
Geo dan Syakila sama-sama tidak bisa tertidur. Masing-masing tenggelam dalam pemikirannya. Geo terus memandangi Syakila yang sedang melihat langit-langit atap kamar.
Apa yang sedang kau pikirkan Syakila? Apa kamu memikirkan perkataan om mu? Mulai besok kamu harus menyimpan kontak nomor ku dan nomor mama. Apa yang di bilang om mu ada benarnya.
Syakila mendesah kan nafas di udara.
Ada apa dengan Geo? Dia bilang serius meminta maaf padaku, apakah itu benar? Apa dia punya motif lain di belakangku? Minta maaf? Minta maafnya sangat tiba-tiba, sungguh mengundang pertanyaan!
Ah, Sudahlah! Mengapa aku harus memikirkan itu sekarang? Yang harus ku pikirkan adalah bagaimana aku akan menjelaskan tentang pernikahan ku kepada om Denis. Apa yang harus ku katakan pada Om Denis nanti? Aku yakin sekarang om Anton pasti sudah mendengar hal ini dari om Denis. Jadi, om Anton juga akan menagih penjelasan dariku.
Syakila menoleh melihat ke arah Geo. Geo berpura-pura memejamkan mata ketika Syakila akan melihat ke arahnya, agar Syakila tidak menyadari jika dirinya sedang memperhatikan Syakila.
Syakila bangun dari baringnya, tatapannya masih menatap Geo yang masih berpura-pura tidur. Ia berdiri, perlahan ia berjalan mendekati ranjang Geo. Ia duduk di bibir ranjang, tangan kirinya menakup pipi kanan Geo.
Geo, apa yang harus ku katakan kepada om ku tentang mu? Tentang pernikahan kita? Apakah aku harus memberitahu mereka segalanya?
Syakila menghela nafas, ia beranjak berdiri. Ia memperbaiki selimut Geo agar selimut itu menyelimuti tubuh Geo dengan benar. Ia kembali ke sofa, meraih hape dan pergi ke balkon kamar dengan pelan.
Geo membuka mata, ia melihat ke arah balkon yang pintunya sedang terbuka.
Syakila, sepertinya aku sudah tahu apa yang sedang kamu pikirkan sekarang.
Notifikasi nada di handphone Geo berbunyi. Ia meraih handphone dan melihat ke layar tertulis memanggil mama...
”Dia menelfon mamanya di tengah malam begini. Hal ini membuatnya gelisah. Apa aku harus mendengar pembicaraan di antara mereka? Apa aku terlihat sopan jika mencuri dengar pembicaraan antara ibu dan anak itu?”
Geo menggeleng, ia menyimpan hape di sampingnya, ia putuskan untuk tidak mendengarkan pembicaraan antara Syakila dan ibunya. Geo kembali memejamkan mata ketika mendengar suara pintu balkon tertutup dan di kunci. Ia tahu jika Syakila sudah masuk kembali ke kamar.
Syakila duduk di sofa. Pikirannya masih belum tenang meskipun sudah menelfon ibunya.
Kak Sardin, biasanya aku selalu bertukar pikiran dengannya setelah aku menjalin hubungan dengannya. Tapi sekarang, apakah pantas aku bertukar pikiran lagi dengannya?
Syakila memandang Geo.
Sementara suamiku sekarang adalah Geo. Apakah kami harus saling berbicara dengan baik sekarang? Tapi, jika dia mulai untuk bertengkar bagaimana? Dia selalu berkata pedas dan ketus padaku, ia juga sering berbicara kasar padaku. Bagaimana kami bisa berbicara dengan baik. Ah, terakhir kali kami berbicara di taman, ia mendengar kan bicaraku. Apakah sekarang aku harus bicara baik-baik dengannya?
Syakila kembali berdiri, ia mendekati ranjang Geo. Ia mengulurkan tangan ingin memegang wajah Geo.
Dia sudah tidur, aku pasti mengganggu tidurnya. Besok saja baru aku bicarakan dengannya.
Tangan yang hampir menyentuh pipi Geo, ia menariknya kembali. Ia memutar badan dan kembali ke sofa, langkahnya terhenti saat Geo menahan tangannya. Syakila menoleh, melihat Geo.
”Geo, maaf, kamu terbangun gara-gara aku.” ucap sesal Syakila.
”Duduklah, ku lihat kamu sangat gelisah.”
Syakila duduk di bibir ranjang, perhatiannya tidak teralihkan dari memandang wajah Geo.
Dia berkata dengan lembut, sepertinya dia ingin mengajak ku berbicara. Ini waktunya untuk berbicara dengan dia.
”Apa wajah ku begitu tampan, sampai matamu enggan berkedip untuk memandang ku?” tanya Geo seketika.
Syakila menghela nafas. Ia memutar malas kedua bola matanya. Ia memalingkan pandangannya ke lantai.
”Tidak ada yang lebih tampan di dalam hatiku dan di mataku selain kak Sardin.” jawabnya dengan ketus.
”Kau terlalu jujur membandingkan aku yang suamimu ini dengan mantan kekasih mu. Apa kamu gelisah karena memikirkan mantan mu? Tolong bantu aku untuk duduk bersandar.”
__ADS_1
Syakila membantu Geo, Geo kini duduk bersandar. Syakila kembali duduk di bibir ranjang.
Hah, biasanya jika aku sudah menyinggung hatinya, dia akan balik berkata kasar padaku bahkan ia akan marah dan menatapku dengan tajam. Tapi kali ini, ini pertama kalinya dia memang bersikap lembut padaku, pandangannya juga lembut.
”Aku sedang tidak memikirkan dia, aku memikirkan hal lain.”
”Oh, apa yang kamu pikirkan sampai-sampai tidak bisa membuatmu tenang?”
Syakila menunduk, ”Ini tentang mu, tentang pernikahan kita.”
Geo terkejut. Dahinya mengernyit, ”Tentang ku? Pernikahan kita? Aku tidak menyangka ternyata aku begitu penting di hatimu sampai-sampai membuatmu segelisah ini?” senyum kecil ia sematkan di akhir ucapannya.
Syakila memandang kesal pada Geo.
”Hai, pandangan macam apa itu yang kau berikan padaku? Jangan memandang ku dengan wajah kesal mu! Kecantikan mu berkurang, jangan kesal, aku hanya bercanda.” ucap Geo lagi.
”Aku baru tahu ternyata seorang Geovani Albert bisa bercanda di tengah malam begini hanya untuk menggoda seorang wanita.” sahut Syakila dengan ketus.
Geo tertawa kecil, ”Yah, aku senang kamu sudah mengetahui itu, jadi kamu tidak akan tergoda padaku hanya karena aku menggoda mu kan?” sebelah alisnya terangkat melihat Syakila.
”Jangan bermimpi! Aku tidak akan tertarik padamu! Seganteng apapun kamu, sekaya apapun kamu, semenggoda apapun kamu di mataku, aku tidak akan tertarik sedikit pun padamu. Jadi, kamu jangan khawatirkan itu, itu tidak akan terjadi. Karena di hatiku, nafasku, jiwaku hanya ada Sardin Ampagara seorang.”
”Wah, ini kedua kalinya dalam semalam kamu membandingkan suamimu ini dengan pria lain. Apa kamu tidak merasa berdosa dan bersalah padaku, Syakila?”
”Sama sekali tidak! Kita berdua lebih tahu bagaimana hubungan kita yang sebenarnya, jadi, jangan berpikir yang macam-macam.”
Geo tersenyum kecut, ”Baiklah, baiklah, mari kita bicara ke pokok pembicaraan yang sebenarnya. Ada apa dengan ku juga dengan pernikahan kita?”
Syakila menghela nafas, ”Om ku ingin penjelasan dariku, mengapa mamaku menikahkan aku dengan pria seperti mu. Aku bingung untuk menjelaskan ini padanya, aku tidak ingin berbohong kepada om ku. Tapi, aku juga tidak ingin om ku tahu jika kita menikah karena terpaksa. Apa kamu mau ikut dengan ku menemui om ku untuk menjelaskan pernikahan kita ini?” ungkapnya.
Syakila mengangguk pelan.
”Lalu, bagaimana dengan ibumu? Tidak mungkin om mu tidak akan menelfon ibumu untuk menanyainya.”
”Untuk mamaku, aku sudah beritahu pada mama untuk tidak mengatakan apapun kepada om Denis atau om Anton tentang pernikahan kita. Aku beritahu mama biar aku sendiri yang menjelaskan hubungan kita kepada om Denis.”
”Apa kamu yakin ibu mu akan berdiam seperti yang kamu ucapkan ini?”
Syakila mengangguk dengan yakin. ”Mamaku sangat menghargai putusan ataupun ucapan anak-anaknya selagi itu adalah hal yang benar.”
”Oh, lalu, mau mu aku akan berbicara apa pada om mu nanti?”
”Jika kamu bilang kita berdua saling mencintai dan menikah, om ku tidak akan percaya. Karena mereka tahu jika aku sangat mencintai Sardin, mereka juga tahu aku orang yang tidak mudah untuk jatuh cinta.”
”Kalau begitu, aku bilang saja pada mereka kalau kita menikah karena perjanjian. It__”
”Aku tidak ingin mereka tahu kita menikah karena terpaksa, atau lebih jelasnya aku menikah dengan mu karena keluarga mu mengancam keluarga ku.” ucap Syakila memangkas ucapan Geo.
Geo tersenyum kecil, ”Sepertinya kamu sangat peduli tentang ku dan keluargaku. Kamu tidak ingin mereka tahu jika kamu menikah dengan ku karena kami yang mengancam mu, itu karena kamu tidak ingin aku di marahi oleh keluargamu dan kamu tidak ingin keluargamu memandang rendah keluargaku 'kan?”
Syakila menghela nafas kasar, ” Itu karena status kamu suamiku, dan keluargamu adalah keluargaku juga. Jadi, sudah sepantasnya aku memikirkan reputasi keluarga mu dan keluarga ku, meskipun pernikahan kita ini hanya pura-pura.”
”Lalu, bagaimana dengan Sardin? Apa kamu yakin dia tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya kepada Anton? Bukankah Anton adalah pamannya?”
Syakila tersenyum, ”Kamu jangan khawatirkan tentang Sardin, dia bukan tipe orang seperti itu. Kami berdua saling memahami, dia tidak akan melakukan hal apapun sebelum bertanya padaku jika itu menyangkut tentangku.”
Geo tersenyum kecut, ”Ternyata kalian saling mencintai satu sama lain. Baiklah, bagaimana jika aku bilang, kita menikah karena suatu kecelakaan yang tidak bisa di hindari?”
__ADS_1
Syakila memicing melihat Geo, ”Maksudmu?”
”Jika aku bilang aku memperkosa mu lalu menikahi mu untuk mempertanggung jawabkan perbuatan ku, mereka tidak akan percaya padaku karena fisikku yang duduk di kursi roda. Tetapi, jika aku bilang aku menikahi mu untuk melindungi mu dari fitnahan masyarakat karena kamu menolong ku dalam sebuah kamar mereka akan percaya 'kan? Dan kamu menerima menikah dengan ku untuk melindungi nama baik keluarga kita dari pandangan buruk masyakarat mereka pasti akan percaya.”
”Lalu, jika mereka bertanya aku menolong mu dalam hal apa, apa yang akan kamu katakan?”
”Gampang, aku tinggal bilang kamu menolongku saat mendengar suara teriakan minta tolong ku, kamu masuk ke rumah ku yang tidak terkunci dan masuk ke kamar ku. Saat kamu menolongku tidak sengaja kita berdua terjatuh dan badan ku berada di atas mu dan tiba-tiba ada orang yang melihat kita dalam posisi itu. Jadi, daripada menimbulkan gosip yang tidak-tidak kita berdua menikah. Bagaimana? Apa ucapan ku masuk akal?”
Syakila kembali menghela nafas, ”Baiklah, terserah mu saja, yang penting itu tidak merugikan mu, tidak merugikan ku, dan tidak merugikan keluarga kita berdua.”
”Hum, jadi, apakah sekarang kamu sudah sedikit tenang?”
Syakila mengangguk.
”Kalau begitu, kamu istrahat lah, aku juga mau istrahat. Ini sudah larut malam, lihatlah sudah jam satu lewat lima belas menit. Bantu aku berbaring.”
Syakila membantu Geo berbaring, ia kembali duduk. Ia melihat jam di dinding, pukul 01.15 menit. Memang sudah sangat larut malam, benak Syakila.
”Apa sebaiknya kamu tidur di ranjang ku saja biar tidur mu nyenyak, Syakila.”
Syakila memandang Geo dengan dahi mengerut.
”Tenang saja, aku tidak akan apa-apain kamu, lagi pula kondisi ku seperti ini mana mungkin aku bisa meniduri mu.” ucap Geo lagi.
Syakila berdiri dari duduknya, ”Tidak, terima kasih, aku tidur di sofa lebih nyaman di banding tidur di ranjang mu. Terima kasih, karena sudah mengajak ku berbicara dan membuat ku sedikit tenang. Kamu istrahat lah, aku juga mau istrahat.” ucapnya sambil berjalan ke arah sofa.
Syakila berbaring, ia memejamkan mata, lima menit kemudian, ia membuka matanya kembali dan melihat ke arah Geo.
Eh, apa dari tadi Geo memandang ku? Mengapa tatapan kami harus bertemu seperti ini?
”Ada apa? Kenapa tidak tidur? Apa masih ada yang mengganjal di pikiran mu? Katakan saja!” ucap Geo.
”Apa kamu tidak apa-apa bertemu dengan keluargaku? Aku yakin, di sana pasti bibi Serlina dan bibi Samnia akan datang untuk menemui kita berdua.”
”Oh, nanti aku bilang pada bibi ku untuk mendengar pembicaraan kita dari ruangan lain saja. Aku akan memanggil bibi ku dua-duanya untuk tidak menggangu pembicaraan kamu dan Om ku.” ucap Syakila lagi.
Geo tersenyum kecil, ”Terserah mu saja, aku percaya padamu.”
Deg
Perasaan apa ini? Mengapa jantung ku berdetak cepat hanya karena ucapannya yang percaya padaku? Apa dia benar-benar mempercayai ku?
”Hum,” singkat Syakila menyahut.
Aku terlalu banyak berpikir, ia hanya tidak ingin berkata dan bersikap kasar padaku. Jadi, jangan sampai aku terlena dengan sikap baik dan perkataan lembutnya padaku.
Syakila kembali memejamkan matanya. Ia sudah tidak memikirkan apa-apa lagi, ia tertidur dalam sekejap.
Sementara Geo, ia masih memandang wajah Syakila.
Bisa berbicara baik sama dia, membuat ku senang. Aku tidak akan menyulitkan mu di hadapan keluargamu. Kamu melindungi ku di depan keluarga mu, kamu menutupi kesalahan ku di hadapan ibu mu. Syakila, mulai besok, aku tidak akan berbicara kasar lagi dan bersikap kasar padamu. Bukan karena aku sudah tertarik atau menyukai mu, ini semua karena keluarga mu. Jadi, saat kita berpisah nanti hanya kenangan manis yang melekat di kenangan kita.
Kamu sangat memahami Sardin, Sardin juga memahami mu. Sepertinya, kalian berdua memang saling mencintai. Begitu besar kah cintamu padanya? Seandainya aku bisa mendapatkan cinta yang besar dari seorang gadis yang ku cintai, aku pasti orang yang sangat bahagia.
”Selamat malam Syakila, bermimpi lah yang indah.” gumam kecil Geo.
Ia memejamkan mata dan tertidur.
__ADS_1