Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 150


__ADS_3

Di perjalanan menuju kediaman Rivaldi.


”Kamu tahu dari mana kantornya Sardin?” tanya Syakila. Ia sangat penasaran dari mana Ijan tahu lokasi kantor Sardin, sedangkan ia tidak pernah memberitahu informasi tentang Sardin pada siapapun.


Setelah Syakila keluar dari kantor Sardin, ia terkejut mendengar Ijan yang menyapanya dari arah belakang. Akhirnya dia pulang bersama Ijan.


”Saya sudah lama berada di kota ini, Nyonya. Jadi, saya tahu siapa saja pria penting di kota ini dan juga rumah serta lokasi kantor mereka. Bahkan aset-aset yang mereka miliki, aku tahu semua.” jawab Ijan, dengan percaya diri.


Syakila terkejut, Hah, bagaimana dia bisa tahu? Apakah benar yang dia ucapkan? benaknya.


”Siapa saja mantan pacar dari Sardin? Mantan dari Geo, dan mantan pacar ku?” tanya Syakila. Ia mengetes Ijan, apakah benar yang Ijan katakan padanya?


”Nyonya adalah mantan pacar dari tuan Sardin, Anita adalah mantan calon tunangan yang tidak di akui oleh tuan Sardin. Mantan pacar resmi dari tuan Geo ada dua, Yulia dan Dawiyah. Sedangkan untuk Nyonya, Nyonya hanya memiliki mantan satu, yaitu Sardin. Kepribadian Nyonya, tuan Sardin, dan tuan Geo sama, suka menyendiri.” jawab Ijan.


Syakila kembali terkejut. Ternyata, Ijan memang tahu. ”Lalu, mengapa kamu ada di sana? Sengaja menjemput ku? Apakah Geo yang menyuruh mu?” tanyanya lagi.


”Nyonya, sebaiknya Nyonya sekarang memikirkan alasan yang tepat saat bertemu dengan tuan nanti. Emosinya tuan sekarang tidak stabil.”


Syakila terkejut, ia terdiam. Geo sedang marah besar sekarang. Ia harus berhati-hati dalam bertindak dan berkata. Ia tidak ingin gurunya tahu amarah Geo yang meledak, lebihnya dia tidak ingin di lihat oleh gurunya, bagaimana cara Geo menghukum dirinya.


Jika memang tidak stabil emosinya, lebih baik jangan bertemu dengannya. benaknya.


”Ijan, bawa aku pulang ke rumah ku. Ada sesuatu yang perlu ku urus.” ucapnya, berbohong.


”Maaf, Nyonya. Tuan ingin saya membawa Nyonya, padanya.”


”Ijan, hentikan mobil mu sekarang, aku ingin turun di sini. Kamu lanjut saja menemui Geo, aku bisa naik taksi untuk kembali ke rumah ku, jika kamu tidak ingin mengantar ku ke rumah. Dari rumah, baru aku akan menemui Geo.” ucap Syakila dengan ketus.


”Maaf, Nyonya. Saya mengabaikan perintahnya, Nyonya.” sahut Ijan. Ia mengunci kedua pintu mobil belakang, saat ia melihat Syakila melirik kedua pintu mobil tersebut.


”Ijan!” Syakila melihat Ijan dengan marah, ia tidak bisa kabur sekarang, Ijan telah mengunci kedua pintu mobil.


”Maaf, Nyonya.” ucap Ijan, ia menaikan dinding yang menjadi penghalang kursi belakang dan kursi depan. Ia mengurung Syakila di bangku belakang.


Ia tahu nyonya nya itu tidak akan berhenti untuk kabur. Ia sudah menduga, nyonya nya akan mencelakainya dan setelah berhasil, maka nyonya nya akan kabur. Al hasil, dialah yang akan merugi, telah di hajar oleh nyonya nya, sampai pada tuannya, ia akan menerima hal yang sama, bahkan lebih berat lagi dari nyonya nya.


Duk! duk! dor! dor! ”Ijan, beraninya kamu! Cepat turunkan papan penghalang ini! Hentikan mobilnya! Ijan!!” teriak Syakila sambil meninju dan memukul-mukul penghalang antara dia dan Ijan.


Ijan mengabaikan nyonya nya yang tiada henti memukul penghalang itu, ia bahkan mengacuhkan Syakila yang mencoba memecahkan kaca mobil.


Ia terus saja menyetir dengan santai, menuju kediaman Rivaldi. Kaca mobil milik Geo bukanlah kaca mobil biasa yang bisa pecah hanya dengan lemparan batu. Kaca pintu mobil tidak akan pecah, walaupun kena tembakan peluru.


”Apa aku harus menelfon Sardin sekarang dan membantu ku menghentikan mobil ini? Mengalihkan perhatian dia dengan mencoba memecahkan kaca percuma saja! Kaca sialan, kenapa gak pecah aja sih?” gumam Syakila, dengan marah.


Ia meraih handphonenya, namun, handphone tersebut jatuh di lantai mobil saat Ijan menghentikan mobil dengan mendadak.


”Kurang ajar!! Kepalaku sakit sekali! Handphone ku!” gumam Syakila lagi, sambil mengelus kepalanya yang terbentur di penghalang mobil. Ia memungut handphonenya.


Pintu mobil terbuka, Ijan mengambil handphone Syakila dan menarik Syakila turun dari mobil.


”Ijan, lepaskan aku!!” teriak Syakila. Kedua pergelangan tangannya sakit akibat pegangan Ijan yang begitu kuat.


”Hei, apa yang kamu lakukan? Lepaskan tangan Syakila! Dia kesakitan!!” ucap Rivaldi. Ia terkejut saat melihat Ijan yang menghentikan mobil secara mendadak dengan menabrak pagar rumahnya, lebih terkejut lagi saat ia melihat Ijan menyeret Syakila dengan paksa.


”Sebaiknya kamu tidak perlu ikut campur!!” bentak Ijan pada Rivaldi.


Rivaldi terkejut, ”Apa!?” ia terdiam di tempatnya berdiri. Ia mengerti ucapan Ijan.


Apakah Geo marah pada Syakila? Jadi... Oh tidak! Jangan sampai Syakila terluka... benaknya


Ia ikut masuk ke dalam kliniknya bersamaan dengan masuknya Ijan. Ia terkejut sekaligus takut melihat ekspresi marah Geo.


Ijan melepaskan kasar tangan Syakila di hadapan Geo, membuat wanita itu berdiri tidak seimbang dan jatuh di pangkuan Geo.


Syakila mendongak melihat Geo, mereka saling bertatapan, namun, wajah pria itu tidak sedikit pun terlihat ramah. Wajahnya datar sekali, amarah terpancar di sana juga tergambar di mata pria itu.


Syakila menelan salivanya dengan kasar.


”Keluar!!” ucap Geo, matanya masih menatap Syakila dengan marah.


Syakila, dan Rivaldi merinding mendengar kata ”Keluar” dari mulut Geo. Terkecuali Ijan, pria itu telah kebal dengan suara lantang dan marah dari Geo.


”Ge... Geo. Ka...kamu...”


”Keluar!! Maka keluarlah!!” ucap Geo, ia melihat Rivaldi dengan tajam. Membuat Rivaldi kembali merinding.

__ADS_1


Ijan keluar dari klinik Rivaldi sambil menarik tangan Rivaldi keluar dari ruangan tersebut.


Phak!! Ijan menutup pintu klinik Rivaldi dengan kuat. Mengejutkan Syakila yang ada di dalam.


Geo benar-benar marah sekarang! benak Syakila.


.. .. ..


Di depan pintu klinik.


”Ijan! Apa kamu tidak tahu, Geo sangat murka sekarang! Mengapa kamu membiarkan Syakila berdua saja dengan-nya di dalam?” ucap Rivaldi dengan marah, ia menarik tangannya dengan kuat dari pegangan Ijan.


”Maaf, Tuan. Urusan pribadi tuan ku, adalah urusannya sendiri. Tuan maupun aku tidak bisa ikut campur.”


”Ini bukan ikut campur, Ijan! Tapi, dalam suasana seperti ini, tidak baik membiarkan mereka berdua saja! Syakila bisa mati ketakutan di dalam sana menghadapi Geo!!” ucap Rivaldi berapi-api.


”Tuan, tenanglah! Aku sangat memahami tuan ku. Dia tidak akan mencelakai Syakila sampai mati!”


”Tidak akan mencelakai Syakila sampai mati?!” Rivaldi mengulang perkataan Ijan. Matanya terbelalak, ia terkejut, bagaimana bisa Ijan mengatakan hal itu dengan begitu santainya? Bahkan ia menyuruhnya untuk tenang.


”Ijan! Apa karena dia tuan mu, jadi kamu membiarkan dia menyakiti Syakila? Aku akan masuk ke dalam. Tidak akan ku biarkan dia menyakiti Syakila!” ucapnya lagi. Ia memegang handle pintu, ingin membukanya.


Ijan menahan tangan Rivaldi, melepaskan tangan itu dari handle pintu.


”Sudah ku bilang jangan ikut campur urusannya tuan ku!” ucapnya dengan kasar. ”Jangan kamu memancing emosiku dan membuat ku menghajar mu di sini!!” ancamnya.


”Kamu...”


Prang!! Rivaldi terdiam mendengar suara barang pecah di dalam kliniknya. Ia melotot melihat Ijan.


”Jangan masuk! Syakila tidak akan apa-apa! Tuanku sangat mencintainya. Ia hanya memberikan sedikit pelajaran saja buat istrinya.” ucap Ijan, ia berdiri membelakangi pintu klinik Rivaldi, menghadang Rivaldi yang ingin masuk ke dalam.


”Istri? Mengajari istri? Dengan kekerasan? Syakila juga bukan istri sahnya! Biarkan aku masuk melihat mereka!”


”Istri sah atau bukan, tetap bukan urusan mu!! Jangan ikut campur masalah tuan ku, jika kamu tidak ingin punya masalah dengan tuan ku!!”


Rivaldi mengalah, badannya lemas seketika, ia mendudukkan dirinya di kursi teras kliniknya.


Ijan tetap berdiri di tempatnya.


Prang!! Bunyi suara barang pecah dari dalam klinik embali terdengar, Rivaldi kembali melihat Ijan yang bergeming dari tempatnya.


.. ..


”Ge... Geo...ja...jangan begini!!” ucap Syakila ketakutan.


Geo memegang wajah Syakila, ”Kamu takut?!” tanyanya pelan, namun, terdengar ngeri.


Syakila terdiam, ia menunduk. Badannya gemetar ketakutan.


”Apa yang membuat mu tidak mengangkat telfon ku?” Geo mengulang pertanyaannya kembali.


”Aku sedang beristirahat! Hape ku dalam model silent.” Syakila juga mengulang jawaban yang sama.


Buk! Kratak! Syakila terkejut, matanya melotot melihat ke lantai, handphonenya kini terbelah menjadi tiga bagian. Setelah Geo memecahkan dua mangkok, kini hapenya yang jadi sasaran.


Hapeku... bagaimana aku bisa berkomunikasi dengan Sardin nantinya? benak Syakila.


Ia memungut kartu sd nya yang terbentur di lutut kirinya. Secepat kilat Geo menyambar kartu tersebut dan mematahkannya menjadi dua.


”Ge... Geo! A...apa yang kamu lakukan? Ka...kamu...kartu ku...” ia menangis melihat kartunya itu yang telah di lemparkan di lantai oleh Geo.


”Apa yang kamu tangisi? Hum?” tanya Geo, ia mencubit dagu Syakila, mengangkat wajah Syakila melihat wajahnya.


”A..apa salah ku Geo? Kenapa kamu begini?”


”Kamu jawab aku, kenapa kamu mengabaikan telfon ku?” Geo bertanya dengan lantang. Membuat Syakila ketakutan.


”Aku...aku sudah bilang. Aku...aku sedang istirahat.” jawab Syakila, ia memalingkan pandangan matanya, tidak berani memandang wajah Geo.


”Istirahat? Di mana?” suara Geo sedikit merendah.


”Di..di rumah teman ku.”


”Teman mu? Sardin?”

__ADS_1


”Bu..bukan...”


”Bukan? Bukan kah aku menyuruh mu menemui Sardin? Jadi, kamu tidur di rumah pria yang bukan muhrim mu?”


”Bu...bukan! A..aku memang menemui Sardin. Tapi, aku tidur di rumahnya teman ku yang lain, se...seorang wanita.” jawab Syakila, berbohong.


”Kamu ingin membohongi ku lagi? Katakan yang jujur padaku, apa yang membuat mu mengabaikan telfon ku?!!” suara Geo meninggi.


Ia menarik tangan Syakila, hingga Syakila berdiri dari duduknya. Geo menarik lagi tangan Syakila, hingga Syakila terduduk di pangkuannya.


Wangi parfum seorang pria. benak Geo.


Ia mendekatkan wajahnya mencium Syakila, Syakila menolak, ia memalingkan wajahnya dari Geo.


”Apa kamu sudah tidur dengan Sardin?”


Syakila terkejut, ia melihat Geo. ”Tidak...itu tidak benar.” jawabnya.


Kamu masih ingin membohongi ku, Syakila? Aroma parfum pria di tubuh mu, kamu juga mengelak ciuman ku. Bukan kah itu sudah menjelaskan jika kamu dan Sardin sudah melakukan hal yang lain?! benak Geo.


”Tidak benar?” tanya Geo, suaranya merendah, tangannya membelai leher Syakila. ”Jadi, tidak benar?” ia menekan leher Syakila.


”Ge... Ge.. Geo... A..a..aku...be..nar...be..lum...tidur dengan Sa.. sardin.” ucap Syakila dengan terbata-bata.


Geo tidak menyahuti, ia semakin menekan leher Syakila, hingga wajah wanita itu memerah.


Jika aku tidak mengatakan yang sebenarnya, aku akan mati hari ini. Yang penting aku selamat dulu, dari cengkraman tangan Geo. benak Syakila.


”A...aku...a..aku...ti..tidak...bo...bohong... A...aku dan Sa... Sardin...ti...tidak ti..tidur. A...aku hanya ber...pe lu..kan dan ber...ci..ciuman sa..saja.” ucapnya lagi, masih terbata. Nafasnya serasa habis.


”Jadi, kamu sedang berduaan dengan dia makanya mengabaikan aku? Aku menyuruh mu untuk menemuinya untuk berbicara yang terakhir kali. Bukan untuk melakukan hal lain, Syakila! Kamu kira aku ini apa? Apa menurutmu aku tidak punya perasaan? Aku pria Syakila, aku seorang pria yang juga punya emosi, punya cemburu, kepada pria lain yang berdekatan dengan istrinya!!” ucap Geo dengan lantang.


”Ge... Geo...ma...maaf...a..aku...su... sulit...ber..na..fas..”


Geo menekan sedikit keras lagi leher Syakila dan melepaskan tangannya dari leher Syakila.


”Ukhuk...ukhuk...!” Syakila terbatuk-batuk, ia menunduk, mengatur nafasnya. Ia menyandarkan kepalanya di dada Geo, satu tangannya memukul pelan dadanya, tangan. satunya berpegang pada bahu Geo.


Geo merasa iba, namun, ia mengabaikannya. Ia ingin Syakila sedikit takut padanya, agar kedepannya, Syakila tidak berani macam-macam padanya.


”Geo, aku..ingin minum.” suara Syakila masih terdengar lemas, badannya masih gemetar ketakutan.


Geo melirik gelas minumannya yang ada di atas meja, ia meraih gelas tersebut.


”Minumlah!” ucapnya, ia menyodorkan gelas tersebut pada Syakila.


Syakila mengangkat kepalanya, memegang gelas, namun, tangannya tidak mampu memegang gelas tersebut.


Geo berdecak, ia memegang gelas tersebut membantu Syakila minum. Syakila meminum air tersebut sampai habis.


”Ukhuk ukhuk!” ia kembali terbatuk-batuk. Geo mengabaikan.


”Masih ingin mengabaikan ku? Mengabaikan telpon dari ku?” tanya Geo.


Syakila menggeleng.


”Apa aku salah menghukum mu?”


Syakila kembali menggeleng. Geo mengikuti ucapannya. Selagi mereka masih terikat pernikahan, wajar Geo memarahi dan menghukumnya.


”Ta... tapi. Ka..kamu salah, memarahiku di rumahnya guru ku.” ucapnya pelan, kepalanya menunduk.


Geo menyeringai kecil, ”Aku tidak peduli itu. Di saat aku marah, di saat itulah aku melampiaskan amarah ku. Meskipun itu di depan umum, aku tidak peduli.” ucapnya, berbisik di telinga Syakila.


Syakila terdiam. Geo bukan hanya berbisik di telinganya, tapi, ia juga mencium dan menggigit pelan telinganya.


Aku benci mencium aroma pria lain di tubuh mu, aku juga membenci orang lain yang menyentuh mu. benak Geo.


Ia mengangkat wajah Syakila, mencium bibirnya, menghapus rasa bibir Sardin dari bibir Syakila.


Syakila tidak berani mengelak, ia membiarkan Geo menciumnya. Ia tidak berniat membalas ciuman Geo, seperti terakhir kali.


Ciuman Geo semakin dalam, semakin ******* bibir manis Syakila. Ia menggigit keras bibir Syakila, Geo menghisap darah yang keluar dari bibir Syakila.


”Ugh!” Syakila sedikit meringis.

__ADS_1


Geo melepaskan ciumannya. Syakila mengangkat tangan, membersihkan darah yang masih keluar dari bibirnya. Geo menahan tangan Syakila.


”Jangan menyentuh bibir mu!” ucapnya. Ia kembali menghisap darah di bibir Syakila, hingga darah itu tidak keluar lagi. Syakila pasrah, mungkin setelah ini, emosi Geo kembali stabil.


__ADS_2