Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 122


__ADS_3

Di rumah sakit, ruangan Sardin.


”Sardin, bagaimana, Nak? Apa perutmu masih terasa sakit? Apakah perasaan mu masih tidak enak?” tanya Nesa khawatir.


Ketika ia hampir terlelap dalam tidurnya, tiba-tiba saja ia mendengar suara jeritan Sardin. Anaknya itu berteriak kesakitan sambil memegang perutnya. Perasaannya tidak enak, dan badannya gemetar. Sardin mengadu kesakitan di perutnya, perih, seperti tertusuk pisau. Nesa begitu khawatir, sehingga ia membangunkan suaminya dan memanggil dokter dengan panik.


Setelah menjalani pemeriksaan, dokter mengatakan tidak ada hal yang serius yang harus di khawatirkan, karena Sardin baik-baik saja. Di perutnya tidak terjadi masalah apapun.


Dengan perasaan yang masih cemas, Nesa membiarkan sang dokter pergi setelah mengatakan Sardin, anaknya baik-baik saja.


”Iya, Mah. Aku tidak tahu, mengapa tiba-tiba merasakan kesakitan dan perasaan tidak enak ini. Mama, aku khawatir dengan Syakila. Jangan-jangan telah terjadi sesuatu padanya.”


”Tidak ada hal buruk yang akan terjadi padanya. Kamu tenangkan saja hati dan pikiran mu. Fokuslah pada pemulihan dirimu sendiri. Jangan terlalu berfikir dengan keras, di kepalamu masih ada luka.”


”Tapi, Mah. Aku benar-benar khawatir pada Syakila.” ucap Sardin dengan cemas dan gelisah.


Nesa terdiam.


Apakah benar apa yang di rasakan Sardin tentang Syakila? Beberapa hari yang lalu, Sardin mengalami kecelakaan, Syakila merasakan sakitnya. Apakah kesakitan yang di rasakan Sardin adalah rasa sakit yang di alami Syakila? Apakah benar Syakila sedang tidak baik-baik saja sekarang? Apakah benar hati mereka sudah menyatu seperti yang sering Sardin ucapkan padaku? Seandainya saja, mereka berdua juga bisa menyatu seperti hati mereka, sungguh bahagianya aku melihat putraku yang bahagia.


”Baiklah, biar kamu tidak cemas lagi, Mama akan hubungi Syakila.” ucapnya kemudian, menenangkan hati Sardin yang gelisah.


Nesa mengambil handphone Sardin yang berada di atas nakas, ia menghubungi Syakila melalui handphone Sardin.


”Nomornya sedang tidak aktif, mungkin hapenya sedang di ces. Kamu istirahat lah. Jangan banyak berfikir yang tidak-tidak, pikirkan saja yang baik-baik tentang Syakila.”


”Iya, Mah. Aku mengerti, aku akan kembali istrahat.”


Sardin memejamkan matanya, ia tidak ingin mamanya mencemaskan dirinya. Meskipun demikian, ia tidak bisa memungkiri akan perasaan cemasnya terhadap Syakila, wanita yang sangat di cintainya itu, wanita yang masih memberikan harapan untuknya di miliki.


Syakila, kakak harap kamu baik-baik saja. Jangan membuat kakak cemas, Kila.


.. .. ..


Di klinik kediaman Rivaldi, guru silat Syakila.


Rivaldi memasukkan mobilnya di garansi. Ia turun dari mobil sambil menggendong Syakila dan membawanya masuk ke klinik pribadinya dengan terburu-buru dan tergesa-gesa.


”Guru, guru sudah datang.” ucap asisten pribadi Rivaldi. Ia membukakan pintu klinik agar Rivaldi leluasa masuk ke dalam ruangan. ”Siapa gadis itu guru? Apa dia sedang pingsan? Ah..dia sedang terluka!!” ucapnya lagi terkejut melihat darah di perut wanita itu.


”Hum,” singkat Rivaldi menyahuti. Ia membaringkan Syakila di atas ranjang pasien dengan pelan-pelan.


”Bersihkan peralatan ku dan pergilah ke halaman belakang, petik beberapa lembar daun Madeira Vine untuk ku.”


”Baik, guru.”


Asisten Rivaldi mengikuti perintah gurunya, ia mencuci peralatan sang guru, lalu, ia mengeringkannya dengan handuk bersih. Kemudian, ia menyimpannya di atas meja, di samping ranjang pasien.


”Alatnya di sini guru, saya sudah mencuci dan melapnya hingga kering.”


”Hum, terima kasih.”


”Iya, guru.”


Sang asisten keluar dari ruangan dan pergi ke halaman belakang, di mana terdapat beberapa pohon dan daun jenis obat-obatan yang di tanam sendiri oleh Rivaldi di sana.


Rivaldi pergi mencuci tangannya. Setelah bersih dan di lap kering, ia mendekati Syakila di ranjang pasien. Ia menggunting baju Syakila di bagian perut yang luka.


Dengan tenang dan hati-hati, ia menekan area luka tersebut agar darah berhenti keluar. Lalu, ia menggunting sedikit kulit yang terbuka dari luka tersebut. Lalu, ia membersihkan luka Syakila menggunakan air dan handuk halus.


Asisten Rivaldi masuk kembali ke dalam ruangan dengan membawa beberapa helai daun Madeira Vine di tangannya.


”Guru, ini daunnya.” ucapnya sembari menunjukkan daun tersebut kepada sang guru.


”Cuci bersih dan tumbuk hingga halus.” sahut sang guru. Ia masih fokus membersihkan luka Syakila, dan membersihkan darah yang menempel pada kulit di sekitar area yang terluka.


”Baik, guru.”


Sang asisten mencuci bersih daun tersebut, lalu ia menumbuk daun itu.


Setelah luka dan kulit sekitar area yang luka sudah bersih, Rivaldi kembali mencuci tangan. Setelah itu, ia mengambil selang, jarum infus dan cairan infus koloid, dan kembali menghampiri Syakila. Ia menginfus Syakila.


”Guru, ini daunnya telah halus.” ucap sang asisten menyerahkan daun yang sudah di tumbuk halus tersebut kepada sang guru.


Sang guru mengambil dan melihatnya. Beberapa menit kemudian, ia mengangguk, daunnya sudah halus, benar-benar halus seperti yang ia inginkan.


”Terima kasih. Kamu, pergilah membeli satu set pakaian wanita ukuran M, cari baju yang memakai kancing. Pakaian itu berikan pada bibi yang di rumah. Bilang pada bibi, aku menyuruhnya datang kesini dengan membawa pakaian tersebut.”


”Baik, guru.”


Sang asisten menuruti ucapan sang guru. Ia pergi membeli pakaian sesuai perintah dari sang guru.


Rivaldi mengoleskan daun Madeira Vine yang sudah halus itu pada sekitar luka di perut Syakila, setelah daun itu menutupi lukanya, ia memperban luka tersebut. Setelah itu, ia mengecek lagi kondisi Syakila.


”Syukurlah, semuanya baik-baik saja sekarang. Syakila, kamu harus segera sadar dan cepatlah sembuh.” gumamnya sambil mengelus wajah Syakila.


Ia duduk di kursi kebesarannya, sambil menatap langit-langit ruangan tersebut, ia memikirkan Syakila. Ia teringat dengan tas Syakila, ia pergi keluar menuju ke garansi mobil.


Ia membuka pintu mobil dan mengambil tas Syakila. Ia kembali masuk ke dalam ruangannya. Ia membuka tas tersebut, ia melihat isi dari dalam tasnya Syakila, ada satu buah lipstik dan bedak. Ada buku akad nikah dan handphone juga dua buah kartu kredit.


Ia mengambil buku akad nikah Syakila, ia membukanya. Ia membaca setiap tulisan yang tertulis di sana. Ia melihat foto nikah Syakila dan suaminya dengan bingung.


”Di foto ini, Syakila dan suaminya terlihat seperti tidak senang. Apa pernikahan mereka terpaksa? Disini, tidak nampak kebahagiaan yang tergambar di raut wajah maupun di mata mereka berdua. Sementara, pasangan yang menikah kan seharusnya bahagia, apalagi menikah dengan orang yang di cintai.” gumamnya lagi.

__ADS_1


Ia melihat Syakila yang terbaring di atas ranjang pasien.


Syakila, apa kamu bahagia dalam pernikahan mu?


Tok tok tok, terdengar suara ketukan dari luar, mengalihkan tatapan Rivaldi. Ia melirik ke arah pintu.


”Permisi, Tuan.”


Terdengar suara dari balik pintu yang tertutup itu.


”Masuk.” ucap Rivaldi.


Pintu terdorong terbuka. Rivaldi melihat sang bibi yang bekerja di rumahnya yang datang dengan memegang satu paper bag di tangannya.


”Tuan, ini pakaian yang di beli oleh Arul.” ucap sang bibi. Ia meletakkan pakaian tersebut di atas meja, di hadapan Rivaldi.


”Bibi, tolong bantu teman saya menggantikan pakaiannya. Pakaian yang lama di buang saja.”


”Baik, Tuan.”


Rivaldi beranjak berdiri, ia mendekati Syakila, ia melepas infus yang terpasang di tangan Syakila.


”Saya sudah melepas infusnya untuk memudahkan Bibi mengganti pakaiannya. Cepat ya, Bi. Aku keluar dulu.”


”Iya, Tuan.”


Rivaldi berjalan keluar, ia menanti sang bibi dari luar. Sang bibi menggantikan pakaian Syakila. Sesekali ia melihat raut wajah Syakila yabg masih terlihat pucat itu.


Sepertinya wajah ini sering ku lihat, tapi di mana yah? Oh..iya..aku ingat! Wajah ini...wajah ini sama dengan wajah seorang gadis yang ada di foto kamar tuan. Apa dia gadis yang di sukai oleh tuan selama ini? Apa yang terjadi padanya?


Setelah sang bibi menggantikan pakaian Syakila, ia keluar dengan membawa pakaian lama Syakila. Ia melihat tuannya sedang duduk melamun di kursi.


”Tuan, saya sudah selesai menggantikan pakaiannya.”


”Hum, terima kasih, Bibi. Itu pakaian lamanya di buang saja, Bi.”


”Baik, Tuan. Saya permisi!”


”Hum,”


Sang bibi pergi dari hadapan Rivaldi, ia berjalan sampai keluar pagar, ia membuang pakaian lama Syakila di tong sampah, lalu, ia kembali masuk ke dalam rumah.


Rivaldi masuk kembali kedalam ruangannya. Ia mendekati Syakila, ia kembali memasang selang infus di tangan Syakila. Ia duduk di samping Syakila, mengelus lembut wajahnya.


”Syakila, cepatlah sadar. Aku sedih melihat mu seperti ini. Aku ingin melihat manisnya senyum mu.”


Ia mengingat kembali betapa manisnya ketika ia melihat senyum Syakila saat pertama kali Syakila tersenyum padanya. Ia kembali duduk di kursi kebesarannya. Ia melihat handphone Syakila.


”Aneh, dari tadi handphonenya tidak berbunyi, apakah mereka tidak mencari Syakila?” gumamnya.


”Oh..pantas gak ada yang menghubungi, ternyata handphonenya tidak aktif.” gumamnya lagi.


Ia mengaktifkan handphone Syakila, ia menggesek layarnya, namun, layar tidak tergesek. Syakila memakai kata sandi.


”Sayangnya dia memakai kata sandi. Sewaktu mudanya dulu, bebas aku membuka handphonenya. Sekarang sudah memakai kata sandi. Mana baterainya sudah merah tinggal dua persen. Aku ces dulu hapenya.”


Ia menonaktifkan kembali handphone Syakila, kemudian, ia meraih casnya di dalam laci, ia mencharger hape Syakila.


.. ..


Di kediaman Sarmi.


Hati Sarmi dan Geo bergejolak aneh. Mereka berdua tiba-tiba merasakan kecemasan yang berlebihan. Tetapi, mereka berdua sama-sama menyembunyikan perasaan itu dari yang lain.


”Mama, mengapa Hardin belum juga datang dari menjemput Syakila?” tanya Fatma.


”Mama juga tidak tahu, coba kamu telfon dia. Seharusnya mereka sudah tiba, tapi ini....” sahut Sarmi, ia sedikit memperlihatkan rasa khawatir.


Geo tidak bersuara, ia terdiam memikirkan Syakila.


Mengapa aku gelisah seperti ini? Syakila, apa sesuatu terjadi padamu? Semoga kamu baik-baik saja.


Fatma mengambil handphone mencari nomor Hardin di kontaknya. Ia menelfon Hardin.


”Assalamu 'alaikum.” Hardin masuk ke dalam rumah yang pintunya tidak tertutup itu dengan memberi salam.


”Wa 'alaikum salam,” sahut Fatma, Geo, dan Sarmi bersamaan.


Melihat adiknya datang, Fatma mematikan telfonnya. Hardin duduk di samping Fatma.


”Dik, mengapa baru pulang? Mana Syakila?” tanyanya.


”Loh, Kakak Syakila belum pulang?” jawab Hardin dengan wajah bingungnya.


”Memangnya kamu gak ketemu Syakila di rumah sakit?” Geo yang bertanya. Ia menampakkan wajah khawatirnya.


Apakah Syakila benar-benar tidak baik-baik saja? Apakah perasaan gelisah yang kurasakan ini... Syakila... Tidak, itu tidak mungkin... Syakila pasti baik-baik saja.


Geo menenangkan perasaannya sendiri, meskipun gelisah semakin menggaluti hati dan pikirannya.


”Iya, aku tidak bertemu dengan kakak di sana. Aku cek kakak sampai ke dalam rumah sakit, tapi, mamanya kak Sardin bilang, kalau kakak sudah pulang, dan mungkin menggunakan taksi. Jadi, seharusnya kakak sudah pulang 'kan?” jawab Hardin.


”Apa?!” ucap Geo, ia terdiam kemudian. Tanpa berucap apa-apa lagi, ia pergi ke kamarnya.

__ADS_1


Sarmi, Hardin, dan Fatma hanya memandang Geo yang pergi tiba-tiba ke kamarnya.


”Perasaan Mama tidak enak semenjak tadi, Mama mengkhawatirkan Syakila.” ucap Sarmi kemudian.


”Mama, tenanglah, kakak pasti baik-baik saja.” sahut Hardin, ia menenangkan pikiran mamanya. ”Aku coba hubungi nomornya kakak dulu.”


Hardin mengambil hapenya, ia mencari kontak Syakila dan menelfon nya. Semenit kemudian, ia menggeleng lemah. Wajahnya mulai menampakkan rasa cemas.


”Nomor kakak gak aktif, Mah.” ucapnya pelan.


”Mama, aku akan kembali mencari kakak di rumah sakit, mungkin saja kakak masih di sana.” ucap Hardin lagi. Ia beranjak berdiri, dan memakai kembali helmnya.


”Kamu hati-hati yah, Nak.” sahut Sarmi.


”Dik, tunggu kakak, kakak ikut kamu mencari Syakila.” ucap Fatma.


”Fatma, kamu di rumah saja. Kalau kamu pergi ikut adikmu, lalu jika bertemu dengan Syakila, Syakila akan ikut siapa pulang?” sahut Sarmi.


”Iya, Mama benar, kak. Kakak tunggu di rumah saja.” sahut Hardin.


”Tunggu, aku dan Fatma akan ikut dengan mu mencari Syakila.” ucap Johansyah yang baru datang dari kamar.


Sarmi menghela nafas, ”Baiklah, kalian berhati-hatilah di jalan.” ucapnya.


”Iya, Mah.” sahut mereka bertiga bersamaan. ”Assalamu 'alaikum.” ucap mereka bertiga lagi berpamitan.


”Wa 'alaikum salam.” sahut Sarmi.


Mereka bertiga pergi mencari Syakila kembali di rumah sakit, Sarmi terus memandang punggung anak dan anak mantunya dari bibir pintu.


Ya Allah, lindungilah selalu anak-anak ku di mana pun mereka berada. Jauhkan mereka dari segala amarah-Mu, jauhkan mereka dari segala musibah-Mu, hanya pada-Mu tempat kami meminta pertolongan. Aamiin.


Ia berbalik masuk ke dalam rumah setelah tidak melihat punggung anak-anaknya lagi. Ia duduk di kursi sofa sendirian menanti kepulangan anaknya.


.. ..


Di kamar Syakila.


”Bego, goblok, mengapa aku tidak mendengarkan perkataan Ijan. Seandainya, aku mendengarnya, Syakila sekarang sudah pulang bersamaku.”


Geo menyalahkan dirinya sendiri atas tidak pulangnya Syakila. Kini ia benar-benar sangat khawatir, apalagi ketika ia mengingat kembali perkataan preman yang mengejar mobil mereka tadi. Jika mereka di bayar untuk mencari dan menangkap Syakila.


”Bodoh kamu Geo! Kamu lelaki tidak berguna!”


Ia mengambil handphonenya, ia mencari kontak Syakila, ia menghubungi nomor tersebut.


”Sial, nomornya tidak aktif!”


”Argh!!” teriaknya frustasi.


Ia menghubungi Ijan, telfon tersambung.


”Halo, Tuan!” sapa Ijan di sebrang sana.


”Datang kembali ke kediaman Sarmi, jemput aku!” ucap Geo.


Tanpa menunggu sahutan Ijan, ia memutuskan sambungan teleponnya.


”Syakila, kamu harus baik-baik saja! Jika tidak, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri!” gumamnya.


Lima belas menit kemudian, Ijan datang ke rumah Sarmi.


Tok tok tok, ia mengetik pintu.


”Assalamu 'alaikum,”


Spontan, Sarmi bergegas membukakan pintu rumah, ”Kamu...”


”Maaf, Nyonya besar, saya Ijan, saya datang untuk menjemput tuan Geo.”


”Oh, silahkan masuk. Geo ada di kamarnya, biar ku panggilkan.” sahut Sarmi.


”Tidak usah, Mah. Geo sudah ada di sini.” sahut Geo, yang sekarang berada di belakang Sarmi.


Sarmi menoleh,


”Mama, aku akan pergi mencari Syakila.” pamit Geo.


”Tapi, Nak. Ini...”


”Mah, aku adalah suami Syakila, Syakila pergi bersama ku tadi. Jadi, aku bertanggung jawab atas tidak pulangnya Syakila. Aku pergi!” ucap Geo menyangga ucapan Sarmi.


Sarmi terdiam.


Jika aku melarangnya untuk mencari Syakila, apa yang akan dia pikirkan tentang ku? Hanya karena cacat, aku melarangnya mencari Syakila, bukankah itu akan melukai perasaannya sebagai seorang suami?


Ia menghela nafas. ”Baiklah, berhati-hatilah di jalan.” ucapnya.


”Iya, Mah. Ijan, ayo pergi!” ajaknya pada Ijan.


”Baik, Tuan.”


Ijan mendorong kursi roda Geo hingga ke mobil. Lalu, ia membantu Geo naik ke mobil bersama seorang lagi kepercayaan Geo.

__ADS_1


Mereka pergi mencari Syakila. Sarmi kembali masuk dan menutup pintu, ia kembali duduk termenung di kursi sendirian.


”Syakila...” gumamnya.


__ADS_2