
Dalam perjalanan ke kediaman Anton, paman Syakila.
”Syakila, bisakah kamu lebih perhatian lagi pada Geo?” ucap Rosalina, suaranya terdengar tidak ramah.
Syakila tampak bingung, ia melihat Rosalina dengan serius. ”Mama, dalam beberapa Minggu, atau dalam beberapa bulan ini, apakah Syakila berlaku kasar pada Geo? Syakila selalu memperhatikan Geo, bukan kah Mama melihat hubungan Syakila dan Geo tampak baik? Mengapa Mama berbicara seperti itu pada Syakila, seakan-akan Syakila telah melakukan kesalahan besar?”
”Mama tahu hubungan kalian berdua memang tampak baik! Tapi...” Rosalina sengaja menggantung ucapannya.
Apa Mama membicarakan pernikahan ku dan Geo? benak Syakila.
Syakila menghela nafas, ”Apa maksud ucapan Mama yang sebenarnya? Apakah Mama sedang membicarakan pernikahan Syakila dan Geo?” tanyanya, penasaran. Ia menatap kedua bola mata Rosalina.
Rosalina terdiam, memalingkan wajahnya, melihat keluar jendela.
Ternyata benar dugaan ku, mama sedang membicarakan pernikahan ku dengan Geo. benak Syakila.
Sekali lagi Syakila menghela nafas, ”Mama, untuk pernikahan ku dan Geo... bukan kah Mama, Geo, juga Beni, sangat tahu kan, kemana arah rumah tangga kami? Jadi, Syakila tidak perlu menjelaskan hal itu berulang kali kepada Mama.” tegasnya.
”Geo sekarang sudah mulai membaik, terhadap khalayak ramai ia sudah tidak histeris atau takut lagi jika bertemu atau melihat mereka. Tulang kaki Geo juga sudah terlihat baik dari sebelumnya. Syakila yakin, Geo akan kembali bisa jalan lagi jika ia berlatih berjalan.”
Rosalina masih menatap di luar jendela. Mama tahu itu. Tapi, mama tidak inginkan perpisahan kamu dan Geo. Mama sangat menyayangimu, Mama menginginkan kamu terus menemani anakku sebagai istrinya. benaknya.
”Syakila, apa yang kurang dari anakku? Kamu adalah wanita satu-satunya yang tidak tertarik dengan anakku. Anakku memiliki segalanya, penyakitnya juga tidak lama lagi akan sembuh seperti yang kamu katakan tadi. Tidak bisakah kamu membuka hatimu untuk anakku? Sudah cukup lama kalian tinggal berdua, tidur sekamar, apakah hatimu tidak sedikit pun memiliki rasa cinta pada anakku? Apa kamu sungguh tidak tertarik sedikit pun kepada anakku?” Rosalina memandang Syakila dengan sedih.
”Mama...cinta tidak bisa di paksakan. Aku menikahi Geo untuk memenuhi janji almarhum ayah ku. Aku sudah penuhi. Dan selepas itu, aku dan Geo memiliki kontrak nikah dan perjanjian. Asal Geo sudah sembuh seperti semula, pernikahan kami juga sudah selesai.” ucap Syakila, kembali menegaskan.
Syakila menghentikan ucapannya sejenak. Wajah Rosalina tampak begitu sedih. Tapi, Syakila juga tidak ingin memberikan harapan pada Rosalina. Ia benar-benar tidak mencintai Geo.
”Mama, maaf kan Syakila yang tidak bisa mencintai Geo. Geo dan Syakila tidak saling mencintai satu sama lain. Hubungan seperti ini bila di pertahankan, bukan kah akan jauh dari kata bahagia? Geo pria yang tampan, memiliki segalanya, dan banyak wanita yang mengejarnya, yang mencintainya dengan tulus. Geo akan hidup bahagia dengan pasangannya nanti. Aku bisa menjamin itu.”
Rosalina memalingkan wajah, kembali melihat keluar jendela mobil, ”Tapi, Mama ingin kamu yang terus menjadi anak mantu Mama. Kamu yang Mama mau untuk menemani sisa hidup anakku.” ucapnya, suaranya terdengar sedih.
Syakila terdiam. Ia tidak menanggapi ucapan Rosalina lagi, ia bingung untuk berbicara. Rosalina juga terdiam, masih melihat keluar jendela.
Maaf kan Syakila, Mama. Syakila benar-benar tidak mencintai Geo. Syakila dan Geo memang sudah tinggal bersama di waktu yang lama, tapi, dari hati kami berdua tidak saling mencintai. Haruskah aku memaksakan diri untuk tetap berada di samping Geo? Tidak, aku dan Geo akan sama-sama terluka nantinya. Dan lagi kami berdua sama-sama mencintai orang lain. benak Syakila.
Syakila melihat keluar jendela, matanya menangkap sosok Sardin yang ada di belakang mobil, dari kaca spion luar.
Dan yang aku cintai adalah Sardin. Sementara Geo mencintai Dawiyah.
Oh iya, kenapa kakak Sardin tadi melarang ku untuk ikut dengan nya? Apakah ada sesuatu yang di katakan oleh mama yang menyinggung perasaannya? benaknya.
Drrrrrt drrrrrt! Syakila menoleh melihat Rosalina. Rosalina mengambil handphone dari tas, ia melihat di layar. Beni memanggil...
”Tante, bagaimana kabar Geo, Tante? Apakah Geo sudah pulang ke rumah? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana dengan Syakila, apakah sudah pulang juga?”
Beni langsung mencerca pertanyaan pada Rosalina setelah Rosalina, mama tirinya itu mengangkat telfon darinya.
”Geo mengalami kecelakaan! Sekarang Tante bersama Syakila sedang dalam perjalanan ke rumah nya Anton untuk melihat keadaan Geo. Ia sedang di rawat oleh bibi nya Syakila di sana.”
”Astaghfirullah! Semoga Geo baik-baik saja! Maaf Tante, kalau Beni tahu akan terjadi hal seperti ini, Beni tidak akan berangkat ke kota S dan meninggalkan Geo sendirian di bandara. Beni juga salah, seharusnya Beni membawa pulang Geo ke rumah dulu baru Beni berangkat ke kota S. Beni menyesal Tante!”
Rosalina menghela nafas. ”Kamu tidak perlu berkata begitu! Kamu pergi juga atas desakan Geo. Bagaimana keadaan di sana? Apakah kamu sudah tahu mengapa perusahaan Geo di kota itu mengalami masalah?”
Rosalina sengaja mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin mendengar ucapan Beni yang menyalahkan dirinya atas apa yang di alami Geo.
Kening Syakila mengerut melihat Rosalina. Ia baru tersadar dengan keberadaan Beni. Ia terfokus pada Geo hingga tidak terpikirkan keberadaan juga keselamatan Beni. Padahal, terakhir kali, ia melihat Geo dan Beni di mobil yang sama.
Tetapi, saat kecelakaan itu Beni tidak terlihat. Sedangkan korban yang meninggal itu adalah orang lain.
”Beni masih menyelidikinya Tante. Beni belum bisa memastikan apapun sekarang. Setelah ada hasil dari penyelidikan, baru Beni akan memberitahu Tante keadaan perusahaan di sini. Baiklah Tante, Beni matikan sambungannya sekarang. Beni ada urusan sedikit, nanti Tante kasih kabar padaku tentang kondisi Geo. Setelah urusan di sini selesai, baru Beni kembali ke kota A.”
”Baiklah, kamu urus perusahaan di sana saja. Untuk Geo, kamu jangan terlalu khawatir. Di sini ada Syakila, Tante dan keluarganya Syakila yang menjaga Geo.”
__ADS_1
”Iya Tante. Ada Syakila di samping Geo, Geo akan baik-baik saja. Baiklah, Beni matikan sambungannya sekarang, yah. Tante jaga diri dengan baik di sana.”
”Iya, kamu juga.”
”Iya Tante.” sahut Beni. Tut tut tut! Beni memutuskan sambungan telfonnya.
”Beni ada di mana Mah?” tanya Syakila.
Rosalina kembali menyimpan hapenya di dalam tas. ”Dia ada di kota S. Ada masalah dengan perusahaan Geo di kota itu. Mereka baru mengetahuinya siang tadi, dan Geo mengutus Beni untuk membersihkan kekacauan di kota S tersebut.”
”Oh,” sahut Syakila.
Kini mereka telah sampai di depan rumah Anton. Syakila turun dari mobil, di susul Rosalina. Mereka langsung berjalan ke ruangan praktek, tempat di mana Geo di rawat.
Sementara Sardin, ia masuk ke dalam rumah Anton, menaruh kunci motor di dalam laci dan menaruh helm di tempatnya. Ia langsung ke kamarnya.
Di ruang praktek.
Rosalina terkejut melihat anaknya yang terbaring di ranjang. Kepalanya di perban, satu kantung infus dan satu kantung darah memenuhi tangannya.
”Ya Allah, Nak! Apa yang terjadi padamu!”
Rosalina tampak sedih, ia berjalan cepat menghampiri anaknya itu.
Anton dan Serlina ikut sedih melihat Rosalina yang sedih. Sebagai orang tua, mereka sangat tahu bagaimana perasaan Rosalina sekarang.
Geo terbangun saat mendengar suara mamanya. Ia melihat mamanya yang sudah duduk di ranjang yang ia tempati, air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya.
”Geo, kenapa kamu bisa begini?” tangis Rosalina pecah.
”Mama, Geo tidak apa-apa! Geo baik-baik saja! Jangan sedih, dan jangan menangis seperti itu! Anak mu ini sangat kuat, kalau Mama begini, yang ada Geo yang khawatir penyakit Mama akan kambuh!”
Syakila, Serlina, dan Anton tersentuh melihat interaksi ibu dan anak itu. Geo begitu perhatian dan lembut pada mamanya.
Syakila ikut keluar dari ruangan saat paman dan bibinya keluar. Ia juga merasa tidak di butuhkan saat ini.
Di luar ruangan.
”Syakila, mengapa kamu ikut keluar? Masuklah kembali, temani suami mu dan ibu mertuamu di dalam.” ucap Anton.
”Sudah ada mama di samping Geo. Aku akan ke dapur untuk memasak makan malam.” jawab Syakila.
”Baiklah, Bibi akan ikut dengan mu ke dapur. Kita harus masak yang banyak.” ucap Serlina.
”Tidak usah, Bi. Biar Syakila saja yang memasak. Bibi istirahat saja.” tolak Syakila.
”Tapi...”
”Sudah, biarkan saja Syakila yang memasak. Lagi pula di dapur ada bibi rumah tangga yang membantunya.” kata Anton, memangkas ucapan Serlina.
”Baiklah, kalau begitu, aku akan bersantai hari ini bersama suami ku. Kamu masaklah yang enak dan banyak.” sahut Serlina.
”Iya Bibi.”
Syakila masuk ke dalam rumah Anton, ia terus melangkah sampai di dapur.
Sementara Anton dan Serlina, mereka berdua duduk di teras rumah, sembari berbincang-bincang.
Di dalam ruangan praktek.
”Astaghfirullah!! Apa kamu tahu siapa lelaki itu?”
Rosalina terkejut mendengar cerita Geo sewaktu mereka masih berada di dalam restoran hingga keberangkatan Beni ke kota S dan awalnya bertemu dengan pria yang ingin membunuhnya.
__ADS_1
”Geo juga tidak tahu siapa orang itu! Siapa yang menyuruhnya! Dan kebencian apa yang dia miliki dengan ku!” jawab Geo, mukanya terlihat murka.
”Apa kamu tidak mencurigai kakak tirimu, Antonio, yang melakukan trik licik itu?”
”Dia pantas untuk di curigai juga bersama pamannya, Vian! Mereka sudah lama mengincar ku dan menginginkan kematian ku.” ucap Geo dengan datar.
Rosalina menghela nafas kasar, ”Mereka masih mengira kematian mamanya adalah karena ku. Dan kebangkrutan papanya karena papamu. Jika tidak, mereka tidak akan berbuat hal ini pada mu.”
Rosalina memegang wajah Geo, ”Maafkan, maafkan Mama dan papa yang sudah menempatkan kamu dalam masalah.” ucapnya dengan sedih.
”Mama, jangan bicara begitu! Jangan menganggap diri Mama dan almarhum papa alasan Geo di benci oleh mereka! Mereka saja yang tenggelam dalam balas dendam, makanya mengincar Geo. Apalagi grub yang mereka dirikan, aku yang menghancurkannya.” ungkap Geo.
”Apa!? Jadi, kamu yang menghancurkan grub nya Kevin dan Vian?”
Rosalina tampak terkejut. Ia sudah lama ingin tahu siapa yang sudah menghancurkan grub Eagle. Dan ia tidak begitu percaya pada ucapan anaknya, meskipun Geo sudah mengakui dirinya sendiri yang menghancurkan grub itu.
”Iya, Mama. Geo lah yang menghancurkan grub itu!” jawab Geo dengan yakin.
Rosalina terdiam. Anak ini...sama seperti papanya. benaknya.
Di dapur, rumah Anton.
”Ingin ku bantu?”
Syakila terkejut mendengar suara Sardin di dapur. Ia menoleh sebentar melihat Sardin, kemudian kembali fokus melihat panci panas yang ada di depannya. Ia sedang memasak sayur bening.
”Iya, makanannya sudah hampir siap semuanya. Tolong bantu aku mengatur makanan di atas meja. Dan panggilkan semua orang untuk makan.”
”Oh, dengan senang hati sayang!” sahut Sardin.
”Kakak, bisakah tidak memanggil ku sayang di dalam rumah ini?”
Sardin menarik tangannya kembali yang hendak mengambil piring. Ia mendekati Syakila yang berdiri di meja makan, yang baru saja menaruh sayur yang baru di masaknya di atas meja.
Ia memegang kedua bahu Syakila dan menariknya menghadap dirinya. ”Kenapa? Apa panggilan itu sekarang mengganggu pendengaran mu?” tanyanya, penasaran.
Syakila melepas tangan Sardin yang masih berada di bahunya, ia memegang tangan Sardin. ”Bukan begitu, kita sedang berada di rumah paman dan bibi mu. Dan disini ada mama mertuaku, bukankah akan tidak baik jika mereka mendengar panggilan mu itu padaku?” jelasnya.
”Oh, kakak kira kamu sudah tidak ingin kakak memanggil mu sayang. Baiklah, kakak menurut padamu. Jadi, kakak harus panggil kamu apa?”
”Panggil seperti biasanya saja, kak. Kila atau ade. Oh iya, mengapa tadi kakak melarang ku untuk ikut bersama kakak? Apa ada kata-kata kasar yang di ucapkan mama mertuaku saat aku pergi tadi?” tanya Syakila, penasaran.
”Ade ingin kakak bicara jujur?”
Syakila mengangguk.
”Mama mertua ade ingin kakak mengerti jika status kakak hanyalah mantan kekasih ade dan ingin kakak menjauhi ade karena ade adalah istrinya orang.” ungkap Sardin.
Tanpa mereka sadari, percakapan mereka terdengar oleh Anton dan Serlina yang memang ingin pergi ke dapur untuk melihat Syakila, apakah sudah selesai masak atau belum. Karena mendengar Sardin dan Syakila yang sedang berbicara, Anton dan Serlina berhenti di depan pintu dapur dan mencuri dengar percakapan mereka.
Anton terlihat marah, Serlina menyadari itu dari raut wajah yang di tunjukan oleh suaminya itu.
Serlina menahan tangan Anton yang hendak masuk ke dapur. Anton menoleh melihat istrinya itu.
Serlina menggeleng, ”Sebenarnya aku tidak percaya dengan alasan yang Syakila katakan pada kita waktu itu. Saat kita bertanya padanya tentang pernikahan dia dan Geo. Mari kita dengarkan percakapan mereka, tanpa mereka menyadari keberadaan kita.” bisik nya pada Anton.
Anton mengalah, ia mengangguk. Mereka kembali mendengarkan pembicaraan Sardin dan Syakila. Ia juga penasaran mengapa Sardin dan Syakila putus begitu saja dan menikahi pria lain.
”Lantas! Kakak akan menjauhi Syakila?” tanya Syakila dengan serius menatap kedua bola mata Sardin.
Sardin menaruh tangannya di atas kepala Syakila, membelainya dengan lembut. ”Jika Syakila yang menginginkan kakak untuk menjauh, kakak akan menjauhi ade...”
Syakila menggeleng cepat, ”Tidak, Syakila tidak mau kakak menjauhi Syakila! Syakila masih mencintai kakak! Kakak bersabarlah sedikit, setelah Geo sembuh, perjanjian pernikahan dan kontrak nikah Syakila dan Geo juga berakhir! Saat itu, Syakila akan bercerai dengan Geo dan menikahi kakak.” ucapnya, memangkas ucapan Sardin.
__ADS_1
Serlina dan Anton terkejut mengetahui hal itu. Mereka tidak menyangka kebenaran pernikahan Syakila dan Geo.