Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 139


__ADS_3

Di kamar Syakila, kediaman Sarmi, kota S.


Geo tersenyum melihat wajah pulas tidur istrinya itu. Ia melihat handphone Syakila yang ada di telapak tangannya, ia mengambil handphone tersebut dengan pelan dan mengeluarkan handphone miliknya.


Ia memasukkan nomor Syakila ke dalam kontaknya dengan tulisan ”my Asya” ia pun menyimpan kontaknya di handphone Syakila dengan nama ”suamiku tersayang”.


Setelah itu, ia menyadap handphone Syakila. Setelah selesai, ia menaruh kembali handphone tersebut ke telapak tangan Syakila dengan pelan.


Ia menatap kembali wajah tidur istrinya itu, pandangan matanya turun ke perut Syakila.


Apa lukanya sudah sembuh? Hah, wanita ini sungguh bisa membuat ku nyaman, gelisah, dan rindu di waktu yang sama.


Ia menyingkap baju Syakila, melihat keadaan luka di perutnya.


Ah, lukanya sudah mengecil, dan sudah agak kering. Obat tradisional dari gurunya sangat manjur.


Ia kembali memperbaiki baju Syakila.


”Ekhm.”


Ia sengaja berdekhem agar Syakila terbangun. Benar saja! Perlahan mata Syakila terbuka, ia terkejut melihat Geo ada di hadapannya.


”Ge... Geo?” ia membangunkan badannya, ”Kapan kamu datang?”


”Eh, tunggu! Apa yang terjadi padamu? Muka mu...kenapa memar begitu? Apa kamu berkelahi semalam dengan orang?” tanyanya khawatir, saat menyadari terdapat luka memar di wajah Geo saat ia memperhatikan baik-baik wajah pria itu.


Geo tersenyum senang, rupanya Syakila mengkhawatirkan dirinya.


”Kamu mengkhawatirkan aku? Cemas padaku?” tanyanya.


”Hah, tidak! Aku hanya bertanya saja, tidak boleh?” elak Syakila.


Geo menghela nafas ringan, Dasar wanita ini! Jelas-jelas khawatir, masih berpura-pura tidak khawatir.


”Kamu kelihatannya sudah sembuh, bantu aku berbaring, aku ingin istrahat.” ucapnya.


”Apa semalam kamu tidak beristirahat dengan baik?” sahut Syakila sambil berdiri. Ia mendorong kursi roda Geo ke ranjang.


”Iya,”


Syakila memapah tubuh Geo, ”Badan mu terasa hangat! Apa kamu sakit? Apa karena luka memar di wajah mu ini? Kamu lemah sekali! Baru luka memar begitu saja, tubuh mu sudah panas, apalagi kalau luka besar? Coba lihat aku, luka dua tusukan di perutku tidak membuat ku panas? Mengapa fisik mu lemah sekali, sangat tidak cocok dengan tubuh mu yang bagus.” cerca nya.


”Aku baru tahu ternyata kamu sangat cerewet! Atau apa ini bentuk khawatir mu padaku?”


” Hah, jangan gr! Aku sama sekali tidak khawatir dengan mu,” elak Syakila lagi. ”Aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang istri. Sebagai istri mu, aku harus merawat mu jika sakit.”


Ia membaringkan tubuh Geo di ranjang.


”Jika kamu tidak khawatirkan aku, jangan banyak tanya tentang kondisiku! Dan jangan mengajariku tentang hal yang tidak kamu ketahui! Kamu terlalu cerewet hari ini!” sahut Geo sambil menyingkirkan tangan Syakila yang menyingkap sedikit rambut yang menutupi jidatnya untuk melihat memar yang tersembunyi di baliknya.


Pria ini! Apa bicaranya tidak bisa lebih berperasaan lagi gak sih?


Ia melihat luka-luka kecil di jari-jari Geo saat Geo menarik selimut menutupi badannya sendiri.


”Geo, luka di jari mu...” ia menghentikan ucapannya sendiri. Ia tahu Geo tidak akan membahas tentang luka-luka itu meski ia bertanya.


Ia memutar badannya, melangkah ke arah laci, ia mengambil peralatan obat di sana. Geo memperhatikan gerak-gerik Syakila.


Apa wanita itu akan mengambil kotak obat untuk mengobati luka ku? Heh, katanya tidak khawatir...


Setelah Syakila mengambil obat, ia berjalan kembali ke arah Geo, ia duduk di tepi ranjang. Tanpa berkata apa-apa, ia meraih tangan Geo yang terluka. Geo membiarkan apa yang di lakukan Syakila padanya.


Ia membersihkan luka-luka kecil itu dengan alkohol, ia membersihkan lukanya dengan pelan, karena ia tahu sendiri akan perihnya luka saat terkena alkohol.


Geo terus memandangi wajah Syakila yang mengobati lukanya. Syakila menyadari itu, namun, ia tidak pedulikan tatapan tatapan mata Geo. Ia fokus membersihkan luka-luka di jari tangan pria itu.


Setelah membersihkan lukanya, ia mengolesi luka itu dengan obat salep untuk luka dan memar. Setelah selesai, ia berdiri dari duduknya. Geo terus memperhatikan pergerakan Syakila.


Syakila pergi ke kamar mandi dengan membawa mangkok kecil, tidak lama kemudian, ia kembali lagi ke arah Geo dengan membawa mangkok tersebut dengan handuk kecil halus di tangannya.


Tanpa meminta izin dan berkata apapun pada Geo, Syakila menyingkap rambut Geo yang menutupi jidatnya itu, menahannya dengan tangan kirinya, agar rambut itu tidak menutupi jidat Geo.


Dengan menggunakan tangan kanannya, ia mengompres jidat dan pipi Geo yang memar. Geo tersenyum senang dengan perlakuan Syakila padanya.


Setelah di rasa cukup, Syakila menghentikan kompres nya. Mangkok tersebut, ia simpan di atas meja samping ranjang. Ia mengoleskan salep luka memar pada jidat dan pipi Geo.


Geo menahan tangan Syakila yang telah berdiri dan ingin melangkah pergi. Syakila menoleh, melihat Geo dengan kening mengerut.


”Kenapa?” tanyanya.


Geo mengabaikan pertanyaan Syakila, ia menarik tangan Syakila dengan kuat, hingga badan Syakila tertarik dan jatuh di atas tubuhnya.


”Ah, Geo, lepaskan aku!” berontak Syakila saat Geo menahan tubuh Syakila dengan kedua tangannya.

__ADS_1


”Aku ingin istrahat, temani aku tidur” sahut Geo dengan pandangan memohon.


Syakila merasa iba melihat pandangan mata Geo, ”Baiklah, aku akan temani kamu tidur. Tapi, aku tidak mau berada di atas mu, aku akan berbaring di samping mu.”


”Ok,” Geo menuruti perkataan Syakila.


Syakila memperbaiki posisi tubuhnya, ia berbaring di samping Geo. Geo mengambil tangan kanan Syakila dan melingkarkan tangan itu ke perutnya.


Syakila menarik tangannya, namun, Geo menahan tangan Syakila untuk tetap seperti itu, Syakila mengalah. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Geo, tetapi, ia tidak memeluk perut Geo, ia menyimpan tangannya di atas dada pria itu.


”Tidurlah, kalau kamu tidak tidur, aku akan bangun dan keluar.” ucapnya sambil memejamkan mata.


Geo terdiam, tidak menyahuti.


Dia mengancam ku seperti aku ini anak kecil saja!


”Hum,” sahut Geo, ia juga memejamkan matanya.


Jantung Syakila deg degan seirama dengan detak jantung Geo yang di rasakan oleh tangannya. Geo tahu wanita yang sedang berbaring di sampingnya itu sedang merasa gugup sama seperti dirinya saat ini.


”Luka-luka kecil di jari-jari ku dan luka memar di wajahku ini, karena aku berkelahi semalam.” ungkapnya, matanya masih terpejam.


Ia tidak ingin menyembunyikan perihal luka yang di dapatnya kepada Syakila, sekaligus menghilangkan rasa canggung yang tercipta sekarang. Syakila membuka matanya, melihat Geo. Namun, ia tidak menanggapi ucapan pria itu.


”Aku berkelahi dengan Antonio.” ungkapnya lagi sambil menoleh, melihat Syakila yang sedang melihatnya.


Pandangan mata mereka saling bertemu, namun, kening Syakila berubah mengerut.


”Apakah pria itu.. pria yang ku kenal? Antonio yang menolong ku waktu di malam itu? Apakah dengan dia, kamu berkelahi nya?” tanyanya penasaran.


Iya, dia adalah Antonio yang kamu kenal, yang menolong mu. Benak Geo.


Ia mengalihkan pandangannya, menatap langit-langit kamar, ”Aku tidak tahu Antonio yang mana yang kamu kenali. Aku sedang membicarakan Antonio yang berada di kota A, yang memiliki dendam pribadi dengan ku.”


Oh, ternyata bukan Antonio yang ku kenal. Benak Syakila.


”Ada dendam apa di antara kalian berdua? Lalu, bagaimana keadaan orang itu sekarang?” tanyanya penasaran, ia bangun dari baringnya, ia terlihat serius memandang Geo.


Geo beralih melihat Syakila, pandangan mereka bertemu. ”Kamu mengkhawatirkan nya? Lelaki yang bahkan belum kamu kenali? Kamu tidak peduli dengan ku? Dengan suami mu sendiri?”


Apa pria ini sedang cemburu? Benak Syakila.


"Ehm, bukan begitu. Hanya saja...menurut ku...jika kalian tidak saling dendam kan bagus! Jadi, kalian tidak perlu berkelahi di saat bertemu nantinya.” ucapnya menasihati.


”Hah, mencintainya? Tidak, aku tidak mencintainya, bagaimana aku akan mencintainya, jika aku tidak mengenal dan belum bertemu dengannya? Kamu berbicara seperti itu dan lihat ekspresi wajah mu, apakah kamu sedang cemburu?” mata Syakila menyipit melihat Geo, menanti jawaban pria itu.


”Cemburu? Jika aku cemburu memangnya kenapa?”


Syakila terdiam, mereka masih memandang dengan pikirannya masing-masing.


Jangan bilang, pria ini benar-benar sudah tertarik dengan ku! Cinta? Apakah dia benar-benar sudah mencintai ku? Tidak, perasaan dia tidak boleh ada untuk ku, begitu juga aku, aku tidak boleh ada perasaan dengannya. Benak Syakila.


Apa kamu sedang berpikir aku mencintai mu? Iya, aku memang sudah jatuh cinta padamu. Dan kamu, jangan harap bisa lepas dari genggaman cinta ku! Benak Geo.


Syakila memutuskan pandangan matanya, ”Kamu tidak berhak untuk cemburu, Geo! Hubungan kita tidak sedalam itu, hubungan kita hanya suatu kesepakatan yang telah kita sepakati, yang mana kita akan berpisah setelah kesepakatan itu telah dipenuhi.” jelasnya.


”Iya, aku cemburu, memangnya kenapa?” kembali Geo menanyakan hal yang sama, ia mengabaikan pernyataan Syakila barusan.


Syakila kembali melihat pria itu. ”Kamu istirahat lah, aku keluar dulu!”


Geo menangkap tangan Syakila yang hendak turun dari ranjang. ”Kamu sudah bilang untuk menemani ku istrahat. Apa kamu seseorang yang tidak mematuhi perkataan sendiri?”


Syakila menghela nafas, ucapan Geo memang benar. ”Jika kamu tidak tidur juga, maka aku akan tetap keluar, meski kamu menahan ku!”


Geo tersenyum senang, Syakila, wanita itu kembali berbaring di sampingnya. Ia menarik tangan Syakila, melingkarkan ke perutnya. Syakila menurut saja, tanpa melawan, matanya terpejam.


Mengapa hatimu begitu keras untuk ku ketuk, Syakila? Apa masih Sardin pria yang kamu cintai? Tidak bisakah kamu membuka hatimu untuk ku, walau sedikit saja!? Benak Geo.


Tidak bisa begini! Geo tidak boleh menaruh hati padaku! Bagaimanapun, aku akan tetap mengingatkan dia tentang perjanjian sebelumnya, agar dia tidak menaruh harapan padaku. Benak Syakila.


Geo memejamkan mata. Tidak lama kemudian, mereka berdua sama-sama terlelap. Bahkan tanpa sadar, Syakila memeluk erat tubuh pria yang tidur di sampingnya.


.. ..


Di rumah sakit, tempat Antonio dan anak buahnya di rawat. Kota, S.


Antonio masih belum sadarkan diri dari pingsannya, sepertinya, tendangan yang di berikan oleh pelindung bayangan Geo sangat kuat di tambah lagi dengan serangan Geo sebelumnya yang ia terima, sehingga membuatnya masih setia dengan pingsannya.


Sedangkan kedua rekan Seva, kaki dan tangannya di perban, mereka harus terus terbaring di rumah sakit, sampai sembuh total.


Seva sendiri, yang hanya cedera sedikit, ia hampir sembuh, namun, ia belum di bolehkan untuk bangun dari tempat tidurnya dari sang dokter.


Di ruang rawat inap Sardin.

__ADS_1


Sardin begitu kesal, wanita yang ia tidak ingin lihat dan temui, telah datang kembali ke rumah sakit untuk mengunjunginya.


Meski ia tidak senang, ia harus memaksakan diri untuk menerima tamu yang tidak di undang itu karena di sana ada kedua orang tuanya.


Ia datang berkunjung dengan membawa makan siang yang di belinya dari restoran. Ia membawa makanan tiga kotak untuk Sardin dan kedua orang tuanya.


”Sardin, mengapa kamu belum memakan makananmu? Bukan kah makanan ini makanan kesukaan mu? Makanlah, hargai Nita yang telah memperhatikan mu.” ucap Nesa menasihati.


”Sardin belum lapar, Mah. Mama dan Papa makanlah saja, abaikan saja aku.” sahut Geo.


”Mau makan sendiri atau aku suapi?” tawar Nita, ia. berdiri dari duduknya, melangkah mendekati ranjang Sardin.


”Tidak perlu!” sahut Sardin ketus, ia berdiri dari ranjang. Ia berjalan, melewati Nita menuju pintu ruangan.


”Kamu mau kemana?” tanya Nesa dan Alimin bersamaan, ketika Sardin memegang handle pintu.


”Sardin ingin cari angin di luar, Mah, Pa. Sardin bete di dalam terus.” jawab Sardin yang membelakangi kedua orang tuanya.


”Yah, ajaklah Nita bersamamu,” ujar Nesa.


”Tidak Mah. Sardin ingin sendiri.” sahut Sardin. Ia telah membuka pintu ruangan dan berjalan keluar setelah berucap.


Nita tersenyum kecut pada posisi berdirinya, Sardin, pria yang ingin di kejarnya itu, terang-terangan menolak dirinya di hadapan kedua orang tuanya.


Nesa berdiri di samping Nita, ia membelai pundak Nita, ”Nita, kamu yang sabar yah menghadapi sikap Sardin, dia memang begitu...”


”Tante, Tante tenang saja, Nita sudah mengenal sifat dan sikap Sardin. Nita tidak akan menyerah padanya, secuek apapun dia padaku.” sahut Nita sambil tersenyum.


Nesa membalas senyum Nita, ”Terima kasih, Tante berharap dan berdoa agar Sardin secepatnya bisa menerimamu di hatinya.”


”Terima kasih atas doanya, Tante.” Ia menghela nafas kesal, ”Aku pulang dulu, Tante. Besok baru aku kembali kesini, menjemput Sardin keluar dari rumah sakit.”


”Iya, hati-hati di jalan! Sekali lagi, maaf kan sikap Sardin.” ucap Nesa dengan sedih.


Nita tersenyum, Aku tidak butuh permintaan maaf tante. Jika tante menyesal, maka segera menikahkan kami berdua.


”Iya , Tante. Jangan khawatir kan itu, Nita tidak apa-apa! Nita pergi dulu, Om, Tante.” ucapnya sopan.


”Iya.” sahut Alimin dan Nesa.


Nita keluar dari ruangan itu dengan wajah kesal dan marah. Lagi-lagi Sardin bersikap angkuh padanya. Tapi, ia tidak mau menyerah, ia akan berusaha untuk mendapatkan Sardin.


Sardin, tunggu kamu keluar dari rumah sakit dulu, baru aku lihat, bagaimana cara mu untuk tetap angkuh padaku.


Ia pergi dari rumah sakit dengan membawa mobilnya dengan laju tinggi membelah jalanan kota.


Di taman bunga belakang rumah sakit.


Sardin duduk sendiri di bangku taman bunga di belakang rumah sakit, ia memandangi bunga-bunga matahari yang mekarnya sangat indah.


Ia terkenang saat ia dan Syakila masih kecil, ia mendatangi Syakila yang lagi menata bunga mataharinya dengan serius.


Ia menutup mata Syakila dari arah belakang tanpa bersuara.


”Siapa? Mama, Papa, siapa ini?” ucap Syakila yang terkejut. Sardin tidak menyahuti, ia justru tersenyum sendiri menyaksikan Syakila yang terkejut dan panik seketika.


”Hei, siapa ini, jangan bercanda!” ulang Syakila berucap.


Sardin masih enggan melepaskan tangannya ya v menutupi mata Syakila. Ia menuntut Syakila berjalan ke rumah-rumah kecil yang ada di kebun tersebut.


Syakila hanya mengikuti saja langkah di mana ia di tuntun. Ia memegang tangan yang menutupi matanya itu.


Apa ini kak Sardin? Yang biasa melakukan ini kak Sardin dan papa. Tapi, ku raba tangannya, tidak mungkin ini papa. Ini pasti kakak Sardin!


”Kakak! Aku tahu ini kakak, iya kan?” ucapnya menebak.


Sardin mengangguk, tapi tidak bersuara, dan sayangnya anggukan kepalanya tidak di ketahui Syakila.


”Kakak! Jangan main-main!”


Mereka sampai di rumah, Sardin membuka mata Syakila.


Syakila terkejut sekaligus senang dalam bersamaan saat ia melihat bibit bunga mawar merah, putih, dan orange di hadapannya.


Ia berbalik ke belakang, melihat Sardin yang ikut tersenyum, ”Kakak, terima kasih! Kakak sudah menepati janji kakak membawakan ku bibit bunga mawar. Kila senang sekali kak!” ucapnya.


”Kakak sudah berjanji, maka kakak harus menepatinya. Sebagai ucapan terima kasih, kamu berjanjilah untuk tetap berteman dekat dengan kakak.”


”Iya, Kila janji!” sahut Syakila.


Ingatan Sardin berakhir, ia tersenyum sendiri setelah mengenang hari itu, hari kedua mereka bertemu dan berteman.


”Syakila, kakak merindukan mu...” Gumamnya seketika.

__ADS_1


__ADS_2