Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 55


__ADS_3

Cahaya terang menyinari seluruh permukaan bumi, menggantikan posisi sang malam. Mulfa dan Halima sama-sama terbangun. Mereka terbangun dengan terusik adanya rasa hangat di wajah mereka. Rupanya sang surya masuk ke dalam kamar mereka melalui ventilasi jendela.


Mereka sama-sama menguap lalu duduk di atas ranjang. Mengumpulkan kembali kesadarannya.


”Kakak, ini sudah pagi. Perutku sangat lapar.” keluh Mulfa.


"Kamu lapar?” Mulfa mengangguk. ”Kamu, mandilah saja dulu.” pinta Halima. Mulfa kembali mengangguk. Ia beranjak dari ranjang, dan keluar dari kamar. Mulfa pergi mandi.


Halima mengambil bungkusan makanan yang di belikan Hamid semalam. Ia mencium aroma makanan tersebut.


”Dari baunya masih bagus. Seperti bau ayam.” Halima membuka bungkusan nasinya. ”Oh, pantas saja masih bagus, ia membelikan nasi ayam lalapan. Nasinya di bungkus sendiri, ayamnya sendiri, dan sayur mentah sendiri, juga sambalnya sendiri. Baguslah, jadi makanan ini tidak terbuang dengan sia-sia.”


Setelah Mulfa selesai mandi, dan bergantian. Ia menghampiri Halima yang duduk di meja dapur.


”Kakak.”


Mulfa menarik kursi sedikit keluar dari bawah meja. Lalu, ia duduk di kursi itu di samping Halima.


”Kamu sudah habis mandi? Ini, makan lah.” Halima menyodorkan bungkusan nasi yang di bukanya tadi pada Mulfa. ”Ini makanan yang di belikan sama Hamid semalam.”


”Apa masih bagus, kak?” Mulfa mengambilnya dan mencium aroma makanan itu.


”Kalau makanannya sudah tidak bagus, mana mungkin kakak berikan padamu.” sahut Halima sedikit ketus sambil mencubit hidung Mulfa. ”Kamu makanlah, kakak mau mandi dulu.”


”Kakak tidak ikut makan?”


”Kakak mau mandi dulu baru makan.” Halima mengambil handuk yang bertengger di bahu Mulfa. ”Kamu habiskan saja makanan mu, kalau kakak masih ada nasi ayam sebungkus lagi.”


”Ok, kakak.” sahut Mulfa dengan tersenyum. Ia pun mulai memakan makanannya. Sedangkan Halima, ia pergi mandi.


Usai mandi, Halima mengambil bungkusan makanannya dan memakan nasinya. Sedangkan Mulfa, ia masih duduk di tempatnya menemani Halima makan.


”Kakak, selanjutnya kita bagaimana? Apa kita akan tetap tinggal disini, tanpa berbuat apapun?” tanya Mulfa.


”Untuk sementara, kita tetap tinggal disini dulu.” jawab Halima.


”Sampai kapan kak? Masa kita akan tetap begini? Berdiam diri di rumah dan menunggu Hamid datang untuk membawakan kebutuhan makan kita sehari-hari. Mulfa tidak mau kak.” rengek Mulfa.


”Sabar, kakak tunggu Halim datang dari kampung dulu. Baru kakak fikirkan lagi, kita akan bagaimana nantinya.”


”Mengapa harus menunggu si penipu itu kak? Kita juga tidak tahu kapan dia akan kembali disini. Kalau, seandainya dia datang tahun depan, bagaimana? Apa kita akan tetap seperti ini sampai tahun depan?"


”Iya Mulfa.” jawab Halima. Mulfa memandang Halima dengan mengernyit heran. ”Em, maksud kakak, kita akan tetap tinggal di rumah ini sampai Halim datang. Nanti kakak akan minta tolong sama Hamid untuk mencarikan pekerjaan untuk kakak. Supaya, kita tidak mengharapkan Hamid yang memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari.” jelas Halima.


”Lalu, bagaimana kita akan berkeliaran di luar sana, kak? Sedangkan anak buah Kevin dan Elsa banyak di luar sana. Dan tentunya, mereka sekarang pasti sedang mencari kita. Berita penahanan mereka berdua pasti sudah terdengar dan tersiar di mana-mana.”


”Apa kamu lupa dengan ucapan Hamid semalam? Halim sudah membelikan kita beberapa stel pakaian, yang memudahkan kita untuk bisa keluar dan berbaur dengan masyarakat dengan aman. Kita akan keluar rumah menggunakan pakaian itu.” jelas Halima lagi.


”Memangnya kakak sudah tahu pakaian itu, seperti apa?” tanya Mulfa penasaran.


Halima menggeleng. ”Kakak belum tahu. Dan sebaiknya, kamu jangan ganggu kakak makan. Biarkanlah kakakmu ini, menikmati ayam lalapan ini.”


”Baiklah, kakak makan saja.” sahut Mulfa dengan cemberut. Ia tidak berbicara lagi. Namun, ia masih tetap duduk di tempatnya. Ia membiarkan Halima memakan makanannya hingga habis.


Kapan yah Halim kembali dari kampung. Aku sangat merindukan dia.


Kini Halima sudah menyelesaikan makannya.


”Mulfa, kakak sudah kenyang. Sekarang, kita bersih-bersih yah. Dari depan sana sampai di dapur ini.” perintah Halima.


”Ok kakak.” sahut Mulfa dengan tersenyum senang.


Mereka pun mengambil sapu yang ada di dapur. Dan membawanya ke depan. Halima dan Mulfa mulai membersihkan rumah Hamid. Mereka memulai dari membuka kain panjang penutup penutup barang-barang.


Lalu dengan menggunakan sapu lidi mereka memukul-mukul sofa untuk membersihkan debu-debu yang menempel di sofa tersebut.


Setelah itu mereka membersihkan sarang laba-laba yang ada di dinding dan di sudut sudut semua dinding. Kemudian mereka Mulfa menyapu lantai, sedangkan Halima, ia mengepel lantainya. Kurang lebih dari satu ham setengah mereka telah membersihkan rumah Hamid.

__ADS_1


Kini rumah itu nampak bersih, kinclong dan rapi. Mulfa dan Halima sama-sama membanting tubuh lelah mereka di atas sofa.


”Huff sangat melelahkan!” keluh mereka secara bersamaan.


Tok tok tok!


Sedang santai-santainya Mulfa dan Halima mendengar suara ketukan di pintu. Mulfa dan Halima saling memandang.


”Apa itu Hamid yang datang kak?” bisik Mulfa


”Entahlah, kakak juga tidak tahu.” jawab Halima.


Tok tok tok!


Terdengar lagi suara ketukan. Halima berdiri dari duduknya, Mulfa pun demikian. Halima mendekati jendela kecil yang ada di samping pintu. Ia mengintip di luar, melihat siapa yang mengetuk pintu.


”Kakak bisa melihatnya? Siapa yang mengetuk pintu? Apakah Hamid, kak?” bisik Mulfa lagi.


”Iya, dia Hamid.” Halima langsung membuka kunci dan engsel pintu. Lalu, ia memutar handle pintu dan pintu terbuka sedikit.


Hamid segera masuk dan menutup pintu itu kembali. Hamid terpana melihat keadaan rumahnya sekarang. Sangat bersih dan rapi. Lalu, ia melihat Halima dan Mulfa bergantian.


”Wow, kalian membersihkan rumah ini dengan sangat bersih sekali. Sepertinya, rumah ini akan terawat di tangan kalian.” puji Hamid.


Hamid duduk di sofa. Halima dan Mulfa menyusul. Mereka duduk berdua di sofa panjang.


”Terima kasih atas pujiannya.” ucap Halima. ”Hamid, kebetulan kamu datang kesini, ada ingin aku bicarakan dengan mu.”


Hamid memicingkan mata memandang Halima dengan tajam. Halima menciut dengan tatapan Hamid.


”Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Hamid dengan dingin.


”Bisakah kamu mencarikan pekerjaan untuk ku? Pekerjaan apa saja, yang penting halal.” ucap Halima ragu-ragu.


”Untuk sementara, kamu jangan banyak berfikir dulu untuk pekerjaan. Nanti aku fikirkan itu. Sekarang, bersiaplah kita akan ke pasar untuk membeli bahan-bahan dapur untuk keperluan kalian.” sahut Hamid.


Mereka pun pergi ke kamar untuk bersiap-siap. Halima mengambil bungkusan plastik yang berisi pakaian untuk dirinya dan Mulfa. Pakaian yang memang di persiapkan Halim untuk mereka berdua. Ia membukanya dan memberikan satu stel pada Mulfa. Ia pun mengambil satu stel untuk dirinya.


”Kakak, sepertinya ini pakaian syar'i. Apakah Halim ingin kita mengenakan pakaian ini? Dan berhijab, kak?” Mulfa bertanya dengan bingung sambil memegang baju itu.


Halima pun seakan tidak percaya itu. Ia membuka pakaian yang masih terlipat rapi di dalam bungkusannya.


”Ini bukan hanya pakaian syar'i saja, Mulfa. Dan sepertinya Halim bukan menginginkan kita pakai hijab saja.” Mulfa memandang Halima dengan mengernyit heran. ”Cobalah kamu buka baju itu dari bungkusannya, Mulfa.”


Tanpa berkata lagi, Mulfa segera membuka bungkusan baju tersebut. Dan ia melihat bajunya.


”Hah?” Mulfa terkejut. ”Apa benar si penipu itu ingin kita mengenakan baju ini, kak Halima? Yang benar saja, masa kita harus bercadar, kak?”


Halima tersenyum kecut. ”Apa ada pilihan lain, Mulfa? Kamu ingin tetap di rumah?” Halima menjawab pertanyaan Mulfa dengan pertanyaan pula.


”Pilihan lain? Tidak ada kak. Tapi, haruskah memakainya, kak?” Mulfa masih berat hati untuk memakai pakaian itu.


”Tidak perlu kamu memakainya, kamu tunggu kakak di rumah saja.” sahut Halima. Ia pun segera memakai pakaian yang menutup semua auratnya itu. Hanyalah mata saja yang terlihat.


”Apakah ini terlihat aneh di diri kakak, Mulfa?” Halima meminta pendapat adiknya, setelah ia mengenakan pakaian itu.


”Kakak terlihat, cantik dan sangat berbeda.” komentar Mulfa. ”Aku tidak akan mengenali kakak seandainya kita bertemu di luar, kalau aku tidak melihat kakak memakai ini di depan ku.”


”Masa sih?” Halima tidak percaya. ”Apa benar terlihat berbeda?”


”Iya kak, sangat berbeda sekali.” ucap Mulfa meyakinkan.


”Baiklah, kalau begitu kakak keluar dulu bersama Hamid. Kamu tunggu kakak disini, yah.”


Halima berjalan keluar kamar, namun Mulfa menahannya.


”Eh, kakak. Jangan! Tungguin Mulfa! Mulfa tidak mau sendirian di rumah. Mulfa mau ikut.”

__ADS_1


Halima tersenyum. ”Maka bergantilah sekarang, tunggu apa lagi?” sahutnya.


Mulfa segera bergantian. Ia pun mengenakan pakaian yang menutup auratnya itu. Sama seperti Halima, hanyalah mata saja yang terlihat.


”Sekarang, ayok kita keluar.” ajak Halima. Ia menggandeng tangan Mulfa. Mereka keluar dari kamar bersama.


Hamid terpukau melihat penampilan mereka berdua. Halima dan Mulfa memang terlihat cantik. Tidak seperti biasa yang Hamid temui Halima dengan Mike up yang begitu tebal saat di Club. Halima terlihat cantik alami sekarang tanpa Mike up di wajahnya.


”Pakaian itu memang pas untuk kalian, semoga kedepannya kalian menjadi pribadi yang baik seperti pakaian yang kalian kenakan ini.” ucap Hamid.


”Kamu menyindirku, Hamid?” sahut Halima tidak terima.


”Em, tidak. Bukan itu maksudku.” elak Hamid. ”Ucapan ku hanyalah sebuah harapan dan doa saja yang baik untuk kalian. Tidak ada maksud lainnya.”


”Hum, mungkin aku saja yang terlalu paranoid. Maaf kan aku.” sesal Halima.


”Tidak apa. Oh iya, ku harap kalian jangan saling memanggil nama kalian nantinya setelah di luar sana. Dari segi penampilan, kalian memang tidka akan di kenali, tapi jangan kalian berbuat hal yang patut di curigai nanti.”


”Tidak usah kamu risaukan itu, Hamid. Kami sudah memikirkan itu sebelumnya, kami akan memakai nama panggilan yang di berikan sama ayah dan ibu kami waktu kecil.” ucap Halima.


”Iya kakak Hamid, aku akan memanggil kak Halima dengan nama Ima, dan kakak akan memanggil ku Upa. Itu adalah nama panggilan kami waktu kecil.” sahut Mulfa menjelaskan.


”Oh, Ima dan Upa. Boleh juga, jadi sekarang aku akan memanggil kalian dengan nama itu.” tukas Hamid. ”Baiklah, Ima, Upa, ayok kita berangkat ke pasar. Ingat jangan berbuat hal yang patut di curigai. Karena, anak buah Kevin sedang mencari keberadaan kalian.”


”Baik, kak.” Mulfa dan Halima berucap bersamaan.


Mereka pun segera pergi ke pasar. Hamid menemani mereka berkeliling di pasar sayur. Mereka membeli beberapa macam sayur dan daging juga beberapa ekor ikan. Mereka juga membeli bahan-bahan dapur yang di perlukan untuk keperluan memasak mereka. Dan mereka juga membeli beberapa karung beras. Membeli gula dan juga teh.


”Apa sudah selesai?” Hamid bertanya saat Halima sudah melangkah keluar dari pasar sayur.


”Iya, sudah selesai.” sahut Halima.


”Apa masih ada barang yang ingin kalian beli?” tawar Hamid.


Sebenarnya ia, jika kamu gak keberatan belikan dong keperluan pribadi kami. Tidak usah Mike up. Yang penting


seperti handbody, parfum, vitamin rambut, dan lipgos.


batin Halima.


”Tidak ada.” ucap Halima.


”Kalau keperluan kamar mandi kalian masih ada?” tanya Hamid lagi.


”Sudah berkurang.” jawab Halima.


”Kalau begitu, mari kita beli itu dulu, baru kita pulang.” tawar Hamid. Halima mengangguk.


Hamid mengantar Halima dan Mulfa ke toko Halim yang di jaga oleh Denis. Denis menyambut Hamid dengan senang.


”Halo, Bang. Gimana kabarnya?”


”Alhamdulillah, kabar ku baik. Bagaimana dengan mu?"


”Alhamdulillah, aku baik juga, Bang.” sahut Denis. Denis melihat Halima dan Mulfa yang berdiri di samping Hamid. ”Ini...pacar baru Abang kah?” bisik Denis pada Hamid.


”Sembarangan!” Hamid memukul jidat Denis. Hingga Denis meringis kesakitan. ”Kenalkan, cewe yang pakai baju merah maroon ini, namanya Ima, dan yang satunya adiknya namanya Upa. Mereka adalah sepupu ku yang baru datang di kota ini.” jelas Hamid sedikit berbohong. ”Upa, Ima, kenalkan ini temanku, namanya Denis.”


”Oh, kirain pacar barunya, Abang.” ucap Denis dengan kikuk. ”Salam kenal yah dariku, namaku Denis.” ucapnya lagi pada Halima dan Mulfa.


”Iya Bang, salam kenal kembali.” sahut Halima dengan sopan.


”Ima, Upa, tanyakan saja barang yang kalian butuhkan pada Denis. Biar Denis yang akan ambilkan barangnya.” ucap Hamid. Ia duduk di bangku yang di duduki Denis tadi. "Kalian beli saja apa yang kalian butuhkan, tidak usah malu-malu.”


Hum, kamu yang meminta yah Hamid. Aku tidak malu-malu menyebut barang yang aku butuhkan. Jangan salahkan aku yah, jika duit mu terkuras.


batin Halima.

__ADS_1


"Hum,” sahut Halima. ”Bang Denis, tolong ambilkan saya sabun botol citra yang bengkuang dua, handbody citra bengkoang juga dua, sampo clear yang renteng dua juga, vitamin rambut venon dua juga, lipgos warna pink dua, parfum soft juga dua botol, dan odol Pepsodent juga dua. Semuanya botol yang besar.”


__ADS_2