Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 202


__ADS_3

Di rumah sakit.


Geo memperhatikan wajah Syakila dengan seksama. Dalam keadaan Syakila yang tertidur begitu, Geo berpuas diri memandang wajah Syakila yang teduh.


Bila waktu Syakila sudah sadar, untuk melihat wajah Syakila tidak akan ada kesempatannya lagi. Syakila mungkin saja langsung pergi ke kota S bersama Sardin. Melakukan akad nikah di kota tersebut.


Baru memikirkan hal itu saja sudah membuat hati Geo sakit. Apalagi jika dia menyaksikan sendiri pernikahan Syakila dan Sardin? Hatinya gak akan kuat untuk menerima kenyataan itu.


Geo mengecup kening Syakila. Ia melihat jemari tangan Syakila dan menggenggamnya.


”Syakila. Bangunlah! Ku mohon! Jika bukan karena ku, bangunlah untuk Sardin. Kamu mencintainya kan? Maka dari itu, bangunlah! Jangan membuat orang-orang yang menyayangimu khawatir.”


”Kamu tahu, mama mu selalu menghubungi bibimu, Samnia untuk berbicara dengan mu. Mama mu sudah mulai curiga jika yang berbicara dengannya selama beberapa hari ini bukan kamu. Kamu ingin mama mu tahu jika keluarga mu di sini telah berbohong padanya? Apa kamu gak kasian sama keluarga mu yang di sini? Bangunlah, sebelum mamamu menyadari semuanya.”


”Syakila, bukan kah kamu selalu ingin bercerai dariku? Aku sudah mewujudkan keinginan mu itu. Kamu sudah lepas dariku. Kamu ingin menikah dengan Sardin kan? Bangunlah, capai lah mimpimu itu! Sardin sudah menunggu mu.”


Geo mencium punggung jari Syakila. ”Aku janji, asal kamu bangun. Aku tidak akan muncul di hadapan mu lagi. Kecuali kamu yang meminta ku untuk bertemu baru aku akan datang menemui mu. Aku janji untuk itu...bangunlah! Apa kamu gak capek tidur sepanjang hari?”


Geo selalu mengajak Syakila berbicara. Meskipun tidak ada tanggapan dari wanita yang berbaring itu, dengan ucapan para dokter ahli, jauh di alam bawah sadar Syakila, dia mendengarkan semua ucapan orang-orang yang ada di sekitarnya.


Geo kembali mencium jemari tangan Syakila. Ia menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu ruangan terbuka.


Geo segera melepaskan genggaman tangannya pada jemari tangan Syakila, saat mamanya berjalan masuk ke dalam.


”Syakila belum sadar juga?”


”Iya, Mama.” jawab Geo.


”Sardin belum juga datang menjenguk Syakila?” Rosalina meletakkan paper bag di atas meja. ”Mama bawakan kamu pakaian ganti. Kamu mandilah! Syakila, Mama akan jaga.”


”Terima kasih, Mah. Geo sudah merepotkan Mama.” ia menjeda ucapannya sejenak. ”Sardin belum datang menjenguk Syakila. Mungkin bibi dan pamannya masih belum mengizinkan Sardin untuk menemui Syakila.” lanjutnya berucap.


”Kenapa mereka menahan Sardin untuk menemui Syakila, yah?” Rosalina penasaran.


”Tidak tahu Mah. Mungkin mereka memikirkan perasaan ku. Sementara aku ada di sini, mereka mencegah Sardin datang.” tebak Geo.


”Masalah cinta memang rumit!” ucap Rosalina. Ia duduk di sisi ranjang Syakila. Menatap anaknya sebentar, lalu melihat Syakila.


”Besok Geo akan mencoba bekerja di kantor. Mungkin saja, saat aku tidak ada di sini, mereka akan mengizinkan Sardin datang ke sini menjenguk Syakila. Aku memang penghalang cinta mereka berdua.” wajahnya terlihat sedih.


Rosalina melihat anaknya itu dengan sedih. Entah apa yang akan dia ucapkan untuk menanggapi perkataan Geo.


Pemikiran Geo tentang keluarga Syakila yang menjaga perasaan Geo, bisa saja itu benar. Tapi...dalam pemikirannya sendiri, keluarga nya Syakila tidak seperti itu.


”Tidak perlu kawan! Maaf, aku baru datang kesini, menjenguk Syakila. Kita jaga Syakila bersama-sama sampai Syakila sadar.” ucap Sardin yang melangkah masuk ke dalam ruangan.


Geo dan Rosalina menoleh ke arah pintu. Mereka berdua sama-sama menghela nafas lega, melihat Sardin di dalam ruangan ini.


”Tapi ketidak hadiran ku beberapa hari ini, tidak ada hubungannya dengan pemikiran mu itu. Aku tidak datang karena bibiku menjaga diriku di rumah. Bibiku akan memperbolehkan aku keluar, jika obat ku sudah habis aku minum. Dan kebetulan, siang tadi adalah obat terakhir yang ku konsumsi. Makanya aku datang kemari.” lanjut Sardin berucap, menjelaskan alasan dirinya tidak datang menjenguk Syakila. Ia duduk di sisi kiri ranjang Syakila.


Geo tersenyum kecil, ”Ah, maaf, jika pemikiran ku salah.” ucapnya.


”Tidak apa-apa! Apakah ada kemajuan pada kondisi Syakila dari sebelumnya?” tanya Sardin.


Geo menggeleng pelan, ”Tidak ada! Aku selalu mengajaknya berbicara, tapi, dia tidak memberikan respon apapun.” ia melihat Syakila.


Sardin juga ikut melihat Syakila.


Rosalina tersenyum melihat Geo dan Sardin yang akur, padahal mereka adalah sesama pejuang cinta Syakila.


”Geo, karena sudah ada Sardin di sini. Mama tidak perlu lagi menggantikan mu menjaga Syakila, ketika kamu pergi mandi. Mama akan pulang dulu. Nanti, Mama akan datang lagi kesini untuk membawakan makan malam untuk kamu dan Sardin.” ucap Rosalina.

__ADS_1


”Baiklah, Mah. Mama hati-hati di jalan.” sahut Geo.


”Iya, sayang.” Rosalina melihat Sardin. ”Sardin, Tante pulang dulu. Kalian jaga Syakila dengan baik-baik.”


”Iya, Tante. Hati-hati di jalan.” jawab Sardin.


”Hum!” singkat Rosalina menyahut. Ia pun pergi keluar dari ruangan itu.


”Kamu belum mandi? Pergilah mandi, ini sudah mau masuk malam. Jika Syakila tahu temannya mandi di malam hari, di saat temannya itu masih sakit, Syakila akan memarahi mu.” ucap Sardin.


Geo tersenyum kecil. ”Baguslah! Jika dia memang ingin memarahiku, dia harus bangun dulu. Lagi pula, aku sudah sehat.”


”Aku gak bercanda, Geo. Syakila akan benar-benar memarahi mu jika dia tahu itu. Aku sudah dua kali kena amukan dia saat aku tidak sadar mandi di malam hari, saat aku masih sakit. Dia memarahiku... mengomeli ku tanpa henti, sampai aku menutup bibirnya dengan jariku dan meminta maaf, baru dia berhenti mengomel.” ungkap Sardin, senyum mengembang di bibirnya mengingat saat itu.


Geo terdiam. Ia melihat Syakila dengan cemburu.


Sardin menyadari perubahan raut wajah Geo. ”Em...pergilah mandi. Syakila, biar aku yang jaga. Ucapan ku tadi...”


Geo tersenyum tipis, yang di paksakan. ”Aku biasa saja. Tidak perlu merasa tidak enak hati begitu.” pangkasnya.


Geo berdiri dan mengambil paper bag yang di bawa oleh mamanya tadi, di atas meja. ”Aku pergi mandi dulu, titip Syakila.” ucapnya.


”Iya.” sahut Sardin.


Geo melihat Syakila sejenak sebelum ia pergi melangkah ke kamar mandi, yang ada di dalam ruangan itu.


Geo, kamu belum bisa melepaskan Syakila seutuhnya kan? Kamu pasti sedih, kecewa, sakit hati dan tidak terima kenyataan, kan? Kamu tahu, itulah yang aku rasakan saat Syakila memutuskan aku dan menikah dengan mu. Sakit...sangat sakit! benak Sardin.


Ia menghela nafas melihat punggung Geo yang masuk ke dalam kamar mandi.


Maaf, bukannya aku ingin membalas perlakuan mu waktu itu. Aku tidak menginginkan kamu dan Syakila berpisah, jika Syakila juga mencintai mu.


Aku hanya merasa apa yang kamu alami saat ini, adalah yang aku alami saat itu. benak Sardin.


Sardin melihat Syakila dan menggenggam jemari tangan Syakila. ”Sayang! Aku ada di sini, di sisi mu, menemanimu. Kamu tidak ingin melihat ku?”


Sardin sudah mulai mengajak Syakila berbicara. Mencoba membuat wanita itu terbangun dari tidur panjangnya.


.. ..


Di dalam kamar mandi.


Geo membiarkan air mengguyur dirinya. Ia belum mandi. dia sedang menghapus rasa cemburu yang hinggap di hatinya, dengan guyuran air.


Syakila, pria yang kamu cintai sudah datang padamu..aku benar-benar cemburu...Apakah kamu akan segera bangun setelah mendengar suaranya? Panggilannya?


Syakila...aku berharap kamu tersadar ketika aku yang menggenggam jemari mu dan memanggilmu...Aku ingin aku adalah pria pertama yang kamu lihat saat kamu sadar.


Tapi keinginan mu pasti berbeda dengan ku kan? Kamu menginginkan pria yang kamu cintai, Sardin yang pertama kamu lihat saat kamu terbangun kan?


Geo tersenyum kecut, ia menangis sedih di bawah guyuran air. ”Syakila....!” panggilnya lirih.


Sebagai seorang pria tidak seharusnya ia menangis hanya karena seorang wanita. Bahkan dulu, ia pernah mengejek Sardin yang menangisi Syakila. Dan juga mengejek Syakila yang menangisi Sardin.


Kini, ia tahu mengapa Sardin dan Syakila menangis kala itu. Dia sudah merasakan sakitnya, pedihnya, karena cinta.


Kisah cintanya yang kandas bersama Yulia dan Dawiyah, membuatnya sakit, tetapi rasa sakit itu tidak menyentuh hatinya. Makanya tidak membuatnya menangis.


Tetapi rasa sakit yang ia rasakan ini benar-benar berbeda, meremukkan jantung nya, membakar dadanya, meremas hatinya. Sangat sakit, perih menghiris, menyayat seluruh kulit di tubuhnya.


Apakah itu karena dia baru pertama kali merasakan yang namanya benar-benar jatuh cinta? Tidak! Di saat berpacaran dengan Yulia dan Dawiyah, dia mencintai kedua gadis itu. Tetapi, perasaan itu tidak begitu mendalam seperti cinta yang dia hadirkan untuk Syakila.

__ADS_1


Meskipun dia belum puas menangisi kemalangan cintanya. Ia harus segera selesai mandi. Dia tidak ingin Sardin mencurigai jika dirinya sedang bersedih hati dan menangis di dalam kamar mandi.


Selesai mandi dan berganti, ia segera keluar dari kamar mandi. Ia melihat Sardin sedang memegang jemari tangan Syakila dan mengajak Syakila berbicara, seperti yang ia lakukan pada Syakila.


Ia melangkah berjalan ke ranjangnya, menaruh paper bag yang berisi pakaian kotornya itu di atas meja.


”Em...kamu tidak apakan aku tinggal sebentar? Aku ingin ke kantor ku dulu. Ada urusan yang ingin ku urus.” ucap Geo.


”Kantor? Kantor bukan menjadi alasan mu untuk meninggalkan aku sendirian di sini kan?” tanya Sardin. Ia tahu jika Geo menghindar.


”Tentu saja tidak! Setelah urusan ku selesai, aku langsung ke sini.” jawab Geo dengan yakin.


”Jika memang bukan hanya sekedar alasan mu, pergilah! Aku tidak berhak menahan mu. Aku hanya ingin kamu jangan menghindar dari aku dan Syakila.”


Geo tersenyum. ”Mengapa aku harus menghindar? Aku pergi dulu.” pamitnya.


Sardin mengangguk. Ia tahu Geo hanya menghindar saja darinya. Namun, ia juga tidak punya hak melarang Geo untuk pergi. Barangkali saja, memang benar ada yang diurusnya di kantor.


Geo melangkah keluar dan menutup pintu ruangan dengan pelan. Ia bersandar sebentar di pintu sambil memejamkan mata. Beberapa menit kemudian, ia membuka matanya. Matanya berkaca-kaca.


Ia menghela nafas lalu pergi dari sana. Tujuannya bukan ke kantor miliknya. Ia pergi ke sebuah desa yang sepi, meskipun banyak penghuninya di desa itu.


Dia pergi ke kuburan ayahnya, Albert. Ia duduk di atas pusara ayahnya itu. ”Maaf, papa. GEO baru sempat bertandang ke pusara papa.” ucapnya, menyapa kuburan ayahnya itu.


”Papa. Geo sudah menghabisi orang yang membunuh papa dengan kejam waktu itu. Geo juga minta maaf, Geo tidak bisa mewujudkan keinginan papa.” sesalnya.


”Pa, Geo sekarang sedang bersedih. Sekarang Geo mengerti keresahan papa waktu itu. Waktu mama menjaga jarak dengan papa, saat mama tahu papa bersama wanita lain di dalam satu kamar.” air matanya ikut menetes seiring perkataannya.


”Papa...maaf, Geo datang kesini mencurahkan isi hati Geo. Geo tidak tahu, sama siapa lagi Geo akan mencurahkan hati Geo yang sakit, yang rapuh ini.”


”Pa, papa benar! Pengorbanan itu sangat enak untuk di ucapkan. Tetapi menjalaninya butuh hati yang kuat. Butuh pijakan yang kuat agar kaki tidak terjatuh saat kaki tersandung. Itu yang Geo alami sekarang ini, pa.”


Ucapan Geo terdengar ke telinganya Anton yang sedang berada di pusara Halim. Yang berada empat jarak dari kuburan Albert, di sebelah kiri Geo.


Anton mengiba melihat Geo yang mengadu pada pusara Albert. Ia ingin menghampiri mantan anak mantunya itu untuk menghibur hatinya.


Namun, mendengar ucapan Geo barusan. Ia enggan untuk mendatangi Geo. Ia tahu, Geo sangat menjaga image nya di hadapan orang lain, kecuali, di hadapan Syakila dan Rosalina.


Ia justru membelakangi Geo, agar Geo tidak tahu jika ia berada di sana.


Geo. Kamu yang sabar, nak. Semoga kamu bisa mendapatkan pengganti Syakila dengan cepat dan mendapatkan pendamping yang lebih baik dari anak kemenakan ku itu. benak Anton.


Setelah ia bercakap-cakap sendiri di depan pusara Halim. Ia mundur beberapa langkah dan mengambil jalan lain untuk pulang.


Geo menghapus air matanya. ”Pa, Geo harus kembali ke rumah sakit. Semoga saja, Syakila sudah sadar saat aku datang. Jika ada waktu luang, Geo akan datang kesini lagi, menjenguk papa.”


Ia berdiri dan melangkah pergi dari sana.


.. ..


Di gedung milik Albert, tempat jalannya audisi.


”Bagaimana perkembangan audisinya?” tanya Rosalina kepada asistennya.


”Berjalan sesuai keinginan Anda, Nyonya. Dalam hal memasak, saya mencacat tiga nama yang bisa di andalkan masakannya. Dan yang mengatur rumah, saya mencatat tiga nama juga. Begitu juga yang lainnya. Mereka saling bersaing secara sehat, tidak menjatuhkan peserta yang lain dengan unsur sengaja. Jika ada hal demikian, saya langsung memecat peserta tersebut.” papar sang asisten.


”Bagus! Pokoknya aku serahkan semuanya padamu. Setelah mendapat empat orang yang tersisa, pekerjakan mereka di perusahaan. Dua orang di samping Geo dan dua orang di samping Beni. Biar mereka berdua yang mencari yang cocok untuk dengan hati mereka sendiri. Tapi, ingatkan ke empat orang ini tugas utamanya di kirim di perusahaan itu.” ucap Rosalina.


”Baik, Nyonya.”


”Hum! Saya pergi dulu ke rumah sakit. Bekerjalah dengan baik!” pamit Rosalina.

__ADS_1


”Iya, Nyonya. Hati-hati, Nyonya.”


”Hum!” Rosalina beranjak dari gedung itu. Ia pergi ke rumah sakit. Menjenguk mantan anak mantunya, yang ia anggap seperti anaknya sendiri sekarang. Sekaligus membawakan makan malam untuk Sardin dan Geo.


__ADS_2