru ia semakin terlihat cantik mengenakan pakaian tertutup. Syakila menggeleng sambil tersenyum.
”Kenapa? Kamu tidak suka dengan perubahan kakak ipar mu?” tanya Geo ketus pada Beni.
”Syakila, apakah Geo yang memaksa kamu menggunakan pakaian seperti ini?” tanya Beni pada Syakila. Ia mengabaikan pertanyaan Geo padanya.
Kedua alis Geo bertemu memandang Beni. Beraninya Beni mengabaikan dirinya? Tetapi, ia juga tidak bisa mengambil tindakan pada adiknya tersebut.
”Tidak. Aku memakainya atas keinginan ku sendiri. Ini juga demi kebaikan ku,” jawab Syakila.
Apakah karena sikap manager itu yang membuat Syakila merubah penampilannya? benak Beni.
”Kalian hanya ingin mengobrol saja di sini? Apa tidak perlu bekerja?” Geo mulai bernada ketus.
”Oh, bagaimana dengan rumah baru mu? Nyaman tidur di sana?” tanya Beni lagi pada Syakila, ia masih sengaja mengabaikan Geo.
”Iya. Sangat nyaman karena ada suami ku di sisi ku,” jawab Syakila lagi sambil tersenyum kecil melihat Geo.
”Heh, aku jadi iri. Ingin juga di bela oleh seseorang,” sahut Beni.
”Oh, kamu iri? Tinggal kamu sebutkan saja nama yang kamu inginkan dari kedua sektretaris mu untuk ku nikahkan padamu. Atau... kamu ingin salah satu dari sekertaris ku?” tawar Geo pada Beni.
”Hah, siapa yang mau dengan wanita-wanita seperti mereka! Aku maunya yang seperti kakak ipar,” ucap Beni.
Geo memegang tangan Syakila dan menariknya mengikuti langkahnya, meninggalkan Beni.
”Hei, aku belum selesai bicara!” teriak Beni.
Geo acuh saja. Ia tetap melangkah pergi ke ruangannya.
”Mencari istri yang seperti Syakila sudah jarang ada. Sekarang mah, kebanyakan ngelihat status dan harta saja,” gumam Beni. Ia sendiri melanjutkan langkahnya masuk ke lift.
Di ruangan Geo.
Hah! Apa tidak salah minum obat kah si Syakila ini? Mengapa hari ini pakaiannya berbeda? Dia ingin mencari muka pada Geo? benak Alifa.
Anak ini kesamben setan islam? Pakaiannya tertutup begitu, apakah ingin menarik perhatian Geo jika dia wanita baik-baik? benak Atika.
”Sayang, perlukah aku buatkan kopi?” tanya Syakila saat melihat Geo sudah menyalakan laptopnya.
”Tidak sayang, masih kenyang dengan sarapan di rumah. Kalau ingin... baru aku minta,” jawab Geo.
”Oh. Kalau begitu, aku ingin pergi ke lantai tiga dulu. Yah?” izin Syakila.
”Iya,” sahut Syakila. Ia melangkah keluar dari ruangan.
Atika meng-kode Alifa agar ia mengikuti Syakila dan dapat memberi pelajaran pada Syakila. Alifa mengangguk. Ia beranjak berdiri dan melangkah keluar dari ruangan.
”Geo.” panggil Atika.
Kening Geo mengerut melihat Atika. ”Ralat panggilan mu. Aku atasan mu. Gak seharusnya kamu memanggil ku dengan nama ku,” protesnya.
”Kenapa aku tidak bisa sementara Syakila malah memanggil mu dengan sayang? Apa bedanya aku, dia, sama Alifa? Kami bertiga sama-sama __”
”Kalian berbeda. Kalian karyawan ku... Syakila adalah istriku,” pangkas Geo.
”Heh, alasan mu terlalu mengada-ada! Jika memang kamu sudah menikah, kami akan mendengar pernikahan mu dan lagi... tidak mungkin mama mu akan mencarikan calon istri untukmu.” Ia beranjak berdiri, melangkah, mendekati meja Geo.
”Apa kamu kira aku percaya dengan kata-kata mu barusan? Geo, kamu harus bersikap adil pada kami__”
”Kembali ke meja kerja mu dan kerjakan pekerjaan mu. Jika tidak ingin bekerja lagi, silahkan ambil gaji terakhir mu di HRD,” sela Geo. Tatapannya tajam menatap Atika.
Atika kembali ke meja kerjanya. Meskipun dia memiliki hak istimewa dari Rosalina, tetap saja ia harus berhati-hati dengan Geo. Dia adalah CEO perusahaan, atasannya.
Kehadiran dia di sini hanya mengganggu saja! Semoga mama cepat mengurus semuanya, agar aku bisa memindahkan mereka ke lantai lima. benak Geo.
*
*
Di lantai 3.
Alifa mencari keberadaan Syakila di kafe, Syakila tidak ada. Ia keluar dari kafe dan mencari Syakila di kantin.
”Kemana perempuan itu?” Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh kantin. Syakila tidak terlihat. ”Apakah di dapur kantin?”
Alifa berjalan ke dapur kantin. Benar saja, ia melihat Syakila sedang melihat-lihat isinya kulkas.
”Ngapain kamu urusin urusan dapur? Ingin mencari perhatian pada siapa? Geo? Hah?!” tanya Alifa ketus pada Syakila.
Syakila menutup kulkas dan berbalik melihat Alifa.
”Mencari perhatian? Lebih tepatnya, aku memperhatikan Geo. Kenapa, masalah buatmu jika aku memperhatikan suamiku sendiri?”
”Heh, suami! Kalau mimpi jangan terlalu indah. Kalau mengkhayal, jangan terlalu tinggi...kalau jatuh, sakitnya sangat sakit. Berhenti menggoda Geo dan jangan memanggil Geo dengan kata sayang!” ancam Alifa.
__ADS_1
”Apa panggilanku untuk suami ku... harus kamu juga yang mengaturnya? Ada-ada saja! Kamu jangan mengurus ku...lebih baik kamu kembali ke meja kerja mu. Jika tidak, aku akan memecat mu,” ancam Syakila. Syakila melangkah keluar dari dapur.
Alifa geram pada Syakila, tangannya menarik tangan Syakila. ”Kamu...!” ucapannya terhenti saat melihat tatapan tajam Syakila. Perlahan, ia melepaskan tangan Syakila.
”Aku akan melaporkan kamu pada Rosalina. Tunggulah kamu akan di keluarkan dari perusahaan ini...” ucap Alifa. Ia melangkah pergi.
Syakila menghela nafas, ”Mama benar-benar sudah membuat pekerjaan rumit untuk anaknya sendiri. Sekarang, orang-orang tidak percaya kalau anaknya sudah menikah. Sudahlah, terserah mereka mau berpikir dan berbicara apa.”
Syakila keluar dari kantin setelah ia mengambil satu bungkus keripik pisang.
*
*
Di ruangan Geo.
Syakila berjalan masuk ke dalam ruangan dengan santai. Suasana ruangan begitu hening.
Ia melirik Atika dan Alifa yang memandangnya dengan tatapan sinis. Ia acuh saja.
Dia melihat Geo masih saja fokus dengan pekerjaannya. Sesekali mata Geo melihat dokumen di atas mejanya, sesekali matanya menatap layar laptop.
”Sayang. Aku ambilkan air minum?” tawar Syakila. Geo melihat Syakila, ia bersandar seketika dan mengangguk. Syakila menyimpan keripik pisangnya di atas meja dan pergi mengambilkan air minum untuk suaminya.
”Ini sayang. Minumlah dulu, semenjak tadi kamu terus fokus pada pekerjaan mu,” ucap Syakila. Ia meletakkan gelas air minum di atas meja. Geo mengambil dan meminumnya.
”Terimakasih sayang.” Geo meletakkan kembali gelas kosong di atas meja. Syakila mengangguk. Syakila kembali mengisi air minum di gelas tersebut dan menaruhnya di atas meja Geo.
Syakila mengambil keripik pisangnya dan duduk di kursinya. Ia membuka keripik pisang dan memakannya. Geo kembali fokus pada kerjanya.
Apa yang harus ku lakukan disini? Ingin membantu Geo, aku tidak tahu jenis pekerjaannya. Ingin mengajaknya bicara, kasihan pekerjaannya akan terbengkalai. Dua sekretarisnya juga sama-sama sibuknya.
Terkadang iri juga sih, mereka bisa membantu meringankan pekerjaan Geo. Sementara aku... aku tidak bisa. Sebaiknya aku jalan-jalan dulu di kantornya Beni. benak Syakila.
”Sayang, aku ke tempatnya Beni dulu ya,” izin Syakila.
”Hum? Kenapa? Kamu lagi bete?” tanya Geo tanpa mengalihkan perhatiannya pada file di tangannya.
Kriet! Bunyi pintu ruangan terbuka. Semua mata memandang arah pintu. Semua orang tersenyum melihat kedatangan orang tersebut.
Mampus kamu Syakila, sekarang saatnya aku mengadukan mu pada nyonya perusahaan. benak Alifa.
”Mama,” sapa Geo dan Syakila. Syakila menyalami punggung tangan Rosalina.
”Nyonya,” sapa Alifa dan Atika.
Rosalina mengernyit melihat penampilan Syakila.
”Syakila... kamu... penampilan mu__”
”Nyonya. Apakah Syakila wanita yang Nyonya kirimkan juga untuk Geo? Dia sangat curang,” sela Alifa mengadu pada Rosalina.
”Iya, Nyonya. Bahkan Geo juga bersikap tidak adil pada kami. Kami memanggilnya Geo saja dia marah. Sementara Syakila memanggilnya sayang, dia tidak marah. Ini kan tidak adil Nyonya,” sambung Atika mengadu.
Geo mengangkat sebelah alisnya menatap Atika. Wanita itu sungguh berani mengadukan dirinya pada ibunya.
Rosalina menghela nafas. ”Atika, Alifa. Syakila bukan lah wanita kiriman Tante. Dia adalah istri sah Geo. Sewaktu Geo berada di kota S, dia menikah dengan Syakila tanpa memberitahukan padaku. Jadi... kalian berdua cukup bekerja saja di perusahaan ini. Untuk menjadi menantuku, sudah tidak mungkin lagi,” ungkapnya.
”Apa? Ja__jadi Syakila... adalah istrinya Geo?” Atika dan Alifa sama-sama terkejut. Badan mereka lemas seketika. Mereka melihat Syakila. Syakila memamerkan senyum indahnya pada kedua gadis yang tidak beruntung itu.
”Iya. Tante juga baru tahu setelah Geo datang dari kota S. Maaf, Tante belum sempat memberitahu pada kalian,” sesal Rosalina.
”Tapi... Tante, kami__”
”Kalian bekerja saja dengan tenang di sini. Jangan mengganggu hubungan anakku dan anak mantu ku. Satu hal lagi, hak kalian sudah sama seperti karyawan lainnya. Jadi, sesuai peraturan perusahaan, jika kalian melanggar aturan... kalian bisa saja di pecat,” ungkap Rosalina lagi.
Geo tersenyum senang sambil melihat istrinya. Syukurlah mamanya bertindak dengan cepat mengatasi wanita-wanita ini.
”Mama, sehabis ini apakah Mama sudah ingin pulang?” tanya Syakila.
”Iya, kenapa?” Rosalina bertanya balik.
”Kalau begitu, maukah Mama temani Syakila berbelanja? Syakila ingin membeli sesuatu,” ajak Syakila.
”Hum, anak mantu mu sedang bete di ruangan ini. Daripada dia pergi ke ruangan Beni dan mengajak Beni untuk menemaninya berbelanja, Mama saja yang temani Syakila pergi,” ucap Geo.
Syakila melihat Geo. Bagaimana bisa dia tahu, aku memang ingin mengajak Beni temani aku berbelanja jika dia tidak sibuk. Tunggu dari nada bicaranya... apakah dia cemburu dengan adiknya sendiri? benak Syakila.
”Tidak usah melihat ku dengan pandangan seperti itu. Nanti saja baru kita bicarakan. Pergilah berbelanja.” ucap Geo.
Syakila mengangguk. Ia dan Rosalina melangkah keluar.
”Eh tunggu!” cegah Geo. Ia tersadar sesuatu. Syakila menghentikan tangannya yang membuka pintu ruangan. Ia melihat Geo.
Geo membuka dompetnya, mengambil kartu atm-nya dari dalam dompet dan berkata, ”Ini...ambilah.”
”Em...aku ada kar__” ucapannya terhenti saat melihat perubahan raut wajah Geo. Ia melangkah maju menghampiri Geo. ”Baiklah, jangan salahkan aku... jika nominalnya berkurang Tuan muda Geovani Albert,” ucapnya sambil mengambil atm tersebut.
__ADS_1
”Itu hak mu...” sahut Geo sambil tersenyum. Syakila mengangguk. Ia dan Rosalina pergi.