Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 73


__ADS_3

Sarmi menatap mereka semua dengan bingung. Mereka bukan teman kantor ku. Tapi, siapa mereka? pikir Sarmi.


”Maaf, cari siapa ya?” tanyanya lembut. ”Em, mari masuk ke dalam, kita berbicara di dalam saja.” ajaknya kemudian.


Sarmi menggeser badannya sedikit menjauh dari pintu, ia membiarkan para tamu masuk ke dalam rumah. Rosalina mendorong kursi roda Geo masuk ke dalam, Beni menyusul.


Tatapan mata Geo, bertemu dengan Syakila dan Sardin, hingga mereka bertiga saling menatap dalam keterkejutannya. Bukan hanya itu, kini tatapan tajam terhujat di antara mereka bertiga, mengingat awal pertemuan mereka yang sangat mengesankan.


Cewek matre ini, kenapa dia menatapku dengan tatapan tajam? Apa dia menaruh dendam padaku karena kejadian di gedung Cobra? Tapi ada yang aneh dalam diriku, mengapa tatapan ku tidak jijik saat melihat dia? Tidak sama jika aku menatap wanita lain, pasti aku sudah merasa jijik, padahal dia dan mereka tidak ada bedanya. Cewek matre.


batin Geo.


Pria ini, bukankah terakhir bertemu ia sehat-sehat saja? Lalu, mengapa sekarang dia duduk di kursi roda? Apa yang sudah terjadi pada pria sombong dan angkuh ini? Apa itu karma untuknya karena sudah menendang Sardin dan juga hampir menendang ku waktu itu?


batin Syakila.


Syakila memutuskan pandangan dari Geo, ketika Sardin memegang tangannya. Geo merasa tidak suka melihat tangan Syakila di genggam Sardin. Sardin dan Geovani saling menghunus dengan tatapan tajam mereka.


Rosalina duduk di samping kursi roda Geo, Beni duduk di samping Rosalina. Sarmi kembali duduk di samping Syakila. Rosalina melihat wajah Syakila baik-baik.


Ini, Syakila kan? Mengapa dia dan kekasihnya ada disini juga? Mungkin Sardin adalah anak lelaki satu-satunya dari Halim.


Mereka yang ada di dalam ruangan itu saling pandang memandang dengan bingung dan bertanya-tanya dalam benak.


Siapa mereka? Ada perlu apa kemari? Benak Sarmi juga yang lain. Apa mereka akan mempercayai ucapan ku nanti? Benak Rosalina. Suasana menjadi hening.


”Ehm,” Johan berdekhem. ”Maaf, kalau boleh tahu, kalian ini siapa yah? Dan perlu apa kesini?” tanyanya.


”Maaf, jika kedatangan kami begitu mendadak dan bukan di waktu yang tepat untuk datang bertamu pada kalian. Kami jauh-jauh dari kota A kesini untuk mencari Halim.” jelas Rosalina.


Kening Sarmi dan Syakila mengkerut, begitu juga dengan Johan, sebagai kakak Halim.


”Mencari Halim? Ada urusan apa yah? Saya adalah istrinya.”


”Dan saya kakak dari Halim, ada perlu apa mencari Halim?”


”Perkenalkan, ini anak saya namanya Geovani Albert dan di sebelah kiri ku ini namanya Beni, dia adalah anak kemenakan ku. Dan saya sendiri Rosalina Albert, istri dari almarhum Albert.


Syakila mengkerut kan kening melihat Rosalina, nama Rosalina dan Albert adalah nama yang di sebut papanya di nafas terakhirnya.


”Langsung saja saya katakan tujuan ku kesini, di antara Halim dan keluarga saya ada sebuah perjanjian, dan saya datang untuk menagih perjanjian itu.” ucap Rosalina lagi.


Deg!


Jantung Syakila berdetak dengan cepat, ia mengingat perkataan papahnya sebelum papahnya pergi untuk selamanya.


Apakah Rosalina yang papa maksud adalah Rosalina ini? Dia istri Albert. Kira-kira perjanjian apa yang mengikat papa dengan mereka?


”Perjanjian?” Sarmi dan Johan bertanya penasaran. Syakila berdiam diri saja sambil menyimak pembicaraan mereka.


"Iya perjanjian, Halim meminjam uang kepada kami, dan perjanjiannya jika ia tidak mampu membayar hutangnya, maka kami berhak meminta apapun sebagai bentuk pelunasan hutangnya itu. Dan dia tidak bisa menolak apa yang akan kami minta padanya.” ungkap Rosalina.


”Sebagai istri, Halim tidak pernah bercerita itu padaku, apa yang dia lalui selama di kota A, dia selalu memberitahu padaku. Tapi, untuk utang kepada kalian, Halim tidak pernah menceritakan itu padaku.” ucap Sarmi.


”Dan saya juga mendengar kisah adikku dalam membangun usahanya ia di bantu oleh Anton. Anton sendirilah yang menceritakan itu padaku, dari tempat dan modal, itu semua dari Anton. Lalu, bagaimana mungkin Halim terlibat dengan utang kepada Anda?” ucap Johan.


”Apa yang saya ucapkan adalah sebuah kebenaran, Halim memang terlibat hutang bersama kami. Ada surat perjanjian di antara kami, tapi sayangnya surat itu hangus terbakar.” jelas Rosalina.


”Maaf Tante, Om, apa yang di bilang sama Tante ku itu adalah benar. Sebelum kertas itu hangus, saya sempat melihat dan membacanya. Halim meminjam uang kepada Albert senilai satu milyar rupiah. Dan Albert memberikan waktu tenggang untuk membayarnya selama satu tahun. Awalnya ia lancar membayar hutangnya itu, tetapi ia tidak membayar utangnya lagi semenjak enam tahun yang lalu.” ungkap Beni.


Sarmi terdiam, ia mengingat di setiap bulan sepulang Halim dari bank ia selalu membawa dua bil bukti transferan dari bank. Satu nomor rekeningnya sendiri dan satu nomor rekeningnya orang. Tetapi karena kepercayaan Sarmi padanya, ia juga tidak bertanya tentang nomor rekening itu.


”Apakah nomor rekening 5365-07-02××××-××-9 itu adalah nomor rekening kalian?” Sarmi bertanya dengan pelan untuk memastikan hal itu.

__ADS_1


Rosalina mengambil beberapa buku tabungan dari tasnya. Ia membaca satu persatu nomor rekening yang tertera di sana.


”Iya benar, itu adalah nomor rekening khusus yang di buat suami saya untuk mengumpulkan jumlah uang dari Halim. Ini saya tunjukan buku tabungannya kepada kalian.” Rosalina meletakkan buku tabungan itu di lantai dan menggeser ke atas sampai di hadapan Sarmi. Sarmi mengambil dan membacanya, ternyata benar.


Dengan ucapan Sarmi dan bukti buku tabungan itu, Johan dan Sarmi percaya Halim memang berhutang pada mereka.


”Berapa sisa utang dari almarhum adik saya? Saya akan membayar lunas sekarang juga.” sahut Johan.


”Berapa sisa utang dari almarhum suami saya, saya akan membayarnya.” sahut Sarmi.


Rosalina terdiam. Bukan uang yang dia inginkan. Tapi ia menginginkan salah satu anak Halim untuk menjadi istri dari anaknya.


”Maafkan saya jika saya terlihat egois. Saya tidak meminta uang sebagai ganti dari hutang Halim.” Rosalina menunduk, dalam satu tarikan nafas ia kembali berkata, ”Saya meminta salah satu putri dari Halim untuk menikah dengan anak saya, sebagai bentuk pelunasan hutang Halim.”


Deg deg deg


Jantung Syakila, Sarmi, Biah, Johan berdetak dengan cepat, mereka memucat seketika. Sardin, orang tua Sardin, dan orang tua Johansyah terkejut mendengar perkataan tamu itu. Geo ia memandang datar semua orang yang ada di ruangan itu.


”Tidak," Sarmi dan Johan menolak.


”Adik saya meminjam kepada kalian berupa uang, dan kami akan kembalikan juga dalam bentuk uang.” ucap Johan dengan tegas.


”Saya tidak akan memberikan anak saya untuk menebus hutang suamiku, aku akan membayar lunas hutang suamiku dengan uang. Sebutkan saja berapa nilai utang suamiku?” ucap Sarmi dengan marah.


Rosalina tersenyum kecut dan mengejek sekaligus.


”Maaf sekali, saya sudah meminta apa yang ku minta. Dan saya tegaskan kembali, Halim tidak berhak dan tidak punya hak untuk menolak apa yang kami minta 'APAPUN ITU' jadi, kalian juga tidak berhak menolaknya.” jelas Rosalina dengan tegas.


”Tidak bisa!” ucap Sarmi dan Johan lagi.


”Terserah kalian, perlu kalian ketahui jika Halim bersikeras tidak memenuhi permintaan dari kami maka ia dan istrinya akan di penjara dengan kasus penipuan. Jadi, bersiaplah untuk anda di penjara nona Sarmi.” ancam Rosalina.


”Apa? Penjara?” ucap Johan, Sarmi, Biah, dan Syakila dengan terkejut.


”Bukankah ini suatu bentuk pemerasan?” Alimin, papa Sardin ikut berbicara. ”Kalian sudah memeras keluarga Halim, benar Halim memiliki hutang, tapi istri dan kakaknya ingin membayar lunas hutang itu. Tapi, kalian bersikeras menolak pembayaran hutang itu dengan uang, kalian malah memeras dan memaksa keluarga Halim untuk menyerahkan putrinya, bukankah itu pemerasan dan pemaksaan? Apa benar, isi perjanjian seperti itu? Apakah kalian tidak mengambil keuntungan dari hutang Halim?”


”Mengenai hutang itu kami percaya, tapi mengenai perjanjian itu, maaf kami tidak percaya. Halim tidak akan menempatkan posisi yang buruk untuk anak dan istrinya.” Johan berucap dengan datar.


”Maka bersiaplah, polisi dari kota A akan menjemput Sarmi dan menyeretnya ke penjara.” tegas Rosalina berucap. Ia tidak ingin kalah, ia harus bisa mendapatkan salah satu anak dari Halim.


”Tidak, bagaimana bisa aku memberikan anakku padamu! Anakku bukan barang untuk diperdagangkan! Kami bersedia membayar hutang Halim dengan berupa uang, bagaimana bisa Anda menolak dan bahkan mengancam ku dengan penjara, Anda sudah kelewatan nona Rosalina.” Sarmi berucap dengan marah.


Geo tidak terima mamanya di bentak seperti itu.


”Beni, berikan handphone ku.” pinta Geo pada Beni. Beni memberikan handphone Geo padanya.


Mereka semua memandang Geo, pria yang duduk di kursi roda, suaranya begitu berat dan penuh ancaman saat berucap. Geo menggeser layar handphone ke atas kemudian ia meletakkan handphone tersebut di telinganya. Setelah tersambung Geo menjauhkan handphone dari telinga, ia mengaktifkan loudspeaker agar semua orang bisa mendengar pembicaraan ia dengan seseorang.


”Halo Tuan Geovani Albert, ada apa menghubungi kantor polisi dengan tiba-tiba? Bukankah Anda tidak sedang berada di kota A?” ucap seseorang di sebrang sana.


”Halo Tuan Geovani Albert, ada apa Tuan menelfon? Apa Anda mengalami kesulitan di kota S ini, Tuan?” ucap seseorang yang di sebrang sana juga.


Deg!


Sardin, Johan, Sarmi, orang tua Sardin, dan besan Sarmi terkejut mendengar suara kepolisian dari kota S, mereka sangat tahu dia siapa, ia memiliki pangkat tertinggi di kota S ini. Rupanya Geo bukan hanya menelpon satu orang polisi tetapi dua sekaligus dalam satu panggilan.


”Tidak, jangan laporkan Mama ku pada polisi. Jangan penjarakan Mama ku.” cegah Syakila.


Rosalina tersenyum senang saat mengetahui Syakila termasuk anak Halim. Semua mata melihat Syakila.


”Maaf Ardian, maaf Ja'far saya hanya menanyakan kabar kalian berdua. Apakah semuanya sehat?” ucap Geo pada Ardian dan Ja'far.


”Alhamdulillah, kabar ku baik-baik saja, Tuan.” sahut Ja'far dan Ardian.

__ADS_1


”Baiklah, terima kasih sudah mengangkat telfon ku, jika ada perlu aku akan menghubungi kalian. Aku tutup telfonnya.” ucap Geo. Tut tut tut belum mendengar sahutan dari mereka Geo telah memutuskan sambungan. Geo melihat mamanya.


”Mama, lanjutkan!” titahnya pada Rosalina.


”Bagaimana Sarmi?” tanya Rosalina.


Sarmi membisu. Ia tidak tahu harus berbicara apa. Fatma baru saja menikah, Syakila bulan depan akan menikah, Yuli masih sekolah SMP kelas dua, Ita baru SMP kelas satu, dan Endang masih kecil, baru kelas lima SD. Tidak mungkin dia akan menyerahkan Kila untuk mereka, apalagi menyerahkan Yuli dan Ita yang baru SMP itu.


”Saya tidak bisa memberikan anakku padamu. Jika Anda menolak kami membayar dengan uang, maka saya bersedia menjadi pembantu di keluarga Anda Nona Rosalina.” ucap Sarmi sambil menunduk.


”Mama, apa yang Mama katakan?” ucap Syakila dengan terkejut


”Sarmi, kamu sadar dengan ucapan mu?” ucap Johan.


Mereka berdua memandang Sarmi dengan sedih.


”Sayang sekali Sarmi, saya tidak membutuhkan seorang pembantu. Dan saya menginginkan putri mu untuk menjadi istri dari anakku.” ucap Rosalina dengan angkuhnya.


Sarmi membisu. Semua terdiam.


”Saya bersedia menjadi istri dari anak Anda Nona Rosalina.” ucap Syakila seketika.


Deg!


Sardin, Sarmi, orang tua Sardin, Johan dan Biah menatap Syakila dengan tidak percaya. Terutama Sardin, ia menatap tajam pada Syakila.


”Kamu bicara apa Syakila? Bulan depan kita akan menikah, sebagai kekasih mu, aku tidak setuju!” sahut Sardin.


Sarmi menangis, ia tidak pernah berfikir kehidupan yang ia jalani dengan tenang harus terusik dengan kehadiran orang asing. Ia benar-benar terbungkam, tidak bisa berkata apa-apa. Johan dan Biah pun sama.


Halim, mengapa kamu tega tidak bercerita ini padaku. Seandainya kamu menceritakan hutang mu padaku, aku pasti akan lanjut membayar hutang mu itu, jadi kejadian hari ini tidak akan pernah terjadi. Sekarang lihatlah bagaimana nasib putrimu.


”Jangan permainkan keluarga kami Syakila!” ucap Alimin dengan tegas.


”Maaf kan Kila kakak, maaf Syakila Om, Tante, Syakila tidak berniat mempermalukan keluarga Om dan Tante. Syakila memang harus melakukan ini, Om, Tante. Sya__”


”Tidak Kila, kakak tidak mengizinkan mu, Kila!” ucap Sardin dengan marah. Ia menatap Rosalina. ”Kamu sengaja kan? Kamu sengaja mencari kelemahan dari keluarga Halim untuk di nikahkan dengan anakmu kan? Karena tidak ada wanita yang mau menikah dengan pria seperti itu, pria yang angkuh dan sombong sepeti dia!” Sardin menunjuk Geo.


”Jaga ucapan mu!” ucap Geo, Beni serentak dengan marah. ”Apa kamu kira aku tidak bisa mendapatkan seorang istri dengan fisik ku yang seperti ini? Jangan kamu meremehkan ku.”


Geo memandang mamanya. ”Mama ayo kita pulang sekarang. Beni, hitung ulang hutang Halim yang tertunda kemudian kalikan dengan bunga 50% di setiap tahunnya yang terlewat. Berapa pun hasilnya, serahkan kepada mereka untuk membayarnya hari ini juga, jika mereka tidak mampu bayar, seret mereka ke penjara.”


Semua terkejut dengan perintah Geo yang arogan begitu.


”Baik,” sahut Beni.


”Tunggu!” cegah Syakila. Semua mata memandangnya. Ia melihat Rosalina, ”Aku bersedia menikah dengan anak Tante, tapi, Tante harus janji tidak akan menyusahkan keluarga ku kedepannya.”


Rosalina tersenyum senang, ”Tentu saja, pernikahan mu dengan Geo sebagai bentuk pelunasan hutang Halim. Jadi, selepas pernikahan itu, tidak ada alasan kami lagi untuk mengganggu kalian.”


”Tidak Syakila!" ucap Sardin dengan lantang.


”Kakak, kak__” ucapan Kila berhenti saat melihat amarah dan tatapan tajam Sardin untuknya.


”Kakak tidak mengizinkan mu Kila! Kita akan tetap menikah bulan depan!” ucap Sardin dengan tegas. ”Biarkan mereka menghitung jumlah hutang itu, aku akan membantu membayar hutang ayah mu. Aku tidak akan melepaskan kamu untuk dia, Kila. Kakak mencintai mu.”


”Syakila juga mencintai kakak,” Syakila tersenyum menatap Sardin, ”Kita simpan cinta kita di hati kak,” Syakila berlari keluar dari rumah Johan sambil menangis selepas berucap.


”Syakila!” Sarmi, Johan, Biah, dan Sardin memanggil Syakila untuk mencegahnya. Namun Kila berlari dengan cepat. Sardin beranjak berdiri, ia ingin menyusul Syakila.


”Sardin, kamu mau kemana?” tanya Alimin, papahnya Sardin.


”Pa, Sardin ingin menyusul Syakila.”

__ADS_1


”Tidak usah Sardin,” cegah Alimin, ”Hubungan kalian sudah berakhir. Jangan kejar dia lagi, sebaiknya kita pulang sekarang.”


Namun Sardin tidak mendengar, ia berlalu dari sana mengejar Syakila.


__ADS_2