Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 172


__ADS_3

Di ruangan praktek Samnia.


Syakila menutup pintu ruangan dengan pelan dan berjalan masuk mendekati ranjang Geo.


”Bagaimana keadaannya Geo, Bibi? Apakah lukanya sudah di obati? Apakah ada luka yang parah? Bagaimana dengan di dalam tubuh nya, apakah baik-baik saja?” Syakila duduk di ranjang yang di pakai oleh Geo.


Ia melihat wajah Geo yang sedikit pucat.


”Suami mu sudah tidak apa-apa. Luka di kepalanya sudah Bibi jahit. Dan luka-luka di tubuhnya sudah Bibi bersihkan dan obati. Kamu tenang saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi, suami mu baik-baik saja sekarang.”


Syakila menyentuh pelan wajah pucat Geo. ”Tapi, kenapa mukanya terlihat pucat? Apakah dia sedang pingsan? Mengapa aku menyentuh wajahnya, dia tidak membuka matanya? Sedangkan tadi, ia masih dalam keadaan sadar.”


”Suami mu hanya tidur di bawah pengaruh obat bius. Bibi sengaja menyuntikkan bius padanya biar ia beristirahat juga tidak merasakan sakit saat Bibi menjahit luka di kepalanya. Darahnya sudah banyak yang keluar, tentu saja akan terlihat pucat. Untungnya di tempat praktek Bibi masih tersedia dua kantung darah yang cocok dengan darahnya Geo. Dan kalian tepat waktu membawa Geo kesini dengan cepat untuk berobat, jika terlewat saja dari lima menit, nyawanya sudah tidak bisa tertolong lagi.” Samnia menjelaskan sambil memegang kedua bahu Syakila dari belakangnya.


”Suami mu termasuk orang yang kuat.” ucapnya lagi.


”Bagaimana dengan di dalam kepalanya, Bibi? Sepertinya luka di kepalanya itu di sebabkan oleh benturan. Apakah tidak ada masalah dengan itu?”


Samnia tersenyum, ”Tidak ada apa-apa, sayang. Bibi sudah melakukan pemeriksaan dengan teliti di seluruh tubuh suamimu, luar maupun dalam. Oh, iya, Syakila, apa yang menyebabkan kakinya suami mu tidak bisa berjalan? Bibi melihat dari hasil rontgen juga melalui radiologi, kalau tulang kakinya baik-baik saja.” ungkapnya.


Syakila sungguh senang mendengar kabar itu. ”Benar kah Bibi? Tulang kakinya baik-baik saja? Apakah ada kemungkinan Geo bisa berjalan lagi seperti biasanya, Bi?”


”Dari tulang kakinya baik-baik saja, menurut Bibi, suamimu bisa berjalan lagi, bahkan tulang kakinya terlihat bagus dan kuat. Jika dia berlatih untuk berjalan, pasti bisa.” jawab Samnia sambil memperlihatkan foto hasil rontgen juga hasil radiologi kaki Geo pada Syakila.


Syakila mengambil dan melihatnya.


Dari kedua gambar ini tampak jelas kalau tulang kaki Geo baik-baik saja. Apakah tulang kakinya Geo tampak bagus setelah di obati oleh Rivaldi? Sebelumnya aku sudah melihat foto rontgen kakinya yang bermasalah dari mama waktu itu. benaknya.


Ia melihat Geo yang masih terbaring tidak sadarkan diri itu. Ia pun teringat dan baru tersadar saat seseorang menyerang mereka di rumah guru nya. Vian tampak babak belur dan Geo tampak baik-baik saja, hanya luka lebam di pipi kirinya. Dan ia juga tersadar saat itu kursi roda Geo berada di ruang kemoterapi gurunya, sedangkan Vian dan Geo berada di luar.


Apakah dia sebenarnya sudah sembuh? Dan sedang berpura-pura lumpuh di hadapan ku? Jika benar begitu, apa tujuannya? Dan guru ku, kenapa tidak memberitahukan kesembuhan Geo pada ku? Tapi, apakah itu mungkin? Ah, Geo tidak memiliki motif untuk menyembunyikan kesembuhannya. Dia dan aku sama, sama-sama ingin cepat bercerai.” benaknya lagi.


”Syakila, apa yang kamu lamun kan?” tanya Samnia, sambil memegang bahu kanan Syakila.


Syakila sedikit terkejut, ”Eh, tidak ada Bibi. Em, kira-kira kapan dia akan sadar Bi? Jika sudah sadar, apakah sudah bisa pulang atau kah harus menginap di sini?”


”Seharusnya kurang lebih tiga jam, suami mu sudah sadar. Kalau kamu ingin membawa pulang dia setelah sadar, tidak apa-apa juga sih. Tapi, bagusnya biarkan bermalam di sini saja. Jadi, jika ada hal yang tidak memungkinkan terjadi, Bibi segera memeriksanya dan juga alat di sini lengkap. Jika di bawa pulang ke rumah...”


”Baik, Bi. Syakila sudah mengerti, kami akan bermalam di sini. Kalau Geo sudah tidak apa-apa, baru kami pulang.” ucap Syakila, memangkas ucapan Samnia.


”Baiklah kalau kamu sudah mengerti, Bibi akan pulang dulu. Asisten Bibi akan tetap di sini menemani kalian.”


”Tidak usah, Bi. Biar Syakila sendiri yang merawat dan menjaga Geo.”


”Baiklah, terserah kamu, Bibi nurut saja.” Samnia melihat asistennya, ”Ani, kamu bisa pulang dan istirahat sekarang. Aku juga ingin pulang.”


”Ah, iya, baiklah.” jawab Ani, menurut.


Wah, padahal aku ingin merawat lelaki tampan ini. Aku ingin mengenal dia. Aku cukup cantik, pintar, dan menarik. Siapa tahu saja aku bisa mencuri perhatian lelaki itu. Aku sering mencuri dengar percakapan antara dokter Samnia dan Serlina mengenai cinta segitiga Sardin, Geo, dan Syakila. Meskipun Syakila dan Geo sudah menikah, hubungan mereka tampak tidak baik. benaknya.


Tidak apa-apa, masih ada kesempatan untuk berkenalan dan memikat hati pria itu besok dan selama beberapa hari ke depan, selama dia di rawat di sini. benaknya lagi.


Ia menghela nafas dan berjalan mengikuti Samnia yang keluar dari ruangan tersebut.


Kini tinggal Syakila sendiri yang berada di ruangan itu, menjaga Geo.


Ah, aku lupa! Aku harus mengabarkan hal ini pada mama. Jika tidak, mama akan khawatir pada kami berdua yang tidak pulang ke rumah. benaknya.


Ia keluar dari ruangan itu dan pergi ke rumah Anton, yang berada tepat di samping ruang praktek. Ia langsung masuk saja ke dalam rumah Anton yang pintunya tidak tertutup.


Ia langsung duduk di samping Sardin.


”Syakila, ada apa? Kenapa kamu tampak panik begitu? Siapa yang menjaga Geo, bukankah bibi mu dan asistennya sudah pulang?” tanya Anton.

__ADS_1


”Paman, Bibi. Syakila minta tolong pada Paman dan Bibi untuk menjaga Geo sebentar. Syakila ingin pulang ke rumah untuk memberikan kabar keberadaan Geo pada mama mertuaku. Jika tidak, mama mertuaku akan khawatir pada kami.” jawab Syakila.


”Kenapa tidak menelfon nya saja?” sahut Sardin, memberi usul.


”Tidak bisa! Lagi pula, Syakila tidak punya nomor handphone mama maupun Beni.” jawab Syakila.


”Baiklah, Paman dan Bibi akan menggantikan mu menjaga Geo. Jangan berlama-lama di sana!” ucap Anton.


”Iya, Paman. Terima kasih, Syakila pergi dulu.” sahut Syakila, berpamitan. Ia berdiri.


Sardin memegang tangan Syakila, ”Biar aku antar kamu.” ia ikut berdiri.


Syakila mengangguk.


”Paman, aku pinjam motornya.” ucap Sardin, meminta izin pada Anton.


”Ambil saja di dalam laci meja televisi.” sahut Anton.


Sardin bergegas ke meja televisi dan mencari kunci tersebut.


”Syakila, Paman tahu kamu dan Sardin masih saling mencintai. Jaga jarak kalian berdua, Paman tidak ingin kamu dan suami mu ada salah paham menyangkut kedekatan kamu dan Sardin. Kamu dan Sardin sama-sama kemenakan Paman, Paman juga tidak bisa melarang kalian untuk saling berkomunikasi. Paman hanya bisa memberimu arahan untuk menjaga jarak dengan Sardin demi keutuhan rumah tangga mu.” ucap Anton, menasehati Syakila.


”Iya Paman, Syakila mengerti!”


Maaf paman, Syakila dan Sardin memang masih berpacaran. Dan setelah Geo sembuh, Syakila akan bercerai dengan Geo dan menikah dengan Sardin. Paman jangan memarahiku kelak jika aku dan Geo sudah bercerai, kami menikah dan menjalani rumah tangga dengan sebuah kesepakatan. benak Syakila.


”Paman, Bibi. Sardin dan Syakila pergi dulu.” ucap Sardin, berpamitan. Ia baru saja datang sambil memegang kunci motor dan juga helm untuk Syakila. Ia sendiri telah memakai helm.


”Iya, hati-hati dalam berkendara.” sahut Serlina dan Anton bersamaan.


”Iya Paman, Bibi!” sahut Syakila dan Sardin.


Mereka keluar dari rumah. Sardin menyalakan motor, Syakila segera naik di atas motor dan berpegangan pada baju Sardin.


Anton dan Serlina pergi ke ruang praktek Samnia menjaga Geo, menggantikan Syakila.


.. ..


Di kediaman Albert.


Rosalina sedang mondar-mandir di depan rumahnya sambil sesekali melihat ke arah pagar, dengan penuh rasa khawatir.


Ia sangat khawatir, tiba-tiba saja saat ia sedang makan sendirian, gelas yang di ambilnya pecah begitu saja di genggamannya.


Ia semakin cemas ketika dalam pikirannya terbesit wajah anaknya, Geo. Ia mencoba menghubungi nomor Geo, namun, nomornya tidak aktif.


Apalagi saat ia mengingat pembicaraannya dengan Beni, yang mengatakan jika Beni dan Geo berpisah di bandara. Dan sekarang, Beni berada di kota S.


Rosalina melihat ke arah pagar saat mendengar suara motor yang berhenti di depan pagar rumahnya.


Ia berlari mendekati Syakila yang berjalan masuk ke dalam bersama seorang pria di belakangnya.


”Syakila, kamu dari mana saja! Di mana Geo?” tanya Rosalina.


”Mama, Mama tenang dulu, jangan panik begini! Ingat kondisi tubuh Mama yang lemah, Mama tidak bisa untuk cemas berlebihan. Ayok, sebaiknya kita duduk untuk berbicara.” ucap Syakila, dengan lembut.


Ia menuntun Rosalina untuk duduk di kursi teras.


”Tapi, Syakila. Mama benar-benar khawatir dengan Geo, apakah kamu tahu dia di mana? Dan siapa pria ini?”


”Mama tidak perlu terlalu khawatir! Geo baik-baik saja sekarang. Dia sedang di rawat di rumah bibi ku.”


”Apa?” Rosalina terkejut, ”Apa, apa yang terjadi pada anakku?” tanyanya, dengan sedih.

__ADS_1


”Geo mengalami kecelakaan, Ma. Tapi, syukurlah Geo baik-baik saja sekarang setelah di rawat oleh bibi ku.” ungkap Syakila.


Wajah Rosalina tampak tidak ramah, ia melirik Sardin, yang duduk di samping kursi Syakila.


”Kalau ada kamu di sampingnya, anakku tidak akan mengalami kecelakaan! Kamu kemana? Kenapa tidak ada di sampingnya anakku?” Rosalina tampak marah. ”Apakah menjemput teman mu di bandara lebih penting daripada anakku? Suamimu sendiri?” ia memandang Syakila dengan kening berkerut, matanya nampak berair.


”Mama, maaf. Waktu Syakila pergi untuk menjemput Sardin, Beni bersama Geo... ”


”Oh...jadi kamu menjemput Sardin di bandara lebih penting daripada Geo, anakku?” pangkas Rosalina, air matanya telah mengalir membasahi pipinya.


Ia tidak menyangka Syakila lebih mementingkan mantan kekasihnya di banding anaknya.


”Tidak Mama, bukan begitu! Sewaktu Syakila pergi ke bandara, Geo benar-benar bersama dengan Beni, di restoran. Geo tidak sendirian.” Syakila membela diri.


”Maaf, Tante! Bukannya aku ikut campur ataupun membela Syakila, tapi, apa yang di katakan Syakila itu benar. Di saat kami sedang berada di restoran, kami mendengar dari orang-orang di sekitar jika ada terjadi kecelakaan. Saat kami ingin melihat peristiwa itu, di situlah kami mengetahui jika Geo yang kecelakaan. Dan saat itu, Syakila bergegas menolong Geo.” ungkap Sardin.


”Diam kamu!” bentak Rosalina pada Sardin. Ia melihat Syakila, ”Mama tahu, kamu tidak mencintai anakku, tapi, setidaknya kamu harus hargai perasaannya anakku, Syakila! Mama kecewa padamu! Apa kamu tahu, bagaimana perasaan anakku saat kamu pergi menjemput mantan pacar mu di bandara?!”


Syakila melihat Rosalina sekilas, lalu ia melirik Sardin.


Sekarang mama sedang marah dan kesal! Jika aku meladeninya, maka akan semakin memicu amarahnya, dan itu telah dak baik untuk kesehatannya. Dan juga, jika aku ingin meladeninya lagi, aku takut Mama akan menyindir atau bahkan langsung menegur Sardin yang mendekati ku. benaknya.


”Mama, apakah Mama ingin berdebat dengan Syakila, di sini? Mama tidak ingin menjenguk Geo?” ucapnya lembut.


”Mama ingin bertemu dengan Geo!” jawab Rosalina dengan datar, tanpa melihat Syakila. Namun, tatapannya tajam melihat Sardin yang melihatnya.


”Apa ingin pergi bersama-sama? Syakila akan ke kamar dulu untuk mengambil beberapa pakaian ganti untuk Geo.”


”Pergilah! Mama menunggu mu di sini!” Rosalina masih nampak datar menjawab.


Syakila berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah meninggalkan Sardin dan Rosalina, di teras rumah.


Sardin nampak canggung berdua bersama Rosalina, ia menunduk, menghindari untuk bertatapan dengan Rosalina.


”Bisakah kamu menjauhi anak mantuku?”


Sardin mendongak, melihat Rosalina. Ia terdiam, tidak tahu ingin menjawab apa.


”Seharusnya kamu sadar diri sebagai seorang lelaki untuk menjauhi Syakila yang sudah bukan pacar mu lagi. Apa kamu ingin menghancurkan hubungan pernikahan Syakila dan anakku, dengan kedekatan kalian?”


”Aku sangat sadar diri, Tante. Syakila telah menjadi istrinya orang, terlepas dari hubungan asmara aku dan Syakila. Sebagai seorang teman, aku tidak punya batasan untuk menjauhi Syakila. Dan menurut ku, Tante sangat tahu pernikahan seperti apa antara Geo dan Syakila...” Sardin menghentikan ucapannya ketika melihat Syakila.


”Mama, Sardin. Ayok kita pergi sekarang, Geo seharusnya sudah sadar sekarang.” ucap Syakila.


”Syakila, kamu ikut dengan Mama naik mobil.” ucap Rosalina sambil berdiri, ia langsung berjalan ke arah mobil.


Syakila melihat Sardin, ”Tap...” ucapnya terhenti saat melihat gelengan kepala Sardin.


”Ikutlah mama mertuamu. Aku tidak apa-apa.” ucap Sardin.


”Kakak, apakah mama bicara yang kasar padamu? Katakan padaku!”


Sardin menggeleng, ”Tidak ada! Ayok kita pergi, jangan membuat mama mu menunggu.”


Syakila mengangguk, ia dan Sardin berjalan keluar dari kediaman Albert. Syakila masuk ke dalam mobil, mobil pun melaju meninggalkan kediaman Albert. Sementara Sardin, ia mengendarai motor.


Dari bicaranya mama nya Geo, aku tahu jika mamanya Geo sangat berharap Syakila dan Geo masih terus bersama. Ia tidak menginginkan Geo dan Syakila untuk berpisah.


Jika Syakila ingin melanjutkan dan mempertahankan pernikahan nya dengan Geo, aku tidak akan menjadi penghalangnya. Kebahagiaan Syakila adalah kebahagiaan ku juga.


Tapi, jika Syakila ingin bersama ku, maka, aku akan bersikap egois untuk memiliki Syakila dalam hidup ku. Aku akan mempertahankan Syakila untuk berada di sisiku. benak Sardin.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2