
”Syakila sayang...! Pelan-pelan saja jalannya! Awas perhatikan jalan mu!” Sardin merangkul pinggang Syakila yang hampir terjatuh tersandung batu di depannya.
”Ah, maaf! Aku tidak berhati-hati! Terima kasih, sayang.” Syakila menarik dirinya dari rangkulan tangan Sardin, menegakkan kembali badannya.
”Hum, hati-hati dalam melangkah! Pegang tangan ku! Orang begitu ramai di tempat kecelakaan, kalau kita terpisah bagaimana?”
Syakila mengangguk, ia memegang tangan Sardin. Mereka kembali berjalan, menuju tempat terjadi nya kecelakaan.
Kenapa semakin kesini, debaran jantung ku semakin cepat? Mengapa aku begitu kepikiran dengan pria angkuh itu? Apakah karena selama ini kami tinggal bersama dan hubungan kami lebih baik dari sebelumnya, jadi rasa khawatir timbul begitu saja untuk dirinya? Pertama kalinya aku merasakan perasaan ini begitu khawatir kepada dia. Apakah aku sudah mulai ada perasaan untuk dia? Ah, tidak tidak! Perasaan ku hanya untuk Sardin, pria yang lagi ada di samping ku ini. benak Syakila.
Mobil polisi dan ambulan terlihat sudah datang di tempat kejadian. Syakila dan Sardin menerobos masuk dalam kerumunan orang-orang yang berkumpul di sana.
Mata Syakila membulat, melihat mobil yang kini sedang di pasangkan garis polisi, salah satunya adalah mobil milik Geo.
Kepalanya menggeleng tidak percaya, Itu mobil Geo! Pantas saja perasaan ku tidak enak, dan terbayang Wajahnya Geo. Ternyata...tidak, tidak akan terjadi apa-apa pada Geo! Di mana dia? benaknya.
Ia berlari ke arah mobil Geo. Sardin menahannya, ”Syakila, kamu mau kemana?”
”Kak, itu...itu mobilnya Geo. Aku ingin melihat ke sana!” Syakila melepaskan tangan Sardin yang menahannya dan berlari ke mobil Geo.
”Syakila tunggu!” teriak Sardin, ia menyusul Syakila.
”Maaf, Mbak. Anda tidak bisa masuk dalam lintasan garis polisi!” Salah satu polisi yang bertugas mengamankan TKP, menahan Syakila menerobos garis polisi.
”Tapi Pak! Itu mobil milik....aku...aku mengenal pemilik mobil ini Pak! Apakah pemiliknya baik-baik saja Pak?” Syakila tampak khawatir.
”Korban sudah di amankan di sana! Silahkan Mbak cek saja di sana!”
”Terima kasih, Pak!” sahut Syakila. Ia berjalan ke arah yang di tunjuk oleh polisi tersebut. Sardin setia menyusulnya di belakang.
Ada apa ini? Kenapa aku cemburu melihat Syakila yang sangat khawatir pada pria lain? Apakah Syakila sudah mulai menyukai GEO yang berstatus suaminya itu? benak Sardin.
”Lepaskan aku! Jangan sentuh aku! Aku tidak akan ikut dengan kalian!”
Syakila terkejut mendengar suara Geo yang marah. Oh, Tuhan! Aku harus cepat tenangkan Geo! Dia tidak bisa bersentuhan dengan hawa kulit lain, apalagi seorang wanita! benaknya.
Ia kembali menerobos kerumunan manusia itu dengan cepat.
”Ku bilang lepaskan aku!”
Suara marah Geo kembali terdengar di telinga Syakila. Syakila berhasil menerobos kerumunan tersebut, kini ia berada di barisan paling depan.
Syakila semakin terkejut melihat luka-luka yang ada di seluruh tubuh Geo. Tangannya, kakinya, jidatnya tidak luput dari luka dan darah. Baju yang di kenakan nya juga sobek, memberi goresan luka di perut nya. Yang lebih parah adalah luka di kepala kirinya, darah segar keluar dari sana. Mungkin kah kepalanya menghantam sesuatu?
”Anda harus kami bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang intensif. Jika Anda menolak, Anda akan menyusul korban yang meninggal itu!” sang kepala medis berusaha membujuk Geo.
”Benar Pak! Anda harus di rawat untuk keselamatan Bapak sendiri!” pak polisi juga nampak membujuk Geo.
Sang kepala medis meraih tangan Geo, Geo menepisnya dengan kasar. ”Sudah aku bilang ak...” ucapannya terhenti, saat merasakan pelukan dari seseorang.
Ia merasa tenang, ia tahu dari wangi dan hawa kulit dari orang yang memeluknya itu adalah Syakila.
Sardin begitu cemburu melihat itu, namun, ia menenangkan hatinya sendiri.
”Maaf, Dok, suami saya tidak suka pergi ke rumah sakit.” ucap Syakila, menjelaskan.
”Tapi Mbak! Suami Mbak ini sedang terluka! Apa Mbak tidak melihat darah yang terus mengalir dari luka-luka yang di dapatnya? Suami Mbak akan semakin kehilangan darahnya! Apa Mbak ingin suami Mbak meninggal?” sang dokter terlihat marah.
”Lihat! Wajahnya mulai memucat! Jika di biarkan terus, suami Mbak akan meninggal dan Mbak akan menjadi janda dengan cepat!” ucap sang dokter lagi, menakuti Syakila.
”Aku tidak ingin ke rumah sakit!” ucap Geo, suaranya mulai terdengar kecil, badan nya mulai melemas.
Syakila mengangguk, ”Aku mengerti!” Ia melihat dokter, ”Maaf, Dok, sudah menyusahkan Dokter. Aku ingin meminjam mobil ambulan, aku akan membawa suami ku pada bibi ku yang seorang dokter. Suami ku memiliki trauma terhadap rumah sakit. Jadi, aku minta maaf, atas nama suami ku menolak untuk pergi ke rumah sakit.” ucapnya, menjelaskan.
”Terserah dari Mbak! Kami lepas tangan dari apa yang akan terjadi selanjutnya. Naiklah, kami akan membawa mu ke tempat bibi mu. Suami mu harus cepat-cepat di tolong!” akhirnya sang kepala medis mengalah.
”Terima kasih, Dok!” ucap Syakila senang.
Para tim medis mengangkat Geo ke dalam mobil ambulans.
Syakila melihat Sardin yang menatapnya dengan cemburu, ia menggandeng tangan Sardin sambil tersenyum kecil. ”Jangan cemburu! Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padanya, walau bagaimanapun, kita harus menolongnya. Ayo masuk!”
__ADS_1
Sardin membalas senyuman Syakila sambil mengangguk. Ia mengikuti langkah Syakila yang masuk ke dalam mobil ambulans.
Geo yang sedang terbaring tidak berdaya pun cemburu melihat tangan Syakila dan Sardin yang saling mengaitkan jari.
Mobil ambulan mulai meninggalkan tempat kejadian pergi menuju rumah Anton. Tempat praktek bibi nya ada di samping rumah Anton.
Geo memejamkan matanya yang semakin berat untuk tetap terbuka.
”Tidak! Geo, jangan pejamkan mata mu! Buka mata mu, lihat aku! Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu! Kamu harus kuat!!” Syakila mencoba menyemangati Geo.
Geo membuka matanya, tangannya yang lemas ingin meraih tangan Syakila. Syakila melepaskan tautan jarinya dengan Sardin dan meraih tangan Geo, menggenggamnya.
”Kamu harus kuat! Mama mu akan sangat sedih jika tahu kondisi mu sekarang ini! Mama mu hanya memiliki kamu seorang, jadi kamu harus kuat untuk mama mu!”
Geo mengangguk.
Aku tidak akan apa-apa! Aku tidak selemah itu! Jika maut sudah ingin menjemput ku, dari tadi aku sudah meninggal menyusul pria biadab yang ingin mencelakai ku itu. Kamu adalah alasan ku untuk bertahan hidup. benaknya.
Jujur saja, Sardin cemburu, cemburu pada Syakila yang khawatir sama Geo. Apa lagi di saat Syakila melepaskan tautan jarinya dan menggenggam jemari tangan Geo. Hatinya begitu panas. Namun, di sisi lain, ia juga sangat memahami akan Syakila yang selalu berlebihan khawatir terhadap orang lain yang terkena musibah. Hanya saja, terhadap Geo ia memang cemburu, karena Geo adalah saingan cinta nya.
.. ..
Di apartemen Antonio.
Ting tong! Bunyi bel di apartemen Antonio terus berbunyi, membuat Dawiyah begitu kesal terhadap orang yang tidak sabaran itu saat memencet bel.
”Siapa sih? Gak sabaran bangat jadi orang!” gerutunya, sambil berjalan ke arah pintu. Wajahnya begitu kesal, ia membuka pintu.
Ia begitu senang melihat orang yang berdiri di depan pintu itu, ”Antonio! Aku senang sekali kamu sudah datang! Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu mau datang? Aku akan menjemput mu di bandara.”
Dawiyah menghambur memeluk Antonio. Antonio menahan tubuh Dawiyah yang ingin memeluknya. Ia sudah tidak ingin Dawiyah lagi. Sekarang di hatinya hanya ada Syakila seorang.
Antonio melangkah masuk ke dalam apartemen.
Dawiyah nampak bingung. Antonio sepertinya berubah, apakah itu hanya perasaan ku saja? Apakah karena Antonio sangat lelah dan tidak ingin di ganggu?
Dawiyah menyusul masuk ke dalam apartemen, ia menutup pintu. Ia mendekati Antonio yang duduk di kursi.
”Kamu tampak lelah, pergilah mandi, aku akan memesan makanan untuk mu.”
Antonio membuka matanya, melihat Dawiyah. ”Aku ingin sendiri di sini. Kamu carilah hotel atau sewa apartemen lain untuk kamu tinggal. Aku akan membayar biayanya.”
”Tidak! Aku tidak mau! Aku mau di sini bersama mu! Aku sudah merindukan mu!” Dawiyah memeluk tubuh Antonio dan meraba dada pria itu.
Antonio menghentikan tangan Dawiyah, ia berdiri. ”Pergilah! Aku tidak ingin mengulang ucapan ku lagi!”
Dawiyah berdiri dengan marah, ”Kamu kenapa Antonio?! Baru beberapa bulan tidak bertemu, kamu sudah mulai menelantarkan aku? Apa sudah ada wanita lain yang memuaskan tubuhmu?”
”Iya, jadi, pergilah sekarang! Jangan membuat ku marah padamu dan benar-benar mengacuhkan kamu seperti wanita-wanita lain yang menentang ku!” Antonio berjalan meninggalkan Dawiyah.
Ia pergi ke kamarnya, ia melihat koper pakaian Dawiyah di atas lemari pakaiannya. Ia mengambil koper itu dan mengisi pakaian Dawiyah di dalamnya.
Dawiyah menyusul Antonio di kamar dengan masih marah. Ia terkejut melihat Antonio yang memasukkan asal bajunya ke dalam koper.
”Antonio! Kamu tidak boleh begini terhadap ku! Kamu sudah berjanji akan menikahi ku, menjadikan ku istrimu! Mengapa kamu berubah secepat itu hanya karena wanita yang baru memuaskan tubuhmu!!?”
Antonio membanting koper pakaian Dawiyah dengan kasar ke lantai, di kaki Dawiyah. ”Aku sudah tidak mencintai mu lagi! Jadi, pergilah dengan baik-baik dan bertemanlah baik dengan ku! Aku pernah mencintai mu, jadi, aku tidak tega untuk melenyapkan kamu dari kehidupan ini. Jadi, baik-baik lah menurut padaku! Pergilah, sebelum kesadaran ku hilang!!”
Antonio meninggalkan Dawiyah yang masih mematung di tempatnya. Ia pergi ke kamar mandi dan menutup pintu kamar mandi dengan kuat.
Dawiyah terkejut dan memejamkan mata, ia menghela nafas dan membuka matanya. ”Tidak Antonio! Kamu tidak bisa membuang aku begitu saja! Kamu sudah berjanji untuk menikahi ku! Aku sudah berbuat banyak untuk mu, seenaknya saja kamu ingin menyingkirkan aku!! Tidak semudah itu Antonio!” gumamnya.
Ia mempercantik dirinya, memakai parfum kesukaan Antonio. Ia melepaskan pakaiannya hanya menyisakan pakaian dalam.
Ia berjalan menuju ranjang, membaringkan dirinya, menunggu Antonio keluar dari kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Antonio keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang melilit pinggangnya. Ia tidak melihat Dawiyah di kamarnya lagi, tetapi, ia masih melihat koper pakaian Dawiyah yang ada di lantai.
Ia berjalan ke ranjangnya, ia terkejut melihat Dawiyah yang berbaring menggoda di atas kasur. ”Mengapa kamu masih disini? Pakai pakaian mu dan pergilah!”
Dawiyah bangkit dari ranjang, ia mendekati Antonio. Ia mengalungkan tangannya pada leher pria itu, ”Jangan marah padaku! Aku tahu, perkataan mu tadi hanya candaan. Aku merindukan mu.” ucapnya lembut berbisik di telinga Antonio.
__ADS_1
Antonio melepaskan tangan Dawiyah, ”Aku tidak main-main dengan ucapan ku Dawiyah! Kenakan pakaian mu, dan pergilah dari sini! Aku sudah tidak mencintai mu lagi!” Ia berbalik, berjalan menuju lemari pakaian. Ia selesai berganti.
Dawiyah kembali memeluk Antonio dari belakang, ”Tidak Antonio! Kamu harus menikahi ku! Itu janji mu! Aku sudah berkorban banyak untuk mu, kamu tidak bisa mencampakkan aku begitu saja!”
Antonio kembali melepaskan tangan Dawiyah dengan kasar. ” Kita sudah impas Dawiyah! Kamu sudah menerima kompensasi di setiap apa yang sudah kamu lakukan! Ok, aku akui, aku memang pernah berjanji untuk menikahi mu! Itu karena aku berpikir hanya kamu satu-satunya untukku. Aku menarik lagi ucapan ku, aku sudah menemukan orang yang cocok dengan kepribadian ku. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi mulai dari sekarang.”
Antonio berjalan menuju pintu kamar, ia membuka pintu, ”Aku akan keluar, di saat aku pulang, aku tidak akan melihat mu lagi di apartemen ku! Kamu carilah apartemen lain, aku akan membayarnya untuk mu.” Ia keluar dari pintu dan menutup pintunya.
Dawiyah terduduk lemas di lantai, ia begitu kecewa dan sedih. Ia sudah berkorban banyak untuk Antonio. Tapi apa yang di dapat sekarang? Ia sudah tidak di inginkan lagi oleh pria yang selama ini membiayai hidupnya.
Kini ia menyesal telah meninggalkan seorang Geovani Albert yang begitu mencintainya. Ia menghapus air matanya sambil berdiri. ”Tidak! Aku tidak akan membiarkan mu bahagia dengan wanita lain, Antonio! Tidak akan!!” gumamnya.
Ia memakai kembali pakaiannya dan mengambil koper pakaian dan keluar dari apartemen Antonio.
.. ..
Di kediaman Anton, rumah paman Syakila.
Samnia keluar dari dalam ruangannya ketika mendengar bunyi mobil ambulance di depan tempat prakteknya.
Bukan hanya Samnia, Serlina, Anton, dan anak-anak Anton juga ikut keluar dari rumah mendengar bunyi tersebut.
Pintu mobil ambulance terbuka. Sardin keluar dari sana. Syakila menyusul turun.
”Syakila? Sardin?” ucap mereka dengan terkejut.
Mereka berjalan mendekati Syakila dan Sardin dengan wajah bingung.
Tidak lama, tim medis turun dari mobil dengan mengangkat Geo.
”Langsung bawa saja ke ruangan praktek bibi ku.” ucap Syakila.
Para tim medis menurut, mereka membawa masuk Geo ke dalam ruangan praktek Samnia. Samnia menyusul masuk ke dalam, meninggalkan Syakila, Sardin, Serlina dan Anton di luar. Ia begitu khawatir melihat keadaan Geo sekarang.
”Syakila, Sardin, ada apa ini?” tanya Serlina.
”Geo, apa yang terjadi padanya?” tanya Anton.
”Paman, Bibi. Geo mengalami kecelakaan..” jawab Syakila.
”Mengapa kamu tidak membawanya ke rumah sakit? Malah ke tempat bibi mu!” tanya Anton lagi.
”Maaf, saya dan pak polisi berniat membawa saudara ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Tetapi, dari korban sendiri menolak untuk di bawa, dan tidak lama Mba ini datang dan juga menolak membawa suaminya berobat ke rumah sakit. Karena suaminya mengalami trauma pada rumah sakit, jadi, Mba ini mengusulkan untuk membawanya kemari.” ucap sang kepala medis, mengungkapkan.
Anton dan Serlina melihat Syakila, Syakila mengangguk, membenarkan penjelasan dari kepala medis itu.
”Saudara telah sampai di sini. Urusan kami pun telah selesai, kalau tidak ada pertanyaan lain, aku permisi dulu.” ucap sang kepala medis lagi berpamitan.
”Ah, iya, terima kasih, Dok. Hati-hati di jalan!” sahut Syakila, Serlina, dan Anton bersamaan.
Sang kepala medis kembali masuk ke dalam mobil, berikut dengan para tim medis lainnya. Setelah semua sudah masuk, mobil ambulance bergerak meninggalkan kediaman Anton.
”Baiklah, ayok kita masuk ke dalam. Gak baik, kita berada di sini terus.” ucap Serlina.
”Bibi, Paman, dan Sardin masuklah ke dalam, aku akan ke ruangan bibi Samnia untuk melihat keadaan Geo.” ucap Syakila.
Sardin cemburu mendengar ucapan Syakila, ia menoleh melihat Syakila sebentar.
”Iya, kamu pergilah temani suami mu. Sardin, ayo masuk ke dalam. Ada banyak hal yang ingin kami bicarakan.” ucap Anton.
”Iya Paman.” sahut Sardin.
Serlina dan Anton masuk ke dalam rumah.
Syakila melihat Sardin, ”Jangan cemburu! Aku tidak memiliki perasaan sama dia. Ini hanya kewajiban ku saja sebagai seorang istri saat suaminya sedang sakit. Jangan berpikiran yang tidak-tidak! Pergilah masuk! Aku ke sana dulu.” ucapnya, menenangkan Sardin yang masih menampakkan wajah cemburu.
”Ok, aku percaya padamu dan juga cinta kita. Maaf, jika aku cemburu. Kamu pergilah, aku juga ingin masuk ke dalam, bibi dan paman ku sudah menunggu ku.”
”Iya,” sahut Syakila. Ia berjalan ke tempat praktek Samnia, ia masuk ke dalam ruangan itu.
Dan Sardin, ia melangkah masuk ke dalam rumah Anton.
__ADS_1